BAB III PENGARUH KEBERADAAN GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI
3.3 Hasil Penelitian
3.3.4 Pemahaman Responden atas Makna Ornamen dan Simbol
Ada beragam ornamen dan simbol di Graha Maria Annai Velangkanni. Setiap ornamen dan simbol tentu saja mempunyai makna. Berikut ini akan disampaikan pemahaman pengunjung mengenai makna ornamen dan simbol. Tidak semua makna ornamen dan simbol itu diuji kepada para pengunjung. Beberapa ornamen dan simbol yang diteliti adalah miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo, menara dan kubah, gambar manusia yang sedang bersujud, lukisan kisah penciptaan di dinding jalan layang, ornamen dalam gereja, patung Yesus dan perempuan Samaria, dan relief pohon pisang di depan aula St. Anna.
Tabel 3.38 Miniatur Rumah Adat Batak
Miniatur Rumah Adat Batak sebagai Simbol Keragaman Umat Katolik Keuskupan Agung Medan
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 3.3 (2) 4.9 (3) 8.2 (5) 3.3 (2) 12
20-29 tahun 6.6 (4) 1.6 (1) 14.8 (9) 8.2 (5) 19
30-39 tahun 4.9 (3) 1.6 (1) 4.9 (3) 4.9 (3) 10
40-49 tahun 3.3 (2) 4.9 (3) 1.6 (1) 6.6 (4) 10
50 tahun ke atas 11.5 (7) - 1.6 (1) 3.3 (2) 10
29.5 (18) 13.1 (8) 31.1 (19) 26.2 (16) 61
Lebih dari seperempat (26,2%) pengunjung tahu bahwa miniatur rumah adat Batak Toba dan Karo di pintu gerbang masuk merupakan simbol keadaan umat di Keuskupan Agung Medan. Mayoritas umat Katolik di Medan adalah suku Batak Toba. Kebanyakan umat Katolik
86 yang berada di sekitar Graha Maria Annai Velangkanni adalah orang-orang Karo. Ternyata, makna simbol miniatur ini tidak diketahui hampir sepertiga (29,5%) pengunjung. Mereka seringkali tidak memperhatikannya. Jadi mereka tidak tahu dimana keberadaan miniatur rumah adat Batak yang dimaksud. Perlu ada penjelasan di pintu gerbang dari pihak pengelola agar pengunjung bisa menangkap bahwa bangunan tersebut didedikasikan bagi semua orang Katolik yang ada di Keuskupan Agung Medan.
Tabel 3.39 Menara Tujuh Tingkat
Menara Tujuh Tingkat Merupakan Simbol Surga
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 3.3 (2) 3.3 (2) 4.9 (3) 8.2 (5) 12
20-29 tahun 9.8 (6) 4.9 (3) 8.2 (5) 8.2 (5) 19
30-39 tahun 1.6 (1) 3.3 (2) 1.6 (1) 9.8 (6) 10
40-49 tahun 3.3 (2) 1.6 (1) 4.9 (3) 6.6 (4) 10
50 tahun ke atas 6.6 (4) 3.3 (2) 3.3 (2) 3.3 (2) 10
24.6 (15) 16.4 (10) 23 (14) 36.1 (22) 61
Lebih dari sepertiga (36,1%) pengunjung yang tahu tentang menara tujuh tingkat yang merupakan simbol surga. Hampir seperempat (24,6%) pengunjung tidak tahu tentang hal itu.
Sayangnya, orang yang mencari tahu hanya sebagian kecil saja (16,4%). Sangat diharapkan inisiatif dari pihak pengelola untuk selalu menyediakan informasi atau penjelasan yang memadai mengenai simbol menara tujuh tingkat sebagai simbol surga. Memang, dari kejauhan menara itu kelihatan seperti kuil Hindu. Namun setelah semakin dekat, ternyata ada beragam tanda yang menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah gereja. Orang-orang Katolik perlu memahami makna simbol surga dari perspektif budaya India. Dengan demikian, umat Katolik bisa menangkap arti simbol menara tujuh tingkat.
87 Tabel 3.40 Tiga Kubah
Tiga Kubah Merupakan Simbol Tritunggal Mahakudus
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 4.9 (3) 1.6 (1) 1.6 (1) 11.5 (7) 12 Tritunggal Mahakudus. Makna ini diketahui hampir separuh (42,6%) pengunjung. Sepertinya, makna ini tidak sulit untuk ditangkap. Namun demikian, hampir seperlima (19,7%) pengunjung masih tidak tahu akan makna simbol tiga kubah itu. Sekali lagi, penjelasan mengenai makna simbol sangat perlu disampaikan untuk menambah pemahaman para pengunjung.
Tabel 3.40 Gambaran Manusia yang Bersujud dengan Jalan Beraspal
Bentuk Manusia yang sedang Bersujud Kelihatan dari Bagian Depan Gereja di Lantai Dua
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 3.3 (2) 1.6 (1) 1.6 (1) 13.1 (8) 12
Hampir separuh (49,2%) pengunjung tahu tentang gambar manusia yang bersujud.
Gambar itu dibuat dalam bentuk aspal di depan bangunan utama. Gambar itu kelihatan jelas dari bangunan gereja di lantai dua. Lebih dari seperlima (21,3%) tidak tahu mengenai gambar itu karena mereka tidak menyadarinya. Mereka masuk begitu saja tanpa sadar bahwa aspal yang mereka injak adalah bagian dari simbol manusia yang bersujud. Hanya sedikit saja (9,8%)
88 yang mencari tahu tentang gambar itu. Pengunjung tidak terlalu suka direpotkan dengan pencarian makna ornamen dan simbol. Selain itu, petugas yang mampu menerangkan simbol dan ornamen dirasa masih sangat kurang.
Tabel 3.41 Lukisan Kisah Penciptaan di Dinding Jalan Layang
Lukisan Kisah Penciptaan di Dinding Jalan Layang Merupakan Bentuk Pewartaan
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 3.3 (2) 3.3 (2) 1.6 (1) 11.5 (7) 12
20-29 tahun 6.6 (4) 6.6 (4) 8.2 (5) 9.8 (6) 19
30-39 tahun 1.6 (1) - 1.6 (1) 13.1 (8) 10
40-49 tahun 3.3 (2) 3.3 (2) 1.6 (1) 8.2 (5) 10
50 tahun ke atas 6.6 (4) 1.6 (1) - 8.2 (5) 10
21.3 (13) 14.8 (9) 13.1 (8) 50.8 (31) 61
Lukisan kisah Penciptaan dengan mudah dapat dilihat pada dinding jalan layang. Lebih dari separuh (50,8%) pengunjung tahu arti lukisan itu dan maknanya bagi pewartaan. Lukisan itu tergolong mencolok dan dicat dengan warna yang terang. Sejauh pengamatan penulis, anak-anak bisa dengan mudah mengerti tentang kisah penciptaan dengan melihat lukisan tersebut.
Namun demikian, ada lebih dari seperlima (21,3%) pengunjung yang tidak tahu bahwa lukisan kisah penciptaan itu merupakan satu bentuk pewartaan. Barangkali mereka melihatnya sebagai lukisan biasa saja. Biasanya setelah mendapat penjelasan dari petugas, pengunjung dapat menjadi paham dan mengerti.
89 Tabel 3.42 Lukisan tentang Aneka Sakramen pada Langit-langit Gereja
Lukisan pada Bagian Langit-langit Gereja merupakan Bentuk Pewartaan Sakramen dalam Gereja Katolik
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 1.6 (1) 4.9 (3) - 13.1 (8) 12
Pada bagian langit-langit gereja terdapat lukisan enam sakramen. Lebih dari separuh (59%) pengunjung tahu bahwa lukisan itu merupakan bentuk pewartaan tentang sakramen dalam Gereja Katolik. Hanya sebagian kecil (14,8%) yang tidak tahu bahwa gambar di langit-langit gereja merupakan lukisan tentang sakramen-sakramen. Dengan mudah pengunjung mengenali nama-nama sakramen yang dilukis. Dengan demikian, pertanyaan terakhir dari pengamatan pengunjung: “Dimana satu lagi lukisan tentang sakramen? Bukankah Gereja Katolik mengakui ada tujuh sakramen?”. Pertanyaan itu yang akan menghantar para pengunjung untuk mencari dan akhirnya mata tertuju ke altar dan menemukan lukisan yang menunjukkan Sakramen Ekaristi. Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 1.6 (1) 1.6 (1) 1.6 (1) 14.8 (9) 12
90 Lebih dari dua per tiga (67,2%) pengunjung tahu bahwa lukisan perjamuan terakhir menunjukkan bahwa sakramen Ekaristi merupakan pusat hidup Gereja. Hanya sebagian kecil (11,5%) tidak tahu tentang makna lukisan Perjamuan Terakhir. Hal ini menggambarkan pemahaman pengunjung tentang perjamuan Ekaristi yang diwariskan Yesus kepada para murid-Nya. Di bagian panti imam terdapat kutipan: “Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan iman kita. Wafat-Mu kami kenangkan, ya Tuhan yang bangkit mulia. Datanglah kami menanti penuh iman dan harapan”. Kutipan ini diambil dari anamnesis dalam Perayaan Ekaristi. Dengan demikian, para pengunjung disadarkan akan makna Perjamuan Ekaristi sebagai pewartaan iman.
Tabel 3.44 Corak Asia dalam Lukisan Perjamuan Malam Terakhir
Kisah Perjamuan Malam Terakhir Dilukis dengan Corak Asia Dengan Para Murid Duduk Bersila
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 4.9 (3) 3.3 (2) 4.9 (3) 6.6 (4) 12
20-29 tahun 13.1 (8) 4.9 (3) 6.6 (4) 6.6 (4) 19
30-39 tahun 4.9 (3) - 3.3 (2) 8.2 (5) 10
40-49 tahun 1.6 (1) 3.3 (2) 3.3 (2) 8.2 (5) 10
50 tahun ke atas 3.3 (2) 1.6 (1) 1.6 (1) 9.8 (6) 10
27.9 (17) 13.1 (8) 19.7 (12) 39.3 (24) 61
Lebih dari sepertiga (39,3%) pengunjung tahu bahwa kisah perjamuan malam terakhir dilukis tidak seperti biasanya dalam corak Eropa. Lukisan tersebut dibuat dengan corak Asia di mana para murid duduk bersila. Gambaran ini mau menunjukkan bahwa Yesus yang hidup di Asia mempunyai kebiasan dan tradisi Asia. Hampir seperti (27,9%) pengunjung tidak tahu bahwa lukisan itu bercorak Asia. Masih dibutuhkan penjelasan lebih lanjut mengapa para murid dilukis dalam keadaan duduk bersila. Pemahaman akan tradisi dan kebiasaan Asia akan sangat membantu pengelola menerangkan sikap tubuh yang tampak dalam lukisan itu.
91 Tabel 3.45 Patung Yesus dan Perempuan Samaria
Patung Yesus dan Wanita Samaria di Bagian Depan Bangunan Utama Merupakan Lambang Perjumpaan
Manusia dengan Yesus Sumber Air Hidup
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah - 4.9 (3) 4.9 (3) 9.8 (6) 12
Pada bagian depan bangunan utama terdapat patung Yesus dan perempuan Samaria.
Dalam Injil Yohanes kisah perjumpaan itu dituliskan. Yesus menyatakan dirinya Air Hidup.
Lebih dari separuh (55,7%) pengunjung tahu bahwa patung itu adalah Yesus dan perempuan Samaria. Di dekat patung itu terdapat tulisan “Akulah Air Hidup”. Sejauh pengamatan penulis, tidak jarang para pengunjung berfoto di depan patung ini. Hanya sebagian kecil (13,1%) yang tidak tahu mengenai patung tersebut. Barangkali mereka menganggapnya sebagai hiasan semata. Agar pesan pembuatan patung itu sampai kepada pengunjung, pihak pengelola harus terus memberikann penjelasan dan informasi yang memadai.
Tabel 3.46 Relief Pohon Pisang di depan Aula St. Anna
Relief Pohon Pisang di Bagian Depan Aula Santa Anna merupakan Simbol Kehidupan Abadi dalam Budaya India
N Tidak tahu Mencari tahu Sedikit tahu Tahu
20 tahun ke bawah 3.3 (2) 4.9 (3) 1.6 (1) 9.8 (6) 12
92 Lebih dari sepertiga (36,1%) pengunjung tahu tentang relief pohon pisang di depan Aula Santa Anna merupakan simbol kehidupan abadi dalam budaya India. Pohon pisang tidak pernah mati. Kalau pohon pisang ditebang, akan selalu muncul tunas baru. Itulah yang terjadi dengan kehidupan orang beriman. Biji itu harus jatuh ke tanah dan mati untuk menghasilkan buah yang banyak. Hampir sepertiga (26,2%) pengunjung tidak tahu mengenai relief tersebut.
Barangkali bagi mereka relief pohon pisang hanyalah hiasan belaka. Selain itu, mereka mengaku tidak terlalu memperhatikan keberadaan relief tersebut. Mereka masuk ke Aula Santa Anna begitu saja tanpa peduli mengenai makna ornamen di sekitarnya. Sejauh pengamatan penulis, tidak banyak pengunjung yang berfoto di dekat relief pohon pisang.