2.4 SI Katam Terpadu
2.4.1 Kelembagaan SI Katam Terpadu
Penyebaran informasi SI Katam Terpadu harus direncanakan dan dilakukan dengan baik agar sampai ke pengguna. Oleh sebab itu perlu adanya suatu kelembagaan sebagai sarana penyampaian informasi kepada pengguna. Kelembagaan ini meliputi penjelasan yang luas, yaitu selain mencakup pengertian organisasi petani, juga aturan main (role of the game) dalam menentukan pola-pola tindakan dan hubungan sosial, termasuk juga kesatuan sosial yang merupakan wujud nyata dari lembaga itu. Suatu kelembagaan pertanian bertujuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan petani sehingga lembaga mempunyai fungsi yang optimal (Anantanyu 2011). Kelembagaan menurut Nasution (2002); Uphoff (1986) merupakan seperangkat aturan, prosedur, norma, perilaku individu, dan kontrol terhadap sumberdaya yang mengatur hubungan antara satu orang dengan yang lainnya. Kelembagaan juga dapat diartikan sebagai suatu norma peraturan atau organisasi yang memudahkan koordinasi dalam membentuk suatu harapan setiap orang yang dicapai melalui kerjasama dengan pihak lain termasuk di dalamnya yaitu semua lembaga sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya serta masyarakat baik dari unsur publik, swasta, dan lembaga swadaya (Rintuh dan Minar 2005).
Balitbangtan sebagai lembaga penelitian mengandalkan inovasi teknologi dan kelembagaan sebagai inti dari aktifitas yang diharapkan dapat berfungsi sebagai jembatan antara Balitbangtan dengan lembaga penyampai inovasi maupun pelaku agribisnis pengguna inovasi. Pada prinsipnya, seluruh model kelembagaan diseminasi inovasi teknologi dirancang sebagai
33 teknik diseminasi dan sekaligus sebagai laboratorium lapang penelitian dan pengembangan Balitbangtan (Balitbangtan 2014). Hal ini merupakan sebuah proses komunikasi yang mempunyai tujuan dan terarah, melibatkan pihak pengirim pesan (sender), saluran (channel) dan penerima (receiver). Teori sederhana ini telah berkembang menjadi berbagai varian, tergantung kepada komponen dan materi informasi yang disampaikan, serta lingkungan sosial ekonomi dimana kegiatan dijalankan (Balitbangtan 2014).
Kegiatan penyusunan, pemutakhiran, sosialisasi, validasi, dan verifikasi SI Katam Terpadu bersifat dinamis serta melibatkan suatu data yang sangat besar dengan penyusunan algoritma yang cukup kompleks (Runtunuwu et al. 2012). Oleh karena itu dibutuhkan suatu tim kerja dengan berbagai disiplin ilmu dan lembaga terkait (Runtunuwu et al. 2013).
Koordinasi dan komunikasi antar kelembagaan harus dijalin dengan baik agar tujuan utama dari penyebaran informasi ini dapat tercapai yaitu implementasi SI Katam Terpadu oleh petani sehingga dapat meningkatkan produksi padi nasional. Runtunuwu et al. (2013) menyatakan bahwa agar terbentuk Tim Katam Pusat dan Gugus Tugas BPTP yang sinergi maka perlu adanya mekanisme kerja serta sistem koordinasi dan komunikasi yang intensif melalui jaringan komunikasi dan pertemuan reguler. Komunikasi dan koordinasi juga diperlukan bagi lembaga-lembaga yang berada di luar Balitbangtan terutama dengan Dinas Pertanian (Diperta) tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh), Badan Pelaksana Penyuluhan (Bappeluh), Penyuluh Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), mantri tani, dan gabungan kelompok tani (Gapoktan), seperti ditampilkan pada Gambar 12 (Runtunuwu et al. 2013).
BMKG berkoordinasi dengan Tim Katam Pusat untuk menyiapkan prediksi iklim pada MT I, MT II, dan MT III. Prediksi iklim tersebut kemudian dikorelasikan dengan informasi Kalender Tanam di setiap Kecamatan sebagai dasar untuk menentukan waktu tanam, ancaman bencana di lapang, serta rekomendasi teknologi berupa varietas dan pemupukan. Balitbangtan bekerja sama dengan Diperta Provinsi dan Kabupaten/Kota menyiapkan data waktu tanam serta rekomendasi varietas dan pemupukan. Sedangkan data ancaman bencana kebanjiran, kekeringan maupun serangan OPT disiapkan oleh Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Tim Katam Pusat bertanggung jawab penuh dalam penyusunan, pemutakhiran, dan peluncuran SI Katam Terpadu pada setiap awal musim tanam (Runtunuwu et al. 2013). Selanjutnya peran Gugus Tugas BPTP sangat strategis, yaitu untuk (1) mendukung secara aktif proses penyusunan, peluncuran maupun setelah peluncuran SI Katam Terpadu; (2) melaksanakan sosialisasi, validasi, dan verifikasi lapang dalam rangka meningkatkan akurasi informasi SI Katam Terpadu; (3) memantau dan mengevaluasi kejadian dan ancaman kekeringan, banjir, serta OPT; (4) mengidentifikasi sumber daya air, pola tanam, penggunaan varietas, pupuk, dan mekanisasi pertanian; (5) melakukan pengkajian dan identifikasi gejala dan dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian; (6) melakukan prediksi iklim lokal dan identifikasi teknologi adaptif spesifik lokasi (local wisdom) terhadap perubahan iklim; serta (7) mengelola stasiun klimatologi Balitbangtan di wilayah kerja BPTP (Runtunuwu et al. 2013).
34
Gambar 12 Kelembagaan dalam penyebaran informasi SI Katam Terpadu (Runtunuwu et al. 2013)
Peran kelembagaan masyarakat di luar institusi pemerintah mempunyai peranan yang penting. Salah satu kelembagaan masyarakat di bidang pertanian adalah kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan). Kelompok tani merupakan sekumpulan petani yang dibentuk oleh para petani atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan sosial, ekonomi, dan sumberdaya, kesamaan komoditas, dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggotanya (Kementan 2016). Sedangkan gapoktan adalah kumpulan beberapa kelompok tani yang bergabung dan bekerjasama untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha (Kementan 2016). Tujuan dari kelembagaan petani ini adalah guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan petani di segala hal. Dengan adanya kelembagaan petani ini diharapkan dapat mempercepat arus informasi dan komersialisasi inovasi hasil penelitian. Peranan kelompok tani dalam adaptasi perubahan iklim sangat penting yaitu dalam menerapkan SI Katam Terpadu kepada anggota petani dan petani disekitarnya. Hal ini sesuai dengan temuan Khanal et al. (2017) yang menyatakan bahwa kelembagaan masyarakat, kelembagaan kelompok, dan institusi petani informal mempunyai peran penting dalam mengurangi dampak negatif perubahan iklim dengan meningkatkan penerapan strategi adaptasi dan untuk memperkuat dan menerapkan adaptasi perubahan iklim. 2.4.2 Aktor-Aktor dalam SI Katam Terpadu
Proses komunikasi yang terjadi antara seseorang dengan orang lain menggambarkan adanya aktor yang berkomunikasi untuk menyampaikan pesan. Aktor merupakan suatu node atau simpul yang saling berinteraksi dan berelasi dalam menyampaikan pesan. Aktor dapat berupa individu, kelompok, lembaga atau organisasi, perusahaan, maupun negara (Eriyanto 2014).
Penyebaran informasi SI Katam Terpadu tidak terlepas dari peran para aktor yang terlibat. Peran aktor sangat penting dalam menunjang
Balitbangtan
Ditjen Tanaman Pangan, Penyuluhan/Pengembangan
SDM
Tim Katam Pusat
BPTP GUGUS TUGAS Diperta Provinsi/ Bakorluh/BMKG Provinsi BMKG/BPS Diperta Kab/Kota, Bappeluh KCD/UPTD/Mantri Tani, BPP/Koordinator PP/POPT Gapoktan/Poktan/Petani
35 keberhasilan penyampaian informasi kepada pengguna. Permentan nomor 45 tahun 2011 menggambarkan adanya beberapa aktor yang terlibat secara kelembagaan dan berjenjang. Aktor-aktor tersebut adalah Menteri Pertanian (Mentan) yang memberikan instruksi kepada Balitbangtan untuk membuat suatu inovasi dalam menghadapi perubahan iklim. Kemudian aktor Balitbangtan di pusat menginstruksikan kepada BPTP di seluruh provinsi untuk mendiseminasikan SI Katam Terpadu. Aktor berikutnya adalah BPTP yang digerakkan oleh para penyuluh pertanian dan peneliti di setiap BPTP. BMKG dan Badan Pusat Statistik (BPS) juga menjadi aktor untuk berkoordinasi dengan Balitbangtan dalam memberikan data yang terkait iklim dan merekam data hasil pemanfaatan SI Katam Terpadu. Aktor lainnya adalah Direktorat Jenderal (Ditjen) Teknis yang diberi instruksi oleh Mentan untuk ikut menyebarluaskan informasi SI Katam Terpadu. Aktor selanjutnya adalah Diperta di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta UPTD/UPT teknis di tingkat Kecamatan. Mentan juga memberikan instruksi kepada Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (Badan PPSDMP) untuk ikut menyebarkan informasi SI Katam Terpadu. Selanjutnya secara berjenjang Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluh Pertanian di tingkat provinsi, BPP di tingkat Kabupaten/Kota, BP3K, penyuluh pertanian daerah, Balai Diklat Pertanian di seluruh wilayah, dan widyaiswara juga berperan sebagai aktor dalam diseminasi SI Katam Terpadu. Dari jalur pemerintahan daerah Mentan berkoordinasi dengan para Gubernur di seluruh provinsi untuk menyosialisasikan SI Katam Terpadu. Kemudian para Bupati/Walikota, Camat, Lurah/Kepala Desa juga sebagai aktor. Gapoktan dan Poktan menjadi aktor dalam memberikan informasi SI Katam Terpadu kepada para anggota kelompoknya yaitu petani. Gambaran aktor-aktor dalam penyebaran informasi SI Katam Terpadu disajikan pada Gambar 13.
Gambar 13 Aktor-aktor yang berperan dalam penyebaran informasi SI Katam Terpadu (Aziz 2017)
36