• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.6 Definisi Konsep

1.6.5 Perjuangan Masyarakat Adat

Perjuangan merupakan salah satu wujud dari usaha dan upaya yang dilakukan oleh individu maupun kelompok sosial dalam kehidupan masyarakat dengan berbagai tindakan kolektif, cara, metode-meode maupun strategi guna mencapai suatu tujuan. Perjuangan juga merupakan posisi untuk pertahanan dalam menghadapi ancaman dan perlawanan yang dilakukan dengan perngorbanan baik materil maupun non materil. Dalam penelitian ini, perjuangan mengacu pada pertahanan dan upaya perlawanan dari masyarakat dalam menghadapi okupasi lahan oleh PTPN II, langkah-langkah, upaya dan usaha yang dilakukan oleh masyarakat adat dengan aliansi-aliansi masyarakat adat dalam mempertahankan tanah dan mengembalikan hak dari lahan yang sudah mereka usahakan sejak dahulu.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Teori Masyarakat Adat

Dalam penelitian ini, teori masyarakat adat mengacu pada definisi kontekstual beragam dari berbagai lembaga/organisasi lokal maupun internasional/perundangan-undangan Indonesia yang memberikan gambaran, kharaktersitik, wilayah-wilayah masyarakat adat. Menurut Soekanto (2001: 91), masyarakat merupakan suatu bentuk kehidupan bersama, yang warganya hidup bersama untuk jangka waktu yang cukup lama, sehingga menghasilkan kebudayaan (dalam Haba, 2010). Istilah masyarakat adat dalam bahasa inggris adalah “indigenous people”, dan bahasa latin “indigenae” berarti penduduk asli yang digunakan untuk menandakan orang-orang dengan asal usul tertentu dengan orang-orang-orang-orang pendatang. Masyarakat adat merupakan masyarakat yang hidup secara komunal, yang didasari atas kebersamaan dan solidaritas tinggi.

Dalam konstitusi Indonesia digunakan beberapa istilah seperti kesatuan masyarakat hukum adat, masyarakat adat serta masyarakat tradisional.

a. PERMEN Agraria dan Tata Ruang No. 9 tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah MHA dan Masyarakat Yang Berada Dalam Kawasan Tertentu, menyebutkan bahwa kriteria masyarakat hukum adat meliputi: (a) masyarakatnya masih dalam bentuk paguyuban, (b) ada kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adatnya, (c) ada wilayah hukum adat yang jelas, (d) ada pranata dan perangkat hukum, yang masih ditaati.

b. Undang-Undang No. 18 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penatausahaan Tanah Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat, kesatuan MHA adalah sekelompok orang yang memiliki identitas budaya yang sama, hidup secara turun temurun di wilayah geografis tertentu berdasarkan ikatan asal usul leluhur dan/atau kesamaan tempat tinggal, memiliki harta kekayaan dan/atau benda adat milik bersama serta sistem nilai yang menentukan pranata adat dan norma hukum adat sepanjang masih hidup sesuai perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI.

c. Peraturan Daerah Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Pandumaan Sipituhuta, Pasal 1 ayat 4 masyarakat hukum adat (MHA) adalah sekelompok orang yang hidup secara turun temurun di wilayah geografis tertentu dan diikat oleh identitas budaya, adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah dan sumber daya alam di wilayah adatnya, serta sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum.

d. Putusan MK No.31/PUU-V/2007 tentang Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia No.31 tahun 2007 tentang Pembentukan Kota Tual di Provinsi Maluku Terhadap UUD 1945, kriteria masyarakat hukum adat mengandung unsur;

1) Secara de facto masih hidup baik bersifat teritorial, genelologis ataupun fungsional jika memenuhi salah satu/gabungan unsur-unsur (adanya masyarakat yang warganya memiliki perasaan kelompok, adanya pranata pemerintahan adat, adanya harta kekayaan/benda-benda adat, dan adanya perangkat norma hukum

adat. Khusus pada kesatuan MHA yang bersifatteritorial juga terdapat unsur adanya wilayah tertentu., sesuai dengan perkembangan masyarakat, sesuai dengan prinsip NKRI, dan ada pengaturan berdasarkan Undang-Undang).

2) Sesuai dengan perkembangan masyarakat, jika MHA tersebut keberadaannya telah diakui berdasarkan undang-undang lain, baik yang bersifat umm/sektoral, serta peraturan daerah, sebagai cermin perkembangan nilai-nilai yang dianggap ideal dalam masyarakat, substansi hak-hak tradisional itu diakui dan dihormati oleh warga kesatuan masyarakat yang bersangkutan ataupun masyarakat yang lebih luas, serta tidak bertentangan dengan HAM.

3) Sesuai dengan prinsip NKRI, jika MHA tersebut tidak mengganggu eksistensi NKRI sebagai sebuah kesatuan politik dan kesatuan hukum, yaitu keberadaannya tidak mengancam kedaultan dan integritas negara RI, dan substansi norma hukum adatnya sesuai dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

e. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan MK No. 31/PUU-V/2007 merumuskan MHA sebagai: Suatu kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya yang bersangkutan secara de facto masih ada dan/atau hidup (actual existence), apabila setidak-tidaknya mengandung unsur-unsur:

a) ada masyarakat yang warganya memiliki perasaan kelompok (in-grup feeling)

b) ada pranata pemerintahan adat

c) ada harta kekayaan dan/atau benda-benda adat d) ada perangkat norma hukum adat

e) khusus bagi kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat teritorial juga terdapat unsur wilayah hukum adat tertentu

Keputusan MK tersebut dinilai tidak bersifat kumulatif disamping beragamnya masyarakat adat di Nusantara. Menurut mantan ketua MK Jimly Asshiddiqqie (2006), untuk membutikan suatu masyarakat (hukum) adat memang ada sesuai dengan kriteria masyarakat hukum adat di atas, cukup dengan pemenuhan salah satu atau beberapa dari lima unsur tersebut (Zakaria, 2014:131).

Secara konstitusi, didalam UUD 1945 konsep masyarakat adat mengandung 2 konsep yaitu masyarakat hukum adat dan masyarakat tradisional.

UUD 1945 pasal 18B ayat (2) menyatakan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang”.

Menurut Arman (2020) istilah lainnya yang digunakan pada kelompok masyarakat dengan asal usul sama, didasari nilai dan norma-norma kebiasaan (adat) tertentu, yaitu masyarakat hukum adat (MHA), masyarakat adat, masyarakat lokal, masyarakat tradisional dan komunitas adat terpencil (KAT).

Menurut sumber lain yang disebut sebagai masyarakat adat adalah:

1. Penduduk asli (bahasa Melayu: orang asli) 2. Kaum minoritas

3. Kaum tertindas atau termarginal karena identitas mereka yang berbeda dari identitas yang dominan di suatu negara atau wilayah.

Level internasional, konsep masyarakat adat mengacu pada Deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat (United Nations Declaration of The Rights of Indigenous People (UNDRIP)), 13 September 2007 dengan terminologi indigenous people’s (masyarakat adat) yang merujuk pada masyarakat asli yang menghuni suatu kawasan tertentu secara turun temurun, sistem sosial yang khas, ekonomi, politik, budaya, bahasa dan kepercayaan (agama), serta termarginalkan hak-haknya (Arman, 2020:). Istilah indigenous people dipadankan dalam bahasa Indonesia dengan istilah masyarakat adat. UNDRIP berbicara tentang hak-hak masyarakat adat diseluruh dunia. Dalam Pasal 3 UNDRIP, dinyatakan:

“Indigenous peoples have the right to self-determinaon. By virtue of that right they freely determine their polical status and freely pursue their economic, social and cultural development”. Diatur bahwa pengakuan hak untuk menentukan nasib sendiri. Hak tersebut termasuk hak dalam bidang politik, hak untuk mengembangkan ekonomi, dan hak untuk pembangunan dalam bidang sosial dan budaya (Muazzin, 2014:339). Dalam Konvensi ILO No.169 tahun 1986 menyatakan bahwa bangsa, suku, dan masyarakat adat adalah sekelompok orang yang memiliki jejak sejarah dengan masyarakat sebelum masa invasi dan penjajahan, yang berkembang di daerah mereka, menganggap diri mereka beda dengan komunitas lain yang sekarang berada di daerah mereka atau bukan bagian dari komunitas tersebut (Wahab, Ali dkk :2017).

 Tokoh sosiologi seperti Ferdinand Tonnies memperkenalkan konsep

Gemeinschaft dan Gesselschaft sebagai perbedaan kelompok masyarakat.

Gemeinschaft merujuk pada bentuk kelompok masyarakat alamiah yang menumbuhkan hubungan organik antara manusia dan lingkungannya,

solidaritas tinggi serta ikatan sukarela antar masyarakat. Gesselschaft merupakan bentuk kelompok masyarakat yang terikat atas persamaan tujuan, dan kesadaran akal rasional. Emile Durkheim dengan solidaritas mekanik dan solidaritas organik sebagai perbedaan kharakteristik kehidupan bermasyarakat (Soekanto, 2014).

 Menurut Otje Salman Soemadiningrat (2002), masyarakat adat memiliki 4

sifat yaitu magis-religius (pola pikir dengan keyakinan yang didasari religiusitas dan sakral), komunal (individu bagian integral dari keseluruhan masyarakat), konkret (corak yang jelas mengenai hubungan hukum didalam amsyarakat), dan kontan (kesetaraan dalam perolehan hasil dari hak ulayat).

Aspek organisasi kemasyarakatan, dalam hal ini mengacu pada draft RUU Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat (versi AMAN, 9 Maret 2012), masyarakat adat merupakan sekolompok masyarakat yang secara turun temurun bermukim di wilayah geografis tertentu di negara Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah dan sumber daya alam di daerah wilayat adat, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum yang berbeda, baik sebagian maupun seluruhnya pada masyarakat pada umumnya.

Secara konstitusional, ada lima aspek yang harus dipenuhi untuk mengklaim diri sebagai sebuah komunitas (hukum) adat, yakni: Pertama, bentuk masyarakatnya adalah paguyuban (rechtsgemeenschapen), terdapat kelembagaan dalam bentuk perangkat penguasa adat, memiliki teritori adat yang jelas, terdapat pranata dan perangkat hukum atau adat yang masih ditaati, dan masih

mengadakan pemungutan hasil hutan di wilayah hutan sekitarnya untuk memenuhi pemenuhan hidup sehari-hari (Haba, 2010:258-259).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan terminologi masyarakat adat.

terminologi masyarakat hukum adat banyak digunakan dalam peraturan perundang-undangan Indonesia dengan menekankan pada kondisi berlakunya

‘hukum adat’, akan tetapi peneliti melihat masyarakat adat di berbagai wilayah kepulauan Nusantara memiliki berbagai kharakter seperti sebagian dengan aturan adat atau kelembagaan adat aktif yang masih kental dan secara teratur dilaksanakan, sebagian yang lain dengan mekanisme sederhana, ada yang memiliki kelembagaan adat aktif dan bersifat feodal serta patriarki, ada yang memiliki aturan adat yang sudah ‘tercerabut’ oleh perkembangan zamannya.

Masing-masing masyarakat adat tersebut memiliki sejarah dan dinamika yang berbeda terasuk wilayah hidup yang berbeda-beda (Siscawati, 2014:4-5).

Masyarakat adat rakyat penunggu masuk kedalam terminologi masyarakat adat karena penggunaan masyarakat hukum adat pada dasarnya mereduksi masyarakat dalam satu dimensi saja yaitu hukum dan mempersempit makna entitas masyarakat adat. Masyarakat adat tidak hanya bergantung pada dimensi hukum, tetapi juga dimensi sosial, politik, budaya, agama, ekonomi, dan ekologi, serta lebih banyak digunakan yang mengacu pada sejumlah kesepakatan internasional (Arman, 2020:49-58).

2.2 Konsep Masyarakat Adat Rakyat Penunggu

Berdasarkan konteks kultural, definisi masyarakat adat megacu pada kesepakatan-kesepakatan nasional maupun internasional, melihat kharakteristik masyarakat tertentu. Konsep masyarakat adat yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konteks kultural (kebudayaan). Masyarakat adat memiliki

kharakteristik yang berbeda-beda disetiap negara seperti aturan adat yang mengatur status dan tradisi kondisi sosial, struktural, dan ekonomi maupun hukum atau pengaturan khusus lainnya (Konvensi ILO 169, dalam Rosnidar, 2017:8).

Menurut Van Vollenhoven, seorang pakar hukum adat dalam menemukan dan membagi keberadaan masyarakat adat di Indonesia kedalam 19 (sembilan belas) lingkungan hukum adat berdasarkan pengklasifikasian bahasa, garis-garis besar, corak dan sifat hukum adatnya yang seragam. Berikut 19 lingkungan hukum adat tersebut (Arman, 2020:1-2):

1. Aceh. (Aceh Besar, Pantai Barat, Singkel, Simeuleu)

2. Tanah Gayo, Alas, dan Batak, meliputi; Tanah Gayo (Gayo luesu), Tanah Alas, Tanah Batak (Tapanuli), Tapanuli Utara; Batak Pakpak (Barus), Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Toba (Samosir, Balige, Laguboti, Lumban Julu), Tapanuli Selatan (Padang Lawas, Angkola, Mandailing (Sayurmatinggi), Nias (Nias Selatan)

3. Tanah Minangkabau (Padang, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Tanah Kampar, Kerinci)

4. Mentawai (Orang Pagai)

5. Sumatra Selatan (Bengkulu (Rejang), Lampung (abung, paminggir, pubian, rebang, gedingtataan, tulang bawang), Palembang (anak lakitan, jelma daya, kubu, pasemah, semendo), Jambi (batin dan penghulu), Enggano

6. Tanah Melayu (Lingga-Riau, Indragiri, Sumatra Timur, Orang Banjar) 7. Bangka dan Belitung

8. Kalimantan

9. Gorontalo 10. Tanah Toraja 11. Sulawesi Selatan 12. Kepulauan Tidore 13. Maluku Ambon 14. Irian (Papua) 15. Kepulauan Timor 16. Bali dan Lombok

17. Jawa Pusat, Jawa Timur serta Madura 18. Daerah Kerajaan (Surakarta, Yogyakarta) 19. Jawa Barat (Priangan, Sunda, Jakarta, Banten)

Dalam konteks lingkungan hukum adat di atas, masyarakat adat rakyat penunggu Kampung Bangun Rejo masuk kedalam klasifikasi lingkungan hukum adat Tanah Melayu. Sejarah kebudayaan MARP telah ada sejak sebelum kolonial Belanda datang ke Sumatra Timur sebagai peladang reba (berladang dengan membuka hutan dan mengelola pertanian). Cara bertani rakyat penunggu semula beladang reba berubah menjadi berjaluran karena perubahan kontrak kolonial Belanda terhadap Sultan Deli dalam membuka perkebunan tembakau yang berjalur-jalur.

Masyarakat adat rakyat penunggu adalah sebutan bagi masyarakat yang telah “tercerabut” dari tatanan pengelolaan sumber daya alam yang asli karena perkembangan dan perubahan zaman khususnya Melayu Deli. Kategori kelompok ini adalah Masyarakat Adat Melayu Deli yang bermukim di wilayah perkebunan tembakau di Sumatra Utara seperti masyarakat adat rakyat penunggu di Kampung

Bangun Rejo (BPPN, 2013). Sebutan masyarakat adat rakyat penunggu berasal dari asal usul, keturunan dan kekerabatan masyarakat tersebut yaitu Melayu Deli (Tanah Melayu). Beragamnya struktur sosial dan budaya setiap masyarakat adat, mengakibatkan definisi secara universal, tepat dan inklusif yang disetujui oleh dunia tentang masyarakat adat belum dapat diterapkan dengan cara yang sama.

Ferdinand Tonnies membagi 2 kategori sosial Gesselschaft (masyarakat patembayan) dan Gemeinschaft (masyarakat paguyuban). Dalam bukunya berjudul Gemeinschaft und Gesellschaft (tahun 1887), Tonnies membedakan konsep masyarakat tradisional dan masyarakat modern. Gemeinschaft/masyarakat paguyuban, diasosiasikan dengan kelompok atau asosiasi, masyarakatnya ditandai dengan kehidupan bersama yang bersifat intim, pribadi dan ekslusif, rasa keterikatan tradisional, misalnya masyarakat pedesaan dengan organisasi atau komunitas dengan tujuan rasional (Sunarto, 2004:129). Memiliki solidaritas, keramah-tamahan, hubungan tetangga yang rukun secara tradisional. Situasi yang berorientasi pada nilai, aspiratif, memiliki peran dan terkadang sebagai kebiasan asal yang mendominasi kekuatan sosial. Kesamaan ini adalah faktor penguat hubungan sosial, yang kemudian diperkuat dengan hubungan emosional serta interaksi antarindividu (Martono, 2016).

Gemeinschaft dibedakan atas 3 yaitu:

1) Gemeinschaft of Blood, didasari pada ikatan darah atau ikatan kekerabatan atau keturunan.

2) Gemeinschaft of place (locality), didasari oleh tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga memungkinkan untuk terjadinya sikap dan perilaku

tolong menolong. Misalnya ikatan yang terbentuk karena adanya satu wilayah

3) Gemeinschaft of mind, didasari pada ideologi atau pikiran yang sama.

Menurut Tonnies, hubungan kehidupan yang disebabkan oleh persamaan keahlian atau pekerjaan serta pandangan yang mendorong orang untuk saling berhubungan secara teratur (Sunarto, 2004). Misalnya individu yang tergabung dalam satu negara, partai politik, atau satu keyakinan (agama).

Ketiga bentuk ini dapat ditemukan dalam masyarakat kota ataupun desa.

Gesellschaft (masyarakat patembayan) diartikan sebagai masyarakat yang ditandai oleh kehidupan publik yang bersifat mandiri, sementara dan semu (Sunarto,2004:129). Kehendak dan tujuan masyarakatnya didasari oleh akal manusia yang ditujukan pada tujuan-tujuan tertentu dan sifatnya rasional dengan menggunakan alat-alat dari unsur kehidupan lainnya. Menurut Sztompka (1994), konsep yang menunjuk pada hubungan anggota masyarakat yang memiliki ikatan lemah, nilai, norma dan sikap menjadi kurang berperan dengan baik (dalam Martono, 2016).

Menurut Tonnies, perubahan yang terjadi pada masyarakat pada dasarnya disebabkan oleh perubahan kecenderungan berpikir, adanya perubahan orientasi hidup, pandangan mengenai suatu aturan dan sistem organisasi. Perbedaan antara gemeinschaft dengan gesselschaft adalah didalam gemeinschaft individu tetap bersatu meskipun terdapat berbagai faktor yang memisahkan mereka, sedangkan dalam gesselschaft individu pada dasarnya terpisah kendatipun terdapat banyak faktor pemersatu. Masyarakat adat sebagai subjek hukum adalah badan hukum yang bersifat “Gemeinschaft” yaitu persekutuan adat yang terbentuk secara

alamiah karena perkembangan-perkembangan sosial, ekonomi dan politik.

2.3 Tanah Adat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tanah adat diartikan sebagai tanah milik yang diatur oleh hukum adat. Menurut Harsono (2005) tanah adat adalah tanah kepunyaan bersama yang diyakini sebagai suatu karunia kekuatan gaib/peninggalan nenek moyang kepada kelompok yang merupakan masyarakat hukum adat, sebagai unsur pendukung utama bagi kehidupan dan penghidupan kelompok tersebut sepanjang masa.

Undang-Undang No. 18 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penatausahaan Tanah Ulayat Kesatuan Masyarakat Hukum Adat, yang dimaksud dengan tanah ulayat MHA adalah tanah persekutuan yang berada di wilayah masyarakat hukum adat yang menurut kenyataannya masih ada. Selanjutnya pasal 2 ayat (2), dikatakan bahwa dianggap masih ada jika memenuhi kriteria meliputi unsur adanya: (a) adanya masyarakat dan lembaga hukum adat, (b) wilayah tempat hak ulayat berlangsung, (c) hubungan, keterkaitan, dan ketergantungan kesatuan MHA dengan wilayahnya, dan (d) kewenangan untuk mengatur secara bersama-sama pemanfaatan tanah di wilayah kesatuan MHA yang bersangkutan, berdasarkan hukum adat yang masih berlaku dan ditaati masyarakatnya.

Tanah adat adalah tanah milik bersama warga masyarakat adat yang menjadi objek atas hak ulayat. Tanah adat erat dengan hak masyarakat adat yang disebut hak ulayat. Menurut Imam Sudiyat (2002:1), berpendapat tanah ulayat dapat diartikan sebagai tanah wilayah masyarakat hukum adat tertentu.

Berdasarkan pasal 1 angka 2 Peraturan Menteri Agraria/Kepala BPN No.5 tahun 1999, tanah ulayat merupakan bidang tanah yang diatasnya terdapat hak ulayat dari masyarakat adat tertentu (Santoso, 2005:80).

Setiap suku atau etnik disuatu daerah memiliki tanah warisan nenek moyang yang kemudian diwariskan oleh keturunannya, dan setiap kelompok atau entitas masyarakat mempunyai tanah warisan atau tanah nenek moyang sesuai dengan adat istiadat dan kebudayaan, letak geografis, dan adat kebiasaan berbeda-beda. Hal ini berimplikasi pada istilah tanah adat yang berbeda-beda disetiap daerah. Misalnya, patuanan (Ambon), wewengkon (Jawa), ulayat (Minangkabau), panyampeto dan pawatasan (Kalimantan), prabumian dan payar (Bali), Torluk (Angkola), ulos na so ra buruk (Batak), paer (lombok), ulayat (minangkabau), lingko (Manggarai), tanah jaluran/suguhan (Melayu Deli).

Tanah adat dalam masyarakat adat rakyat penunggu disebut dengan tanah jaluran, merupakan tanah bagi masyarakat adat rakyat penunggu Melayu Deli sebagai tanah bekas tanaman tembakau yang berjalur-jalur. Tanah Jaluran adalah tanah ulayat etnik Melayu yang disengketakan antara rakyat penunggu (notabene etnik Melayu) dengan PTPN.

2.4 Konflik Agraria Perkebunan MARP Dengan PTPN II

Agraria berasal dari bahasa latin ‘ager’, artinya lapangan, pedusunan, wilayah, tanah Negara. Konflik agraria merupakan konflik pertentangan klaim antarsatu pihak atau lebih yang diklaim mengenai penguasaan maupun pengelolaan terhadap tanah atau sumber daya alam lain yang menyertainya (perkebunan, properti, infrastruktur, pertanian, kehutanan, pesisir/kelautan dan pertambangan). Soerjono Soekanto berpendapat bahwa konflik adalah perbedaan atau pertentangan antar individu atau kelompok sosial yang terjadi karena perbedaan kepentingan, serta adanya usaha memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan disertai dengan ancaman atau kekerasan (Anas, 2019).

Berdasarkan teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat karena adanya perbedaan kepentingan dan kebutuhan. Konflik merupakan proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan, dan pemeliharaan sosial dalam masyarakat. Konflik masyarakat adat rakyat penunggu dengan PTPN II menciptakan kekerasan, dominasi dari aparat keamanan dan perlawanan masyarakat adat. Konflik tersebut didasari oleh pengakuan dari PTPN II atas perpanjangan HGU N0. 94/lau barus tahun 2003-2028 yang berada di Kebun Limau Mungkur, lahan masyarakat yang diusahakan sejak lama sebagai tanah adat nenek moyang dan tanah adat.

PTPN II mengklaim telah memiliki izin perpanjangan HGU (hak guna usaha) diatas lahan masyarakat tersebut. Pihak PTPN II bersama TNI/Polri dan Satpol PP (500 aparat kepolisian) meratakan kebun, ladang dan rumah Rakyat Penunggu Desa Bangun Rejo, Deli Serdang, Sumatra Utara dengan memasukkan 2 alat berat (beko dan buldoser) ke lahan masyarakat adat rakyat penunggu, dan dampaknya tanaman warga rusak seperti pisang, ubi dan jagung serta tanaman palawija dan buah-buah pohon lainnya.

Perlawanan atas tanah dilakukan warga seperti barisan ibu-ibu yang naik ke alat berat untuk mengambil kunci, warga yang melawan aparat sebagian ditangkap dan dimasukkan kedalam truk, kepala keluarga yang tergusur harus pindah ke desa tetangga, kekerasan juga terjadi seperti menyeret ibu hamil yang bertahan melawan penggusuran tersebut. Adanya usaha suatu kelompok untuk mendapatkan tujuan tertentu dan memiliki dominasi kekuasaan dan wewenang, menciptakan dominasi kekuasaan bagi kelompok yang tidak memiliki kekuasaan dan wewenang. Dalam hal ini, konflik okupasi lahan dari pihak PTPN II menjadi

kelompok superordinat karena memiliki dominasi kekuasaan dan wewenang yang cukup besar dan kelompok masyarakat sebagai subordinat, karena berada sebagai kelompok yang tidak memiliki kekuasaan dan wewenang. Hal ini dilihat dari jumlah aparat yang tidak sebanding dengan kekuatan dan jumlah masyarakat, perbedaan akses dan fasilitas perlawanan antara PTPN II dengan masyarakat, serta jumlah kerugian materi masyarakat.

Menurut Martono (2016:35), teori konflik berpandangan bahwa setiap masyarakat memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda-beda. Adanya perbedan kepentingan dan kebutuhan melahirkan konflik (perubahan sosial).

Menurut Dahrendorf, konflik tidak hanya melahirkan tekanan dan dampak negatif tetapi juga dapat melahirkan perubahan sosial. Misalnya, lembaga-lembaga atau organisasi yang terbangun dan berjalan seiring karena konflik agraria di nusantara.

Konflik yang bertentangan atas perebutan lahan masyarakat adat rakyat penunggu dengan PTPN II, terlibat dalam pertentangan dan kepentingan yang berbeda. Akan tetapi hal ini membawa pengaruh terhadap masyarakat adat rakyat penunggu yang terlembaga lewat lembaga adat BPRPI atau AMAN. Hasil kerja sama antara lembaga adat dengan masyarakat adat rakyat penunggu tersebut merupakan jembatan dari konflik agraria yang terjadi. Konflik agraria perkebunan tidak hanya membawa pengaruh terhadap kesatuan masyarakat, melainkan melahirkan sisi konflik dan sisi kerja sama terkait konflik yang terjadi dan melahirkan proses pembentukan dan penyatuan bagi masyarakat itu sendiri baik secara individual maupun secara komunal (Poloma, 1992).

Berdasarkan jenis konflik, terdapat 4 bentuk konflik oleh Simon Fisher dan Deka Ibrahim, yaitu:

1. Tanpa konflik, merupakan gambaran situasi yang relatif stabil, hubungan-hubungan antarkelompok dapat saling memenuhi dan berlangsung damai, baik melalui kemampuan masyarakat dalam menciptakan sttruktur sosial guna meminimalisir potensi konflik maupun sifat kebudayaan masyarakatnya.

2. Konflik tersembunyi (laten conflict), merupakan suatu keadaan atau

2. Konflik tersembunyi (laten conflict), merupakan suatu keadaan atau