BAB IV PENYAJIAN HASIL DATA PENELITIAN
IV.1 Hasil Wawancara
IV.1.1 Kepala Balai BBP2TP Medan
Sertifikat Benih merupakan berkas yang sangat penting bagi penangkar, tidak lain dikarenakan berkas ini menjadi salah satu bukti yang penting diakuinya benih yang diedarkan kepada masyarakat luas yang merupakan benih yang mempunyai kualitas unggul, juga untuk menghindari adanya hal-hal yang tidak diinginkan si penangkar kedepannya.
Untuk lebih memahami dan memperjelas pentingnya Sertifikat Benih dan bagaimana Implementasi Prinsip-Prinsip Good Governance dalam pemebrian Sertifikat Benih maka peneliti memunculkan pertanyaan, Apakah sebenarnya fungsi atau kegunaaan sertifikat benih ?
“..Sesuai dengan ketentuan pemerintah di dalam UU No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budaya Tanaman dan peraturan perbenihan bahwa setiap benih yang di edarkan harus disertifikasi oleh lembaga yang sudah di tunjuk pemerintah dalam hal ini BBP2TP di tunjuk pemerintah untuk melakukan sertifikasi. Dan BBP2TP mempunyai tugas sebagai pengawas benih yang artinya benih yang sudah di sertifikasi oleh BBP2TP merupakan benih yang berkualitas..” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Hal yang sama juga di ungkapkan oleh Ibu Ir. Asnilawarni MAP yang merupakan Keapala Bidang BBP2TP menjawab :
“..Sesuai dengan ketentuan pemerintah di dalam UU No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budaya Tanaman dan peraturan perbenihan bahwa setiap benih yang di edarkan harus disertifikasi oleh lembaga yang sudah di tunjuk pemerintah dalam hal ini BBP2TP di tunjuk pemerintah untuk melakukan sertifikasi. Dan dengan adanya sertifikat benih maka meminimalkan beredarnya benih non bina atau benih ilegal. Dan BBP2TP mempunyai tugas sebagai pengawas benih yang artinya benih yang sudah di sertifikasi oleh BBP2TP merupakan benih yang berkualitas...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Peran BBP2TP sangat penting dalam mengeluarkan sertifikat benih. BBP2TP juga mempunyai peranan yang penting dalam pengawasan benih bina, sehingga ketika benih yang dilepaskan ke masyarakat merupakan benih yang yabg berkualitas baik atau benih unggul. Hal ini juga sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian yang berhubungan dengan Uraian Tugas BBP2TP, dimana dijelaskan bahwa dalam melaksanakan fungsinya, BBP2TP mempunyai uraian tugas sebagai berikut :
“Melaksanakan pengawasan, pengembangan pengujian mutu benih, dan analisis teknis dan pengembangan proteksi tanaman perkebunan, serta pemberian bimbingan teknis penerapan sistem manajemen mutu dan laboratorium”
Berbicara mengenai tugas umum BBP2TP yang meliputi pengawasan di bidang mutu benih, BBP2TP tidak hanya menjadi pengawas dalam suatu tugas tetapi juga harus mampu memberikan pelayanan yang maksimal. Salah satu tugas dari BBP2TP adalah mengelurakan Sertifikat Benih yang diurus oleh Penangkar. Pada pengurusan Sertifikat Benih, peran BBP2TP sebagai pengawas sangat penting. Sehingga peneliti memunculkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya peranan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan dalam Pemberian Pelayanan Sertifikat Benih ?
Kepala Balai BBP2TP adalah :
“..Sebagai petugas pengawas benih tanaman dan melakukan pengatamatan kepada benih yang diteliti. Dan memberikan jaminan bahwa benih benar-benar unggul, yang di keluarkan dalam bentuk sertifikasi. Yang artinya benih tersebut sudah layak edar.…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan juga mengatakan hal yang sama yaitu:
“...BBP2TP memastikan benih yang beredar di masyarakat merupakan benih yang sudah bersertifikasi, dan BBP2TP juga melakukan proses pengawasan untuk mendapatkan benih yang bermutu..”(wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan , 25 April 2012)
Adanya pemberian pelayanan sertifikat benih bagi penangkar, dan fungsi BBP2TP sebagai pengawas dan yang bertugas mengeluarkan sertifikat benih mengarah kepada siapa yang terlibat dalam pemberian pelayananan sertifikat benih. Dengan alasan itupula peneliti menanyakan kepada informan kunci mengenai, Siapa saja yang terlibat dalam pemberian pelayanan Sertifikat Benih pada BBP2TP ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjawab :
“...Pegawai dari BBP2TP itu sendiri yang terdiri dari : Pengawas Benih tanaman, Petugas Pengambil Contoh, Petugas Analis, Staf yang menerima permohonan dari penangkar, kepala bidang dan Kepala Balai yang mengeluarkan srtifikat benih....” (wawancara kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan juga mengatakan hal yang sama percis yaitu : “...Pegawai dari BBP2TP itu sendiri yang terdiri dari : Pengawas Benih tanaman, Petugas Pengambil Contoh, Petugas Analis, Staf yang menerima permohonan dari penangkar, kepala bidang dan Kepala Balai yang mengeluarkan srtifikat benih....” (wawancara kepala Balai BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Keterangan informan kunci mengenai fungsi, peranan dan siapa yang terlibat dalam pemberian pelayanan sertifikat benih tersebut membuat peneliti ingin mengetahui apakah BBP2TP telah menerapkan prinsip-prinsip good givernance dalam pemberian sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP Menjawab :
“..Sudah. Karena dalam pemberian pelayanan sertifikasi BBP2TP sudah memberikan pelayanan 1 pintu yang berarti sudah menerapkan prinsip-prinsip Good Governance yang merupakan salah satu contoh dari efektifitas...” (Wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012) Kepala Bidang BBP2TP menjawab :
“..Sudah. Dalam pemberian pelayanan sertifikat benih sudah menggunakan prinsip-prinsip Good Governance misalnya salah satu indikator Good Governance yaitu efektifitas contohnya pelayanan satu pintu...” (Wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Dengan diterapkannya prinsip-prinsip good governance dalam pemberian pelayananan sertifikat benih maupun dalam kegiatan kerja BBP2TP sehari-hari,
maka peneliti ingin menanyakan bagaimana prinsip-prinsip tersebut dilaksanakan. Misalnya dalam hal transparansi peneliti ingin menanyakan bagaimana sejauh ini informasi yang BBP2TP berikan kepada masyarakat terkait mengenai pelayanan sertifikat benih ?
Berikut adalah jawaban dari Kepala Balai BBP2TP Medan :
“…Melalui sosialisasi, memberikan informasi melalui website kami, brosur, pertemuan-pertemuan dengan penangkar, sumber benih dan masyarakat. Tentang pentingnya benih itu di sertifikasi yang berarti benih tersebut sudah mempunyai kualitas yang baik.…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan juga mengatakan hal yang sama :
“..Melalui sosialisasi, lewat media memberikan informasi melalui website, dan kami pernah sosialisasi melalui media televisi agar seluruh masyarakat indonesia...”(Wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012) Pemberian informasi yang diberikan kepada penangkar bukan hanya mengenai informasi yang biasa saja, para pegawai biasanya juga memeberikan data yang disampaikan melalui sosialisasi, brosur atau dengan cara yang lain. Di sini peneliti ingin menanyakan data atau info apa yang sejauh ini BBP2TP berikan secara umum kepada masyarakat ?
Berikut adalah hasil dan jawaban yang diperoleh dari Kepala Balai BBP2TP Medan:
“…Memberikan data tentang benih unggul untuk semua komoditi dan dalam bentuk prosedur sertifikasi, mengikuti pameran dan juga mengadakan pertemuan kepada penangkar setiap satu tahun sekali.…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 24 April 2012)
“...Memberikan data tentang benih unggul untuk semua komoditi dan dalam bentuk prosedur sertifikasi, dan pentingnya proses sertifikasi juga sosialisasi mengenai benih ilegal yang tidak mengikuti prosedur sertifikasi sehingga penagkar akan sadar dengan benih yang bersertifikasi atau benih yang mempunyai kualitas yang baik dan juga mengikuti pameran dan juga mengadakan pertemuan kepada penangkar setiap satu tahun sekali...”(Wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan 25 April 2012)
Dengan terjawabnya pertanyaan mengenai data atau info apa saja yang diberikan, maka peneliti merasa perlu bertanya apakah ada data atau informasi yang tidak diberikan BBP2TP secara terbuka kepada penangkar ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjawab :
“…Tidak ada. BBP2TP selalu memberikan informasi atau data yang terbuka. Namun ada pengecualian yaitu dalam hal keuangan dan dalam pengelolaan dana APBN.…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan menambahkan :
“…Tidak ada. BBP2TP selalu memberikan informasi atau data yang terbuka yang sesuai dengan prosedur.…”(wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Setiap informasi yang diberikan kepada penangkar pasti menggunakan media atau sarana informasi. Karena media merupakan hal yang paling penting untuk menyampaikan informasi agar informasi tersebut dapat diterima dengan baik oleh penangkar. Maka penulis ingin menanyakan media atau sarana informasi apa yang digunakan BBP2TP Medan dalam memberikan informasi kepada masyarakat terkait pelayanan sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP Medan :
“…Media yang digunakan selama ini untuk emeberikan informasi kepada masyarakat yaitu melalui internet, brosur-brosur, pertemuan-pertemuan dan masih banyak lagi....” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan juga mengatakan hal yang sama :
“....Selama ini kami selalu memberikan informasi kepada penangkar melalui media internet, brosur-brosur, pertemuan-pertemuan, mengikuti pameran-pameran, dan juga melalui media televisi agar seluruh masyarakat Indonesia mengetahuinya...”(wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Selain transparansi penulis juga akan bertanya tentang prinsip-prinsip good governance yang lainnya. Salah satunya adalah efektifitas yang arti dari efektifitas itu adalah kesesuaian dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia sebaik mungkin. Oleh sebab itu penulis ingin menanyakan apakah BBP2TP sejauh ini telah mampu memenuhi keinginan masyarakat terkait pelayanan sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjawab :
“...Sejauh ini BBP2TP sudah berusaha melayani, dan memenuhi keinginan masyarakat dengan sebaik-baiknya....” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga menambahkan :
“...Sejauh ini BBP2TP sudah mampu melayanani sertifikasi dengan baik. Misalnya BBP2TP memberikan pengetahuan yang lebih mendalam kepada sumber daya manusianya mengenai benih bina dan proses sertifikasi sehinga SDM tersebut dapat meningkatkan pelayanannya...”(wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan 25 April 2012)
Kesesuaian prosedur merupakan hal yang paling penting dalam pelayanan publik, karena apabila tidak terjadi kesesuaian maka efektifitas belum dapat dikatatakan sudah berjalan dengan baik, yang berarti implementasi prinsip-prinsip good governance juga belum berjalan dengan baik. Jadi, peneliti ingin mengetahui
apakah telah ada kesesuain antara prosedur yang ditetapkan dengan BBP2TP implementasikan kepada masyarakat dalam pelayanan sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP menjawab :
“….Harus sesuai tidak boleh ada penyimpangan. Masalah sertifikasi hampir sama dengan POM. Aturan yang dibuat bedasarkan ketentuan yang sesuai dengan masyarakat…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 27 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan menambahkan :
“...Harus sesuai dan mengacu kepada pedoman yang diterbitkan Dirjenbun...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012) Berikutnya peneliti juga menanyakan mengenai akuntabilitas yang sudah dijalankan di BBP2TP. Akuntabilitas ini tergantung pada organisasi dan sifat keputusan yang dibuat, apakah keputusan tersebut untuk kepentingan internal atau eksternal organisasi. Jadi peneliti ingin menanyakan apakah sejauh ini kinerja BBP2TP sudah dapat diaktakan profesional ?
Kepala Balai BBP2TP Medan :
“…Profesional iya. Disiplin dalam memberikan sertifikat benih iya. Dalam waktu dekat ini akan dibuat pelayanan melalui internet, agar para penangkar tidak perlu membuang-membuang waktu lagi untuk pergi kekantor BBP2TP. Tetapi karena SDM nya belum sepenuhnya mampu, dan para penangkar masih ada yang belum bisa menggunakan internet, jadi program ini masih terkendala.…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 27 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan mengatakan :
“..Sejauh ini BBP2TP sudah melakukan tugasnya dengan disiplin dan profesional...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Sebagai tempat pemberian pelayanan sertifikat benih dan juga pengawas benih bina, apakah setiap kinerja dari BBP2TP diinformasikan kepada masyarakat sebagai bentuk dari pertanggungjawaban dan keterbukaan BBP2TP ?
Jawaban dari Kepala Balai BBP2TP Medan :
“..Iya. Karena setiap tahun BBP2TP harus mempunyai laporan tahunan yang diberikan kepada dirjen. Dan setiap akhir tahun ada rapat evaluasi…”(wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012) Dan jawaban dari Kepala Bidang BBP2TP Medan :
“...Iya. Karena setiap akhir tahun dilakukan pertanggungjawaban laporan...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 20012) Tidak hanya mengenai tentang efektifitas, tranfaransi dan akuntabilitas saja, peneliti juga ingin menanyakan tentang penerapan hukum yang berarti bagaimana bentuk hukum dan status hukum tersebut. Jadi peneliti ingin menanyakan, bagaimana status hukum sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjawab :
“…Status hukum sertifikat benih diakui oleh menteri pertanian. Karena sertifikat benih sangat penting bagi para penangkar untuk mengetahui benih tersebut layak edar atu tidak. Apabila benih tersebut tidak memakai sertifikat benih maka benih tersebut tidak layak edar atau ilegal dan bisa ditarik dari pasaran...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 27 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga menjawab hal yang sama yaitu :
“...Status hukum sertifikat benih merupakan legal dan diakui karena sertifikat benih itu disahkan oleh menteri pertanian. Apabila ada penangkar yang tidak memakai sertifikat benih maka BBP2TP berhak menarik tanaman atau benih yang akan dijual...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Karena setatus hukum dari BBP2TP diakui dan disahkan oleh menteri pertanian, tetapi semua itu belum cukup masih dibutuhkan bentuk hukum yang tertulis seperti undang-undang maupun peraturan pemerintah. Jadi peneliti ingin menanyakan bagaimana benyuk hukum dari BBP2TP ini ?
Kepala Balai BBP2TP menjawab :
“..Bentuk hukum sertifikat benih sudah di tulis dalam peraturan pemerintah. Yaitu Permentan No.37 thn 2006 tentang pengujian, penilaian, pelepasa, dan penarika varietas. Permentan No. 38 thn 2006 tentang pemasukan dan pengeluaran benih bina. Dan Permentan No. 39 thn 2006 tenteng Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina, yang mengatur Sistem Perbenihan mulai dari Benih penjenis Benih Dasar, Benih Pokok dan Benih Sebar...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 27 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga menjawab :
“...Bentuk hukum sertifikat tertulis dalam peraturan pemerintah. Yaitu Permentan No.37 thn 2006 tentang pengujian, penilaian, pelepasa, dan penarika varietas. Permentan No. 38 thn 2006 tentang pemasukan dan pengeluaran benih bina. Dan Permentan No. 39 thn 2006 tenteng Produksi, Sertifikasi dan Peredaran Benih Bina, yang mengatur Sistem Perbenihan mulai dari Benih penjenis Benih Dasar, Benih Pokok dan Benih Sebar...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 25 April 2012)
Partisipasi masyarakat merupakan hal yang penting untuk memajukan kualitas benih. Dan dalam hal ini masyarakat harus menyadari pentingnya sertifikat benih, karena sertifikat benih merupakan kepastian tentang benih yang diedarkan merupakan benih yang mempunyai varietas unggul. Jadi, bagaimana BBP2TP meningkatkan partispasi masyarakat untuk membuat sertifikat benih. Jadi peneliti ingin menanyakan mengenai partisipasi masyarakat yang
pertanyaannya meliputi bagaimana BBP2TP meningkatkan partisipasi masyarakat?
Kepala Balai BBP2TP menjawab :
“...Dengan cara yang saya sebutkan tadi yaitu sosialisasi. Jadi, BBP2TP harus menjelaskan benih yang berkualitas unggul dan juga menjelaskan bagaimana prosedur pembuatan sertifikat benih dan membuat para penangkar sadar akan pentingnya kegunaan dari sertifikat benih, agar supaya mereka tidak rugi di kemudian hari....” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga menjawab :
“....Dengan cara sosialisasi dan mengikuti pameran sehingga para penangkar atau masyarakat luas mengetahui apa itu benih yang bersertifikat, mengetahui bibit yang mempunyai kualitas unggu dan membueat penangkar semakin sadar pentingnya benih yang bersertifikat..” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan 29 April 2012)
Setelah mengetaui cara meningkatkan partisipasi masyarakat peneliti ingin mengetahui apakah dengan sosialisasi yang sudah diberikan kepada penangkar, partisipasi penangkar semakin meningkat dan apakah mereka sudah mulai sadar atas penting sertifikat benih. Jadi peneliti ingin menanyakan sejauh ini bagaimana partisipasi masyarakat terhadap sertifikat benih ?
Kepala Balai BBP2TP memberikan penjelasan :
“...Sudah banyak kemajuan dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya. Penangkar sudah mulai sadar mengenai pentingnya benih yang bersertifikat ketika mau di edarkan dan mereka juga sudah mulai merasakan maanfaat karena menjual benih yng bersertifikat...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga menjelaskan :
“...Sudah cukup baik. Karena sudah banyak penangkar menyadari pentingnya sertifikasi pada benih yang akan mereka edarkan, dan mereka juga sadar bahwa sertifikat benih merupakan suatu legalitas karena
disahkan oleh menteri pertanian dengan kata lain mereka mempunyai legalitas hukum...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 29 April 2012)
Setelah membahas beberapa prinsip-prinsip good governance yang sudah di implementasikan peneliti masih akan menanyakan tentang prinsip-prinsip good governance yang lainnya yaitu orientasi. Orientasi yang dimaksud adalah good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, baik dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur. Jadi peneliti ingin menanyakan apa yang menjadi orientasi BBP2TP ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjelaskan :
“...BBP2TP orientasinya lebih kepada melaksanakan kebijakan pemerintah. Dan dalam melaksanakan kebijakan pemerintah adanya perkembangan melayani masyrakat dengan baik, handal, dan profesional. Memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh steikholder...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan, 27 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP Medan menambahkan :
“....BBP2TP orientasinya lebih kepada melaksanakan kebijakan pemerintah. Dan dalam melaksanakan kebijakan pemerintah adanya perkembangan melayani masyrakat dengan baik, handal, dan profesional. Memberikan pelayanan yang prima kepada seluruh steikholder....” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan, 24 april 2012)
Setelah mengetahui orientasi BBP2TP itu lebih melaksanakan kebijakan, peneliti ingin mengetahui responsivitas dari BBP2TP tersebut. Responsivitas yang dilihat disini adalah kemampuan BBP2TP untuk mengenali kebutuhan masyarakat, menyusun agenda dan prioritas pelayanan, dan mengembangkan program-program pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat. Dan peneliti menanyakan apakah BBP2TP sudah adil dalam memberikan pelayanan ?
Kepala Balai BBP2TP Medan menjelaskan :
“...BBP2TP harus adil dalam memberikan pelayanan tidak boleh membedakan. Asal setiap penangkar memenuhi persyaratan dan mengikuti prosedur maka penangkar akan di berikan pelayanan maksimal...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP memberikan jawaban :
“....BBP2TP sudah adil memberikan pelayanan. Tidak membeda-bedakan, apakah penangkar itu merupakan perusahaan kecil atau merupakan dari perusahaan besar semua diberikan pelayanan yang sama...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 25 April 2012)
Setelah mendapatkan jawaban mengenai pemeberian pelayanan dalam hal keadilan peneliti ingin menanyakan bagaimana dengan rincian biaya sertifikat benih apakah masyarakat sudah mengetahui dengan jelas apa belum dan apakah prosedur sertifikat benih sudah juga dijelaskan ?
Kepala Balai BBP2TP Medan memberikan jawaban :
“....Rincian biaya pelayanan sudah diberitahukan dengan jelas kepada penangkar, ketika BBP2TP mengadakan sosialisasi. Dan biaya yang dikenakan penangkar ketika ingin mengurus sertifikat benih sangat murah dan terjangkau...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga memberikan penjelasan yang sama :
“...Rincian biaya pelayanan sudah diberitahukan dengan jelas kepada penangkar. Dan itu sudah tertera di kantor sehingga penangkar dapat mengetahui langsung biaya ayang akan dikeluarkan tanpa ada yang ditutupi....” ( wawancara Kepala Bidang BBP2TP Medan 25 April 2012)
Penerpan prinsip keadilan bukan hanya dalam pemberian pelayanan publik. Tetapi penerapan prinsip keadilan juga dilihat dari sikap atasan yang mampu bersikap adil terhadap pegawainya, terutama dalam penempatan posisi jabatan tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Jadi, peneliti ingin menanyakan apakah BBP2TP ini sudah bersikap adil kepada seluruh pegawainya?
Kepala Balai BBP2TP Medan memberikan jawaban :
“...Sampai saat ini BBP2TP sudah adil dalam memperlakukan pegawainya. Tidak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan. Semua akan diberikan promosi jabatan apabila pegawai tersebut berprestasi, dan mempunyai kinerja yang baik...” (wawancara Kepala Balai Medan 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP juga memberikan jawaban yang sama :
“...BBP2TP sudah adil dalam memperlakukan pegawainya. Semua pegawai tidak dilihat dari jenis kelaminnya melainkan dari kinerja pegawai tersebut, ketika dia sudah pantas di promosikan untuk kenaikan jabatan maka akan di promosikan, tidak melihat dari jenis kelaminnya....” (wawancara Kepala Bidang BBP2TPMedan 25 April 2012)
Dari penjelasan wawancara diatas semua prinsip-prinsip good governance sudah dipaparkan hanya saja strategi visi yang belum dijelaskan. Peneliti juga akan menanyakan mengenai strategi visi. Strategi visi menjelaskan tentang bahwa para pemimpin harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh kedepan sejalan dengan pa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini. Jadi peneliti ingin menanyakan usaha yang dilakukan BBP2TP dalam meningkatkan sumber daya manusianya ?
“...Banyak usaha yang dilakukan BBP2TP dalam meningkatkan MSDM salah satunya : Setuap bulan mengadakan seminar melalui jabatan fungsional yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, memberikan training, sering mengikuti pertemuan teknis yang dilakukan oleh perguruan tinggi, mengikuti rapat, pameran dll...” (wawancara Kepala Balai BBP2TP Medan 24 April 2012)
Kepala Bidang BBP2TP menambahkan :
“...Banyak hal yang dilakukan BBP2TP dalam meningkatkan manajemen sumber dayanya salah satunya adalah BBP2TP selalu memberikan training bagi pegawai, dan juga mengikuti pertemuan teknis yamg dilakukan oleh perguruan tinggi dll...” (wawancara Kepala Bidang BBP2TP medan, 25 April 2012)
Setelah peneliti mengetahui usaha yang dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusianya, peneliti kemudian menanyakan apa usaha yang dilakukan BBP2TP dalam meningkatkan kinerja organisasi ?
Kepala Balai BBP2TP Medan memberikan penjelasan :
“....Ketat dalam mengawasi dalam hal anggaran pemerintah karena