• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Skizofrenia adalah kelainan neuropsikiatrik serius yang melibatkan gangguan besar pada pemikiran, persepsi, emosi dan perilaku pada pasien, terkait dengan morbiditas, kecacatan, dan potensi kematian yang besar sehingga membawa beban sosial ekonomi yang besar pada pasien, pengasuh, dan penyedia layanan kesehatan.

Gejala-gejala gangguan, dengan tiga kategori besar: gejala positif termasuk halusinasi, delusi dan gangguan pikiran; gejala negatif termasuk perataan dan pendataran afektif, penarikan sosial dan pengabaian kebersihan; dan gangguan kognitif termasuk defisit dalam perhatian, fungsi eksekutif dan memori kerja.1

Gejala negatif pada skizofrenia berkontribusi lebih pada gangguan kualitas hidup dan fungsi yang buruk daripada gejala positif. Gejala negatif primer, termasuk afek datar, alogia dan avolisi memiliki tingkat prevalensi sekitar 20%

pada pasien yang di diagnosis dengan skizofrenia. Prevalensi gejala negatif pada skizofrenia sangat tinggi dan gejala negatif yang paling sering adalah penarikan sosial (45,8%), penarikan emosional (39,1%), Rapport buruk (35,8%) dan afek tumpul ( 33,1%). Selain itu, pasien yang memiliki skor gejala negatif pada skizofrenia lebih tinggi dikaitkan dengan fungsi yang lebih buruk, orang-orang yang menunjukkan penarikan sosial yang lebih tinggi dan hubungan yang lebih buruk kemungkinan besar akan menganggur, pasien dengan penarikan emosi dan sosial yang lebih tinggi lebih cenderung tidak menikah/lajang dan terakhir, individu

dengan penarikan emosi yang lebih tinggi lebih mungkin menerima dosis antipsikotik yang lebih tinggi.1

Skizofrenia adalah salah satu penyebab utama disabilitas di seluruh dunia.

Resistensi pengobatan dan juga respon parsial, lazimnya mempersulit beban yang melekat pada penyakit. Mengesampingkan gejala positif dan kapasitas fungsional, prediktor kecacatan termasuk defisit kognitif dan gejala negatif, keduanya bertanggung jawab penuh terhadap disabilitas pada skizofrenia yang sulit untuk diatasi.2

Berbagai studi telah dilakukan untuk melihat apakah ada pengaruh dari gejala negatif dan fungsi kognitif terhadap functional outcome pasien skizofrenia . Studi yang dilakukan oleh Strassing dan kawan-kawan pada tahun 2014 di Amerika Serikat, pada studi ini untuk menilai functional outcome dengan menggunakan instrument Specific Levels of Functioning (SLOF) yang terbagi dalam 3 variabel yaitu: variabel fungsi aktivitas sehari-hari (memulai, menerima dan memelihara hubungan sosial, berkomunikasi secara efektif), variabel vokasional (keterampilan yang dapat dipekerjakan, tingkat pengawasan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas, kemampuan untuk tetap melakukan tugas, menyelesaikan tugas, ketepatan waktu), dan variabel interpersonal (berbelanja, menggunakan telepon, membayar tagihan, menggunakan waktu luang, menggunakan transportasi umum) dengan membandingkan hasil functional outcome pada 2 kelompok sampel yaitu kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan sedang (skor ≥4) dan kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan ringan (skor ≤3). Dari studi yang mereka lakukan didapatkan hasil studi untuk variabel fungsi sehari-hari tidak terdapat perbedaan antara kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan

sedang (skor ≥4) dan kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan ringan (skor ≤3) dengan nilai p=0,06. Pada variabel fungsi vokasional juga tidak terdapat perbedaan antara kelompok pasien skizofrenia gejala negatif dengan keparahan sedang dan kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan ringan dengan nilai p=0,32. Sedangkan pada variabel fungsi interpersonal terdapat perbedaan antara kelompok pasien skizofrenia gejala negatif dengan keparahan sedang dan kelompok skizofrenia gejala negatif dengan keparahan ringan dengan nilai p<0,001.

Studi ini juga menilai functional outcome pada 2 kelompok fungsi kognitif terganggu dan kelompok fungsi kognitif normal dengan menggunakan instrument Specific Levels of Functioning (SLOF). Pada variabel fungsi interpersonal tidak terdapat perbedaan antara kelompok fungsi kognitif terganggu dan fungsi kognitif normal dengan nilai p=0,35. Pada variabel aktivitas sehari-hari terdapat perbedaan antara kelompok fungsi kognitif terganggu dan fungsi kognitif normal dengan nilai p<0,001. Pada variabel fungsi vokasinal terdapat perbedaan antara kelompok fungsi kognitif terganggu dan kelompok fungsi kognitif normal dengan p<0,001.2

Han dan kawan-kawan tahun 2012 di Cina melakukan studi untuk melihat gangguan kognitif yang terjadi pada kelompok skizofrenia berdasarkan jenis kelamin. Mereka menggunakan instrument penilaian PANSS dan Repeatable battery for the assessment of neuropsychological status (RBANS). Edukasi yang rendah, gejala negatif yang berat, usia tua, merokok, lama sakit, antipsikotik dan jenis kelamin laki-laki berhubungan dengan kognitif pada skizofrenia. Dari studi mereka didapati hasil bahwa pada pasien laki-laki skizofrenia, dengan menggunakan analisis korelasi Pearson dijumpai korelasi negatif antara semua variabel kognitif dan skor gejala negatif atau total PANSS dengan p<0,01. 3

Savilla dan kawan-kawan tahun 2008 di Australia, melakukan studi pada dua kelompok pasien dengan gejala positif dan pasien dengan gejala negatif menggunakan instrumen PANSS untuk menilai keparahan gejala, Brief assessment of cognition in schizophrenia (BACS) untuk menilai fungsi neuropsikologi dan Quality of life scale (QLS) untuk menilai kualitas hidup pasien. Dari studi mereka didapati hasil bahwa fungsi kognitif yang buruk memiliki hubungan dengan keparahan/peningkatan gejala negatif p<0,05; fungsi kognitif yang buruk berhubungan dengan kualitas hidup p<0,01; keparahan gejala yang lebih berat berhubungan dengan kualitas hidup yang buruk pula p<0,01.4

Bagney dan kawan-kawan tahun 2015 di Spanyol, dengan metode cross sectional merekrut 80 subjek penelitian dengan usia 18 sampai dengan 60 tahun, pasien pada fase stabil (tidak dirawat inap, tidak ada perubahan dalam pengobatan, dan tidak ada perubahan psikopatolgi yang bermakna) paling tidak selama 6 bulan.

Mereka menggunakan PANSS untuk menilai keparahan gejala dan MATRIC consesus cognitive battery (MCCB) untuk menilai fungsi kognitif. Hasil dari studi yang dilakukan oleh Bagney dkk tidak dijumpai hubungan antara PANSS gejala negatif dengan domain kognitif dan skor komposit MCCB dengan p=0,289.5

Suku Batak merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang terletak di Sumatera Utara. Nama Batak merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasi beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur. Suku bangsa yang dikategorikan kedalam suku Batak yaitu Batak Toba, Batak Karo, batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola dan Batak Mandailing.6 Data dari Rekam Medik RSJ Prof. DR. M. Ildrem Medan, bahwa jumlah pasien yang berobat jalan di Poli rawat jalan RSJ Prof. DR. M.

Ildrem Medan tahun 2018 adalah 16.899 orang pertahun dengan jumlah diagnosis terbanyak adalah Skizofrenia sebanyak 86,8%.

Dari berbagai latar belakang diatas dan melalui peninjauan pustaka maka peneliti tertarik untuk melihat perbedaan fungsi kognitif pada pasien skizofrenia yang dinilai dengan Montreal Cognitive Assessment Versi Indonesia (MoCA-INA) dan fungsi personal dan sosial yang dinilai dengan Personal and Social Performance (PSP) pada laki-laki dengan skizofrenia suku Batak dengan gejala negatif dominan dan dengan gejala negatif tidak dominan di poli rawat jalan RSJ Prof. M. Ildrem Medan, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan informasi terhadap klinisi.

Dokumen terkait