• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERIODISASI STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAMISLAM

PESANTREN LEMBAGA BERBADAN HUKUM

C. PERIODISASI STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAMISLAM

S A M P L E

Model pendidikan Islam yang ditawarkan dalam masyarakat Indone­

sia, pada dasarnya harus berfungsi untuk memberikan kaitan antara peserta didik dengan nilai­nilai ilahiah, pengetahuan dan keterampilan, nilai­nilai demokrasi, masyarakat dan lingkungan sosial kulturnya yang terus berubah dengan cepat, sebab pada saat yang sama pendidikan secara sadar juga digunakan sebagai instrumen untuk perubahan dalam sistem politik, ekonomi, dan sistem lainnya secara keseluruhan.

C. PERIODISASI STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN

S A M P L E

tersebut adalah shalat. Shalat sejatinya tidak hanya bertujuan mendekatkan hamba dengan penciptanya namun lebih dari itu shalat adalah sarana membersihkan jiwa yang berdampak positif bagi mental dan akal manusia, sehingga dinyatakan bahwa shalat yang dilaksanakan dengan benar dan niat yang tulus akan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

materi ibadah yang diajarkan rasulullah tidak hanya sebatas shalat namun mencakup juga masalah zakat dan sedekah.

Ketiga, ethka/akhlak; yaitu memperbaiki atau menyempurnakan akh­

lak merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul Allah Swt. secara garis besar beberapa butir ajaran rasulullah yang ber­

kaitan dengan akhlak di antaranya: (1) berlaku adil, baik terhadap diri sen­

diri, keluarga dan orang lain; (2) berbuat baik kepada orang lain dengan cara saling tolong menolong; (3) menepati jaji apabila berjanji; (4) meminta maaf jika bersalah dan member maaf kepada orang yang bersalah; (5) bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan anugrah­Nya dan berterima kasih kepada sesama manusia (terutama ibu dan bapak; (6) bersatu padu dan tolong­menolong dalam menegakkan kebenaran; (7) menyempurnakan timbangan atau takaran dalam jual beli; (8) bersabar dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian; dan (9) menyeru kepada perbuatan baik dan mencegah kemungkaran.

Adapun sifat­sifat tercela48 yang dilarang oleh Rasulullah di antara­

nya: (1) membunuh sesama manusia tampa alasan yang dibenarkan; (2) mengurangi harta dan hak anak yatim; (3) berzina; (4) mengurangi takaran dan timbangan dalam jual beli; (5) berlaku kasar dan menghardik orang tua;

(6) menghambur­hamburkan harta pada hal­hal yang tidak ber guna; (7) bakhil/kikir; (8) melakukan atau menyatakan sesuatu yang tidak ber guna;

(9) berlaku angkuh dan sombong; (10) berdusta/menipu; dan (11) ber pecah belah atau bermusuh­musuhan.

Fase Madinah; fase ini berlangsung lebih kurang selama sepuluh tahun mulai dari tahun pertama sampai tahun kesebelas hijriyah atau 622 sampai 632 Masehi. pada masa ini sepertiga Al­Qur’an diturunkan, tepatnya 22 surat. tipologi pendidikan Islam yang diajarkan Rasulullah pada fase ini adalah pendidikan sosial politik, namun sejatinya pendidikan di Madinah merupakan lanjutan dari pendidikan di Mekkah, sehingga pendidikan sosial politik dijiwai oleh ajaran tauhid, sehingga sinar tauhid tetap terpan­

tul dalam berkehidupan sosial dan berpolitik.49 Dengan materi yang makin

48 Usman, Menalar Jejak Historis Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, 2010), hlm.

29­32.

49 Zuhaerini dkk., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: IAIN, 1986), hlm. 32­34.

S A M P L E

meningkat berupa materi ibadah, syariah, dan siyasah serta pelajaran me­

nulis dan membaca digalakkan. Periode ini pengajaran tidak lagi hanya dilakukan di rumah kalangan sahabat namun beralih ke Masjid Quba dan Masjid Nabawi guna memenuhi pengajaran yang lebih luas. Periode ini masjid dijadikan madrasah atau lembaga formal pertama dalam sistem pendidikan Islam. Intisari pengajaran Rasulullah di Madinah antara lain.

Pertama keimanan; pendidikan keimanan ini sebagai lanjutan dari pendidikan keimanan di Madinah dipertegas dengan keterangan­kete­

rangan yang dibacakan Rasulullah sendiri dari firman Allah dalam Al-Qur’an serta Hadis Nabi sendiri mengenai iman kepada Allah, iman kepada hari kemudian, iman kepada malaikat, iman kepada kitab­kitab Allah, iman kepada para nabi dan rasul serta iman kepada qadha’ dan qadar Allah.

Kedua ibadah;50 (1) shalat, selain yang telah diajarkan di Mekkah maka pada fase ini pengajaran tentang shalat tak hanya sebatas shalat fardu namun diajarkan pula tentang shalat Jumat dan shalat Khauf yakni shalat yang dilaksanakan karena ditimpa ketakutan dalam peperangan, shalat dua hari raya dan shalat­shalat sunnah lainnya; (2) puasa; ibadah puasa difardukan di Madinah pada tahun ke­2 Hijriah atau tahun 623 Masehi yaitu puasa Ramadhan yang dilaksanakan satu kali dalam setahun; (3) haji; ibadah haji difardhukan pada tahun ke 6­Hijriah atau 627 Masehi, adapun Nabi sendiri dapat melaksanakannya secara sempurna dan menjelaskannya se­

cara terperinci baru pada tahun ke­10 Hijriah atau 631 Masehi pada pelak­

sanaan haji wada’; (4) zakat; Al­Qur’an menyebutkan secara terperinci siapa saja yang berhak menerima zakat namun tidak dilengkapi dengan ketentuan­ketentuan terkait pelaksanannya maka Rasulullah memberikan penjelasan melalui Hadisnya mencakup masalah haul dan nisabnya. Ketiga pendidikan akhlak; pada fase ini diperkuat serta berkembang menjadi lebih luas mencakup: (1) mengikis permusuhan antarsuku dengan jalan meng ikat persaudaraan di antara mereka; (2) menekankan etos kerja; (3) menjalin kerja sama dan tolong menolong; (4) disyariatkannya shalat Jumat sebagai salah satu media komunikasi.

2. Strategi Pengembangan Pendidikan Zaman Sahabat

Cikal bakal pendidikan Islam dalam sebuah institusi dapat dikatakan baru dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Secara khusus

50 Usman, Menalar Jejak Historis Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Kurnia Alam Semesta, 2010), hlm.

33­36.

S A M P L E

Khalifah Umar menugaskan para guru menjadi narasumber ke berbagai daerah bagi masyarakat Islam di daerah­daerah tersebut. Para guru ini biasa nya berdiam di masjid dan melaksanakan pengajaran agama yang ter­

buka untuk umum dalam kholakoh.

Pada perkembangan selanjutnya materi pengajaran tidak berhenti sebatas pendidikan agama namun berkembang sesuai kebutuhan ma­

syarakat, di antaranya bahasa dan sastra Arab, baik nahwu, sharaf mau­

pun balaghah. Selain di bidang materi, sarana dan prasarana penunjang pun turut berkembang yang kemudian dikenal dengan istilah maktab yakni tempat khusus untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Maktab inilah yang kemudian menjadi cikal bakal institusi atau lembaga pendidikan Islam.

di antara pusat­pusat pendidikan Islam pada masa itu adalah:

Madrasah Mekkah; guru pertama yang memberikan pengajaran di madrasah Mekkah adalah Mu’az bin Jabal dengan materi halal haram dalam Islam, tafsir, fikih, dan sastra Arab. Estafet pengajarannya dilanjutkan oleh murid beliau Abdullah bin Abbas yang mengembangkan madrasah Mekkah.

Madrasah Madinah adalah tempat berkumpulnya ulama’­ulama’ besar dari kalangan sahabat rasulullah, termasuk Khulafaurrasyidin, zaid bin Tsabit, Abdullah bin Umar serta yang lainnya. di madrasah ini diajarkan pula ilmu qiro’at dan faraid selain ilmu­ilmu lain sebagaimana yang diajarkan di madrasah mekkah.

Madrasah Kuffah; ulama dari kalangan sahabat yang tinggal di Kuffah adalah Ali bin Abi Thalib yang menangani bidang politik, adapun Abdullah bin Mas’ud ditugaskan secara langsung oleh Khalifah Umar untuk meng ajar di sana. ia dikenal sebagi ulamak yang ahli di bidang tafsir, Hadis dan Fi kih.

Di antara muridnya yang paling tersohor dari madrasah kuffah adalah abu hanifah, seorang imam mazhab yang terkenal dengan penggunaan ra’yu­

nya dalam berijtihad.

Madrasah Basrah; ulama dari kalangan sahabat yang tersohor adalah Abu Musa al-Asy’ari dalam bidang fikih, Al-Qur’an dan Hadis, Anas bin Malik dalam bidang Hadis, Hasan al­Bisri yang juga andal di bidang se jarah dan tasawuf serta perintis aliran ahlussunnah dalam lapangan ilmu kalam serta Ibnu Sirin dalam bidang Hadis dan fikih sebagai murid langsung Zaid bin Tsabit dan Anas bin Malik.

Madrasah Damaskus; setelah Syiria ditaklukkan, Khalifah Umar meng­

utus tiga orang guru ke wilayah ini, yakni; Mu’az bin Jabal (bertugas di Palestina), ubadah (bertugas di Hims), Abu Darda’ (bertugas di Damaskus).

yang kemudian dilanjutkan estafet pengajarannya oleh para tabi’in.