• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH

A. URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN 1. Pendidikan

8. Lingkungan Hidup

Secara prioritas nasional, pembangunan urusan lingkungan hidup dititikberatkan pada lingkungan hidup dan pengelolaan bencana, yang mana diarahkan pada konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang berkelanjutan, disertai penguasaan dan pengelolaan resiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Dalam upaya untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan telah dilakukan upaya melalui sosialisasi dan pembinaan secara intensif kepada para pelaku usaha atau kegiatan yang usahanya atau

kegiatannya berpotensi mengganggu lingkungan hidup, disamping pengawasan yang secara intensif terus dilakukan dalam rangka meningkatkan pemenuhan baku mutu air limbah industri. Berkenaan dengan pemanfaatan limbah buangan agar tidak berpotensi menimbulkan pencemaran, maka dilakukan upaya upaya memanfaatkan limbah untuk menjadi energi melalui pemanfaatan biogas. Guna memotivasi masyarakat untuk memperbaiki kualitas lingkungan permukiman melalui pengelolaan limbah ternak secara reguler maupun berkelanjutan pemerintah melibatkan peran swasta dan LSM-Belanda (HIVOS) melalui program Biogas Rumah (BIRU).

Dalam pengelolaan kebersihan lingkungan persampahan dititikberatkan pada pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat, sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, aman bagi lingkungan dan dapat mengubah perilaku masyarakat. Pemerintah Kabupaten Malang disamping menangani persampahan perkotaan di ibukota kecamatan, juga telah membentuk kader lingkungan melalui kerjasama pendidikan dan pelatihan persampahan di sekolah-sekolah. Kepedulian masyarakat untuk memahami pengelolaan sampah semakin meningkat dengan ditandai bertambahnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mengolah sampah.

a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi:

1). Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup;

2). Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam; 3). Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber

Daya Alam dan Lingkungan Hidup;

4). Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau ( RTH ); 5). Program Pengembangan Kinerja Persampahan.

b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:

Urusan lingkungan hidup pada tahun 2012 telah dialokasikan

anggaran sebesar Rp. 7.587.340.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 7.127.068.200,- sisa sebesar Rp. 460.271.800,-.

Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada urusan lingkungan hidup sebagai berikut:

1). Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup, dengan alokasi anggaran sebesar Rp..580.000.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 576.757.100,- sisa Rp. 3.242.900,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Koordinasi Penilaian Kota Sehat / Adipura 380.000.000 376.894.000 3.106.000 Terselenggaranya pengelolaan lingkungan sehat di masyarakat 18 kelurahan /desa 2 Pemantauan Kualitas Lingkungan 110.000.000 109.863.100 136.900 Terpantaunya kualitas lingkungan 79 titik 3 Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Bidang Lingkungan Hidup 50.000.000 50.000.000 0 Terlaksananya pengawasan lapangan dalam rangka pelaksanaan kebijakan di bidang lingkungan hidup 30 perusa-haan 4 Koordinasi Penyusunan AMDAL 40.000.000 40.000.000 0 Terlaksananya koordinasi antara pelaku usaha dan intansi terkait dalam rangka penyusunan dokumen lingkungan 37 pelaku usaha

2). Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 95.000.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 94.601.250,- sisa Rp. 398.750,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Konservasi Sumber Daya Air dan Pengendalian Kerusakan Sumber-Sumber Air 65.000.000 64.601.250 398.750 Terjaganya kualitas sumber daya alam 5 lokasi 2 Pengendalian dan Pengawasan Pemanfaatan Sumber Daya Alam 30.000.000 30.000.000 0 Terlaksananya pengendalian dan pengawasan pemanfaatan SDA 5 kec.

3). Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, dengan alokasi

anggaran sebesar Rp. 346.750.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 344.006.600,- sisa Rp. 2.743.400,- dengan rincian

kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Peningkatan Edukasi dan Komunikasi Masyarakat di Bidang Lingkungan 226.750.000 224.308.600 2.441.400 - Tersusunnya buku hasil kajian tentang KLHS; - Terselenggaranya edukasi dan komunikasi di bidang lingkungan. 35 buku 50 sekolah

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

2 Pengembangan Data dan Informasi Lingkungan 120.000.000 119.698.000 302.000 Tersusunnya laporan status lingkungan hidup 1 dokumen

4). Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 1.781.100.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 1.685.375.250,- sisa Rp. 95.724.750,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan RTH 90.000.000 89.285.000 715.000 Tereselengga ranya pengelolaan lingkungan hidup di masyarakat 1 paket 2 Pemeliharaan RTH 1.691.100.000 1.596.090.250 95.009.750 Terealisasinya ruang terbuka hijau yang terpelihara 7 paket

5). Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 4.784.490.000,- dan terealisasi sebesar Rp. 4.426.328.000,- sisa Rp. 358.162.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Persampahan 1.709.837.500 1.690.561.500 19.276.000 - Terealisasinya pengadaan prasarana dan sarana pengelolaan persampahan; 62 unit - Terwujudnya kebersiahan dan keindahan pasar. 10 pasar

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

2 Peningkatan Operasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Persampahan 2.833.402.500 2.511.251.500 322.151.000 Terealisasinya pelayanan persampahan/ kebersihan perkotaan 443,5 m3/hari 3 Pengembangan Teknologi Pengolahan Persampahan 131.250.000 128.965.000 2.285.000 Terealisasinya pemberdayaan pengolahan sampah alternatif (komposting) dan pemanfaatan gas methane sampah sebagai energi alternatif dari proses dekomposisi sampah 4 lokasi 4 Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Persampahan 110.000.000 95.550.000 14.450.000 Terealisasinya upaya pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat 539 kepala keluarga

Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada urusan lingkungan hidup sebagai berikut :

1). Meningkatnya volume timbulan sampah yang terolah dan terangkut dari sumber sampah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dari

443,5 m³ per hari dari jumlah timbulan sampah perkotaan ± 999 m³ per hari (44,5%) di tahun 2011, menjadi 564,1 m³

per hari dan pengelolaan sampah 3R sebanyak 118 m³ per hari dari jumlah timbulan sampah perkotaan ± 1.437 m³ per hari (47,46%) di tahun 2012;

2). Semakin pedulinya masyarakat untuk memahami pengelolaan sampah ditandai dengan bertambahnya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di tahun 2011 sejumlah 9 KSM dengan volume sampah yang diolah sebesar 83 m³ per hari, menjadi 10 KSM di tahun 2012 dengan volume sampah yang diolah sebesar 118 m³ per hari;

3). Meningkatnya kualitas lingkungan permukiman dengan pemanfaatan energi terbarukan yang dapat mendukung peningkatan perekonomian masyarakat; Semakin berkembangnya teknologi alternative pengolahan sampah seperti Model TPA Wisata Edukasi Talangagung Kepanjen dengan pemanfaatan gas methane sampah menjadi bahan bakar alternatif (75 SR/ Sambungan Rumah), TPA Paras Poncokusumo (52 SR/ Sambungan Rumah), Model Multy Drum Komposter di Kelurahan Ardirejo Kepanjen dan Model Sistem Menabung Sampah di Desa Talangagung Kepanjen;

4). Meningkatnya jumlah pelaku usaha/kegiatan yang melengkapi usaha/kegiatannya dengan dokumen pengelolaan lingkungan (Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup/UKL-UPL dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup /SPPL) sebagaimana yang dipersyaratkan, sebanyak 134 dokumen yang telah direkomendasi (69 dokumen UKL UPL dan 65 dokumen SPPL) sehingga akumulasi jumlah kegiatan usaha yang telah dilengkapi dokumen sampai dengan tahun 2012 adalah sejumlah 516 kegiatan/usaha;

5). Meningkatnya kinerja pengawasan terhadap perusahaan yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya pemenuhan Baku Mutu Air Limbah Industri. Dari 26 perusahaan yang rutin diawasi pada tahun 2012, sebanyak 69,23% perusahaan yang memenuhi baku mutu. Hal ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2011, dimana hanya terdapat 59,09% perusahaan yang memenuhi baku mutu;

6). Semakin berkembangnya teknologi alternatif pengolahan sampah seperti Model TPA Wisata Edukasi, Model Multi Drum Komposter dan Model Sistem Menimbun Sampah;

7). Meningkatnya kinerja pengawasan terhadap perusahaan juga ditandai dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang mendapat kategori “biru” melalui Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dari 6 perusahaan pada tahun 2011 menjadi 8 perusahaan pada tahun 2012;

8). Meningkatnya kinerja dalam pemantauan kualitas udara ambient. Pada tahun 2012 telah dilakukan pemantauan pada 15 titik pantau (lokasi). Hal ini meningkat dari tahun 2011 yang hanya mampu memantau di 4 titik pantau (lokasi). Dari hasil pemantauan, jika mengacu pada Baku Mutu Udara Ambient berdasarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor: 10 Tahun 2009, terdapat 3 titik pantau yang tidak memenuhi baku mutu (pada parameter debu dan NO2). Dan jika mengacu pada ketentuan Baku Mutu Kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 48 Tahun 1996, hanya 3 titik pantau yang memenuhi baku mutu sesuai dengan batas kebisingan yang dipersyaratkan pada masing-masing lingkungan;

9). Meningkatnya kinerja dalam pemantauan kualitas air badan air. Pada tahun 2012 telah dilakukan pemantauan pada 19 titik pantau (lokasi). Hal ini meningkat dari tahun 2011 yang hanya mampu memantau di 15 titik pantau (lokasi). Hasil pemantauan menunjukkan mayoritas kualitas air badan air belum memenuhi baku mutu, namun jika dibandingkan tahun 2011 menunjukkan adanya peningkatan kualitas yang ditandai dengan menurunnya kadar Biological Oxygen Demand/BOD dan Chemical Oxygen Demand/COD pada 60% titik pantau (lokasi);

10). Meningkatnya jumlah sumber air yang dikonservasi melalui penghijauan. Pada tahun 2012 telah dilakukan penghijauan di sekitar 5 sumber air pada lahan seluas sekitar 5 ha. Hal ini meningkat dari tahun 2011 yang hanya mampu melakukan penghijauan pada 3 sumber air pada lahan seluas sekitar 5 ha; 11). Bertambahnya luas area terbuka hijau yang terpelihara serta terlaksananya pengembangan taman kota di tahun 2011 seluas 8.537 m3, dan di tahun 2012 seluas 12.992 m3;

12). Hasil dari kajian yang diperoleh dari pelaksanaan program sebagai berikut :

a). Isu strategis pembangunan berkelanjutan yang prioritas, adalah: kondisi ekonomi sosial budaya masyarakat; dampak jalan tol Singosari-Lawang dan operasional Bandara Abdulrachman Saleh; dan peningkatan intensitas dan cakupan daerah rawan bencana;

b). Sedangkan KRP dalam RTRW Kabupaten Malang yang paling banyak memberikan pengaruh adalah: kebijakan pengembangan struktur ruang yang terdiri dari perwujudan pusat kegiatan perdesaan, khususnya pengembangan kawasan Agropolitan, perwujudan pusat kegiatan perkotaan yaitu pengembangan pusat kegiatan perkotaan dan pengembangan hirarki perkotaan, penetapan fungsi kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan , dan perwujudan sistem prasarana wilayah khususnya transportasi; kebijakan pengembangan pola ruang yaitu pengembangan kawasan pertanian dan pengolahan hasil produksi berorientasi peningkatan nilai ekonomi dan ekspor; dan kebijakan penetapan kawasan strategis yaitu pengembangan Malang metropolitan.

13). Prestasi yang diraih antara lain:

a). Piala Anugerah Adipura tingkat Nasional tahun 2011 sd. 2012;

b). Penghargaan Sekolah Adiwiyata Mandiri tingkat Nasional, an. SMPN 5 Kepanjen;

c). Penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional, an. SD Negeri Panggungrejo 04 Kecamatan Kepanjen;

d). Penghargaan Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional, an. SMK Negeri 5 Turen;

e). Peringkat Pertama Kategori Inovasi (Pemanfaatan Gas

Metan di TPA dan Permukiman) dalam Penilaian Kota Terbaik Bagi Kabupaten/Kota di Jawa Timur, an. Pemerintah Kabupaten Malang;

f). Juara I Lomba 3R (reduce, reuse, recycle) tingkat Sekolah Dasar se Jawa Timur, an. SDN Panggungrejo 04 Kecamatan Kepanjen;

g). Penghargaan Adiwiyata Provinsi Jawa Timur, an. SDN Panggungrejo 04 Kecamatan Kepanjen;

h). Tanda Penghargaan dari Bupati Malang sebagai Peraih Adiwiyata Mandiri dan Adiwiyata Nasional Tahun 2012, an. SMP Negeri 5 Kepanjen, SDN Panggungrejo 04 Kecamatan Kepanjen dan SMK Negeri 5.

c. Permasalahan dan solusi dalam urusan lingkungan hidup sebagai berikut:

1). Masih kurangnya sarana pengelolaan sampah, maka ke depan diharapkan adanya penambahan sarana pengelolaan sampah; 2). Masih rendahnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan

lingkungan dan kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan, upaya yang dilakukan dengan sosialisasi dan pembinaan secara terus menerus dalam pengelolaan lingkungan dan kebersihan lingkungan;

3). Para pelaku usaha dan masyarakat masih belum sepenuhnya mengerti tentang kewajiban memiliki dokumen lingkungan, maka perlu ditingkatkan upaya sosialisasi kepada pihak yang berkompeten;

4). Lahan yang ditanami untuk kegiatan konservasi yang berada di luar hutan mayoritas milik masyarakat, sehingga dikhawatirkan bantuan bibit jika sudah besar akan ditebang, maka bantuan bibit diberikan berupa tanaman tahunan yang menghasilkan buah dengan harapan tanaman tersebut tidak akan ditebang tetapi bisa diambil buahnya;

5). Tingginya kerusakan lingkungan sehingga jumlah lahan yang perlu dikonservasi sangat luas, hal ini tidak sebanding dengan jumlah pengadaan bibit yang ada, upaya yang dilakukan dengan kegiatan konservasi secara berkelanjutan;

6). Pelaksanaan penanaman pohon tergantung pada musim penghujan dan letak lokasi sumber mata air mayoritas jauh, serta medannya berat sehingga sulit dijangkau, maka penanaman dilakukan pada musim hujan menghindari resiko mati dan bantuan bibitnya (ukuran bibit) disesuaikan dengan jenis dan lokasi/ketinggian medan;

7). Peran serta kesadaran dari dunia usaha masih rendah dalam pengelolaan lingkungan hidup terutama dalam hal pelaksanaan penanaman pohon, manfaat dan kegunaannya, maka dilakukan kerjasama dengan masyarakat melalui perangkat desa dan dunia usaha untuk melaksanakan penanaman pohon sehingga diharapkan semua pihak ikut berperan dan merasa memiliki serta bertangggungjawab;

8). Belum tersedianya data sumber yang lengkap di tiap kecamatan sehingga kesulitan dalam melakukan pengawasan, maka perlu dilakukan pendataan sumber mata air di tiap-tiap kecamatan sehingga memudahkan dalam pengawasan;

9). Masih kurangnya pemahaman dan komitmen pihak sekolah tentang Adiwiyata, sehingga perlu sosialisasi pemahaman tentang sekolah Adiwiyata yang berkelanjutan;

10). Informasi yang meliputi seluruh data yang terkait dengan kondisi lingkungan hidup belum sepenuhnya terpenuhi secara lengkap baik dari Kecamatan ataupun dari SKPD terkait, sehingga perlu diadakannya koordinasi yang lebih intensif terkait dengan pengumpulan informasi data dari pihak Kecamatan maupun SKPD terkait dalam mendukung tersusunnya Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kabupaten Malang;

11). Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap RTH serta kurangnya lahan sebagai RTH di perkotaan, maka perlu adanya regulasi tentang RTH di perkotaan dan pembinaan dan himbauan tentang RTH;

12). Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia belum sebanding dengan besarnya jumlah timbulan sampah dan luasnya daerah pelayanan kebersihan, maka perlu dikembangkan metode pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat (TPST 3R, Bank Sampah, Komposter Multy Drum) sebagai bentuk peran serta masyarakat serta membuka peluang kerjasama dengan pihak lain (swasta) dalam pengelolaan sampah;

13). Luasnya cakupan daerah pelayanan pengangkutan persampahan (kebersihan), sehingga perlu mengoptimalkan sumber daya yang ada (sarana dan prasarana, SDM dan anggaran) serta mendorong terciptanya upaya pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat (TPST 3R, Bank Sampah, Komposter Multy Drum);

14). Perilaku masyarakat yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya, maka perlu mengoptimalkan kegiatan

sosialisasi/sharing/diskusi tentang pengelolaan sampah mandiri berbasis masyarakat sehingga terbentuk paradigma baru tentang pengelolaan sampah sebagai amanah UU No 18 Tahun 2008; 15). Belum adanya kajian teknis tentang efisiensi, efektifitas dan

keamanan penggunaan "prototipe" pemanfaatan gas methane sampah, maka perlu diusulkan adanya kegiatan riset tentang hal tersebut melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Malang;

16). Kurangnya kesadaran dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya (3R; reuse, reduse and recyle), sehingga perlu didorong dan difasilitasi terbentuknya Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) pengelola sampah sebagai kader lingkungan di masyarakat.

9. Pertanahan

Urusan Pertanahan merupakan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah, dimana dalam implementasinya diperuntukkan untuk kegiatan pengadaan tanah dan penyelesaian konflik-konflik pertanahan. Pengadaan tanah mempunyai peranan yang tak kalah penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat serta memberikan sarana yang memadai untuk menarik investasi, yang dampaknya diharapkan akan menciptakan lapangan kerja guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

a. Program pembangunan yang dilaksanakan meliputi:

1). Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah;

b. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan sebagai berikut:

Urusan pertanahan pada tahun 2012 telah dialokasikan

anggaran sebesar Rp. 10.357.641.500,- dan terealisasi sebesar Rp. 8.264.224.400,- sisa sebesar Rp. 2.093.417.100,-.

Adapun program dan kegiatan yang telah dilaksanakan pada urusan pertanahan sebagai berikut:

1). Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah, dengan alokasi anggaran sebesar Rp..9.591.583.000,- dan terealisasi sebesar Rp..7.504.571.900,- sisa Rp..2.087.011.100,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah 9.591.583.000 7.504.571.900 2.087.011.100 - Tersedianya tanah untuk kepentingan pembangunan; - Pensertifikatan tanah asset milik pemda; 5 lokasi 76 bidang - Terlaksananya pendataan tanah kas desa. 378 desa

2). Program Penyelesaian Konflik-Konflik Pertanahan, dengan alokasi anggaran sebesar Rp. 766.058.500,- dan terealisasi sebesar Rp. 759.652.500,- sisa Rp. 6.406.000,- dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

No Kegiatan Belanja Keluaran

Anggaran Realisasi Sisa

1 Fasilitasi Penyelesaian Konflik-Konflik Pertanahan 509.196.500 509.120.500 76.000 Tertanganinya masalah pertanahan di Kabupaten Malang 12 lokasi

No Kegiatan Belanja Keluaran Anggaran Realisasi Sisa

2 Inventarisasi Tanah 256.862.000 250.532.000 6.330.000 Terinventarisirnya tanah asset Pemkab. Malang 12 kelurahan

Adapun hasil/outcome serta manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program pada urusan pertanahan sebagai berikut:

1). Terselenggaranya penilaian terhadap kesesuaian tanah baik dari sisi lokasi maupun harga tanah yang ditawarkan di tahun 2011 telah dilakukan penilaian sebanyak 10 penilaian dan di tahun 2012 sebanyak 12 penilaian;

2). Tercapainya pensertifikatan tanah asset Pemerintah Kabupaten Malang sebanyak 76 sertifikat di tahun 2011 dan sebanyak 97 sertifikat di tahun 2012;

3). Berkurangnya masalah sengketa tanah yang terjadi antara masyarakat dengan pemerintah daerah di tahun 2011 sebanyak 12 kasus dan di tahun 2012 sebanyak 12 kasus;

4). Terselenggaranya kegiatan pemetaan dan evaluasi terhadap tanah kas desa sebanyak 12 Kelurahan di tahun 2012.

c. Permasalahan dan solusi dalam Urusan Pertanahan sebagai berikut: 1). Pada beberapa lokasi pemilik tanah menghendaki nilai ganti

rugi lebih tinggi dari hasil appraisal, sehingga perlu dilakukan optimalisasi pendekatan kepada para pemilik tanah atau diusulkan kembali pada Tahun Anggaran 2013 sesuai kemampuan anggaran;

2). Dibutuhkan kelengkapan dokumen pensertifikatan dari Desa/ Kelurahan, maka perlu dilaksanakan pemenuhan dokumen dimaksud melalui koordinasi dengan Camat, Kepala Desa dan Lurah setempat;

3). Proses pensertifikatan masih relatif lama, sehingga perlu ditingkatkan koordinasi secara intensif dengan Kantor Pertanahan, dan akan dibentuk Tim Pensertipikatan Tanah Aset Pemerintah Kabupaten Malang guna kelancaran kegiatan dimaksud;

4). Beberapa permasalahan membutuhkan keputusan dari Pemerintah Pusat, sehingga memberi konsekuensi waktu bagi Pemerintah Daerah guna upaya koordinasi dengan instansi Pemerintah Pusat;

5). Tingginya kompleksitas pertanahan, sehingga perlu fasilitasi dan musyawarah di tingkat Kabupaten Malang bagi pihak yang bersengketa;

6). Tanah asset dikelurahan masih banyak yang dikelola perangkat lama, sehingga perlu dibuatkan aturan tentang pengelolaan tanah asset;

7). Belum ada regulasi pengelolaan tanah asset desa yang berubah menjadi kelurahan, sehingga perlu disusun regulasi yang mengatur hal tersebut.

Dokumen terkait