Kendala dalam proses pemahaman budaya Indonesia tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa asing. Pengajar BIPA di UNS juga mengalami beberapa kendala ketika mengajarkan budaya Indonesia.
Berikut kendala yang dirasakan pengajar BIPA di UNS.
“Level 1 belum diajarkan budaya yang memiliki filosofi jadi kami hanya memahamkan hanya menyampaikan dan berbagi cerita.
Misalnya kalau peserta BIPA tidak bisa berbahasa Inggris. Saya pernah dapat dari Meksiko yang tidak berbahasa Inggris dan belum bisa bahasa Indonesia akhirnya pakai pendekatan teman, ada temannya yang bisa berbahasa yang masih serumpun dengan meksiko. Jadi kesulitannya ketika tidak bisa memahami pemahaman bahasa pengantar. Kalau dikasih gambar saja kan susah untuk memahamkan budaya.” (CLHW 03/ NA).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi pengajar BIPA di UNS adalah bahasa pengantar. Bagi mahasiswa asing yang belum pernah belajar bahasa Indonesia, mereka akan diajar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Akan tetapi, mahasiswa asing di UNS terdiri dari berbagai negara yang tidak semuanya dapat berbahasa Inggris. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar BIPA.
Tidak hanya persoalan bahasa pengantar, kendala lain juga dihadapi oleh pengajar BIPA di UNS. Berikut hasil wawancara dengan pengajar BIPA di UNS yakni PD.
“Ada tantangan terutama menjelaskan supaya benar-benar paham.
Ya harus dengan sabar menjelaskan, bagaimana kalau tetap tidak paham ya tetap harus dijelaskan besoknya lagi. Sulit sekali ya ketika menjelaskan budaya. Tetapi tetep harus kita jelaskan. Kamar mandi juga harus dijelaskan, ada yang cuci taangan dari kran langsung ke bak air dia mengira di bak air itu air kotor jadi harus dijelaskan itu
bukan air kotor itu air bersih cara pakainya harus menggunakan gayung.”, (CLHW 04/ PD).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka kendala yang dihadapi pengajar BIPA di UNS adalah cara memberikan pemahaman kepada mahasiswa asing agar dapat mengerti kebiasan-kebiasaan yang dilakukan orang Indonesia. Meskipun bagi orang Indonesia kebiasan seperti mencuci tangan menggunakan gayung adalah hal sederhana dan terkesan sepele, akan tetapi hal tersebut sangat perlu disampaikan kepada mahasiswa asing. Dalam memberikan pemahaman terkait budaya tersebut bukan perkara yang gampang. Tidak cukup pengertian hanya sekali atau kedua kali, tetapi perlu dijelaskan berulang-ulang agar mereka dapat memahami.
Kendala dalam mengajar BIPA khusunya materi budaya atau kebiasaan orang Indonesia kepada mahasiswa asing juga dirasakan oleh pengajar BT.
“Karena di awal mereka sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, mending kalau bisa bahasa Inggris. Saya pernah satu kelas mereka campur ya ada yang bisa bahasa Inggris ada yang bisa bahasa lokal saja mahasiswa dari Kamboja atau Myanmar. Bahasa Inngris nggak bisa bahasa Indonesia gak bisa.
Yang nggak bisa bahasa Inggris jadi body language, memerlukan usaha yang lebih karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia atau Inggris sama sekali.”, (CLHW 05/ BT).
Dalam mengajarkan bahasa Asing tentu saja kendalanya adalah bahasa itu sendiri. Mahasiswa asing tingkat dasar atau pemula sering kali tidak mampu memahami materi yang diajarkan oleh pengajar karena tidak menguasai bahasa pengantar dan baru pertama kali belajar bahasa Indonesia. Hal tersebut menjadi kendala tersendiri, sebab komunikasi menjadi bagian penting dalam pembelajaran di dalam kelas. Terlebih dalam memberikan materi terkait kebiasaan, sudah pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama dengan usaha yang lebih banyak. Selain itu, perbedaan budaya mahasiswa asing di negara mereka dengan budaya Indonesia juga menjadi bagian dari
kendala dalam memberikan pemahaman budaya Indonesia kepada mereka. Seperti pada hasil wawancara berikut.
“Saya memegang kelas KNB jadi utk mahasiswa yang akan melanjutkan kuliah di sini atau ambil S1 atau S2, itu kebanyakan mereka baru pertama kali di sini dan bahasa Indonesia sangat dasar bahkan tidak bisa sama sekali. Jadi mulai dari menyapa atau memperkenalkan diri itu belum bisa. apalagi budaya, mereka baru pertama kali ke sini. Biasanya yang pertama kali kami perkenalkan kebiasaan, jadi banyak yang kaget ya, kaget budaya, gegar budaya, jadi terkejut dengan kebiasaan-kebiasaan. dari mulai bangun pagi saat mereka harus memulai kelas ya.”, (CLHW 05/ BT).
Memulai aktivitas baru di negara Indonesia dengan kebiasaan yang berbeda dengan kebiasaan di negara asal menjadi bagian dari kendala yang dihadapi dalam memahamkan budaya Indonesia. Gegar budaya menjadi hal biasa yang dijumpai dalam mengajarkan budaya baru kepada orang asing. Proses mereka menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang Indonesia membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Memberikan pemahaman budaya kepada mahasiswa asing agar tidak terjadi gegar budaya bukan hal yang sederhana. Mereka membutuhkan waktu dan juga membutuhkan pendampingan untuk membantu mereka dalam memahami budaya Indonesia. Hal tersebut tentu saja menjadi kendala tersendiri dalam proses pemahaman budaya Indonesia bagi mahasiswa asing.
b) Gegar Budaya bagi Mahasiswa Asing di UPT P2B UNS
Kendala yang kerap dirasakan oleh mahasiswa asing yang baru saja belajar bahasa dan budaya Indonesia, bahkan baru tinggal di Indonesia adalah gegar budaya (culture shock). Gegar budaya dapat diartikan sebagai bentuk disorientasi atau kebingungan yang dirasakan oleh individu yang muncul ketika baru saja pindah ke tempat baru dengan budaya yang berbeda dari budaya tempat tinggal sebelumnya. Hal tersebut dirasakan oleh mahasiswa asing yang baru saja belajar budaya Indonesia bahkan tinggal langsung di Indonesia.
Berikut gegar budaya yang dirasakan oleh mahasiswa BIPA.
Berdasarkan wawancara dengan mahasiswa asing yang belajar di UNS, masing-masing dari mereka mengalami keadaan gegar budaya. Berikut hasil wawancara dengan HG yang mengalami gegar budaya ketika pertama kali datang ke Indonesia atau awal berada di Indonesia.
“Kalau Indonesia dan Mesir sangat berbeda. Ada satu hal yang sangat beda, kalau di Indonesia waktu aku tiba di Indonesia ada banyak motor terlalu banyak motor dan ada banyak perempuan yang naik motor. Kalau di Mesir tidak ada sama sekali, kalau di Mesir tidak boleh naik motor. Kalau mau pergi di Mesir naik mobil atau transportasi boleh tapi kalau motor untuk perempuan tidak boleh sama sekali ini untuk laki-laki saja, sepeda dan sepeda motor sama. Kalau di Indonesia aku sangat terkejut karena ada banyak motor banyak sekali, kalau di Mesir tidak ada banyak seperti itu sedikit saja. Tapi aku sangat lebih suka Indonesia dan aku di sana naik motor dan sepeda.”, (CLHW 06/ HG).
Dalam wawancara tersebut HG menyampaikan bahwa keadaan Indonesia dengan Mesir sangat berbeda. Perbedaan pertama yang HG rasakan adalah keadaan lalu lintas transportasi. Di Indonesia sangat banyak sepeda motor bahkan perempuan turut serta mengendarainya. Keadaan tersebut sangat berbeda dengan Mesir, negara HG. Di Mesir, sepeda motor sangat jarang dan hanya boleh dikendarai oleh laki-laki. Perempuan tidak diperkenankan mengendarai sepeda motor, jika hendak bepergian biasanya naik kendaraan umum. Keadaan tersebut membuat HG terkejut, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama. HG mulai memahami kebiasaan orang Indoneasia dan HG mulai terbiasa.
Keterkejutan terkait keadaan lalu lintas di Indonesia juga dirasakan oleh NR, mahasiswa asal Sudan. Berdasarkan hasil wawancara, NR menyampaikan bahwa di Sudan sepeda motor sangat jarang ditemui. Berikut hasil wawancara tersebut.
“Kalau di sini kalau mau jalan ke mana-mana saja Anda harus pakai motor kan, kalau di Sudan biasanya naik bis. Dan bisnya ada di semua tempat, kalau di sini tidak. Di sana ada motor tapi tidak banyak, jarang yang pakai. Karena jalannya penuh sama mobil dan itu bahaya.”, (CLHW 07/ NR).
Hasil wawancara dengan NR asal Sudan hampir sama dengan wawancar HG asal Mesir. Di kedua negara tersebut, jarang ditemukan sepeda motor. Hampir setiap lalu lintas dipenuhi dengan kendaraan umum seperti bis, taksi, terdapat pula mobil. Sementara di Indonesia, jalanan umum hampir dipenuhi dengan sepeda motor. Hal tersebut tentu saja mengejutkan mahasiswa asing yang baru saja tiba di Indonesia. Hal tersebut termasuk dalam keadaan kaget akan kebiasaan baru yang berbeda dengan kebiasaan di tempat sebelumnya.
Tidak hanya HG dan NR yang merasa kaget dengan keadaan lalu lintas di Indonesia. IA juga merasakan hal sama. Berdasarkan hasil wawancara, IA menyampaikan bahwa di Indonesia banyak ditemukan sepeda motor. Setiap jalan di Indonesia selalu ada sepeda motor, tidak seperti di Madagaskar. Bukan berarti di Madagaskar tidak ada motor sama sekali. Di sana ada motor, tapi jumlahnya tidak sebanyak di Indonesia. Apabila orang Indonesia bepergian menggunakan sepeda motor, maka di Madagaskar orang bepergian menggunakan mobil dan kendaraan umum seperti bis.
“Indonesia banyak sekali motor. di sana jarang. kalau mau pergi biasanya naik mobil naik bis. motor di sana ada tapi tidak banyak seperti di Indonesia.”, (CLHW 08/ IA).
Selain kaget dengan kendaraan yang ada di Indonesia, mahasiswa asing juga keget dengan makanan yang ada di Indonesia.
Berikut hasil wawancara dengan HG mahasiswa BIPA UNS terkait makanan Indonesia.
“Dan juga kalau makanan di Mesir kalau kopi dan teh selalu panas tidak ada kopi yang dingin tidak ada sama sekali. Dan juga di Indonesia waktu aku mau minta kopi ada orang yang tanya mau yang panas atau yang dingin aku pikir dia bercanda.
Dan juga banyak makanan yang manis, kalau makanan di Mesir pakai asam pakai garam tidak pakai gula dalam makanan sama sekali. Banyak sesuatu yang berbeda.”, (CLHW 06/ HG).
Dalam wawancara tersebut HG menyampaikan terkait keterkejutannya dengan makanan Indonesia khususnya minuman.
Bagi orang Indonesia, minuman dingin termasuk es teh dan es kopi adalah hal yang biasa bahkan sangat digemari. Namun, akan berbeda bagi HG yang berasal dari Mesir. Di Mesir teh dan kopi selalu disajikan hangat atau panas. Tidak ada kopi maupun teh yang disajikan dingin. HG juga menyampaikan bahwa makanan di Mesir cenderung asam dan asin, sementara di Indonesia banyak makanan yang ditambah dengan gula sehingga rasanya cenderung manis.
Hal serupa juga dirasakan oleh NR mahasiswa asal Sudan yang kaget dengan makanan di Indonesia. Berikut hasil wawancara dengan NR.
“Pertama saya makan soto, tapi abis itu saya Cuma makan telur sekitar satu bulan saya makan telur takut rasa yang lain.
Makanannya juga beda, kalau di Sudan makan roti kalau di sini nasi. Saat awal di sini susah banget makan carinya roti, roti gandum ya sini nggak ada ya semuanya di sini biasanya roti berasa ada rasanya dalam roti coklat roti strawberry, kalau sana biasanya roti tawar dan cara masaknya biasa bukan dari oven masak sendiri buat sendiri. Makanan utama di sana gandum roti roti.”, (CLHW 07/ NR).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, NR menyampaikan bahwa ketika pertama kali sampai di Indonesia ia mencoba memakan soto, akan tetapi rasanya tidak cocok dengan kebiasaan makanan di Sudan. Akhirnya selama satu bulan NR hanya makan nasi dengan telur, karena belum berani mencoba makanan yang lain. Tidak hanya itu, NR juga menyampaikan perbedaan makanan poko di Sudan dengan di Indonesia. Di Sudan, NR biasa makan roti karena makanan utamanya adalah gandum. Ketika di Indonesia, NR kesulitan mencari roti yang biasa dimakan di Sudan. Di Indonesia, roti dijual dengan banyak rasa, sementara di Sudan roti yang digunakan sebagai makanan pokok bukanlah roti dengan banyak rasa. Hal tersebut juga menjadi bagian dari kekagetan budaya khususnya dalam hal makanan.
Hal lain terkait makanan disampaikan oleh IA. Berikut hasil wawancara dengan IA mahasiswa asal Madagaskar.
“Di awal makanan Indonesia terlalu pedas. Kalau makan di warung waktu itu rasanya pedas dan manis, itu menurut saya aneh. Karena di sana makanan selalu asin, ada sambal tapi dipisah. Mungkin itu yang sedikit susah tapi lama-lama saya bisa.”, (CLHW 08/ IA).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, IA menyampaikan bahwa saat awal datang ke Indonesia IA merasa bahwa makanan Indonesia terlalu pedas dan manis. Rasa makanan tersebut bagi IA adalah cita rasa yang aneh. Hal tersebut karena IA baru saja datang ke Indonesia dengan budaya makanan yang berbeda dengan di Madagaskar. Akan tetapi, lama-kelamaan IA mulai membiasakan diri dengan cita rasa makanan Indonesia.
Selain kendaraan dan makanan, kebiasaan orang Indonesia dalam kehidupan sehari-hari juga menjadi hal baru bagi mahasiswa asing. Sapaan sederhana yang mungkin biasa bagi orang Indonesia, tapi menjadi aneh bagi mahasiswa asing. Berikut hasil wawancara dengan HG mahasiswa asal Mesir.
“Satu bulan yang pertama aku seperti lihat-lihat bagaimana orang berbicara bagaimana, bagaimana kebiasaan mereka bagaimana orang Indonesia hidup dan aku dulu kalau ada tetangga atau teman-teman bertanya HG mau kemana makan apa sudah makan belum sudah mandi belum. Aku dulu tidak paham ini mereka kenapa tanya aku mandi atau tidak. Kalau di Mesir ini tidak boleh orang tanya udah mandi belum, kalau aku mau ke universitas ada tetangga dan itu orang tua dan dia dengan suara yang keras dan semua orang bisa mendengar aku merasa malu.”, (CLHW 06/ HG).
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, jelas bahwa terdapat perbedaan budaya yang dirasakan HG antara Indonesia dengan Mesir. Kebiasaan orang Indonesia menyapa dan bertanya “sudah mandi belum?” “sudah makan belum?” ternyata menjadi hal tak wajar bagi mahasiswa asing. Hal tersebut dianggap aneh dan dapat memunculkan barbagai anggapan atas pertanyaan tersebut. Padahal hal tersebut merupakan hal yang wajar yang biasa dilakukan oleh orang Indonesia. Tujuannya adalah untuk menyapa dan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan orang yang ditanya.
Hal serupa dirasakan pula oleh IA. Berikut hasil wawancara dengan IA terkait kebiasaan orang Indonesia dalam bertanya maupun menyapa.
“Sebenarnya awal di Indonesia buat aku sebuah culture shock kalau selalu ditanya sudah makan? sudah mandi? mau ke mana? Tapi, lama-lama biasa, awalnya kaget. Kadang kalau orang tanya sudah makan belum? saya pikir kalau saya jawab belum berarti saya akan dikasih makanan itu, ternyata tidak Cuma ditanya saja.
Di sana, tidak ada seperti itu. Kalau orang tanya pertanyaan seperti itu dikira tidak sopan atau ingin tahu urusan orang lain.
Saya kaget waktu awal di Indonesia, kalau ditanya sudah mandi belum, apa badan saya bau atau kenapa ya?”, (CLHW 08/ IA).
Dalam wawancara tersebut, IA menyampaikan bahwa awal di Indonesia IA merasakan culture shock atas kebiasaan orang Indonesia dalam bertanya. Awalnya IA mengira jika pertanyaan
“sudah makan belum?” berarti orang yang bertanya akan memberi makan jika orang yang ditanya belum makan. Tapi, ternyata tidak, hanya bertanya. Pertanyaan “sudah mandi belum?” juga dapat menimbulkan perspektif lain. Seperti yang dirasakan IA saat ditanya
“sudah mandi belum?” IA merasa bahwa mungkinkah badannya bau sehingga orang bertanya demikian kepadanya. Padahal orang yang bertanya hanya bertanya saja karena seperti itulah cara orang Indonesia menyaapa. Berbeda dengan di Madagaskar yang merupakan negara IA. Pertanyaan tersebut dianggap tidak sopan, karena berkaitan dengan privasi tiap individu.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kali pertama mahasiswa asing datang ke Indonesia, mereka mengalami gegar budaya. Hal tersebut adalah wajar. Akan tetapi, gegar budaya yang berkelanjutan dapat menjadi kendala bagi mereka dalam memahami budaya Indonesia.
4) Upaya untuk Mengatasi Kendala dalam Memahami Budaya di UPT