MODUL 2 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER
3. Kepemimpinan Visioner di Lingkungan Pemerintahan
Hal utama yang perlu dipahami adalah bahwa organisasi abad ke-21 membutuhkan kepemimpinan visioner.
Organisasi manapun tidak dapat berfungsi danpa kepemimpinan visioner, karena organisasi yang dipengaruhi oleh perubahan teknologi yang sangat cepat, karyawan berpengetahuan dari berbagai budaya, menghadapi kompleksitas global, kebutuhan pelanggan yang sangat besar dan tuntutan dari pihak-pihak lain yang tak putus-putusanya, akan rusak dengan sendirinya jika tidak ada pemahaman terhadap arah yang sama. Kebutuhan akan kepemimpinan visioner, bukan saja untuk menjadi kekuatan yang meynatukan ribuan tugas yang terpisah, melainkan tidak ad acara lain untuk menampung energy atau kejeniusan para pekerja berpengetahuan tanpa kepemimpinan visioner. Semakin terampil dan professional para pekerja, maka akan semakin kritis bagi para pemimpin untuk memasok koteks pekerjaan yang bermanfaat dan tantangan yang membutuhkan komitmen dan usaha keras.
Itulah sebabnya, kekuatan pada organisasi-organisasi abad 21 cenderung mengalir kepada mereka yang mempunyai kapasitas untuk menghadapi tantangan dan menginspirasi
para professional yang sangat ahli.
Meskipun menjadi semakin penting dalam semua organisasi, proses pembentukan visi cenderung lebih sering terjadi pada organisasi-organisasi abad ke-21. Tingkat pengaruh dan kompleksitas global menyebabkan sebuah visi tertentu hanya bermanfaat untuk waktu yang terbatas.
Kepemimpinan visioner tidak dapat diabaikan dalam memperbaharui organisasi yang ada, demikian pula untuk memulai aktivitas kewiraswastaan yang baru.
Pada saat yang bersamaan, kepemimpinan visioner juga menjadi penting tidak saja di tingkat atas, tetapi juga tingkat bawah organisasi. Perlunya kecekatan untuk memberikan respons terhadap perubahan-perubahan di pasar dan teknologi serta pemisahan geografis operasional organisasi yang menyebabkan tidak mungkinnya menerapkan sentralisasi pengambilan keputusan. Hal ini akan menciptakan kebutuhan akan jutaan pemimpin visioner pada level bawah organisasi, para pemimpin yang mampu menetapkan arah bagi unitnya sendiri, yang mendukung visi organisasi secara keseluruhan dan dengan demikian memungkinkan unit-unit tersebut menempatkan diri dalam mengantisipasi perubahan-perubahan lingkungan lokal mereka.
Organisasi abad ke-21 juga menekankan peran pemimpin visioner sebagai agen perubahan (change agent), mempromosikan eksperimentasi, menciptakan perubahan, dan menetapkan budaya risiko dan partisipasi yang luas sangat dihargai.
b. Lingkungan Pemerintah.
Citra popule dari lembaga-lembaga pemerintahan adalah mesin birokrasi yang tak henti-hentinya memproses surat-surat, membuat berbagai keputusan, dan memberikan pelayanan atas wewenang dari pengadilan atau lembaga-lembaga legislative. Namun dibalik citra popular ini, ada sejumlah individu pegawai negeri sipil (PNS), yang di antaranya berpendidikan tinggi dan memiliki cukup kebanggaan professional, dan secara bersama-sama bekerja pada lembaga-lembaga, kementerian, biro dan kantor-kantor pemerintah lokal untuk memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat. Mereka juga membutuhkan kepemimpinan seperti para pekerja di organisasi-organisasi lain, mereka membutuhkan visi yang menjadi pedoman bagi mereka dengan berbagai alasan.
Tentu saja konteks dan cara kerja lembaga pemerintah sangat berbeda dibandingkan dengan sector swasta.
Lingkungannya lebih kompleks, di mana lembaga-lembaga legislatif dan eksekutif pada semua tingkat terus-menerus
28 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI
mengeluarkan instruksi atau pengarahan, pengadilan tak henti-hentinya membuat interpretasi terhadap kewajiban dan batas-batas hokum, media dan kelompok-kelompok kepentingan tertentu (pressure group) terus memantau dan bereaksi terhadap setiap inisiatif dan anggaran di bawah tekanan yang tak terhindarkan. Meskipun demikian, masih ada banyak peluang kepemimpinan visioner di sector pemeritahan ini. Semua pejabat pemerintah memiliki keinginan untuk memajukan kementerian atau lembaganya ke arah yang bermanfaat secara social atau paling tidak bercita-cita demikian dan mengubah citra mereka tidak saja sebagai administrator yang piawai, tetapi juga sebagai pemimpin visioner.
Pada hakekatnya, sebuah organisasi di sector pemerintah lebih responsive terhadap pengaruh dan kepentingan rata-rata perusahaan swasta, sehingga penentuan lingkup visi bagi lembaga ini lebih kompleks. Akan tetapi, ini adalah tantangan yang harus dihadapi jika lembaga ini memiliki harapan sukses menghadapi kepentingan-kepentingan tertentu dan tekanan politik jangka pendek serta bergerak ke arah jangka panjang untuk melayani kepentingan masyarakat.
c. Menyebarkan Kepemimpinan Visioner
pemimpin visioner pada berbagai tingkat mengambil kepemilikan atas unit-unit mereka dengan membentuk dan setia pada visi yang bernilai, visi yang penting bagi organisasi dan pihak-pihak terkaitnya dan berjanji untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat. Visi seperti itu menjadi magnet yang disekelilingnya orang-orang yang dikelompokkan dan menjadi sumber optimisme dan antusiasme bagi semua orang yang bekerja di dalam unit tersebut.
Para pemimpin harus diseleksi berdasarkan kemampuan mereka untuk membentuk dan mengimplementasikan visi-visi tersebut dalam unit-unit mereka. Barangkali indikator terbaik bagi keterampilan seperti itu adalah riwayat pekerjaan yang sukses pada beberapa organisasi lain jika tidak pada organisasi sejenis lainnya, maka pada organisasi apapun, pemerintah atau swasta, yang pernah mempekerjakan para pelamar, misalnya militer, olah raga, majalah universitas atau kelompok-kelompok gereja/agama.
Dengan adanya pemimpin visioner pada semua tingkatan seorang pemimpin pada tingkat puncak akan menjadi
“pemimpin dari para pemimpin”. Bukan untuknya citra seorang pemimpin sebagai gembala dan pengikutnya sebagai domba. Sebaliknya, dengan pola yang sekarang umumnya diterapkan di perusahaan-perusahaan, “pengikut”
itu sendiri adalah pemimpin dan secara profesional
dikualifikasikan sebagai pemimpin para pemimpin. Visi adalah kondisi yang sangat diperlukan, yang tanpanya tidak akan ada kerangka umum dan kerjasama, tidak ada saling percaya dan tidak ada harapan bagi kemajuan organisasi.