• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Kepemimpinan Visioner

MODUL 2 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER

2. Peran Kepemimpinan Visioner

Pemimpin mengembangkan tanggung jawab, mengusahakan pelaksanaan tugas, memiliki impian dan menerjemahkannya menjadi kenyataan. Para pemimpin berusaha menyatukan komitmen anggota-anggotanya, memberikan dorongan kepada mereka dan merubah organisasi menjadi suatu kesatuan baru yang memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bertahan hidup, bertumbuh dan berhasil. Kepemimpinan yang efektif menjadi kekuatan bagi sebuah organisasi dalam memaksimumkan kontribusinya bagi kesejahteraan para anggotanya dan masyarakat yang lebih luas. Jika para manajer diakui karena keterampilan mereka dalam memecahkan masalah, maka para pemimpin dikenal karena kemampuannya merancang dan membangun kelembagaan organisasi. Mereka adalah arsitek bagi masa depan organisasi.

Keberhasilan para pemimpin masa depan tidak terlepas dari Peran mereka dalam memimpin organisasinya, Burt Nanus, 2001, mengisyaratkan 4 (empat) Peran Kepemimpinan yang efektif, yaitu: (1) Penentu Arah; (2) Agen Perbahan; (3) Juru Bicara; dan (4) Pelatih.

a. Penentu Arah

Pemimpin menyeleksi dan menetapkan sasaran degan mempertimbangkan lingkungan eksternal masa depan yang menjadi tujuan dengan pengerahan seluruh sumber daya organisasi. Untuk menjadi seorang penentu arah yang baik, setiap pemimpin harus mampu menyusun berbagai langkah menuju sasaran yang dapat dterima sebagai suatu kemajuan riil bagi semua orang di dalam organisasi.

Kemajuan dapat berarti satu langkah maju yang jelas dalam efektivitas dan efisiensi, dapat pula berarti meningkatnya kemampuan memberikan pelayanan kepada pelanggan baru atau pengakuan sebagai pemimpin dalam teknologi baru atau bidang produk baru. Jika pemimpin organisasi berhasil sebagai penentu arah, dia bisa menetapkan sebuah visi yang dapat merangsang semua orang dalam organisasi agar bersedia membantu merealisasikannya.

22 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI

Mengembangkan sense of direction bagi organisasi tidak selalu mudah, meskipun kadang-kadang tampak begitu dekat dengan kenyataan terutama jika arah yang baru dirasakan akan sangat berhasil sehingga seolah-olah pilihannya sudah jelas. Tetapi untuk melihat seberapa sulit menentukan arah, perhatikan pilihan-pilihan yang dihadapi oleh para pemimpin sebuah perusahaan dalam menghadapi persaingan asing yang semakin meningkat. Pilihan-pilihan ini tidak pernah jelas, malah dapat menjadi lebih kompleks karena perbedaan pendapat dalam pendekatannya, yang harus didengar karena mencerminkan pendapat para pemegang saham, pelanggan atau karywan yang sangat menentukan dalam membantu pergerakan perusahaan pada tujuan yang dipilih. Sementara itu, segala sesuatu di dalam dan di sekitar organisasi terus berubah: nilai-nilai osial, teknologi, peraturan pemerintah, preferensi produk, kebijakan pajak, dan lain-lain. Kompleksitas, perubahan dan pilihan yang tak terkendali cenderung mengaburkan citra masa depan dan menyebabkan pemilihan visi yang benar menjadi lebih sukar, maupun bisa menjadi lebih kritis.

Jadi bagaimanakah seorang pemimpin dapat mengetahui tentang apa yang harus dilakukannya? Rumusan sense of direction ini sebagian mensyaratkan pandangan yang jauh ke depan dan sebagian lagi pandangan ke dalam organisasi saat ini, yang keduanya dapat menghasilkan studi sistematis dan komprehensif mengenai kekuatan organisasi saat ini dan prospek masa depannya.

Proses ini dimulai dengan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, namun tidak langsung berakhir dengan pemilihan visi, tetapi harus dilanjutkan dengan penerimaan visi dan komitmen sepenuh hati oleh setiap orang yang terlibat dalam menentukan masa depan organisasi. Memastikan diterimanya visi menuntut keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin yakni kemampuan sebagai juru bicara, pelatih dana gen perubahan.

b. Agen Perubahan

Pemimpin bertanggung jawab untuk merangsang perubahan di lingkungan nternal misalnya di bidang personalia, sumber daya dan fasilitas sehingga memungkinkan pencapaian sebuah visi di masa depan. Untuk menjadi seorang agen perubahan yang baik, dibutuhkan kemampuan mengantisipasi berbagai perkembangan di dunia luar, memperkirakan implikasinya terhadap organisasi, menciptakan sense of urgency dan prioritas bagi perubahan yagn disyaratkan oleh visi, mempromosikan eksperimentasi dan memberdayakan orang-orang untuk menghasilkan perubahan yang diperlukan. Pemimpin harus juga mampu

memelihara fleksibiltas dalam organisasi dan operasi, serta mendorong keberanian mengambil resiko dengan sikap hati-hati.

Tujuan Pemimpin sebagai Agen Perubahan adalah menghasilkan keputusan-keputusan investasi dan perubahan-perubahan organisasi lainnya yang diperlukan dalam merealisasikan visi. Apabila seorang pemimpin visioner memiliki kemampuan luar biasa dalam peran ini, maka ia dengan sendirinya menciptaka masa depan dan dalam prosesnya juga akan mengupah cara kita memandangnya. Sebagai seorang pemimpin harus memiliki keahlian dan otoritas untuk mengendalikan perubahan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung berarti harus memiliki otoritas untuk membuat keputusan-keputusan kunci mengenai alokasi sumber daya, kepegawaian, struktur, arus informasi, dan proses-proses operasi yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh organisasi. Secara tidak langsung berarti perlu untuk mempengaruhi perilaku orang lain dan mengorientasikan mereka kearah tujuan yang baru melalui konsultasi, partisipasi, persuasi, inspirasi, dan imbalan. Baik secara langsung maupun tidak langsung, perlu dikembangkan pemikiran strategis yang mendukung visi anda dan menyesuaikan iklim organisasi dalam rangka mempermudah pencapaian visi anda.

1) Berpikir Strategis

Salah satu keputusan strategis yang harus dibuat paling pertama untuk mencapai visi adalah berusaha sendirian atau dengan dukungan aliansi strategis.

Beberapa organisasi dewasa ini dapat melakukan perubahan-perubahan yang dramatis tanpa bantuan dari luar. Jika keputusan untuk bekerjasama dengan pihak lain di luar organisasi, kemungkinannya mulai dari penanaman modal dan usaha patungan sampai mitra usaha dan merger (penggabungan usaha).

Keputusan yang lain adalah memilih sasaran dan waktu, serta membuat keputusan investasi strategis yang meliputi sumber daya untuk fasilitas, lokasi dan peralatan baru yang diperlukan untuk pencapaian visi.

2) Mengubah Iklim Organisasi.

Iklim organisasi terdiri dari struktur, proses dan budaya yang secara kolektif menentukan fungsi-fungsi operasional. Pemimpin visioner harus mengatasi hambatan terhadap perubahan dan menyesuaikan iklim organisasional degna rencana-rencana yang baru. Organisasi cenderung mencari stabilitas dan menghambat perubahan, terutama perubahan yang dramatis dan pervasive seperti yang biasa terjadi

24 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI

dalam aplikasi arah yang baru. Namun visi baru juga mungkin akan mempersulit kehidupan banyak orang dalam organisasi. Visi baru ini akan mempengaruhi atau mengubah hubungan kerja yang telah dibina sebelumnya, mengurangi kekuasaan atau pengaruh beberapa manajer dan kementerian baru degnan fungsi dan tanggung jawab yang baru pula. Akan terdapat pengaturan kembali saluran informasi dan sumber daya arau batangkali relokasi penjualan grosir, bahkan munkgin penutipan divisi tertentu.

c. Juru Bicara

Pemimpin, sebagai seorang pembicara yang terampil, pendengar yang penuh perhatian dan pengejawantahan visi organisasi adalah promoter dan negosiator bagi organisasi dan visinya kepada pihak luar. Untuk menjadi seorang juru bicara yang efektif, pemimpin harus menjadi negosiator utama dalam berhubungan dengan organisasi-organisasi lain dan pembentuk jaringan hubungan eksternal guna menghasilkan gagasan, sumber daya, dukungan atau informasi yang bermanfaat bagi organisasi yang dipimpinnya. Keberhasilan pemimpin sebagai juru bicara melalui tiga tugas utama, yakni komunikasi, jaringan dan personifikasi visi.

Komunikasi. Para pemimpin berkomunikasi dengan banyak cara. Sebenarnya sulit bagi mereka untuk tidak berkomunikasi, karena mereka diperhatikan, dipanuti dan ditiru sehingga apaun yang mereka lakukan atau katakana dalam mengkomunkasikan sesuatu. Pertanyaannya adalah dengan cara apakah para pemimpin berkomunikasi dan bagaimana pilihannya untuk bertindak.

Pendekatan yang paling universal adalah dialog sederhana, yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah seni bernilai tinggi oleh beberapa pemimpin. Pemimpin lain berkomunikasi dengan baik melalui memo, atau dengan kemampuannya sebagai public speaker yang mampu meneruskan visi-visi masa depan yang positif dan optimis secara murni melalui kata-kata.

Banyak pemimpin mengkomunikasikan visi melalui media lain, menggunakan surat atau brosur untuk memperkenalkan konsep dan kemudian memperkuatnya dengan poster, presentasi videotape dan artiker dalam media internal. Mereka juga menyebarkan visi kepada pihak luar pada saat pertemuan tahunan, wawancara, jumpa pers, atau radio dan penampilan di televisi.

Jaringan. Para pemimpin yang efektif menginvestasikan sebagian besar waktunya untuk membangun jaringan kerja dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar

organisasinya untuk mendapatkan kepecayaan dan consensus bagi visi-visi mereka. (Sebagai contoh, Helmut Kohl mungkin tidak akan dapat menggapai visi peyatuan kembali Jerman jiga tidak secara teliti membangun hubungan personal dengan para pemimpin Uni Soviet, Amerika dan Eropa, dan kemudian berhasil melakukan lobi dan negosiasi untuk mendapatkan dukungan mereka).

Dalam hubungannya dengan jaringan kerja, seorang pemimpin harus memberikan perhatian, berharap untuk menemukan dan memanfaatkan minat umum yang dapat secara konsisten dipenuhi oleh organisasi. Umpan balik dari pihak lain tidak saja membantu tugas-tugas penting dalam mengiplementasikan visi, tetapi juga akan menyadarkan para pemimpin mengenai masalah-masalah potensial dan menjadi peringatan dini bagi perubahan lingkungan yang mungkin memerlukan perubahan-perubahan dalam visi.

Personifikasi visi. Tugas sebagai juru bicara belum sempurna sampat setiap orang di dalam organisasi dan semua pihak terkait eksternal memahami ke mana organisasi akan diarahkan dan memiliki komitmen bersama yang kuat terhadap visi tersebut.

Dalam hal ini aka nada krisis yang menekan; menemukan solusi terhadap krisi ini akan memberikan dampat yang berarti bagi kinerja yang ada sekarang dan, dalam banyak kasus, juga akan memperngaruhi bonus, promosi, atau bentuk lain dari imbalan. Kadang-kadang visi menimbulkan masalah-masalah baru di samping segudang krisis yang sudah ada. Membantu orang lain untuk keluar dari tekanan ini dan mempertahankan perharian mereka agar tetap terfokus pada visi jangka panjang merupakan tantangan tersendiri sebagai juru bicara.

d. Pelatih

Seorang pemimpin adalah pembentuk tim yang memberdayakan orang-orang dalam organisasi serta

“menghidupkan visi”, dan karenanya berperan sebagai mentor dan teladan dalam berbagai usaha yang diperlukan untuk merelisasikan visi tersebut. Untuk menjadi seorang pelatih yang efektif, perlu memberitahu orang lain di mana anda berpijak, apa artinya visi bagi anda, dana pa yang akan dilakukan untuk merealisasikannya. Pemimpin harus menghargai keberhasilan setiap orang dalam organisasi, menghormati mereka, membangun kepercayaan diri mereka, membantu mereka belajar dan bertumbuh, dan mengajari bagaimana meningkatkan kemampuan mereka dalam mencapai visi secara konstan.

Dengan demikian, menurut pengertian raktis, pelatihan dalam kaitannya dengan visi lebih berhubungan dengan

26 KEPEMIMPINAN POLRI YANG VISIONER SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI

organisasi ketimbang dengan orang-orang secara individual.

Meskipun orang-orang yang ada di dalam organisasi terdiri dari individu-individu, mereka menjalankan tugas mereka di dalam kelompok yakni kelompok orang yang disatukan untuk suatu penugasan, ini tidak berarti bahwa orang secara individual tidak penting.

Sebaliknya, hanya melalui komitmen dan energy individual visi akan dicapai. Namun, komitmen dan energy ini dilakukan dalam konteks kelembagaan dan sosial yang sangat mempengaruhi tingkat pencapaian tersebut. Konteks ini menghubungkan individu yang satu dengan yang lainnya dan dengan organisasi serta masyarakat, karena memungkinkan para pekerja melihat diri mereka sebagai bagian dari pelaksanaan yang lebih luas, yang mengangkat status dan harga diri mereka.

Keempat peran ini, yakni penentu arah, agen perubahan, juru bicara dan pelatih, secara bersama-sama menjadi tugas seorang pemimpin visioner. Keempat factor tersebut semuanya penting, dan tak seorangpun yang dapat menjadi pemimpin sukses tanpa memperhatikan keempat factor tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa: “untuk kepemimpinan yang berhasil, diperlukan bentuk maupun fungsi, baik proses maupun tujuan dan bahwa semuanya berawal dari visi masa depan organisasi yang dinyatakan secara jelas”.

3. Kepemimpinan Visioner di Lingkungan Pemerintahan

Dokumen terkait