• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suksesi Kepemimpinan dan Pengembangan Pendidikan Pesantren

EKSISTENSI DAN ESENSI MANAJEMEN STRATEGI PESANTREN

C. EKSISTENSI DAN ESENSI PESANTREN

4. Suksesi Kepemimpinan dan Pengembangan Pendidikan Pesantren

Dilihat dari gayanya, kepemimpinan pesantren terdiri dari berbagai corak, dari yang kharismatik ke rasionalistik, dari otoriter­paternalistik ke diplomatik­partisipatik, dan dari laisez paire ke birokratif. Pergantian kepemimpinan pesantren sangat menarik untuk diamati terutama pada pesantren milik pribadi yang estafet kepemimpinannya adalah dari­ke pendiri­anak­menantu­cucu­santri senior. Untuk masa­masa selanjutnya, keturunan dan pendidikan akan tetap kuat menduduki jabatan kepemimpinan pesantren, karena pendidikan mereka memang tinggi. Sebagian besar dari mereka menyelesaikan pelajaran di berbagai universitas di Timur Tengah, seperti Mesir, Pakistan, Saudi Arabia, dan sebagainya. Dengan demikian, faktor pendidikan semakin lama akan semakin kuat dan mampu menggeser faktor keturunan. Demikian pula dengan status pemilikan pesantren, status milik institusi akan semakin kuat dan merupakan kebutuhan mendesak dibandingkan dengan status milik pribadi.79 Model kepemimpinan dalam pesantren dewasa ini terdiri dari berbagai corak mulai dari yang kharismatik ke rasionalistik, dari otoriter­

paternalistik ke diplomatik­partisipatik, dan dari laisez paire ke birokratif.

Sistem yang ditampilkan pondok pesantren mempunyai keunikan dengan pendidikan umumnya yaitu: (1) memakai sistem tradisional yang memiliki kebebasan penuh dibandingkan dengan sekolah lainnya; (2) kehidupan yang demokratis. (3) tidak mengidap penyakit simbolis yaitu memperoleh gelar dan ijazah; (4) sistem pondok pesantren mengutamakan kesederhanaan, idealisme, persaudaraan, persamaan, rasa percaya diri, dan keberanian hidup; (5) alumni pondok pesantren tidak ingin menduduki jabatan pemerintahan sehingga tidak dapat dikuasai oleh pemerintah.

Bentuk falsafah yang cukup sederhana namun mampu mentrans­

formasikan potensi dan menjadikan diri pesantren sebagai agent of

cha-78 Ibid., hlm. 290.

79 Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.

125.

S A M P L E

nge bagi masyarakat sehingga eksistensinya identik dengan lembaga pe­

ngembangan masyarakat. Sampai sekarang masih terdapat pesantren yang berdiri di atas ideologi fikih-sufistik sebagai paradigma pendidikannya meskipun hal tersebut menjadikan pemahaman santri atas kitab suci dan sunnah menjadi kaku, finalistik, serta kurang menerima perkembangan il mu pengetahuan serta menjadikan merosotnya lembaga keulamaan de­

ngan berkurangnya saham bagi pemecahan permasalahan kemasyarakatan secara luas.

Menilik hal tersebut, maka paradigma pendidikan pesantren80 dewasa ini hendaknya: Pertama, memahami bahwa pendidikan agama bukanlah upaya mewariskan paham/pola keagamaan tertentu, akan tetapi ditekan­

kan kepada proses sehingga santri memperoleh kemampuan metodolo­

gis dalam memahami kesan dan pesan yang diberikan agama. Kedua, pendidikan tidak terpaku pada romantisme berlebihan namun diarahkan kepada pembentukan berpikir objektif dalam menyikapi tantangan ke­

hidupan. Ketiga, materi pengajaran agama hendaknya diintegrasikan dengan penumbuhkembangan sikap kepedulian sosial. Keempat, perlu­

nya dikembangkan wawasan emansipatoris sehingga menumbuhkan ke­

mampuan metodologis santri dalam mempelajari substansi atau materi agama. Kelima, pendidikan keagamaan diarahkan untuk menanamkan ke­

haruan emosional keagamaan (akhlakul karimah).

Pesantren juga diharuskan mengadakan usaha kontekstualisasi kons­

truktif sistem dan orientasi kependidikannya seperti aspek­aspek ad­

ministrasi, diferensiasi struktural, ekspansi kapasitas, dan transformasi output pesantren.81 Konstruksi pemikiran ke arah yang lebih baik adalah sesuatu yang sangat penting jika pesantren ingin bertahan di tengah penetrasi era teknologi industri yang mengglobal, dengan indikasi di mana kiai merupakan kelompok profesi terpelajar (learned proffesion) di mana ia mampu mengakses keilmuan secara padu dan kaffah yang elit di bidang ilmu menjadi figur yang bukan lagi “kyai li al nasab” yang terkadang over estimed menjadi “kyai li al nasab” yang mampu mengisi sisi strategis pesantren dengan segenap tingkatan umur, sosial, ekonomi, budaya, dan intelektual, dengan penerapan kurikulum pendidikan yang mencerminkan keseimbangan profesional dan proporsional dalam kebutuhan santri antara

80 Muslim Abdurrahman, Pendidikan Agama dalam Perspektif Pembangunan Bangsa, (Jakarta:

Rineka Cipta, 1985) hlm. 10

81 Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm.

154.

S A M P L E

dunia dan akhirat, akal dan qalbu, jasmani dan rohani, serta potensi diri dan potensi lingkungannya.

Jika kiai dan santri mampu mengadaptasi kepekaan intelektual, mo­

ral dan spiritual, maka akan lahirlah pesantren masa depan sebagai lembaga pendidikan masa depan yang tafakkuh fi ad din dengan kekuatan islamic values memiliki kemampuan melakukan social control dan social engeneering serta community development.

Pesantren dalam peranannya sebagai wadah pengembangan pendi­

dikan masa depan harus mengedepankan integritas keilmuan untuk me­

wujudkan pribadi­pribadi unggul. Artinya, bahwa pesantren tidak lagi se bagai sebuah lembaga yang hanya terfokus dalam upaya transformasi ilmu keagamaan atau pembentukan moral semata yang nantinya akan melahirkan para kiai yang ahli dalam ilmu agama, namun pesantren juga merupakan sebuah lembaga yang mengajarkan ilmu­ilmu sains, teknologi, dan informatika yang tetap mempertahankan nilai keislaman baik dalam proses maupun muatan ilmunya sehingga nantinya mampu melahirkan para kiai sekaligus saintis.

Pada hakikatnya, tujuan pembangunan nasional adalah mencari nilai tambah agar kehidupan hari esok lebih baik daripada kehidupan hari ini.

Semua itu menyebabkan terjadinya pergeseran nilai, baik nilai dasar yang menyangkut agama dan kepercayaan, maupun nilai instrumental yang menyangkut ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian halnya pada sistem pendidikan nasional pada hakikatnya juga mencari nilai tambah melalui pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau kualitas manusia secara utuh. Pendidikan harus terus dikembangkan agar mampu melayani kebutuhan pembangunan dan kemajuan ilmu pendidikan dan teknologi agar mampu menghadapi tantangan zamannya, seperti tantangan globalisasi saat ini.

Penyelenggaraan lembaga pendidikan pesantren menurut Idrus82 berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pim­

pinan kiai atau ulama dibantu oleh beberapa ustaz yang hidup bersa­

ma di tengah­tengah para santri dengan masjid sebagai pusat kegiatan peribadatan agama, gedung sekolah sebagai pusat kegiatan belajar, dan pondok sebagai pusat tempat tinggal para santri. Sistem pendidikan pe­

santren juga terdiri atas unsur­unsur dan nilai­nilai yang merupakan satu kesatuan. Kualitas dari dinamika suatu sistem pendidikan pesantren sangat

82 Ali Idrus, Manajemen Pendidikan Global: Visi, Aksi dan Adaptasi, (Jakarta: Gaung Persada, 2009), hlm. 95.

S A M P L E

tergantung pada kualitas para pengasuhnya dan bobot interaksi antara unsur­unsurnya, terutama orientasi unsur­unsur organiknya atau para pelakunya dalam menghadapi tantangan global.

Pondok pesantren adalah model lembaga pendidikan Islam pertama yang mendukung kelangsungan sistem pendidikan nasional. Secara historis, pesantren tidak saja mengandung makna keislaman, tetapi juga keaslian Indonesia. Seperti dikatakan A. Malik Fadjar83 bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki watak indegenous (pribumi) yang ada sejak kekuasaan Hindu­Buddha dan menemukan formulasinya yang jelas ketika Islam berusaha mengadaptasikan (mengislamkan)­nya. Fakta pada dunia pesantren ternyata tidak seragam. Masing­masing pesantren memiliki keunikan­keunikan tersendiri sehingga sulit dibuat suatu rumusan yang dapat menampung semua pesantren. Pada umumnya, pesantren telah banyak berubah sesuai dengan perubahan zamannya, meskipun beberapa ciri­cirinya masih dapat dilihat sampai sekarang.

Salah satu keunikan dari pondok pesantren adalah terletak pada sistem pendidikannya, di mana sistem pendidikan yang ada di pondok pesantren tidak ada satu pun dari sekolah formal yang mengikuti sistem pendidik­

an yang ada di pondok pesantren, dan inilah yang membedakan antara pendidikan di pesantren dengan pendidikan di sekolah atau madrasah yang menjalankan sistem pendidikannya dengan sistem pendidikannya dengan sistem pendidikan formal dan klasikal.

Pondok pesantren mempunyai model pengajaran yang bersifat non­

klasikal,84 yaitu model sistem pendidikan dengan menggunakan metode pengajaran sorogan, dan wetonan atau bandungan dan digunakan juga metode hafalan. Adapun pengertian dari beberapa istilah tersebut ialah: (1) metode wetonan, yakni suatu metode kuliah di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kiai yang menerangkan pelajaran.

Santri menyimak kitab masing­masing dan mencatat bila perlu. Pelajaran diberikan pada waktu­waktu tertentu, yaitu sebelum dan sesudah me­

laksanakan shalat fardhu. Di Jawa Barat, metode ini disebut juga dengan bandongan, adapun di Sumatera disebut dengan halaqah, (2) Metode Sorogan yakni suatu metode di mana para santri menghadap kiai seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya. Metode

83 Dalam Imam Tholkhah, Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keil-muan Pendidikan Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 49.

84 Samsul, Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana­PrenadaMedia Group, 2009), hlm. 289.

S A M P L E

sorogan ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan meto­

de pendidikan Islam tradisional, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan kedisiplinan pribadi santri kendatipun demikian, metode ini sangat intensif, karena dilakukan seorang demi seorang dan ada kesempatan untuk tanya jawab langsung; (3) Metode Hafalan, yakni suatu metode di mana santri menghafal teks atau kalimat tertentu dari kitab yang dipelajarinya.

Metode­metode mengajar di atas merupakan metode biasa yang di­

lakukan dalam sistem pendidikan di pondok pesantren, namun akhir­akhir ini, karena sebagian pondok pesantren mengadopsi tipe pondok pesan­

tren khalafiyah, maka metode belajar seperti ini sudah tidak dilaksanakan sebagaimana biasanya di pondok pesantren tipe salafiyah.

5. Manajemen Strategik Kepemimpinan Pesantren M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo berpendapat bahwa:

“Kepemimpinan strategi dibedakan dari kepemimpinan biasa/rutin berdasarkan tiga dimensi yakni waktu, skala, dan lingkup tindakan. Jenis kepemimpinan ini lebih berurusan dengan waktu yang agak lama (longer term) daripada waktu yang pendek (shorter term). Isu­isu yang digarap berskala nasional atau internasional.

Adapun lingkup tindakannya adalah lembaga pesantren secara keseluruhan dari pada hanya satu program khusus. Hasilnya berupa strategi tindakan.”85

Strategi­strategi tindakan pengasuh pesatren hendaknya berkaitan dengan kurikulum pesantren, pendekatan belajar dan mengajar, struktur dan proses perencanaan, pemecahan masalah, pembuatan keputusan dan evaluasi, dan pendayagunaan berbagai layanan baik secara individual dan institusional. Kepemimpinan strategi pengasuh pesantren juga ditunjuk­

kan dengan kemampuannya menetapkan prioritas isu­isu strategis. Pada tataran ini, pengasuh pesantren aktif menyimak perkembangan global sehingga mampu mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo kembali menjelaskan “untuk mem­

bantu menemukan semua ini, dapat dipertimbangkan beberapa pertanyaan ini berikut ini:86

85 M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren dalam Perspektif Global, (Yog­

yakarta: LaksBang PRESSindo, 2006), 49.

86 M. Sulthon dan Moh. Khusnuridlo, Manajemen Pondok Pesantren, hlm. 49­50.

S A M P L E

a. Peluang apa saja yang bersumber dari perubahan­perubahan: (a) kon­

sektual (politik, ekonomi, legalitas, teknologi, budaya dan kepen du­

dukan); (b) kurikulum (termasuk pendekatan dan dukungan terhadap belajar­mengajar) dan (c) komunitas pesantren (termasuk hal­hal yang terkait dengan kompetitor/pesaing dan kolaborator/mitra kerja) yang dapat membantu pesantren untuk menjalankan misinya secara efektif?

b. Ancaman apa saja yang dapat ditimbulkan oleh perubahan konstektual, kurikulum dan komunitas pesantren yang harus diperhitungkan oleh lembaga agar dapat menjaga kemajuan dalam mencapai misi tersebut?

c. Keterbatasan internal apa yang musti dikelola dengan baik agar dapat memanfaatkan peluang atau menangkal/menghalau ancaman?

d. Kekuatan internal apa saja yang dapat membantu lembaga pesantren memanfaatkan peluang dan menghalau ancaman di atas?

Menyimak sejumlah pertanyaan di atas, seorang pengasuh pesantren akan mampu merumuskan serentetan isu yang harus dimasukkan ke dalam rencana strategis dengan mengedepankan urutan prioritas tindakan.

Suatu program akan dijalankan jika dipandang urgen untuk menghindari ancaman lembaga dan potensial memberi sumbagan kepada pencapai misi.

D. POSISI KAJIAN MANAJEMEN STRATEGI PESANTREN 1. Posisi Kajian

Dari paparan hasil penelitian terdahulu, dapat tinjau perbedaan ser­

ta persamaan yang ditampilkan, serta memberikan petunjuk pada penulis bahwa kajian difokuskan pada manajemen strategi pengembangan pen­

didikan tinggi di pondok pesantren dengan tiga fokus yaitu perencanaan, implementasi serta dampak strategi pengembangan pendidikan tinggi.

Upaya yang dilakukan pondok pesantren sebagai bentuk tanggung jawab akademik agar dapat memenangkan kompetensi, karena itu perguruan tinggi yang dikembangkan pesantren berupaya memberikan kontribusi yang penting dan besar terhadap pengembangan nilai­nilai keagamaan, kebangsaan serta kemasyarakatan. Upaya yang sistematis pada bidang: (1) sumber­sumber nilai pengembangan; (2) kelembagaan dan keilmuan; (3) networking; (4) tujuan; (5) struktur dan sistem operasional; (6) pengambilan keputusan; (7) arah pengembangan; (8) partisipasi; dan (9) lulusan. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya digambarkan dalam Tabel 3.3 di bawah ini:

S A M P L E

Demikian hasil penelusuran terhadap berbagai studi yang bertema strategi pengembangan, pendidikan tinggi dan pondok pesantren. Kajian mayoritas menggunakan penelitian kualitatif, namun berbeda pendekatan dan rancangan yang digunakan. Berdasarkan hasil penelusuran peneliti pada kajian terdahulu, menemukan belum ada yang menyentuh pada wilayah perencanaan, implementasi dan dampak strategi pengembangan pendidikan tinggi di pondok pesantren yang tentunya memiliki karakte­

ristik yang relatif berbeda dari segi ruang dan waktu. Dari paparan kajian pustaka di atas, maka posisi dan porsi kajian dapat disampaikan berbe­

da secara landasan teoritik, desain metode penelitian dan berbeda secara geografis dan idiologis. Untuk jelasnya sebagaimana tergambar pada tabel berikut ini:

Tabel 3.3. Posisi Kajian No. Peneliti dan Judul Perspektif Teori dan

Pendekatan Penelitian Kajian S. Ali Jadid Al

Idrus. Manaje-men Strategi Pesantren (Pengembangan Pendidikan Tinggi dalam Perspektif Global)

Teori Perencanaan Strategi dari Fred R. David (2006), dan Pe-rencanaan strategi dari Akdom (2009),

Implementasi 7-S The Kinsey &

CB (1996).

Teori Developing oleh (Goldstein, 1992; Tannenbaum & Yurk, 1992; Wexley & Latham, 1991).

Ditemukan perencanaan strategi pengembangan pendidikan tinggi di pon-dok pesantren, implemen-tasi strategi pengembangan pendidikan tinggi di pondok pesantren serta dampak strategi pengembangan pendidikan tinggi di pondok pesantren.

Berdasarkan hasil penelusuran terhadap penelitian terdahulu, maka posisi kajian dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Teori Perencanaan Strategi Fred R. David (2006) dan Perencanaan Stra tegi dari Akdom (2009) terdiri dari: Pertama, mengembangkan per nyataan visi dan misi dan faktor­faktor kunci keberhasilan orga­

nisasi Kedua, menetapkan tujuan jangka panjang dan uraian kegiatan organisasi; Ketiga, mengevaluasi dan uraian tentang cara mencapai tujuan dan sasaran.

b. Kemudian Implementasi 7­S The Kinsey & CB (1996) terdiri dari shar-ed value, style, sistem, struktur strategi, staf, dan skills, evaluasi dan refleksi.

c. Teori Developing menyatakan bahwa dalam mengembangkan perlu dilakukan latihan (coaching), membimbing (mentoring), serta konsul­

tasi, yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan memu­

S A M P L E

dahkan penyesuaian terhadap pekerjaannya serta terhadap kemajuan.

Teori ini dikembangkan oleh (Goldstein, 1992; Tannenbaum & Yurk, 1992; Wexley & Latham, 1991).