TINJAUAN TEORITIS
C. Siyasah Syar’iyyah
3. Keimigrasian Perspektif Siyasah Syair’iyyah
Sejarah mengukir bahwa penduduk Madinah melalui perjalanan hidup mereka di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. Tanpa intrik dan perpecahan Rasulullah mengajarkan pola hidup damai dalam keragaman dengan Islam sebagai landasan utama negara sekaligus menjadi azas berdirinya Madinah.24
Sejarah telah mencatat bahwa Rasulullah mengadakan pemungutan jizyah setahun sebelum Rasulullah wafat tepatnya pada tahun 9 Hijriyah. Pengenaan pungutan ini dijatuhkan terhadap kelompok Kristen Najran yang berada di luar kota Madinah. Jizyah merupakan pajak atas jaminan keselamatan dan kebebasan bergerak orang-orang non muslim di Negara Islam. Orang-orang non muslim yang memilih untuk menjadi pembayar jizyah ini dinamai zimmi atau ahlu al zimmah.25 Mereka secara hukum mendapat perlindungan oleh hukum Islam untuk hidup aman di tengah kaum muslimin, bahkan kaum zimmi ini mendapat peluang untuk menduduki jabatan tertentu.
Di balik itu, ternyata sahabat juga beragam dalam memberi perlakuan kepada kaum zimmi sebagaimana tergambar dengan sikap Khalifah ‘Umar Bin
23 Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, As Siyāsah as Syar’iyyah fi islāhir rā’i war ra’iyah, Tahqiq Basyir Mahmud Uyun (Riyadh: Maktabah al Muayyad, 1993), h. 125.
24 Munawir Sjadzali, Islam dan Negara, (Cet. V; Jakarta: UI Press, 1993), h. 8-20.
25 Yusuf al-Qarḍāwi, Ghair al-Muslimin fi al-Mujtama’ al-Islāmiy, (Kairo: Maktabah Waḥbah, Cet ke-3, 1413 H/1992 M), h.7.
28
Khattab terhadap kaum ini atas dasar perintah yang ia fahami dari ayat Al-Qur’an Surah At- Taubah: 29, yang berbunyi:
َنِم ِ قَحْلٱ َنيِد َنوُنيِدَي َلَ َو ۥُهُلوُس َر َو ُ َّللَّٱ َم َّرَح اَم َنوُم ِ رَحُي َلَ َو ِر ِخاَءْلٱ ِم ْوَيْلٱِب َلَ َو ِ َّللَّٱِب َنوُنِمْؤُي َلَ َنيِذَّلٱ ۟اوُلِتََٰق َنو ُرِغ ََٰص ْمُه َو ٍدَي نَع َةَي ْز ِجْلٱ ۟اوُطْعُي َٰىَّتَح َبََٰتِكْلٱ ۟اوُتوُأ َنيِذَّلٱ Terjemahannya:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedangkan mereka dalam keadaan tunduk. (QS. At-Taubah:29).26
Ayat ini diturunkan pada tahun sembilan Hijriyah. Maka dari itu, Rasulullah saw mengutus Ali untuk menemani Abu Bakar r.a. di tahun itu dan Nabi saw, memerintahkan kepadanya untuk menyerukan pengumuman di kalangan orang-orang musyrik berhaji dan tidak boleh lagi ada orang tawaf di Baitullah dengan telanjang. Dengan demikian, maka Allah telah menyempurnakan agama-Nya dan menetapkan hal ini sebagai syariat dan keputusan-Nya.
Kemudian menyangkut orang asing manusia diciptakan Allah swt dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
26Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (2017), h.191
29
َٰىَثنُأ َو ٍرَكَذ نِ م مُكََٰنْقَلَخ اَّنِإ ُساَّنلٱ اَهُّيَأَََٰٰٓي َلِئَٰٓاَبَق َو اًبوُعُش ْمُكََٰنْلَعَج َو
ٌريِبَخ ٌميِلَع َ َّللَّٱ َّنِإ ۚ ْمُكَٰىَقْتَأ ِ َّللَّٱ َدنِع ْمُكَم َرْكَأ َّنِإ ۚ ۟ا َٰٓوُف َراَعَتِل
Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.Al-Hujurat Ayat 13)18
a. Sejarah Turunnya Surat Al-Hujurāt
Kata Hujurāt adalah bentuk jamak dari al-Hujrah yang berarti kamar, ruang sebagai tempat tidur. Nama surat ini diambil dari makna kata Hujurāt dalam ayat ke 4 yang berarti kamar-kamar19. Al- Hujurāt adalah Surat yang tidak lebih dari 18 ayat dan termasuk surat Madaniyah , merupakan surat yang agung dan besar, yang mengandung hakikat akidah dan syari‟ah yang penting untuk manusia. Surat Al-Hujurāt ini menempati urutan ke-49 di dalam Al-Qur‟an.
Mengenai kisah turunnya surat Al-Hujurāt, ulama sepakat menyatakan bahwa surat ini turun setelah Nabi Muhammad saw, berhijrah ke Madinah.
Bahkan, salah satu ayatnya yang dimulai dengan “Ya ayyuhan an-Nas” yang bisa
18 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (2017), h.517
19Faqih Imani, Allamah Kamal, Tafsir Nurul Qur‟an sebuah tafsir sederhana menuju cahaya al-Qur‟an,( Jakarta: Nur al-Huda. 2013). h.311
30
dijadikan ciri surat Makiyah yang turun sebelum hijrah, disepakati juga turun pada periode Madaniyah. Walaupun demikian, ada riwayat yang diperselisihkan nilai kesahihannya yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun di Makkah pada saat Haji Wada‟/Haji Perpisahan Nabi saw. Namun demikian, kalaupun riwayat itu benar, ini tidak menjadikan ayat tersebut Makkiyah, kecuali bagi mereka yang memahami istilah Makkiyah sebagai ayat yang turun di Mekkah20.
b. Tema dan Tujuan Utama
Tema utama dalam surat Al-Hujurāt adalah berisi petunjuk apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin terhadap Allah SWT, terhadap Nabi dan orang yang menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya, yaitu orang fasik. Pada pembahasan ini dijelaskan apa yang harus dilakukan seorang mukmin terhadap sesama manusia secara keseluruhan, demi terciptanya sebuah perdamaian. Adapun etika yang diusung untuk menciptakan sebuah perdamaian dan menghindari pertikaian yaitu menjauhi sikap mengolok-olok, mengejek diri sendiri, saling memberi panggilan buruk, su‟udzon, ghibah, serta tidak boleh bersikap sombong dan saling membanggakan diri karena derajat manusia di hadapan Allah SWT itu semua sama. Di dalam surat Al-Hujurāt juga berisikan tentang etika, tatakrama, dan akhlak, yaitu kepada Allah swt, Rasul saw, sesama muslim yang taat, terhadap yang durhaka kepada Allah dan Rasul, dan terhadap sesama manusia.
Tujuan utama dalam surat ini adalah mendidik setiap umat Islam bagaimana seharusnya berperilaku baik, sehimgga terciptanya lingkungan yang
20 Quraish Shihab. Al-Lubab makna, tujuan, dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an, (Ciputat: Lentera Hati 2012). h.3
31
bersih dan sejahtera yang dihiasi dengan sopan santun terhadap Allah swt, Rasul saw, diri sendiri dan kepada orang lain. Sopan santun, bukan saja berkaitan dengan sikap lahiriah, tetapi berkaitan dengan bisikan hati21.
c. Asbābun Nuzūl
Al-Qur‟an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dalam upaya mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ayat-ayat dalam al-Qur‟an ada yang diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan setelah terjadinya suatu peristiwa yang perlu direspon atau dijawab. Peristiwa atau persoalan yang melatar belakangi turunnya ayat itu disebut asbābunnuzūl22
Asbābun al-nuzūl secara bahasa terdiri dari dua kata asbāb dan nuzūl, asbāb bentuk jama‟ dari sabab yang berarti sebab, sedangkan kata nuzūl berasal dari akar kata nazala-yanzilu-nuzulan yang artinya turun, menurunkan sesuatu23. Sedangkan asbābun nuzūūl menurut istilah adalah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan turunnya ayat, dimana ayat tersebut menjelaskan pandangan al-Qur‟an tentang peristiwa yang terjadi atau mengomentarinya24.
Pengetahuan mengenai asbābun nuzūl atau sejarah turunnya ayat- ayat al-Qur‟an sangat diperlukan bagi seseorang yang ingin memperdalam pengertian mengenai ayat-ayat al-Qur‟an. Dengan mengetahui latar belakang turunnya ayat,
21 Quraish Shihab. Al-Lubab makna, tujuan, dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an, (Ciputat: Lentera Hati 2012). h.4
22Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan Tafsirnya,(Jilid. IX, Jakarta: Lentera Abadi. 2010). h.228
23 Budihardjo. Pembahasan Ilmu-Ilmu al-Qur‟an, (Yogyakarta: LOKUS, 2012). h21
24 Quraish Shihab. Al-Lubab makna, tujuan, dan pelajaran dari surah-surah al-Qur’an, (Ciputat: Lentera Hati 2012). h.3
32
maka seseorang dapat menggambarkan situasi dan kondisi saat ayat tersebut diturunkan, sehingga memudahkan untuk memahami apa yang terkandung di balik teks ayat tersebut.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa ayat-ayat al-Qur‟an itu diturunkan tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan setelah terjadinya suatu peristiwa yang perlu direspon dan dijawab.
Dalam pembahasan ini penulis tidak menemukan seluruhnya asbabun nuzul pada ayat-ayat yang dikaji melainkan hanya akan menjelaskan asbābun nuzūl yang terdapat pada surah al-Hujurāt ayat 13. Adapun asbābun nuzūl surah al-Hujurāt ayat 13 adalah sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh Abu Mulaikah, pada saat terjadinya Fathul Makkah (8 H), Rasul mengutus Bilal Bin Rabbah untuk mengumandangkan adzan, ia memanjat ka‟bah dan berseru kepada kaum muslimin untuk shalat jama‟ah. Ahab bin Usaid ketika melihat Bilal naik keatas ka‟bah berkata “segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan ayahku, sehingga tidak menyaksikan peristiwa hari ini”.
Harist bin Hisyam berkata “Muhammad menemukan orang lain ke- cuali burung gagak yang hitam ini”, kata-kata ini dimaksudkan untuk men-cemooh Bilal, karena warna kulit Bilal yang hitam. Maka datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah saw tentang apa yang dilakukan mereka.
Sehingga turunlah ayat ini, yang melarang manusia untuk menyombongkan diri karena kedudukannya, kepangkatannya, kekayaannya, keturunan dan mencemooh orang miskin.
33
Diterangkan pula bahwa kemuliaan itu dihubungkan dengan ketaqwaan, karena yang membedakan manusia disisi Allah hanyalah dari ketaqwaan seseorang.
Adapun asbabun nuzul yang diriwayatkan oleh Abu Daud tentang peristiwa yang terjadi kepada sahabat Abu Hindin (yaitu sahabat yang biasa berkidmad kepada Nabi Muhammad) Rasulullah menyuruh Bani Bayadah untuk menikahkan Abu Hindin dengan gadis-gadis di kalangan mereka. Mereka bertanya “apakah patut kami mengawinkan gadis kami dengan budak-budak?”
sehingga turun ayat ini, agar kita tidak mencemooh seseorang karena memandang kedudukannya.25
Hubungan Internasional dalam Islam pada hakekatnya bertumpu pada perdamaian abadi, meskipun dalam prakteknya terjadi penggunaan kekuatan dalam skala tertentu. Penekanan terhadap status Negara tetangga pada masa damai membawa implikasi terhadap hubungan Negara Islam dengan darl al-harb. Status warga negara asing kemudian terbagi menjadi dua bagian besar yaitu musta’min dan zimmi. Kedua status ini juga membawa dampak pada perlakuan hukum dan pemanfaatan fasilitas negara yang akan mereka nikmati. Disamping itu tidak dikesampingkan adanya hubungan diplomatic dalam kerjasama bilateral antara
negara Islam dengan negara tetangga mereka.27
25 Departemen Agama RI. Al-Qur‟an dan Tafsirnya,(Jilid. IX, Jakarta: Lentera Abadi.
2010). h.419-420
27 Subehan Khalik, Hubungan-Hubungan Internasional Di Masa Damai. Ad-Daulah Vol. 3 / No. 2 / Desember 2014. h. 11-12
34
BAB III