Pasal 104
(1) Kejaksaan Aceh adalah bagian dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
(2) Pengangkatan Kepala Kejaksaan Aceh dilakukan oleh Jaksa Agung Negara Republik Indonesia dengan terlebih dahulu mengajukan 3 (tiga) orang calon untuk memperoleh persetujuan Gubernur atau nama lain setelah mendapat pertimbangan DPRA.
(3) Rekruitment dan penempatan Jaksa di Aceh harus memperhatikan sistem hukum, budaya, adat istiadat Aceh.
(4) Tata cara persetujuan Gubernur atau nama lain dan pertimbangan DPRA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
(5) Pemberhentian Kepala Kejaksaan Tinggi di Aceh dilakukan oleh Jaksa Agung.
(6) Kejaksaan Aceh melaksanakan tugas dan kebijakan teknis di bidang penegakan hukum termasuk pelaksanaan Syari’at Islam.
(7) Tugas Komisi Kejaksaan untuk Aceh dilaksanakan
BAB XXVII KEJAKSAAN
Pasal 158
(1). Tugas Kejaksaan dilakukan oleh Kejaksaan Aceh sebagai bagian dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
(2). Seleksi dan penempatan Jaksa di Aceh dilakukan oleh Kejaksaan Agung dengan memperhatikan norma hukum, syari'at, budaya, adat istiadat Aceh.
(3). Pengangkatan Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh dilakukan oleh Jaksa Agung Republik Indonesia dengan persetujuan Gubernur.
(4). Pemberhentian Kepala Kejaksaan Tinggi di Aceh dilakukan oleh Jaksa Agung.
(5). Kejaksaan di Aceh melaksanakan tugas dan kebijakan teknis dibidang penegakan hukum termasuk pelaksanaan Syari'at Islam.
Pasal 104 Ayat (2) Draft RUU PA DPRD NAD tetap dipertahankan karena mengatur tentang
mekanisme pemberian persetujuan Gubernur dalam pengangkatan Kajati Aceh.
Ayat ini merupakan
penyempurnaan terhadap Pasal 24 Ayat (2) UU nomor 18 thn 2001 dan MoU Angka 1.4.4.
www.parlemen.net
oleh Komisi Kejaksaan Aceh yang dibentuk oleh DPRA.
(8) Tugas, fungsi, struktur dan keanggotaan Komisi Kejaksaan Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 104 Ayat (7) dan Ayat (8) Draft RUU PA DPRD NAD tetap dipertahankan karena tugas Kejaksaan di Aceh berbeda dgn daerah lain khususnya menyangkut dengan syariat Islam. Oleh karena itu diperlukan Komisi Kejaksaan yg khusus untuk Aceh. Oleh karena Komisi Kejaksaan Aceh
merupakan instrumen pelaksanaan kekhususan Aceh maka
pembentukannya juga dilakukan oleh DPRA.
BAB XXVII
IDENTITAS DAN KEPENDUDUKAN Pasal 163
(1) Warga Aceh adalah setiap individu yang lahir dan/atau memiliki garis keturunan Aceh baik yang ada di Aceh maupun di luar Aceh dan mengakui dirinya sebagai warga Aceh.
(2) Rakyat Aceh adalah setiap individu yang berasal dari berbagai ras bangsa dan etnik yang telah menetap di Aceh secara turun-temurun dan mengakui dirinya sebagai rakyat Aceh.
(3) Pemerintah dan Pemerintah Aceh mengakui, menghormati dan melindungi keanekaragaman etnik Aceh.
(4) Pemerintah Aceh mengakui dan melindungi hak setiap kelompok etnik yang ada di Aceh untuk diperlakukan setara dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan
BAB XXVIII KEPENDUDUKAN
Pasal 159
(1). Orang Aceh adalah setiap individu yang lahir atau memiliki garis keturunan Aceh balk yang ada di Aceh maupun di Iuar Aceh dan mengakui dirinya sebagai warga Aceh.
(2). Rakyat Aceh terdiri dari individu-individu yang berasal dari berbagai ras bangsa dan etnik yang telah menetap di Aceh secara turun-temurun dan mengakui dirinya sebagai rakyat Aceh.
(3). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota mengakui, menghormati dan melindungi keanekaragaman etnik di Aceh.
(4). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mengakui dan melindungi hak setiap kelompok etnik yang ada di Aceh untuk diperlakukan setara dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
www.parlemen.net
budaya.
Pasal 164
(1) Penduduk Aceh adalah setiap orang yang bertempat tinggal secara menetap di Aceh.
(2) Setiap penduduk Aceh yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun dan/atau telah menikah akan diberikan kartu identitas.
(3) Pemerintah Aceh berkewajiban untuk melakukan data base terhadap penduduk Aceh.
(4) Ketentuan tentang kependudukan dan identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) akan diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 160
(1). Penduduk Aceh adalah setiap orang yang bertempat tinggal secara menetap di Aceh.
(2). Setiap penduduk Aceh yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun dan/atau telah menikah diberikan kartu tanda penduduk.
(3). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mengelola data kependudukan sesuai dengan kewenangan.
(4). Ketentuan mengenai kependudukan dan identitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Qanun Aceh dengan berpedoman pada peraturan perundang undangan.
Pasal 160 ayat (4) RUU PA Pemerintah dikembalikan pada Pasal 164 ayat (4) Draft DPRD dengan alasan bahwa ketentuan mengenai kependudukan di Aceh mempunyai karakteristik dan kultur yang khusus sehingga cukup diatur dalam Qanun Aceh saja.
BAB XXVIII PERTANAHAN
Pasal 165
(1) Rakyat Aceh memiliki kedaulatan terhadap hak atas tanah.
BAB XXIX PERTANAHAN
Pasal 161
(1). Rakyat Aceh memiliki hak-hak atas tanah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 161 ayat (1) dan (2) RUU PA Pemerintah dikembalikan pada Pasal 165 ayat (1) dan (2) Draft
www.parlemen.net
(2) Pemerintah Aceh berwenang mengatur peruntukan, pemanfaatan dan hubungan hukum berkenaan dengan hak atas tanah dengan mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak yang telah ada termasuk hak-hak adat.
(3) Pemerintah Aceh wajib melakukan perlindungan hukum terhadap tanah-tanah wakaf dan harta agama lainnya.
(4) Tatacara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur dengan Qanun Aceh.
(2). Pemerintah Aceh berwenang mengatur dan mengurus peruntukan, pemanfaatan dan hubungan hukum berkenaan dengan hak atas tanah dengan mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak yang telah ada termasuk hak-hak adat sesuai dengan norma, standar dan prosedur yang berlaku secara nasional.
(3). Pemerintah Aceh wajib melakukan perlindungan hukum terhadap tanah-tanah wakaf dan harta agama lainnya.
(4). Ketentuan lebih lanjut mengenai tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Qanun Aceh.
DPRD dengan alasan bahwa penguasaan hak atas tanah di aceh memiliki karakteristik tersendiri dan cukup diatur dengan Qanun.
Pasal 166
(1) Pemerintah Aceh berwenang sepenuhnya memberi izin hak guna bangunan dan hak guna usaha bagi investor dalam negeri maupun luar negeri.
(2) Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 162
(1). Pemerintah Aceh berwenang memberi izin hak guna bangunan dan hak guna usaha bagi investor dalam negeri dan luar negeri sesuai dengan norma, standar dan prosedur yang berlaku.
(2). Tata cara pemberian izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Qanun Aceh.
BAB XXIX PENDIDIKAN
Pasal 167
(1) Pendidikan yang diselenggarakan di Aceh adalah satu
BAB XXX PENDIDIKAN
Pasal 163
www.parlemen.net
kesatuan dengan sistem pendidikan nasional yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.
(2) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat termasuk kelompok perempuan melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
satu kesatuan dengan sistem pendidikan nasional yang disesuaikan dengan karakteristik, potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.
(2). Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat termasuk kelompok perempuan melalui peran serta dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengendalian mutu layanan.
Pasal 168
(1) Setiap penduduk Aceh berhak mendapat pendidikan yang bermutu dan islami sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(2) Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai islami, budaya dan kemajemukan bangsa.
Pasal 164
(1). Setiap penduduk Aceh berhak mendapat pendidikan yang bermutu dan islami sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
(2). Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan berdasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, nilai islami, budaya dan kemajemukan bangsa.
Pasal 169
(1) Penduduk Aceh yang berusia 7 (tujuh) sampai 15 (lima belas) tahun berhak memperoleh pendidikan dasar tanpa pungutan biaya apapun.
(2) Penduduk Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti pendidikan dasar.
(3) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota wajib mengalokasikan dana yang cukup untuk membiayai pendidikan dasar dan menengah.
(4) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah
Pasal 165
(1). Penduduk Aceh yang berusia 7 (tujuh) tahun sampai 15 (lima belas) tahun berhak memperoleh pendidikan dasar tanpa pungutan biaya.
(2). Penduduk Aceh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti pendidikan dasar.
(3). Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan kabupaten/kota wajib mengalokasikan dana untuk membiayai pendidikan dasar dan menengah.
(4). Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan kabupaten/kota menyediakan pelayanan pendidikan tanpa pungutan biaya kepada kelompok masyarakat
www.parlemen.net
Kabupaten/Kota mengutamakan pelayanan pendidikan gratis kepada kelompok masyarakat yang tidak mampu sampai jenjang pendidikan sekolah menengah atas.
(5) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota menyediakan pelayanan pendidikan khusus untuk orang cacat dan anak-anak terlantar. (6) Pengelolaan dana pendidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) diatur dengan Qanun Aceh.
yang tidak mampu sampai jenjang pendidikan sekolah menengah atas.
(5). Pemerintahan Aceh dan Pemerintahan kabupaten/kota menyediakan pelayanan pendidikan khusus untuk orang cacat dan anak-anak terlantar. (6). Pengelolaan dana pendidikan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 170
(1) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan.
(2) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota menetapkan kebijakan umum tentang penyelenggaraan pendidikan formal, pendidikan dayah dan pendidikan nonformal lainnya melalui penetapan kurikulum inti dan standar mutu bagi semua jenis dan jenjang pendidikan.
(3) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota menetapkan kebijakan pengembangan perguruan tinggi, kurikulum dan standar mutu pendidikan pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan.
(4) Alokasi dana pendidikan melalui APBA dan APBK tidak diperuntukkan untuk pendidikan dan pelatihan kedinasan, kegiatan pelayanan publik di luar bidang pendidikan serta diprioritaskan untuk peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan pada tingkat
Pasal 166
(1). Pernerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan.
(2). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota menetapkan kebijakan mengenai penyelenggaraan pendidikan formal, pendidikan dayah dan pendidikan nonformal lainnya melalui penetapan kurikulum inti dan standar mutu bagi semua jenis dan jenjang pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota menetapkan kebijakan pengembangan perguruan tinggi, kurikulum dan standar mutu pendidikan pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan.
(4). Alokasi dana pendidikan melalui APBA dan APBK tidak diperuntukkan untuk pendidikan dan pelatihan kedinasan, kegiatan pelayanan publik di luar bidang pendidikan serta diprioritaskan untuk peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan pada tingkat sekolah.
(5). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota
- Pasal 166 ayat (2) RUU PA Pemerintah dikembalikan pada Pasal 170 ayat (2) draft DPRD dengan alasan bahwa sesuai dengan UU nomor 44 tahun 1999 tentang keistimewaan aceh, bahwa pemerintah telah mengakui secara resmi tentang hak
keistimewaan dalam penyelenggaraan pendidikan
www.parlemen.net
sekolah.
(5) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota memberikan kesempatan luas kepada lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan
yang bermutu.
memberikan kesempatan luas kepada lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu.
Pasal 171
(1) Penyelenggara pendidikan di Aceh wajib memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan. (2) Penyelenggara pendidikan dayah wajib memenuhi
standar akreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah Aceh.
(3) Penetapan standar akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 167
(1). Penyelenggara pendidikan di Aceh wajib memenuhi standar pelayanan minimal bidang pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2). Penyelenggara pendidikan dayah wajib memenuhi standar akreditasi yang ditetapkan oleh Pemerintah Aceh.
(3). Penetapan standar akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 172
(1) Pemerintah dan Pemerintah Aceh memberi akses kepada peserta didik untuk mendapatkan pelayanan pendidikan oleh tenaga-tenaga profesional dari dalam dan luar negeri.
(2) Penyelenggara pendidikan di Aceh dapat bekerjasama dengan lembaga pendidikan dari dalam dan luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pasal 168
(1). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota memberi akses kepada peserta didik untuk mendapatkan pelayanan pendidikan oleh tenaga profesional dari dalam dan luar negeri.
(2). Pelayanan pendidikan yang dilakukan oleh tenaga profesional dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3). Penyelenggara pendidikan di Aceh dapat bekerjasama dengan lembaga pendidikan dari dalam dan luar negeri sesuai dengan peraturan
perundang-www.parlemen.net
undangan.
Pasal 173
(1) Pemerintah Aceh wajib memperkuat fungsi dan peran Majelis Pendidikan Daerah (MPD).
(2) Tatacara pembentukan, susunan, tugas dan fungsi Majelis Pendidikan Daerah (MPD) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 169
(1). Pemerintah Aceh wajib memperkuat fungsi dan peran Majelis Pendidikan Daerah.
(2). Tata cara pembentukan, susunan, tugas dan fungsi Majelis Pendidikan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Qanun Aceh.
BAB XXX KEBUDAYAAN
Pasal 174
(1) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota melindungi, membina dan mengembangkan kebudayaan Aceh serta kesenian Aceh yang berlandaskan nilai-nilai peradaban islami. (2) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah
Kabupaten/Kota memberikan peran kepada masyarakat dan lembaga-lembaga sosial dalam pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota membina, mengembangkan dan melestarikan keragaman kebudayaan dan kesenian daerah dalam upaya mempertahankan jati diri dan membentuk kepribadian masyarakat Aceh.
(4) Pemerintah dan Pemerintah Aceh mengakui, menghormati dan melindungi warisan budaya dan kesenian kelompok-kelompok etnik Aceh termasuk warisan budaya dan kesenian etnik minoritas di
BAB XXXI KEBUDAYAAN
Pasal 170
(1). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota melindungi, membina dan mengembangkan kebudayaan Aceh serta kesenian Aceh yang berlandaskan nilai-nilai peradaban islami. (2). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah
kabupaten/kota memberikan peran kepada masyarakat dan lembaga-lembaga sosial dalam pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota membina, mengembangkan dan melestarikan keragaman kebudayaan dan kesenian daerah . dalam upaya mempertahankan jati diri dan membentuk kepribadian masyarakat Aceh.
(4). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota, mengakui, menghormati dan melindungi warisan budaya dan kesenian kelompok-kelompok etnik Aceh termasuk warisan budaya dan kesenian etnik minoritas di Aceh.
www.parlemen.net
Aceh.
(5) Bahasa daerah dapat menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan tingkat sekolah dasar sesuai dengan kebutuhan.
(6) Pemerintah Aceh dapat membentuk Lembaga Kebudayaan dan/atau Kesenian Aceh.
(7) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur dengan Qanun Aceh.
(5). Bahasa daerah dapat menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan tingkat sekolah dasar sesuai dengan kebutuhan.
(6). Pemerintah Aceh dapat membentuk lembaga kebudayaan dan/atau kesenian aceh.
(7). Pelaksanaan ketentuan yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebugaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) ayat (5) dan ayat (6) diatur dengan Qanun.
Pasal 175
(1) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota melindungi dan melestarikan situs, literatur, dokumen sejarah, tanda tsunami, kebudayaan dan peradaban Aceh.
(2) Pemerintah Aceh mendirikan dan mengembangkan pusat-pusat kebudayaan, kesenian dan peradaban Aceh.
(3) Pemerintah dan Pemerintah Aceh berkewajiban mencari kembali dan mengembalikan benda-benda sejarah yang hilang atau dipindahkan dan merawatnya sebagai warisan budaya Aceh.
(4) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 171
(1). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota melindungi dan melestarikan situs, literatur, dokumen sejarah, tanda bekas tsunami, kebudayaan dan peradaban Aceh.
(2). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota mendirikan dan mengembangkan pusatpusat kebudayaan, kesenian dan peradaban Aceh.
(3). Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Pemerintah kabupaten/kota berkewajiban mencari kembali dan mengembalikan benda-benda sejarah yang hilang atau dipindahkan dan merawatnya sebagai warisan budaya Aceh.
(4). Pelaksanaan ketentuan yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Qanun.
BAB XXXII KESEHATAN Pasal 177 BAB XXXIII KESEHATAN Pasal 173
www.parlemen.net
Kesehatan adalah hak rakyat yang mendasar dan merupakan investasi sumber daya manusia dalam pembangunan Aceh.
Pasal 178
(1) Setiap penduduk Aceh berhak memperoleh pelayanan kesehatan fisik, mental dan peningkatan gizi.
(2) Setiap anak yatim dan fakir miskin berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang komprehensif secara gratis.
(3) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
(1). Kesehatan merupakan hak rakyat yang mendasar dan merupakan investasi sumber daya manusia dalam pembangunan Aceh.
(2). Setiap penduduk Aceh berhak memperoleh pelayanan kesehatan fisik, mental dan peningkatan gizi.
(3). Setiap anak yatim dan fakir miskin berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang komprehensif secara gratis.
(4). Tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 179
(1) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota menetapkan standar mutu kesehatan dan memberikan pelayanan kesehatan penduduk Aceh secara islami. (2) Standar mutu kesehatan pada semua tingkatan
meliputi standar menajemen, administrasi dan informasi, standar pelayanan dan obat, standar pembiayaan, standar prasarana dan sarana serta standar kualifikasi dan kompetensi tenaga medis. (3) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota
mencegah dan menanggulangi segala jenis penyakit endemi, epidemi, pandemi dan/atau penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk.
(4) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota memberikan peluang kepada lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga adat, organisasi sosial, organisasi perempuan, organisasi profesi, lembaga
Pasal 174
(1). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota wajib memberikan pelayanan kesehatan secara islami berdasarkan standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundangundangan.
(2). Standar pelayanan minimal bidang kesehatan meliputi standar manajemen, administrasi dan informasi, standar pelayanan dan obat, standar pembiayaan, standar prasarana dan sarana serta standar kualifikasi dan kompetensi tenaga medis. (3). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota
mencegah dan menanggulangi segala jenis penyakit endemi, epidemi, pandemi dan/atau penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk. (4). Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten/Kota
memberikan peluang kepada lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga adat, organisasi sosial, organisasi perempuan, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat serta dunia usaha yang
www.parlemen.net
swadaya masyarakat serta dunia usaha yang memenuhi persyaratan untuk berperan dalam bidang kesehatan.
(5) Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota menyediakan pembiayaan kesehatan yang mencukupi kebutuhan normatif upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan bagi penduduk miskin.
(6) Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) diatur dengan Qanun Aceh.
memenuhi persyaratan untuk berperan dalam bidang kesehatan.
(5). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota menyediakan pembiayaan kesehatan yang mencukupi kebutuhan normatif upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan bagi penduduk miskin.
(6). Pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) ayat (3) ayat (4) dan ayat (5) diatur dengan Qanun.
Pasal 180
(1) Pemerintah, Pemerintah Aceh dan Kabupaten/Kota merencanakan dan melaksanakan program-program perbaikan, pemulihan psikososial dan kesehatan mental akibat konflik dan bencana yang pelaksanaannya dapat melibatkan lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga adat, organisasi sosial, organisasi perempuan, organisasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan.
(2) Perencanaan dan pelaksanaan program-program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan budaya Aceh dan memaksimalkan peran masyarakat setempat.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Qanun Aceh.
Pasal 175
(1). Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota merencanakan dan melaksanakan program-program perbaikan, pemulihan psikososial dan kesehatan mental akibat konflik dan bencana yang pelaksanaannya dapat melibatkan lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, lembaga adat, organisasi sosial, organisasi perempuan, organisasi profesi dan lembaga swadaya masyarakat dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan.
(2). Perencanaan dan pelaksanaan program-program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan budaya Aceh dan memaksimalkan peran masyarakat setempat.
(3). Ketentuan mengenai program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Qanun.
Pasal 181
BAB XXXIV HAK ASASI MANUSIA
Pasal 176
(1). Seluruh penduduk Aceh berkedudukan sama di BAB XXXIII
www.parlemen.net
(1) Seluruh penduduk Aceh berkedudukan sama di depan hukum.
(2) Seluruh penduduk berhak memilih dan dipilih.
(3) Penduduk Aceh memiliki hak kebebasan berbicara, kebebasan pers dan publikasi, kebebasan berserikat, kebebasan berkumpul, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, berdemontrasi secara damai, dan hak untuk mendirikan dan bergabung dalam serikat pekerja dan hak mogok.
(4) Tidak seorang pun penduduk Aceh dapat ditangkap, ditahan, diadili, dan dipenjarakan secara melawan hukum.
(5) Tidak dibenarkan melakukan semua bentuk penggeledahan sewenang-wenang atau tidak sah atas tubuh, kediaman, pakaian, pencabutan atau perampasan hak atau pembatasan atas kebebasan setiap orang.
(6) Tidak dibenarkan untuk melakukan penyiksaan atas penduduk atau kesewenang-wenangan dan pencabutan atas hak hidup secara melawan hukum. (7) Penduduk Aceh memiliki kebebasan untuk melakukan
penelitian akademik, kreasi seni dan sastra dan aktivitas budaya lainnya yang tidak bertentangan dengan syari’at islam.
(8) Penduduk Aceh berhak untuk mendapatkan pelayanan dan bantuan hukum, akses kepada pengadilan, memilih pengacara/penasehat hukum untuk perlindungan pada saat dibutuhkan atas hak-hak hukum dan kepentingan mereka di depan pengadilan.
depan hukum.
(2). Seluruh penduduk yang memenuhi syarat yang ditentukan dengan peraturan perundangundangan berhak memillh dan dipilih.
(3). Penduduk Aceh memiliki hak kebebasan berbicara, kebebasan pers dan publikasi, kebebasan berserikat, kebebasan berkumpul, bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, berdemontrasi secara damai, dan hak untuk mendirikan dan bergabung dalam serikat pekerja dan hak mogok.
(4). Tidak seorang pun penduduk Aceh dapat ditangkap, ditahan, diadili, dan dipenjarakan secara melawan hukum.
(5). Tidak dibenarkan melakukan semua bentuk