DAFTAR ISTILAH
3. KERAGAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
Letak geografis
Kabupaten Pangkep terdiri dari 13 kecamatan, 9 kecamatan terletak di daratan dan 4 kecamatan berada di kepulauan. Kabupaten Pangkep adalah salah satu dari 23 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki potensi sumberdaya alam dan letak geografis yang sangat strategis. Kabupaten Pangkep, memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil pada kordinat 4o31’ 0.48’’ S; 11λo 14’ 36.0λ’’ E) s/d (4o55’ 4.63’’ S; 11λo 37’41’’ E.
Kabupaten Pangkep memiliki landscape tiga dimensi dan mempunyai ketinggian tempat rata-rata 8 meter diatas permukaan laut.
Secara geografis, Kabupaten Pangkep terletak di pantai barat Sulawesi Selatan, yang membujur dari Utara ke Selatan, memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang berbatasan dengan Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Bali serta NTT. Batas wilayah administrasi antara lain: Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupateh Barru; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bone dan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Luas wilayah
Luas wilayah Kabupaten Pangkep adalah 12.362,73 km2 terdiri dari a) luas daratan 898,29 km2 (dari 1.112,29 km2 menjadi 12.362,73 km2 dan setelah UU No. 32 Tahun 2004 pemerintahan daerah) dan luas laut adalah 11.464,44 km2. Kabupaten Pangkep memiliki panjang garis pantai 45 km, jumlah pulau 114 buah diantaranya 70 berpenghuni dan 44 tidak berpenghuni yang tersebar hingga berbatasan dengan Pulau Nusa Tenggara, Bali, Madura, Kalimantan.
Letak wilayah yang strategis merupakan salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan, telah memberikan keunggulan komperatif terhadap perkembangan Kabupaten Pangkep. Posisi kawasan yang sangat strategis ini juga menjadi semakin penting karena berada di jalur perdagangan international, regional dan antara daerah yaitu Selat Makassar.
Kabupaten Pangkep merupakan daerah yang mempunyai iklim tropis basah type B dengan musim kemarau. Curah hujan di suatu wilayah di pengaruhi oleh keadaan iklim, geografis dan perputaran/pertemuan arus udara. Oleh karena itu jumlah curah hujan beragam menurut bulan dan letak stasiun pengamat. Pada tahun 2011 rata-rata curah hujan perbulan sekitar 270,67 mm.
Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Pangkep setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 terjatat jumlah penduduk sebanyak 312.676 jiwa, sedangkan pada tahun 2011 mengalami kenaikan sebesar 4,38 % dibandingkan tahun 2010 menjadi 326.357 jiwa. Jumlah penduduk yang selalu bertambah setiap tahunnya, sedangkan luas wilayah yang tidak mengalami pemekaran menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Pangkep juga semakin tinggi. Pada tahun 2010 kepadatan penduduk mencapai 281 jiwa/km2, kemudian naik menjadi 293
jiwa/km2 di tahun 2011. Hal ini berarti setiap kilometer persegi di huni oleh sebanyak 293 orang penduduk.
Kepadatan penduduk tertinggi terjadi di Kecamatan Pangkajene yakni 915 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk terendah terjadi di Kecamatan Tondong Tallasa dengan kepadatan 91 jiwa/km2. Jumlah penduduk di Kecamatan Mandalle adalah 12.444 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 3.297 KK, terdiri dari rumah tangga perikanan sebanyak 337 KK dan rumah tangga non perikanan sebanyak 2.960 KK. Kepadatan penduduk Kecamatan Mandalle sebesar 3 jiwa/ha dengan kepadatan tertinggi berada di Desa Tamarupa sebesar 10 jiwa/ha. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduknya sebesar 0,16% per tahun, maka diperkirakan jumlah penduduk di Kecamatan Mandalle pada tahun 2012 mencapai 17. 407 jiwa dengan kepadatan penduduknya sekitar 4 jiwa/ha, sedangkan pada akhir tahun perencanaan atau pada tahun 2016 mencapai 18.548 jiwa dengan kepadatan penduduknya sekitar 4 jiwa/ha. Kantung-kantung kemiskinan di wilayah perencanaan diindikasikan dengan mengetahui jumlah RT prasejahtera dan RT. Sasaran, dimana jumlah rumah tangga pra sejahtera di Kecamatan Mandalle adalah sebanyak 211 KK.
Potensi wilayah pesisir dan laut
Keadaan topografi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kabupaten Pangkep sebagian besar berupa dataran yang landai diperkirakan hanya sekitar 2 meter sampai 500 meter dari pinggir laut ke arah daratan, mengandung berbagai jenis potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah.
Salah satu potensi wilayah pesisir dan laut yang besar untuk dimanfaatkan adalah kawasan pulau-pulau kecil. Kawasan ini menyediakan sumberdaya alam yang produktif misalnya ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan terumbu karang beserta biota yang hidup didalamnya yang merupakan sumber bahan makanan, kawasan rekreasi, pariwisata, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya. Sumberdaya wilayah pegunungan, potensi hutan, pasir kwarsa, batu marmer, wilayah daratan rendah, potensi, sawah, tambak, hutan bakau, wilayah kelautan, potensi perikanan, terumbu karang, padang lamun, wisata bahari. Dengan demikian, kawasan pulau-pulau kecil mengandung potensi pengembangan yang prospektif yang dapat menyumbangkan pendapatan bagi daerah dan membantu didalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan hal tersebut diatas, sebagai sebuah kabupaten kepulauan terbesar di Pantai Barat Sulawesi Selatan, seyogianya pemerintah Kabupaten Pangkep telah memberikan perhatian terhadap pentingnya pembangunan pulau-pulau kecil melalui dinas kelautan dan perikanan sebagai unsur pelaksana kegiatan (leading sector) dibidang kelautan dan perikanan, perhatian terhadap pengelolaan salah satu entitas sumberdaya penting ini dapat segera diselenggarakan.
Potensi sumberdaya wilayah pesisir dan laut di Kabupaten Pangkep yang cukup besar, maka selayaknya justifikasi pembangunan kelautan dan perikanan diarahkan pada pembangunan pulau-pulau kecil, paling tidak perhatian terhadap pembangunan pulau-pulau kecil mendapat porsi yang sama terhadap pembangunan kawasan lainnya. Ditinjau dari aspek bio-ekologis, keberadaan pulau-pulau kecil memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan alam dan mendukung kehidupan manusia.
26
Sumberdaya wilayah pesisir dan laut yang ada di wilayah ini adalah hutan mangrove, terumbu karang dan padang lamun. Keberadaan ketiga ekosistem ini sangat menguntungkan bagi pengembangan usaha perikanan tangkap dan budidaya. Hutan Mangrove di wilayah ini mulai berkurang kecuali di Kecamatan Liukang Kalmas masih banyak yang alami dan vegetasi yang sangat padat, seperti yang terdapat di Pulau Dewakang Besar, Pulau Doang-doangan Besar, Pulau Kalukalukuang, Pulau Doang-doangan Kecil, Pulau Marasenda, Pulau Pamantauang, Pulau Masalina dan Pulau Saliriang.
Kabupaten Pangkep, bagian barat merupakan dataran aluvial dan rangkaian kepulauan, sedangkan bagian timur merupakan perbukitan. Di kawasan dataran, sebagian besar wilayahnya telah diubah menjadi areal pertambakan atau empang- empang perikanan budidaya. Di wilayah pantainya tumbuh mangrove, umumnya dari jenis Rhizophora sp. Avicenia, sp, Namun demikian, mangrove yang tumbuh di wilayah Kabupaten Pangkep umumnya tipis (tidak lebih dari 200 meter) dan berada memanjang di sepanjang pantai dan pinggir sungai. Luas mangrove di kabupaten ini diperkirakan mencapai 295 ha dan luas terumbu karang 374 km2. Selain areal pertambakan, wilayah dataran merupakan areal persawahan atau tegalan. Persawahan yang ada umumnya adalah persawahan tadah hujan, mengingat sistem irigasi yang belum dikembangkan secara maksimal sehingga pada musim kemarau, persawahan tersebut nampak seperti semak belukar atau lahan terbuka.
Penyebarannya ada 3 pulau dan 3 di wilayah pesisir pesisir. Bagian barat wilayah kabupaten, merupakan kawasan yang terdiri atas rangkaian kepulauan dan rataan-rataan karang. Pulau-pulau yang berdekatan dengan daratan Sulawesi umumnya berpenghuni cukup padat dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan. Pulau-pulau berpenduduk padat diantaranya Pulau Cambacambang, Pulau Saugi, Pulau Satando dan Pulau Sabutan. Air tawar hingga saat ini masih cukup untuk memenuhi keperluan penduduknya. Lebar rataan karang di kawasan kepulauan berkisar 100 hingga 500 meter, bahkan lebar rataan karang di Pulau Bangkobangkoang dan Pulau Kulambing mencapai 800 meter. Luas rataan terumbu karang di Kabupaten Pangkajene Kepulauan diperkirakan mencapai 22664,8 ha.
Berdasarkan pada interpretasi visual citra dan ditambah dengan data yang diperoleh dari lapangan, wilayah studi secara umum terbagi menjadi dua yaitu wilayah kepulauan dan wilayah daratan. Wilayah kepulauan secara morfologi merupakan perkembangan gosong karang dengan ciri berupa dataran pasir karang dan solum tanah secara umum belum berkembang. Tanah yang ada di wilayah Kepulauan Pangkep ini merupakan tanah jenis regosol di mana batuan induk yaitu pasir karang masih terlihat jelas. Ciri lain adalah air tanah yang dangkal tetapi payau sehingga umumnya tidak layak minum. Pada pulau-pulau tertentu air tawar untuk kebutuhan minum dapat dicukupi dari pulau yang bersangkutan, tetapi kebanyakan air tawar diambil dari darat. Tumbuhan darat secara umum dapat hidup dengan baik, terutama tanaman pekarangan.
Perikanan Tangkap
Hasil analisis deskriptif terhadap jumlah dan jenis alat penangkapan ikan yang dioperasikan di perairan di Kabupaten Pangkep secara umum terlihat adanya
peningkatan jumlah pada setiap jenis alat yang dioperasikan dalam kurung waktu 5 tahun (2005-2009). Alat tangkap yang paling dominan adalah alat tangkap jaring insang tetap dan pancing. Sedangkan jenis alat tangkap lainnya tidak terlalu banyak yang dioperasikan. Hasil analisis secara kualitatif menunjukan adanya kesamaan alat tangkap yang dioperasikan dalam satu desa/dusun. Pada tabel berikut disajikan produksi ikan berdasarkan alat tangkap yang dioperasikan nelayan di Kabupaten Pangkep.
Tabel 5 Jumlah alat penangkapan ikan yang dioperasikan di perairan di Kabupaten Pangkep
Jenis produksi
2008 2009 2010 2011 2012
Pukat Cincin 1.958,0 1.825,5 1.766,6 275,7 1,870,1
Jaring Klitik 345,8 436,2 374,0 413,4 308,4
Jaring insang Tetap 1.809,4 2.625,9 2.518,8 2.818,8 1.567,1
Bagan Perahu 59 59 1.441,2 2,005,8 2.000,1 Bagan tancap 403,7 431,4 266,0 381,3 100,9 Dogol/Cantrang 50,7 272,2 290,1 284,1 529,8 Pancing lainnya 11,2 189,5 280,6 339,4 1.441,6 Jala 32,2 39,6 28,7 26,1 - Serok 21,2 19,4 17,9 23,6 - Sero 94,0 84,0 75,7 90,1 11,6
Pancing Cumi - Cumi 60,3 54,4 54,8 76,0 417,5
Jaring Insang hanyut 342,3 90,8 114,6 218,2 197,7
Alat Penangkap teripang 21,3 24,3 24,1 21,7 31,4
Bubu - - - 35,6 147,9
Jumlah 7.211,7 7.219,8 7.268,7 7.009,8 8.624,1
Sumber : Kabupaten Pangkep dalam angka tahun 2012
Pada tabel diatas menunjukan bahwa hasil tangkapan tertinggi dari alat tangkap yang dioperasikan nelayan adalah bagan perahu. Pada tahun 2012 produksi bagan perahu 2.0001 ton disusul alat tangkap pukat cincing sebesar 1870,1 ton. Alat tangkap yang paling rendah hasil tangkapannya sampai tahun 2012 adalah sero sebesar 11,6 ton. Rendahnya produksi hasil tangkapan alat tangkap ini karena disamping alat tangkapnya pasif, juga karena alat tangkap ini hanya dapat menangkap ikan-ikan yang ikut bergerak searah dengan arus pada saat terjadi pasang.
Selanjutnya pada tabel berikut disajikan jumlah armada penangkapan ikan yang dioperasikan di perairan Kabupaten Pangkep. Ada tiga kelompok armada yang digunakan oleh nelayan yang terdiri dari perahu tanpa motor, motor tempel dan kapal motor. Berdasakan jumlah armada penangkapan ikan selama 7 tahun menunjukan adanya pengembangan kualitas armada, dimana perahu tanpa motor mengalami penurunan dan terjadi peningkatan motor tempel (outboard enggine) adalah suatu kemajuan yang dicapai dengan pesat. Demikian juga kapal motor (inboard enggine) mengalami peningkatan sampai tahun 2012, dan penurunan motor tempel pada tahun yang sama. Salah satu penyebabnya adalah semakin besarnya biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh pemilik kapal motor dan mengalihkan usahanya ke armada motor tempel dan usaha lainnya atau sedang
28
melakukan andon ke daerah lain di Indonesia. Sebagian pemilik kapal motor membangun usaha lain seperti kolektor ikan (nelayan pengumpul), mengingat pemerintah Kabupaten Pangkep melalui program pengelolaan sumberdaya dan rehabilitasi terumbu karang (COREMAP) sedang menggalakan usaha alternatif bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau untuk mengurangi kerusakan terumbu karang dan meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui kegiatan usaha budidaya rumput laut dan karamba jaring apung (KJA).
Tabel 6 Jumlah armada penangkapan ikan yang dioperasikan di perairan Kabupaten Pangkep
Tahun perahu tanpa motor motor
tempel
kapal
motor jumlah
jukung kecil sedang besar
2006 11 180 68 0 108 1.461 1.828 2007 0 81 0 0 275 1.354 1.710 2008 0 136 0 0 652 1.560 2.348 2009 0 136 0 0 1.385 867 2.388 2010 0 134 0 0 745 1.508 2.387 2011 0 50 - - 700 1887 2.637 2012 - - - 2.861
Sumber : Kabupaten Pangkep dalam Angka Tahun 2012
Produksi penangkapan ikan berdasarkan jenis alat tangkap yang di operasikan di Kabupaten Pangkep selama 5 tahun berturut-turut menunjukan adanya dominasi hasil tangkapan pada tiga jenis alat tangkap yakni bagan perahu, jaring insang tetap dan purse seine. Dari seluruh alat tangkap yang beroperasi yang paling menonjol penurunan hasil tangkapannya adalah bagan perahu, karena alat tangkap ini sebelumnya banyak beroperasi. Menurunnnya hasil tangkapan setiap tahunnya menyebabkan melakukan andon (perpindahan) ke daerah lainnya. Selengkapnya disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 7 Produksi penangkapan ikan berdasarkan jenis alat tangkap yang di operasikan di Kabupaten Pangkep
Jenis Alat Tahun
2008 2009 2010 2011 2012
Pukat Cincin 1.958,0 1.825,5 1.766,6 275,7 1,870,1
Jaring Klitik 345,8 436,2 374,0 413,4 308,4
Jaring insang Tetap 1.809,4 2.625,9 2.518,8 2.818,8 1.567,1
Bagan Perahu 59 59 1.441,2 2,005,8 2.000,1 Bagan Tancap 403,7 431,4 266,0 381,3 100,9 Dogol/Cantrang 50,7 272,2 290,1 284,1 529,8 Pancing lainnya 11,2 189,5 280,6 339,4 1.441,6 Jala 32,2 39,6 28,7 26,1 - Serok 21,2 19,4 17,9 23,6 - Sero 94,0 84,0 75,7 90,1 11,6 Pancing Cumi-2 60,3 54,4 54,8 76,0 417,5 Gillnet hanyut 342,3 90,8 114,6 218,2 197,7 Alat Penangkap teripang 21,3 24,3 24,1 21,7 31,4 Bubu - - - 35,6 147,9 Jumlah 7.211,7 7.219,8 7.268,7 7.009,8 8.624,1
Produksi penangkapan ikan yang dihasilkan berdasarkan kecamatan di Kabupaten Pangkep mengalami fluktuasi produksi selama 5 tahun terakhir. Ada dua penyebab utama yakni sebagian ikan yang tertangkap oleh nelayan Kabupaten Pangkep di daratkan di pangkalan pendaratan ikan Kota Makassar dan sebagian mengembangkan usaha rumput laut sebagai usaha sampingan, usaha lainnya tetap dijalankan walaupun jumlah tripnya yang berkurang. Alat tangkap yang lainnya walaupun ada penurunan tidak mengalami perubahan yang siginifikan.
Produksi penangkapan ikan berdasarkan kecamatan selama 5 tahun didominasi 3 kecamatan kepulauan yakni Kecamatan Liukang Tupabbiring sebesar 1.553,0 ton, Tangaiya sebesar 1.276,4 ton dan Liukang Kalmas 1 553,0 ton. Selengkapnya disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 8 Produksi penangkapan ikan berdasarkan kecamatan di Kabupaten Pangkep
Kecamatan Tahun Produksi
2008 2009 2010 2011 2012 Minasa tene 28,8 28,9 29,1 28,0 34,4 Pangkajene 199,8 200,0 201,2 189,3 238,8 Bungoro 295,0 595,6 596,5 560,0 710,6 Labakkang 452,6 453,4 454,6 434,6 540,7 Ma'rang 640,1 641,1 610 525,7 705,4 Segeri 590,0 590,6 580 518,7 764,9 Mandalle 610,0 610,8 603 511,7 709,5 LK. Tupabbiring 1.551,2 1.553,0 1.642 1022,3 1.012,40 LK Tupabbiring Utara - - - 1.019,9 866,7 Liukang Tangaya 1.275,7 1.276,4 1.279,10 1.106,8 1.523,8 Liukang kalmas 1.268,5 1.270,0 1,273,2 1.092,8 1.516,9 Jumlah 7.211,7 7.219,8 7.268,7 7.009,8 8.624,1
Sumber : Kabupaten Pangkep dalam Angka Tahun 2012
Dalam kurung waktu 5 tahun produksi (ton) dan nilai (Rp) produksi hasil perikanan tangkap di Kabupaten Pangkep terjadi penurunan periode 2005-2007. Penurunan produksi yang terjadi pada periode ini juga berpengaruh pada nilai produksi yang dihasilkan, walaupun nilai penurunannya tidak terlalu besar mengingat nilai jual hasil perikanan di pasaran mengalami kenaikan. Untuk priode 2008-2012 mengalami peningkatan produksi dan nilai jual hasil perikanan. Secara lengkap disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 9 Produksi (ton) dan nilai (Rp) perikanan tangkap di Kabupaten Pangkep Tahun Produksi (ton) Nilai produksi (Rp)
2005 11.454,3 126.052.175.000 2006 10.040,7 127.759.050.000 2007 7.122,4 92.075.600.000 2008 7.211,7 103.185.350.000 2009 7.219,8 107.133.650.000 2010 7.268,70 108.063.600.000 2011 7009,8 116.137.300.000 2012 8824,1 142.757.300.000
30
Semakin meningkatnya nilai jual komoditi perikanan baik dipasaran lokal, regional dan manca negara, memberikan kontribusi pada meningkatnya pendapatan nelayan setiap tahunnya dan sampai tahun 2012 tingkat pendapat nelayan sebesar Rp. 5.970.000. Jika dibandingkan dengan tingkat pendapatan nelayan di kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan, maka nelayan di Kabupaten Pangkep pendapatannya yang paling tinggi. Selengkapnya perkembangan tingkat pendapatan nelayan dalam 5 tahun terakhir disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 10 Jumlah nelayan dan tingkat pendapatan nelayan perikanan tangkap di Kabupaten Pangkep
Tahun Nelayan (orang) Pendapatan (Rp)
2006 11,631 3.295.000 2007 10,834 3.150.000 2008 13,535 3.811.800 2009 10,877 4.924.800 2010 10,827 4.990.000 2011 10,827 4.990.000 2012 11.856 5.970.000
Sumber : Kabupaten Pangkep dalam Angka Tahun, 2012
Jumlah nelayan di Kabupaten Pangkep, 5 tahun terakhir mengalami peningkatan, tahun 2009 sebanyak 10.877 orang menjadi 11.856 tahun 2012 orang. Fluktuasi jumlah nelayan karena sebagian nelayan tidak terdata. Ada peralihan status menjadi pembudidaya rumput laut dan usaha lainnya, berkembangnya berbagai jenis usaha baru dan sebagian juga berpindah ketempat lainnya sebagai nelayan andon.