Bab ini berisi penjelasan secara deskriptif dari keragaan usahatani tanaman dan ternak di Desa Petir. Terdapat lama tanam setiap tanaman yang diusahakan, ketersediaan sumberdaya yang ada, serta produksi yang dihasilkan pada setiap satu satuan pengusahaan lahan tanaman. Hasil analisis ini digunakan untuk keperluan analisis menggunakan linear programming.
Usahatani Tanaman Penggunaan Lahan dan Masa Tanam
Petani memiliki kekuasaan dalam menggunakan lahan yang diusahakan, baik luasan lahan, jenis tanaman, dan lama tanam yang diterapkan. Jenis lahan
36
yang diusahakan umumnya adalah lahan sawah dengan luas lahan garapan yang bervariasi. Luas lahan paling minimum yang diusahakan adalah seluas 300 m2 dan maksimum 10 000 m2. Berdasarkan Tabel 9, luasan lahan paling banyak diusahakan adalah antara 500 – 2 500 m2, yaitu sebanyak 52.38 persen. Dimana nilai rata-rata penguasaan lahan untuk usahatani tanaman adalah seluas 2 460 m2.
Tabel 9 Sebaran responden berdasarkan persentase luas kepemilikian lahan petani di Desa Petir pada tahun 2014
Luasan Lahan Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)
< 500 m 2 9.52 500 - 2500 m 11 52.38 2500 - 5000 m 6 28.57 5000 - 7500 m 0 0.00 7500 - 10000 m 2 9.52 > 10000 m 0 0.00 Total 21 100.00
Jenis tanaman yang diusahakan cukup beragam, yaitu dari sampel yang diambil diperoleh di antaranya padi, ubi jalar, bengkuang, jagung, kacang panjang, dan singkong. Berdasarkan Tabel 10, jenis tanaman padi dan singkong merupakan jenis tanaman yang kurang diminati oleh petani. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan air yang cukup tinggi dalam mengusahakan padi, serta lama tanam singkong yang cukup panjang. Lama tanam untuk setiap tanaman yang diterapkan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 10. Untuk seluruh tanaman kecuali kacang panjang, hanya dilakukan satu kali panen dalam satu musim, yaitu di akhir masa tanam. Sedangkan untuk tanaman kacang panjang, dapat dipanen sekitar 7 - 8 kali panen hingga kurang lebih 2.5 bulan dari awal tanam. Dikarenakan model yang dibangun dirinci dalam bulan, untuk kemudahan pengolahan maka untuk tanaman jagung dan kacang panjang dibulatkan menjadi 3 bulan.
Tabel 10 Sebaran responden dan lama tanam berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan pada tahun 2014
Tanaman Jumlah Responden Lama Tanam (bulan)
Ubi Jalar (XU) 18 4.00
Jagung (XJ) 10 2.50
Kacang Panjang (XK) 4 1.50
Padi (XP)a 1 4.00
Singkong (XS)a 1 8.00
Bengkuang (XB) 5 4.00
Keterangan: aJenis tanaman tersebut tidak masuk ke dalam model
Pada kondisi aktual, penggunaan lahan yang dimiliki petani digunakan seluruhnya. Setiap selesai tanaman dipanen, lahan dapat segera ditanami kembali ataupun dilakukan pemberaan dalam beberapa hari. Pemberaan lahan dilakukan dalam waktu singkat atau bahkan tidak dilakukan aktivitas pemberaan. Setelah
37 tanaman dipanen, keesokan harinya petani langsung akan mengolah lahannya kembali untuk ditanami tanaman selanjutnya. Lama tanam dan cara tanam petani biasanya dilakukan tergantung pada pengalaman dan informasi yang dimiliki petani. Selain itu, jenis tanaman yang diusahakan petani dapat bergantian dalam satu tahun. Misalnya, petani di 4 bulan pertama akan menanam ubi jalar dan jagung, kemudian 4 bulan selanjutnya menanam bengkuang, hingga 4 bulan terakhir menanam ubi jalar dan jagung lagi. Berdasarkan Tabel 10, waktu tanam dan waktu panen dari setiap jenis tanaman dapat ditampilkan sebagaimana Tabel 11.
Tabel 11 Waktu tanam dan panen untuk setiap jenis tanaman dalam satu tahun
Bulan
Tanaman
Ubi Jalar Jagung Kacang
Panjang Bengkuang Padi Singkong
Januari Tanam Tanam Tanam Tanam Tanam Tanama
Februari
Maret Panen Panen
April Panen Tanam Tanam Panen Panen
Mei Tanam Tanam Tanam Tanamb
Juni Panen Panen
Juli Tanam Tanam
Agustus Panen Panen Panen Panena
September Tanam Panen Panen Tanam Tanam
Oktober Tanam Tanam
November
Desember Panen Panen Panen Panen Panen Panenb
Keterangan: aSingkong ditanam di musim pertama; bSingkong ditanam di musim kedua
Penggunaan Input Produksi Tanaman
Kebutuhan input produksi dalam aktivitas produksi untuk setiap tanaman relatif sama. Antara lain benih atau bibit, pupuk anorganik, pestisida, dan lainnya (misal: biaya transportasi). Biaya benih atau bibit akan dikeluarkan pada awal tanam atau bulan ke-1 dari musim tanam. Pada awal tanam, sambil menyiapkan lahan biasanya petani memberikan pupuk organik di awal musim. Kemudian, untuk pemeliharaan tanaman agar memperoleh hasil yang baik dilakukan pemupukan dengan pupuk anorganik, seperti urea, TSP, KCL, dan NPK. Pemupukan dengan menggunakan pupuk anorganik dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam satu musim. Sedangkan, untuk pemeliharaan dari hama petani memberikan pestisida untuk tanaman. Banyaknya pemberian pestisida tergantung dari jenis tanaman yang diusahakan. Rincian biaya setiap bulan yang dikeluarkan untuk biaya bibit, pupuk anorganik, pestisida, dan lainnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Sehingga dari rincian biaya per bulan yang dikeluarkan diperoleh total biaya per bulan pada setiap tanaman yang ditunjukkan pada Tabel 12.
Kegiatan pemupukan pada setiap tanaman dirinci per bulan, dikarenakan pemupukan hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Untuk tanaman ubi jalar, pada setiap bulannya dilakukan pemupukan. Kemudian untuk tanaman kacang panjang, jagung, dan bengkuang pada 1 bulan terakhir tidak ada kegiatan pemupukan. Sedangkan untuk tanaman padi dan singkong, petani sampel hanya melakukan pemupukan pada satu bulan tertentu, yaitu untuk padi pada bulan
38
pertama dan untuk singkong pada bulan ketiga. Berdasarkan Lampiran 1, tanaman yang paling banyak membutuhkan biaya pupuk adalah kacang panjang.
Tabel 12 Rata-rata biaya input produksi masing-masing tanaman per bulan (Rupiah/1000 m2)
Bulan
Tanaman
Ubi Jalar Jagung Kacang
Panjang Bengkuang Padi Singkong
Januari 126 813.65 294 440.06 668 690.00 377 276.37 648 148.15 0.00 Februari 66 201.09 68 635.60 168 138.33 60 515.98 14 814.81 0.00 Maret 22 435.21 139 996.35 39 596.67 15 900.00 14 814.81 53 333.33a April 112 119.05 294 440.06 668 690.00 13 333.33 0.00 0.00 Mei 126 813.65 68 635.60 168 138.33 377 276.37 648 148.15 0.00 Juni 66 201.09 139 996.35 39 596.67 60 515.98 14 814.81 0.00 Juli 22 435.21 294 440.06 668 690.00 15 900.00 14 814.81 53 333.33b Agustus 112 119.05 68 635.60 168 138.33 13 333.33 0.00 0.00 September 126 813.65 139 996.35 39 596.67 377 276.37 648 148.15 0.00 Oktober 66 201.09 294 440.06 668 690.00 60 515.98 14 814.81 0.00 November 22 435.21 68 635.60 168 138.33 15 900.00 14 814.81 0.00 Desember 112119.05 139 996.35 39 596.67 13 333.33 0.00 0.00
Keterangan: aSingkong ditanam pada bulan Januari; bSingkong ditanam bulan Mei
Sama halnya dengan pemupukan, kegiatan pemberian pestisida pun dirinci per bulan. Kegiatan yang paling banyak membutuhkan pestisida adalah kacang panjang, sebagaimana dilampirkan pada Lampiran 1. Pada satu bulan terakhir penanaman ubi jalar dan padi tidak dilakukan penyemprotan pestisida. Berbeda dengan jagung dan kacang panjang, setiap bulan perlu dilakukan penyemprotan pestisida. Terutama pada kacang panjang, penyemprotan dapat dilakukan hingga 5-12 kali dalam 1 musim. Hal ini disebabkan pemanenan yang dapat dilakukan hingga 7-8 kali, setiap selesai panen petani akan melakukan penyemprotan. Selain itu, selama masa tanam penyemprotan dilakukan sekitar setiap 2 minggu sekali. Lain halnya dengan tanaman bengkuang, pada bulan ke-2 dan ke-3 penyemprotan biasanya dilakukan. Sedangkan, tanaman singkong tidak membutuhkan pestisida sama sekali.
Kebutuhan Tenaga Kerja dan Modal Usahatani Tanaman
Kebutuhan tenaga kerja pada masing-masing tanaman relatif berbeda yang dapat dilihat pada Tabel 13. Umumnya pada setiap tanaman membutuhkan tenaga kerja paling banyak pada awal musim. Hal ini disebabkan tingginya kebutuhan tenaga kerja untuk pengolahan lahan di awal musim. Sedangkan untuk kegiatan pemeliharaan pada bulan selanjutnya, kebutuhan tenaga kerja akan semakin berkurang. Berbeda dengan tanaman kacang panjang, pada bulan terakhir dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja yang diakibatkan oleh pemanenan yang dapat dilakukan sekitar 7-8 kali dalam satu musim.
Pada kegiatan usahatani ubi jalar dan bengkuang, tenaga kerja dibutuhkan untuk kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan, penyiangan dan pembongkaran lahan, serta pemanenan. Pada bulan pertama usahatani ubi jalar dibutuhkan tenaga kerja untuk pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, dan penyemprotan. Sedangkan untuk tanaman bengkuang tidak
39 dilakukan penyemprotan. Memasuki bulan ke-2, untuk tanaman ubi jalar dilakukan pembongkaran lahan sambil penyiangan, pemupukan dan penyemprotan kedua. Sedangkan untuk tanaman bengkuang, penyiangan dilakukan sambil melakukan pengguntingan pucuk dan atau bunga. Kegiatan ini dilakukan untuk mengoptimalkan nutrisi yang masuk untuk umbi yang dihasilkan. Kemudian pada bulan ke-3, dilakukan pemupukan dan penyemprotan ketiga, serta penyiangan sambil pengguntingan yang kedua. Terakhir pada bulan ke-4, untuk tanaman ubi jalar dilakukan pemupukan terakhir dan kegiatan pemanenan pada akhir musim. Sedangkan untuk tanaman bengkuang pada bulan ke-4 hanya dilakukan kegiatan pemanenan.
Tabel 13 Kebutuhan tenaga kerja untuk tanaman pada setiap bulan (HOK/ 1000 m2)
Tanam an Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Ubi Jalar 8.60 3.47 2. 71 1. 17 8.60 3.47 2.71 1.17 8.60 3.47 2.71 1.17 Jagung 8.66 5.16 1.72 8. 66 5.16 1.72 8.66 5.16 1.72 8.66 5.16 1.72 Kacang Panjang 30.90 21.97 25.40 30.90 21.97 25.40 30.90 21.97 25. 40 30.90 21.97 25.40 Padi 13.00 2.00 1.00 0.00 13.00 2.00 1.00 0.00 13.00 2.00 1.00 0.00 Singkong1 8.00 0.00 0.67 4.67 0.00 0.00 4.67 1.33 Singkong2 8.00 0.00 0.67 4.67 0.00 0.00 4.67 1.33 Bengkuang 12.07 6. 56 3.27 3.53 12.07 6.56 3.27 3.53 12.07 6.56 3.27 3.53
Keterangan:; Singkongi = Singkong yang ditanam pada musim ke-i
Kebutuhan tenaga kerja untuk usahatani jagung, kacang panjang, padi dan singkong diperlukan untuk kegiatan pengolahan lahan, penanaman, penyiangan, pemupukan, penyemprotan, dan pemanenan. Untuk usahatani jagung, bulan pertama diperlukan untuk kegiatan pengolahan lahan, penanaman, pemupukan pertama dan kedua, serta penyemprotan pertama. Kemudian pada bulan ke-2 diperlukan untuk kegiatan pemupukan ketiga, penyemprotan kedua, dan dua kali penyiangan. Selanjutnya pada bulan ke-3 dilakukan penyemprotan terakhir dan pemanenan. Untuk tanaman kacang panjang, seluruh kegiatan kecuali pemanenan dilakukan pada bulan pertama. Selanjutnya bulan kedua dan ketiga dilakukan penyemprotan dan pemanenan. Untuk tanaman padi, bulan pertama diperlukan untuk pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, dan penyemprotan. Kemudian bulan kedua dan ketiga, dilakukan penyemprotan dan penyiangan. Terakhir, pada bulan ke-4 dilakukan kegiatan pemanenan. Berbeda dengan usahatani tanaman lainnya, usahatani singkong merupakan kegiatan usahatani yang paling sederhana. Pada bulan pertama kegiatan usahatani singkong, dilakukan pengolahan lahan dan penanaman. Pada bulan kedua tidak diperlukan tenaga kerja untuk kegiatan usahatanai tanaman ini, namun pada bulan ketiga dilakukan pemupukan. Selanjutnya, pada bulan ke-4 dan ke-7 dilakukan penyingan. Hingga akhirnya dilakukan pemanenan pada bulan ke-8 akhir masa tanam.
Keberlangsungan kegiatan usahatani tanaman pun tidak terlepas dari kebutuhan modal. Besarnya kebutuhan modal yang digunakan untuk kegiatan usahatani tanaman diperoleh dari informasi yang diberikan petani dan dirinci per
40
bulan. Umumnya petani merinci kebutuhan modal setiap tanaman per bulan, petani hanya memperhitungkan kebutuhan modal per musim pada setiap tanaman. Dalam penelitian ini, kebutuhan modal per bulan disesuaikan dengan persentase kebutuhan biaya input pada Tabel 11 dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Sehingga, kebutuhan modal per bulan pada setiap tanaman dapat diperoleh dan ditampilkan pada Tabel 14.
Tabel 14 Kebutuhan modal per bulan pada setiap tanaman (ribu rupiah/1000 m2)
Bulan
Tanaman
Ubi Jalar Jagung Kacang
Panjang Bengkuang Padi Singkong
Januari 269 798.27 315 821.25 1 998 357.60 567 774.18 1 381 299.33 357 777.78a Februari 140 843.98 73 386.57 502 475.76 91 222.74 31 572.56 0.00 Maret 47 731.31 149 686.92 118 333.31 23 928.37 31 572.56 83 148.15a April 238 535.25 315 821.25 1 998 357.60 20 065.72 0.00 0.00 Mei 269 798.27 73 386.57 502 475.76 567 774.18 1 381 299.33 357 777.78b Juni 140 843.98 149 686.92 118 333.31 91 222.74 31 572.56 0.00 Juli 47 731.31 315 821.25 1 998 357.60 23 928.37 31 572.56 83 148.15b Agustus 238 535.25 73 386.57 502 475.76 20 065.72 0.00 59 629.63a September 269 798.27 149 686.92 118 333.31 567 774.18 1 381 299.33 0.00 Oktober 140 843.98 315 821.25 1 998 357.60 91 222.74 31 572.56 0.00 November 47 731.31 73 386.57 502 475.76 23 928.37 31 572.56 0.00 Desember 238 535.25 149 686.92 118 333.31 20 065.72 0.00 59 629.63b
Keterangan: aSingkong ditanam pada bulan Januari; bSingkong ditanam bulan Mei
Produksi Usahatani Tanaman
Pada kondisi aktual, seringkali petani dihadapkan dengan produksi yang berfluktuatif. Tingkat produksi yang berbeda pada setiap musimnya akan mempengaruhi tingkat pendapatan petani pada setiap musimnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh, rata-rata produksi tanaman tertinggi dihasilkan oleh singkong, yaitu sebanyak 2 395.70 kg per 1000 m2 dalam satu musim dengan rata- rata harga sebesar Rp 1 200.00 per kg. Sedangkan rata-rata produksi tanaman paling rendah dihasilkan dari tanaman jagung, yaitu sebanyak 541.80 kg per 1000 m2 dalam satu musim dengan rata-rata harga sebesar Rp 1 720.00 per kg. Rincian produksi dan rata-rata harga jual setiap produk tanaman dapat dilihat pada Tabel 15.
Output tanaman merupakan produk utama dari tanaman itu sendiri dan limbah tanaman yang dihasilkan. Seluruh rata-rata produksi tanaman yang dihasilkan diperoleh pada akhir musim tanam, kecuali kacang panjang. Rata-rata produksi kacang panjang yang dihasilkan pada Tabel 15 diperoleh dari total produksi 7-8 kali panen dalam satu musim. Sedangkan harga kacang panjang diperoleh dari rata-rata harga jual kacang panjang setiap satu kali panen. Pada kondisi aktual, produk yang diperjual belikan petani hanya produk utama. Selain itu, limbah yang dihasilkan hanya dimanfaatkan pada akhir musim tanam. Tidak ada petani yang memanen dedaunan (limbah) dari tanaman sebelum pemanenan produk utama dilakukan.
41 Tabel 15 Rata-rata produksi dan harga jual produk tanaman dalam satu musim
tanam pada tahun 2014
Tanaman Produksi (kg/1000 m2) Harga (Rp/kg)
Ubi Jalar (XU) 1 068.62 1 790
Jagung (XJ) 541.80 1 720
Kacang Panjang (XK) 891.76 3 470
Padi (XP) 1 666.67 2 400
Singkong (XS) 2 395.70 1 200
Bengkuang (XB) 1 887.47 1 470
Usahatani Ternak Domba atau Kambing
Selain usahatani tanaman, petani juga memiliki ternak domba dan atau kambing. Berdasarkan hasil wawancara dengan para petani, dari 21 responden diperoleh informasi bahwa sebanyak 14 responden mengusahakan domba saja, 5 responden mengusahakan kambing saja, dan 2 responden mengusahakan keduanya. Rata-rata kepemilikan ternak yang diusahakan adalah sebanyak 17.23 ekor per petani. Berdasarkan informasi petani, penggemukan domba dapat dilakukan 2 kali dalam setahun, dengan rata-rata masa penggemukan selama 5.98 bulan atau setara 6 bulan. Sedangkan, untuk penggemukan kambing dilakukan sepanjang tahun.
Seluruh usahatani ternak domba atau kambing menerapkan sistem penggemukan dalam kandang. Petani setiap harinya akan memberikan pakan kepada ternak, tanpa digembalakan. Ternak dikeluarkan hanya ketika akan dimandikan di sungai atau kali. Sistem pemberian pakan yang dilakukan dapat menjaga ternak untuk mengeluarkan energi, sehingga ternak menjadi lebih gemuk (Chaniago 1993). Selain itu, kandang yang biasanya digunakan merupakan kandang panggung dengan kamar untuk 1 ekornya. Pemilihan kandang seperti itu memberikan keuntungan, Chaniago (1993) menjelaskan bahwa penggunaan kandang panggung akan menciptakan ruang kamar menjadi lebih bersih sebab kotoran domba akan jatuh ke bawah panggung. Pemilihan kandang dengan ruang kamar individual pun memberikan keuntungan, dengan ruang kamar individual yang relatif sempit akan mengurangi tingkat kehilangan energi pada tubuh ternak Sutama dan Budiarsana (2009).
Kebutuhan Tenaga Kerja Usahaternak
Kebutuhan tenaga kerja pada kegiatan usahaternak domba atau kambing digunakan untuk kegiatan mencari rumput, memandikan ternak, dan membersihkan kandang. Kebutuhan tenaga kerja per ekor baik untuk domba dan kambing adalah sama. Dalam analisis, kebutuhan tenaga kerja untuk mencari rumput dirinci secara terpisah. Kegiatan memandikan ternak dan membersihkan kandang dinyatakan dalam satuan HOK per ekor. Sedangkan untuk kegiatan mencari rumput dinyatakan dalam satuan HOK per bulan. Rincian kebutuhan tenaga kerja pada setiap kegiatan dapat dilihat pada Tabel 16. Untuk kegiatan memandikan ternak dan membersihkan kandang tidak terdapat perbedaan kebutuhan tenaga kerja setiap bulannya, yaitu 1.90 HOK per ekor. Namun, untuk kegiatan mencari rumput terdapat perbedaan kebutuhan tenaga kerja pada musim
42
kemarau dan musim hujan. Berdasarkan Tabel 16, kebutuhan tenaga kerja mencari rumput pada bulan kemarau lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan.
Tabel 16 Kebutuhan tenaga kerja untuk usaha ternak per bulan
Uraian Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
Memandikan 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 0.33 Membersihkan Kandang 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 1.57 TOTALa 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 1.90 Mencari Rumputb 0.003 0.003 0.003 0.003 0.004 0.004 0.004 0.004 0.004 0.004 0.003 0.003 Keterangan: aHOK per ekor; bHOK per kg per bulan
Kebutuhan Input Produksi dan Modal Usahaternak
Input produksi daripada ternak domba di antaranya bakalan domba, rumput, serta vitamin untuk menjaga kesehatan domba. Bakalan domba dapat diperoleh di Desa Petir, biasanya tengkulak yang berperan ganda sebagai penyedia bakalan sekaligus pengumpul akan mendatangi peternak untuk menawarkan domba untuk digemukkan sekaligus menjual pil vitamin. Harga satu ekor bakalan dapat berbeda-beda, tergantung daripada terkaan bobot ternak yang ingin dibeli petani. Berdasarkan informasi dari petani, rata-rata harga beli bakalan domba per ekor sebesar Rp 717 860.00, dengan harga terendah Rp 500 000.00 dan tertinggi sebesar Rp 900 000.00. Sedangkan biaya pembelian vitamin per ekor senilai Rp 3 710.00 per ekornya. Sehingga kebutuhan biaya untuk pembelian input produksi ternak sebesar Rp 721 570.00 per ekor pada setiap 1 musim penggemukan. Biaya untuk penyediaan rumput tidak diperhitungkan, namun mempengaruhi pada kebutuhan tenaga kerja dalam kegiatan usahaternak.
Kebutuhan input produksi kambing dan domba tidak berbeda jauh. Namun, dalam kegiatan usahaternak kambing tidak menggunakan vitamin. Jenis input yang digunakan adalah kambing dewasa dengan rata-rata harga beli per ekor sebesar Rp 1 020 000.00. Berdasarkan informasi petani, harga terendah dari satu ekor kambing yang diusahakan adalah sebesar Rp 800 000.00, sedangkan harga tertinggi dari satu ekor kambing yang diusahakan adalah Rp 1 500 000.00. Berbeda dengan usaha ternak domba yang merupakan usaha penggemukan dan pola penggemukan yang sudah tertata setiap tahunnya, usaha ternak kambing di Desa Petir cenderung merupakan usaha yang digunakan sebagai tabungan. Petani dapat menjual kambing pada waktu tidak tentu tergantung pada kebutuhan mendesak yang dihadapi petani.
Besar kebutuhan modal untuk kegiatan usahaternak per ekornya sangat dipengaruhi oleh harga bakalan yang akan digemukkan. Kebutuhan modal usahaternak dipergunakan untuk membeli bakalan dan vitamin. Seluruh kegiatan usahaternak hanya melibatkan tenaga kerja dalam keluarga, sehingga kebutuhan modal yang diperhitungkan petani untuk usahaternak setara dengan biaya input produksi. Kebutuhan modal pada masing-masing usaha dikeluarkan pada awal masa penggemukan di musim pertama, yaitu pada bulan April. Kebutuhan modal ini dapat dipenuhi dari modal sendiri dan pinjaman dari kerabat dengan sistem bagi hasil.
43 Produksi Usahaternak
Sebagaimana disampaikan sebelumnya, bahwa penggemukan domba dapat dilakuakan 2 kali dalam setahun dan kambing diusahakan sepanjang tahun. Untuk menyamakan satuan dari ternak yang dihasilkan, maka perhitungan hasil produk utama dinyatakan dalam satuan kg bobot hidup (kg BH). Pada M1 (Model tidak integrasi) dalam satu masa penggemukan domba, rata-rata domba digemukkan diperoleh sebesar 26,87 kg per ekor. Sedangkan dalam satu tahun pengusahaan ternak kambing, bobot kambing diperoleh sebesar 32 kg per ekor. Harga jual untuk per kg BH domba dan kambing berbeda dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Produksi dan harga jual produk ternak setiap ekor yang diperoleh per musim penggemukan pada tahun 2014
Uraian Bobot dalam M1 Harga (Rp/kg)
A. Produk Utama (kg BH) Domba 26.87 59.39 Kambing 32.00 48.73 B. Produk Sampingan (kg) Kotoran Domba 299.05 0.088 Kotoran Kambing 455.27
Keterangan: BH= Bobot Hidup
Pada kegiatan usahaternak, limbah yang dihasilkan berupa kotoran ternak yang dapat dijual. Pada kondisi aktual di lokasi penelitian, kotoran ternak domba dan kambing dapat dipergunakan sebagai pupuk organik untuk kegiatan usahatani tanaman. Tabel 17 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata produksi kotoran per ekor domba dan kambing, yaitu masing-masing sebanyak 299.05 kg dan 455.27 kg. Berdasarkan informasi petani, kotoran dapat digunakan oleh petani ataupun dijual ke petani lainnya. Penjualan kotoran sudah banyak berlangsung di Desa Petir, informasi petani menunjukkan bahwa rata-rata harga jual per karung kotoran domba atau kambing adalah sebesar Rp 3 273.81.00 dengan rata-rata bobot per karung sebesar 41.19 kg.
Pendukung Integrasi Usahatani Tanaman-Ternak
Kegiatan usahatani dan usahaternak yang diintegrasikan akan melibatkan satu sama lain. Pada kegiatan usahatani tanaman akan diperoleh produk utama serta produk sampingan berupa dedaunan atau jerami dari limbah usahatani tanaman tersebut. Limbah tani tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak, namun limbah tani yang dihasilkan pada saat panen tidak mungkin dapat tahan untuk digunakan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, output daripada kegiatan usahatani berupa limbah tani digunakan sebagai input ternak yang sebelumnya akan diolah dengan teknik silase agar dapat digunakan dalam jangka panjang. Sedangkan, pada kegiatan usahaternak akan diperoleh produk utama domba atau kambing yang telah digemukkan, serta produk sampingan kotoran ternak yang dapat dipergunakan sebagai pupuk organik untuk kegiatan usahatani tanaman. Produksi pupuk ini sudah cukup banyak dimanfaatkan oleh petani untuk kegiatan
44
usahatani tanaman. Umumnya dalam jangka waktu masa penggemukan, kotoran akan dibiarkan di udara terbuka. Hal ini menurut Mathius (1994) akan menghasilkan kualitas pupuk kandang yang lebih baik.
Input-Output Usahatani Tanaman
Input dari kegiatan usahatani tanaman yang dapat mendukung dilaksanakannya integrasi tanaman-ternak adalah pupuk organik. Berdasarkan informasi petani, rata-rata penggunaan pupuk kandang yang bersumber dari kotoran kambing dan domba untuk kegiatan usahatani tanaman setiap 1000 m2 tanaman ubi jalar adalah sebanyak 227.16 kg, untuk tanaman jagung sebanyak 356.14 kg, untuk tanaman kacang panjang sebanyak 2.1 ton, dan untuk tanaman bengkuang sebanyak 318.19 kg. Seluruh penggunaan pupuk organik umumnya digunakan pada saat pengolahan lahan. Sedangkan, output dari kegiatan usahatani tanaman ubi jalar dan jagung yang mendukung diterapkannya integrasi tanaman- ternak adalah limbah tani berupa daun atau jerami yang dihasilkan.
Tabel 18 Produksi limbah tanaman per musim (kg per 1000 m2)
Tanaman Produksi Limbah
Ubi Jalar 743.00
Jagung 972.00
Padi 813.00
Singkong 380.00
Kacang Panjanga 44.59
Sumber: Haerudin 2004 (diolah) dan aYusuf (2010)
Bahan pakan yang biasa digunakan petani adalah rumput lapangan yang disabit sendiri. Sedangkan limbah tani dari tanaman hanya sewaktu-waktu digunakan sebagai pakan, yaitu pada musim panen tiba. Berdasarkan Haerudin (2004), produksi limbah pertanian yang dihasilkan dibedakan berdasarkan pengairan pada lahan yang digunakan. Namun, di lokasi penelitian penggunaan lahan tidak membedakan lahan pengairan irigasi ataupun non irigasi. Sehingga dalam penelitian ini, banyaknya limbah yang diproduksi diperoleh dari nilai tengah daripada banyaknya limbah tani yang dihasilkan di lahan irigasi dengan lahan non irigasi. Selain itu, limbah bengkuang di lokasi penelitian tidak dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Petani tidak ingin ternaknya sakit atau bahkna mati karena keracunan limbah daun bengkuang. Selaras dengan pernyataan Zaenuddin et al. (1983), bahwa jenis limbah tanaman bengkuang tidak dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak kambing maupun domba. Sedangkan Yusuf (2010) menyatakan bahwa limbah dari sayuran adalah sebanyak 5 persen dari total produksinya. Sehingga, produksi limbah dari kacang panjang merupakan produksi terendah. Banyaknya limbah yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 18.
Aktivitas Produksi Silase
Hijauan merupakan sumber utama dalam kegiatan usaha ternak domba dan kambing. Berdasarkan Tabel 16, kebutuhan tenaga kerja untuk mencari rumput pada musim kemarau lebih tinggi dibandingkan pada musim hujan. Hal tersebut
45 mengindikasikan bahwa ketersediaan hijauan lebih sulit diperoleh pada musim