Apa yang Tersisa dari INDONESIA

220 

Teks penuh

(1)

PENGANTAR: Syarif Ibrahim Alqadrie

Guru Besar Administrasi Publik dan Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik Universitas Tanjungpura Ponianak

Muhammad Yusuf

Ketua Majelis Wilayah KAHMI Kalimantan Barat SYAMSUL KURNIAWAN

INDONESIA?

Apa yang Tersisa dari

(2)

INDONESIA?

Esei-Esei Politik, Sosial Dan Pendidikan All rights reserved @ 2017, Indonesia: Pontianak

Penulis: SYAMSUL KURNIAWAN Editor: MASMURI

Layout & Cover: FAHMI ICHWAN & BENY

Diterbitkan oleh Top Indonesia

Top Indonesia Jalan Purnama Agung VII Pondok Agung Permata Y35 Pontianak Kalimantan Barat

Cetakan Pertama, Mei 2017

xxii+198 page 14 x 20 cm ISBN: 978-602-1696-67-5

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta Pasal 2:

1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa pengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-ungangan yang berlalu.

Ketentuan Pidana Pasal 72

1. Barangsiapa dengan sengaja ataau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan (2), dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(3)

| iii

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

PENGANTAR

Syarif Ibrahim Alqadrie

Guru Besar Administrasi Publik dan Sosiologi,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poliik Universitas Tanjungpura Ponianak

N

ASIONALISME, cinta Tanah Air, dan perasaan terikat satu dengan yang lain, atau sebagai se

-buah keluarga besar bangsa, yang secara imag

-iner/fantasi/membayangkan (imaginarily) meminjam

isilah Benedict Anderson, saat ini menunjukkan tan

-da-tanda sudah mulai terkikis. Ikatan-ikatan kebersa

-maan sebagai bangsa Indonesia, perlahan-lahan mu

-lai nampak terlepas satu demi satu dari tangkainya. Meski semboyan kita masih sama, Bhineka Tunggal Ika, namun konlik sosial, konlik antar kelompok etnis,

antar ras, dan konlik yang mengatasnamakan agama masih menjadi fakta keseharian kita hingga hari ini.

Apa sebenarnya penyebab melemahnya nasio-nalisme?. Sekurang-kurangnya berdasarkan pemikiran saya, ada empat faktor penyebab:

Pertama, kegagalan bangsa Indonesia keluar

dari krisis muldimensi yang menderanya; mulai dari krisis sosial, seperi mutu/standar pendidikan yang ter

(4)

makelar kasus (markus) yang menampar wajah hukum itu sendiri, di sektor birokrasi dengan pelayanan pub

-lik yang sangat minim disertai dengan Pungli yang tak terbendung, dan di sector pemerintahan dan swasta dengan adanya perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha yang sarat dengan korupsi yang sulit terki

-kis; kemudian krisis poliik dengan mempertahankan pejabat amoral dan mempertahankan mai-maian calon pejabat pemecah belah bangsa; krisis ekonomi, dengan melebarnya kesenjangan sosial ekonomi an

-tara “si kaya” versus “si miskin”, pada sektor lapangan

kerja, meningkatnya ekspor tenaga kerja kasar dan asisten RT (babu) dengan meningkatnya penderitaan mereka disiksa dan diperhinakan di negeri orang, pa

-dahal lapangan kerja seingkat relaife sama digondol orang asing; hingga krisis kepercayaan dan moral.

Paska genderang reformasi ditabuh, keadaan “idaklah” semakin baik. Siapapun yang dipercaya sebagai orang nomor satu di negeri ini, idak ada jaminan serta merta membawa Indonesia keluar dari krisis dan menjadi makmur apalagi sejahtera. Dalam keadaan seperi ini, apa yang diperlukan adalah sikap kriis, posiif dan kedewasaan kita. Karena jika krisis ini berlarut-larut, bukan sebuah hal yang sangat mustahil, menjadi ancaman “terbelahnya”, dan sekarang, bahkan telah “retaknya” nasionalisme.

(5)

-| v

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

guatnya gerakan-gerakan separais di sejumlah daer

-ah, senyatanya sedikit demi sedikit wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dicaplok asing, seperi kasus Timor-Timor, Sipadan Ligitan, dan Ambalat (se

-dang menunggu nasib) serta Papua (boleh jasi se-dang dalam proses). Lagipula, kondisi perbatasan yang sangat menyedihkan alias memalukan karena sudah dan sedang melunturkan marwah bangsa (naional

dignity) di sepanjang perbatasan Kalimantan, Indone

-sia – Sarawak, Sabah, Malay-sia Timur, khususnya Kali

-mantan Barat (KalBar), yang masih berjalan dan kekal (perpetual) sampai sekarang. Euphemism term (isi

-lah halus dan sopan tapi menipu) yang terkenal licik dengan kata-kata “halus dan menghibur” bahwa ka

-wasan perbatasan harus menjadi rumah dan halaman “bagian depan,” bukan “bagian belakang,” membuat masyarakat di sepanjang kawasan itu -- dan sebagian terbesar kita-- sebagai warga kelas iga. Terlebih lagi, keadaan carut-marutnya kondisi sosial perekonomian kita dan makin lengkap dengan kultur poliik yang ku

-rang memiliki eika, norma dan tak beradab di pada sejumlah kawasan perkotaan, semua itu, bukan idak mungkin akan mengikis daya imunitas bangsa ini baik dari pengaruh asing maupun dari ide nasionalisme.

(6)

negeri ini dimusnahkan. Sumber kekayaan alam dan pertambangannya dimanfaatkan dengan idak adil dan berputar hanya pada segelinir orang. Akibatnya, muncul bencana kemanusiaan yaitu kemiskinan dan kelaparan. Keadaan ini bisa saja menjadi kontraprodukif dan mengancam nasionalisme.

Keempat, menurunnya kepercayaan pada pejabat pemerintah (baik eksekuif maupun legislaif). Kita menyetujui bahwa nasionalisme tumbuh terutama didasari pada rasa kepercayaan, baik itu antar warga negara, maupun warga negara dengan pemerintah. Bila kita mau berterus terang, dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat pada hari ini, apa yang dinamai dengan “keteladanan” pejabat pemerintah menjadi sesuatu hal yang langka. Tidak ingin menjadi apais, tapi faktanya memang sehari-hari kita dipertontonkan dengan fakta dan realitas sosial tentang keteladanan yang mengedepan sebatas sebagai pencitraan saja. Para pejabat pemerintah, yang katanya terpilih melalui proses demokrais, senyatanya lebih senang berceramah tentang keteladanan keimbang betul-betul melakukannya. Kita mengalami bukan saja krisis kepemimpinan, tapi bahkan juga haus dan dahaga dengan mereka yang berbuat banyak untuk dan bertanggung kepada kita dan kepada Pencipta mereka.

(7)

| vii

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

frustasi dan –untuk idak menyebut—apais, barangkali tengah menggerogoi sendi-sendi kesadaran, jiwa dan raga kita sebagai sebuah bangsa. Sekali lagi, bangsa ini idak boleh menyerah pada keadaan. Lalu, apa yang dapat kita buat dan lakukan sekarang ini? Kita perlu berbuat banyak lagi sesuai dengan kemampuan dan bidang kita: memperbaiki dan meningkatkan moral, akhlak, eika, norma, mutu dan standar pendidikan, buat diri kita, keluarga kita sendiri, lingkungan kita, yaitu para mahasiswa kita, dalam rangka menciptakan dan membangun generasi baru penerus yang mumpuni mampu idak saja bersaing posiif dengan bangsa lain, dan memenangkannya, tapi juga memperbaiki dan membangun kembali bangsa yang sedang mengalami the process of a fail state and naion.

Bangsa ini pernah mengalami penderitaan akibat dijajah selama idak kurang dari 3,5 abad. Ha

-rusnya ini menjadi pelajaran pening bagi bangsa ini untuk tetap merawat idak hanya nasionalisme tapi juga heroismenya. Kedua isme itulah yang menjadi sebab menyatunya berbagai kehendak dan kepent

-ingan, sehingga kita berhasil mengusir penajajahan dan merdeka. Tidakkah keadaan menyatu, kerja keras dan berjuang tanpa heni dalam bidang kita, merupa

-kan kondisi yang amat diperlu-kan terutama untuk mewujudkan mimpi sebagai bangsa yang maju dan sejahtera?.

(8)

kembali. Tentu saja bukan nasionalisme dan hero

-ism seperi dalam bentuk awalnya, seabad yang lalu. Nasionalisme dan heroism yang harus dibangkitkan kembali adalah nasionalisme dan heroism yang diar

-ahkan untuk mengatasi berbagai permasalahan kes

-eharian kita – mengalahkan kemalasan dan apaisme kita, menyingkirkan keidakpedulian kita, memerangi kebodohan dan kemiskinan kita, dan melompai dan mengalahkan seiap tantangan kita, sebagaimana se

-bagiannya akan diulas oleh saudara Syamsul Kurni

-awan pada bukunya, “Apa yang Tersisa dari Indone

-sia?”. Apa yang akan kita lakukan adalah bagaimana bisa bersikap jujur, adil, disiplin, berani melawan kes

-ewenang-wenangan, idak korupsi, toleran, dan lain-lain. Bila idak bisa, bukan sebuah hal yang mustahil bangsa kita idak bisa lagi mempertahankan eksisten

-sinya sebagai sebuah bangsa dan negara.

Buku yang berjudul “Apa yang Tersisa dari Indonesia?” karya saudara Syamsul Kurniawan ini menurut saya pening dibaca oleh orang Indonesia. Apalagi, di tengah carut marut keadaan bangsa dan

ditambah sedang memudarnya nasionalisme. Selamat saya ucapkan atas terbitnya buku ini.***

(9)

| ix

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

KATA PENGANTAR

Muhammad Yusuf

Ketua Umum Majelis Wilayah

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)

Kalimantan Barat

“O

rang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Ini adalah bait dari sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Koes Plus.

(10)

mineral antara lain ikan laut,rumput laut, muiara, dan sebagainya.

Tetapi, seolah kekayaan ini hanya tersisa sedikit untuk rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia masih banyak yang miskin di negerinya yang kaya. Kenapa begitu?. Salah satu penyebabnya karena kekayaan alam indonesia yang melimpah ruah ini dikelola dan dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan asing. Beragam pengolahan sumber daya alam masih dikuasai oleh pihak asing. Manajemen puncak masih dipegang oleh orang-orang asing. Mayoritas pekerja Indonesia hanya menjadi manajer rendah atau cukup puas menjadi buruh pada perusahaan atau pabrik-pabrik milik asing di Indonesia.

Tidak menutup mata, banyak perusahaan asing mendirikan pabrik dan kantor di Indonesia. Mereka memanfaatkan standar gaji dan perlindungan pekerja yang rendah untuk orang Indonesia. Di beberapa tempat, bahkan mereka menggunakan kekerasan untuk menekan para pekerja. Alih-alih, keika kekerasan terjadi, oknum penegak hukum Indonesia disuap untuk diam, dan seolah-olah ikut membenarkan kekerasan yang terjadi.

(11)

| xi

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

Sebagian orang Indonesia bangga mengikui gaya hidup ala Amerika dan Eropa, daripada menghayai nilai budaya tempat asalnya. Ada juga yang meniru budaya Timur Tengah, yang dianggap lebih Islami. Kebingungan idenitas antara budaya lokal Indonesia, budaya Amerika dan Eropa, budaya Timur Tengah ini berdampak luas, terutama karena berkaitan dengan tata nilai yang menjadi dasar dari indakan sehari-hari orang Indonesia.

Tersangka koruptor yang mendadak ber

-penampilan agamis dalam persidangan. Ayat-ayat dalam kitab suci dipoliisir tafsirannya sehingga dapatlah dimanfaatkan untuk kepeningan priba

-di atau golongan, idak peduli apakah hal tersebut menindas dan merugikan orang lain. Ada juga, orang Indonesia tergila-gila membeli produk asing, walau

-pun harganya super mahal dengan mutu yang relaif sama dengan produksi dalam negeri. Atau, oknum wakil rakyat yang mengaku mempejuangkan hak-hak rakyat, sementara seringnya tersorot kamera sedang idur di persidangan atas nama rakyat. Semuanya nampak jadi “abu-abu”.

Lantas, “apa yang tersisa dari Indonesia?”. Buku yang ditulis oleh saudara Syamsul Kurniawan ini, mengajak kembali mempertanyakan hal tersebut dan mendiskusikannya. Sebuah buku yang pening dibaca dalam konteks ber-Indonesia. Atas nama Majelis Wilayah KAHMI Kalimantan Barat, yang

(12)

menyambut baik hadirnya buku ini. Selamat atas terbitnya buku ini.***

(13)

| xiii

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

PENGANTAR PENULIS

“Sumber kekuatan kita bukan hanya kekayaan alam yang melimpah, jumlah rakyat yang

berpuluh-puluh juta, letak geograis yang strategis, ilmu dan teknik yang dipertumbuhkan, tetapi juga semangat

dan jiwa bangsa kita.” (Soekarno)

P

ENULIS setuju bahwa sebuah bangsa baru dise-but besar manakala mimpinya sebagai bangsa yang besar mampu terwujud. Tentu saja, mimpi menjadi negara besar dan maju merupakan mimpi bangsa ini sejak lama. Bahkan, sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mimpi inilah yang konon menyatukan bangsa Indonesia sehingga memperoleh kemerdekaan. Pertanyaannya, mampu-kah bangsa ini mewujudkannya?. Mampumampu-kah bang-sa kita ini menjadi bangbang-sa yang bebang-sar dan maju serta mandiri?.

(14)

sumber daya manusia Indonesia yang mendiami seki-tar 11.000 pulau dari 17.504 pulau di seluruh wilayah Indonesia. Kecuali kaya akan jumlah manusianya, In-donesia juga kaya akan sumber daya alamnya. Potensi ini perlu dikelola secara serius, jika tidak ingin semuan-ya berakhir dan menyisakan mimpi-mimpi.

Soal kepemilikan Sumber Daya Alam, jelas Indonesia punya predikat bagus. Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. In-donesia adalah produsen timah terbesar di dunia. Indonesia juga menempati peringkat pertama se-bagai penghasil hasil-hasil pertanian seperti cengkeh (cloves), dan pala (nutmeg), serta peringkat kedua se-bagai produsen karet alam (natural rubber) dan min-yak sawit (crude palm oil).

Dari begitu banyak potensi sumber daya alam yang dipunyai Indonesia, senyatanya masyarakat In-donesia hanyalah menjadi buruh di tempat-tempat tambang tersebut.Padahal kekayaan yang berlimpah ruah itu adalah milik Indonesia. Hanya saja masyarakat Indonesia tidak betul-betul bisa menikmatinya.

Jelas sekali, kemiskinan masih menjadi potret buram di negeri ini. Potret kemiskinan tidak hanya ditemui di pedesaan, melainkan juga di kota-kota be-sar. Kemiskinan pada hari ini tidak lagi semata-mata persoalan ekonomi melainkan sudah merasuk ke arah kemiskinan kultural dan struktural.

(15)

| xv

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan dipilih secara langsung oleh rakyat. Namun, mimpi bangsa ini untuk memperoleh kehidupan yang leb-ih baik, sejahtera dan mandiri, kenyataannya belum terwujud. Sebaliknya, segudang permasalahan di bidang politik, sosial, dan bahkan pendidikan berpe-luang mengandaskan mimpi-mimpi ini. Krisis multi-dimensi yang sempat melanda Indonesia sejak 1997 kenyataannya masih menekan hidup rakyat kebanya-kan hingga hari ini.

Buku ini, hadir sebagai releksi tentang Indo-nesia dan segudang persoalan yang masih meng-himpit Indonesia, paska disuarakannya Reformasi. Kehadiran buku kumpulan esei ini diharapkan bisa menghadirkan kembali rekaman-rekaman releksi tentang Indonesia, yang pernah penulis buat dalam menyikapi persoalan-persoalan keindonesiaan, seti-daknya dalam sepuluh tahun terakhir.

Dengan demikian, esei-esei pada buku ini di-peroleh dari sebuah proses berpikir relektif. Berpikir relektif pada aras ini identik dengan berpikir kritis dan berpikir kreatif, yang sekurang-kurangnya mencakup proses: pertama, recognize or felt diiculty/problem

(merasakan dan mengidentiikasikan masalah); kedua,

location and deinition of the problem (membatasi dan merumuskan masalah); suggestion of posible solution

(16)

infor-masi yang dibutuhkan); dan kelima, test and formation of conclusion (melakukan tes untuk menguji solusi pemecahan masalah dan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan dalam penarikan simpulan).

Dalam hal ini, sekurang-kurangnya ada tiga bentuk sikap yang diandaikan dari sebuah proses pe-mikiran relektif yaitu: pertama, openmindedness atau keterbukaan, sebagai releksi mengenai apa yang diketahui; kedua, responsibility atau tanggung jawab, sebagai sikap moral dan komitmen profesional seseo-rang mengenai apa yang disadari; dan ketiga, whole-heartedness atau kesungguhan dalam bertindak solu-tif.

Buku ini memuat tujuh bagian pembahasan: pertama, sebatas mimi menjadi maju; kedua, krisis keteladanan pemimpin bangsa; ketiga, pemberan-tasan korupsi seperti jalan di tempat; keempat, ke-merdekaan yang setengah hati; kelima, kemiskinan bukan sekadar bumbu cerita; keenam, penyakit so-sial terkesan belum serius diobati; dan ketujuh, karut marut dunia pendidikan kita. Masing-masing bagian pembahasan memuat sejumlah esei.

(17)

| xvii

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan mustahil akan terwujud.

Terimakasih penulis sampaikan terutama pada Dr. H. Hamka Siregar, M.Ag (yang akrab penulis pang-gil dengan Bang Hamka), Rektor IAIN Pontianak. Sela-ma penulis menjadi staf ahli Rektor, telah membimb-ing dan mengoreksi pandangan-pandangan penulis. Pada Prof. Dr. H. Moh. Haitami Salim, M.Ag (Bang Teh), yang dengan ketulusan dan kearifan, memberikan dorongan dan motivasi untuk mem-bukukan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Semoga buku ini masuk kriteria buku-buku yang dikatakan bermanfaat itu.

Selanjutnya, pada Keluarga Besar IAIN Ponti-anak, Keluarga Besar KAHMI Kalimantan Barat, dan PW Muhammadiyah Kalimantan Barat yang sedikit banyak telah membuka ruang pada penulis untuk berkontribusi. Begitu pula pada kawan-kawan sep-erti Aspari, Riza Fahmi, Budiyono, Luthi, Utut, Andri, Fakhri, Haris, Tijani, Rossi, Herianyah, Hamdan, Dodi, Aswandi, dan lain-lain (karena terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu), karena mereka-mereka ini telah memperkaya wawasan penulis, terutama saat-saat ngopi dan berdiskusi.

(18)

buku ini dan selanjutnya memberi pengantar.

Kemudian yang paling berjasa tentu saja istri penulis, Muri, yang kecuali telah menyunting buku ini, juga tidak henti-hentinya mendukung dan mem-berikan masukan sepanjang masa buku ini disusun. Berikutnya yang paling motivatif sepanjang buku ini disusun adalah Ayunindya Sophie Azzahra. “Nindy”, demikian nama panggilannya, adalah putri penulis yang saat ini berusia 18 bulan. Buku ini penulis had-iahkan pada keduanya.

Last but not least, terimakasih pada semuanya, pada kawan-kawan penulis yang dalam kesempaan sekarang belum mungkin penulis absen satu per satu. Penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih pada penerbit yang sudah bersedia menerbitkan buku ini. Juga pada bang Setia dan bang Fahmi yang telah mempercantik tampilan luar dan dalam buku ini.

Buku yang berjudul “Apa yang Tersisa dari In-donesia?” ini sudah kadung jadi. Meski begitu, buku ini bersedia menampung saran yang konstruktif dan membuka peluang untuk dikritik oleh para pembaca. Harapan penulis, buku ini dapat dibaca dan dipetik manfaatnya bagi banyak orang Indonesia. Semoga.***

(19)

| xix

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

DAFTAR ISI

Pengantar: Syarif Ibrahim Alqadrie

(Guru Besar Administrasi Publik dan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Tanjungpura Pontianak) iii

Pengantar: Muhammad Yusuf

(Ketua Majelis Wilayah KAHMI Kalimantan Barat) ix

Pengantar Penulis xiii

Daftar Isi xix

BAGIAN SATU:

SEBATAS MIMPI MENJADI MAJU

1. Mimpi Sebagai Negara Maju 3 2. Apa yang Tersisa dari Indonesia? 8 3. Kebangkitan Pemuda Sebatas Nostalgia 13 4. “Potret” Hari Jadi Kota Pontianak 18 5. Kota Cerdas, Mimpikah? 23

6. Era Abu-Abu 28

7. Mimpi Membangun Tradisi Literasi 32

BAGIAN DUA:

KRISIS KETELADANAN PEMIMPIN BANGSA

(20)

2. DPR Seharusnya Peduli Rakyat 43 3. Tak Cukup Sekadar Hasrat Memimpin 47 4. Pilkada dan Obral Janji 50 5. Pilwako dan Mimpi Kesejahteraan 54 6. Kelangkaan BBM dan Respon Pemimpin Kita 58

BAGIAN TIGA:

PEMBERANTASAN KORUPSI SEPERTI JALAN DI TEMPAT

1. Surganya Koruptor 63

2. Super Gayus 68

3. Setengah Hati Memberantas Korupsi 72 4. Beda Maling Kelas Kakap dan Kelas Teri 76

BAGIAN EMPAT:

KEMERDEKAAN YANG SETENGAH HATI

1. Merdeka Setengah Hati 83 2. Belum Merdeka dari Amarah 88 3. Belum Merdeka dari Bencana 93 4. Belum Merdeka dari Jebakan Utang Bank

Dunia dan IMF 97

5. Belum Merdeka dari Kemiskinan 103 6. Belum Merdeka dari Terorisme 108 7. Berharap Sea Games Tumbuhkan Lagi

Nasionalisme 113

BAGIAN LIMA:

KEMISKINAN BUKAN SEKADAR BUMBU CERITA

1. Sepenggal Kisah dari Lampu Merah 119 2. Daging Sampah dan Orang Miskin

(21)

| xxi

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan BAGIAN ENAM:

PENYAKIT SOSIAL TERKESAN BELUM SERIUS DIOBATI

1. Tentang Prasangka Negatif Kita 131 2. Pornograi Candu Masyarakat 136 3. Seks Bebas di Kalangan Pelajar 141 4. Kekerasan Menjadi Candu 146

5. Generasi “Ngelem” 149

BAGIAN TUJUH:

KARUT-MARUT DUNIA PENDIDIKAN KITA

1. Pendidikan Kita Tidak Memerdekaan 155 2. Di Tengah Menurunnya Kepercayaan akan

Sekolah Formal 160

3. Kekerasan Di Balik Disiplin Sekolah 166 4. Kekerasan Dalih Pendidikan, Lazimkah? 171 5. Kekerasan dan Kejahatan Seksual Pada Anak

Bangsa 177

6. UN dan Disorientasi Belajar Siswa 181 7. Edisi Kritik Ujian Nasional 185 8. Neoliberalisme Mengancam Pendidikan 189

(22)
(23)

Bagian Satu

Sebatas Mimpi

(24)
(25)

| 3

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(1)

Mimpi Sebagai

Negara Maju

D

ALAM rangka Dies Natalis Universitas Padjaja

-ran Bandung ke 50, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan orasi ilmiah yang bertajuk Membangun Daya Saing Bangsa Menu

-ju Negara Ma-ju. Dalam orasi ilmiahnya, Presiden Yudhoyono menyosialisasikan sejumlah paradigma menuju Indonesia maju tahun 2050.

(26)

dijahai bangsa lain yang mungkin dalam banyak hal lebih siap memanfaatkan globalisasi. Untuk maju, bangsa Indonesia harus memenangi globalisasi.

Kecuali itu, Presiden Yudhoyono menilai bahwa cita-cita menjadi negara maju sangat mungkin terwujud apabila bangsa kita mampu mewujudkan pembangunan nasional terpadu yang berdimensi kewilayahan dan pelestarian lingkungan dengan

memadukan resource-based dan knowledge-based,

pertumbuhan yang beriring bersama pemerataan, dan yang terpening pula adalah bagaimana mendorong peran dan kontribusi semua elemen dan warga bangsa (Kompas, 13 September 2007).

Sebatas Mimpi?

Penulis setuju bahwa sebuah bangsa baru disebut besar manakala mimpinya sebagai bangsa yang besar mampu terwujud. Tentu saja, mimpi menjadi negara besar dan maju merupakan mimpi bangsa ini sejak lama. Bahkan, sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mimpi inilah yang konon menyatukan bangsa Indonesia sehingga memperoleh kemerdekaan.

Pertanyaannya, mampukah bangsa ini mewujudkannya? Mampukah bangsa kita ini menjadi bangsa yang besar dan maju serta mandiri seperi yang disampaikan Presiden Yudhoyono? Atau lagi-lagi hanya sebatas mimpi?.

(27)

| 5

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

rasanya tak berlebihan jika menjadi bahan kaji bersama. Membaca potensi yang dimiliki bangsa Indonesia, rasanya mimpi tersebut bukanlah sebuah hal yang mustahil. Ada lebih kurang 250 juta jiwa potensi sumber daya manusia Indonesia yang mendiami sekitar 11.000 pulau dari 17.504 pulau di seluruh wilayah Indonesia. Kecuali kaya akan jumlah manusianya, Indonesia juga kaya akan sumber daya alamnya.

Potensi ini perlu dikelola secara serius, jika idak ingin semuanya berakhir sebatas mimpi-mimpi. Apalagi beberapa peneliian yang dilakukan oleh beberapa organisasi dunia mengarah pada kecenderungan tersebut. Indeks Pembangunan Manusia berdasarkan rilisan United Naions, Indonesia peringkat 108 dari 177. Indeks Kualitas Hidup berdasarkan data the Economist, Indonesia peringkat 71 dari 177. Data rilisan Indeks Kebebasan Ekonomi dari Heritage Foundaion/ the Wall Street Journal, Indonesia peringkat 110 dari 157. Terakhir Indeks Persepsi Korupsi dari Transparancy Internaional, Indonesia peringkat 130 dari 163.

Modal Dasar

(28)

mimpinya menjadi bangsa yang besar, maju dan mandiri di kemudian hari. Berangkat dari lima dasar yang diisyaratkan Pancasila yaitu “Ketuhanan, Kemanusiaan, Kesatuan, Kerakyatan, dan Keadilan”, harapannya bisa mewujudkan amanat yang empat dari UUD 1945. Interpretasinya sebagai berikut:

Pertama, melindungi bangsa dan tumpah darah dalam arian menjamin keamanan serta keselamatan bangsa, masyarakat, keluarga bahkan seiap individu. Pada konteks ini, pemerintah mesi dapat melindungi seluruh masyarakat dari resiko bencana alam atau huru-hara serta meringankan mereka sebagai korban. Tumpah darah juga wajib dijaga. Jangan sampai ada gangguan stabilitas keamanan dari luar. Juga berari menjaga kualitas dan daya dukung lingkungan atau ekosistem. Pemerintah dan aparat bersama masyarakat mesi sedia mengawal tumpah darah secara bersama-sama. Pertahanan negara yang diharapkan adalah upaya nasional terpadu.

Kedua, menyejahterakan masyarakat. Hal ini berari menjamin seluruh masyarakat sehingga mempunyai pekerjaan dan penghidupan yang layak, meningkatkan gizi dan kesehatan masyarakat, serta perumahan yang layak bagi masyarakat. Kesejahteraan masyarakat mesi merata yang didukung oleh semangat berkeadilan sosial.

(29)

| 7

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

Untuk itu akses pendidikan harus dapat dijangkau bagi seiap anak usia sekolah dan bagi seluruh lapisan masyarakat yang ingin menuntut ilmu. Pemerintah mesi mendukung dengan penyediaan fasilitas pendidikan dan olahraga yang memadai, kurikulum yang relevan serta tenaga pengajar yang profesional.

Keempat, melaksanakan keteriban dunia dengan menjalankan model poliik luar negeri yang bebas dan akif, untuk kepeningan bangsa Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, yang mengingini terselenggaranya situasi dunia yang aman dan damai. Hal ini juga berari, Pemerintah mesi didukung oleh para diplomat yang handal dalam menegosiasi kepeningan bangsa Indonesia pada forum internasional. Kecuali itu, pemerintah juga harus menyediakan pasukan perdamaian yang siap diterjunkan kapan saja dan di mana saja.

(30)

(2)

Apa yang Tersisa dari

Indonesia?

A

PA yang idak dipunyai Indonesia sebagai sebuah bangsa? Indonesia, sebuah negara yang kaya Sumber Daya Alam(SDA)nya, juga kaya Sumber Daya Manusia (SDM)nya. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah negara kepulauan yang punya sumber daya alam melimpah ruah. Ada 17.508 pulau di Indonesia, dengan kekayaan alam berupa minyak bumi, imah, nikel, kayu, bauksit, emas, perak, batubara, gas alam, dan sebagainya. Kecuali itu, Indonesia menjadi sebuah negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia.

(31)

| 9

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

sumber daya alam potensial berupa minyak bumi, imah, nikel, kayu, bauksit, emas, perak, batubara, gas alam, dan sebagainya.

Soal kepemilikan Sumber Daya Alam, jelas Indonesia punya predikat bagus. Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. Indonesia adalah produsen imah terbesar di dunia. Indonesia juga menempai peringkat pertama sebagai penghasil hasil-hasil pertanian seperi cengkeh (cloves), dan pala (nutmeg), serta peringkat

kedua sebagai produsen karet alam (natural rubber)

dan minyak sawit (crude palm oil).

Dari begitu banyak potensi sumber daya alam yang dipunyai Indonesia, senyatanya masyarakat Indonesia hanyalah menjadi buruh di tempat-tempat tambang tersebut. Padahal kekayaan yang berlimpah ruah itu adalah milik Indonesia. Hanya saja masyarakat Indonesia idak betul-betul bisa menikmainya.

(32)

Betul, bahwa sejarah dunia sudah memberi

-tahukan pada kita, bahwa idak ada sebuah bangsa yang lekas menjadi sempurna. Atau, sim salabim

se-keika menjadi sebuah bangsa besar tanpa melalui sebuah usaha, perjuangan, atau kerja keras. Jepang sebagai sebuah negara dengan ingkat perekonomi

-an y-ang maju lahir idak lahir sekeika, melaink-an karena komitmen dan kontribusi rakyatnya. Demiki

-an pula negara maju lainnya semacam Amerika Seri

-kat, Rusia, dan juga China.

Kalaupun sekarang, setelah puluhan tahun merdeka, Indonesia belum berhasil menjadi negara maju, seidaknya bangsa ini masih punya mimpi. Bukan saja mimpi sebagai negara maju di kemudian hari, tetapi juga mimpi sebagai negara yang sejahtera dan mandiri. Demikianlah impian para founding father kita dulu dan sebagian besar kita pada hari ini. Sayang sekali mimpi tentang Indonesia yang maju, sejahtera dan mandiri idak pernah menjadi sebuah kenyataan. Bisa jadi karena di negeri yang berlimpah ruah kekayaan sumber daya alamnya ini, masih terjadi penghisapan manusia atas manusia (exploitaion de l’homme par l’homme) dan

(33)

| 11

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

isilah een naie van koelis, en een koeli onder de naies.

Sekali lagi, yang tersisa dari negeri ini hanyalah mimpi-mimpi. Sementara untuk membuat mimpi-mimpi tersebut menjadi nyata, rasanya hampir mustahil. Kecuali jika dari rahim bangsa ini secepatnya lahir pemimpin-pemimpin yang visioner dan bertanggung jawab. Betul, banyak pemimpin belakangan yang mengaku sebagai demokrat sejai atau pro rakyat, tetapi itu berheni sebatas di mulut saja. Kenyataannya, sebagian mereka ini justru adalah aktor-aktor di balik drama penjualan aset bangsa, termasuk potensi-potensi kekayaan alam di negeri ini.

Pertanyaannya, “bagaimana mungkin mere

-alisasikan mimpi tentang Indonesia yang maju, se

-jahtera dan mandiri, sementara seluruh potensinya digadai bahkan dijual pada pihak asing?”. Pertanyaan berikutnya, “bagaimana mungkin merealisasikan

mimpi tentang Indonesia yang maju, sejahtera dan mandiri, sementara para pemimpin bangsa seolah i

-dak punya jiwa dan i-dak berkarakter?”.

(34)

Sekarang, neokolonialisme terang-terangan

sedang mengisap kekayaan dan aset Indonesia. Sementara para pemimpin bangsa ini malah memuluskan jalannya dengan menghamparkan “karpet merah” untuk masuknya modal asing dan perusahaan-perusahaan asing.

Untuk menyelamatkan mimpi-mimpi Indone

-sia, diperlukan komitmen bersama. Komitmen ada

-lah modal dasar untuk menyeriusi pembangunan di segala bidang. Komitmen juga menjadi modal dasar dalam menggelorakan kembali semangat ani kolo

-nialisme dan ani imperialisme dalam bentuk apap

-un. Tentu saja peran akif pemerintah pada aras ini diperlukan untuk menyatukan, menyinergikan, dan melipatgandakan semua kekuatan jika ingin mewu

(35)

| 13

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(3)

Kebangkitan Pemuda

Sebatas Nostalgia

M

ASALAH kepemudaan perlu disikapi serius. Sungguh idak dapat dipungkiri bahwa globalisasi yang ditandai oleh kemajuan dan perkembangan teknologi dan informasi yang demikian cepat, sedikit banyak akan berdampak pada kepribadian para pemuda Indonesia. Bersyukur jika dampaknya posiif. Apabila yang terjadi sebaliknya, globalisasi membawa pengaruh buruk pada kepribadian para pemuda Indonesia, maka sungguh idak ada masa depan yang cerah bagi negeri ini.

(36)

Demikian pula, bagaimana perjuangan luhur pemuda lainnya pada masa dulu dalam mengenalkan konsep persatuan dan kesatuan bangsa yang kemudian mengkristal menjadi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Demikian pula semangat membara Wikana dan Yusuf Kunto sebagaimana Perisiwa Rengasdengklok. Rasanya, sulit kita pada hari ini

menemukan semangat semacam itu lagi dalam

kepribadian pemuda Indonesia di era globalisasi seperi saat ini.

Tidak ingin mengesampingkan sebagian pemuda lain yang masih punya kepedulian pada bangsa ini. Namun permasalahannya adalah bagaimana sebagian pemuda-pemuda “yang pedu

-li” ini bisa menjadi teladan bagi “yang idak pedu-li”, sehingga kemudian bersama-sama ikut akif berkon

-tribusi dalam pembangunan. Banyak pemuda-pemu

-da pa-da hari ini yang bera-da -dalam lingkaran sikap apais dan hedonis, yang kesemuanya mengarah pada sikap ani sosial. Sementara krisis yang diala

-mi bangsa pada hari ini amat kompleks dan muli

-dimensi, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, masalah degradasi moral, sampai krisis kepemimpinan. Masalah kepemudaan yang paling beresiko adalah krisis kepemimpinan. Bagaimana mungkin bangsa ini dapat bertahan, se

-mentara pemuda-pemuda sebagai motor penggerak pembangunan kehilangan jiwa kepemimpinan?

(37)

| 15

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

mulidimensi mulai dari krisis ekonomi dan moneter, krisis hukum, krisis moral, dan sebagainya. Pada hari ini kita memang merindukan para pemuda yang mempunyai kepemimpinan dan etos kerja yang baik, sehingga dapat menjadi motor penggerak pembangunan. Pada akhirnya pemuda-pemuda seperi ini yang diharapkan dapat membawa Indonesia ke gerbang kemajuan sebagaimana yang dicita-citakan.

Hanya saja di antara sekian banyak pemuda yang mendapat kesempatan menjadi pemimpin, sayangnya hanya sedikit dari mereka yang mampu menunjukkan kredibilitas sebagai pemimpin yang baik dan amanah. Beberapa kasus korupsi yang melibatkan pemimpin-pemimpin muda belakangan ini, memperkuat asumsi betapa krisis kepemimpinan sedang terjadi pada para pemuda.

Jangan Sebatas Nostalgia

(38)

Sekarang adalah inggal bagaimana para pemuda kita tercambuk kesadarannya, untuk mengawali perubahan, sekurang-kurangnya dari dirinya sendiri. Dengan kesadaran tersebut, perlahan namun pasi, perubahan yang dicita-citakan akan terwujud.

Tentu saja para pemuda sekarang harus menyadari bahwa perjuangan pada hari ini bukanlah lagi dengan mengangkat senjata, bergerilya, atau berunding sana-sini, karena masih banyak bentuk perjuangan lain yang dapat dikerjakan untuk memaknai kemerdekaan dan menampilkan nasionalisme. Meski nampak sepele, membeli dan menggunakan produk karya anak bangsa adalah sebuah bentuk perjuangan untuk memaknai kemerdekaan dan menampilkan nasionalisme. Selainnya, berkarya dan berprestasi sesuai bidang masing-masing, serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sehingga idak mudah diadu domba atau terpecah belah. Peran pening pemuda sekarang adalah bagaimana mereka bisa menjadi bagian dari tenaga-tenaga penggerak pembangunan yang akif menyuarakan dan mendorong terciptanya perubahan.

(39)

| 17

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

kepemudaan, organisasi kemahasiswaan, organisasi pelajar, lembaga swadaya masyarakat, serta organisasi lainnya. Upaya mengaitkan pemuda dengan perjuangan kolekif ini, hemat penulis, masih sangat relevan terutama di era globalisasi.

(40)

(4)

“Potret” Hari Jadi

Kota Pontianak

D

IKISAHKAN Sultan Ponianak yaitu Syarif Ab

-durrahman Alkadrie, putra dari Habib Husin bersama dengan saudara-saudaranya berm

-ufakat menjelajah mencari kediaman baru. Singkat kisah, berangkatlah 14 perahu kakap menyusuri Sun

-gai Penii. Sekitar waktu Zuhur sampailah Syarif Ab

-durrahman dan pengikutnya di sebuah tanjung, yang kemudian dikenal dengan Tanjung Zohor. Perjalanan mengantarkan Syarif Abdurrahman ke Kelapa Tinggi Segedong. Untuk sementara waktu, Syarif Abdurrah

-man dan pengikutnya berkemah di sana.

Setelah beberapa lama di tempat tersebut, Syarif Abdurrahman dan pengikutnya melanjutkan perjalanan mereka kembali. Mereka menyusuri Sungai Kapuas dan menemukan sebuah pulau, yang kini kita kenal dengan nama Batu Layang. Sebuah tempat di mana Syarif Abdurahman Alkadri dan keluarganya dimakamkan.

(41)

-| 19

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

rrahman Alkadrie dan para pengikutnya diganggu oleh hantu-hantu Ponianak. Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintahkan para pengikutnya untuk mengusir hantu-hantu ini. Setelahnya, perjalanan menyusuri Sungai Kapuas kembali dilanjutkan. Jelang Subuh, 14 Rajab 1184 H atau 23 Oktober 1771, sam

-pailah rombongan Sultan Syarif Abdurrahman pada persimpangan Sungai Kapuas dan Landak.

Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai. Tempat inilah yang sekarang dinamai dengan Ponianak. Di tempat itu kini berdiri Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman dan Keraton Ponianak.

Hingga hari ini, tanggal 23 Oktober diperingai sebagai Hari Jadi Kota Ponianak. Tepat pada tanggal 23 Oktober 2010, genap Ponianak berusia 239 tahun. Sebuah usia yang sangat tua.

Potret Hari Ini

Usia Kota Ponianak boleh kita katakan sudah sangat tua: 239 tahun. Bahkan usia Kota Ponianak lebih tua dari usia kemerdekaan bangsa ini. Tapi kota ini, nampak begini-begini saja. Tidak banyak yang berubah.

(42)

kota ini belum menyatu dengan slogan tersebut. Sampah di mana-mana. Parit tersumbat karena tumpukan sampah. Kesadaran masyarakat kota ini tentang kebersihan masih sangat kurang. Menjadi kota yang indah dan nyaman rasanya masih jauh dari harapan.

Dibaca dari aspek keteriban masyarakat, masyarakat kita juga belum terib. Ini kita bisa tengok di persimpangan lampu merah. Lampu merah yang seharusnya menjadi penanda kendaraan-kendaraan berheni seringnya idak diindahkan. Justru lampu merah berari “tancap gas”.

Dari aspek kualitas pendidikan apa lagi. Kualitas pendidikan kota ini belum menggembirakan. Sebabnya karena fasilitas pendidikan yang minim, sehingga idak mendukung pembelajaran. Dari aspek pemerataan pembangunan masalahnya juga sama. Pembangunan kota masih terkesan tambal sulam.

Potret Masa Depan?

Hari ini adalah saat di mana masyarakat kita menanam benih, sementara masa depan adalah waktu panen. Karena siapapun yang ingin tahu tentang masa depannya, maka tengoklah apa yang dikerjakan pada hari ini. Sudah sepantasnya, pada hari jadi Kota Ponianak yang ke 239 ini kita mengevaluasi.

(43)

| 21

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

satu yang perlu dicermai adalah memanfaatkan peluang yang kita punya, dipadukan dengan keunggulan komparaif yang kita miliki. Terutama di sektor seperi pariwisata.

Di Kota Ponianak terdapat Tugu Khatulisiwa yang seharusnya menjadi daya tarik wisatawan dalam dan luar negeri karena hanya satu-satunya di dunia. Ada Sungai Kapuas, yang disebut-sebut sebagai sungai terpanjang di Indonesia. Kecuali itu pula kota kita berpeluang menjadi pusat jajanan kuliner, mengingat beragamnya kuliner yang terdapat di Kota Ponianak. Potensi-potensi ini harus diperhaikan pembangunannya maupun aspek promosinya.

Hal terpening merawat sisa-sisa opimisme di tengah maraknya apaisme. Opimisme mengenai masa depan Kota Ponianak dan semangat kemandirian perlu dipupuk, terutama sebagai modal dasar membangun Kota Ponianak. Dalam hal ini masyarakat Kota Ponianak mesi bersatu. Bila terjadi konlik sosial, penyelesaiannya dapat menempuh jalan yang damai dan santun. Jangan sampai benih-benih konlik ikut tumbuh bersama dengan usaha membangun kota ini.

(44)
(45)

| 23

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(5)

Kota Cerdas,

Mimpikah?

U

NDANG-Undang Otonomi Daerah disadari tel

-ah meletakkan kewenangan sebagian besar pemerintahan di bidang pendidikan dan kebu

-dayaan, yang sebelumnya milik pemerintahan pusat dan sekarang berada pada Pemerintah Kabupaten atau Kota. Jelas keadaan ini amat menguntungkan daerah. Pergeseran struktur kewenangan adminis

-trasi pendidikan ini jelas menjadi momentum yang tepat terutama dalam melakukan reformasi pendi

-dikan yang visioner.

Pada masa otonomi daerah seperi sekarang, berbicara tentang pengelolaan pendidikan, amat ber

-gantung pada apa maunya daerah. Karena itu, daer

-ah dituntut visioner dalam mengembangkan praksis pendidikan yang berkualitas. Pemerintah disebut educaion government, manakala pemerintahan me

-merhaikan pengambangan sumber daya manusia melalui sebuah pengelolaan pendidikan yang serius.

(46)

otonomi daerah. Sebagaimana dapat dimengeri, tujuan otonomi daerah yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pemerataan keadilan, demokraisasi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal serta menggali potensi dan keanekaragaman daerah. Otonomi pendidikan, bukan lantas diarikan pemindahan masalah pendidikan dari pusat ke daerah. Atau, bukan pula berari menyerahkan masalah pendidikan yang selama ini menjadi beban pusat dan sekarang dibebankan ke daerah. Otonomi pendidikan justru ingin meningkatkan layanan mutu pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Harus dimengeri bahwa pembangunan bidang ekonomi seyogyanya idak dapat dipisahkan dari pembangunan sumber daya manusia. Pem

-bangunan bidang ekonomi berjalan lurus dengan pengembangan sumber daya manusia. Bagaikan se

-buah koin dengan dua sisi yang berhubungan, per

-tumbuhan ekonomi yang baik dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus punya pen

-garuh dengan pertumbuhan ekonomi dan menaikkan gross domesic bruto (GNP). Dengan sumber daya manusia yang berkualitas, harapannya ikut merang

-sang kreaiitas masyarakat pada pola pikir dan pola kerjanya sehingga mampu menggulirkan perubahan kualitas hidup yang lebih baik dan lebih mapan.

(47)

| 25

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

pendidikan pada skala prioritas. Oleh karena itu strategi pembangunan pendidikan menjadi sebuah hal yang mutlak perlu dilakukan. Perencanaan pendidikan harus dilakukan secermat mungkin, seefekif dan seeisien mungkin. Kunci utama dalam merancang kebijakan pendidikan bermuara pada kebutuhan sekolah sebagai pengelola teknis di lapangan.

Mimpi Sebagai Kota Cerdas?

Kota Ponianak sesungguhnya berpeluang menjadi Kota Cerdas. Untuk itu Pemerintah Kota Ponianak perlu menyeriusi berbagai program pengembangan dan perbaikan kualitas pendidikan. Misalnya, Pemerintah Kota Ponianak dapat merancang pada lima tahun ke depan, idak ada lagi anak usia sekolah yang idak bersekolah terutama pada kelompok usia 7-12 tahun, 13-15 tahun, dan 16-18 tahun. Hal ini ditandai dengan pencapaian persentase angka parisipasi minimum (APM) dan angka transisi (AT) mendekai 100%.

Pada aspek mutu pendidikan, hal ini ditandai dengan kompetensi lulusan sekolah, yang dilihat dari prestasi para lulusan saat mereka melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih inggi atau dilihat dari ke

-mampuan atau daya saing mereka pada pasar kerja. Meningkatnya persentase angka melek huruf, melek bahasa Indonesia, dan melek teknologi adalah ind

(48)

pendidikan. Terpening Juga pening pada sisi eisien

-si pendidikan, yang ditandai dengan tercapainya pen

-gelolaan pendidikan yang berbasis pada sekolah dan masyarakat (community school based management)

yang bersesuaian dengan semangat UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003. Indikatornya adalah mening

-katnya peran fungsi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan, sehingga berkorelasi erat dengan pen

-ingkatan angka persentase kelulusan dan berari pula menurunnya angka persentase mengulang kelas.

(49)

| 27

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

Standar Pelayanan Minimal (SPM); ketujuh, daya serap lulusan inggi baik di Perguruan maupun pada pasar kerja atau dunia industri; dan kedelapan, akses layanan pendidikan berbasis IT.

(50)

(6)

Era Abu-Abu

I

NDONESIA tengah berada di era abu-abu. Di era ini, antara yang benar dan yang salah terlihat kabur.

Saat ini orang mulai sulit membedakan antara

korupsi dan komisi, uang suap atau tali asih, studi banding atau piknik, antara kekerasan dan solusi, dan seterusnya. Nilai-nilai jadi kabur.

Nyaris idak ada pedoman. Kalaupun ada, biasanya hanya ada di atas kertas, di teks pidato-pidato, arikel-arikel seminar atau diskusi. Kalaupun ada Undang-Undang, peraturan-peraturan pemerintah, seringkali idak dipedomani, karena yang berlaku adalah pedoman abu-abu.

(51)

| 29

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

peduli lagi terhadap nilai-nilai.

Pada era abu-abu, orang-orang lebih menyu

-kai relaivisme. Apa saja menjadi relaif. Termasuk batasan bermoral dan idak bermoral. Seseorang menjadi mudah mengatakan: “Ah, itukan relaif. Ber

-gantung pada sudut pandang.” Hal ini idak seluruh-nya salah.

Tapi mari kita mencerna, jika yang dipandang relaif adalah kasus kolusi, korupsi dan nepoisme. Akibatnya substansi fakta dari berbagai kasus menjadi abu-abu. Betul, fakta bisa diurai berdasarkan sudut pandang masing-masing. Namun menjadi masalah jika sudut pandang tersebut dilandasi oleh kepeningan tertentu.

Hakikat kebenaran menjadi abu-abu. Seseorang jadi sulit mengeri, apakah sebuah fakta betul-betul fakta, ataukah rekayasa sudut pandang tadi. Semuanya karena relaiitas. Serba abu-abu. Relaiitas sesungguhnya bukan duduk persoalannya. Kecenderungan memukul rata semuanya menjadi relaif itulah duduk persoalannya. Bayangkan jika jelas-jelas korupsi idak dianggap sebagai korupsi, jelas-jelas kolusi tapi idak dianggap kolusi, manipulasi idak dianggap sebagai manipulasi, benar idak disebut benar, keliru idak disebut keliru.

(52)

menerima saja keadaan abu-abu di era ini.

Hemat penulis, beberapa faktor yang menyebabkan keadaan tak menguntungkan ini, di antaranya:

Pertama, krisis kepemimpinan. Krisis kepemi

-mpinan dari struktur yang paling bawah hingga struktur yang di atas menjadi penghambat tumbuh

-kembangnya kepribadian bangsa yang beradab dan yang idak abu-abu. Pada konteks ini, pemimpin ing

-kat nasional sudah semesinya menjadi teladan bagi para pemimpin di daerah-daerah. Demikian seterus

-nya.

Kedua, kurangnya dukungan media massa. Saat ini, media massa malah memosisikan diri sebagai media abu-abu, sering melabrak kode eik jurnalisik, mendukung yang bayar, dan lain sebagainya. Media massa pada hari ini seringkali menyajikan konten berita yang idak layak konsumsi publik. Malah seringkali konsumen media menjadi terinspirasi berbuat kriminal setelah membaca berita-berita di media massa.

(53)

| 31

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

pendidikan kita. Sistem pendidikan nasional terkesan lebih mengedepankan penguatan kecerdasan otak sebagai standar keberhasilan pendidikan, di mana standar keberhasilan peserta didik diukur dari seberapa bagus nilai ujiannya. Dampaknya, para peserta didik menghalalkan berbagai cara demi memperoleh nilai ujian yang bagus. Termasuk mencontek. Fungsi utama sekolah dalam perbaikan karakter peserta didik seperinya idak begitu dianggap pening.

Inilah ironi era abu-abu. Entah sampai ka

-pan?.***

(54)

(7)

Mimpi Membangun

Tradisi Literasi

B

ARU saja, pesta demokrasi di helat di kota ini. Terpilih walikota dan wakil walikota Ponianak untuk lima tahun ke depan. Terselip harapan-harapan warga kota Ponianak, agar walikota dan wakil walikota terpilih membuat terobosan-terobosan program yang tepat sasaran, seperi pembangunan pada bidang kesehatan, pendidikan, fasilitas kota, dan lain sebagainya.

(55)

| 33

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

Padahal, kesadaran literasi sebuah masyarakat berkorelasi posiif dengan keadaan masyarakat yang cerdas dan maju. Berdasarkan asumsi inilah, tradisi literasi perlu bertumbuh dan berkembang pada keseharian masyarakat kita.

Tradisi literasi yang dimaksud pada tulisan ini adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak. Jelas ini berkorelasi posiif dengan kemajuan pemikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan serta keadaban di masyarakat. Ringkasnya, tradisi literasi ini harus bertumbuh dan berkembang di kota ini, terutama jika kita hendak merealisasikan mimpi Kota Ponianak sebagai Kota Cerdas.

Menyeriusi pembangunan isik kota memang pening. Tetapi membangun kesadaran masyarakat tentang peningnya tradisi literasi juga pening. Kesadaran akan peningnya membangun tradisi literasi sama arinya dengan kesadaran tentang peningnya membangun SDM.

(56)

hidup, forum diskusi yang ada, sejauh yang penulis pernah ikui, berlangsung datar dan sepi wacana.

Kebiasaan membeli atau mengoleksi buku

semasa menjadi mahasiswa nampaknya idak berlaku di Kota Ponianak. Wajarlah, idak banyak penerbit buku di kota ini, jika ingin membandingkan dengan kuanitas penerbit di Yogyakarta. Semua ini penanda, masih kurangnya kesadaran masyarakat akan peningnya tradisi literasi.

Untuk itu diperlukan komitmen dan dukungan program, terutama dari orang nomor 1 di Kota Ponianak. Kampanye tentang peningnya tradisi literasi ini harus terus menerus dilakukan. Pemerintah Kota Ponianak dalam hal ini perlu menggandeng lembaga pendidikan yang ada di Kota Ponianak, dari mulai PAUD sampai Perguruan Tinggi. RT, RW, Kelurahan, hingga Kecamatan juga perlu dilibatkan dalam hal ini.

Perlu juga dipikirkan, tentang bagaimana mengapresiasi penulis-penulis muda di Kota Ponianak. Atau, kalau perlu ada ajang pemilihan duta baca Kota Ponianak. Di kampus-kampus, skripsi-skripsi mahasiswa yang layak terbit boleh dibantu biaya penerbitannya, sehingga memoivasi mereka untuk terus menggelui dunia literasi.

(57)

| 35

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

dan mengirimkan cerpen, opini atau resensi ke media massa diapresiasi dengan uang pembinaan. Pemerintah Kota Yogyakarta juga kerap membuka hibah peneliian untuk umum, sehingga mahasiswa juga dapat turut serta berkompeisi dalam program hibah tersebut.

Meski sepi peminat, Pemerintah Kota jangan sampai kehilangan antusias untuk terus menggelar event pameran buku. Pada konteks ini, penerbit nasional dan penerbit lokal perlu digandeng untuk menyemarakkannya. Resiko kerugian akibat sepi pengunjung pameran mungkin akan diderita oleh paniia penyelenggara, tapi resiko tersebut anggap saja resiko yang pantas dibayar untuk pencerdasan masyarakat kota ini.

Selain itu, perlu digalakkan “koran dinding”, yaitu koran yang ditempel di dinding, seperi di Kecamatan, Kelurahan, di RT/ RW, bahkan di sudut gang-gang. Hal ini semata untuk membiasakan warga masyarakat dengan sarapan “koran” di iap paginya. Di perguruan inggi hal tersebut juga perlu dilakukan, maka koran dinding kampus juga perlu diperimbangkan. Harapannya, koran-koran idak saja menumpuk “idak dibaca” di ruangan pejabat-pejabat kampus, tetapi bisa dibaca siapa saja, terutama oleh mahasiswa.

(58)

tulis. Sementara kesadaran tradisi tulis seseorang akan mempengaruhi kesadaran seseorang akan tradisi baca. Inilah yang menurut penulis, menjadi PR yang harus dikerjakan oleh walikota dan wakil walikota Ponianak terpilih.

Mimpi sebagai Kota Cerdas bukan sesuatu hal yang mustahil untuk kita wujudkan, manakala masyarakat kota ini telah memiliki kesadaran bagus tentang tradisi literasi. Semoga ini idak hanya sebatas mimpi yang kita rajut!.***

(59)

BAGIAN DUA

(60)
(61)

| 39

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(1)

Krisis Keteladanan

Para Pemimpin

D

ERETAN masalah sedang menghantam negeri ini. Lantas di manakah para pemimpin bangsa? Apakah sudah beraksi?. Rasanya, tak banyak perubahan. Masalah demi masalah terus saja menghantam negeri ini. Meningkatnya jumlah angka kemiskinan, masih banyaknya jumlah pengangguran, ingginya angka putus sekolah, keterbelakangan, dan bahkan bertambahnya deretan datar kasus korupsi seolah-olah jadi masalah yang tak kunjung selesai di negeri ini meski sering bergani pemimpin.

Krisis keteladanan yang dipertontonkan para pemimpin negeri ini membuat kita makin pesimis. Rasanya bangsa ini idak memiliki masa depan yang cerah. Tidak tahu akan menjadi apa negara yang bernama Indonesia ini: 10, 15 atau 20 tahun yang akan datang?.

Bila kita mau berterus terang, dalam

(62)

pada hari ini, yang namanya “keteladanan” pemimpin menjadi sesuatu hal yang langka. Tidak ingin menjadi apais, tapi faktanya memang sehari-hari kita dipertontonkan kenyataan tentang keteladanan yang mengedepan sebatas sebagai pencitraan saja. Para pemimpin bangsa, yang katanya terpilih melalui proses demokrais, senyatanya lebih senang berceramah tentang keteladanan keimbang betul-betul melakukannya.

Wajar saja, pada hari ini ada kerinduan sebagian besar kita mengenai sosok pemimpin yang dapat dijadikan teladan. Kita merindukan sosok pemimpin yang bertanggung jawab, yang meyakini jabatan yang ia terima sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan di dunia serta akhirat. Bukan para pemimpin yang gila jabatan dan mengambil keuntungan dari peluang untuk kepeningan pribdai atau kelompoknya.

Kita jelas merindukan sosok pemimpin yang betul-betul peduli pada keadaan bangsanya. Sulit idur memikirkan nasib bangsanya yang belum sejahtera. Bukan seorang pemimpin yang hanya bisa ambil cui untuk liburan, menghabiskan

anggaran dengan alasan studi banding, dan meminta

(63)

| 41

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

di emperan ruko atau kolong jembatan, bahkan ada pula yang bertahan hidup dengan cara mengemis kasihan orang oleh karena sulitnya memperoleh pekerjaan, dan lain-lain.

Sekali lagi, bangsa ini merindukan seorang

pemimpin yang memberi contoh teladan terutama dalam kepemimpinannya. Dalam arian, seorang pemimpin yang berperilaku satu antara tutur kata yang diucapkan dengan perbuatan yang dilakukannya. Pemimpin yang mempunyai wawasan, sikap, dan indakan yang pantas diteladani, dan bukan sebatas pencitraan.

Dari deretan masalah yang menghantam bangsa ini, sangat beralasan kita bermimpi mempunyai seorang “pemimpin pro rakyat”, yang tegas seperi layaknya Soekarno, berhai bersih seperi Hata, cerdas dan cekatan seperi Syahrir, serta bersahabat layaknya seorang Natsir. Pemimpin-pemimpin yang mempunyai perencanaan yang matang dan punya kebiasaan berindak, dan benar-benar bekerja dalam ari nyata. Bukan pemimpin NATO (never acion, talking only). Tidak peduli usianya tua atau muda, dari kalangan sipil atau militer, dan seterusnya. Terpening dia harus dapat diteladani.

(64)
(65)

| 43

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(2)

DPR Seharusnya

Peduli Rakyat

T

IDAK saja dituntut mempunyai nurani dan kemauan poliik yang kuat untuk mewakili suara rakyat yang menjadi konsituennya, Seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) harusnya juga bisa menerjemahkan keinginan dan yang menjadi kebutuhan rakyat sebagai konsituennya. Atau dapat pula dikatakan, bahwa seorang anggota DPR yang mempunyai keinginan kuat dalam memperjuangkan hak-hak konsituennya idak cukup apabila dia idak punya kemampuan mendengar keinginan atau kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Apalagi jika seorang anggota DPR idak lagi punya keinginan untuk itu, maka pasilah akan sulit baginya merekam maunya rakyat. Kalaupun dia melakukannya, idak lebih dari sekadar komoditas poliik semata.

(66)

kumpulan orang-orang yang terhormat. Padanya diberikan gaji yang inggi beserta fasilitas lainnya. Menjadi masalah, keika dalam kerjanya, seorang anggota DPR bersifat serakah. Sementara menikmai fasilitas isimewa sebagai anggota DPR, namun hasil kerjanya belum begitu kelihatan. Terbaru, tuntutan anggota DPR membangun gedung baru DPR yang biayanya diprediksi luar biasa fantasis.

Meski diserang kriik bertubi-tubi, pimpinan DPR tak bergeming. DPR tetap akan membangun gedung barunya. Proses tender bahkan sudah dimulai. Sebelas calon kontraktorpun sudah mengambil dokumen prakualiikasi. Sekretariat Jenderal DPR sebagaimana dikuip VIVA News melansir, pembangunan gedung DPR seinggi 36 lantai itu diperkirakan akan merogoh dana sebesar Rp.1.164 triliun.

Anggaran itu terdiri dari pembangunan isik gedung sebesar Rp. 1.138 triliun dan biaya konsultasi sebesar Rp.26, 49 miliar, yang mencakup biaya perencanaan sebesar 9,5 miliar, biaya manajemen konstruksi sebesar Rp. 16 miliar, dan biaya pelaksanaan kegiatan sebesar Rp. 960 juta. Dana pembangunan gedung ini lumayan fantasis, apalagi ditengah sorotan kinerja anggota DPR yang merosot.

Peduli Rakyat?

(67)

| 45

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

menjadi sebuah ironi, di mana fungsi anggota DPR sebagai pengemban aspirasi rakyat.

Pada hari ini, jutaan rakyat Indonesia masih hidup dalam keadaan di bawah garis kemiskinan, ratusan gedung sekolah nyaris rubuh, banyaknya pengangguran, dan seterusnya. Jika demikian, komitmen anggota DPR sebagai lembaga inggi negara yang mengemban aspirasi rakyat menjadi patut dipertanyakan. Komitmen anggota DPR mengemban aspirasi rakyat jelas hanya isapan jempol manakala anggota DPR ngotot membangun gedung barunya.

Apakah ada di antara para anggota DPR yang berani menjamin, dengan menempai gedung baru yang megah dan fasilitasgedung yang mewah, lantas kinerja mereka menjadi lebih baik. Rakyat masih sulit melupakan berbagai rekaman video yang menampilkan anggota DPR yang idur di dalam persidangan. Lalu jika dengan gedung DPR yang lumayan bagus sebagaimana sekarang ini saja kelakuannya begitu, apalagi kelak menempai gedung megah dengan fasilitas gedung super mewah. Hemat penulis, fungsi gedung DPR tak ubahnya akan seperi hotel bintang lima, sebagai tempat menginap bukan tempat bekerja.

(68)

kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat.”

(69)

| 47

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

(3)

Tak Cukup Sekadar

Hasrat Memimpin

P

ERHELATAN pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kalimantan Barat (Kalbar) tak lama lagi digelar. Harapan jamak masyarakat Kalbar, kelak yang terpilih adalah kepala daerah yang mampu memberikan sumbangan pemikiran dan tenaganya secara ekstra untuk memimpin jalannya roda pembangunan di Kalbar.

Masyarakat Kalbar sudah sering disuapi dengan janji-janji palsu saat kampanye. Kali ini, masyarakat Kalbar mengingini kepala daerah mereka kelak adalah igur yang bertanggung jawab. Kepala daerah yang diandaikan memimpin Kalbar adalah pemimpin yang memberi buki dan bukan obral janji.

(70)

siker-siker yang ditempeli di kendaraan-kendaraan, baik kendaraan pribadi maupun umum, serta berbagai media kampanye lainnya.

Untuk itulah, perlu pencerdasan masyarakat sebagai calon pemilih. Karena dalam kenyataannya, idak semua yang berhasrat memimpin punya kemampuan memimpin atau memiliki bakat kepemimpinan. Sebaliknya pula, banyak juga di antara kita yang punya bakat kepemimpinan tetapi idak pernah mendapat kesempatan bagus untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin. Atau seseorang yang punya bakat kepemimpinan, tetapi kehilangan hasrat menjadi pemimpin.

(71)

lain-| 49

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

lain. Para calon kepala daerah yang “idak tulus mengabdi” inilah yang mesi dicurigai calon pemilih. Alih-alih untuk memenangi Pilkada, apapun dijanjikan dan dicitrakan. Harapannya, masyarakat sebagai calon pemilih menaruh simpai dan pada hari H menjatuhkan pilihan padanya.

Terakhir penulis ingin mengingatkan, masyarakat Kalbar perlu sadar bahwa nasib Kalbar 5 tahun ke depan dipertaruhkan dalam Pilkada ini. Karenanya, masyarakat Kalbar sebagai calon pemilih harus cerdas dan jangan sampai kehilangan akal sehat. Kenalilah betul-betul calon kepala daerah yang akan dipilih.

(72)

(4)

Pilkada dan Obral Janji

T

IDAK lama lagi masyarakat Kalimantan Barat (Kalbar) akan merayakan sebuah perhelatan besar yaitu pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi Kalbar. Hiruk pikuk jelang pilkada sesung

-guhnya telah terasa jauh-jauh hari. Mulai dari por

-si pemberitaan media massa sampai perbincangan serius hingga ringan baik di ruangan full AC maupun di warung-warung kopi. Biasanya yang diberitakan media massa atau diperbincangkan masyarakat ma

-sih seputar rekam jejak calon kepala daerah beserta prestasinya hingga prediksi tentang siapa di antara calon kepala daerah yang memenangi Pilkada Kalbar.

Selayaknya sebuah pesta demokrasi, yang namanya Pilkada selalu saja jadi ajang pencitraan dan jual janji. Di sudut-sudut jalan semarak dengan berbagai atribut kampanye para calon yang isinya masih sama: “obral janji”.

(73)

| 51

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

Jelang Pilkada, janji-janji memang menjadi sesuatu yang seksi untuk menarik perhaian calon pemilih. Sebabnya, seiap pilihan masyarakat sebagai calon pemilih kepada calon kepala daerah senyatanya mempunyai konsekuensi tersendiri dan amat menentukan nasib masyarakat dan kualitas pembangunan Kalbar 5 tahun ke depan. Dalam pengamatan penulis, janji-janji yang dijual pada perhelatan Pilkada tahun ini, masih seputar pemenuhan hak-hak dasar masyarakat seperi pendidikan, pengurangan pengangguran, peningkatan kualitas layanan kesehatan, perbaikan jalan, dan lain-lain.

Kualitas pendidikan di Kalbar secara umum masih rendah dan terbelakang. Sekolah-sekolah di pelosok-pelosok Kalbar masih berjalan alakadarnya dan minim fasilitas. Kualitas pendidikan inggi di Kalbar juga belum sebagus pendidikan yang diselenggarakan di Jawa.

Layanan kesehatan di Kalbar masih mahal sementara kualitas layanannya juga idak begitu baik. Tambahan lagi, rumah sakit dan puskesmas yang minim fasilitas dan tenaga kesehatan semakin menjauhkan masyarakat dalam kesempatan memperoleh hak dasarnya yaitu pengobatan murah yang berkualitas. Pengobatan murah bahkan grais dengan standar layanan yang berkualitas jelas masih begitu didambakan oleh masyarakat Kalbar.

(74)

pembangunan dan perbaikan jalan juga menjadi sorotan. Seperi dimahumi, kebijakan pembangunan asal jadi membuat jalan-jalan yang dibangun idak dapat bertahan lama. Masyarakat Kalbar mengeluh, karena jika jalan rusak, transportasi terhambat dan mahal, dan harga-harga barang ikut-ikutan naik. Hal ini jelas punya pengaruh pada kesejahteraan masyarakat Kalbar. Selainnya adalah ingginya angka pengangguran, yang sedikit banyak berhubungan dengan ingginya angka kejahatan di Provinsi ini.

Cerdas Membeli

Dalam hal ini, masyarakat Kalbar harus cerdas dalam membeli janji-janji yang dijual para calon kepala daerah. Janji-janji yang terlalu muluk-muluk dan diobral murah jangan mudah dipercayai. Janji yang menjadi bahan perimbangan calon pemilih senyatanya harus realisis dan betul-betul dapat menyentuh pemenuhan hak-hak dasar masyarakat Kalbar. Janji-janji para calon kepala daerah mesilah yang mudah dilihat hasilnya, didesak realisasinya, mudah diawasi dan dimintai pertanggungjawabannya.

(75)

| 53

INDONESIA? Apa yang Tersisa dari

Esei-Esei Politik, Sosial dan Pendidikan

seberapa keberpihakannya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Jika dia seorang poliisi, teliilah apakah dia dulu seorang poliisi yang jujur atau malah seorang poliisi busuk. Jika dia seorang pengusaha, perhaikanlah rekam jejaknya. Demikian seterusnya.

Pilkada memang ajang jualan dan obral janji, dan karenanya masyarakat Kalbar harus cerdas membelinya. Perhelatan Pilkada ini jangan dipandang sepele. Sungguh, masa depan Kalbar selama 5 tahun ke depan dipertaruhkan dalam perhelatan ini. Semoga Kalbar menjadi lebih baik lagi ke depannya.

(76)

(5)

Pilwako dan Mimpi

Kesejahteraan

J

ABATAN walikota dan wakil walikota Ponianak menjadi rebutan. Jika kita perhaikan dari beberapa calon walikota atau wakil walikota Ponianak, yang memperebutkan kursi nomor satu di Kota Ponianak, bukan hanya poliisi yang memutuskan ikut berkompeisi, melainkan pula pengusaha, agamawan, hingga akademisi. Semua berebut posisi, mencari andil dalam pesta pemilihan walikota dan wakil walikota (Pilwako) Ponianak.

Meski belum memasuki tahapan jadwal kampanye, bakal calon walikota dan wakil walikota nyatanya sudah mengampanyekan diri jauh-jauh hari. Termasuk membeli kendaraan poliik yang disediakan oleh partai-partai poliik, untuk memuluskan jalan memenangi Pilwako Kota Ponianak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :