Berdasarkan temuan di lapangan, dapat dijabarkan beberapa upaya pengajar untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam mengajarkan materi budaya. Upaya yang dilakukan mengatasi kendala yang karena mahasiswa asing mengalami gegar budaya dapat diatasi dengan memberikan pemahaman yang jelas akan budaya Indonesia. Pengajar juga menerapkan model, metode yang variatif sehingga tidak membosankan pembelajar. Upaya pengajar untuk mengatasi perbedaan budaya dari masing-masing pemelajar dan agar pemelajar belajar memahami budaya di Indonesia, pengajar mencoba untuk menyelipkan materi-materi tentang budaya sehingga sedikit demi sedikit mereka dapat memahami budaya satu dengan yang lainnya.
Penelitian milik (Murtianis et al., 2019a) memiliki relevansi dengan penelitian ini. Penelitian yang mengkaji kendala transfer budaya dalam pembelajaran BIPA di Universitas Sebelas Maret menghasilkan temuan bahwa kendala-kendala transfer budaya dalam pembelajaran BIPA karena ketebatasan mahasiswa asing dalam belajar bahasa Indonesia karena masih di tingkat dasar.
Hasil penelitian tersebut memiliki relevansi dengan penelitian ini, bahwa salah satu hal yang membuat pemelajar asing kesulitan memahami budaya Indonesia adalah keterbatasan kemampuan berbahasa Indonesia khususnya pada tingkat dasar. Selain itu, perbedaan budaya yang sangat mendasar (cross culture) juga menjadi bagian dari kendala yang dihadapi dalam pembelajaran BIPA khususnya pada pemahaman budaya Indonesia.
Penelitian tersebut mengkaji kendala transfer budaya pada pembelajaran BIPA hanya di UNS, sementara penelitian melihat kendala dan solusi pembelajaran budaya Indonesia di UNS dan UIN Raden Mas Said Surakarta.
Purnamasari (2021) dalam penelitiannya menyatakan bahwa dalam pembelajaran BIPA sudah pasti ditemukan beberapa kendala atau problematika. Berdasarkan problematika yang muncul, dibutuhkan sinergi pengajar dan pemelajar dalam mewujudkan proses pembelajaran yang interaktif, inovatif, dan bermakna. Pemelajar berusaha beradaptasi dengan keadaan sosiokultural Indonesia. Pengajar dapat memberikan pemahaman
tentang negara Indonesia. Hasil penelitian tersebut relevan dengan hasil penelitian ini bahwa dibutuhkan upaya oleh pengajar juga mahasiswa asing untuk mengatasi kendala pembelajaran budaya yang dihadapi. Pengajar BIPA memberikan pemahaman materi budaya yang mudah diterima oleh mehasiswa asing. Begitu pula mahasiswa asing yang berupaya untuk memahami budaya dan bahasa Indonesia dengan berbagai cara di antaranya adalah dengan berbaur dengan orang Indonesia, sering berkomunikasi secara langsung dengan orang Indonesia, serta tinggal bersama orang Indonesia.
Penelitian milik (Rachman, 2019) memiliki relevansi dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala-kendala dalam pembelajaran BIPA UPT P2B UNS salah satunya adalah budaya pemelajar yang masih belum dapat menyesuaikan dengan budaya Indonesia dan penguasaan bahasa Indonesia yang dimiliki oleh para pemelajar sangat beragam sehingga komunikasi antara pengajar dan pemelajar sedikit terhambat. Hasil penelitian tersebut relevan dengan hasil penelitian ini bahwa kendala yang dihadapi adalah adanya gegar budaya yang dirasakan mahasiswa asing karena perbedaan budaya mendasar secara tiba-tiba. Selain itu, perbedaan latar belakang budaya dalam satu kelas juga menjadi bagian dari kendala yang dihadapi pengajar dalam mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia. Dengan demikian, diperlukan upaya dalam pembelajaran BIPA yang dapat mengintegrasikan bahasa dan budaya Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan penelitian (Haryati et al., 2019) yang menyatakan bahwa konteks pembelajaran BIPA, aspek budaya harus terintegrasi secara sistematis dengan pembelajaran bahasa, sehingga mahasiswa asing dengan mudah belajar dan menghargai perilaku dan nilai-nilai budaya sosial yang berlaku di daerah setempat, sehingga menjadi upaya dalam mengatasi kendala yang dihadapi oleh pengajar maupun mahasiswa asing.
Mempelajari bahasa kedua bahkan budaya dari bangsa tertentu memang memiliki kendala. Penelitian milik (Banditvilai & Cullen, 2018) memiliki relevansi dengan penelitian ini. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam pembelajaran bahasa kedua, keterampilan menulis umumnya
dianggap sebagai masalah terbesar diikuti dengan mendengarkan. Penelitian tersebut relevan dengan penelitian ini bahwa kendala utama yang dihadapi pengajar BIPA maupun mahasiswa BIPA adalah bahasa itu sendiri, sebab yang dipelajarai adalah bahasa. Dalam peneltian ini ditemukan beberapa upaya untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh mahasiswa BIPA dalam memahami bahasa dan budaya Indonesia antara lain, tinggal bersama orang Indonesia, berteman dengan orang Indonesia, dan sering berinteraksi dengan orang Indonesia. Hal tersebut dapat membantu mahasiswa asing untuk memahami bahasa dan budaya Indonesia dengan lebih cepat.
Dalam penelitiannya (Lasa et al., 2019) menyatakan bahwa mengajarkan bahasa Indonesia kepada penutur asing membutuhkan upaya yang berbeda dibandingkan mengajarkan kepada masyarakat lokal Indonesia.
Mengajar bahasa Indonesia untuk orang asing membutuhkan strategi yang cukup rinci karena bahasa Indonesia akan diajarkan sebagai bahasa kedua atau keempat dan seringkali mereka yang mempelajarinya masih belum terbiasa dengan bahasa Indonesia. Hal tersebut termasuk dalam kesulitan yang dihadapi dalam belajar dan mengajarkan bahasa serta budaya Indonesia kepada mahasiswa asing. Temuan penelitian tersebut memiliki relevansi dengan hasil penelitian ini terkait kendala yang dihadapi dalam mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Kendala dalam mengajarkan bahasa adalah bahasa itu sendiri, sehingga diperlukan pembelajaran yang inovatif agar mahasiswa asing dapat memahami budaya dan dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Andayani (2016) dalam penelitiannya menyatakan bahwa model pembelajaran BIPA yang mengintegrasikan pemahaman tentang khazanah budaya lokal dengan pendekatan pembelajaran terpadu dapat digunakan untuk memecahkan masalah strategis yang terkait dengan peningkatan peran bahasa Indonesia di bidang internasional. BIPA pada dasarnya memiliki karakteristik tersendiri. Namun, spesifikasi proses belajar-mengajar tidak lepas dari hal-hal penting yang harus ada secara umum. Hal-hal penting adalah komponen BIPA, prinsip, dan aturan dasar. Oleh karena itu, pemahaman
penyelenggaraan program BIPA sangat diperlukan. Selain itu, pemahaman tersebut dapat digunakan untuk melihat dan menetapkan model perspektif tutorial yang akurat dari berbagai aspek, terutama dalam hal kelayakan yang berlaku.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari upaya mengatasi kendala dalam pembelajaran BIPA, khususnya dalam mengajarkan materi budaya Indonesia. Pernyataan penelitian tersebut relevan dengan hasil penelitian ini bahwa dalam mengajarkan budaya Indonesia diperlukan model pembelajaran yang terpadu yakni mengintegrasikan bahasa dengan budaya. Mengajarkan budaya yang terintegrasi dengan bahasa dinilai dapat mengatasi kendala yang dihadapi pengajar dalam mengajarkan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing. Pengintegrasian tersebut dapat membantu mahasiswa asing untuk mengenal budaya secara cepat. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Andayani & Gilang, 2015) bahwa terdapat interaksi positif yang signifikan antara model pembelajaran buku teks berbasis pembelajaran integratif dan minat belajar terhadap keterampilan bahasa Indonesia mahasiswa asing di Surakarta. Dengan demikian, mengintegrasikan bahasa dan budaya dalam buku ajar dapat mengatasi kendali yang dihadapi oleh pengajar dalam mengajarkan materi budaya Indonesi.
Penelitian lain yang memiliki relevansi dengan penelitian ini adalah milik (Kurniawan, Ambarwati, Batubara, Hermina, & Larasati, 2019). Dalam penelitian tersebut ditemukan permasalahan dalam pembelajaran BIPA bahwa pemelajar bahasa Indonesia di luar negeri masih banyak mengalami kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan pemaparan tersebut, persamaan penelitian terletak pada permasalahan atau kendala yang dihadapi pengajar BIPA dalam mengajarkan bahasa Indonesia. Akan tetapi, penelitian tersebut fokus pada permasalahan pembelajaran BIPA di luar negeri. Sedangkan penelitian ini fokus pada pembelajaran budaya Indonesia bagi mahasiswa asing di UPT P2B UNS dan UIN Raden Mas Said Surakarta.
Penelitian milik (Dwi, Datil, & Sukma, 2019) dalam JBIPA memiliki relevansi dengan penelitian ini. Penelitian tersebut mengkaji hambatan dalam upaya pengembangan BIPA di luar negeri. Secara umum hambatan yang ditemukan dalam pembelajaran BIPA terbagi ke dalam delapan aspek hambatan secara umum yang terdapat di dalam 23 negara, yaitu hambatan standar pembelajaran, hambatan pemelajar, hambatan pengajar, hambatan prasarana dan sarana, hambatan lembaga sasaran, hambatan lingkungan di luar negeri, hambatan administrasi luar negeri, dan hambatan koordinasi antarlembaga.
Persamaan penelitian terletak pada kendala-kendala yang dihadapi pengajar BIPA dan mahasiswa BIPA dalam proses pembelajaran. Apabila penelitian tersebut mengkaji pembelajaran BIPA di luar negeri, maka penelitian ini mengkaji penyelenggaraan BIPA di UPT P2B UNS dan UIN Raden Mas Said Surakarta khusunya pada materi budaya Indonesia.
Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa kendala adalah hal yang mutlak yang ditemui dalam penyelenggaraan program BIPA.
Di dalam kelas pun, pengajar sudah pasti akan mengalami kendala dalam transfer ilmu pengetahuan budaya Indonesia kepada mahasiswa asing.
Demikian pula, mahasiswa asing merasakan kesulitan karena budaya Indonesia adalah hal yang sangat baru bagi mereka. Dibutuhkan solusi yang tepat dalam mengatasi kendala yang dihadapi dalam belajar dan mengajar budaya Indonesia. Salah satunya adalah mengajar dengan menggunakan buku ajar BIPA yang di dalamnya memuat budaya Indonesia atau budaya setempat.
Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian milik (Nurlina et al., 2020) bahwa buku ajar yang menyajikan budaya Indonesia atau budaya lokal mampu meningkatkan penutur asing dalam berbicara dan memahami budaya Indonesia. Mereka dapat berbicara bahasa Indonesia dengan lancar mengikuti tema dan budaya lingkungan setempat.