• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Hutan Kota PT JIEP Sejarah Singkat

5.1 Keragaman Tanaman

Hutan Kota Kampus UI menurut konsep penanamannya terbagi menjadi tiga lokasi yaitu zona Wales Barat, zona Wales Timur dan zona Vegetasi Asli. Hal tersebut serupa dengan penelitian Toni (2009), bahwa indeks kesamaan komunitas Sorenson antara zona di Hutan Kota UI ini memiliki nilai rendah dan sangat rendah yang menunjukkan adanya perbedaan perencanaan penanaman pada setiap zona Hutan Kota UI.

Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) dan akasia daun besar (Acacia mangium Willd) pada awalnya memang sengaja ditanam di Hutan Kota UI sebagai jenis yang cepat tumbuh (pioneer legum) untuk mengatasi dominasi penutupan lahan oleh alang-alang (Imperata cylindrica (L.) P. Beauv) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) yang mencakup areal 85% dari luas seluruh kampus (Waryono 2008). Perubahan vegetasi di Hutan Kota UI terjadi karena penghijauan tahun 1984, 1998, 1999, 2000, 2004 dan 2008 (Toni 2009). Variasi struktur dan komposisi tumbuhan dalam suatu komunitas dipengaruhi oleh modifikasi habitat, kompetisi dengan spesies introduksi, tuntutan manusia untuk spesies tertentu dan sebagai produksi, serta perubahan lingkungan yang cepat seperti fluktuasi iklim (Alvey 2006). Jika dilihat kondisi pada Hutan Kota UI, variasi ini terjadi umumnya disebabkan faktor antroposentris. Hal ini pun terjadi pada Hutan Kota PT. JIEP dan Hutan Kota Srengseng. Perbedaan INP antara

ketiga hutan kota disebabkan perbedaan penanaman dan kemampuan tumbuh masing-masing jenis tanaman, sedangkan perbedaan INP antara tingkat pertumbuhan di antaranya disebabkan karena cukup rapatnya penutupan tajuk dari tingkat tiang maupun pohon sehingga menyebabkan jenis-jenis tertentu tidak dapat bertahan hidup dan tumbuh dengan optimal. Di samping itu adanya persaingan untuk mendapatkan hara mineral, air dan ruang tumbuh antara individu dari suatu jenis juga berpengaruh terhadap perbedaan INP dalam tingkat pertumbuhan.

Bentuk struktur vegetasi horizontal pada Hutan Kota UI menyerupai huruf J terbalik (eksponensial negatif), bentuk struktur vegetasi seperti ini sering ditemukan pada tegakan hutan tidak seumur atau hutan alam dan berada dalam kondisi yang seimbang (Onrizal, Kusmana, Saharjo, Handayani, Kato 2005). Kurva pertumbuhan struktur horizontal pada Hutan Kota UI ini disebabkan oleh komposisi tegakan pada lokasi penelitian memiliki kerapatan individu/ha yang menurun dengan bertambahnya DBH. Selain itu, hal ini juga berarti bahwa populasi pohon di Hutan Kota UI terdiri atas campuran seluruh kelas diameter dengan didominasi oleh pohon berdiameter kecil, sehingga dapat menjamin kelangsungan tegakan di masa mendatang.

Berbeda dengan dua hutan kota lainnya yaitu Hutan Kota Srengseng dan Hutan Kota PT. JIEP yang bentuk struktur vegetasi tidak mengikuti bentuk umum struktur tegakan hutan alam (J terbalik). Pada Hutan Kota PT. JIEP hal ini disebabkan karena bibit yang ditanam oleh pengelola sering dimakan oleh kambing yang digembalakan di hutan kota oleh masyarakat sekitar sehingga banyak tanaman yang belum sempat tumbuh optimal, sehingga struktur vegetasinya memiliki sebaran yang mendekati normal yang didominasi oleh DBH 20 cm – 29,9 cm. Struktur vegetasi pada Hutan Kota Srengseng hampir menyerupai struktur tegakan hutan alami yang cenderung menurun seiring dengan pertambahan kelas diameter, namun naik pada kelas diameter 20 cm – 29,9 cm dan kemudian menurun semakin bertambahnya kelas diameter.

Berdasarkan waktu pembangunan tiga hutan kota ini, Hutan Kota PT. JIEP adalah yang paling muda, oleh sebab itu hutan kota ini belum mencapai klimaks dalam perkembangan ekologinya. Namun, dengan kondisi tingkat pertumbuhan pancang dan tiang yang rendah dikhawatirkan regenerasi pada hutan kota ini tidak berjalan optimal. Pengelolaan hutan kota yang tepat sangat diperlukan dalam menangani keberlanjutan perkembangan Hutan Kota PT. JIEP.

Hutan Kota UI merupakan hutan kota tertua dibandingkan dengan dua hutan kota lainnya. Perkembangan hutan kota ini dimulai dari penghijauan secara besar-besaran dengan menggunakan tanaman fast growing dengan maksud untuk mengalahkan dominansi alang-alang yang sebelumnya menghuni area hutan kota tersebut. Seiring dengan perkembangannya, pengelola Hutan Kota UI melakukan pembiaran dalam pengelolaan sama halnya dengan hutan alam, namun, untuk penanaman pohon tetap dilakukan agar dapat membantu regenerasi dalam hutan kota ini. Hal ini tercermin pada kerapatan individunya yang semakin menurun dengan pertambahan DBH sehingga regenerasi terjadi pada hutan kota ini. Hutan Kota Srengseng juga memiliki regenerasi yang cukup baik dilihat dari kerapatan individu yang semakin tinggi seiring pertambahan diameternya, walaupun pada tingkat pertumbuhan pancang memiliki kerapatan individu yang lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan tiang. Hal ini diduga karena Hutan Kota

Srengseng terus melakukan penanaman untuk meningkatkan kualitas hutan kota untuk regenerasi hutan kota tersebut.

Terdapat empat faktor gangguan yang dapat merusak struktur hutan kota, yaitu antropogenik secara langsung contohnya penanaman atau penebangan dalam skala besar, kemudian antropogenik secara tidak langsung contohnya aksi manusia secara tidak langsung yang dapat mengubah struktur vegetasi seperti adanya peperangan. Faktor ketiga adalah natural secara langsung contohnya adalah kebakaran, adanya serangan hama. Faktor terakhir adalah faktor alam secara tidak langsung yang mengubah struktur vegetasi yang diikuti perubahan struktur populasi manusia seperti gempa bumi yang besar. Pengelola dapat melakukan sedikit pencegahan terhadap antropogenik secara tidak langsung tetapi mereka dapat mengontrol pengaruh dari gangguan langsung dalam hutan kota melalui perencanaan yang benar (Nowak 1993).

Tanaman di Hutan Kota UI dan Hutan Kota PT. JIEP lebih mendominasi jenis tanaman lokal dibandingkan dengan Hutan Kota Srengseng. Tanaman yang masuk dalam golongan indigenous species ini perlu dikonservasi untuk mempertahankan keanekaragaman hayati (Arifin dan Nakagoshi, 2010). Keberadaan tanaman introduksi sebetulnya tidak menjadi masalah terhadap ancaman keragaman tanaman di ruang terbuka hijau selama tanaman tersebut tidak bersifat invansif, menjadi gulma dan sulit dikendalikan.