• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekerasan Dalih Pendidikan

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 193-199)

T

ULISAN ini tentang tragedi yang tengah menimpa dunia pendidikan kita. Saya sebut tragedi, terutama karena hanya kata itu yang pantas mewakili perasaan prihain, saat membincangkan “kekerasan yang mengatasnamakan pendidikan”. Mengapa kekerasan dan penganiayaan masih saja diminai dalam proses pendidikan?.

Pertanyaan di atas menyimpan keheranan. Keheranan tersebut muncul, karena menemukan sesuatu hal yang idak lazim. Dapat kita bayangkan tentang apa yang akan terjadi pada sebuah komunitas atau lembaga pendidikan, di mana kekerasn diamini sebagai sebuah hal yang lazim. Pasi idak ada yang heran. Akalpun menemui batasnya, dan bersamaan dengannya kekerasan yang terjadi idak pernah dipersoalkan.

Isak tangis sanak saudara dan teman-teman

almarhum memecah kesunyian, sesaat pei jenazah Clif Muntu (20 tahun) yang dibungkus bendera

Merah Puih dikeluarkan dari ruang kargo di Bandara Sam Ratulangi. Waktunya sekitar pukul 11.20 Wita, 4 April 2007.

Sebagaimana diberitakan, Clif Muntu, mahasiswa ingkat 2 Insitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tewas setelah mengalami kekerasan isik oleh oknum senior-seniornya di kampus tersebut. Berita kemaian Clif Muntu ini seolah mengulang kasus kekerasan yang pernah terjadi di kampus tersebut. Sebutlah, kasus kemaian yang menimpa Wahyu Hidayat, mahasiswa IPDN asal Jawa Barat, yang dikabarkan tewas setelah mengalami kekerasan isik oleh oknum senior di kampusnya tersebut.

Sebagaimana keterangan yang didapat dari Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Barat, AKBP Dade Ahmad, bahwa kelima tersangka pemukulan atas korban (Clif Muntu), yang masing-masing berinisial MA, GNH, FE, AB dan JA adalah senior Clif Muntu di IPDN (baca: Ponianak Post, 5 April 2007). Terasa ganjil pada kasus pemukulan ini adalah bercirikan psikologis, di mana para pelaku pemukulan yang enggan belajar dari kasus 4 tahun sebelumnya, yang pernah menimpa Wahyu Hidayat, mahasiswa IPDN asal Jawa Barat, yang juga dikabarkan tewas setelah mengalami kekerasan isik oleh oknum senior di kampusnya tersebut. Apa yang terjadi seolah-olah menumpuk dalam sebuah “ruang sejarah” yang kemudian pintunya dikunci untuk dilupakan.

Akal sehat dikecilkan dan nilai-nilai moral ditepikan. Setelah berjarak dari perisiwa itu, jamak mengatakan bahwa individu terseret oleh desakan kebersamaan mereka, sehingga idak ada pilihan kecuali ikut merayakan kekerasan bersama-sama. Individu yang terlibat dalam kekerasan sekonyong- konyong dipindahkan ke sebuah ruang kolekif yang mengisap ciri-ciri personalnya sebagai seorang individu yang berkepribadian. Penulis menyebutnya sebagai ruang kolekif, terutama karena ruang ini muncul oleh kebersamaan dan menjadi tempat bergeraknya indakan-indakan kolekif. Bisa dimengeri, pada ruang kolekif, indakan-indakan yang kurang lazim dalam keseharian menjadi lazim. Kekerasan yang pada prinsipnya bertentangan dengan misi pendidikan dianggap sebagai sebuah hal yang lazim, karena idak pernah dipersoalkan. Bahkan diwarisi!.

Menarik mendiskusikan asumsi yang dibangun oleh Ireng Maulana pada esainya, “Rektor yang Mampu Henikan Nestapa Kekerasan di Kampus” (Ponianak Post, 5 April 2007). Sebagaimana ulasannya, penyelesaian masalah dengan cara-cara kekerasan telah didesain sejak lama sedemikian rupa, sehingga peserta didik secara gampang berbuat dan berindak seolah-olah perbuatan tersebut adalah cara jantan, pemberani dan jagoan. Kekerasan demi kekerasan yang terjadi, hemat Ireng Maulana seolah mempertegas bentuk-bentuk pembiaran kekerasan

di lembaga pendidikan, yang kemudian menjadi laten dan berakar.

Sejalan dengan asumsi di atas, kasus ke-

kerasan yang sedang terjadi pada lembaga pendi-

dikan, sebutlah kasus Clif Muntu, menunjukkan terjadinya pergeseran paradigma: dari fungsi pen-

didikan yang mentransformasi nilai-nilai posiif atau kebaikan, selanjutnya mulai bergeser menjadi agen kekerasan dan menganut premanisme. Kita mungkin sependapat bahwa siklus waris mewarisi tradisi ke-

kerasan dari senior ke junior masih menjadi hal yang sulit dibantah dalam masa orientasi mahasiswa baru di sejumlah Perguruan Tinggi.

Mari kita jujur mengakui, bahwa idak ada seorangpun yang idak punya potensi melakukan kekerasan. Hal ini karena kekerasan sendiri hakikatnya telah terkondisi sebagai potensi dalam struktur pikiran semua orang. Kewajaran saat melukai bahkan menghabisi orang lain, menjadi mungkin manakala idak ada kontrol atas itu. Tambahan lagi, jika sejumlah orang bersepaham menganggap kekerasan sebagai sesuatu hal yang bernilai. Kontrol atas kekerasan melemah, dan sebaliknya menguat desakan untuk melukai bahkan menghabisi nyawa yang orang lain. Rasa bersalah idak akan muncul, terutama karena kekerasan dianggap sebagai sesuatu hal yang bernilai.

Pada kasus tewasnya Clif Muntu, kekerasan isik yang dilakukan oleh oknum mahasiswa, menjadi

sesuatu yang lazim, keika kekerasan dianggap sebagai sebuah hal yang lazim oleh mereka. Sebagaimana diberitakan, para oknum membela diri, karena pemukulan yang mereka lakukan semata- mata karena alasan pembinaan atau pendisiplinan.

Mari Mengevaluasi

Kampus pada konteks ini mempunyai peran besar dalam pembentukan karakter mahasiswa. Kampus diharapkan menjadi semacam guilding light

bagi generasi-generasi yang sedang dididik. Amat keliru, jika kampus hanya bertanggung jawab dalam mencetak mahasiswa-mahasiswa yang pintar dan terampil. Kampus juga punya peran pening dalam membangun karakter mahasiswa-mahasiswanya.

Pada konteks ini, kampus bertanggung jawab dalam mengajarkan dan mentransmisi nilai- nilai (transfer of values). Para mahasiswanya perlu ditanamkan sifat toleran dan mampu menghargai orang lain. Sehingga kekerasan sebagai budaya primiif yang ingin dihilangkan melalui pendidikan harusnya idak terjadi di kampus. Tetapi jika kampus

itu sendiri melanggengkan tradisi kekerasan, maka

idak ubahnya kampus tersebut sedang mencetak mahasiswa-mahasiswa primiif yang mudah membenci orang, gampang marah, dan berindak kasar.

Mari sama-sama mengevaluasi. Sudah saatnya kita membaca ulang model pendidikan dan pembinaan yang menggunakan cara-cara kekerasan.

Gramscie dalam bukunya Poliik dan Hegemoni menyinggung tentang potensi manusia, yaitu potensi bawaan seorang manusia yang menurutnya senang melakukan kebaikan. Tidak ada manusia yang lahir membawa sifat jahat, kecuali memang secara kejiwaan dijumpai kelainan. Jika demikian, hemat penulis, potensi dasar manusia yang senang melakukan kebaikan, inilah yang sebaiknya dibina, dikondisikan atau ditumbuhkembangkan melalui pendidikan. Bukan sebaliknya!.***

(5)

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 193-199)

Dokumen terkait