• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemasyarakatan (Basyariyah) a. Psikologis

MANAJEMEN STRATEGI PESANTREN

A. EPISTEMOLOGI MANAJEMEN STRATEGI PESANTREN Manajemen strategi pesantren adalah serangkaian langkah dan pola

3. Kemasyarakatan (Basyariyah) a. Psikologis

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia.

Jiwa itu sendiri adalah roh dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu jiwa atau psikis dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia yang berada dan melekat dalam manusia sendiri. Jiwa berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani. Jiwa balita itu berkembang sedikit sekali sejajar dengan tubuhnya yang juga masih berkemampuan sederhana sekali. Makin besar anak itu makin berkembang pula jiwanya, dengan melalui tahap­tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani.

Landasan psikologis dalam perspektif pendidikan tinggi merupakan perwujudan dari pola tingkahlaku serta potensi yang dimiliki peserta didik (mahasiswa) yang sudah mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan.

Landasan psikologis juga sebagai pedoman dalam kerangka pengembangan IQ, EQ, SQ, serta CQ civitas akademika secara internal dan eksternal.

Memahami psikologis juga bermakna, memahami segala bentuk dan gejala dalam organisasi yang terdiri dari berbagai latar budaya, potensi serta karakter masyarakat organisasi. Dengan demikian, dapat disampai­

kan bahwa, landasan psikologis pada pendidikan tinggi merupakan bentuk dan pola untuk saling memahami, mengerti tentang segala potensi yang dimiliki organisasi atau lembaga pendidikan tinggi khususnya yang berada di lingkungan pondok pesantren.

b. Sosiologis

Aktivitas dalam melaksanakan hubungan pada setiap lembaga atau organisasi selalu berkaitan dengan usaha mengembangkan kerja sama satu kesatuan, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada mencapai tujuan tertentu dalam organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya (pre determine objective). Menurut Kasali (dalam Ruslan, 2001) tujuan diselenggarakannya hubungan kemasyarakatan adalah menciptakan dan mengembangkan per­

sepsi terbaik bagi suatu lembaga, organisasi terhadap segmen masyarakat yang kegiatannya langsung ataupun tidak langsung mempunyai dampak bagi masa depan organisasi lembaga maupun perusahaan.41

41 Rosady Ruslan, Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi, (Jakarta: RajaGrafindo Persa­

S A M P L E

Apabila perguruan tinggi dipandang sebagai organisasi sosial, seca­

ra fung sional memiliki berbagai peran. Menurut Tilaar42 di antara peran ter sebut adalah institusi yang memberikan pelayanan pendidikan dan pengajaran, juga sebagai agen perubahan atau pembaruan dalam masyara­

kat. Kedua fungsi tersebut menunjukkan bahwa sekolah merupakan sistem yang terbuka terhadap lingkungannya dan terintegral dari sistem sosial yang lebih besar yaitu masyarakat, pengaruh masyarakat terhadap sekolah sangat kuat, demikian pula pengaruh sekolah terhadap masyarakat, kare­

na keberadaan sekolah berada di tengah­tengah kehidupan dan menjadi bagian dari masyarakat,

Hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat43 merupakan pro­

ses pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simpati dari masyara­

kat, sehingga kegiatan operasional lembaga pendidikan semakin efektif dan efisien, untuk tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Sebagai lembaga pendidikan sekolah (perguruan tinggi) memiliki beberapa peran yang dominan untuk meningkatkan simpati masyarakat. Menurut Gunawan melakukan inovasi, di antaranya meningkatkan layanan kepada masyarakat dengan cara menampilkan produk­produk unggulan yang da­

pat memenuhi kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Humas pendidikan meliputi pembicaraan hubungan masyarakat luas yang pesannya berupa masalah­masalah pendidikan. Jadi, di dalam ke­

giatan humas terkandung kegiatan komunikasi. Humas pendidikan bukan ter jadi di lingkungan sekolah (perguruan tinggi) saja, atau antara sekolah (per guruan tinggi) dengan orang­orang atau lembaga di luarnya, tetapi dapat menyangkut semua bentuk komunikasi tentang masalah pendidikan.

Hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat memiliki peran yang sangat penting di dalam mengembangkan mutu pendidikan terlebih lagi pada era otonomi daerah sekarang ini. Pentingnya hubungan sekolah (per­

guruan tinggi) dengan masyarakat dijelaskan oleh Pidarta, yaitu: (1) Ma­

syarakat adalah salah satu penanggung jawab; (2) Proses belajar serta media pendidikan juga terjadi dan ada di masyarakat; dan (3) Masyarakat menaruh perhatian terhadap pendidikan putra­putrinya.

da, 2001), hlm. 75.

42 H.A.R. Tilaar, Paradigma Baru Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 45.

43 Ary H. Gunawan, Adminstrasi Sekolah, (Jakarta: Bineka Cipta, 1996), hlm. 59.

S A M P L E

c. Ekonomi

Zaman pasca modern atau globalisasi menempatkan manusia memi­

liki kecenderungan mengutamakan kesejahteraan materi dibandingkan ke sejahteraan rohani sehingga membuat ekonomi mendapat perhatian yang besar.44 Perkembangan ekonomi makro berpengaruh pada bidang pendidikan, namun perkembangan yang menggembirakan adalah terlaksa­

nanya sistem ganda dalam pendidikan. Sistem ini memberikan ruang ke­

pada lembaga pendidikan untuk melakukan kerja sama dengan dunia luar.

Dampak lain dari keberhasilan pembangunan ekonomi secara makro adalah munculnya lembaga­lembaga pendidikan yang unggul dari tingkat dasar bahkan sampai perguruan tinggi. Lembaga­lembaga ini banyak di­

dirikan oleh konglomerat­konglomerat atau kumpulan dari mereka. Se­

hingga tampak bahwa lembaga­lembaga yang mereka dirikan sangat ber beda dengan lembaga pendidikan pada umumnya karena lembaga­

lem baga ini banyak dilengkapi sarana dan prasarana serta sumber daya ma nusia yang cukup.45 Dengan demikian dapat disampaikan bahwa peran eko nomi menjadi sangat penting karena bersentuhan langsung dengan kehidupannya.

Fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah untuk menunjang kelancaran proses pendidikan. Bukan merupakan modal untuk dikem­

bangkan, bukan untuk mendapatkan keuntungan. Ekonomi pendidikan sama fungsinya dengan sumber­sumber pendidikan yang lain, seperti gu ru, kurikulum, alat peraga, dan sebagainya, untuk menyukseskan misi pendidikan, yang semuanya bermuara pada perkembangan peserta di dik.

Ekonomi merupakan salah satu bagian sumber pendidikan yang mem buat anak mampu mengembangkan afeksi, kognisi, dan keterampilan. Ter masuk memiliki keterampilan tertentu untuk bisa menjadi tenaga kerja yang andal atau mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, cinta pada pekerjaan halus maupun kasar, memiliki etos kerja, dan bisa hidup hemat.

Selain sebagai penunjang proses pendidikan, ekonomi pendidikan juga berfungsi sebagai materi pelajaran dalam masalah ekonomi dalam ke hidupan manusia. Seperti diketahui, anak­anak jika dewasa kelak, hi­

dupnya tidak akan lepas dari masalah­masalah ekonomi. Oleh sebab itu, salah satu tugas perkembangan yang harus mereka laksanakan adalah mengembangkan diri bertalian dengan ekonomi.46 Untuk mencapai sasar­

44 Made Pidarta, Landasan Kependidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), hlm. 228.

45 Made Pidarta, Landasan Kependidikan, hlm. 231.

46 Made Pidarta, Landasan Kependidikan, hlm. 246.

S A M P L E

an itu pendidikan perlu menyiapkan materi atau lingkungan belajar yang mengandung perekonomian. Materi ini tidak harus merupakan bidang studi tersendiri, melainkan dapat diselipkan pada pelajaran­pelajaran yang lain.

Dilihat dari konteks perkembangan dunia yang semakin terdiferen­

sasikan, maka fungsi pokok pondok pesantren yang disebutkan tadi justru semakin relevan di tengah arus globalisasi nilai yang semakin ken­

cang, aktualisasi peran pesantren sebagai ‘’cultural broker’’ nilai kaum santri bahkan kian dibutuhkan dan dengan demikian, pesantren boleh diferensiasikan sebagai salah satu lembaga Islam dan lembaga pendidikan masyarakat yang berfungsi sebagai “guardian of islamic faith”.47

Banyak pesantren di berbagai tempat termasuk Lombok, NTB mem­

punyai gedung­gedung atau bangunan yang megah dan yang paling penting lagi sehat dan kondusif sebagai tempat berlangsungnya pendidik­

an yang baik. Dengan demikian, citra yang pernah disandang pesantren sebagai kompleks bangunan yang reot dan tidak higienis mulai terkikis, mengindikasikan terjadinya peningkatan kemampuan swadaya dan swa­

karya masyarakat Muslim sebagai hasil kemajuan ekonomi yang dicapai kaum Muslim dalam pembangunan.

Di kalangan pesantren sendiri setidaknya satu dasa warsa lalu telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah­langkah tertentu guna me­

ningkatkan kualitas sumber daya manusia yang menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial. Dari sinilah muncul berbagai pesantren yang lebih berorientasi kepada kekinian seperti sistem jaringan komunikasi informasi yang selama ini terdapat di pesantren­pesantren Lombok NTB yang belum dioptimalisasikan, sementara masih belum jelas benar apa kah eksperimen­eksperimen seperti itu cukup membawa hasil sebagaimana di­

harapkan, pada saat yang sama suara­suara yang memperhatikan tentang telaah yang terjadinya kemerosotan identitas pesantren juga dilontarkan banyak pihak termasuk kalangan pesantren itu sendiri.

47 Azyumardi Azra, Ibid., hlm. 139.

S A M P L E