HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Deskripsi Lokasi Penelitian
B. Hasil Penelitian
3. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dasar
a. Komponen-komponen yang berperan dalam pendidikan karakter di sekolah.
Dalam mewujudkan budaya sekolah yang berbasis karakter, maka perlu adanya peran dari masing-masing komponen sekolah. Komponen-komponen sekolah tersebut antara lain adalah kepala sekolah, guru, siswa, serta tim pengawal budaya sekolah dan karakter. Dari hasil pengamatan, wawancara, serta dokumentasi, peneliti mendapatkan data tentang peran kepala sekolah, guru kelas, guru bidang studi, karyawan, serta siswa dalam pembentukan karakter. Sekolah belum membentuk tim pengawal budaya sekolah dan karakter, bahkan komponen sekolah lainnya yaitu kepala sekolah dan guru tidak mengetahui tentang adanya tim tersebut dalam usaha pengembangan karakter sekolah. Kepala sekolah dan beberapa guru mengungkapkan bahwa yang sangat berperan dalam pengembangan karakter adalah semua komponen sekolah, yaitu kepala sekolah, guru kelas, guru bidang studi, karyawan, siswa, dan orang tua siswa.
55
Setiap komponen harus saling mendukung terlaksananya pendidikan karakter yang tepat, tidak dapat berdiri sendiri dan harus secara berkesinambungan. Salah satu guru mengungkapkan bahwa guru kelas merupakan komponen yang paling utama dalam pengembangan nilai karakter, karena guru sebagai komponen sekolah secara berkelanjutan menghadapi siswa secara terus menerus.
Dari hasil pengamatan, peneliti memperoleh data bahwa kepala sekolah sudah menjalankan perannya dalam pengembangan nilai karakter. Kepala sekolah melakukan motivasi terhadap komponen sekolah yang lain dengan mengadakan kegiatan pengembangan keterampilan guru, evaluasi kegiatan belajar siswa dalam rapat rutin, serta menjadikan diri sebagai model karakter bagi seluruh komponen sekolah yang lain. Guru juga sudah menjalankan perannya dengan memasukkan nilai karakter dalam proses pembelajaran, serta pembiasaan karakter di kelas. Hanya saja pembiasaan karakter yang dilakukan masih kurang maksimal dan belum secara khusus. Guru cenderung secara spontanitas dalam pengembangan nilai karakter. Guru juga sudah memberikan motivasi kepada siswa, agar siswa selalu berbuat baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Dalam proses pembelajaran, guru sudah memasukkan nilai-nilai karakter ke dalam silabus dan RPP yang digunakan.
Dari hasil pengamatan, semua siswa SD Negeri Gedongkiwo sudah aktif mengikuti proses pembelajaran dan kegiatan pengembangan karakter yang diadakan sekolah, seperti pembiasaan karakter di dalam kelas, kegiatan luar pengajaran, ekstrakurikuler, kepramukaan, karate ataupun kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh luar sekolah. Pelaksanaan kegiatan luar pengajaran atau
56
ekstrakurikuler kurang maksimal. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut antara lain seni musik, tenis meja, sepak bola, serta karate. Ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang kurang diperhatikan oleh sekolah, baik fasilitas penunjang seperti, bola kaki, dan peralatan musik, maupun dalam proses pelaksanaannya. Sedangkan, budaya hidup bersih yang dikembangkan sekolah, sudah diikuti oleh para siswa. Dalam pelaksanaan budaya hidup bersih, terlihat siswa membuang sampah pada tempat sampah yang di sediakan sekolah, melakukan kegiatan bersih sekitar, sebelum pelajaran di mulai, dan melaksanakan piket kelas. Namun, masih ada juga beberapa siswa membuang sampah sembarangan
Dari seluruh siswa kelas I-VI SD Negeri Gedongkiwo, ada satu kelas yang menjadi catatan peneliti yaitu kelas V B. Sesuai pengamatan , hampir semua siswa kelas V B kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran di kelas maupun dalam pembiasaan yang diadakanoleh guru kelas. Siswa-siswa tersebut sering bertingkah laku dan bicara tidak sopan, baik terhadap guru maupun dengan orang lain, seperti ketika siswa ditunjuk untuk piket kelas dan ketika ditunjuk menjawab pertanyaan guru, siswa menolak dan menjawab perintah guru dengan kata yang tidak sopan, siswa trsebut menjawab,”bukan saya yang piket bu,ibu
suruh aja teman-teman yang lain atau ibu aja yang menyapu.
Hal-hal tersebut diperkuat dari pernyataan para guru, bahwa kelas V B merupakan kelas khusus yang perlu diperhatikan oleh semua komponen sekolah. Oleh karena itu, peran komponen sekolah seperti kepala sekolah, guru kelas, serta guru lainnya sangat penting dalam mengatasi masalah tersebut. Upaya-upaya yang dilakukan masih belum membentuk karakter yang baik
57
pada siswa tersebut. Bahkan, guru kelas V B merasa kesulitan dalam membudayakan karakter di kelas tersebut.
b. Bentuk pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah:
Dari hasil wawancara, kepala sekolah dan guru kelas mengungkapkan bahwa pelaksanaan yang dilakukan sekolah, mengacu pada kurikulum sekolah yaitu dengan model penyampaian terintegrasi pada setiap mata pelajaran, dengan mengadakan kegiatan-kagiatan penunjang karakter, baik mengadakan pembiasaan karakter ataupun secara spontanitas di dalam proses pembelajaran. Sesuai dengan hasil pengamatan dokumen, dan wawancara, sudah banyak kegiatan penunjang karakter yang diadakan oleh sekolah. Seperti mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan diluar sekolah. Kegiatan tersebut antara lain adalah upacara penurunan bendera peringatan HUT RI, upacara hari jadi kota Yogyakarta dengan berbusana Nasional.
Semua kegiatan-kegiatan di atas melibatkan seluruh komponen sekolah, baik semua siswa, guru kelas, maupun kepala sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut diadakan sebagai penunjang pembentukan pelaksanaan pendidikan karakter dengan mengembangkan kedisiplinan siswa, religius, kreativitas, semangat kebangsaan, cinta tanah air, dll. Dari semua kegiatan yang diadakan oleh sekolah di atas, ada beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang sudah tidak aktif yaitu, membuat mainan tradisional, serta tenis meja. Dikarenakan sarana prasarana penunjang kegiatan tersebut sudah tidak ada.
58
c. Strategi dan metodologi pendidikan karakter
Dari hasil observasi dan dokumentasi terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah terlaksana yang dijabarkan di atas, di peroleh data bahwa sekolah menggunakan strategi pelaksanaan pendidikan karakter pemanduan (cheerleading), penegakkan disiplin (forced-formality), serta perangai bulan ini (truth of the month). Sekolah menggunakan strategi pemanduan dengan memasang text lines nilai karakter yaitu wajib berbusana nasional pada hari tertentu, dan jagalah kebersihan. Adapun poster yang dipasang di bebrapa dinding sekolah yaitu kebersihan pangkal kesehatan, banyak baca banyak ilmu, rajin pangkal pandai, dan ada beberapa point budaya malu untuk guru yaitu,
1. Aku malu datang terlambat 2. Aku malu pulang lebih awal 3. Aku malu datng tidak masuk kerja 4. Aku malu terlalu sering minta izin 5. Aku malu berpakaian tidak sesuai aturan 6. Aku malu tidak mempunyai program 7. Aku malu pekerjaan terbengkelai
8. Aku malu bekerja tanpa pertanggung jawaban 9. Aku malu bila tempat kerja kotor
10.Aku malu tidak bertatakrama dan sopan santun Sedangkan poster untuk siswa adalah
1. Saya malu bila datang terlambat 2. Saya malu bila tidak berpakaian rapi
59
3. Saya malu bila buang sampah sembarangan 4. Saya malu bila sering tidak masuk tanpa alasan 5. Saya malu bila tidak disiplin
6. Saya malu bila tidak mengerjakan tugas 7. Saya malu bila tidak naik kelas
8. Saya malu bila pulang lebih cepat 9. Saya malu bila sekolah kotor
10.Saya malu bila selalu meminta bantuan orang lain
Strategi belum maksimal diterapkan oleh sekolah, karena masih sedikit poster yang di pasang dan belum adanya poster atau slogan nilai karakter yang dipasang. Sekolah juga menggunakan strategi penegakan disiplin dengan mengadakan tata tertib dan peraturan sekolah. Sekolah memberikan sanksi bagi siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sanksi tersebut disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan siswa. Dan ada pembiasaan rutin yang diadakan sekolah yaitu semutlis, sholat dhuhur berjemaah dan berbusana nasional ketika hari tertentu seperti hari ULTAH kota Yogyakarta.
Apabila dilihat dari kurikulum, model penyampaian pendidikan karakter yang digunakan SD Negeri Gedongkiwo adalah model terintegrasi pada setiap mata pelajaran. Namun, apabila dilihat dari hasil pengamatan dan kegiatan-kegiatan yang terlaksana maka sekolah juga menggunakan model diluar pengajaran. Peneliti menyimpulkan bahwa SD Negeri Gedongkiwo, sebenarnya menggunakan model gabungan dalam penyampaian pendidikan karakter, yaitu menggunakan gabungan antara model terintegrasi pada setiap mata pelajaran
60
dengan model luar pengajaran. Dari hasil penelitian tentang pelaksanaan pendidikan karakter di SD Negeri Gedongkiwo, diperoleh hasil bahwa dalam proses pembelajaran di dalam kelas, sekolah menggunakan kurikulum sebagai pedoman guru dalam mengembangkan nilai-nilai karakter di dalam kelas. Guru dalam mengembangkan nilai-nilai karakter tersebut, dengan menyesuaikan materi yang akan di sampaikan, serta nilai-nilai tersebut sudah tercantum ke dalam silabus dan RPP yang digunakan. Guru juga sudah menerapkan suatu kebiasaan karakter tertentu di dalam proses pembelajaran, kebiasaan tersebut disesuaikan nilai yang akan dikembangkan oleh guru. Sesuai hasil pengamatan dan wawancara tentang pelaksanaan pendidikan karakter di kelas, peneliti mendapatkan hasil data tentang pelaksanaan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran, silabus dan RPP yang digunakan, serta metode yang digunakan.