• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

A. URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN 1. Pendidikan

12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

Upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk melalui Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera sangat berperan dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan. Melalui program yang ada, maka diharapkan pertambahan dan pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali dapat dihindarkan sehingga setiap keluarga dapat merencanakan kehidupannya menjadi lebih berkualitas dan sejahtera. a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi:

1) Program Kesehatan Reproduksi Remaja; 2) Program Pelayanan Kontrasepsi;

3) Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pelayanan KB/KR yang Mandiri;

4) Program Pengembangan Bahan Informasi Tentang Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak;

5) Program Penyiapan Tenaga Pendamping Kelompok Bina Keluarga.

b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:

Urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera pada tahun 2012 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 588.067.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 584.470.750,- sisa sebesar Rp. 3.596.250,-.

Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera sebagai berikut :

1). Program Kesehatan Reproduksi Remaja, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 19.569.000,- dan terealisasi sebesar Rp..19.569.000,- sisa Rp. 0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Advokasi dan KIE tentang Kesehatan Reproduksi Remaja 19.569.000 19.569.000 0 Tercapainya penurunan perkawinan usia muda 120 orang

2). Program Pelayanan Kontrasepsi, dengan alokasi anggaran sebesar Rp..130.431.000,- dan terealisasi sebesar Rp..129.081.000,- sisa Rp. 1.350.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pelayanan Pemasangan Kontrasepsi KB 110.291.600 110.291.600 0 Meningkatnya cakupan peserta KB baru dan aktif

4.100 aks. 2 Pengadaan Alat Kontrasepsi 5.099.400 5.099.400 0 Terlaksananya kegiatan monitoring sarana pelayanan KB 10 ohk

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

3 Pelayanan KB Medis Operasi 15.040.000 13.690.000 1.350.000 Terlaksananya kegiatan monitoring pelayanan KB medis operasi 17 ohk

3). Program Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam Pelayanan KB/KR yang Mandiri, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 150.000.000,- dan terealisasi sebesar Rp..149.260.750,- sisa Rp. 739.250,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Fasilitasi Pembentukan Kelompok Masya rakat Peduli KB 150.000.000 149.260.750 739.250 Terwujudnya PPKBD sub PPKBD dalam melaksanakan 6 peran bantu dan toga yang aktif memberikan KIE 280 orang

4). Program Pengembangan Bahan Informasi Tentang Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 228.067.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 226.560.000,- sisa Rp. 1.507.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

1 Pengumpulan Bahan Informasi tentang Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak 228.067.000 226.560.000 1.507.000 - Terwujudnya administrasi , akurasi dan validasi data, serta rutinitas pelaporan; 132 orang - Terwujudnya kelengkapan sarana untuk tumbuh kembang anak, sehingga perkembangan kecerdasan anak dapat terpantau sejak dini. 100 set

5). Program Penyiapan Tenaga Pendamping Kelompok Bina Keluarga, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 60.000.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 60.000.000,- sisa Rp. 0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pelatihan Tenaga Pendamping Bina Keluarga di Kecamatan 60.000.000 60.000.000 0 Terwujudnya kader yang terlatih, terampil dan kompeten sebagai pendamping dalam mengelola dan melaksanakan kelompok Bina Keluarga dan UPPKS 284 orang

Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera sebagai berikut:

1). Upaya menurunkan usia nikah pertama pada wanita usia kurang dari 20 tahun menjadi indikator dari upaya peningkatan kualitas kesehatan keluarga, namun pada kenyataannya bahwa pada tahun 2012 terjadi kenaikan, yaitu dari 8.250 di tahun 2011 meningkat menjadi 8.515 orang. Kondisi tersebut disebabkan tidak berimbangnya antara Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dengan derasnya arus informasi negatif melalui berbagai media khususnya internet;

2). Meningkatnya jumlah peserta KB Aktif dari pasangan usia subur sebanyak 397.307 akseptor atau 78,68% dari seluruh pasangan usia subur di tahun 2011, menjadi 408.896 atau 78,55% dari seluruh pasangan usia subur akseptor di tahun 2012; 3). Meningkatnya sarana pendukung bagi 763 kelompok Bina

Keluarga Berencana (BKB) aktif tahun 2011 menjadi 822 kelompok Bina Keluarga Berencana (BKB) di tahun 2012;

4). Terwujudnya kelengkapan sarana pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang anak, sehingga perkembangan kecerdasan anak dapat terpantau sejak dini;

5). Meningkatnya keterampilan dan kompetensi dari kader pendamping Kelompok Bina Keluarga di kecamatan, dalam mengelola kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) sejumlah 822 kelompok, Bina Keluarga Remaja (BKR) sejumlah 150 kelompok, Bina Keluarga Lansia (BKL) sejumlah 312 kelompok dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) sejumlah 385 kelompok;

6). Prestasi yang diraih antara lain:

a). Mendapatkan Penghargaan Manggala Karya Kencana tingkat Nasional, an. Bupati Malang;

b). Mendapatkan Penghargaan Population Award Bidang Kelembagaan, an. Pemerintah Kabupaten Malang;

c). Juara I tingkat Provinsi dalam Lomba KB Lestari; d). Juara II tingkat Provinsi dalam Lomba Kelompok BKB. c. Permasalahan dan solusi dalam urusan keluarga berencana dan

keluarga sejahtera sebagai berikut:

1). Masih tingginya pernikahan usia muda (<20 Tahun) dan masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), sehingga terus diupayakan peningkatan kegiatan KIE pendewasaan usia perkawinan dan kesehatan reproduksi remaja bersama stakeholder;

2). Guna peningkatan program KB di daerah dalam nuansa Otonomi Daerah, untuk masa mendatang terdapat wacana bahwa penyediaan alat kontrasepsi KB harus disediakan oleh Pemerintah Daerah setempat, maka untuk mengantisipasi kekosongan dana Alat Kontrasepsi dari Pemerintah Pusat, diharapkan agar pemerintah daerah mempersiapkan alokasi anggaran guna memenuhi kebutuhan tersebut secara khusus; 3). Masih kurangnya media KIE KB pada setiap pintu masuk

kecamatan berupa tugu dan baliho, maka dilakukan pembangunan media KIE KB berupa Tugu (pada 33 kecamatan) dan pembuatan Baliho KIE KB pada 7 kecamatan (Pagak, Turen, Kepanjen, Bululawang, Tumpang, Singosari, Pujon);

4). Masih lemahnya kegiatan usaha ekonomi produktif di keluarga, sehingga diperlukan peningkatan pembinaan kegiatan usaha ekonomi produktif melalui UPPKS, sekaligus meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait.

13. Sosial

Konsep penyelenggaraan kesejahteraan warga masyarakat yang dikenal dengan sebutan Panyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan masyarakat miskin menjadi sasaran dalam pelayanan sosial. Berbagai upaya telah dilakukan antara lain melalui peningkatan penyediaan pelayanan kesejahteraan sosial, namun upaya tersebut masih jauh dari yang diharapkan apabila dibandingkan dengan populasi PMKS yang jauh lebih besar jumlah dan sebarannya.

Penurunan angka kemiskinan sebagai dampak dari berbagai program pengentasan kemiskinan, serta dari upaya peningkatan kegiatan ekonomi secara umum, namun demikian kemiskinan dan pengangguran masih merupakan urusan yang serius di Kabupaten Malang dalam beberapa tahun kedepan. Sehingga diperlukan peningkatan efektivitas program-program penanggulangan kemiskinan antara lain melalui pengembangan etos kerja, semangat kewirausahaan, gotong royong masyarakat dan pemberdayaan ekonomi perdesaan.

Berdasarkan surat dari Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Nomor: B.025/Sesmen-PDT/I/2010 tanggal 29 Januari 2010 tentang Verifikasi dan Updating Status Desa, di Kabupaten Malang masih terdapat 110 desa yang dikategorikan desa tertinggal atau 28% dari jumlah desa/kelurahan sebanyak 390 desa/kelurahan. Namun dari hasil verifikasi ulang pada tahun 2012 jumlah desa tertinggal di Kabupaten Malang berjumlah 51 desa tertinggal (48 Desa Tertinggal dan 3 Desa Sangat Tertinggal) dimana ditargetkan pada tahun 2014 desa tertinggal akan tuntas. Penetapan kategori ini dimanfaatkan untuk lebih memfokuskan kegiatan pembangunan terutama dalam rangka pemberdayaan dan penguatan sarana dan prasarana perdesaan. Dengan demikian tingkat klasifikasi ketertinggalan semakin ringan terutama karena semakin tercukupinya sarana dan prasarana desa.

a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi:

1). Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya;

2). Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial; 3). Program Pembinaan Anak Terlantar;

4). Program Pembinaan Penyandang Cacat dan Trauma; 5). Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo;

6). Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial (Eks Narapidana, PSK, Narkoba dan Penyakit Sosial lainnya);

7). Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan. b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:

Urusan sosial pada tahun 2012 telah dialokasikan anggaran sebesar Rp. 723.418.900,- dan terealisasi sebesar Rp. 718.881.300,- sisa

sebesar Rp. 4.537.600,-.

Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada urusan sosial sebagai berikut:

1). Program Pemberdayaan Fakir Miskin Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 240.397.600,- dan terealisasi sebesar Rp. 238.149.000,- sisa Rp. 2.248.600,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Fasilitas Manajemen Usaha bagi Keluarga Miskin 67.262.600 66.542.600 720.000 - Terlaksananya motifasi sosial bagi 20 orang lanjut usia dan 40 orang wanita rawan sosial ekono-mi; 60 orang

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

- Terlaksananya penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kabupaten Malang sebanyak 40 orang. 60 orang 2 Pelatihan Keterampilan Berusaha bagi Keluarga Miskin 173.135.000 171.606.400 1.528.600 Terlaksananya kegiatan bimbingan motivasi dan pelatihan ketrampilan berusaha bagi keluarga miskin di wilayah Kabupaten Malang 400 orang

2). Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 139.847.600,- dan terealisasi sebesar Rp. 138.831.600,- sisa Rp. 1.016.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pelayanan dan Perlindungan Sosial, Hukum bagi Korban Eksploitasi, Perdagangan Perempuan dan Anak 51.910.000 51.312.000 598.000 Terwujudnya pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi anak berhadapan dengan hukum dan pekerja migran bermasalah 30 orang

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

2 Peningkatan Kualitas Pelayanan, Sarana dan Prasarana Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Bagi PMKS 55.750.000 55.332.000 418.000 Tersedianya sarana dan prasarana dalam rangka Peningkatan Kualitas Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial PMKS 15 orang 3 Penanganan Masalah-Masalah Strategis yang Menyangkut Tanggap Cepat Darurat dan Kejadian Luar Biasa 32.187.600 32.187.600 0 Tertanganinya korban bencana 200 orang

3). Program Pembinaan Anak Terlantar, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 45.498.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 45.119.000,- sisa Rp. 379.000,- dengan rincian kegiatan

sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pengembangan Bakat dan Ketrampilan Anak Terlantar 45.498.000 45.119.000 379.000 Terlaksananya kegiatan bimbingan motivasi dan pelatihan ketrampilan pengembangan bakat / keterampilan anak terlantar 50 anak

4). Program Pembinaan Penyandang Cacat dan Trauma, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 28.557.600,- dan terealisasi sebesar Rp. 28.557.600,- sisa Rp. 0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pendayagunaan para

Penyandang Cacat dan Eks Trauma

28.557.600 28.557.600 0 Terlaksananya pendayagunaan bagi 40 orang penyandang cacat dan eks trauma

40 orang

5). Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 80.260.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 79.961.000,- sisa Rp. 299.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pendidikan dan Pelatihan bagi Penghuni Panti Asuhan/Jompo

80.260.000 79.961.000 299.000 Terbinanya anak panti yang trampil dan mahir

25 orang

6). Program Pembinaan Eks Penyandang Penyakit Sosial, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 61.120.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 61.120.000,- sisa Rp. 0,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Pemberdayaan Eks Penyandang Penyakit Sosial 61.120.000 61.120.000 0 Terlaksananya kegiatan bimbingan motivasi bagi eks penyandang penyakit sosial

50 orang

7). Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 127.738.100,- dan terealisasi sebesar Rp. 127.143.100,- sisa Rp. 595.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Peningkatan Peran Aktif Masyarakat dan Dunia Usaha 22.319.500 22.319.500 0 Terlaksananya kegiatan Penyuluhan sosial kepada masyarakat (Toga, Toma, PKK, Karang Taruna, PSM RT/RW) 30 orang 2 Peningkatan Jejaring Kerjasama Pelaku-Pelaku Usaha Kesejahteraan Sosial Masyarakat 65.518.600 65.073.600 445.000 Terwujudnya kerjasama pelaku-pelaku kesejahteraan sosial 7 kube 3 Peningkatan Kualitas SDM Kesejahteraan Sosial Masyarakat 39.900.000 39.750.000 150.000 Terlaksananya kualitas SDM kesejahteraan sosial 40 karang taruna

Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada Urusan Sosial sebagai berikut:

1). Meningkatnya rasio penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sebesar 2,65% pada tahun 2011 menjadi 3,11% di tahun 2012, sehingga dapat diartikan terdapat peningkatan terhadap penanganan urusan kesejahteraan sosial;

2). Meningkatnya partisipasi sosial masyarakat dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dari 2,02% di tahun 2011 menjadi 2,08% di tahun 2012 dari total PMKS yang ada setiap tahunnya;

3). Meningkatnya motivasi untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi melalui pemberian bantuan berupa hewan ternak, usaha sektor informal, peralatan berupa gilingan tepung, kopi, parutan kelapa, dan bantuan lainnya bagi fakir miskin dimana tahun 2011 telah diberikan bantuan sebanyak 897 orang dan di tahun 2012 sebanyak 1.220 orang;

4). Berkurangnya beban bagi korban bencana alam melalui pelaksanaan penyaluran bantuan dimana di tahun 2011 telah disalurkan bantuan kepada 1.300 KK dan di tahun 2012 disalurkan bantuan kepada 1.910 KK;

5). Meningkatnya perkembangan dan motivasi bagi anak terlantar dalam hal bakat dan ketrampilannya dimana di tahun 2011 telah dilakukan pembinaan kepada 90 anak terlantar dan di tahun 2012 sebanyak 175 anak;

6). Meningkatnya keahlian dan ketrampilan yang dimiliki oleh penyandang cacat sehingga dapat digunakan sebagai bekal untuk meningkatkan taraf hidupnya dari 60 orang di tahun 2011 menjadi 87 orang di tahun 2012;

7). Meningkatnya produktivitas penghuni panti asuhan melalui pemberian bantuan stimulan dan ketrampilan yang telah dilakukan di 30 panti asuhan di tahun 2011 dan 33 panti asuhan di tahun 2012;

8). Meningkatnya pemahaman dan ketrampilan bagi jumlah tenaga kesejahteraan sosial masyarakat yang mendapat pelatihan dalam memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat sebanyak 143 orang di tahun 2012;

9). Meningkatnya upaya pencegahan dan pemberantasan penyalagunaan narkoba dan obat-obatan terlarang melalui publikasi pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba di beberapa tempat strategis dan di sekolahan, yang telah dilakukan di tahun 2012 sebanyak 1 kali penyuluhan dan

merehabilitasi sejumlah 24 anak nakal dan korban NAPZA dengan sistem panti;

10). Meningkatnya pelayanan dan terwujudnya perlindungan jaminan sosial serta kesetiakawanan sosial masyarakat;

11). Meningkatnya pembinaan terhadap eks penyandang penyakit sosial antara lain : gelandangan, pengemis, anak nakal, anak jalanan, eks korban NAPZA, dan WTS yang merupakan program prioritas Provinsi Jawa Timur secara terus menerus dan berkelanjutan, diharapkan timbul kesadaran pribadi dan dapat kembali ke masyarakat;

12). Meningkatnya pembinaan terhadap potensi dan sumber kesejahteraan sosial;

13). Prestasi yang diraih antara lain:

14). Juara II tingkat Provinsi dalam Lomba ORSOS Berprestasi, an. Panti Asuhan Petermas Gondanglegi;

15). Juara II tingkat Provinsi dalam Lomba Karang Taruna Berprestasi, an. Karang Taruna Merta Wijaya Arjowilangun Kalipare.

c. Permasalahan dan solusi dalam urusan sosial sebagai berikut:

1). Ketersediaan data base PMKS yang valid masih jauh dari yang diharapkan, sehingga perlu dilakukan pemberdayaan Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang handal untuk memperoleh data yang valid di wilayah kerja masing-masing;

2). Masih terbatasnya PMKS yang dapat ditangani dan semakin meningkatnya jumlah PMKS dari tahun ke tahun, maka dilakukan penanganan PMKS dengan lebih maksimal serta dilakukan kerjasama dengan instansi terkait di Provinsi maupun Pemerintah Pusat;

3). Masih sangat terbatasnya sarana dan prasarana dalam rangka pelayanan PMKS, sehingga diperlukan peningkatan sarana dan prasarana secara bertahap;

4). Jumlah populasi anak terlantar dari tahun ke tahun di Kabupaten Malang semakin meningkat, maka diperlukan penanganan anak terlantar, melalui kegiatan Pelatihan Pengembangan Bakat Anak Terlantar;

5). Terbatasnya anggaran yang tersedia untuk pendayagunaan pada penyandang cacat, yang mana hanya dapat dimanfaatkan untuk 40 anak orang penyandang cacat rungu dan wicara (ABK), sementara jumlah penyandang cacat di Kabupaten Malang cukup banyak, sehingga perlu dilakukan seleksi calon peserta secara selektif dan kreteria untuk ABK yang memiliki potensi dan ketrampilan yang dimiliki, berupa ketrampilan otomotif dan tata rias;

6). Masih belum bisa menjangkau semua panti untuk permohonan bantuan ekonomi produktif, sehingga perlu dilakukan terobosan program melalui Provinsi dan Pemerintah Pusat seperti: program pemenuhan kebutuhan dasar subsidi BBM Kementerian Sosial dan program peningkatan sarana dan prasarana panti dari Provinsi Jawa Timur;

7). Masih besarnya pengaruh dari para mucikari, sehingga bimbingan motivasi sosial bagi wanita tuna sosial membutuhkan waktu/proses yang cukup lama dan membutuhkan pendekatan khusus, maka dalam proses seleksi melibatkan koordinator mucikari di lokalisasi dan untuk peserta bimbingan diikuti dari perwakilan wisma-wisma untuk selanjutnya disampaikan kepada penghuni lokalisasi di masing-masing wisma;

8). Belum berjalannya program-program tenaga kesejahteraan sosial secara optimal, maka perlunya tenaga kesejahteraan sosial dilibatkan menjadi pendamping program Provinsi maupun Pusat.

14. Ketenagakerjaan

Kebijakan pemerintah pusat, provinsi dan daerah berkenaan dengan urusan ketenagakerjaan adalah adanya ketersediaannya lapangan pekerjaan bagi pencari kerja yang sering kali tidak mencukupi kebutuhan, sehingga bekerja di luar negeri masih menjadi pilihan sebagian besar pencari kerja.

Untuk mengatasi masalah meningkatnya jumlah angkatan kerja telah dilakukan beberapa upaya untuk menstimulasi munculnya lapangan pekerjaan baru maupun penyiapan bagi pencari kerja agar siap pakai, diantaranya menempatkan tenaga kerja melalui program antar kerja lokal, program antar kerja antar daerah dan program antar kerja antar negara. Disamping itu dilakukan pula upaya-upaya pembinaan dan pengembangan produktivitas tenaga kerja, perluasan dan pengembangan kesempatan kerja, pembinaan hubungan industrial dan perlindungan tenaga kerja.

a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi: 1). Program Peningkatan Kesempatan Kerja;

2). Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan. b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:

Urusan ketenagakerjaan pada tahun 2012 telah dialokasikan

anggaran sebesar Rp. 1.607.630.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 1.562.080.000,- sisa sebesar Rp. 45.550.000,-.

Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada urusan ketenagakerjaan sebagai berikut:

1). Program Peningkatan Kesempatan Kerja, dengan alokasi

anggaran sebesar Rp. 323.760.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 313.460.000,- sisa Rp. 10.300.000,- dengan rincian

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

1 Penyebarluasan Informasi Bursa Kerja 323.760.000 313.460.000 10.300.000 Meningkatnya penempatan tenaga kerja 3.000 orang

2). Program Perlindungan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.283.870.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 1.248.620.000,- sisa Rp. 35.250.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Fasilitasi Penyelesaian Prosedur Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial 189.138.000 186.238.000 2.900.000 Terlaksananya sosialisasi tentang pemahaman PHI 60 orang 2 Fasilitasi Penyelesaian Prosedur Pemberian Perlindungan Hukum dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan 369.284.000 351.034.000 18.250.000 - Terwujudnya draf besaran UMK 2013; - Terwujudnya pengetahuan tentang pemberda-yaan KB dan Koperasi Perusahaan 1 rekom 75 orang 3 Sosialisasi Berbagai Peraturan Pelaksanaan tentang Ketenagakerjaan 100.000.000 95.600.000 4.400.000 Terlaksananya sosialisasi peraturan pelaksanaan tentang ketenaga-kerjaan 100 orang

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

4 Peningkatan Pengawasan, Perlindungan dan Penegakan Hukum terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja 625.448.000 615.748.000 9.700.000 Terlaksananya apel bulan K3 300 orang

Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada urusan ketenagakerjaan sebagai berikut :

1). Meningkatnya kualitas angkatan kerja melalui pelaksanaan

pelatihan, tahun 2011 telah dilakukan pelatihan sebanyak 13 kegiatan dengan peserta sejumlah 370 orang dan di

tahun 2012 sebanyak 23 kegiatan pelatihan dengan peserta sejumlah 970 orang;

2). Meningkatnya pemahaman hukum ketenagakerjaan yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman hukum serta meningkatnya kesejahteraan pekerja atau telah dilakukan pemahaman hukum ketenagakerjaan kepada 100 orang tenaga kerja di tahun 2011 dan 75 orang tenaga kerja di tahun 2012;

3). Menurunnya angka pelanggaran terhadap undang-undang ketenagakerjaan dari 239 pelanggaran di tahun 2011 menjadi 190 pelanggaran di tahun 2012;

4). Prestasi yang diraih antara lain:

a). Penghargaan zero accident tingkat Kabupaten, an. PT Beiersdorf Indonesia, Singosasari; KUD Sumber

Makmur, Ngantang; PT. Pindad, Turen; PT. Molindo Inti Gas, Lawang; PT. Molindo Raya Industrial, Lawang; PT. PJB. UP Brantas, Sumberpucung; dan PT. Dupont Indonesia;

b). Penghargaan Pembina LKS Bipartit tingkat Kabupaten, an. PT. Ekamas Fortuna;

c). Penghargaan Pembinaan Tenaga Kerja Wanita tingkat Kabupaten, an. PT. Beiersdorf Indonesia , Singosasri; d). Penghargaan TKI Atas Prestasinya Sebagai Pelopor

Penggerak Ekonomi tingkat Kabupaten, an. Manaf Siswanto Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare.

c. Permasalahan dan solusi dalam urusan ketenagakerjaan sebagai berikut:

1). Belum sepenuhnya pekerja memahami hukum ketenagakerjaan, sehingga perlu dilakukan sosialisasi peraturan pelaksanaan tentang ketenagakerjaan secara optimal;

2). Masih minimnya kualitas angkatan kerja untuk bersaing di dunia kerja, maka diperlukan pelatihan-pelatihan teknis guna meningkatkan kualitas dan kemampuan angkatan kerja.

Dokumen terkait