• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekolah Formal

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 182-188)

“Apakah akan datang suatu keika guru manusia adalah alam, kemanusiaan adalah bukunya, dan kehidupan adalah sekolahnya” (Kahlil Gibran)

M

AKIN diminainya homeschooling seidakn-

ya lima tahun terakhir, seakan menemukan konteksnya, bila dihubung-hubungkan den-

gan menurunnya ingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah formal. Sebagian masyarakat su-

dah mulai sadar bahwa sekolah formal hanyalah satu dari sekian banyak alternaif berpendidikan. Seba-

gian masyarakat pada hari ini mulai menyadari bah-

wa sekolah formal hanyalah salah satu dari sekian alternaif dalam memperoleh life skill dan menum-

buhkan kreaiitas, sebagai bekal anak-anak mereka dalam menyiapkan masa depan.

Tambahan lagi, sebagian masyarakat sudah mulai sadar bahwa manfaat pendidikan idak

sebatas diukur dari seberapa inggi jenjang sekolah yang ditempuh seseorang atau seberapa banyak hapalan teori yang diserap dari guru-guru mereka di sekolah. Masyarakat mulai menyadari, terpening dari pendidikan adalah proses pemerdekaan atau pendewasaan manusia. Atau, pendidikan mesi memanusiakan manusia.

Kata memanusiakan manusia, mengandung

makna bahwa sejainya fungsi pendidikan untuk menjadikan manusia sebagai makhluk yang utuh. Dengan begitu, pendidikan sudah seharusnya menjunjung inggi nilai-nilai dan kemanusiaan, termasuk pemerdekaan manusia dalam semua aspeknya. Menguip pendapat Freire (1985: 49), jangan sampai pendidikan membincangkan realitas seolah-olah sebagai sesuatu yang stais, idak bergerak, dan terpisah antara satu dengan yang lain, serta seolah-olah selalu bisa diramalkan. Demikian pula para pendidik, jangan sampai keika mengulas sebuah topik, ulasan itu sama sekali asing bagi pengalaman eksistensial peserta didik.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia,

hakikat pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan ingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelaihan. Kata “mendewasakan manusia” dalam hal ini, juga adalah tentang bagaimana para peserta didik dapat secara sadar dalam menjalani dan memaknai pendidikan yang

ia tempuh. Alih-alih, home schooling dipandang relevan, karena mengajak anak-anak belajar di luar bingkai sekolah formal, termasuk komitmen untuk menggiring pemahaman bahwa belajar idak mengenali batas tempat dan batas waktu.

Dalam sebuah ulasan Tempo (22 Pebruari 2006), kecenderungan penerapan sistem belajar home schooling, terutama disebabkan menguatnya keidakpercayaan sebagian masyarakat pada sekolah formal. Masyarakat menilai sekolah formal idak jelas yang dituju karena sering bergani-gani kurikulum, pembelajaran yang terkesan memberatkan sang anak, serta menganggap anak sebatas objek dan bukan sebagai subjek. Pendidikan pada sekolah formal, belakangan juga dicurigai telah memasung kreaiitas dan kecerdasan sang anak (baik dalam hal intelektual, emosional, dan spiritualnya).

Berikut di bawah ini merupakan kelebihan home schooling jika dibandingkan dengan sekolah formal. Pertama, belajar secara home schooling pasilah terasa menyenangkan. Pertama, Belajar di rumah terasa lebih menyenangkan. Kita mungkin sependapat bahwa jumlah mata pelajaran yang dibebankan pada siswa di sekolah formal saat ini cukup banyak, sehingga terkesan memberatkan siswa. Siswa seolah membawa beban setumpuk bernama pelajaran sekolah, yang selanjutnya ia jejal- jejalkan ke otaknya.

sekolah dalam pembelajaran membuat pembelaja-

ran berlangsung monoton. Siswa jadi ogah-ogahan belajar, apalagi berinsiaif membaca dan mengem-

bangkan pengetahuannya sendiri. Celakanya, saat siswa kurang mampu menyerap pelajaran di kelas, mereka dipaksa untuk belajar lagi di ruang kelas den-

gan mengikui pelajaran tambahan, seperi les atau bimbingan belajar yang ininya hanya sedang men-

gulang pelajaran yang sama di kelas. Hal ini idak ha-

nya makin menambah beban belajar siswa tapi juga membuat jemu, karena adanya pengulangan tadi.

Sistem belajar home schooling idak demiki-

an. Sebaliknya, home schooling didesain, sehingga belajar terasa menyenangkan. Melalui home school-

ing, siswa diajak berpikir bebas dan berkreasi se-

bagaimana minat dan bakat yang mereka miliki atau tekuni.

Kedua, belajar ala home schooling men-

dukung terselenggaranya lingkungan belajar yang komunikaif dan kekeluargaan. Apalagi di tengah ke-

cenderngan merenggangnya rasa kekerabatan dan kekeluargaan, terutama di kota dan daerah-daerah urban. Menyediakan ruang belajar di rumah akan kembali menumbuhkan dan mempererat tali per-

saudaraan dan kekeluargaan itu.

Kecuali itu, home schooling memungkinkan

siswa belajar secara lebih kooperaif, yang idak hanya memeningkan keberadaan dan prestasinya sendiri, tapi juga dengan sendirinya akan membantu

kesulitan yang dihadapi saudara-saudaranya. Berbeda dengan misi memenuhi target pencapaian belajar di sekolah formal yang selalu berorientasi pada nilai (dalam bentuk angka-angka), pada home schooling hal ini idak begitu ditekankan. Tidak heran jika di sekolah, siswa akan berusaha mempertaruhkan apapun untuk memperoleh nilai yang inggi walau dengan cara yang curang. Mencontek contohnya. Penulis percaya bahwa cara belajar ini hanya akan menghambat cara berpikir posiif dan cara mereka menyiasai permasalahan dalam kehidupannya kelak di masa depan secara instant. Mereka akan berpikir mencari jalan pintas dalam menyelesaikan persolan kehidupan mereka.

Keiga, belajar secara home schooling mendukung terutama terhadap proses pematangan kepribadian seorang siswa. Dengan home schooling,

hampir seluruh perkembangan kepribadian pada siswa dapat tercover, karena lebih gampang memantau dan mengomunikasikannya dengan pihak orang tua. Jadi, hambatan belajar mereka, baik secara isik dan psikis dapat dipantau dan dicarikan solusinya.

Keempat, home schooling mengajak siswa belajar idak hanya dari buku-buku atau guru sebagai sumber belajar, melainkan belajar dari apa saja. Tempat belajar juga dapat di mana saja, seperi di sawah, sungai, atau taman. Dalam arian, apa yang siswa pelajari atau baca dicoba disinggungkan dan

didiskusikan dengan keadaan sekitar.

Bisa disimpulkan, bahwa home schooling mewakili citra pendidikan yang memerdekakan, yang berorientasi pada pendidikan yang memanusiakan manusia. Melalui home schooling seorang siswa hendak digiring kesadarannya tentang peningnya belajar dari apapun, di manapun, dan kapanpun. Tidak pernah ada batasan belajar. Melalui home schooling pula, pengetahuan yang diperoleh akan betul-betul diketahui dan dirasakan manfaat atau fungsinya langsung oleh siswa. Pengetahuan- pengetahuannya yang dapat diimplementasikan langsung dalam keseharian. Bukan sebatas hapalan- hapalan yang menumpuk di otak.***

(3)

Kekerasan di Balik

Dalam dokumen Apa yang Tersisa dari INDONESIA (Halaman 182-188)

Dokumen terkait