• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Tanete, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba yang berlangsung selama 10 hari yaitu mulai tanggal 12 sampai 23 Maret 2018.

Fokus penelitian ini adalah implementasi program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas yang meliputi kegiatan penunjang upaya kesehatan, manajemen Puskesmas, dan barang penunjang upaya kesehatan.

Informan penelitian berjumlah lima orang terdiri dari empat informan biasa yaitu Kepala Puskesmas, Kepala Tata Usaha, Perawat, Dan Kader Poskesdes (dalam hal ini pelaksana program kesehatan di Poskesdes) dan penanggung jawab BOK sebagai informan kunci.

Karakteristik informan dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 5.1

Karakteristik Informan Program Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Di Puskesmas Tanete Kec. Bulukumpa Kab.Bulukumba, Tahun

2017 No. Inisial

Informan

Umur

(Tahun) Jenis Kelamin Pendidikan

Terakhir Keterangan

1. SN 32 Perempuan S1 Informan kunci

2. HH 55 Perempuan S1 kedokteran Informan biasa

3. AM 42 Laki-laki S2 Informan biasa

4. HW 46 Perempuan

S1 Informan biasa

5. FW 28 Perempuan

D3 keperawatan Informan biasa Sumber : Data Primer

60

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dan telaah dokumen tentang dimensi dan indikator penelitian, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut :

1. Kegiatan Penunjang Upaya Kesehatan

Kegiatan penunjang upaya kesehatan merupakan kegiatan dalam rangka mendukung upaya kesehatan dan penyelenggaraan manajemen BOK di Puskesmas.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai penggunaan dana BOK pada kegiatan penunjang upaya kesehatan, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...maksudnya ini dek semua kegiatan program yang dilakukan baik itu di Puskesmas, Poskesdes, kantor camat...” (B1, HH, 55th).

“...ini dek maksudnya semua kegiatan program yang dilakukan baik itu di Puskesmas, Poskesdes dll, contohnya misalnya penyuluhan...” (A1, SN, 32th).

Berdasarkan kutipan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan penunjang upaya kesehatan adalah semua kegiatan program yang dilakukan yang tersusun dalam POA baik itu di Puskesmas, Poskesdes,dll misalnya penyuluhan.

Kemudian hasil wawancara dengan responden tentang penggunaan dana BOK untuk pelaksanaan kegiatan penunjang upaya kesehatan, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...iya dek alhamdulillah semua kegiatan di Puskesmas ini terlaksana dengan rutin dan tepat waktu sesuai yang telah direncanakan di POA sebelumnya...” (B1, HH, 55th).

61

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa semua kegiatan upaya penunjang kesehatan yang telah direncanakan di POA itu semuanya terlaksana dengan rutin dan tepat waktu.

Berdasarkan hasil wawancara dengan crosschek informan mengenai

penggunaan dana BOK pada kegiatan penunjang upaya kesehatan yang dilaksanakan di Poskesdes, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...iya dek semua kegiatan di Poskesdes ini dananya dari BOK, baik itu penyuluhan, kegiatan Posyandu, kelas ibu hamil, pokoknya itu semua pake dana BOK...” (D1, HW, 46th).

Berdasarkan crosschek pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa semua kegiatan di Poskesdes itu sumber dananya adalah BOK baik itu penyuluhan, kegiatan Posyandu dan kelas ibu hamil.

2. Manajemen Puskesmas

Manajemen Puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan luaran Puskesmas yang efektif dan efisien demi tercapainya tujuan Puskesmas. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh Puskesmas akan membentuk fungsi-fungsi manajemen.

Untuk dapat terselenggaranya peayanan kesehatan di Puskesmas secara optimal, tepat sasaran, efisien, dan efektif perlu dilaksanakan manajemen Puskesmas yang mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengendalian pengawasan, dan pertanggungjawaban. Seluruh kegiatan diatas merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan berkesinambungan.

62

Berdasarkan petunjuk teknis (Juknis) BOK, pemanfaatan dana untuk kegiatan manajemen Puskesmas sebagaimana disebutkan di atas yang dapat dibiayai dari BOK meliputi :

1) Biaya pembelian ATK dan penggandaan bahan.

2) Biaya transportasi dan konsumsi untuk peserta rapat dalam rangka P1-P2-P3sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3) Biaya petugas Puskesmas untuk mengikuti orientasi manajemen BOK di kabupaten/kota (biaya transportasi, biaya akomodasi, dan uang saku) sesuai ketentuan yang berlaku.

4) Biaya transportasi dan/atau biaya pos untuk pengiriman aporan ke Dinas kesehatan kabupaten/kota.

5) Biaya transportasi dalam rangka konsultasi kegiatan BOK di lingkup/wilayah dinas kesehatan kabupaten/kota.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, diketahui bahwa penggunaan dana BOK untuk kegiatan manajemen Puskesmas seperti untuk pelaksanaan proses perencanaan tingkat Puskesmas (P1), lokakarya mini (P2), dan pengawasan pengendalian (P3), masih ada beberapa permasalahan serta kendala yang ditemukan.

a. Perencanaan Tingkat Puskesmas (P1)

Perencanaan Tingkat Puskesmas (P1) adalah sebagai suatu proses kegiatan yang sistematis untuk menyusun atau mempersiapakan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Puskesmas pada tahun berikutnya

63

untuk meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kepada masyarakat dalam upaya mengatasi masalah-masalah kesehatan setempat.

Output dari Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) adalah berupa Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) dalam bentuk Plan Of Action (POA), yang selanjutnya dikonsultasikan ke Dinas Kesehatan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai

penggunaan dana BOK pada kegiatan Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP), peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...yang dibiayai itu dek kalau penyusunan PTP konsumsi, ATKnya juga dibagi ketiap-tiap penanggung jawab program untuk buat POAnya masing-masing...” (C1, AM, 42th).

“...yang dibiayai disini dek pertama, transport peserta yang datang rapat di Puskesmas, seperti bidan desa kadang dia bawa pendamping 1-2orang itu semua yang dibiayai tapi kalau yang diPuskesmasji rapatnya itu tidak dibiayai, yang kedua itu ATK yang digunakan dalam penyusunan PTP, kemudian yang terakhir itu biaya konsumsinya...”

(A1, SN, 32th).

“...jadi yang dibiayai itu transportnya, transport peserta yang datang untuk rapat (perjalanan dinas) dalam hal ini bidan desa, kalau kita disini kan itu dilaksanakan ditempat jadi tidak adaji transport untuk staff yang ada di Puskesmas, kemudian itu tadi ATK, ATK itu dalam rangka penyusunan PTP, kemudian itu juga tadi biaya konsumsi...”

(B1, HH, 55th).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dibiayai oleh BOK untuk kegiatan perencanaan tingkat Puskesmas yaitu biaya transportasi untuk peserta rapat (dalam halini perencanaan tingkat Puskesmas), biaya untuk keperluan ATK serta biaya konsumsi. Adapun untuk biaya transportasi

64

hanya diberikan kepada bidan desa yang dalam hal ini punya lokasi kerja sendiri, sementara yang lainnya tidak diberikan biaya transportasi karena lokasi kerjanya adalah Puskesmas Tanete yang menjadi tempat pelaksanaan rapat PTP.

Selanjutnya dari telaah dokumen yang dilakukan peneliti, dalam laporan realisasi kegiatan bantuan oprasional kesehatan (BOK) untuk bulan januari tahun 2018, pada poin manajemen Puskesmas ada penggunaan dana BOK untuk transport mengantar laporan dan transport konsultasi BOK. Setelah di konfirmasi pada informan diperoleh jawaban sebagai berikut :

“...ya seharusnya begitu dek tapi karena keterbatasan anggaran, masih banyak kegiatan lain yang harus dibiayai maka pengelola hanya dipatok satu kali satu bulan dibayarkan transportnya untuk konsultasi.

POA saja contohnya, konsul 2-3 kali baru bisa acc tapi awal tahun belum lagi kalo kita bawa laporan, tapi tetap yang terhitung hanya satu kali, itu kebijakan dinas kabupaten...” (C1, AM, 42th).

Informan juga menambahkan penggunaan dana BOK untuk keperluan transportasi konsultasi BOK dan mengantar laporan, ungkapannya dapat dilihat pada kutipan wawancara sebagai berikut :

“...iya ada memang, tapi kan begitu ada outputnya itukan tidak langsung di acc, itu haruski dikonsultasikan, konsultasinya itu biasa sampai 2 atau 3 kali, tapi biasa juga langsung acc jikalau dibawa ke dinkes mungkin tidak mau pusing juga, hehehe. Lebih dari itu konsultasi saja...” (B1, HH, 55th).

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, diperoleh jawaban bahwa memang benar ada penggunaan dana BOK untuk keperluan transportasi konsultasi BOK dan transport untuk mengantar laporan ke

65

dinas kesehatan kabupaten dan itu sudah dilaksanakan setiap kali hendak konsultasi laporan. Namun karena keterbatasan anggaran maka dinas kesehatan kabupaten membuat sebuah kebijakan berupa biaya transportasi untuk konsultasi BOK hanya bisadibayarkan satu kali dalam satu bulan, walaupun menurut informan terkadang konsultasinya bisa sampai dua atu tiga kali.

Pada wawancara dengan pengelola BOK Puskesmas Tanete sebagai informan kunci diperoleh jawaban sebagai berikut :

“...konsultasi pengelola yang di acc yang dibayarkan dinas itu cuma satu kali, padahal konsultasinya banyak kali. Itu karena keterbatasan anggaran dan masih banyak kegiatan yang harus dibiayai, makanya pengelola hanya dipatok satu kali satu bulan dibayarkan transportnya untuk melakukan konsultasi. Konsultasi POAsaja konsul 2-3 kali baru bisa acc tapi yang terhitung itu Cuma satu kali karena kebijakan dari dinas begitu dek...” (A1,SN, 32th).

Hasil wawancara diatas menggambarkan, pengelola BOK mengakui bahwa memang yang ditanggung oleh dinas kabupaten untuk pembiayaan konsultasi BOK baik itu konsultasi laporan maupun yang lainnya itu hanya satu kali saja meskipun terkadang konsultasi tersebut dilakukan berkali-kali.

Selain itu, hal yang menjadi kendala terhadap pelaksanaan perencanaan tingkat Puskesmas lainnya adalah terlambatnya cair dana BOK untuk keperluan operasional kegiatan PTP, hal ini tergambar dari pernyataan informan sebagai berikut :

“...PTP ini dek kan dilaksanakan diawal tahun, trus dana BOK ini pasti telat cair, jadi kalau begitu kita gunakan dana lain dulu dek, dananya Puskesmas...” (A1, SN, 32th).

66

Dari pernyataan informan diatas, dapat disimpulkan bahwa terkait dalam hal pelaksanaan PTP kendala yang dialami ketika akan dilaksanakan kegiatan perencanaan tingkat Puskesmas (PTP), dana yang digunakan saat itu untuk operasional pelaksanaan kegiatan (seperti pembelian ATK,konsumsi, dll) ukan merupakan dana BOK tapi dana Puskesmas yang ter-save disebabkan karena dana BOK telat cair.

Selanjutnya dari pernyataan tersebut diatas, dapat menimbulkan pertanyaan, dana apakah yang digunakan untuk menggantikan dana Puskesmas yang dipakai untuk biaya operasional selama kegiatan PTP tersebut ? penjelasannya dapat dilihat pada pernyataan informan selanjutnya sebagai berikut :

“...nanti anggarannya keluar baru dananya Puskesmas digantikan karena ini tidak bisa dijadikan alasan kegiatan tidak jalan dan tentu bukti-bukti pengeluaran kita sudah harus siapkan semua untuk pertanggungjawaban...” (B1,HH,55th).

“...yah itu tadi dek kita gunakan dulu dana lain atau dananya Puskesmas, nannti ketika dana BOK sudah cair, baru ini dana digantikan karena kita tidak boleh menjadikan alasan karena telat cair makanya ini juga kegiatan tidak ada yang jalan...” (A1, SN, 32th).

Dari pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa operasional yang digunakan pada kegiatan PTP yang menggunakan dana Puskesmas nanntinya akan digantikan setelah dibuat pertanggungjawaban kegiatan tersebut dan uangnya cair dani dinas kesehatan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan dana BOK pada kegiatan perencanaan tingkat Puskesmas masih

67

mengalami banyak hambatan berupa keterbatasan anggaran serta keterlambatan pencairan dana BOK dari dinas kesehatan kabutaen Bulukumba. Hal ini dipengaruhi oleh dua faktor diantaranya : 1) keterlambatan alokasi dari pemerintah pusat, 2) kemampuan dan kapasitas dari sumberdaya manusia di Puskesmas dalam membuat Plan Of Action (POA).

b. Penggerakan Pelaksanaan (P2) Melalui Lokakaryamini

Proses manajemen perencanaan belum terlaksana dengan baik apabila tidak dilanjutkan dengan pemantauan dan perencanaan ulang.

Tindak lanjut bertujuan untuk menilai sampai seberapa jauh pencapaian dan hambatan-hambatan yang dijumpai oleh para pelaksananya pada bulan yang lalu, sekaligus melakukan pemantauan rencana kegiatan Puskesmas sehingga dapat dibuat perencanan ulang yang lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Disamping itu, kita ketahui bersama bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan Puskesmas memerlukan pengorganisasian dan keterpaduan baik lintas program maupun lintas sektor. Adapun realisasi dari manajemen penggerakan pelaksanaan diterapkan dalam bentuk forum pertemuan yang dikenal dengan lokakarya mini.

Pada dasarnya ruang lingkup lokakarya mini meliputi dua hal pokok, yaitu :

1. Lintas program

68

Memantau pelaksanaan kegiatan Puskesmas berdasarkan perencanaan dan memecahkan masalah yang dihadapi serta tersusunnya rencana kerja baru.

2. Lintas sektor

Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dan dukungan sektor-sektor yang bersangkutan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan.

Lokakarya mini Puskesmas sendiri terbagi dalam dua bentuk, yaitu : 1. Lokakarya mini bulanan Puskesmas, merupakan alat untuk

penggerakan pelaksanaan kegiatan bulanan dan juga monitoring bulanan kegiatan Puskesmas dengan melibatkan lintas program intern Puskesmas.

2. Lokakrya mini tribulan, dilakukan sebagai penggerakan pelaksaaan dan monitoring kegiatan Puskesmas dengan melibatkan lintas sektoral, badan penyantun Puskesmas atau badan sejenis dan mitra yang lain Puskesmas sebagai wujud tanggungjawab Puskesmas perihal kegiatan.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan responden tentang pembiayaan operasional kegiatan lokakarya mini yang menggunakan dana BOK, peneliti mendapatkan jawaban sebagai berikut :

“...yang dibiayai itu samaji seperti PTP, ATK sama transportasi yang termasuk disini transportasi pengelola dan konsul laporan...”(C1, AM, 42th).

69

“...sama dek dengan PTP yang dibiayai itu transportasi, ATK peserta rapat dan konsumsi...” (A1, SN, 32th).

Menurut hasil wawancara dengan responden, diketahui bahwa penggunaan dana BOK pada kegiatan lokakarya mini adalah sama seperti kegiatan perencanaan tingkat Puskesmas yaitu pembelian konsumsi untuk peserta lokakarya mini, transportasi peserta jika lokmin dilaksanakan diPoskesdes, transportasi pengelola untuk konsultasi laporan, serta pembelian ATK untuk keperluan lokakarya mini Puskesmas.

Selanjutnya dari telaah dokumen yang dilakukan peneliti, dalam laporan realisasi kegiatan bantuan operasional kesehatan (BOK) tahun 2017, pada poin penggerakan pelaksanaan (P2) yaitu pelaksanaan lokakarya mini bulanan dan lokakarya mini tribulanan sudah terlaksana.

Setelah dikonfirmasi pada informan diperoleh jawaban sebagai berikut :

“...iya dek ini lokakarya mini rutin dilakukan setiap bulan di Puskesmas...” (A1, SN, 32th).

Pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan dari pihak kader Poskesdes, berikut kutipan wawancara :

“...ini rutin dek dilakukan karena setiap bulan itu ada undangan pemberitahuan dari bidan desa untuk ikut lokmin bulanan di Puskesmas...” (D1, HW, 46th).

Berdasarkan hasil wawancara dan telaah dokumen yang telah dilakukan diperoleh bahwa kegiatan lokakarya mini yang diadakan Puskesmas Tanete itu rutin dilakukan setian bulan.

70

Pada wawancara mengenai pelaksanaan lokakarya mini tribulan dengan pengelola BOK Puskesmas Tanete sebagai informan kunci diperoleh jawaban sebagai berikut :

“...iya dek lokakarya mini tribulanan atau rapat lintas sektor inijuga rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali dikantor camat dek...” (A1, SN, 32th).

Pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan dari pihak kader Poskesdes sebagai informan crosschek, berikut kutipan wawancara :

“...ini lokakarya mini tribulanan rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali dek karena kami kader juga ikut kalau rapat di kantor camat...” (D2, FW, 28th).

Berdasarkan hasil wawancara dan telaah dokumen yang dilakukan diperoleh bahwa kegiatan lokakarya mini tribulanan yang dilaksanakan Puskesmas Tanete di kantor camat itu rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai kendala yang dialami pada poin penggerakan pelaksanaan (P2) melalui lokakarya mini, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...kalau ini kayaknya tidak adaji kendala dek, amanji...” (A1, SN, 32th).

“...kalau kendala dari kami sebagai kader Poskesdes nda adajidek...”

(D1, HW, 46th).

Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat kendala dalam penggerakan pelaksanaan (P2) baik itu lokakarya mini bulanan maupun lokakarya mini tribulanan.

71

c. Pengawasan Pengendalian Dan Penilaian (P3)

Pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya tentang pelaksanaan tugas dan kegiatan apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak.

Pengendalian adalah segala usaha atau kegiatan yang untuk mengendalikan atau menjamindan mengarahkan agar sesuatu tugas atau pekerjaan berjalan dengan semestinya.

Penilaian adalah prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara menyeuruh dengan cara sistematik dengan membandingkan kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan.

Penilaian hasil kegiatan menggunakan kriteria penilaian seperti penilaian pemantauan (progress), tingkat kecukupan (adequacy), efektifitas, efisiensi, dan dampak.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan tentang kegiatan pengawasan, pengendalian, dan penilaian diperoleh jawaban sebagai berikut :

“...itu dek kepala Puskesmas selalu memeriksa setiap anggaran yang dikeluarkan, kemudian kegiatan yang dilaksanakan itu harus sepengetahuan kepala Puskesmas juga...” (A1, SN, 32th).

“...yang berperan penting disini saya dek, dimana ini P3 saya lakukan di akhir tahun, akhir bulan november. Setelah saya lakukan ini P3 saya biasanya didampingi KTU setelah itu dilakukan rapat dengan semua penanggungjawab program dek diPuskesmas, kita mau bicarakan apakah semua program berhasil dilakukan atau tidak ada perubahan setelah program dilaksanakan...” (B1, HH, 55th).

72

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa yang bertanggungjawab dalam kegiatan program penata laksanaan pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3) di Puskesmas Tanete adalah kepala Puskesmas dan kepala tata usaha karena semua anggaran dan semua program yang dilaksanakanitu harus sepengetahuan kepala Puskesmas terlebih dahulu.

Dari hasil wawancara tersebut dapat menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bentuk pelaksanaan pengawasan pengendalian dan penilaian yang dilakukan kepala Puskesmas. Penjelasan mengenai hal tersebut dipaparkan oleh informan dalam kutipan wawancara sebagai berikut :

“...itu tadi dek saya jelaskan P3 ini dilakukan di akhir tahun, biasanya akhir bulan november, tapi setiap ada program yang dilaksanakan itu selalu saya monitoring secara langsung di Poskesdes, kalau saya tidak bisa hadir saya suruh KTU yang wakili...” (B1, HH, 5th).

Pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan dari pihak pengelola BOK sebagai informan kunci, berikut kutipan wawancara :

“...ini dek dilakukan pada akhir tahunji, biasanya kapus dan KTU yang turun langsung ke Poskesdes...” (A1, SN, 32th).

Pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan dari pihak kader Poskesdes sebagai crosschek informan, berikut kutipan wawancara :

“...itu tadi saya bilang dek setiap ada kegiatan di Poskesdes, kepala Puskesmas yang turun langsung memonitoring...” (D1, HW, 46th).

Berdasarkan kutipan tersebut, bentuk pelaksanaan pengawasan, pengendalian dan penilaian yang dilakukan oleh kepala Puskesmas

73

Tanete yaitu evaluasi pada akhir tahun dan menurut crosschek yang telah dilakukan setiap program yang dilaksanakan di Poskesdes itu selalu dimonitoring oleh kepala Puskesmas atau diwakili.

Berdasarkan uraian dan hasil wawancara yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa bentuk kegiatan dari pengawasan, pengendalian dan penilaianyang dilakukan di Puskesmas adalah kepala Puskesmas melakukan kontrol pada setiap kegiatan yang akan dilaksanakan, sedang dilaksanakan, ataupun yang telah dilaksanakan. Kontrolnya tersebut dalam bentuk pelaporan setiap kegiatan ke kepalaPuskesmas.

Selain itu, menurut informan lokakarya mini yang dilakukan juga merupakan salah satu bentuk pengawasan pengendalian dan penilaian karena dalam kegiatan lokakarya mini yang dipimpin oleh kepalaPuskesmas dilaksanakan kegiatan evaluasi program yang telah dilaksanakan satu bulan yang lalu, kemudian dibuat juga perencanaan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksankan oleh masing-masing program untuk satu bulan ke depan dalam bentuk POA (Planning Of Action).

3. Barang Penunjang Upaya Kesehatan

Yang dimaksud dengan barang penunjang upaya kesehatan adalah segala sesuatu yang berwujud dan digunakan sebagai pendukung operasional pelayanan kesehatan promotif dan preventif yang dilakukan Puskesmas dan jaringannya, Poskesdes, dan Posyandu dan tidak untuk pembelian barang yang menimbulkan aset tetap.

74

Besaran alokasi barang penunjang upaya kesehatan maksimal 10% dari alokasi dana BOK Puskesmas. Barang penunjang upaya kesehatan tersebut meliputi : pemeliharaan ringan Puskesmas dan jaringannya, barang penunjang untuk tujuan penyuluhan, dan barang fisik yang tidak menimbulkan aset tetap.

Hasil penelitian terhadap program pembiayaan BOK untuk variabel barang penunjang upaya kesehatan dibuat dalam bentuk narasi sebagai berikut :

a. Pemeliharaan Ringan Puskesmas

Pemeliharaan ringan adalah proses memelihara, menjaga atau merawat dan atau penggantian fasilitas Puskesmas dan ajringannya serta Poskesdes dan Posyandu yang cukup menggunakankemampuan teknis dan peralatan sederhana (tidak memerlukan kemampuan teknis khusus atau peralatan khusus) (Kemenkes RI, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian terhadap penggunaan dana BOK untuk keperluan pemeliharaan ringan di Puskesmas, didapatkan jawaban sebagai berikut :

“...begini dek disini kami nda gunakan dana BOK untuk pemeliharaan ringan karena ini dana BOK nda pernah cukup untuk pembiayaan program jadi kita gunakan dana lain untuk pemeliharaan Puskesmas...” (B1, HH, 55th).

Pernyataan diatas sesuai dengan pernyataan dari pihak pengelola BOK sebagai informan kunci, berikut kutipan wawancara :

“...disini dek kita nda pake dana BOK untuk pemeliharaan ringan, ada memmang di juknis tapi uangnyaji JKN kita pake, karena itu dana BOK

75

nda pernah cukup, memang ratusan juta tapi begitumi habis semua untuk biaya program itupun biasanya ada yang dapat 1-2 juta per program...” (A1, SN, 32th).

Berdasarkan kutipan tersebut diketahui bahwa penggunaan dana BOK untuk keperluan pemeliharaan ringan di Puskesmas itu tidak digunakan walaupun sebenarnya terlampir dalam juknis. Pemeliharaan ringan yang telah dilaksanakan di Puskesmas Tanete tidak menggunakan dana BOK melainkan dana dari JKN.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan mengenai penggunaan dana BOK pada poin kegiatan pemeliharaan Puskesmas, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...tidak ada dek untuk ini tapi tetap kita adakan pemeliharaan Puskesmas tapi dananya bukan dari BOK...” (A1, SN, 32th).

“...banyak sekalimi yang sudah direnovasi dek mulai dari bagian pendaftaran, ruang tunggu, dll tapi itu tidak menggunakan dana BOK karena nda pernah cukup...” (C1, AM, 42th).

Berdasarkan hasil penelitian dan observasi yang dilakukan, didapatkan bahwa pemeliharaan ringan di Puskesmas Tanete itu telah dilaksanakan namun tidak menggunakan dana BOK melainkan menggunakan dana lain karena dana BOK tidak pernah cukup untuk membiayai semua program yang talah direncanakan dalam POA.

b. Barang Penunjang Untuk Tujuan Penyuluhan

Dalam petunjuk teknis (Juknis) BOK dijelaskan bahwa yang termasuk dalam barang penunjang untuk tujuan penyuluhan adalah

76

pencetakan atau penggandaan media KIE dan bahan-bahan yang digunakan untuk interaksi penyuluh kepada masyarakat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden tentang barang penunjang untuk tujuan penyuluhan, peneliti memperoleh jawaban sebagai berikut :

“...maksudnya ini dek barang yang digunakan dalam proses penyuluhan itu contohnya brosur, pamflet, poster, dan baliho, ada juga banner...” (B1,HH, 55th).

“...kalau barang penunjang untuk tujuan penyuluhan itu termasuk poster, baliho, pokoknya barang-barang yang dipakai untuk penyuluhan dek...” (A1, SN,32th).

Berdasarkan kutipan pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang termasuk barang penunjang utnuk tujuan penyuluhan adalah poster, baliho, brosur, pamflet, dan banner.

Untuk penggunaan dana BOK pada barang penunjang untuk tujuan penyuluhan, peneliti memperoleh jawaban yang seragam dari informan sebagai berikut :

“...sampai saat ini balihoji saja disediakan kalo mauki penyuluhan karena itu poster-poster adaji dibagikan dari dinas kesehatan jadi nda adaji uangnya dipake kalau Cuma poster, ituji tadi baliho...” (B1, HH, 55th).

“...di sini dek yang kami beli itu Cuma baliho dengan banner, karena kalao poster, pamflet dan brosur itu adaji bantuan dari dinas kesehatan jadi nda beliji...” (A1, SN, 32th).

Berdasarkan hasil wawancara dengan responden, diketahui bahwa untuk penggunaan dana BOK pada barang penunjang untuk tujuan penyuluhan hanya digunakan untuk pembelian barang penunjang

Dokumen terkait