DAYA SAING DAN PERADABAN GLOBAL
A. PARADIGMA PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN SDM DI PESANTREN
Pada era globalisasi dan modernisasi, pesantren memiliki spesifika-si peran sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah bahkan lembaga sosial. Berawal dari bentuk pengajian yang sangat sederhana, pada akhir
nya pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan secara reguler dan diikuti oleh masyarakat, dalam pengertian memberi pelajaran secara material dan immaterial, yakni mengajarkan bacaan kitabkitab yang di
tulis oleh ulama abad pertengahan dalam wujud kitab kuning. Titik tekan pola pendidikan secara material itu adalah diharap setiap santri mampu menghatamkan kitabkitab kuning sesuai dengan target yang diharapkan.
Adapun pengajaran dalam pengertian immaterial cenderung berbentuk sesuatu upaya perubahan sikap santri, agar santri menjadi seorang yang tangguh dalam manghadapi kehidupannya seharihari.
Dalam perkembangannya, misi pendidikan pondok pesantren terus mengalami perubahan sesuai dengan arus kemajuan zaman yang ditandai dengan munculnya IPTEK.1 Sejalan dengan terjadinya perubahan sistem pendidikannya, maka makin jelas fungsi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, di samping pola pendidikan secara tradisional diterapkan juga pola pendidikan modern.
Pemahaman fungsi pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan terletak pada kesiapan pesantren dalam menyiapkan diri untuk ikut ser
ta dalam pengembangan dalam pembangunan di bidang pendidikan de
ngan sejalan adanya perubahan sistem pendidikan sesuai dengan arus
1 DEPAG RI, Pola Perkembangan Pondok Pesantren, (Jakarta: Depag, 2003), hlm. 40.
S A M P L E
perkembangan zaman dan teknologi secara global.2 Hal ini juga terlihat bahwa sistem pendidikan pondok pesantren terus menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan dengan prinsip masih tetap dalam kawasan prinsip agama. Oleh karena itu, pesantren benarbenar sebagai partner yang intensif dalam pengembangan pendidikan yang dibuktikan dengan makin meluasnya pendidikan pesantren ke seantero dunia.
Globalisasi sebagai suatu konsep yang sudah masuk dalam pikiran se bagian warga masyarakat. Globalisasi merupakan fenomena yang me
ngan dung suatu perubahan yang bersifat majemuk dan drastis dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, khususnya aspek ekonomi, politik dan kultural. GibsonGraham,3 dengan amat jernih memberikan definisi globalisasi sebagai “a set of processes by which to world is rapidly being integratedin to one economic cpace via increased international trade, the internationalization of production and financial markets, the internatio-nalization of commodity culture promoted by an increasingly network global telecommunications system.”
Dari definisi tersebut, globalisasi dapat dikaji berdasarkan aspek-aspek;
ekonomi, sosialpolitik, dan aspek kultural. Aspek ekonomi menunjukkan bahwa ekonomi bergerak ke arah; perdagangan bebas, perusahaan swasta, investasi asing, dan liberalisasi pembatas perdagangan. Pada aspek sosial
politik nampak bahwa politik pemerintahan bergeser dari sentralisasi ke desentralisasi, kehidupan politik dan masyarakat semakin demokratis, kebebasan berpendapat dan berserikat semakin berkembang, berlangsung pemilihan umum yang bebas, dan kontrol masyarakat, khususnya pers semakin kukuh. Aspek kultural ditunjukkan oleh adanya perubahan pola perilaku termasuk dalam konsumsi, semakin derasnya informasi antar
bangsa, dan semakin intensnya komunikasi yang terjadi baik dalam skala nasional maupun internasional.
Globalisasi bukanlah segalagalanya dan sebuah era maju yang tanpa kelemahan dan kekurangan. Saul dalam bukunya The Coolapse Of Globalism mengatakan bahwa seolaholah tanpa asalusul, globalisasi muncul pada tahun 1970an, tumbuh besar dan dewasa, diselimuti dengan aura inklusi
vitas. Para penganjur dan penganutnya dengan mantap mengatakan, me
lalui prima mazhab khusus ilmu ekonomi, bahwa rakyat di seluruh dunia
2 M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan: Kasus Pondok Pesantren An-Nuqoyah Guluk-Guluk Sumenep, Madura, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2001), Cet. ke1, hlm. 36.
3 Ishomuddin, Restorasi PTAIN di Era Globalisasi: Dinamika UIN Malang di Tangan Pemimpin Inovatif dan Kreatif, (Malang:UIN MalangPress, 2011), hlm. 149153.
S A M P L E
akan menempuh arah baru, yang saling terkait erat dan positif. Misi ini diubah menjadi kebijakan dasar hukum selama 20 tahun – 1980an dan 90
an – dengan ditopang oleh kekuatan keniscayaan. Era globalisasi bukannya tanpa konsekuensi.4 Oleh sebab itu, perlu dicermati dampak positif maupun negatif dari era tersebut. Seperti kita liat dunia yang terbuka memberikan peluangpeluang baru tetapi juga tantangan baru.
Dunia yang terbuka bukannya tanpa proteksi. Setiap bangsa tentunya menginginkan bangsanya akan maju setara dengan bangsabangsa lain yang maju. Sejalan dengan maraknya perdagangan dunia, maka konsumerisme akan berkembang pesat. Di antara dampak dari globalisasi ialah muncul
nya suatu masyarakat megakompetisi di mana setiap orang berlomba
lom ba untuk membuat yang terbaik, mencapai yang terbaik. Dunia dalam era globalisasi adalah dunia yang mengejar kualitas dan keunggulan. De
ngan perjuangan tersebut diharapkan masyarakat menjadi dinamis, terus menerus maju dan mengejar yang terbaik. Demikian kita telah melihat dampak positif era globalisasi. Selanjutnya perlu dilihat dampak negatifnya dampak negatif dapat memperlihatkan diri di dalam bermacammacam bentuk antara lain ancaman terhadap budaya bangsa. Era globalisasi me
lahirkan budaya global yang merupakan ancaman terhadap budaya lokal atau budaya bangsa. Dari fenomenafenomena yang muncul akibat era globalisasi, maka perguruan tinggi agama Islam5 dihadapkan dengan be
berapa tantangan sebagai berikut:
1. Dunia tanpa batas (borderless world) wajah abad ke21 adalah abad kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi yang melahir
kan suatu bentuk dunia tanpa batas (border world). Hal ini berarti komunikasi antarmanusia menjadi begitu mudah begitu cepat dan begitu intensif sehingga batasbatas ruang menjadi sirna. Hal ini juga disebabkan oleh hancurnya sekatsekat hubungan dagang antarbang
sa dengan lahirnya dunia perdagangan bebas sehingga kemungkin
an kerja sama menjadi lebih cepat dan intensif. Menghadapi kondisi semacam itu, maka perguruan tinggi agama Islam dituntut mampu me respons secara akademik yakni melahirkan sarjana yang mengua
sai dan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan modern berbasis pada teknologi komunikasi dan sekaligus bertakwa kepada Allah.
2. Krisis moral dan etika (the crisis of moral and ethics). Terlalu banyak peristiwa yang dapat kita identifikasi sebagai krisis moralitas dan etika
4 Ishomuddin, Restorasi PTAIN di Era Globalisasi, hlm. 150.
5 Ishomuddin, Restorasi PTAIN di Era Globalisasi, hlm. 153.
S A M P L E
yang melanda sebuah bangsa. Bermula dari krisis moneter (misalnya kasus Indonesia) – yang peristiwanya dipicu variabel global – kemudian terkuak berbagai krisis politik moralitas dan etika bahkan sebagai tingkat spiritualitas. Hal ini melanda kehidupan bangsa kita dalam ber bagai tataran administrasi pemerintahan, pusat maupun daerah dan dalam berbagai sektor negara dan swasta. Perguruan tinggi aga
ma Islam memegang teguh dan berbasis pada islam dituntut untuk melahirkan sarjana yang menguasai bidang ilmunya dan mengamalkan ilmunya itu didasari oleh perilakuperilaku yang terpuji dan baik dalam pandangan islam.
3. Pudarnya identitas bangsa (the weakness of nation identity). Globalisasi tampil dengan aneka wajah; wajah yang damai dan ramah maupun wajah yang gram. Kemajuan teknologi informasi mendorong negara
negara dan bangsabangsa di dunia ke dalam “a world system in term of politically, socially and culturally”. Dalam konteks ini berlaku—atau mungkin bisa tidak dihindari—adanya hegemoni dari kekuatan dunia yang unggul. Walaupun sebenarnya dalam tata hubungan global di
perlakukan prinsip interdepensi di antara negaranegara dan bangsa
bangsa di dunia. Dalam rangka tata hubungan serupa ini identitas sebuah bangsa mengalami proses pemudaran. Komitmen politik be
bas aktif tampak mulai canggung di panggung dunia, kesatuan dan persatuan bangsa dalam arti budaya dan sosial mengalami keretakan
keretakan.
4. Sebagai pendidikan tinggi yang memiliki ciri khas keislaman, perguruan tinggi agama Islam harus mampu menanamkan komitmen keislaman dan kebangsaan melalui prosesproses pengajarannya kepada para mahasiswa, sehingga setelah ia lulus menjadi sarjana mereka tetap berada dalam koridor sebagai sarjana yang menjunjung tinggi nilai
nilai keislaman dan tetap mencintai dan mengabdi kepada bangsanya.
5. Megakompetisi (mega-competition). Gelombang globalisasi melahir
kan dunia yang terbuka telah mengubah semua aspek kehidupan ma
nusia baik di dalam kehidupan perdagangan, politik, sosial, budaya serta hakhak dan kewajiban manusia. Seluruh kekuatan ini melahir
kan apa yang disebut dengan kesadaran global (global consciousness).
Kesadaran global bukan berarti melumatkan manusia itu menjadi partikelpartikel yang tidak berarti, tetapi justru menuntut sumbang
an dari setiap individu dalam membina suatu masyarakat baru, yaitu masyarakat yang lebih baik. Masyarakat yang lebih baik itu adalah hasil
S A M P L E
dari prestasi dan kreativitas manusia yang muncul karena kompetisi.
Pendidikan tinggi Islam berdiri sejajar dengan pendidikanpendidikan tinggi umum lainnya dituntut mampu menghadapi persaingan global baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
6. Masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Masyarakat abad ke21 sebagai masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society) menuntut setiap individu menguasai atau setidaknya mempunyai pengertian tentang pengaruh ilmu pengetahuan di dalam kehidupan.
Bukan berarti penguasaan terhadap ilmu pengetahuan membebaskan manusia dari nilainilai agama. Tetapi kedua nilai tersebut – ilmu pengetahuan dan agama – saling mengisi, saling mengembangkan dan membatasi. Untuk itu perndidikan tinggi bertugas untuk mendekatkan jarak keduanya melalui kajiankajian ilmiah baik ilmu agama maupun ilmu keislaman. Dikotomi antara Islam dan ilmu pengetahuan (science) dalam kajian keilmuan sudah harus diakhiri. Di sinilah pentingnya mengubah pendekatan (metodologi) dan reorientasi kajian Islam dan ilmu pengetahuan (science).
Tidak ragu lagi, era globalisasi kadangkadang disebut sebagai era kesejagatan menimbulkan perubahan penting dalam berbagai aspek kehidupan; ekonomi, politik, sosial, budaya, teknologi, pendidikan, dan lain
lain. Berbagai kemajuan penting dalam teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi telah mempercepat jika tidak menyebabkan proses glo
balisasi tersebut. Hasilnya, informasi instan dapat diterima dan diikuti masyarakat di berbagai penjuru dunia, dan tidak terlalu lama, perubahan pada tingkat global memengaruhi masyarakatmasyarakat tersebut.
Era global dan globalisasi tidak terelakkan lagi, juga menimbulkan perubahan penting dalam berbagai aspek dunia pendidikan secara kelem
bagaan, globalisasi mendorong terjadinya proses otonomisasi, devolusi, desentralisasi, dan privatisasi pendidikan. Pada tingkat pendidikan dasar dan menegah, orang biasa menyaksikan gejala desentralisasi, di mana pe
merintah lokal bersama masyarakat tempatan semakin memainkan pe
ranan lebih besar dalam merancang dan menyelenggarakan pendidikan.
Pada tingkat pendidikan tinggi, terjadi peningkatan proses otonomisasi dan privatisasi, di mana peranan pemerintah semakin mengecil, dan sebaliknya peranan stakeholders kian membesar.
Kemudian, dalam hal substansi pendidikan, globalisasi juga menim
bulkan perubahan penting selaras dengan perkembangan masyarakat glo
S A M P L E
balisasi yang pada dasarnya bertumpu pada “knowledge-based society”—jika tidak pada ‘knowledge-based economy’—subjek (mata pelajaran atau mata kuliah) juga mengalami perubahan. Terdapat kecenderungan kuat terjadinya penyederhanaan muatan kurikulum. Subjek yang dipandang tidak terlalu penting dan tidak relevan dengan kebutuhan global dihilangkan dari kurikulum. Sebaliknya, subjek yang urgen dan instrumental bagi peserta didik dalam menghadapi realitas globalisasi, semakin mendapat penekanan penting, atau bahkan diprioritaskan.
Terakhir, globalisasi yang sekali lagi ditandai kemajuan penting da
lam teknologi informasi dan komunikasi mendorong terjadinya pula da
lam pembelajaran. Dalam perspektif makro, kemajuan teknologi informa
si dan komunikasi mempercepat proses demokratisasi dan equity dalam pem belajaran. Guru atau tenaga pengajar kini tidak lagi merupakan sa
tusa tu nya narasumber dalam proses pembelajaran. Teknologi infor ma si dan komunikasi yang kini ada (existing) subjek—dan juga akan terus ber
kembang—se makin memungkinkan peserta didik untuk mengakses sendiri beragam sumber belajar. Karena itu, jika guru atau tenaga pengajar tetap ingin me mainkan peran sentral dalam proses pembelajaran, mereka harus melakukan perubahan atau sedikitnya penyesuaian dalam paradigma, stra
tegi, pendekatan, dan teknologi pembelajaran. Jika tidak, tenaga pengajar akan kehilangan makna kehadirannya dalam proses pembelajaran.