BAB III KAMPUNG PEMUKIMAN PRAJURIT YANG MENEKUN
F. Kemerosotan Usaha Batik dan Perkenalan dengan Dunia Pariwisata
Kesuksesan yang dicapai dalam industri batik di daerah Prawirataman
tidak berlangsung lama. Usaha batik yang berhasil bangkit kembali dan
mengalami perkembangan yang pesat pada tahun 1950-an tersebut, sekali lagi
harus menghadapi tekanan pada kisaran awal tahun 1960-an. Tekanan yang
dimaksud di sini adalah kesiapan dan kesigapan para pengusaha batik untuk
mempertahankan kelangsungan usahanya. Inflasi ekonomi yang terjadi di
Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, dan berlangsung terus menerus
sampai akhir masa kepemimpinan Presiden Soekarno, membawa pengaruh yang
tidak sedikit pula. Oleh karena itu, dalam subbab ini akan diuraikan faktor-faktor
yang menjadi penyebab dari kemerosotan usaha batik di Prawirataman.
Berdasarkan hasil studi lapangan yang telah dilakukan, hampir semua dari
responden yang diwawancarai mengatakan bahwa perkembangan dan ekspansi
Prawirataman.40 Batik printing adalah batik yang proses pembuatannya
menggunakan sistem sablon, atau hand-print dan bukan tekstil bermotif batik
yang dibuat dengan mesin. Walaupun proses pembuatannya dikerjakan dengan
tangan, tetapi kain tersebut dapat diproduksi secara besar-besaran dalam waktu
singkat, sehingga harganya menjadi lebih murah dibandingkan dengan batik
tradisional yang berupa batik tulis dan batik cap.41
Batik printing ini pertama kali muncul pada tahun 1960-an, dengan mutu
printing dan motif yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan batik tradisional.
Tetapi kemudian dengan bantuan teknologi dan bahan pewarna baru, mutunya
dapat ditingkatkan hingga menyamai kualitas batik tradisional. Hal ini menjadi
ancaman bagi batik tradisional karena meskipun kualitasnya sama, tetapi harga
batik printing jauh lebih rendah. Oleh karena itu, lambat laun pasar industri batik
tradisional menjadi semakin sempit.
Situasi sosial dan kebiasaan masyarakat yang pada saat itu lebih banyak
menggunakan pakaian modern dan bukan batik sebagai pakaian sehari-hari,
menjadi salah satu faktor pendorong pesatnya perkembangan batik printing ini.
Sama halnya dengan masyarakat di daerah Prawirataman. ‘Modernisasi’ dalam
hal berpakain menjadi semacam alasan bagi keengganan menggunakan pakaian
batik tradisional yang terkesan lebih ribet, sehingga akhirnya batik menjadi tidak
40
Wawancara dengan Ibu Sri Fitriyati, 52 tahun, tanggal 11 Maret 2013, Ibu Dalulu Wanisa, 50 tahun, tanggal 12 Juni 2013, Bapak Suprapto, 65 tahun, tanggal 13 Juli 2013 di Prawirataman.
41
laku.42Perkembangan batik printing juga didukung dengan kebijakan pemerintah
yang mengharuskan kalangan pegawai negeri untuk mengenakan seragam batik
pada hari-hari tertentu, akibatnya jumlah permintaan batik printing meningkat,
sementara pemasaran batik tradisional menjadi semakin sulit.
Pada saat Soeharto resmi menjadi presiden pada tahun 1968, kebijakan-
kebijakan perekonomian yang diberlakukan pada masa pemerintahannya juga
turut memberi pengaruh pada perkembangan usaha batik printing ini. Di bawah
bendera pemulihan dan rehabilitasi perekonomian Indonesia pasca inflasi,
kebijakan ekonomi yang melindungi pengusaha lokal dicabut dan subsidi kain
mori melalui koperasi batik dihentikan. Selain itu peraturan yang sebelumnya
membatasi kegiatan perekonomian dan perusahaan milik orang asing juga dicabut,
akibatnya tekstil buatan luar negeri dan bahan tekstil lain yang sebelumnya
dilarang masuk ke Indonesia, mulai banyak beredar di pasaran. Maraknya tekstil
impor ini semakin memperparah posisi batik tradisional.
Dengan dihapuskannya berbagai program nasionalisasi yang telah
dikembangkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, maka dengan
sendirinya industri batik tradisional menjadi kehilangan pelindungnya. Industri
batik tradisional harus berjuang sendiri dalam melawan derasnya arus persaingan
dengan industri batik printing pada khususnya dan bahan-bahan tekstil baru pada
umumnya, sehingga kemunduran dan kemerosotan pasar batik tradisional menjadi
tidak dapat dihindarkan.
42
Wawancara dengan Bapak Heriyadi Ayik, 54 tahun, tanggal 17 Juli 2013, di Prawirataman.
Meredup dan merosotnya usaha batik tradisional yang melanda sentra-
sentra industri batik di Jawa dan seluruh Indonesia pada umumnya, tentunya juga
terjadi di daerah Prawirataman. Namun demikian, kemerosotan usaha batik di
Prawirataman ini tidak terjadi serentak secara bersamaan, maksudnya dari 38
perusahaan batik yang ada, tidak semuanya menutup usahanya secara bersamaan.
Pengusaha berskala besar yang memiliki jaringan serta modal yang kuat dapat
bertahan sampai sekitar tahun 1970. Namun demikan, banyak di antara pengusaha
batik yang sudah gulung tikar tersebut mulai menjajaki dan mencoba
peruntungannya dengan mengembangkan usaha yang lain. Banyak usaha-usaha
baru yang dikembangkan, misalnya art shop yang menjual lukisan-lukisan batik,
peternakan ayam, rumah kos-kosan, rumah penginapan, dan lain sebagainya.
Di lain pihak, Pemerintah Indonesia mulai giat mengembangkan sektor
pariwisata. Perkembangan sektor pariwisata itu mendapatkan dukungan penuh
dari pemerintah dengan dikeluarkannya kebijakan yang secara formal
menempatkan sektor pariwisata dalam Rencana Pembangunan Semesta 8 tahun
dari tahun 1960 – 1968, serta dalam REPELITA I pada tahun 1969.43 Daerah
Yogyakarta menjadi terkenal sebagai daerah tujuan wisata selain karena obyek-
obyek wisatanya yang memang menarik untuk dikunjungi, juga didukung oleh
akses yang mudah, baik melalui transportasi darat, ataupun udara sehingga
kemudian Yogyakarta terkenal sebagai daerah tujuan wisata kedua setelah Bali.
Semakin banyaknya jumlah wisatawan yang datang berkunjung ke Yogyakarta,
43
artinya semakin membuka jalan bagi perkembangan usaha yang baru dalam
bidang hotel dan penginapan.
Bagi sebagian pengusaha batik di Prawirataman, perkembangan industri
pariwisata tersebut juga dimaknai sebagai peluang usaha yang baru. Letak daerah
Prawirataman yang strategis, dan tidak begitu jauh dari Kraton Yogyakarta
sebagai pusat kota memudahkan akses bagi para wisatawan yang datang
berkunjung. Selain itu, salah satu modal besar yang sangat mendukung dan
dimiliki oleh para pengusaha batik Prawirataman adalah rumah dengan ukurannya
sangat besar dan bagus, ditambah dengan tanah pekarangan yang luas. Oleh
karena itu, dari berbagai bidang usaha yang coba dikembangkan pasca industri
batik meredup, jasa penginapan menjadi salah satu pilihan.
Usaha jasa penginapan di daerah Prawirataman itu dimulai dari salah
seorang pengusaha batik yang menyewakan kamarnya kepada wisatawan yang
tertarik dengan batik. Saat itu hanya terdapat beberapa perusahaan batik yang
bertahan, juga beberapa art shop yang menjual lukisan batik. Dari mulut ke mulut
berita tentang Prawirataman tersebar sehingga jumlah wisatawan yang datang
bertambah. Pengusaha batik yang pada awalnya hanya menyewakan kamar di
rumahnya, kemudian mulai membangun penginapan yang bersifat homestay44
pada sekitar tahun 1968, di Prawirataman sebelah barat, dekat dengan Jalan
Parangtritis.
44
Chiyo Inui Kawamura, op. cit. hal. 102. Homestay adalah rumah keluarga yang digunakan untuk menerima tamu atau wisatawan yang ingin menginap. Hubungan antara keluarga di rumah itu dengan tamunya tidak bersifat komersial semata, tetapi juga bersifat kekeluargaan.
Usaha jasa penginapan tersebut berjalan sangat baik dan banyak
peminatnya. Melihat potensi tinggi yang dimiliki sektor pariwisata Yogyakarta,
dan jumlah wisatawan yang terus bertambah, banyak pengusaha batik lain yang
kemudian tertarik dan ikut merintis usaha yang sama. Beberapa dari mereka yang
pada awalnya memanfaatkan rumah mereka sebagai kos-kosan dan dikontrakkan,
mulai banting setir mengalihkan usaha mereka. Bangunan rumah kos-kosan
tersebut kemudian di renovasi menjadi kamar-kamar dengan fasilitas yang lebih
baik dan layak disewakan kepada para wisatawan. Berawal dari sinilah usaha
akomodasi dan penginapan di daerah Prawirataman mulai berkembang, dan