Sutrisno (2011:203), mengatakan bahwa kompetensi merupakan kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung oleh perilaku kerja serta penerapanya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan di tempat kerja yang mengacu pada persyaratan kerja yang ditetapkan.
Menurut Miller, Rankin and Neathe (Hutapea dan Thoha, 2008), menyebutkan bahwa pada awalnya hanya ada dua jenis defenisi kompetensi yang berkembang pesat, yaitu pertama, kompetensi yang didefinisikan sebagai gambaran tentang apa yang harus diketahui atau dilakukan seseorang agar dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Pengertian kompetensi jenis ini dikenal dengan nama kompetensi teknis atau fungsional (technical/functional competencies) atau dapat disebut juga dengan istilah hard skill/hard competency (kompetensi keras).
Konsentrasi kompetensi teknis adalah pada pekerjaan, yaitu untuk menggambarkan tanggungjawab, tantangan, dan sasaran kerja yang harus dilakukan atau dicapai dalam meningkatkan kinerja. Kompetensi yang kedua adalah kompetensi yang menggambarkan bagaimana seseorang diharapkan berperilaku yang baik agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik.
Pengertian kompetensi ini dikenal dengan nama kompetensi perilaku (behavioural competencies) atau dapat disebut dengan istilah kompetensi lunak (soft skills/soft competency).
Spencer and Spencer (1993), mengatakan bahwa kompetensi adalah sesuatu yang mendasari karakteristik individu seperti: 1) motif (motives), yaitu sesuatu yang secara konsisten dipikirkan yang menyebabkan tindakan, 2) watak/sifat (traits), yaitu karakteristik fisik dan respon yang konsisten terhadap situasi dan informasi, 3) konsep diri (self-concept), yaitu
15
sikap, nilai-nilai atau citra diri seseorang. Percaya diri merupakan keyakinan orang bahwa mereka dapat efektif dalam setiap situasi, 4) pengetahuan (knowledge), yaitu informasi yang dimiliki orang dalam bidang spesifik, dan (5) keterampilan (skill), yaitu kemampuan mengerjakan tugas fisik atau kemampuan mental tertentu.
Pendapat Spencer and Spencer menunjukkan bahwa kompetensi bukan hanya sebagai keterampilan semata, melainkan juga menunjukkan karakteristik seseorang dalam bekerja. Interaksi elemen pembentuk kompetensi individu dapat dijelaskan pada gambar berikut:
Gambar 2.1: Elemen Pembentuk Kompetensi Individu Sumber : Spencer and Spencer (1993:9)
Kompetensi dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan dalam gambar 2.4, cenderung lebih nyata (visible) dan relatif berada dipermukaan (surface) sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki manusia yang relatif lebih mudah untuk dikembangkan melalui pengalaman atau pelatihan yang biasa
Pengetahuan
Motif Watak
Konsep Diri Keterampilan Kompetensi
Individu
16
diistilahkan dengan hard competencies sedangkan kompetensi dalam bentuk watak dan motif cenderung lebih tersembunyi (hidden) dalam (deeper) dan berada pada titik sentral (central) kepribadiaan seseorang sehingga cukup sulit untuk dinilai dan dikembangkan yang biasa diistilakan soft competencies.
Kompetensi dalam bentuk motif dan konsep diri diharapkan dapat memprediksi tindakan atau perilaku seseorang sehingga pada akhirnya dapat memprediksi kinerja seseorang.
Konsep Spencer and Spencer ini memberikan ilustrasi bahwa kinerja yang maksimal dari setiap individu tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan intelektual dan keterampilan, namun juga dipengaruhi oleh sikap dan perilaku.
Pengetahunan dan keterampilan menggambarkan kompetensi intelektual, sedangkan sikap dan perilaku menggambarkan kompetensi emosional dan sosial individu.
Sementara itu, Zwell (2000), memberikan lima kategori kompetensi yang terdiri atas: 1) task achievement merupakan kategori kompetensi yang berhubungan dengan prestasi.
Kompetensi ini ditunjukkan oleh orientasi pada hasil, mengelola kinerja, memengaruhi inisiatif, efisiensi produksi, fleksibilitas, inovasi, peduli pada kualitas, perbaikan berkelanjutan, dan keahlian teknis; 2) relationship merupakan kompetensi yang berhubungan dengan komunikasi dengan orang lain, 3) personal atribut merupakan kompetensi intrinsik individu dan menghubungkan bagaimana orang berpikir, merasa belajar dan berkembang, 4) managerial merupakan kompetensi yang secara spesifik berkaitan dengan pengelolaan, pengawasan, dan mengembangkan orang, dan 5) leadership merupakan kompetensi yang berhubungan dengan memimpin organisasi dan orang untuk mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi.
17
Pendapat para pakar terkait kompetensi memiliki ungkapan yang berbeda namun makna yang terkandung di dalamnya hampir sama, yaitu bahwa kompetensi adalah karakteristik utama dari individu untuk menghasilkan kinerja superior dalam melakukan pekerjaan yang mencakup motif, sifat, konsep diri, pengetahuan, dan keterampilan. Defenisi kompetensi mengandung makna, bahwa pertama defenisi kompetensi sangat luas dan bervariasi sehingga tidak jarang menimbulkan perbedaaan pemahaman. Kedua kompetensi terdiri dari knowledge, skills dan abilities (KSAs) juga mengandung karateristik personal seperti nilai, motivasi dan inisiatif yang diperkirakan dapat membantu mencapai kinerja sesuai harapan.
Ketiga kompetensi lebih banyak berkaitan dengan keterampilan dan perilaku.
Kompetensi individu lahir dari suatu proses pelatihan dan pengembangan baik yang dilakukan oleh organisasi ataupun atas inisiatif individu itu sendiri. Peningkatan kompetensi individu membutuhkan motivasi baik yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu teori yang dapat dijadikan landasan terbentuknya kompetensi adalah teori medan yang dirintis oleh Kurt Lewin (Hall, 2000: 275). Teori medan itu sendiri berangkat dari teori psikologi Gestalt yang dipelopori tiga psikolog Jerman, yakni Max Wertheimer, Kohler, dan Kofka, di mana dalam teori mereka disebutkan bahwa kemampuan seseorang ditentukan oleh medan psikofisis yang terorganisasi yang hampir sama dengan medan gravitasi (Hall, 2000: 275-276).
Selanjutnya Kurt Lewin mengembangkan teori ini dengan memosisikan seseorang akan memperoleh kompetensi karena medan gravitasi di sekitarnya yang turut membentuk potensi seseorang secara individu. Artinya, kompetensi individu
18
dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan di sini diposisikan sebagai sumber belajar. Selain itu, sistem informasi yang diperoleh seseorang dari lingkungannya berupa pengalaman yang diperoleh secara empiris melalui observasi, pengetahuan ilmiah yang diterimanya dari pendidikan formal, dan keterampilan yang dilakukannya secara mandiri turut mewarnai pembentukan kompetensi dirinya. Kompetensi individu juga dapat terbentuk karena adanya potensi bawaan dan lingkungan sekitar. Teori yang mendasari pemikiran ini adalah teori konvergensi yang dipelopori oleh William Stern. Menurut teori ini, perkembangan pribadi dan kompetensi seseorang merupakan hasil dari proses kerja sama antara heriditas (pembawaan) dan environment (lingkungan). Tiap individu merupakan perpaduan atau konvergensi dari faktor internal (potensi-potensi dalam diri) dengan faktor eksternal (lingkungan termasuk pendidikan) (Uno, 2004: 156). Bagaimanapun baiknya hereditas, apabila lingkungan tidak menunjang dan mengembangkannya maka hereditas yang sudah baik akan menjadi laten (tetap tidur). Begitu juga sebaliknya, hereditas yang kurang baik pun, bila lingkungan memungkinkan dan menunjang maka kompetensi ideal akan tercapai.
Menurut Widoyoko (2005:7), dengan mengutip pendapat Sutermeister tentang faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu, maka kompetensi individu dipengaruhi oleh faktor diri atau faktor internal dan faktor situasional atau faktor eksternal.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kompetensi mempersyaratkan beberapa hal, antara lain: (1) adanya karakteristik yang menunjukkan kemampuan atau kewenangan, (2) kemampuan tersebut tercermin dalam bentuk pengetahuan, keterampilan dan perilaku
19
kerja, (3) diperoleh melalui pengalaman belajar, (4) terwujud dalam bentuk kinerja (performance).