• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Individu

Kinerja menurut Kaswan (2015:152), terbagi dua, yaitu:

kinerja individu dan kinerja organisasi. Tetapi dalam pembahasan buku ini fokus pada kinerja individu. Robert Bacal (2004:39), mendefinisikan kinerja individu sebagai “Performance is the degree to which an employee contributes to the goals of his or her work unit and company as a result of his or her behavior and the application of skills, abilities, and knowledge”. Kinerja individu

86

adalah tingkat kontribusi pegawai terhadap pekerjaan sebagai hasil perilakunya dan implementasi dari kompetensi yang dimiliki. Sedangkan Campbell (Kaswan, 2015:153), menjelaskan bahwa “Job performance represents behaviors employees engage in while at work that contribute to organizational goals.” Campbell berpandangan bahwa kinerja individu mengambarkan perilaku kerja individu selama bertugas/bekerja di tempat kerja yang dapat memberikan added value baik kepada individu maupun kepada organisasi.

Kinerja individu dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia (SDM) menurut Borman dan Motowidlo, 1993 (Kaswan, 2015:156-160), membedakan kinerja dalam dua bagian, yaitu: 1) kinerja tugas (task performance) dan 2) kinerja kontekstual (contextual performance). Kinerja tugas (task performance), didefinisikan oleh Borman and Motowidlo sebagai

“Activities that are formally recognized as part of the jobs...

activities that contribute to the organization’s technical core either directly by implementing a part of its technological process, or indirectly by providing it with needed materials or services”.

Pengertian kinerja tugas dalam konteks ini bermakna bahwa aktivitas yang secara formal dipahami sebagai bagian dari tugas/pekerjaan. Menurut pandangan Borman dan Motowidlo bahwa kinerja tugas itu sendiri tidak cukup bagi berfungsinya organisasi secara efektif, sehingga diperlukan juga adanya kinerja kontekstual. Sedangkan kinerja kontekstual menurut Borman dan Motowidlo adalah perilaku individu yang tidak terikat secara formal oleh sistem tetapi lebih bersifat sukarela (tidak menuntut peran/deskripsi pekerjaan), sehingga faktor penyebabnya banyak dipengaruhi oleh perilaku.

87

Ariyani (2008), mendefinisikan kinerja dosen adalah prestasi kerja yang telah dicapai seorang dosen dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. Peran, tugas, dan tanggung jawab dosen sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yang meliputi iman dan takwa, akhlak mulia dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, serta mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, adil, makmur, dan beradab. Tujuan pendidikan nasional ini akan mampu diwujudkan apabila ditunjang dosen yang profesional.

Dosen profesional adalah dosen yang memiliki intellectual capital yang tinggi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian, dengan kemampuan intellectual capital yang dimiliki dosen akan sangat menentukan kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Dosen memiliki peran strategis dalam menentukan perkembangan institusi dan kualitas proses pembelajaran dengan profesionalisme dan kemampuan humanrelations yang baik.

Amanah UU 14 Tahun 2005, mengisyaratkan bahwa dosen yang profesional adalah dosen yang mampu mentransformasi, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi (Bab 1, pasal 1 ayat 2). Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi ini terkait dengan proses:

1. Tugas dalam hal pendidikan dan pengajaran

Tugas yang pertama seorang dosen dalam hal Tridharma Perguruan Tinggi adalah melakukan pendidikan dan pengajaran yang dapat berupa:

a. Pelaksanaan perkuliahan dan praktik b. Melakukan pembimbingan akademik

88

c. Penguji pada ujian akhir mahasiswa

d. Mengembangkan bahan dan metode pengajaran e. Menyampaikan orasi ilmiah

f. Membina kegiatan mahasiswa di bidang akademik g. Melakukan deta sering.

2. Tugas dalam hal Penelitian

Tugas yang kedua seorang dosen dalam hal Tridharma Perguruan Tinggi adalah melakukan penelitian dan pengembangan karya ilmiah yang dapat berupa:

a. Menghasilkan karya ilmiah/penelitian b. Menghasilkan karya ilmiah/buku

c. Membuat suatu rancangan penelitian yang dapat dimanfaatkan pemerintah, perguruan tinggi, bisnis, dan masyarakat.

3. Tugas dalam hal pengabdian pada masyarakat (pengabdian kepada masyarakat)

Tugas yang ketiga seorang dosen dalam hal Tridharma Perguruan Tinggi adalah melakukan pengabdian pada masyarakat (pengabdian kepada masyarakat) yang dapat berupa:

a. Memberikan pelatihan/penyuluhan kepada masyarakat b. Memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam hal

pengembangan kapasitas masyarakat

c. Menyampaikan orasi/ceramah untuk pengembangan kapasitas masyarakat

d. Melakukan pendampingan kepada masyarakat

e. Mengembangkan hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat (pengabdian kepada masyarakat) menjadi suatu kebijakan, model, produk dan teknologi tepat guna.

4. Tugas dalam hal kegiatan penunjang lainnya

89

Dosen dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya selain melakukan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat, dosen juga perlu melakukan kegiatan lain yang dapat menunjang pelaksanaan tugas dan tanggungjawab dosen yang dapat berupa:

a. Menjadi anggota panitia atau pengurus lembaga pendidikan pada perguruan tinggi

b. Menjadi pengurus lembaga/badan pada lembaga pemerintah

c. Menjadi pengurus organisasi profesi

d. Mewakili perguruan tinggi/lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga

e. Menjadi delegasi nasional pada pertemuan internasional f. Berperan aktif dalam pertemuan ilmiah

g. Mendapatkan tanda jasa/penghargaan h. Menulis buku pelajaran SLTA kebawah

i. Mempunyai prestasi di bidang olah raga/kesenian/sosial.

Berbagai pendapat mengenai kinerja telah dikemukakan para pakar, hal ini menunjukkan bahwa definisi kinerja sangat beragam, maka penelitian ini merujuk pendapat Bernardin (1993:75), yang menyatakan bahwa kinerja dosen dapat dinilai dari dimensi ketepatan waktu dalam proses pengajaran, kuantitas dan kualitas pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pendapat Bernardin (1993:75), lebih spesifik dan relevan digunakan dalam mengukur kinerja dosen yang lebih banyak berkaitan perilaku dalam bekerja.

Berdasarkan beberapa pendapat pakar tentang definisi kinerja individu maka dapat disimpulkan bahwa kinerja individu adalah perilaku kerja yang mencerminkan penerapan

90

pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan sikap yang dimiliki dalam melaksanakan tugas. Indikator kinerja berdasarkan beberapa definisi dapat dijelaskan pada tabel elaborasi berikut ini:

Tabel 4.1: Elaborasi Indikator Kinerja

Indikator

Pakar Capacity Dukungan

Organisasi Kinerja Motivasi

Depdiknas,2004 - - -

Herriegel et al.1989 - - -

Sarwoto,1985 - - -

Bernardin,2001 - -

Daft,2003 - -

Miner,1988 - - -

Sofo(1999) - -

Ariyani,2009 - - -

Blumberg&Pringle,1982 -

Bernardin,1993 - -

Swanson (2009) - -

Herriegel et al.1989 - -

UU 14 Tahun 2005

Sumber : Hasil olah data, 2017

Berdasarkan elaborasi beberapa pendapat para pakar, maka dari tabel 2.1, menunjukkan bahwa dimensions of individual performance factors dapat diukur dari faktor internal individu seperti individual attributes dan work efforts sedangkan faktor eksternal seperti organizational support. Dimensions of individual performance factors yang dikembangkan Blumberg dan Pringle (1982:565) dan didukung beberapa pendapat pakar sesuai

91

dengan pendapat Bernardin (1993:75) dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 (Bab 1, pasal 1 ayat 2) bahwa indikator untuk mengukur kinerja dosen dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi dapat menggunakan dimensi ketepatan waktu dalam proses pengajaran, kuantitas dan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kegiatan penunjang lainnya.