VI ANALISIS LINGKUNGAN PERUSAHAAN
6.2.2. Kekuatan Sosial, Budaya, Demografis dan Lingkungan
Perubahan sosial, budaya, demografis dan lingkungan mempunyai dampak besar terhadap produk, jasa, pasar dan pelanggan. Faktor sosial terpusat pada nilai dan sikap orang, pelanggan dan karyawan yang mempengaruhi strategi perusahaan. Nilai-nilai ini terwujud ke dalam perubahan gaya gidup yang mempengaruhi permintaan terhadap produk ataupun cara perusahaan berhubungan
93 dengan karyawan. Nilai sosial budaya memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat akan suatu produk. 1) Pola konsumsi produk siap saji
Kemajuan teknologi dan globalisasi informasi membawa segala sesuatunya ke arah yang lebih praktis dan efisien. Seiring dengan kepadatan aktivitas masyarakat, khususnya masyarakat di kota besar, selera masyarakat juga berubah kepada produk-produk yang dapat dikonsumsi secara praktis. Preferensi masyarakat pun berubah termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan. Perubahan pola konsumsi masyarakat ditunjukkan kecenderungan masyarakat yang mulai menyukai makanan siap saji. Hal tersebut berlaku untuk makanan pokok maupun makanan selingan seperti roti dan kue. Hal ini dapat menjadi peluang bagi industri brownies untuk mengembangkan usahanya karena masyarakat sering kali menggunakan brownies sebagai jamuan pada acara-acara pertemuan ataupun hanya sekedar camilan karena menyukai rasanya. Berdasarkan kuesioner konsumen, sebanyak 35,29 persen responden membeli brownies karena suka dengan rasanya dan 20,59 persen membelinya sebagai makanan selingan. Selain itu, sebanyak 5,88 persen menggunakan brownies untuk acara-acara tertentu serta 2,94 persen responden menggunakan brownies untuk menjamu tamu.
2) Budaya oleh-oleh
Banyaknya objek wisata yang terdapat di Bogor dapat menarik masyarakat Bogor sendiri maupun masyarakat di luar kota Bogor untuk berkunjung. Salah satu budaya masyarakat ketika berkunjung ke tempat wisata adalah membeli oleh-oleh khas daerah tersebut untuk keluarga, tetangga maupun kerabat dekat. Kebiasaan tersebut dapat menjadi peluang bagi pemasaran produk yang memiliki citra sebagai makanan khas daerah tersebut, misalnya brownies yang sering kali dijadikan masyarakat sebagai oleh-oleh karena praktis dan mudah didapat. Dari 30 orang responden, 29,41 persen orang membeli brownies EBB sebagai oleh-oleh dari Kota Bogor.
3) Trend gaya hidup sehat dan syariah
Faktor sosial budaya mempengaruhi suatu usaha karena selalu terjadi perubahan sebagai akibat dari upaya individu ataupun sekelompok orang
94 untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui pengendalian dan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Dewasa ini meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan produk halal memberikan kesempatan pada produk-produk yang memiliki sertifikasi Dinkes dan MUI untuk masuk ke dalam persaingan sebagai makanan halal, bersih dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu, semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat juga berpengaruh terhadap tingkat konsumsi masyarakat akan makanan jadi. Hal ini terkait dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi bagi kesehatan dan bahaya zat pengawet dan pewarna yang tidak diperbolehkan oleh Dinkes. Kondisi ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan perusahaan untuk memperoleh pasar karena produknya yang telah dilengkapi dengan sertifikasi-sertifikasi tersebut.
Selain itu, salah satu faktor demografis yang berpontensi terhadap penciptaan pangsa pasar bagi setiap bidang usaha di suatu wilayah adalah jumlah penduduk. Potensi penduduk Indonesia yang besar ini sering menjadi pusat perhatian dan pasar sasaran bagi negara lain untuk memasarkan produknya. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia selama periode 2005-2008 dapat dilihat pada Tabel 1 yang telah dikemukakan sebelumnya.
Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk setiap tahunnya selama periode 2005-2010 rata-rata sebesar 1,27 persen. Pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia disebabkan oleh bertambahnya jumlah populasi penduduk yang terjadi di hampir seluruh wilayah di Indonesia, salah satunya di Kota Bogor. Tabel 22 menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Kota Bogor setiap tahunnya selama periode 2005-2008 rata-rata sebesar 3,17 persen. Jumlah penduduk Kota Bogor yang semakin meningkat merupakan pangsa pasar yang potensial dan peluang bagi perusahaan untuk memasarkan produknya.
Tabel 22. Pertumbuhan Penduduk Kota Bogor Tahun 2004-2008
Tahun Jumlah Penduduk
2004 831.571
2005 855.085
2006 879.138
2007 905.132
2008 942.208
95 6.2.3. Kekuatan Politik, Pemerintah dan Hukum
Stabilitas politik dan hukum merupakan aspek penting yang mempengaruhi iklim usaha di suatu negara. Politik dan hukum berhubungan langsung dengan keamanan dan stabilitas pemerintahan suatu negara. Keadaan politik dan keamanan yang tidak stabil akan memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan suatu usaha. Pelaku usaha akan merasa khawatir terhadap keberlangsungan usahanya. Kondisi ini juga berlaku sebaliknya. Beberapa kebijakan dan peraturan pemerintah yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan usaha EBB antara lain sebagai berikut.
1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Pembinaan dan pengembangan adalah upaya yang dilakukan oleh pemerintah, dunia usaha dan masyarakat melalui pemberian bimbingan dan bantuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan UMKM agar dapat berkembang serta mampu menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Sedangkan pemberdayaan yang dimaksudkan disini adalah usaha yang dilakukan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam bentuk penumbuhan iklim usaha, pembinaan dan pengembangan. Tujuan dari pemberdayaan ini adalah untuk mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang dan berkeadilan serta untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan UMKM menjadi usaha yang tangguh dan mandiri serta juga meningkatkan peranannya dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.
Pemerintah pusat dan daerah serta BUMN wajib untuk menyediakan pembiayaan kepada UMKM dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. Selain itu juga dituntut untuk memfasilitasi dan mendorong peningkatan pembiayaan modal kerja dan investasi melalui perluasan sumber dan pola pembiayaan, akses terhadap pasar modal, dan lembaga pembiayaan lainnya serta mengembangkan lembaga penjamin kredit, dan meningkatkan fungsi lembaga penjamin ekspor. Hal ini menjadi
96 peluang bagi perusahaan dalam rangka memperoleh pinjaman untuk mengembangkan usahanya.
2) Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2007 tentang Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM serta Nota Kesepahaman Bersama antara Pemerintah, Perbankan dan Perusahaan Penjamin
Sesuai dengan kebijakan tersebut, maka pemerintah telah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan fasilitas penjaminan kredit dari pemerintah melalui PT Asuransi Kredit Indonesia (PT Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha. Adapun bank pelaksana yang menyalurkan KUR ini adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri dan Bank Bukopin. KUR merupakan fasilitas pembiayaan yang dapat diakses oleh UMKM dan koperasi terutama yang memiliki usaha yang layak namun mempunyai kendala dalam hal agunan. Oleh karena itu, dengan adanya program KUR dapat menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan tambahan modal dengan persyaratan yang cukup mudah guna mengembangkan usahanya.