BAB IV PEMBAHASAN
4.4 Perjuangan dan Upaya-upaya Masyarakat Adat Rakyat
4.4.5 Peran Badan Perjuangan Rakyat Penunggu (BPRPI)
Berjuang atas tanah adat atau tanah ulayat, Rakyat Penunggu mempunyai organisasi bernama BPRPI (Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia) dengan kepengurusan sebagaimana sebuah organisasi modern yang dijadikan sebagai wadah untuk berjuang dan berdiri sejak tahun 1953 oleh Tengku Nikmatullah. Komunitas ini terdiri dari 67 Kampung yang berada dalam kawasan administrasi Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Langkat.
Tahun 1953-1992 dipimpin oleh Abdul Kadir Nuh dan tahun 1992-1997 dipimpin Afnawi Nuh. Saat ini BPRPI dipimpin oleh Ali Syafrin. BPRPI merupakan wadah perjuangan masyarakat adat rakyat penunggu dan organisasi petani orang Melayu yang bertujuan memperjuangkan hak adat orang Melayu. BPRPI memperjuangkan dan mempertahankan tanah adat orang asli Melayu sejak tahun 1950-an hingga setelah masa orde baru BPRPI tetap bergerak memperjuangkan hak adatnya.
Keikutsertaan organisasi primordialistik seperti BPRPI menyebabkan orang Melayu tidak pernah mengenal dan memasuki lembaga lain di luar garis politik kesultanan sebelumnya (Agustono, dkk:1997).
Sejak berdirinya BPRPI, organisasi melakukan pendekatan dan persatuan dengan rakyat penunggu melalui konsolidasi dari kampung ke kampung, pertemuan warga pada hari besar Islam, penyelenggaraan pengajian, diskusi mengenai hak adat, membangun jaringan dengan organisasi non-pemerintah Sumatera Utara untuk mengikuti kegiatan seperti mengadakan pelatihan-pelatihan dan lokakarya pertanahan. Pembinaan pengkaderan, konsolidasi dan terjalinnya jaringan sosial agar memperkuat eksistensi MARP. Perjuangan BPRPI dalam
mengembalikan tanah jaluran juga dilakukan melalui diskusi persoalan, hak dan respon tentang tanah jaluran kepada pengunjung-pengunjung di warung kopi sebagai public sphere, membangun isu keetnisan Melayu, membangun wacana memori kolektif (tanah jaluran, hak ulayat dan tanah ulayat), serta mendesiminasikan persoalan tanah dan dampaknya kepada media massa dan media hibrid (Widianarti, 2018).
BPRPI sebagai organisasi MARP banyak mengambil peran dalam konflik agraria perkebunan dengan PTPN II pada 2017 silam. BPRPI melakukan proses pendampingan-pendampingan untuk masyarakat. Kontribusi BPRPI selama proses pendampingan masyarakat hingga tahap persidangan pada hari pertama, BPRPI membantu masyarakat turun langsung ke lapangan kejadian okupasi dan memberikan dukungan kepada masyarakat sekaligus mengajak masyarakat untuk melakukan musyawarah mufakat ketika di lahan okupasi beberapa jam setelah konflik sedikit mereda, didampingi oleh tokoh adat terkait bagaimana masyarakat harus bersikap serta langkah yang akan ditempuh bersama terkait konflik yang terjadi. BPRPI juga membantu membuat surat ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) untuk mengukur ulang lahan tanah. Selain musyawarah mufakat, BPRPI juga melakukan proses audiensi kepada pihak perkebunan (PTPN II) untuk meminta bukti perpanjangan HGU yang diklaim oleh mereka. BPRPI melakukan proses mediasi kepada masyarakat dan pendampingan serta audiensi bersama Komnas Ham Perempuan ke kantor direksi PTPN II. BPRPI membuat surat status kampung yang berisi cerita sejarah- historisnya kampung Bangun Rejo. Hal ini dikeluarkan dari BPRPI dan menceritakan ideologis-sejarahnya kampung. Hal ini diperkuat dengan menggunakan akta Van Consenssie, sebagai bukti sejarah
kontrak dan surat Grant Sultan. Keesokan harinya, BPRPI memberikan arahan dan aturan hukum kepada masyarakat, untuk tidak melakukan aktivitas demi menjaga ketertiban bersama dan tidak terjadi pelanggaran hukum. BPRPI bersama dengan, AMAN, dan Perempuan Adat melakukan audiensi dengan membahas teritorial batas tanah adat Bangun Rejo, membahas perilaku (pelanggaran HAM) dari dampak okupasi lahan dengan turunnya Komnas HAM Perempuan. Proses pendampingan-pendampingan ini masih dilakukan oleh BPRPI sampai ke tahap proses persidangan agar mendapat kejelasan dari hak masyarakat adat. Seperti yang dikatakan pak Ngawin:
“BPRPI ketika konflik datang agak siang hari, mereka langsung membuat surat pengaduan-pengaduan ke pusat. Bekerja sama juga dengan saya memberitahu masyarakat apa yang harus kami lakukan.
Upaya antara organisasi BPRPI dan pengurus kampung adat memberi sedikit angin segar bagi masyarakat karena tanpa bantuan tersebut masyarakat harus menyerah atas lahan yang selama ini diusahakan sebagai tanaman palawija dan tempat penghidupan mereka. Seperti hasil wawancara dengan ibu Siti:
“Kami merasa sangat terbantu dengan adanya BPRPI.
Mereka memberi kejelasan bagian mana saja yang menjadi wilayah adat kami, dan menuntun kami sampai tahap persidangan supaya kami juga tidak menyerah segampang itu.”
Hasil wawancara dengan pak Wahidin:
“Kalau tanpa adanya organisasi kami seluruh masyarakat ini tidak tau harus apa. Yang bisa kami harapkan hanya melalui tokoh adat sebagai wakil dan mediator masyarakat agar tanah kami bisa kami perjuangkan.”
BPRPI tidak hanya berupaya untuk memperjuangkan hak masyarakat ketika konflik pada 2017 saja, tetapi tetap berupaya mengambil langkah-langkah dalam memperjuangkan hak adat dan eksistensi masyarakat adat Melayu. Pertama, proses administrasi. Administrasi masyarakat adat harus benar secara hukum, dan
bagian dari aturan dan tata cara, sekaligus menunjukkan status masyarakat. Seperti yang dijelaskan oleh pak Jalo (Ketua Wilayah Bprpi di Deli Serdang):
“Segala sesuatu harus ada buktinya. Jika masyarakat ingin diakui dan terlepas dari sengketa dengan pihak perkebunan, maka harus membuat dan menunjukkan legalitasnya dihadapan hukum.
Untuk itu masyarakat harus benar terlebih dahulu secara administrasi agar ada payung hukumnya.”
Kedua, membenahi aturan-aturan atau hukum adat, kelembagaan adat, batas-batas tanah/wilayah adat, kependudukan MA, serta hak atas tanah dan pengelolaan wilayah di seluruh MARP di Sumatera Utara. Seperti yang dikatakan pak Jalo:
“Kami BPRPI saat ini tengah membenahi semua kesatuan persatuan MARP yang ada di Sumatera Utara. Kami membenahi setiap daerah itu aturan adatnya bagaimana, keaktifan kelembagaan adatnya, pengelolaan wilayah adat/tanah adatnya bagaimana dan semuanya. Supaya ini bisa kami susun dan bisa diakui secara hukum.”
Hal ini selaras dengan yang dijelaskan oleh ibu Meilana Yumi:
“Kami organisasi AMAN melakukan sosialisasi dan penyuluhan keberbagai organisasi masyarakat yang berjuang membela tanah adat seperti BPRPI untuk dapat menunjukkan legalistasnya dan bagaimana aturan hukum, seperti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan di desa Bangun Rejo sebagai tuan rumah dalam pelatihan pemetaan wilayah adatnya. Sehingga diharapkan tidak hanya organisasi melainkan masyarakat dapat mengerti bagaimana pemetaan wilayah adat itu.”
Pengakuan utuh atas hak masyarakat adat rakyat penunggu, melalui dukungan penuh RUU Masyarakat Adat yang sampai saat ini masih diperjuangkan. BPRPI dalam hal ini masih ikut memperjuangkan diketuknya palu atas RUU Masyarakat Adat, dan masih menyusun RUU Masyarakat Adat untuk tingkat provinsi. Akan tetapi hal ini akan dapat tercapai jika pemerintahan daerah dapat mengakui masyarakat adat yang ada di wilayahnya. Seperti yang dikatakan pak Jalo:
“Masyarakat harus terlebih dahulu diakui dan mendapat pengakuan keberadaan perlindungan MA dari desa yang utamanya. Berupa SK (Surat Keterangan). Dasar inilah yang nantinya akan dibawa ke kecamatan sampailah ke provinsi. Saat ini masih dalam proses tahap di kecamatan.”
Ketiga, BPRPI berupaya dan berjuang melakukan publikasi secara media yang kontinu, agar segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat adat, tanah adat, konflik perkebunan dengan masyarakat, serta persoalan yang bersinggungan dengan masyarakat adat dapat tersampaikan dengan baik secara publik, pemerintahan dan aktivis lainnya status masyarakat adat, seperti penelitian yang dilakukan oleh Widianarti dan Munahar Holil (2018), salah satu strategi komunikasi dari BPRPI aadalah Perjuangan BPRPI dalam mengembalikan tanah jaluran dilakukan melalui diskusi persoalan, hak dan respon tentang tanah jaluran kepada masyarakat di Kota Medan sebagai public sphere melalui media massa untuk membentuk, mengkonstruksi serta membangun wacana dan isu keetnisan Melayu, membangun wacana memori kolektif (tanah jaluran, hak ulayat dan tanah ulayat) untuk kepentingan masyarakat adat.
Organisasi masyarakat seperti lahirnya BPRPI bagi masyarakat merupakan faktor eksternal yang dapat membantu menyadarkan serta menggerakkan masyarakat adat, dan menjadi wadah aspirasi masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan dan strategi perjuangan masysarakat adat (Ariendi, 2011). Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diatas dapat diketahui bahwa perjuangan dan upaya masyarakat adat dalam memperjuangkan tanahnya tidak dapat dilepaskan dari adanya suatu organisasi atau wadah yang membela masyarakat dengan satu tujuan bersama. Berbagai aksi turun langsung ke tanah sengketa sebagai bentuk perlawanan organisasi masyarakat yang membela tanah adat. Fakta konflik agraria
perkebunan ini tidak saja berdampak pada eksistensi masyarakat adat melainkan bertentangan dengan prinsip negara Republik Indonesia yang sangat menjunjung NKRI, disamping telah adanya perundang-undangan agraria seperti UUPA yang harapannya tidak lagi ada kekerasan dalam memperebutkan lahan.
4.4.6 Berjuang Melalui Jalur Hukum dan Aliansi Masyarakat Adat