• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.6 Kerangka Konsep Pemikiran

Mempertahankan Tanah Adat Masyarakat Adat Rakyat

Penunggu

KONFLIK AGRARIA PERKEBUNAN

1. Pentingnya fungsi tanah dan perbedaan kepentingan serta kebutuhan pihak yang ingin memiliki dan mengolah tanah disuatu wilayah

2. Klaim sepihak yang disebabkan oleh tanah bekas hak/konsesi sebelumnya 3. Perbedaan pandangan mengenai riwayat perolehan tanah antara pandangan

yuridis dengan sejarah masa lalu masyarakat adat dan tanah garapan leluhur yang berasal dari tanah perkebunan bekas Hak Erpacht dan konsesi khususnya di daerah Swapraja seperti di wilayah Kesultanan Deli, yang dimiliki pemerintah Belanda dan di nasionalisasi menjadi perkebunan pemerintah RI/Perkebunan Milik Negara/PTPN sehingga terjadi klaim/okupasi

4. Tuntutan masyarakat terhadap tanah garapan leluhur yang diklaim tapi belum mendapat ganti rugi

5. Tumpang tindih atas SHGU

6. Data administrasi mengenai data hutan adat (batas-batas tanah adat) yang tidak ada dan belum jelas atau belum transparan

7. Tidak dilibatkannya masyarakat adat dalam penentuan batas tanah atau wilayah 8. Belum adanya pengakuan utuh atas hak masyarakat adat dan wilayahnya

Perjuangan Masyarakat Adat Rakyat Penunggu

Masyarakat Adat Rakyat

Penunggu (MARP) Pihak Perkebunan (PTPN II)

Teori Konflik

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian teknik analisis kualitatif etnografi. Pendekatan kualitatif menekankan keterlibatan peneliti pada aspek pendalaman data demi mendapatkan kualitas dari hasil penelitian yang membentuk kenyataan sosial, makna budaya, dan berfokus pada proses. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami permasalahan yang diteliti dan menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif, dan menggambarkan realitas yang komplek untuk memperoleh pemahaman makna (interpretatif). Penelitian Etnografi dipilih menjadi metode penelitian, karena bertujuan untuk menjelaskan uraian dan penafsiran suatu kelompok, memahami makna, menyajikan data secara menyeluruh yang berkaitan dengan tindakan objek yang diteliti dari suatu peristiwa, untuk menggambarkan realitas masyarakat yang diteliti, dalam hal ini upaya berjuang masyarakat adat rakyat penunggu dari sudut pandang MARP yang berkonflik dengan PTPN II, dimana analisis konflik sebagai pisau analisis data dengan deskripsi mendalam dan terperinci (Neuman, 2013).

Peneliti memilih penelitian etnografi, karena tujuan penelitian ini untuk menjelaskan, memahami, dan menggambarkan budaya, makna, kenyataan sosial, fakta sosial dan tindakan-tindakan serta upaya atau usaha perjuangan yang dilakukan oleh masyarakat adat rakyat penunggu Bangun Rejo dalam mempertahankan tanah adatnya di Kebun Limau Mungkur dari okupasi PTPN II.

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini berada di Kampung Bangun Rejo. Adapun alasan peneliti dalam memilih lokasi penelitian ini didasari pada fenomena konflik agraria perkebunan yang pernah terjadi pada di Kampung Bangun Rejo dan Kampung Bangun Rejo adalah salah satu Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) yang telah didorong oleh KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria).

Kampung ini juga terdapat masyarakat adat Rakyat Penunggu yang terlibat konflik agraria perkebunan dengan perusahaan tanaman industri PTPN II dalam mempertahankan hak atas tanah adat mereka. Tanah adat masyarakat adat rakyat penunggu berada di Kebun Limau Mungkur, Desa Lau Barus. Kampung Bangun Rejo yang terletak di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Adapun yang menjadi unit analisis dalam penelitian ini adalah elemen masyarakat seperti masyarakat adat rakyat penunggu yang tinggal di Kampung Bangun Rejo Deli Serdang, Pengurus kampung adat, Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia Kampung Bangun Rejo dan PTPN II.

3.3.2 Informan

Menurut Arikunto (2006) informan adalah orang yang dapat memberikan informasi, dalam hal ini informan dikatakan sama dengan responden. Informan disebut juga sebagai subjek penelitian yang memahami permasalahan penelitian.

Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling

dimana pengambilan informan ditentukan melalui hubungan keterkaitan dari satu orang dengan orang yang lainnya, melalui proses bergulir dari satu informan ke informan lainnya dalam suatu hubungan atau kasus yang sama.

Adapun informan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Informan kunci adalah orang yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan didalam penelitian atau mengetahui informasi yang mendalam mengenai permasalahan yang sedang diteliti.

Adapun yang menjadi informan kunci penelitian ini adalah masyarakat adat rakyat penunggu yang tinggal menetap di Kampung Bangun Rejo atau khususnya yang ikut terlibat pada konflik perebutan lahan dengan PTPN II, pengurus kampung adat, Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), serta Perempuan Adat AMAN yang memiliki kontribusi dalam konflik ini.

2. Informan tambahan adalah orang yang ditentukan dengan dasar pertimbangan mengetahui dan berhubungan dengan permasalahan yaitu AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling, dimana teknik ini bermanfaat untuk menemukan, mengidentifikasikan, dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan dalam konteksnya hubungan perjuangan dari masyarakat. Teknik ini dipilih untuk menemukan informasi serta data yang sulit diakses dari informan mengenai permasalahan spesifik dari perjuangan masyarakat dengan PTPN II terkait okupasi lahan yang terjadi pada tahun 2017 melalui keterkaitan hubungan dalam suatu jaringan konflik tersebut. Pelaksanaan dalam penelitian ini dilakukan

dengan mendatangi kantor kepala desa sebagai pemerintahan setempat desa Bangun Rejo yang sepatutnya mengetahui mengenai masyarakat setempat.

Berdasarkan keterkaitan hubungan yang didapatkan dari kantor kepala desa, peneliti diarahkan untuk melakukan wawancara mendalam kepada tokoh adat.

Tokoh adat terdapat 3 orang tetapi hanya 1 orang yang aktif hingga saat ini serta mengetahui secara mendalam mengenai konflik berdasarkan kontribusinya sebagai perpanjangan tangan masyarakat menghadapi konflik. Dari tokoh adat tersebut peneliti melakukan wawancara mendalam. Melalui rekomendasi tokoh adat peneliti mendapatkan 3 perempuan dan perempuan adat yang ikut berjuang dalam konflik dan korban okupasi. 3 orang tersebut adalah Ibu Kasiani, Ibu Siti, dan Ibu Nila. Berdasarkan kontak yang telah dilakukan bersama informan yang ada peneliti mendapatkan informan lainnya seperti Bapak Wahidin dan Bapak Agus melalui rekomendasi yang mengetahui konflik tersebut sekaligus korban lahan okupasi yang berpotensial dihubungi dan ditanya mengenai permasalahan penelitian. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari informan yang ada peneliti melakukan relevansi informasi kepada BPRPI sebagai organisasi masyarakat yang menjadi dasar perjuangan masyarakat tersebut dengan menjumpai dan melakukan wawancara mendalam kepada Bapak Jalo Siregar (Ketua Wilayah tingkat Kabupaten Deli Serdang) untuk mengetahui dasar perjuangan masyarakat dan perjuangan masyarakat. Rekomendasi dari BPRPI kemudian mengarah kepada Dewan Nasional Perempuan AMAN yaitu Ibu Meliana Yumi sebagai informan yang mengetahui permasalahan secara umum menegnai dasar-dasar dan penyebab konflik agraria di Sumatra Utara sekaligus mendapatkan data dan informasi secara langsung.

3.4 Teknik Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer merupakan sumber data utama yang diambil dari sumber data primer atau sumber pertama di lapangan (Bungin, 2001:128). Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung ke lokasi penelitian untuk mendapatkan data-data dan observasi langsung tatap muka, serta wawancara dengan informan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data primer dengan cara:

1. Observasi Partisipatif

Observasi adalah pengamatan secara langsung terhadap obyek, untuk mengetahui kebenaran, situasi, kondisi, konteks, ruang, serta maknanya dalam upaya pengumpulan data suatu penelitian (Satori, 2009 dalam Ibrahim, 2018).

Observasi partisipatif adalah metode pengumpulan data dimana peneliti terlibat secara langsung dengan kehidupan sehari-hari sebagai sumber data penelitian.

Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah lokasi atau tempat, peristiwa, aktor (pihak) yang terlibat didalam konflik tersebut, mengamati dan memaknai secara langsung aktivitas bertani masyarakat adat rakyat penunggu untuk melihat dan memperoleh informasi mengenai penyebab konflik agraria perkebunan serta perjuangan masyarakat adat rakyat penunggu tersebut mempertahankan tanah adatnya.

Pada saat pengumpulan data peneliti terlibat langsung dengan masyarakat adat rakyat penunggu dalam kehidupan bertani, pemangku adat (tokoh adat), kelompok tani, observasi ke kantor pemerintahan daerah dan organisasi kemasyarakatan yang mengetahui konflik tersebut. Peneliti meneliti MARP di

Kampung Bangun Rejo untuk mendapatkan gambaran dan penjelasan mendalam mengenai penyebab konflik perkebunan PTPN II dengan masyarakat adat. Peneliti melakukan pengamatan terhadap lahan Kebun Limau Mungkur yang menjadi lahan sengketa. Berdasarkan observasi tersebut, peneliti melakukan pengamatan dengan tinggal bersama masyarakat di dekat lokasi penelitian (rumah salah satu masyarakat adat Bangun Rejo), sebagai usaha untuk menjadi dekat dan bukan menjadi ancaman dengan masyarakat yang diteliti, dikarenakan maslah yang diteliti merupakan masalah yang sensitif bagi masyarakat.

Peneliti mengobservasi lahan, dan kondisi masyarakat dengan melihat, mendengar serta terlibat langsung dalam aktivitas keseharian masyarakat yang bertani di kebun. Peneliti melihat bagaimana lahan yang menjadi sengketa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Peneliti mengamati secara langsung perilaku masyarakat yang masih beraktivitas sebagai petani dengan menanam tanaman palawija (seperti pisang, ubi, sereh) di lahan tersebut, dan sebagian dari masyarakat tersebut bekerja dengan mengelola serta menjaga lahan sawit yang ditanami oleh PTPN. Peneliti mengunjungi para pemangku adat, namun hanya 1 tokoh adat yang masih aktif hingga sekarang untuk mengamati bagaimana proses kerja bertani masyarakat dan aturan mendapatkan lahan. peneliti juga mengunjungi kantor pemerintahan daerah Bangun Rejo (seperti sekretaris desa dan kepala desa yang mengetahui konflik), dan organisasi kemasyarakatan yang ikut berkontribusi dalam konflik agraria perkebunan dengan PTPN II, untuk mengetahui bagaimana proses perjuangan yang dilakukan oleh BPRPI, AMAN, dan perempuan adat AMAN berjuang mempertahankan tanah adat tersebut. Selain mengandalkan pengamatan dan ingatan peneliti, juga diperlukan alat bantu untuk merekam, mencatat data-data serta memfoto hasil

observasi. Dan yang menjadi objek observasi dalam penelitian ini yaitu bagaimana usaha/upaya dan perjuangan masyarakat adat rakyat penunggu Bangun Rejo mempertahankan tanah adatnya dari konflik dan okupasi dengan PTPN II.

2. Wawancara Mendalam

Menurut Moleong (2006), wawancara merupakan percakapan dengan maksud tertentu, yang melibatkan dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (informan) yang memberikan jawaban atas pertanyaan. Dalam hal ini, metode wawancara akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang apa yang diteliti dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi. Adapun wawancara mendalam dalam penelitian ini akan dilakukan kepada informan yang terdiri dari masyarakat adat rakyat penunggu yang tinggal menetap di Kampung Bangun Rejo, pemangku adat, anggota kampung adat khususnya yang ikut terlibat pada konflik perebutan lahan dengan PTPN II, Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI), AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara), Perempuan Adat AMAN, dan Pemerintahan Daerah Kampung Bangun Rejo. Wawancara mendalam ini digunakan untuk menggali informasi secara detail dan jelas mengenai apa faktor pemicu dan penyebab konflik antara PTPN II dengan MARP serta perjuangan dan upaya-upaya masyarakat adat rakyat penunggu dalam mempertahankan tanah adatnya dari konflik tersebut. Penggalian informasi kepada informan juga menekankan pada aspek masa lalu sehingga proses wawancara dilakukan dengan menggali ingatan informan dan dilakukan sebanyak 2 kali. Dalam melakukan wawancara, peneliti akan menggunakan alat bantu yang mendukung proses berlangsungnya wawancara. Alat bantu tersebut adalah alat rekam dan kamera.

Peneliti menjumpai dan mewawancarai salah satu tokoh adat yang berperan besar bagi masyarakat dalam upaya sengketa dengan PTPN II sehingga mengetahui sengketa lahan pada 2017 silam. Tokoh adat tersebut merupakan tokoh yang menjadi penggerak dan mendukung masyarakat untuk berjuang mendapatkan lahan. Sebelum penelitian dilakukan, peneliti datang mengunjungi sekretaris desa dan kepala desa Bangun Rejo tersebut, peneliti melakukan wawancara singkat.

Hasil wawancara tersebut menyatakan bahwa tokoh adat tersebut merupakan tokoh yang sangat mengetahui terhadap kondisi masyarakat dari dulu hingga sekarang.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan menganalisis catatan-catatan peristiwa yang sudah berlalu, dapat berupa tulisan, gambar, karya monumental seseorang, ataupun elektronik (Sugiyono, 2010:240). Dokumen dalam penelitian ini akan dipilih sesuai dengan permasalahan dan fokus penelitian.

3.4.2 Data Sekunder

Data Sekunder merupakan sumber data tambahan dengan segala bentuk dokumen, baik bentuk tertulis maupun non-tertulis. Metode data sekunder berguna untuk mendukung dan memperkuat hasil dari observasi (pengamatan) dan wawancara yang dilakukan dengan masalah penelitian. Metode data sekunder yang digunakan peneliti adalah dengan menggunakan buku-buku referensi, surat kabar, tesis, skripsi, majalah ilmiah, dokumen kantor pemerintahan daerah Bangun Rejo, dokumen surat-surat masa lalu yang berkaitan pada masa Kesultanan Deli, maupun jurnal yang diperoleh dari perpustakaan atau internet yang dianggap relevan dengan masalah penelitian.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan suatu proses atau tahap pengkajian dan pengelolaan data yang diperoleh dan didapatkan dari lapangan. Interpretasi data pada penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab konflik dan untuk mengetahui upaya serta perjuangan masyarakat adat untuk mempertahankan tanah adatnya di Kebun Limau Mungkur. Interpretasi dilakukan sepanjang proses penelitian hingga proses penelitian selesai. Data lapangan, dokumentasi foto, beserta rekaman wawancara, dikumpulkan melalui hasil observasi, wawancara mendalam, dokumentasi foto dan rekaman yang dilakukan saat peneliti berada di lapangan. Analisis data diawali dengan membaca seluruh data yang telah dikumpulkan, kemudian dipelajari dan ditelaah dan selanjutnya mereduksi dengan secara abstraksi. Dalam mengembangkan data, diperlukan ide-ide berdasarkan hasil penelitian yang akan dikesinambungkan dengan kajian teoritis yang digunakan dalam penelitian dengan cara pengelolaan data. Data tersebut selanjutnya dipisah dalam kategori-kategori yang sesuai agar memudahkan peneliti dalam memeriksa keabsahan data tersebut. Setelah itu, peneliti melakukan tahap penafsiran/interpretasi data secara kualitatif sesuai dengan metode penulisan yang telah ditetapkan, untuk mencari jawaban atas pertanyaan rumusan masalah.

3.6 Jadwal Kegiatan

7 Seminar Hasil 6 Sidang Meja

Hijau/Komprehensif

3.7 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian adalah hambatan yang dihadapi peneliti dalam penelitian pada saat dilapangan. Hambatan dalam penelitian ini mencakup keterbatasan internal dan keterbatasan eksternal. Keterbatasan internal adalah keterbatasan penelitian yang berasal dari dalam diri peneliti, seperti keterbatasan internal peneliti dalam melakukan kemampuan analisis data penelitian.

Keterbatasan eksternal adalah keterbatasan penelitian yang muncul dari luar diri peneliti. Keterbatasan eksternal peneliti seperti keterbatasan waktu informan yang sebagian adalah peladang sehingga peneliti harus mengatur jadwal untuk melakukan pertemuan wawancara, keterbatasan pandemi Covid-19 yang membuat peneliti sulit menyesuaikan keadaan dan diri dalam melakukan wawancara ke lapangan, serta keterbatasan adanya kerahasiaan yang tidak dapat diberikan oleh informan dan pihak PTPN II terkait peta lahan yang menjadi sengketa kedua belah pihak, karena konflik pada tahun 2017 silam masih belum selesai hingga saat ini.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat Kecamatan Tanjung Morawa

Asal usul nama Tanjung Morawa berasal dari 2 versi antara lain versi bahasa Karo yaitu Tanjoung Merawa, arti merawa yaitu marah sebuah perlawanan/patriotik pejuang-pejuang bangsa, revolusi fisik melawan penjajah Belanda. Versi bahasa Belanda yaitu Tanjung Moravia, mengingatkan penjajah Belanda pada leluhurnya di Eropa. Sebelum kemerdekaan RI Kecamatan Tanjung Morawa terdiri dari berbakan kedatong yang tunduk pada Kesultanan Serdang berpusat di Simpang Tiga Perbaungan (Kecamatan Perbaungan Sekarang). Setelah kemerdekaan, wilayah Kecamatan Tanjung Morawa terbentuk sebanyak 23 Desa dan tahun 1979 salah satu desa di Kecamatan Tanjung Morawa ditunjuk sebagai kelurahan dan ditetapkan Ibu Kota Kecamatan yaitu Tanjung Morawa Pekan. Saat ini Tanjung Morawa memiliki 25 desa dan 1 kelurahan dengan luas wilayahnya 131,75 km², 189 dusun/lingkungan dengan total penduduknya 227,051 jiwa.

Gambar 4.1

Peta Kecamatan Tanjung Morawa

Sumber: https://deliserdangkab.bps.go.id

4.1.2 Kondisi Geografis Desa Bangun Rejo

Desa Bangun Rejo merupakan salah satu desa di kecamatan Tanjung Morawa dengan luas wilayah 692 km², dan terdiri dari 8 dusun. Desa Bangun Rejo Desa Bangun Rejo adalah dataran tinggi, dengan 35 meter ketinggiannya dari permukaan laut. Letak geografis desa Bangun Rejo adalah 3º48’ lintang utara, dan 98º78 bujur timur. Desa Bangun Rejo berbatasan dengan:

Sebelah Barat : Bandar Labuhan/Tanjung Morawa–A Sebelah Timur : Perk. Lonsum+Perk. Rispa

Sebelah Selatan : PTPN II. LM. STM Hilir

Sebelah Utara : Tanjung Morawa–A/Dagang Kerawan Gambar 4.2

Peta Wilayah Desa Bangun Rejo

4.1.3 Kondisi Monografis Desa Bangun Rejo a. Jumlah Penduduk

Penduduk adalah semua orang yang berdomisili di wilayah geografis suatu daerah selama enam bulan atau lebih, atau mereka berdomisili kurang dari enam bulan dan bertujuan untuk menetap di wilayah tersebut. jumlah penduduk dipergunakan untuk mengetahui laju pertumbuhan dan kepadatan penduduk serta kondisi masyarakat di desa tersebut. Data jumlah penduduk desa Bangun Rejo 10.968 jiwa atau 3555 kepala keluarga. Jumlah penduduk terbanyak berada di dusun 8 dengan jumlah penduduknya 2190 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil berada di dusun 3 dengan jumlah penduduk 473 jiwa (sumber: Kantor Kepala Desa Bangun Rejo, mei 2021).

Tabel 4.1

Jumlah Penduduk Per Dusun dan Jenis Kelamin No. Dusun Jenis Kelamin Jumlah

b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin dapat dipergunakan untuk mengetahui jumlah penduduk produktif, non-produktif, dan belum produktif. Jumlah penduduk di desa Bangun Rejo adalah sebanyak 10.968 jiwa, yang terdiri dari 5.228 jiwa laki-laki dan 5.740 jiwa perempuan. Komposisi penduduk desa Bangun Rejo dalam kelompok dapat dilihat pada tabel 4.2.

Berdasarkan tabel tersebut, di desa Bangun Rejo relatif lebih banyak penduduk yang berada di usia produktif.

Tabel 4.2

Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin

No. Kelompok Umur Jenis Kelamin Jumlah

(Jiwa)

Kondisi ini berkaitan dengan fasilitas pendukung aktivitas masyarakat seperti tempat ibadah, sarana kesehatan, pendidikan, olahraga dan keamanan.

Fasilitas pendidikan di desa Bangun Rejo terdiri dari 6 PAUD, 5 TK, 4 MIS, dan 3 SD. Pada prasarana dan sarana kesehatan di desa Bangun Rejo memiliki 1 pustu, 10 unit klinik, dan 3 unit toko obat, posbindo, posyandu balita dan posyandu lansia dengan total jumlah tenaga kesehatan 22 orang. Terdapat rumah ibadah dan sarana olahraga seperti lapangan olahraga. Desa Bangun Rejo juga memiliki cukup banyak sarana kemanan seperti pos kamling disejumlah dusun. Masyarakat

di desa Bangun Rejo terdiri dari 2 agama diantaranya beragama Islam dan Kristen, dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam khusunya orang Melayu.

Ekonomi masyarakat lebih banyak bekerja di sektor industri rumah tangga seperti pembuatan tahu, tempe, makanan ringan (keripik pisang, keripik singkong, dll), naget ikan laut, pembuatan tusuk sate dan membuat sapu lidi dengan total UMKM yang terhimpun 808 orang. Masyarakat di desa ini juga sebagian bekerja sebagai petani, dimana lahan tersebut berada di desa Lau Barus, STM Hilir dengan modul pertaniannya seperti tanaman palawija yaitu ubi kayu, pisang, kelapa sawit, rambutan, ternak ikan, budidaya ikan. Jumlah industri menengah/besar seperti 1 unit industri plastik, 3 unit industri pengolahan kayu dan 1 unit ternak ayam/telur.

4.1.4 Areal Lahan Pertanian

Areal pertanian masyarakat adat Bangun Rejo sudah memasuki daerah desa Lau Barus yang bernama Kebun Limau Mungkur Rayon Selatan. Areal tersebut merupakan lahan HGU dari PTPN II dan sebagiannya dikelola oleh masyarakat untuk diusahakan. Saat ini areal pertanian yang dapat dikelola dan diusahakan oleh masyarakat seluas 56 Ha. Akses menuju desa Bangun Rejo adalah melalui kecamatan Tanjung Morawa. Jarak Medan-Tanjung Morawa adalah sekitar 36 Km, sedangkan jarak Tanjung Morawa-Desa Bangun Rejo sekitar 7 Km. Dari Medan, membutuhkan perjalanan lebih kurang 30-40 menit untuk sampai ke Tanjung Morawa dan sekitar 20 menit untuk sampai ke Kebun Limau Mungkur. Awal masuk dari simpang Aero Hotel Jl. Lintas Sumatera Tanjung Morawa, belok kanan menuju Kantor Pos Tanjung Morawa, dari kantor pos tersebut belok kanan ke Jalan Irian dan belok kiri ke Jalan Sei Merah lurus hingga belok kanan menuju Jalan Limau Mungkur untuk menuju desa Bangun

Rejo.

Ketika masuk desa Bangun Rejo, maka akan langsung melihat perumahan dan permukiman masyarakat, fasilitas umum seperti sekolah SD, lapangan olahraga, dan kantor pemerintahan desa Bangun Rejo. Areal pertanian yang diusahakan oleh masyarakat adat harus melewati dusun paling ujung yaitu dusun 8. Menuju Kebun Limau Mungkur yang menjadi lokasi okupasi oleh PTPN harus berjalan lurus hingga melewati kantor kepala desa hingga mendapati plang yang bertuliskan “PT Perkebunan Nusantara Kebun Limau Mungkur Distrik Rayon Selatan”. Tetapi lahan yang menjadi tempat penghidupan dan usaha dari masyarakat adat rakyat penunggu Bangun Rejo sudah termasuk kedalam wilayah teritorial desa Lau Barus. Lahan tersebut sudah berada di Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang. Luas lahan tersebut adalah 8.220,61 Ha.

Gambar 4.3

Wilayah HGU PTPN II dan Lahan Bertani Masyarakat

Sumber: dokumentasi peneliti

4.1.5 Sejarah Tanah Adat Masyarakat Adat Rakyat Penunggu Desa Bangun Rejo

Secara umum tanah adat disebut juga sebagai tanah ulayat yang pada dasarnya memiliki batas-batas tertentu. Masyarakat adat pada dasarnya ditandai dengan adanya kesamaan tempat tinggal atau atas dasar keturunan. Tanah yang menjadi lahan penghidupan bersama masyarakat dan memiliki hak ulayat tersebut disebut tanah adat. Setiap suku atau etnik disuatu daerah memiliki tanah warisan nenek moyang yang kemudian diwariskan oleh keturunannya, dan setiap

Secara umum tanah adat disebut juga sebagai tanah ulayat yang pada dasarnya memiliki batas-batas tertentu. Masyarakat adat pada dasarnya ditandai dengan adanya kesamaan tempat tinggal atau atas dasar keturunan. Tanah yang menjadi lahan penghidupan bersama masyarakat dan memiliki hak ulayat tersebut disebut tanah adat. Setiap suku atau etnik disuatu daerah memiliki tanah warisan nenek moyang yang kemudian diwariskan oleh keturunannya, dan setiap