• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN

1.5. Manfaat penelitian

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan skor Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-INA) dan skor Personal and Social Performance Scale (PSP) pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan dengan gejala negatif tidak dominan.

2. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar pertimbangan untuk melakukan pemeriksaan fungsi kognitif dan fungsi sosial/personal secara rutin pada praktek klinik.

3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan sebagai acuan bahan

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Skizofrenia

2.1.1 Sejarah

Benedict Morell (1809-1873), seorang dokter psikiatri dari Perancis menggunakan istilah demence prococe untuk pasien yang buruk dimana penyakitnya dimulai pada masa remaja. Emil Kraeplin (1856-1926) melatinkan istilah morel menjadi demensia prekoks (dementia precox), istilah yang menekankan pada suatu proses kognitif (demensia) dan onset yang awal (prekoks) yang karakteristik untuk gangguan. Kemudian Kraeplin membedakan pasien demensia prekoks dari pasien yang diklasifikasikannya sebagai terkena psikosis manik depresif atau paranoia. Pasien dengan demensia prekoks ditandai sebagai mengalami perjalanan jangka panjang yang buruk dan gejala klinis umum berupa halusinasi dan waham.7

Eugen Bleuler (1857-1939), mengajukan istilah “skizofrenia” dan istilah tersebut menggantikan “demensia prekoks” di dalam literatur, istilah untuk menandakan adanya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku pada pasien yang terkena. Bleuler menggambarkan gejala fundamental spesifik untuk skizofrenia, termasuk suatu gangguan yang ditandai dengan gangguan asosiasi khusunya kelonggaran asosiasi, gangguan afektif, autism dan ambivalensi. Bleuler menggambarkan gejala pelengkap yang termasuk waham dan halusinasi. Kurt Schneider (1887-1967), dalam klasifikasinya tentang gangguan berpikir membuat diagnosis skizofrenia menjadi lebih dapat dipercaya dengan mengidentifikasi kelompok dari gejala skizofrenia. Gejala pertama kali mencakup berbagai bentuk

dari halusianasi, thought withdrawal, thought insertion, thought broadcasting, delusi, dan pengalaman perasaan dan perilaku yang dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Adanya salah satu simtom tersebut ditandai dengan ketiadaan dari intoksikasi, cedera kepala dan gangguan afektif yang jelas.7

2.1.2 Definisi

Skizofrenia adalah suatu gangguan psikotik dengan penyebab yang belum diketahui yang ditandai dengan gangguan pikiran, mood dan tingkah laku.

Gangguan pikiran ditunjukan dengan penyimpangan dalam menilai realitas, kadang-kadang disertai waham dan halusinasi, disertai dengan kumpulan pikiran yang terpisah-pisah yang mengakibatkan gangguan dalam bicara. Gangguan mood meliputi ambivalensi dan afek inappropriate atau respon afektif yang terbatas.

Gangguan perilaku ditandai dengan penarikan diri atau perilaku yang aneh. Hal tersebut kemudian dikarakteristikan sebagai gejala-gejala positif dan negatif (defisit). Meskipun bukan merupakan gangguan kognitif, namun skizofrenia sering menyebabkan kerusakan fungsi kognitif (misalnya berpikir kongkret dan gangguan dalam memproses informasi).8

2.1.3 Epidemiologi

Di Amerika Serikat, prevalensi skizofrenia seumur hidup adalah sekitar 1 persen, yang mana berarti bahwa sekitar satu dari 100 orang akan menderita skizofrenia selama hidup mereka. Prevalensi antara laki-laki dan perempuan adalah sama, tetapi serangan pertama pada laki-laki munculnya lebih awal. Puncak serangan pada laki-laki antara usia 10-25 tahun dan pada perempuan adalah 25-35

tahun. Sebanyak 90 persen pasien yang mendapatkan pengobatan skizofrenia berusia antara 15-55 tahun. Serangan dibawah usia 10 tahun atau diatas usia 60 tahun dilaporkan jarang. Secara umum perempuan dengan skizofrenia mempunyai hasil (outcome) yang lebih baik dibandingkan pada laki-laki. Onset terjadi setelah usia 45 tahun, gangguan ditandai dengan onset yang lama pada skizofrenia.

Beberapa studi menunjukan bahwa laki-laki lebih cenderung mengalami simtom negatif dibandingkan perempuan dan bahwa perempuan cenderung memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada laki-laki sebelum onset penyakit.7

Menurut data dari Rikesdas tahun 2018, prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia seperti gangguan psikosis mengalami peningkatan, data yang didapatkan cukup signifikan jika dibandingkan dengan data dari Riskesdas pada tahun 2013 prevalensi gangguan jiwa di Indonesia adalah sebanyak 1,7 persen per 1000 penduduk, dan pada tahun 2018 naik menjadi 7% per 1000 penduduk. Angka pemasungan untuk orang dengan gangguan jiwa berat pada tahun 2013 adalah sebesar 14,3 persen sedangkan pada tahun 2018 naik secara signifikan yaitu sebanyak 31,5 persen.9

2.1.4 Etiologi

2.1.4.1 Faktor Genetik

Terdapat kontribusi genetik bagi sebagian bahkan mungkin semua bentuk dari skizofrenia, dan proporsi yang tinggi dari varians dalam kecenderungan untuk skizofrenia adalah karena adanya pengaruh genetik, misalnya, skizofrenia dan gangguan yang berkaitan dengan skizofrenia (seperti, skizotipal, skizofrenia, dan

gangguan kepribadian paranoid) dimana hal tersebut muncul pada nilai hubungan yang meningkat diantara kerabat biologis pasien skizofrenik.7

2.1.4.2 Faktor Biokimiawi 1.Hipotesis Dopamin

Rumusan yang paling sederhana dari hipotesis dopamin adalah berdasarkan bahwa skizofrenia merupakan hasil dari terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik, dimana aktivitas hipodopaminergik ini bertanggung jawab terhadap timbulnya gejala positif pada skizofrenia. Teori ini berkembang dari dua observasi. Pertama, efikasi dan potensi dari obat-obatan antipsikotik (misalnya, agonis reseptor dopamin yang berkaitan dengan kemampuan mereka untuk bertindak sebagai anatgonis dari reseptor D2 yang dapat mengurangi gejala positif. Kedua, obat-obatan yang mengaktivkan aktivitas dopaminergik merupakan Psycotomimetic.7

2. Hipotesis Serotonin

Saat ini beberapa hipotesis menyatakan bahwa serotonin yang berlebihan merupakan penyebab dari gejala positif dan gejala negatif dari skizofrenia.7

3. Hioptesis Norepinefrin

Degenerasi neuronal selektif didalam system saraf norepinefrin dapat menjelaskan aspek simtomatologi dari skizofrenia. Namun, data biokimiawi dan farmakologi yang berhubungan dengan hal ini masih belum meyakinkan.7

4. Hipotesis ɣ - aminobutyric acid (GABA)

Neurotransmiter ɣ - aminobutyric acid (GABA) memiliki pengaruh pada patofisiologi skizofrenia berdasarkan penemuan bahwa beberapa penderita skizofrenia mengalami pengurangan neuron GABAergik di hipokampus. GABA memiliki efek regulator terhadap aktivitas dopamin dan kehilangan neuron inhibitory GABAergic dapat menyebabkan hiperaktivitas dari neuron dopaminergik.7

5.Hipotesis Neuropeptida

Neuropeptide seperti suntance P dan neurotensin terletak dilokasi yang sama dengan katekolamin dan neurotransmitter indoalmin dimana katekolamin dan neurotransmitter indoalmin mempengaruhi neuropeptide. Perubahan dari mekanisme neuropeptide dapat memfasilitasi, meghambat, atau merubah pola tujuan dan system saraf.7

6. Hipotesis Glutamat

Glutamat merupakan neurotransmitter utama dalam sistem saraf pusat dan kadang-kadang dianggap sebagai “master switch” dari otak, karena dapat membangkitkan hampir semua neuron sistem saraf pusat.7

7. Hipotesis Asetilkolin dan nikotin

Pada beberapa studi postmortem pada skizofrenia telah menunjukan penurunan reseptor muskarinik dan nikotinik di bagian kaudal dari putamen, hipokampus, dan beberapa bagian dari prefrontal korteks, dimana reseptor tersebut berperan dalam

susunan sistem neurotransmiter yang terlibat dalam kognitif, dimana terjadi gangguan dalam skizofrenia.7

2.1.5 Simtom Klinis

Beberapa penelitian membuat sub kategori dari simtom penyakit kedalam 5 bagian, yaitu: simtom positif, simtom negatif, simtom kognitif, simtom agresif, simtom depresif/cemas.10

Gambar 1: Lokalisasi domain gejala skizofrenia.10

Dikutip dari Stahl Psychosis and Schizophrenia. In Stahl’s Essential Psychopharmacology:

Neuroscientific Basis and Practical Application. 4th ed. Cambridge; Cambridge University Press; 2013

1. Simtom positif

Waham, halusinasi, penyimpangan dan pernyataan yang berlebih-lebihan dalam berbahasa dan berkomunikasi, pembicaraan/perilaku yang tidak beraturan, perilaku katatonik dan agitasi.

2. Simtom negatif

Afek tumpul, penarikan emosi, Rapport yang buruk, ketidakpedulian, menarik diri dari kehidupan social, gangguan berfikir abstrak, alogia, avolisi, anhedonia, gangguan pemusatan perhatian.

3. Simtom kognitif

Gangguan berfikir, inkoherensia, asosiasi yang longgar, neologisme, gangguan pngolahan informasi.

4. Simtom agresif

Permusuhan, penghinaan verbal, penyiksaan fisik, menyerang, melukai diri sendiri, merusak barang-barang, impulsive, tindakan seksual.

5. Simtom depresif/cemas

Mood depresi, mood cemas, perasaan bersalah, ketegangan, iritabiltas.10

2.1.6 Kriteria Diagnosis

Kriteria diagnosis untuk skizofrenia berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ- III) adalah sebagai berikut:11

Gangguan skizofrenia berdasarkan PPDGJ-III umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasardan khas, dan ditandai oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul (blunted). Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual yang dipertahankan, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang kemudian. Walaupun tidak ada gejala-gejala patognomonik yang khusus, dalam praktek ada manfaatnya untuk membagi gejala-gejala tersebut kedalam kelompok-kelompok yang sering teradapat secara bersama-sama, misalnya:11

a. “thought echo”, “thought insertion”, atau “withdrawal‟ dan „thought broadcasting”

b. Waham dikendalikan (delusion of control), waham yang dipengaruhi (delusion of influence) atau “passivity”, yang jelas merujuk pada pergerakan tubuh atau pergerakan anggota gerak atau pikiran, perbuatan atau perasaan (sensation) khusus; persepsi delusional;

c. Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri, atau jenis suara halusianasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh;

d. Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budayanya dianggap tidak wajar serta sama sekali mustahil, seperti misalnya mengenai indentitas keagamaan atau politik, atau kekuatan dan kemampuan “manusia super”

(misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain);

e. Halusinasi yang menetap dalam setiap modalitas, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang/melayang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus-menerus;

f. Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan (interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

g. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), sikap tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, dan stupor;

h. Gejala-gejala “negatif‟ seperti sikap sangat masa bodo (apatis), pembicaraan yang terhenti, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

i. Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa aspek perilaku perorangan, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tidak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self-absorbed attitude) dan penarikan diri secara sosial.11

Pedoman Diagnostik

Persyaratan yang normal untuk diagnosis skizofrenia ialah harus adanya sedikit gejala tersebut diatas yang amat jelas (dan biasnya dua gejala atau lebih apabila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) dari gejala yang termasuk salah satu dari kelompok gejala (a) sampai (d) tersebut diatas, atau paling sedikit dua gejala dari kelompok (e) sampai (h), yang harus selalu ada secara jelas selama kurun waktu satu bulan atau lebih. Kondisi-kondisi yang memenuhi persyaratan gejala tersebut tetapi yang lamanya kurang dari satu bulan (baik diobati atau tidak) harus didiagnosis pertama sekali sebagai gangguan psikotik lir-skizofrenia akut (F23.2) dan baru diklasifikasi ulang kalau gejala-gejala tersebut menurun selama kurun waktu yang lebih lama.11

2.1.7 Perjalanan Penyakit

1. Fase pre psikotik atau prodromal

Pada fase ini dimana subjek memiliki gejala yang tidak spesifik sebelum fase akut atau memilki latar belakang keluarga dengan gangguan risiko skizofrenia, adapun tujuan terapi pada fase ini adalah untuk menghindari, menunda, atau meminimalkan resiko transisi ke psikosis. Intervensi akan ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mengurangi risiko keparahan. Pengobatan farmakologi dapat digunakan pemakaian antipsikotik dosis rendah. Intervensi psikoterapi bertujuan meningkatkan pemahaman tentang penyakit, mempromosikan adaptasi pasien, meningkatkan harga diri, strategi bertahan, dan fungsi adaptif, mengurangi perubahan emosional dan komorbiditas gangguan lain, mengontrol stres yang terkait dengan adanya gejala positif atau untuk mencegah kekambuhan.12

2. Fase akut

Pada fase ini dimana penyakit jelas, gejala positif muncul dan pasien umumnya memilki kontak pertama dengan layanan kesehatan mental menerima pengobatan farmakologis pertama kali. Gejala pada fase ini meliputi gejala positif seperti waham, halusinasi, bicara tidak teratur, dan adanya tingkat keparahan dalam perilaku. Rekomendasi pengobatan pada fase ini adalah menggunakan antipsikotik atipikal pada dosis optimum, dengan tujuan tambahan mengurangi efek samping dari obat. Tujuan tambahan lainnya adalah identifikasi awal gejala prodromal dan manajemen dalam mengurangi penggunaaan bahan acuan atau jenis lain dari perilaku adiktif, seperti mengajarkan kebiasaan hidup sehat.12

3. Fase critical period

Fase ini adalah periode berikutnya dengan perkiraan durasi 3 sampai 5 tahun. Gejala pada fase ini seperti gejala positif sedang sampai berat, kerusakan kognitif. Isolasi sosial dan perilaku mengganggu mungkin muncul. Gejala negatif seperti defisit fungsi kognitif dan sosial yang mencegah pasien untuk mencapai tingkat pada tahap premorbid, juga dapat muncul. Tiga tahun pertama pada fase ini dianggap penting untuk prognosis pasien. Tujuan terapi terkait dengan kepatuhan pengobatan farmakologi dalam rangka mencapai stabilitas gejala dan adaptasi untuk kembali bekerja. Pada fase ini pasien dapat meningkat atau tetap bertahan dari penyakitnya bahkan mengalami remisi atau berkembang menjadi bentuk kronis dari penyakitnya.12

4.Fase sub kronik

pada fase ini ditandai dengan pasien banyak mengalami kekambuhan disebabkan tidak patuh pada pengobatan sehingga pasien kembali dirawat di rumah sakit. Pada fase ini menunjukan kemunduran dalam perjalanan penyakit. Adanya kerusakan klinis yang progresif dan dampak dari penyakit tampak jelas baik secara fisik dan psikologis. Tujuan terapi pada tahap ini adalah stabilisasi jangka panjang dan adaptasi sosial progresif dengan menggunakan sumber daya psikososial yang tersedia.12

5. Fase kronik

Fase dimana pasien telah mengalami penyakit lebih dari lima tahun sejak awal perjalanan penyakitnya. Gejala dapat berupa gejala negatif dan gejala sisa

yang berat, dengan kemiskinan dari ekspresi emosi dan perasaan, keterbatasan dalam berfikir dan berbicara, kekurangan energi, kesulitan untuk mengalami ketertarikan atau kesenangan untuk hal-hal yang sebelumnya mereka sukai atau kegiatan yang biasanya dianggap menyenangkan. Ketidakmampuan untuk menciptakan hubungan yang erat sesuai untuk usai mereka, jenis kelamin dan kondisi keluarga dan adanya gangguan konsentrasi dan perhatian yang dimanifestasikan dalam semua konteks sosial. Tujuan terapi pada fase ini berfokus pada peningkatan kualitas hidup pasien.12

2.2 Gejala negatif

Dapat dikatakan bahwa gejala negatif adalah gejala klinis yang paling penting dalam skizofrenia karena keparahan gejala negatif memprediksi disabilitas jangka pendek dan jangka panjang lebih baik daripada keparahan gejala psikotik atau disorganisasi. Gejala negatif juga dapat menjadi prediktor fungsi sosial yang paling signifikan. Gejala negatif lebih stabil sepanjang waktu daripada gejala positif dan disorganisasi. Gejala negatif "mewakili kehilangan atau penurunan fungsi normal"

dan berdiri berbeda dengan gejala positif di mana ada persepsi dan kognisi dan perilaku yang ditambahkan ke fungsi mental normal. Ada berbagai variabel demografis, pengobatan, dan gejala terkait dengan adanya gejala negatif yang signifikan. Ini termasuk jenis kelamin laki-laki, pendidikan premorbid yang buruk dan fungsi vokasional, onset awal, dan lamanya penyakit yang tidak diobati. Gejala negatif dalam prodromal, dan terutama saat onset yang awal, memprediksi persistensi.8

Gejala negatif adalah elemen kunci skizofrenia termasuk gejala seperti efek tumpul, kurangnya motivasi, asosialitas, dan ucapan yang miskin. Mereka terkait dengan gangguan dan/atau kurangnya emosi dan perilaku normal. Gejala-gejala ini dapat terjadi dengan atau tanpa gejala positif dan kadang-kadang sulit dikenali sebagai bagian dari gangguan.12

Baru-baru ini, sebuah konsensus telah dicapai tentang cara menggambarkan gejala negatif:13

1. Kelompok afek tumpul dan alogia (a) Afek tumpul

Afek tumpul mengacu pada penurunan emosi dan ekspresi. sedikit atau tanpa kontak mata dan berbicara dengan suara monoton yang membosankan. Tidak adanya emosi disebut efek datar.

(b) Alogia

Pasien dengan skizofrenia sering mengalami penurunan bicara dan dapat memberikan jawaban singkat untuk pertanyaan.

2. kelompok Anhedonia, avolition and asosialitas (a) Anhedonia

Anhedonia mengacu pada kurangnya kesenangan. Pasien yang menderita skizofrenia mungkin tidak tertarik pada kegiatan yang sebelumnya mereka nikmati

(b) Avolition

Avolition mengacu pada kurangnya motivasi, tujuan, atau kemampuan untuk menindaklanjuti rencana.

(c) Asosialitas/Penarikan sosial

Pasien dengan skizofrenia dapat menunjukkan penarikan sosial, menunjukkan berkurangnya minat dan kesenangan dalam interaksi sosial, dan sering mengabaikan kegiatan kehidupan sehari-hari (seperti kebersihan pribadi).13

Tabel 2.1. Daftar dan karakteristik definisi gejala negatif yang sering digunakan

Primer Dianggap sebagai gejala inti skizofrenia yang bertahan selama stabilitas klinis.

Sekunder Konsekuensi dari gejala positif, efek samping neurologis, gejala depresi, atau faktor lingkungan.

Defisit gejala Kehadiran setidaknya dua dari enam gejala negatif berikut pada pasien yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia:1.

pengaruh terbatas (merujuk pada perilaku yang diamati); 2.

rentang emosi yang berkurang (mis., Rentang pengalaman emosional subyektif pasien yang berkurang); 3.

kemiskinan berbicara; 4. membatasi kepentingan; 5.

berkurangnya tujuan; 6. berkurangnya dorongan sosial selama setidaknya 12 bulan termasuk periode stabilitas klinis. Gejala-gejala di atas adalah primer, yaitu, tidak sekunder untuk faktor-faktor seperti kecemasan, efek obat, gejala psikotik, cacat intelektual atau depresi.

Gejala negatif yang menonjol

Gejala negatif yang menonjol didefinisikan sebagai:

1. Skor awal ≥ 4 pada setidaknya 3, atau≥ 5 pada setidaknya 2 item subskala PANSS negatif;

2. Skor negatif PANSS > 3 pada item 1 dan item 6 dan setidaknya sepertiga item dengan skor> 3 dan maksimum dua item dengan skor> 3 dari subskala positif.

Gejala negatif yang dominan

Gejala negatif yang dominan didefinisikan sebagai:

1. Skor awal ≥ 4 pada setidaknya 3 atau ≥ 5 pada setidaknya 2 dari 7 item subskala negatif dan skor positif PANSS < 19;

2. Skor negatif PANSS ≥ 6 poin di atas skor positif PANSS;

3. Skor negatif PANSS minimal 21 dan setidaknya 1 poin lebih besar dari skor positif PANSS dan

4. atau subskala negatif lebih besar dari subskala positif.

Gejala negatif persisten

Gejala negatif persisten didefinisikan sebagai adanya setidaknya satu gejala negatif keparahan sedang atau lebih tinggi, tidak dikacaukan oleh depresi atau parkinsonisme, pada awal dan setelah 1 tahun pengobatan.13

Dikutip dari Artikel Barabassy A, Szatmári B, Laszlovszky I, Németh G. Negative Symptoms of Schizophrenia: Constructs, Burden, and Management. Intech Open. 2018; p:43-62.13

2.3 Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS)

Positive and Negative Syndrome Scale (PANSS) adalah skala medis yang digunakan untuk mengukur gejala keparahan pasien dengan skizofrenia dan diterbitkan pada tahun 1987. Skala adalah 30 item, instrumen peringkat tujuh poin diadaptasi dari Brief Psychiatry Rating Scale (BPRS oleh Gorham pada tahun 1962) dan skala Psikopatologi. Dari 30 parameter dinilai, tujuh dipilih untuk

membentuk skala positif (rentang skor 7-49), tujuh Skala negatif (7–49), dan 16 sisanya merupakan skala psikopatologi umum (16–112). Masing-masing dinilai dari 1 = tidak ada, 2 = minimal, 3 = ringan, 4 = sedang, 5 = agak berat, 6 = berat dan 7 = sangat berat. 30 item disusun sebagai 7 item simptom positif (P1-P7), 7 item simptom negatif (N1-N7), dan 16 item simptom psikopatologi umum (G1-G16).14,15

Skala Positif meliputi item-item berikut: delusi, disorganisasi konseptual, perilaku halusinasi, kegembiraan, kemegahan, kecurigaan, permusuhan. Skala Negatif mencakup item berikut: efek tumpul, penarikan emosional, kemiskinan rapport, penarikan sosial pasif-apatis, kesulitan dalam pemikiran abstrak, kurangnya spontanitas dan arus pembicaraan, pemikiran stereotipik. Skala Psikopatologi Umum meliputi item berikut: kekhawatiran somatik, kecemasan, rasa bersalah, ketegangan, mannerisme dan sikap tubuh, depresi, retardasi motorik, ketidakkooperatifan, isi pikiran yang tidak biasa, disorientasi, perhatian buruk, kurangnya daya nilai dan tilikan, gangguan dorongan kehendak, pengendalian impuls yang buruk, preokupasi, penghindaran sosial secara aktif. Waktu yang dibutuhkan dalam penelitian, mengumpulkan informasi dari informan, melakukan wawancara, dan menghasilkan skoring yang andal membutuhkan waktu 45 hingga 60 menit. 14,15

2.4 Kognitif pada skizofrenia

Pasien skizofrenia mengalami berbagai defisit neuropsikologis. Gangguan kognitif memiliki dampak negatif yang signifikan pada fungsi sosial dan pekerjaan.

Biasanya, ada variasi yang luas dengan beberapa aspek kinerja lebih terganggu

daripada yang lain. Subkelompok kecil pasien memiliki fungsi kognitif dalam kisaran normal, tetapi hampir semua pasien beroperasi di bawah tingkat fungsi premorbid mereka, atau di bawah apa yang diharapkan berdasarkan tingkat pendidikan orang tua mereka.16 Faktor prediktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif dapat berupa usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama sakit, gejala negatif, dan perilaku merokok. Gangguan kognitif kadang-kadang hadir sebelum timbulnya psikosis, tetapi defisit ini umumnya ringan dan tidak berguna dalam memprediksi timbulnya psikosis. Namun, defisit sering terjadi pada pasien episode pertama. Kelompok MATRICS merupakan penelitian pengukuran dan perawatan untuk meningkatkan kognisi pada skizofrenia menganggap domain-domain berikut sebagai defisit kognitif paling penting dalam skizofrenia: perhatian / kewaspadaan, pembelajaran dan memori verbal, pembelajaran visual dan memori, pembelajaran visual dan memori, penalaran dan pemecahan masalah, kecepatan pemrosesan , memori kerja, dan kognisi sosial. Kewaspadaan adalah kemampuan untuk mempertahankan perhatian seiring waktu.15,17-23

Hipoaktifitas dari dopamin neuron di mesocortcal dopamine pathways secara teori bertindak sebagai perantara dari gangguan fungsi kognitif, gejala negatif dan afektif pada skizofrenia, secara teori meningkatkan dopamin di mesocortical dopamine pathways dapat memperbaiki gangguan fungsi kognitif, gejala negatif dan afektif pada skizofrenia.10

Penelitian terkini tentang kognitif pada skizofrenia secara alami telah berkembang dari masa ke masa. Ada banyak bidang investigasi saat ini yang secara jelas mendefinisikan bidang tersebut. Ini termasuk definisi dan penilaian kognitif sosial, neuroscience kognitif dan afektif, pengobatan defisit kognitif dan sosial

kognitif, dan pengaruh faktor genom pada kognitif dan produk akhirnya dalam skizofrenia, kecacatan sehari-hari, dan fase penyakit.24

2.5. Pengukuran Gejala Kognitif

Montreal Cognitive Assessment (MoCA)

Montreal Cognitive Assessment (MoCA) dikembangkan pada tahun 2005 sebagai alat penyaringan untuk mendeteksi individu dengan gangguan kognitif

Montreal Cognitive Assessment (MoCA) dikembangkan pada tahun 2005 sebagai alat penyaringan untuk mendeteksi individu dengan gangguan kognitif

Dokumen terkait