C. Models Human Resource Development (HRD)
3. Kehidupan pribadi
Pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang dilakukan melalui kegiatan baitul arqam, pengajian, dan kegiatan keagamaan dan sosial lainya, pada hakekatnya direorentasikan pada 4 (empat) hal, yaitu: 1) pembinaan aqidah, 2) pembinaan akhlaq, 3) pembinaan ibadah dan 4) muamalah duniawiyah, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Pembinaan Aqidah
Pembinaan aqidah bertujuan untuk meningkatkan kenyakinan dan kesadaran imani pada diri manusia berupa tauhid kepada Allah SWT yang menjadi sumber seluruh kegiatan hidup warga Muhammadiyah agar menjadi muslim yang berjiwa mukmin, muhsin, dan muttaqin yang mencerminkan akhlaq karimah yang menjadi rahmatan li-‘alamin bagi lingkungannya.
2) Pembinaan Ibadah
Kegiatan baitul arqam bertujuan pada peningkatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diwujudkan dalam bentuk
70
pembinaan ibadah. Pembinaan ibadah diarahkan pada terbentuknya pribadi yang mutaqqin dengan beribadah yang tekun dan menjauhkan diri dari jiwa/nafsu yang buruk.
Profesi seorang dosen sebagai suri teladan bagi mahasiswa harus mampu mempraktekkan akhlaq yang baik dalam menjalankan tugas tridharma/Caturdharma dan ketekunan beribadah. Implementasi pembinaan ibadah secara internal yang dilakukan Perguruan Tinggi Muhammadiyah melalui budaya shalat berjamaah dan apabila waktu shalat telah masuk dan adzan sudah dikumandankan maka dosen yang sementara mengajar wajib menghentikan proses perkuliahan untuk segera melakukan shalat secara berjamah.
3) Pembinaan Akhlaq
Pembinaan akhlaq bertujuan terjadinya perubahan perilaku kerja yang lebih baik (akhlaq karimah), sehingga dapat menjadi “uswah hasanah” yang dapat teladani. Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas senantiasa memiliki sifat shiddiq, amanah, tabligh, istiqamah, dan fathanah, (Didin, 2003). Sifat-sifat Rasulullah SAW dalam menggembang amanah baik sebagai pemimpin umat dan pemimpin negara dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Siddiq, mengandung pengertian hendaknya seorang pemimpin memiliki kejujuran dan selalu melandaskan segala ucapan, keyakinan, serta perbuatannya berdasarkan ajaran Islam.
2. Amanah, berarti memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban. Amanah
71
ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal dan ihsan (berbuat yang terbaik) dalam segala hal. Sifat amanah harus dimiliki oleh setiap mukmin, apalagi yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan pemimpin, pelayan bagi masyarakat.
3. Tablig, berarti mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tablig yang disampaikan haruslah dengan pendekatan dengan hikmah, sabar, argumentatif dan persuasif dengan harapan akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang semakin solid dan kuat.
Tablig dalam konteks kepemimpinan bisa diartikan sebagai keteladanan dan kemampuan membangun networking.
4. Istiqamah, sifat ini sangat relevan dan tepat bila dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena sifat ini memiliki makna konsisten dalam iman dan nilai-nilai yang baik meskipun terjadi berbagai godaan dan tantangan. Istiqamah, dalam kebaikan ditampilkan dengan ketabahan, kesabaran, keuletan, selalu optimis sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal.
Istiqamah merupakan hasil dari suatu proses yang dilakukan secara terus menerus.
5. Fathanah berarti mengerti, memahami dan menghayati secara mendalam segala hal yang menjadi tugas dan kewajiban sebagai seorang pemimpin. Sifat ini akan menumbuhkan kreativitas dan kemampuan
72
untuk melakukan berbagai macam inovasi yang bermanfaat.
4) Mu’amalah Duniawiyah atau Makna Hidup
Warga Muhammadiyah diharapkan mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat (hablumminallah dan hablumminannas). Sehingga warga Muhammadiyah diharapkan memiliki etos kerja Islami yang tinggi, seperti: kerja keras, disiplin, dan menghargai waktu.
Tridharma Perguruan Tinggi yang dilakukan dosen Muhammadiyah dalam bentuk kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat harus mampu mencerminkan kegiatan mu’amalah melalui pemamfaatan hasil riset yang dilakukan dosen dalam bentuk teknologi tepat guna dan kegiatan keagamaan serta sosial yang dapat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan.
Sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang bertekad menjadikan “Wacana Keilmuan dan Ke-Islaman” sebagai filosofi penyelenggaraan dan pengembangan institusi pendidikan tinggi, sehingga Perguruan Tinggi Muhamadiyah tentu harus memberi sentuhan pada sisi keagamaan, sehingga Perguruan Tinggi Muhamadiyah dapat menjadi kiblat pengembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Sains (IPTEKS) yang Islami dan memberi arah perubahan.
Namun demikian, tampak tidak mudah mengimplementasikan wacana ke-Islaman dalam keseharian civitas akademika dan mahasiswa sehingga
73
menjadi suatu landasan tata nilai dalam kehidupan di kampus maupun di luar kampus.
Ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat implementasi pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahandalam keseharian civitas akademika dan mahasiswa. Di antara faktor tersebut adalah tingkat pemahaman civitas akademika dan mahasiswa terhadap nilai-nilai Islam, latar belakang keluarga, budaya, etnis, lingkungan tempat tinggal atau teman bergaul dan sebagainya.
Selain itu, ditinjau dari segi akademik, untuk mata kuliah yang berbasis agama Islam dan Kemuhammadiyahan dinilai minim. Ini terbukti dari muatan materi perkuliahan dosen belum semuanya memasukkan muatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan walaupun sudah menjadi kurikulum tersendiri (belum terintegrasi). Kegiatan yang dilakukan warga Muhammadiyah baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan, perekonomian, pelayanan kesehatan, tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk mewujudkan dan melaksanakan ajaran Islam dan nilai Kemuhammadiyahan. Wujud dalam melaksanakan ajaran Islam merupakan bentuk keimanan yang dapat direfleksikan dalam kehidupan personal individu (Makhija, 2002).
Implementasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam penelitian diukur dengan 4 (empat) indikator terkait kehidupan pribadi dosen, yaitu: 1) pembinaan aqidah, 2) pembinaan ibadah, 3) pembinaan akhlak, dan 4) mua’malah/makna hidup.
74
Indikator pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan berdasarkan beberapa defenisi dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 3.4: Elaborasi Indikator AIK
Indikator Pakar
Pembinaan Aqidah
Pembinaan Ibadah
Pembinaan
Akhlak Mu’amalah
Wiersma, 2002
Zohar dan
Marshall, 2007
Makhija, 2002 - -
BPHWM
Sumber : Hasil olah data, 2017
Berdasarkan elaborasi beberapa pendapat para pakar, maka pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dapat diukur dari indikator pembinaan aqidah, pembinaan ibadah, pembinaan akhlak dan mu’amalah/makna hidup. Indikator pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini merujuk keputusan Muhtamar Muhammadiyah yang dituangkan dalam Buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah khususnya yang mengatur kehidupan pribadi dan didukung beberapa pendapat pakar, sehingga dalam penelitian ini pembinaan aqidah, pembinaan ibadah, pembinaan akhlak dan mu’amalah/makna hidup dijadikan sebagai indikator pendidikan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
↜oOo↝
75
Bagian 4
PERFORMANCE DEVELOPMENT