BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS ATAS GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI
4.5 Relevansinya bagi Keuskupan Agung Medan
4.5.3 Arah Pewartaan Injil secara Inkulturatif di Keuskupan Agung Medan
4.5.3.3 Pewartaan Injil Dilakukan Berdasarkan Satu Sistem,
Harus diakui bahwa keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni tidak bisa dilepaskan dari sosok dan pribadi Romo James. Dia yang merancang dan mendirikan bangunan tersebut.
Dia yang menata dan mengelolanya hingga menjadi terkenal seperti sekarang ini. Banyak pengunjung yang datang hanya untuk bertemu dengannya dan meminta berkat. Tidak sedikit orang yang mengalami kesembuhan, mendapat jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi, dan mendapat penghiburan rohani. Semua itu menjadi daya tarik dari Graha Maria Annai Velangkanni. Karisma Romo James dan Graha Maria Annai Velangkanni telah dikenal tidak hanya di sekitar kota Medan saja. Dia dicari oleh banyak orang bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan India.
Romo James tidak menghendaki demikian. Dia menginginkan pewartaan Injil dijalankan bukan karena pribadi melainkan demi kemuliaan Allah. Keinginan tersebut sangat sesuai dengan semangat Ignasian yang berbunyi: Ad Maiorem Dei Gloriam (untuk kemuliaan Allah
85 James H. Kroeger, Asian Dynamic Local Churches: Serving Dialogue and Mission (Bengaluru: Dharmaram Publications, 2014), 171.
146 yang lebih besar). Namun demikian, secara faktual karisma Romo James akan terus melekat dalam Graha Maria Annai Velangkanni. Masih ada anggapan bahwa Graha Maria Annai Velangkanni adalah milik Romo James sendiri, bukan milik Keuskupan. Selama ini, dia sendiri yang mengusahakan bantuan dari para donatur dan menghiasi Graha Maria Annai Velangkanni dengan berbagai ornamen dan simbol. Setiap kali ditanya bagaimana bisa demikian? Dia selalu menyebut bahwa Graha Maria Annai Velangkanni adalah karya Allah. Karya dijalankan dengan pertolongan Bunda Maria. Romo James hanyalah pelaksana. Lewat Graha ini, Romo James mau menguji dan membuktikan bagaimana penyelenggaraan Allah (the providence of God) itu nyata.
Penulis menyadari bahwa karisma Romo James tak akan tergantikan ketika suatu saat dia telah meninggal. Akan ada seseorang yang menggantikan posisinya. Pergantian itu tidak akan mudah dilakukan. Para pengunjung akan tetap mengidealkan dan merindukan sosok Romo James hadir di situ. Dalam tugas pewartaan Injil akan selalu ada perubahan. Penerus dari sebuah tugas tentu mempunyai keunikannya sendiri. Oleh sebab itu, kelanjutan pewartaan Injil ini harus ditopang dengan satu sistem yang akan berguna di masa-masa yang akan datang.
Sejak sekarang, Keuskupan harus memikirkan suatu tim yang akan bekerjasama untuk memikirkan, memelihara, dan mengelola Graha Maria Annai Velangkanni. Kerja sebuah tim dalam karya pewartaan Injil akan mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan bersama.
Semakin banyak orang yang memberikan ide-ide pengembangan, maka semakin efektif langkah-langkah yang ditempuh bagi kemajuan pelayanan di Graha Maria Annai Velangkanni.
Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menyerukan keterlibatan umat secara aktif dalam karya pewartaan Injil dan menjadi murid-murid yang diutus. Tugas perutusan ini tidak bisa dilepaskan dari rahmat pembaptisan yang telah diterima sebagai anggota Umat Allah.
Apapun kedudukan mereka di Gereja atau tingkat pendidikan mereka, semua orang yang dibaptis adalah pelaku-pelaku evangelisasi (EG 120). Inilah yang mendasari penulis untuk
147 memberikan kritik atas karya pewartaan Injil yang dilakukan oleh pribadi tertentu saja, tanpa keterlibatan orang lain. Pewartaan Injil hendaknya menjadi gerakan bersama, bukan individu.
Bisa saja karya pewartaan Injil itu dirintis dan dimulai oleh pribadi tertentu dengan karisma yang dimilikinya. Seiring dengan perkembangan jaman dan karya pewartaan itu sendiri, kepemimpinan yang didasarkan pada karisma diharapkan menjadi kepemimpinan berdasarkan sistem yang melibatkan pihak-pihak lain.
Salah satu tantangan dalam membangun sistem di Graha Maria Annai Velangkanni adalah hubungan kekerabatan dan kekeluargaan di kalangan orang Batak. Kekerabatan di satu sisi akan menjadi pengikat atau perekat suatu kerjasama. Di sisi lain, hubungan kekerabatan bisa menghalangi keterbukaan pada pihak-pihak luar. Hal ini masih merupakan asumsi penulis secara pribadi. Bentuk kerjasama yang bersifat kekeluargaan atau kekerabatan karena marga atau hubungan darah masih kental di kalangan umat. Hal ini dapat dihubungkan dengan keberadaan orang-orang India yang selama ini sangat dekat dengan Romo James. Romo James banyak menggunakan tenaga orang-orang India untuk bekerja di Graha Maria Annai Velangkanni. Dia menginginkan agar mereka ikut bertanggung jawab dan terlibat dalam pengelolaan Graha Maria Annai Velangkanni. Romo James sungguh memperhatikan mereka.
Penulis merasa perlu menyinggung hal ini agar siapapun yang dipercaya untuk mengelola Graha Maria Annai Velangkanni memperhitungkan keberadaan orang-orang India ke depan.
Seorang penerus yang akan melanjutkan karya pewartaan Injil melalui Graha Maria Annai Velangkanni tentu mempunyai cara tersendiri dalam pengembangan dan pengelolaan.
Penulis tidak mengidealkan seorang penerus yang akan bekerja sendiri di Graha Maria Annai Velangkanni sebagai rektor. Dibutuhkan suatu tim atau panitia khusus yang akan memperhatikan keberlangsungan karya pewartaan Injil. Sistem yang akan dijalankan harus sesuai dengan visi dan misi Keuskupan. Dengan demikian, tercipta suatu sinergi antara panitia dan Keuskupan Agung Medan.
148 4.5.3.4 Devosi Mendukung Penghayatan Liturgi dan Hidup Bermasyarakat
Salah satu kekhasan yang ada dalam Gereja Katolik adalah penghormatan dan kebaktian kepada orang-orang kudus, kepada Sakramen Mahakudus, kepada Santa Perawan Maria, dan masih banyak kebaktian lain. Berhadapan dengan gereja Protestan yang tidak memiliki kebaktian semacam ini, ada banyak pertanyaan yang muncul seputar devosi. Keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni ternyata dapat mendukung penjelasan yang dapat diberikan mengenai penghormatan kepada Bunda Maria. Orang-orang Katolik sering membawa orang-orang Protestan untuk melihat langsung berbagai ornamen tentang Bunda Maria. Meskipun demikian, mereka masih tetap mempersoalkan penghormatan yang begitu besar kepada Maria di kalangan orang-orang Katolik.
Selain penghormatan kepada Bunda Maria, devosi-devosi lain dapat ditemukan di Graha Maria Annai Velangkanni. Ada devosi kepada Santo Yohanes Paulus II, devosi kepada Sakramen Mahakudus dan devosi Kerahiman Ilahi. Devosi-devosi ini belum begitu terkenal di kalangan umat. Namun demikian, ada kelompok-kelompok tertentu yang rajin datang dan berdoa. Sejauh pengamatan penulis, orang-orang yang tergabung dalam kelompok doa mempunyai perhatian dan kepedulian kepada Gereja. Mereka cukup rajin mengikuti perayaan Ekaristi dan mengaku dosa. Di Graha Maria Annai Velangkanni, ada satu keluarga yang selalu meluangkan waktu untuk berdoa di depan Sakramen Mahakudus. Kebiasaan itu telah berlangsung cukup lama dan keluarga tersebut sering membantu pelayanan-pelayanan di Graha Maria Annai Velangkanni. Tampaknya, devosi dapat membantu umat untuk semakin menghayati liturgi dan terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada dasarnya, devosi merupakan ulah kesalehan yang mengarahkan dan menggerakkan umat pada Ekaristi sebagai puncak dan tujuan seluruh kegiatan Gereja (bdk. SC 10). Devosi termasuk bagian dari ibadat Gereja dan tidak boleh menggantikan liturgi. Devosi akan
149 mempunyai nilai hanya bila tertuju pada perayaan Ekaristi dalam mempersiapkan hati umat.
Dengan demikian, devosi kepada Maria dan devosi-devosi lainnya merupakan bentuk kegiatan gerejani yang mempunyai aspek afektif emosional. Devosi kepada Bunda Maria memiliki aspek afektif emosional karena setiap orang mempunyai pengalaman kedekatan dengan ibunya. Maria yang merupakan tujuan devosi bukanlah pribadi yang mengabulkan doa, melainkan pribadi yang turut berdoa bersama manusia agar Allah mengabulkan doa-doa seluruh umat.86
Dalam perayaan Ekaristi Allah hadir dalam diri Yesus, Putera-Nya. Dia yang mendatangi manusia guna membebaskan manusia dari perhambaan dosa. Dalam karya penebusan itu, Maria hadir sebagai manusia yang mempersembahkan diri untuk melahirkan Sang Putera ke dunia. Dia menerima-Nya secara utuh dan dengan utuh pula melakukan kebaktian kepada Allah. Maka, permenungan akan devosi kepada Bunda Maria mengantarkan umat pada sikap pasrah dengan berkata: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Devosi kepada Bunda Maria justru mendekatkan umat beriman kepada Yesus karena memiliki pengalaman seperti Maria dalam berelasi dengan Allah. Umat harus senantiasa perlu diarahkan untuk semakin memahami nilai-nilai Ekaristi dan menjadikan devosi kepada Bunda Maria sebagai persiapan batin menuju perayaan iman dalam Ekaristi.87
Devosi masih harus terus digalakkan di Keuskupan Agung Medan. Meskipun devosi dirasa asing bagi orang-orang Protestan, devosi harus terus diperkenalkan. Devosi memberikan manfaat yang bagi umat dalam mempertanggungjawabkan imannya serta membangun persaudaraan dengan dunia sekitar. Orang-orang yang mampu menjadikan devosi sebagai kebutuhan rohani, akan mengalami penghiburan dan sukacita. Sukacita itu akan mendorong seseorang untuk bersyukur dan berbagi dengan sesama.
86 Nico Prasadja, “Maria dalam Kehidupan Devosional”, dalam Kehidupan Devosional, ed. Frans Harjawiyata (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 102.
87 Nico Prasadja, “Maria dalam Kehidupan Devosional”, 102-103.
150 Devosi yang dihidupi dengan mendalam, ternyata dapat menggerakkan seseorang untuk keluar dan memberi kesaksian tentang kasih Allah. Kesadaran baru akan muncul dalam memandang Tuhan dan sesama. Setiap anugerah berasal dari Allah dan diterima dengan cuma-cuma. Anugerah itu dibagikan kepada orang lain dengan cuma-cuma agar semakin banyak orang yang diselamatkan. Romo James menghayati devosi itu dan mempraktekkannya dalam hidupnya sehari-hari. Dengan penuh kesederhanaan setiap hari Romo James memberikan waktu bagi para pengunjung. Dia tidak kemana-mana. Dia tinggal di pastoran dan menunggu siapa saja yang mau berjumpa dengannya. Bagi penulis, ketersediaan (availabity) semacam ini lahir dari penghayatan relasi intim dengan Tuhan dan Bunda Maria. Dia selalu mengatakan bahwa Allah tinggal di tempat ini dan Bunda Maria selalu memberi pertolongan. Dia tidak pernah merasa kesepian dan sendirian. Dia sanggup menjalani rutinitas selama 13 tahun di Graha Maria Annai Velangkanni. Dia tetap melayani orang-orang India dari mana-mana. Dia tidak mempersoalkan agama dan kasta. Dia juga sangat ramah terhadap orang-orang asing dari berbagai negara. Hidupnya merupakan persembahan yag luar biasa untuk umat di Keuskupan Agung Medan.
Cara hidup seperti itu tidak mudah untuk ditiru. Penulis tidak bermaksud mengajak para pengunjung untuk meniru cara hidup Romo James. Setiap orang mempunyai cara dalam menghayati devosi-devosi tertentu. Kesaksian hidup Romo James dapat menjadi inspirasi bagi orang-orang yang mengenalnya. Mereka dapat berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain sehingga nilai-nilai Injil terwujud dalam hidup sehari-hari.
4.6 Rangkuman
Refleksi teologis atas pewartaan Injil dalam dokumen-dokumen Gereja sesudah Konsili Vatikan II menunjukkan perhatian khusus terhadap kebudayaan setempat. Keberadaan Graha
151 Maria Annai Velangkanni dari sudut pandang dokumen-dokumen tersebut mendapat dukungan untuk terus dikembangkan. Graha Maria Annai Velangkanni sebagai bentuk pewartaan Injil kiranya dapat membantu Keuskupan Agung Medan untuk mengefektifkan karya-karya pewartaan Injil, inkulturasi dan kesalehan yang merakyat (devosi). Untuk itu, pelayanan dan pengeloaan Graha Maria Annai Velangkanni harus terus ditingkatkan.
Dengan memahami teologi pewartaan Injil sesudah Konsili Vatikan II dan tantangan zaman modern ini, Gereja perlu memikirkan model-model pewartaan Injil yang cocok dan sesuai dengan konteks Gereja. Pewartaan Injil yang telah berlangsung sejak 2000 tahun yang lalu akan terus berkembang. Tokoh-tokoh akan silih berganti untuk melanjutkan karya itu sampai kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali (parousia). Pewartaan Injil secara inkulturatif akan diterima oleh masyarakat setempat dan diungkapkan dalam bentuk keselehan yang merakyat. Kesalehan yang merakyat itu bisa dalam bentuk devosi yang merupakan hasil inkulturasi Injil. Devosi dihidupi sebagai bagian dari pengungkapan iman akan nilai-nilai Injil.
Berbagai cara ditempuh oleh Gereja sampai sekarang dalam mewartakan Injil ke seluruh penjuru dunia. Gereja berusaha untuk membangun dialog dengan agama, budaya, dan konteks sosial masyarakat agar pewartaan Injil dapat berjalan dengan efektif. Graha Maria Annai Velangkanni merupakan satu bentuk pewartaan Injil secara inkulturatif di Keuskupan Agung Medan karena memasukkan unsur-unsur kekristenan dalam bentuk ornamen dan simbol ke tengah-tengah umat Katolik yang mayoritas adalah suku Batak. Tidak banyak unsur budaya Batak yang ada di sana. Namun, orang Batak bisa menerima dan menikmati kehadiran Graha Maria Annai Velangkanni. Setelah berkunjung ke Graha Maria Velangkanni, tidak sedikit orang yang mengalami kegembiraan dan sukacita serta memperoleh kesembuhan dan kekuatan iman. Devosi kepada Santa Perawan Maria dan orang-orang kudus semakin dikenal oleh banyak orang termasuk orang-orang Protestan. Hidup dan karya Romo James dapat dilihat sebagai bentuk kesaksian iman akan pertolongan dan perlindungan Bunda Maria.
152 Dengan demikian, keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni dapat menjadi inspirasi dan dorongan bagi Gereja untuk mengembangkan model-model pewartaan Injil yang membumi dan terinkulturasi di Keuskupan Agung Medan. Model pewartaan Injil melalui bangunan telah dicoba dan ternyata cukup berhasil menggerakkan iman umat. Gereja tidak boleh berhenti hanya pada bentuk bangunan inkulturatif semacam ini. Inkulturasi Injil harus menyentuh seluruh aspek kehidupan orang beriman. Beberapa saran dan langkah pastoral akan disampaikan pada bab berikutnya. Penulis sangat mengharapkan keterlibatan dan peran serta dari berbagai pihak untuk mengembangkan Graha Maria Annai Velangkanni dan pewartaan Injil secara inkulturatif di Keuskupan Agung Medan.
153
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada bagian ini penulis akan membuat kesimpulan umum dari seluruh hasil pembahasan dalam karya tulis ini. Penulis akan membuktikan apa yang diyakini menjadi judul tesis ini yaitu Keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni sebagai Bentuk Pewartaan Injil di Keuskupan Agung Medan. Argumen-argumen pembuktian tesis ini akan diuraikan sebagai berikut.
Dari sudut historisnya, Graha Maria Annai Velangkanni didirikan dengan tujuan mewartakan Injil kepada orang-orang India yang beragama Katolik di Keuskupan Agung Medan. Romo James Bharataputra, SJ memperkenalkan devosi kepada Bunda Maria Annai Velangkanni yang digelari Bunda Penyembuh (Lady of Good Health). Graha Maria Annai Velangkanni dihiasi dengan ornamen dan simbol dari budaya India. Hampir semua hiasan di Graha Maria Annai Velangkanni menggunakan model India dalam menggambarkan kisah-kisah dari Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Namun demikian, ada unsur dari budaya-budaya lain yang sekarang terdapat di Graha Maria Annai Velangkanni seperti miniatur rumah adat Batak dan Melayu serta relief orang-orang yang mengenakan pakaian adat dari berbagai suku yang ada di Sumatera Utara. Seluruh ornamen itu kemudian terarah pada bangunan utama yaitu gereja Santa Perawan Maria. Di dalam gereja terdapat tulisan-tulisan dari Kitab Suci dan lukisan-lukisan yang membawa pengunjung pada lukisan Perjamuan
154 Malam Terakhir. Lukisan tersebut menunjukkan bahwa Graha Maria Annai Velangkanni berpusat pada Kristus.
Meskipun pada awalnya Graha Maria Annai Velangkanni didirikan untuk mewartakan Injil kepada orang-orang India dan untuk menghidupkan devosi kepada Bunda Maria Annai Velangkanni di Medan, dalam perkembangan selanjutnya Graha Maria Annai Velangkanni terbuka untuk umum tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan bahasa. Kehadiran Graha Maria Annai Velangkanni mau menunjukkan bahwa keragaman budaya dan agama bisa dipersatukan dalam satu tempat. Harapan Romo James dan ide penjelmaan dari Latihan Rohani Santo Ignatius, yang mau ditampakkan melalui Graha Maria Annai Velangkanni diarahkan pada pewartaan Injil dan katekese visual kepada umat Katolik dan para pengunjung lainnya.
Dalam penelitian mengenai pengaruh keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni bagi efektivitas pewartaan Injil, ada berbagai temuan yang mendukung tesis ini. Hasil dan analisis penelitian menyatakan bahwa mayoritas pengunjung ke Graha Maria Annai Velangkanni bukanlah orang-orang India, melainkan orang-orang Batak Toba. Keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni dan tidak merasa asing dengan budaya India yang ada di dalamnya. Namun demikian, perhatian kepada orang-orang India tidak menjadi dilupakan. Ada beberapa orang India yang dilibatkan dalam proses pembangunan dan pengelolaan Graha Maria Annai Velangkanni hingga sekarang.
Kekayaan budaya India dan iman kekatolikan ditampilkan melalui ornamen-ornamen dan simbol-simbol yang ada di Graha Maria Annai Velangkanni. Gagasan teologis dan ide pendiri dalam bentuk ornamen dan simbol merupakan hasil kontemplasi tentang misteri inkarnasi dari Latihan Rohani Santo Ignatius. Pengalaman rohani dan kesaksian iman Romo James Bharaputera, SJ terwujud dalam Graha Maria Annai Velangkanni. Dapat dikatakan bahwa setiap orang yang mengenal Graha Maria Annai Velangkanni akan mengenal pula pribadi Romo James. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak banyak
155 pengunjung yang mengenal Latihan Rohani dan Romo James sehingga makna ornamen-ornamen dan simbol-simbol itu masih kabur bagi mereka. Di sinilah pihak pengelola mencari cara dan bentuk katekese untuk memberikan penjelasan yang memadai kepada pengunjung.
Dari temuan-temuan berdasarkan sejarah pendirian dan teologi pendiri Graha Maria Annai Velangkanni, dapat disimpulkan bahwa keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni mempunyai dasar teologis yang kuat. Melalui ornamen dan simbol yang ada, Graha Maria Annai Velangkanni merupakan satu bentuk pewartaan Injil. Ornamen dan simbol itu melukiskan kisah-kisah dan tulisan-tulisan dari Kitab Suci, ajaran Gereja Katolik, dan kekayaan budaya yang beragam di Indonesian. Keragaman budaya membantu pewartaan Injil untuk dapat diterima oleh para pengunjung. Dalam perjumpaan dengan budaya-budaya, Gereja terdorong untuk menemukan cara-cara pewartaan yang membumi dan inkulturatif. Dari banyak cara yang ditempuh, pewartaan Injil melalui bangunan yang artistik dengan ornamen dan simbol perlu terus dikembangkan di Keuskupan Agung Medan.
Graha Maria Annai Velangkanni sangat kental dengan devosi kepada Santa Perawan Maria. Devosi ini diperkenalkan di kalangan orang-orang bukan India. Meskipun devosi ini berasal dari India, tetapi orang-orang bukan India khususnya orang-orang Batak menerimanya.
Sampai sekarang devosi kepada Santa Perawan Maria merupakan devosi yang masih sangat laku di kalangan umat Katolik di Keuskupan Agung Medan. Namun demikian, dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa devosi kepada Santa Perawan Maria dan kepada orang-orang kudus masih belum tampak dalam hidup harian para pengunjung yang beragama Katolik.
Dalam kenyataan sehari-hari, orang-orang Katolik yang mengenal devosi-devosi belum terlibat dalam kehidupan menggereja dan kegiatan kemasyarakatan di RT/RW.
Hasil dan analisis penelitian menunjukkan sikap dan tanggapan para pengunjung mengenai keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni. Beragam tanggapan muncul baik dari orang-orang Katolik maupun bukan Katolik. Pengaruh yang dihadirkan oleh Graha Maria
156 Annai Velangkanni belum begitu nyata dalam keseharian para pengunjung terutama menyangkut hidup rohani dan kehidupan menggereja. Kenyataan ini mendorong berbagai pihak untuk ikut ambil bagian dalam proses pewartaan Injil yang akan terus berlangsung hingga akhir dunia.
Anjuran Apostolik Evangelii Gaudium yang digunakan untuk meneguhkan pandangan penulis mengenai keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni semata-mata mau menunjukkan keterkaitan antara pewartaan Injil dengan inkulturasi dan devosi. Paus Fransiskus mengajak Gereja untuk keluar dan mewartakan Injil dengan penuh sukacita. Gereja hadir dengan merangkul keragaman budaya dalam proses pewartaan Injil. Pewartaan Injil membuka pintu dialog untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan lama dalam Gereja (EG 27) dan mendorong umat Allah menjalani peziarahan di dunia ini (EG 124). Gereja mendorong setiap orang untuk terlibat dalam pewartaan Injil dan membawa sukacita bagi dunia.
Keterlibatan umat secara aktif dalam karya pewartaan Injil ini tidak bisa dilepaskan dari pembaptisan yang telah diterima sebagai anggota Umat Allah. Apapun kedudukan mereka di Gereja atau tingkat pendidikan mereka, semua orang yang dibaptis adalah pelaku-pelaku evangelisasi (EG 120). Inilah yang mendasari penulis untuk memberikan kritik atas karya pewartaan Injil yang dilakukan oleh pribadi tertentu saja, tanpa keterlibatan orang lain.
Pewartaan Injil hendaknya menjadi gerakan bersama, bukan individu. Bisa saja karya pewartaan Injil itu dirintis dan dimulai oleh pribadi tertentu dengan karisma yang dimilikinya.
Seiring dengan perkembangan jaman dan karya pewartaan itu sendiri, kepemimpinan yang didasarkan pada karisma diharapkan menjadi kepemimpinan berdasarkan sistem yang melibatkan pihak-pihak lain.
Dengan demikian, setiap orang yang datang berkunjung ke Graha Maria Annai Velangkani mengalami perjumpaan dengan yang Ilahi, bukan dengan pribadi manusia saja.
Kehadiran Graha Maria Annai Velangkanni membuka pintu bagi pewartaan Gereja ke luar
157 sehingga iman Katolik semakin dikenal dan Kristus semakin dimuliakan. Kekayaan budaya dan adat-istiadat merupakan bagian dari pewartaan Injil yang membumi di suatu daerah.
Pengenalan yang lebih baik akan suatu budaya akan melahirkan model-model pewartaan yang cocok dan sesuai. Meskipun Graha Maria Annai Velangkanni dibangun dengan arsitektur Hindu-Mughal dan ornamen-ornamen yang ada bernuansa budaya India, banyak orang yang tertarik dan datang mengunjunginya. Ini menjadi satu peluang bagi Gereja untuk semakin mengembangkan pewartaan Injil secara inkulturatif.
Dengan pembuktian-pembuktian di atas, penulis dapat menyampaikan gagasan yang menjadi judul tesis ini bahwa keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni merupakan salah
Dengan pembuktian-pembuktian di atas, penulis dapat menyampaikan gagasan yang menjadi judul tesis ini bahwa keberadaan Graha Maria Annai Velangkanni merupakan salah