• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS ATAS GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI

4.3 Pewartaan Injil secara Inkulturatif melalui Graha Maria Annai Velangkanni

4.3.2 Pewartaan Injil secara Inkulturatif melalui Graha Maria Annai

4.3.2.1 Keragaman Budaya Merupakan Anugerah Allah

Dalam Evangelii Gaudium, Bapa Suci menyinggung tentang keragaman budaya sebagai anugerah Allah. Gereja dapat mengungkapkan katolisitasnya yan sejati dan memancarkan wajah yang beraneka ragam dalam budaya-budaya setempat. Oleh sebab itu, nilai-nilai dari berbagai budaya diambil menjadi “sponsa ornata monilibus suis” (EG. 116). Inkulturasi ini akan menjadi suatu proses panjang yang berlangsung terus-menerus dan tidak pernah selesai (EG. 126).

Graha Maria Annai Velangkanni merupakan sebuah anugerah Allah bagi umat Katolik Keuskupan Agung Medan secara khusus dan bagi semua orang pada umumnya. Graha ini

118 merupakan bangunan unik yang memadukan arsitektur Hindu-Mughal dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi. Bentuknya menyerupai kuil Hindu dengan tujuh tingkat menara dan tiga kubah. Ketiga kubah itu menurut Romo James terinspirasi dari Taj Mahal68. Kedua bentuk arsitektur ini diharapkan mendorong orang-orang India, baik yang beragama Katolik maupun yang bukan Katolik, untuk datang berkunjung dan berdoa.

Selain bentuk menara dan kubah yang unik dari budaya Hindu-Mughal, Graha Maria Annai Velangkanni dihiasi dengan tiga miniatur rumah adat Batak di bagian atas pintu gerbang.

Ketiga miniatur rumah adat ini dimaksudkan tanda keberadaan etnis suku Batak Toba yang merupakan mayoritas umat Katolik di Keuskupan Agung Medan dan etnis Batak Karo yang merupakan mayoritas penduduk di sekitar Graha Maria Annai Velangkanni. Namun demikian, ada juga suku-suku lain seperti Melayu, Nias, Tionghoa, Jawa, Batak Mandailing, Pakpak.

Suku-suku ini merupakan kekayaan budaya Indonesia yang beraneka ragam.

Ketiga miniatur rumah adat Batak menurut Romo James merupakan ungkapan selamat datang di Graha Maria Annai Velangkanni. Relief-relief di tembok luar Graha Maria Annai Velangkanni yang menggambarkan orang-orang berpakaian adat dari berbagai daerah adalah ungkapan bahwa bangunan ini diperuntukkan bagi semua orang tanpa kecuali. Universalitas bangunan ini hendak merangkul semua orang hidup dalam kesatuan. Harapan dan cita-cita ini mendorong Romo James untuk memberikan seluruh hidupnya bagi Graha Maria Annai Velangkanni.

Pada bulan Januari 2018 Romo James meresmikan bangunan baru yakni miniatur Graha Maria Annai Velangkanni. Tempat ini disebutnya Taman Maranatha yang artinya “Datanglah ya Tuhan”. Menurut penuturan Romo James, di usianya yang sudah semakin tua dia tidak lagi mengharapkan banyak hal dalam hidupnya. Dia hanya ingin bersatu dengan Tuhan. Bangunan

68 Taj Mahal itu adalah sebuah bangunan Islam yang terdapat di kota New Delhi India. Bangunan ini didirikan pada masa Dinasti Mughal.

119 ini mengungkapkan kerinduan itu. Dia telah menginisiasi dan mendirikan seluruh bangunan ini. Pada akhirnya, akan ada orang lain yang akan melanjutkannya. Uniknya, miniatur ini dibuat di dalam rumah adat Minangkabau. Ide kreatif ini mau mengajak orang-orang Minang dan Melayu melihat bahwa mereka juga diterima melalui bentuk rumah adat mereka.

Di dalam gereja di Graha Maria Annai Velangkanni, para pengunjung dapat melihat lukisan-lukisan dan patung yang dibuat dengan corak Asia. Lukisan Perjamuan Malam Terakhir di bagian panti imam menggambarkan para Rasul duduk bersila bersama dengan Yesus. Patung Yesus ditampilkan dengan bentuk wajah orang India. Dengan gambar dan lukisan ini kiranya para pengunjung semakin menyadari bahwa Yesus orang Nazaret adalah orang Asia. Dia hidup dengan kultur Asia. Oleh sebab itu, orang-orang Asia mampu semakin membumikan identitas Yesus dalam Gereja Asia agar semakin banyak orang yang percaya dan diselamatkan.

Dari hasil penelitian mengenai identitas responden, penulis menemukan bahwa yang kekayaan dan keragaman budaya yang terdapat di Graha Maria Annai Velangkanni masih belum bisa dinikmati oleh para pengunjung. Ornamen-ornamen dari berbagai budaya belum sungguh-sungguh menyentuh kesadaran para pengunjung karena mereka tidak mendapat penjelasan yang memadai. Lebih dari separuh (57,4%) pengunjung yang beragama Katolik merupakan orang-orang Batak Toba. Hampir seperempat (24,6%) adalah orang-orang Karo dan Simalungun. Artinya, mayoritas (82%) pengunjung adalah orang-orang Batak (tabel 3.7).

Selebihnya adalah para pengunjung dari suku India, Jawa, Tionghoa, dan Nias. Meskipun ornamen-ornamen dibuat dalam balutan berbagai budaya dan suku, Graha Maria Annai Velangkanni belum ditangkap sebagai “rumah bersama” bagi semua orang Katolik dari berbagai suku.

Hal yang senada juga terjadi di kalangan para pengunjung yang bukan beragama Katolik.

Lebih dari dua per tiga (71,8%) pengunjung adalah orang-orang Batak. Hampir sepertiga saja

120 (28,2%) yang berasal dari etnis non-Batak (tabel 3.8). Mereka juga belum sungguh-sungguh mengerti makna ornamen yang ditampilkan dengan balutan berbagai budaya. Secara khusus, penulis menyoroti data pengunjung yang bukan Katolik dan berasal dari suku India. Penulis menyadari bahwa keterbatasan bahasa menjadi kendala dalam menyebarkan angket kepada orang-orang India yang datang berkunjung. Mereka datang dari berbagai negara khususnya Malaysia dan Singapura. Namun demikian, bagi orang-orang India yang berbahasa Indonesia keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni lebih dilihat sebagai bangunan Romo James karena dia seorang India. Kekayaan budaya yang ditemukan dalam Graha Maria Annai Velangkanni belum sungguh-sungguh mendorong mereka untuk bertemu dengan yang Ilahi dan berbaur dengan semua orang dari berbagai suku yang ada di sekitar lokasi. Ada semacam gap yang terjadi.

Paus Fransiskus meminta agar usaha-usaha inkulturasi terus dilanjutkan karena membutuhkan proses panjang yang berlangsung terus-menerus (EG 126). Kenyataan di lapangan tidak boleh menyurutkan para pelaku pewartaan Injil untuk terus berusaha.

Inkulturasi tidak pernah selesai. Setiap orang didorong untuk terus mencari cara-cara pewartaan yang dapat merangkul semua orang dari berbagai suku, bahasa dan budaya. Nilai-nilai budaya perlu terus digali sehingga orang-orang mampu melihat bahwa keberadaannya dihargai oleh Gereja melalui budaya yang diterima. Dalam konteks evangelisasi, inkulturasi bukan sekedar teori melainkan sesuatu yang dapat dirasakan oleh orang-orang setempat.