• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.9. Kerangka Kerja

Laki-laki dengan Skizofrenia

Persetujuan setelah penjelasan

Informed consent

Pengukuran Skor MoCA-Ina

Kriteria Eksklusi

Analisis Data Kriteria Inklusi

Kelompok 1= Laki-laki skizofrenia dengan gejala negatif dominan

(skor ≥ 4)

Pengukuran skor PSP

Kelompok 2 = laki-laki skizofrenia dengan gejala negatif tidak dominan(skor ≤ 3) Pengukuran

Skor PANSS

Hasil

-Wawancara MINI ICD 10 -Penilaian skor CDSS

3.10 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat ukur dan

2 Usia Usia adalah lamannya hidup dihitung sejak tanggal lahir

6 Pendidikan Jenjang pendidikan normal formal terdiri dari pendidikan

No Variabel Definisi Operasional Alat ukur MoCA-INA, yang terdiri dari 30 butir terdiri atas: fungsi eksekutif,

3.11. Analisis Data

Setelah data dikumpulkan, dilakukan pengolahan data dengan tahapan sebagai berikut : (1) Editing, merupakan langkah untuk meneliti kelengkapan data yang diperoleh melalui wawancara; (2) Koding, adalah usaha untuk mengklasifikasikan jawaban yang ada menurut jenisnya; (3) Tabulasi, adalah kegiatan memasukkan data - data hasil penelitian kedalam tabel berdasarkan variabel yang diteliti; (4) Analisis data, data penelitian dianalisis menggunakan uji statistik SPSS. Dilakukan uji normalitas terhadap data masing-masing kelompok dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test oleh karena subjek penelitian ≤ 50.

Apabila data berdistribusi normal akan dilakukan analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan dan apabila data berdistribusi tidak normal maka akan dilakukan transformasi log untuk menghasilkan data yang berdistribusi normal, namun apabila upaya ini tidak berhasil, maka akan dilakukan uji alternatif dengan Mann Whitney U Test.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Studi ini dilakukan di poli rawat jalan RSJ Prof. DR. M. Ildrem Medan.

Studi ini dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Juni 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non probability sampling jenis consecutive sampling. Studi ini berhasil mendapatkan 80 orang subjek penelitian yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan skor PANSS gejala negatif dominan (skor ≥ 4) sebanyak 40 subjek dan kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan skor PANSS gejala negatif tidak dominan (skor ≤ 3) adalah 40 subjek.

3.1. Karakteristik demografik subjek penelitian Uji normalitas karakteristik demografik

Untuk karakteristik demografik pada studi ini disajikan pada tabel 4.1.

Sebelum melakukan analisis lebih lanjut untuk karakteristik demografik dilakukan uji normalitas data dengan uji Shapiro Wilk karena jumlah subjek pada studi ini ≤ 50 subjek. Variabel numerik pada studi ini disajikan dalam rerata dan simpang baku karena berdistribusi normal (p>0,05) dan median (minimum-maksimum) karena berdistribusi tidak normal (p<0,05) dapat dilihat dilampiran. Untuk variabel kategorik disajikan dalam bentuk jumlah dan persen.

Tabel 4.1. Karakteristik Demografik laki-laki dengan skizofrenia suku Batak berdasarkan skor PANSS gejala negatif.

Karakteristik

bChi Square Test (Continuity Correction)

cFisher Test

*CDSS : Calgary Depression for Schizophrenia

Pada tabel 4.1 memperlihatkan karakteristik demografik dengan median untuk usia pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 35,50 tahun dengan nilai minimum 25 tahun dan nilai maksimum 40 tahun dan median usia laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 37,00 tahun dan nilai minimum 25 tahun dan nilai maksimum 40 tahun. Median lama sakit laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan 6,50 tahun dan nilai minimum 5 tahun dan nilai maksimum 10 tahun dan median lama sakit laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 7,00 tahun dan nilai minimum 5 tahun dan nilai maksimum 10 tahun. Pada tingkat pendidikan pada kelompok laki-laki suku Batak dengan gejala negatif dominan tingkat pendidikan SMP 24 orang (60,0%), SMA dan Diploma/PT 16 orang (40,0%) dan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan tingkat pendidikan SMP 23 orang (57,5%), SMA dan Diploma/PT 17 orang (42,5%). Pada status pernikahan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan status menikah 12 orang ((30,0%) dan tidak menikah 28 orang (70,0%) dan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan status menikah 16 orang (40,0%) dan tidak menikah 24 orang (60,0%). Pada status pekerjaan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah status bekerja 13 orang (32,5%), tidak bekerja 27 orang (67,5%) dan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan status bekerja 16 orang (40,0%) dan tidak bekerja 24 orang (60,0%). Pada penggunaan rokok pada kelompok laki-laki dengan

skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan tidak merokok sebanyak 5 orang (12,5%), perokok ringan dan sedang 35 orang (87,5%) dan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan tidak merokok adalah 2 orang (5,0%), perokok ringan dan perokok sedang 38 orang (95,0%). Median total skor PANSS laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 60,00 dan nilai minimum 57,00 dan nilai maksimum 66,00. Median total skor PANSS laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 47,00 dan nilai minimum 40,00 dan nilai maksimum 54,00. Median skor CDSS laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 1,00 dan nilai minimum 0,00 dan nilai maksimum 3,00. Median skor CDSS laki-laki suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 0,00 dengan nilai minimum 0,00 dan nilai maksimum 3,00.

Tabel 4.2. Skor PANSS subskala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan

Keterangan n Rerata (s.b)

laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan

40 31,55 (2,03)

Tabel 4.2. Menunjukan rerata skor PANSS subskala negatif untuk kelompok ODS laki-laki suku Batak dengan gejala negatif dominan nilai rerata 31,55 dan simpang baku 2,03.

Tabel 4.3. Skor PANSS subskala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

Keterangan n Rerata (s.b)

ODS laki-laki suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

40 17,68 (1,85)

Tabel 4.3. Menunjukan rerata skor PANSS subskala negatif untuk kelompok ODS laki-laki suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan nilai rerata 17,68 dan simpang baku 1,85.

Tabel 4.4. Median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan

Keterangan n Median

(Minimum-Maksimum) Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak

dengan gejala negatif dominan

40 20,00

(16,00-24,00)

Tabel 4.4 Menunjukan median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 20,00 dengan nilai minimum 16,00 dan nilai maksimum 24,00.

Tabel 4.5. Rerata skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

Keterangan n Rerata (s.b)

Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

40 21,15 (2,64)

Tabel 4.5 Menunjukan rerata skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 21,15 dan

Tabel 4.6. Rerata skor PSP laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan

Keterangan n Rerata (s.b)

Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan

40 56,30 (7,06)

Tabel 4.6 Menunjukan rerata skor PSP Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 56,30 dan simpang baku 7,06.

Tabel 4.7. Median skor PSP laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala gejala negatif tidak dominan

Keterangan n Median

(Minimum-Maksimum) Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan

gejala negatif tidak dominan

40 56,50

(45,00-71,00)

Tabel 4.7 Menunjukan median skor PSP Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 56,50 dengan nilai minimum 45,00 dan nilai maksimum 71,00.

Tabel 4.8. Perbedaan total skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan Perbedaan total skor MoCA-INA n Median

(minimum-maksimum)

p Laki-laki dengan skizofrenia suku

Batak dengan gejala negatif dominan Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak

Tabel 4.8 Menunjukan median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 20,00 dengan total

skor minimum adalah 16,00 dan total skor maksimum adalah 24,00. Median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 21,50 dengan total skor minimum adalah 16,00 dan total skor maksimum adalah 26,00.

Sebelum dilakukan uji komparatif pada baseline data, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data variabel MoCA-INA pada tabel 4.8 dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test karena jumlah sampel ≤ 50 dan didapatkan bahwa variabel MoCA-INA tidak berdistribusi normal (terlampir), oleh karena itu dilakukan percobaan normalitas data dengan menggunakan transformasi log namun usaha tersebut juga tidak berhasil dan kemudian dilakukan uji alternatif dengan Mann-Withney U Test.33 Hasil uji komparatif dari variabel MoCA-INA didapatkan nilai p = 0,114-0,057, untuk hipotesis dua arah p = 0,114 (p>0,05) pada variabel MoCA-INA dan disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan dari kedua kelompok.

Tabel 4.9. Perbedaan total skor PSP laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan Perbedaan total skor PSP n Median

(minimum-maksimum)

p Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak

dengan gejala negatif dominan

Laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

40

Tabel 4.9 Menunjukan median skala PSP laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 55,00 dengan dan total skor minimum adalah 45,00 dan total skor maksimum adalah 70,00. Median skala PSP laki-laki dengan skizofrenias suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan

adalah 56,50 dengan total skor minimum adalah 45,00 dan total skor maksimum adalah 71,00.

Sebelum dilakukan uji komparatif pada baseline data, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data variabel skala PSP pada tabel 4.9 dengan menggunakan Shapiro-Wilk Test karena jumlah sampel ≤ 50 dan didapatkan bahwa variabel skala PSP tidak berdistribusi normal (terlampir), oleh karena itu dilakukan percobaan normalitas data dengan menggunakan transformasi log namun usaha tersebut juga tidak berhasil dan kemudian dilakukan uji alternatif dengan Mann-Withney U Test.33 Hasil uji komparatif dari variabel skala PSP didapatkan nilai p = 0,174-0,087, untuk hipotesis dua arah p = 0,174 (p>0,05) pada variabel skala PSP dan disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan dari kedua kelompok.

BAB 5 PEMBAHASAN

Studi ini merupakan suatu studi analitik komparatif numerik dua kelompok tidak berpasangan dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan instrumen penilaian skor MoCA-INA dan skor PSP, dimana subjek penelitian adalah laki-laki dengan skizofrenia suku Batak yang datang berobat ke poli rawat jalan RSJ Prof. DR. M. Ildrem Medan, Sumatera Utara. Subjek pada penelitian ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok pertama adalah laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan (skor ≥ 4) dan kelompok kedua adalah laki-laki dengan skizofrenia suku Batak gejala negatif tidak dominan (skor ≤ 3), jumlah subjek secara keseluruhan untuk dua kelompok adalah 80 subjek, dimana masing-masing kelompok terdiri dari 40 subjek yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mengisi kuesioner, peneliti juga telah mendapatkan persetujuan dari subjek penelitian melalui pengisian informed consent. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujan dari komite etik penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Untuk analisis statistik digunakan IBM SPSS Statistic dengan analisis uji T tidak berpasangan bila data berdistribusi normal dan uji Mann Withney U bila data tidak berdistribusi normal setelah sebelumnya dilakukan transformasi log namun usaha tersebut gagal. Untuk uji normalitas data digunakan uji normalitas Shapiro-Wilk karena jumlah sampel ≤ 50 subjek yaitu berjumlah 40 subjek untuk masing-masing kelompok.

Pada tabel 4.1 pada karakteristik demografik untuk usia diperoleh median usia pada studi ini yaitu pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku batak dengan gejala negatif dominan adalah 35,50 dan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 37,00. Studi yang dilakukan oleh Han pada tahun 2012 di Cina, dimana mereka mendapatkan rerata usia kelompok skizofrenia laki-laki 51,6 dengan simpang baku 8,7. Hal ini disebabkan karena pada studi tersebut usia sampel yang ambil adalah 25 sampai dengan 70 tahun.3 Studi yang dilakukan oleh Bagney dan kawan-kawan tahun 2015 di Spanyol mendapatkan rerata usia kelompok skizofrenia laki-laki 41,6 dengan simpang baku 8,0. Hal ini disebabkan karena pada studi tersebut usia sampel yang diambil adalah 18 sampai dengan 60 tahun.5

Pada tabel 4.1 Didapatkan median lama sakit pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 6,50 sedangkan median lama sakit pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 7,00. Studi yang dilakukan oleh Han pada tahun 2012 di Cina,dimana mereka mendapatkan bahwa rerata lama sakit pada kelompok skizofrenia laki-laki 10,8 tahun dengan simpang baku 9,8.3 Studi yang dilakukan oleh Bagney dan kawan-kawan pada tahun 2015 di Spanyol, dimana mereka mendapatkan rerata lama sakit pada kelompok skizofrenia laki-laki 19,0 tahun dengan simpang baku 7,0.5

Fase kronik adalah fase dimana pasien telah mengalami penyakit lebih dari 5 tahun sejak awal perjalanan penyakitnya. Gejala dapat berupa gejala negatif dan gejala sisa yang berat, dengan kemiskinan dari ekspresi emosi dan perasaan, keterbatasan dalam berfikir dan berbicara, kekurangan energi, kesulitan untuk

mengalami ketertarikan atau kesenangan untuk hal-hal yang sebelumnya mereka sukai atau kegiatan yang biasanya dianggap menyenangkan. Ketidakmampuan untuk menciptakan hubungan yang erat sesuai untuk usai mereka, jenis kelamin dan kondisi keluarga dan adanya gangguan konsentrasi dan perhatian yang dimanifestasikan dalam semua konteks sosial.13

Pada tabel 4.1 Tingkat pendidikan terbanyak pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan (skor≥4) adalah SMP ( pendidikan 9 tahun) sebanyak 24 orang (60,0%), Sedangkan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan (skor ≤3) SMP (pendidikan 9 tahun) sebanyak 23 orang (57,5%). Studi yang dilakukan oleh Wu dan kawan-kawan tahun 2014 di Cina didapatkan rerata tingkat pendidikan pada orang dengan skizofrenia adalah 10,96 tahun dengan simpang baku 1,92.18

Studi yang dilakukan oleh Wu dan kawan-kawan tahun 2017 di Cina didapatkan rerata tingkat pendidikan pada orang dengan skizofrenia adalah 11,2 tahun dengan simpang baku 1,8.19 Studi yang dilakukan oleh Bagney dan kawan-kawan tahun 2015 di Spanyol didapati rerata tingkat pendidikan 11,1 tahun dengan simpang baku 3,7.5

Pada tabel 4.1 Status pernikahan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan terbanyak pada status yang tidak menikah sebanyak 28 orang (70,0%) dan kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan terbanyak pada status yang tidak menikah sebanyak 24 orang (60,0%). Studi yang dilakukan oleh Bagney dan kawan-kawan tahun 2015 di Spanyol didapati status pendidikan

terbanyak pada orang dengan skizofrenia adalah tidak menikah sebanyak 62 orang (77,5%).5 Pasien yang memiliki skor gejala negatif pada skizofrenia lebih tinggi dikaitkan dengan fungsi yang lebih buruk, orang-orang yang menunjukkan penarikan sosial yang lebih tinggi dan hubungan yang lebih buruk kemungkinan cenderung tidak menikah/lajang.1

Pada tabel 4.1 Status pekerjaan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan terbanyak pada status tidak bekerja sebanyak 27 orang (67,5%) dan kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan terbanyak pada status yang tidak bekerja 24 orang (60,0%) dan status yang bekerja sebanyak 16 orang (40,0%).

Pasien yang memiliki skor gejala negatif pada skizofrenia lebih tinggi dikaitkan dengan fungsi yang lebih buruk, orang-orang yang menunjukkan penarikan sosial yang lebih tinggi dan hubungan yang lebih buruk kemungkinan besar akan menganggur.1

Pada tabel 4.1 Jumlah penggunaan rokok perhari tidak terdapat perbedaan pada kedua kelompok. Penggunaan rokok pada kelompok subjek laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan terbanyak pada perokok ringan dan perokok sedang yaitu 35(87,5%) dan penggunaan rokok pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan terbanyak adalah pada perokok ringan dan perokok sedang yaitu sebanyak 38(95,0%). Hal ini dikarenakan pada kedua kelompok dibatasi dalam penggunaan rokok perharinya, dimana kedua kelompok subjek penelitian ini merupakan perokok ringan dan perokok sedang dimana jumlah penggunaan rokok perhari adalah <20 batang perhari. Studi yang dilakukan oleh Han dan

kawan-kawan 2012 di Cina mendapatkan hasil proporsi merokok pada kelompok skizofrenia kronik laki-laki adalah sebanyak 79,5%.3

Pada tabel 4.1 Skor total PANSS pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan didapati median 60,00 dengan nilai minimum 57,00 dan nilai maksimum 66,00 dan median total skor PANSS laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 47,00 dengan nilai minimum 40,00 dan nilai maksimum 54,00 dengan nilai p <0,001-0,0005a . Studi yang dilakukan oleh Han pada tahun 2012 di Cina mendapatkan rerata total skor PANSS 60,9±13,1.3

Pada Tabel 4.1 Skor CDSS pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dengan median 1,00 dan skor CDSS pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan dengan median 0,00. Hal ini sesuai dengan kriteria diagnostik poin h. Gejala-gejala “negatif‟ seperti sikap sangat masa bodoh (apatis), pembicaraan yang terhenti, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi.

Jadi pada kedua kelompok sampel penelitian tidak mengalami gangguan depresi.11 Pada tabel 4.2 dan 4.3 Menunjukan rerata skor PANSS subskala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan rerata skor PANSS gejala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan. Hasil studi ini menunjukan bahwa secara statistik terdapat perbedaan rerata skor gejala negatif yang bermakna antara dua kelompok. Rerata skor PANSS subskala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia

suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 31,55 dan rerata skor PANSS subskala negatif pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 17,68 dengan nilai p < 0,001. Hal ini disebabkan karena pada kedua sampel penelitian memiliki skor PANSS subskala negatif yang berbeda, pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan (skor ≥4) merupakan keparahan gejala negatif adalah sedang/moderat. Sedangkan pada kelompok laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan (skor ≤3) merupakan keparahan gejala negatif yang ringan.

Pada tabel 4.8 Menunjukan bahwa tidak ada perbedaan skor MoCA-INA antara laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan, oleh karena itu maka total skor MoCA-INA tidak berbeda pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dibandingkan dengan laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan. Median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan adalah 20,00 dengan total skor maksimum adalah 24 dan total skor minimum adalah 16. Median skor MoCA-INA laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif tidak dominan adalah 21,50 dengan total skor maksimum adalah 26 dan total skor minimum adalah 16 dengan nilai p = 0,114-0,057.

Studi yang dilakukan oleh Han dan kawan-kawan tahun 2012 di Cina, dari studi yang mereka lakukan pada 122 orang kelompok skizofrenia laki-laki didapatkan hasil bahwa variabel kognitif yang dinilai dengan Repeatable battery

for the assessment of neuropsychological status (RBANS) berhubungan dengan skor gejala negatif atau total PANSS pada kelompok skizofrenia laki-laki dengan nilai p < 0,01. Variabel kognitif yang diukur dengan RBANS pada kelompok skizofrenia laki-laki yang mengalami penurunan nilai skor adalah memori segera dengan rerata 59,9±18,1, memori tertunda dengan rerata 66,6±20,3 dan total skor RBANS dengan rerata 68,6±16,0. Edukasi yang rendah, gejala negatif yang berat, usia tua, merokok, lama sakit, dan jenis kelamin laki-laki berhubungan dengan fungsi kognitif pada skizofrenia.3 Hal tersebut mungkin disebabkan oleh karena pada studi tersebut usia sampel yang diambil adalah 25-70 tahun dengan rerata usia 51,6 tahun.3

Studi yang dilakukan oleh Savilla dan kawan-kawan pada tahun 2008 di Australia, mereka menggunakan instrumen PANSS untuk menilai keparahan gejala, Brief assessment of cognition in schizophrenia (BACS) untuk menilai fungsi neuropsikologi dan Quality of life scale (QLS) untuk menilai kualitas hidup pasien. Dari studi yang mereka lakukan didapatkan hasil bahwa fungsi kognitif yang buruk memiliki hubungan dengan keparahan/peningkatan gejala negatif dengan nilai p <0,05, fungsi kognitif yang buruk berhubungan dengan kualitas hidup dengan nilai p <0,01, keparahan gejala yang lebih berat berhubungan dengan kualitas hidup yang buruk pula dengan nilai p <0,05. Variabel kognitif yang diukur dengan BACS pada kelompok sampel yang mengalami penurunan nilai skor adalah verbal memory dengan rerata 30,96±11,37, working memory dengan rerata 17,19±5,55, motor function dengan rerata 58,18±17,67, attention and speed of information processing dengan rerata 40,25±13,40, verbal fluency dengan rerata 42,25±14,39, executive function dengan rerata 14,11±4,30. Fungsi

kognitif yang lebih buruk ditemukan secara moderat dan signifikan terkait dengan gejala negatif skizofrenia yang lebih parah.4 Hal tersebut mungkin disebabkan

kognitif yang lebih buruk ditemukan secara moderat dan signifikan terkait dengan gejala negatif skizofrenia yang lebih parah.4 Hal tersebut mungkin disebabkan

Dokumen terkait