BAB IV REFLEKSI TEOLOGIS ATAS GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI
4.4 Devosi sebagai Buah Inkulturasi Injil
4.4.1 Makna Devosi kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik
4.4.1 Makna Devosi kepada Santa Perawan Maria dalam Gereja Katolik
Devosi berasal dari bahasa Latin devotio dengan kata kerja devovere yang berarti suatu sikap hati serta perwujudannya, yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang dihargai, dijunjung tinggi, dicintai dan ditujui. Devosi bersifat religius apabila diarahkan kepada Allah dan devosi juga mencakup keterlibatan personal baik dari sisi kognitif, afektif maupun dari sisi emosional seluruh manusia. Artinya, devosi ini tidak melulu menyangkut akal budi dan pikiran manusiawi belaka.70
Bentuk devosi memberikan tanggapan yang lebih efektif atas kebutuhan-kebutuhan religius personal dibandingkan doa-doa liturgis. Banyak jenis-jenis devosi yang muncul sebelum Konsili Vatikan II (sebelum tahun 1962) antara lain novena Medali Mukjizat yaitu devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Bunda yang Berdukacita, Perhentian Jalan Salib, dan Rosario. Ketika doa liturgis dan ritual dalam Gereja kurang dapat mengena di hati umat sehingga kurang berpartisipasi di dalamnya, biasanya akan muncul devosi-devosi. Pada awal Abad Pertengahan, ketika pemahaman dan partisipasi dalam Perayaan Ekaristi turun drastis devosi-devosi populer kepada Ekaristi mulai berkembang. Para ahli mencatat kerinduan abad pertengahan untuk melihat Yang Kudus. Umat akan berjalan dari satu gereja ke gereja lain untuk mengamati konsekrasi tubuh dan darah Kristus selama misa dengan satu kepercayaan bahwa tindakan itu akan mendatangkan keuntungan. Devosi yang lebih seimbang adalah doa sebelum Ekaristi yang disimpan dalam Tabernakel. Devosi semacam itu berkembang dari sentimen adorasi kepada Ekaristi menuju kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi. Akan
70 C. Groenen, Mariologi: Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 150.
131 tetapi kadang-kadang devosi-devosi tersebut menjadi ulah-ulah kesalehan yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan Ekaristi.71
Devosi dapat dipahami sebagai bentuk agama populer atau kesalehan pribadi. Agama populer merupakan jembatan antara perayaan-perayaan yang lebih formal dan ajaran iman secara intelektual di satu sisi, sementara di sisi lain pengungkapan iman dalam budaya yang lazim dari suatu masa historis tertentu. Peziarahan dapat menjadi salah satu contoh sebagai bentuk agama populer yang dapat dipahami oleh orang-orang Kristen yang buta huruf sekalipun karena bentuknya mengkonkretkan beberapa ajaran iman dan merangsang pengungkapan doa. Kesalehan devosional menekankan aspek afektif dari penebusan, misalnya inkarnasi Kristus menjadi lebih dapat dimengerti. Kebaktian liturgis dapat mendorong pengungkapan populer melalui devosi.
Konsili Vatikan II mengafirmasi kembali legitimasi devosi yang disetujui oleh Gereja tetapi ditempatkan dalam prinsip bahwa devosi-devosi harus selaras dengan ibadat Gereja dan berasal dari ibadat itu (bdk. SC 13). Paus Paulus VI mencatat bahwa pedoman dari konsili menjadi sulit untuk diterapkan khususnya menyangkut devosi kepada Bunda Maria. Ada dua persoalan yang dihadapi yaitu beberapa paroki telah menekan devosi-devosi populer sementara yang lain hanya memasukkannya dalam liturgi misalnya novena dalam perayaan Ekaristi. Bapa Suci meminta agar devosi-devosi yang otentik dipertahankan untuk menuntun umat kepada hidup sesuai dengan Injil.72
Salah satu devosi yang cukup terkenal sekarang ini adalah devosi kepada Santa Perawan Maria. Jenis devosi ini menunjukkan bahwa Maria menjadi sasaran devosi, rasa kagum, rasa hormat, rasa kasih dari manusia sehingga terjalin suatu relasi personal dengannya. Maria diakui mempunyai peran yang unggul dan tunggal dalam sejarah keselamatan manusia. Maria secara
71 Richard P. McBrien (ed.), The Harpercollins Encyclopedia Publisher, 414.
72 Richard P. McBrien (ed.), The Harpercollins Encyclopedia Publisher, 415.
132 aktual tetap mempunyai tempat khusus bagi kaum beriman dalam mengenal pribadi Yesus Kristus, Putera-Nya.73
Dari perspektif Mariologi, devosi kepada Santa Perawan Maria mendapat tempat yang istimewa seperti tertulis dalam Konstitusi tentang Liturgi Suci artikel 103:
Dalam merayakan lingkaran tahunan misteri-misteri Kristus itu, Gereja suci menghormati Santa Maria Bunda Allah dengan cinta kasih yang istimewa karena secara tak terceraikan terlibat dalam karya penyelamatan Puteranya. Dalam diri Maria, Gereja mengagumi dan memuliakan buah penebusan yang serba unggul, dan dengan gembira merenungkan apa yang sepenuhnya dicita-cita dan didambakan sendiri bagaikan dalam citra yang paling jernih.
Ungkapan yang senada dapat ditemukan dalam Lumen Gentium Bab IV artikel 66-67 tentang Kebaktian kepada Santa Perawan dalam Gereja. Dengan demikian, devosi kepada Santa Perawan Maria memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan devosi kepada orang-orang kudus dalam Gereja Katolik. Pengakuan dan penghayatan iman akan Yesus Kristus turut serta mencakup pengakuan akan kedudukan dan peran Maria.
Bunda Maria merupakan bagian yang tidak pernah boleh hilang dalam sejarah keselamatan. Tentu saja, poros dan sentral penyelamatan itu sendiri adalah Yesus Kristus.
Devosi kepada Santa Perawan Maria tidak boleh disebut “fakultatif”. Namun demikian, kebaktian kepada Santa Perawan Maria tidak menjadi unsur hakiki dalam penghayatan iman Kristen, tetapi boleh dinilai sebagai unsur pelengkap dan integral bagi penghayatan iman Kristen. Dengan kata lain, devosi kepada Maria tidak boleh terisolasi dari Yesus Kristus, satu-satunya Juru selamat, pusat dan poros seluruh iman kristiani serta penghayatannya.74
Groenen menulis bahwa devosi kepada Santa Perawan Maria dapat dibedakan dua macam: devosi resmi dan devosi rakyat. Devosi resmi berarti devosi yang tercakup dalam ibadat resmi Gereja sejauh Maria diikutsertakan dalam penghayatan iman oleh seluruh umat.
Maria ditempatkan secara istimewa dalam tata penyelamatan. Devosi rakyat berarti devosi
73 C. Groenen, Mariologi: Teologi dan Devosi, 151.
74 C. Groenen, Mariologi: Teologi dan Devosi, 151-152.
133 yang dihidupi oleh orang beriman entah secara perorangan atau bersama-sama dan boleh jadi terikat pada daerah tertentu. Boleh jadi devosi ini dianjurkan oleh para pemimpin tanpa dijadikan devosi resmi. Devosi rakyat ini lebih bebas bergerak dibandingkan devosi resmi karena diungkapkan secara lebih spontan dan afektif-emosional. Devosi ini dapat diungkapkan dalam bentuk yang beragam. Oleh sebab itu, untuk menghindari “keliaran” devosi ini, selalu harus ada otoritas Gereja yang memberi ijin bagi devosi rakyat. Umumnya devosi ini lebih memikat.75
Salah satu ciri khas devosi rakyat adalah penggunaan simbol yang dipinjam dari kebudayaan dan alam pikiran masyarakat setempat. Bisa saja simbol itu tanpa disadari sebenarnya berasal dari agama asli dan tradisi rakyat setempat. Di sinilah perlu pengawasan dari pihak Gereja untuk menghindari kekaburan makna dan dwiarti. Peran teologi juga dibutuhkan untuk semakin memurnikan devosi rakyat dan membimbing perkembangannya agar tidak menjadi liar, terisolasi dari keseluruhan iman serta penghayatannya.76