• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL

3.1 Kerangka Konseptual

Untuk lebih mempermudah penelitian ini, maka diperlukan kerangka berfikir sistematis guna menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang dilakukan untuk pemecahan masalah yang dihadapi. Langkah-langkah penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 Langkah-langkah Penelitian Jumlah penumpang kereta api

melalui stasiun Medan

Diharapkan kenaikan jumlah penumpang setiap tahunnya

Terjadi penurunan jumlah penumpang

GAB

Identifikasi masalah

Penyebaran kuesioner

Analisis data

Kesimpulan dan saran

Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan jumlah penumpang Stasiun Kereta Api Medan kelas ekonomi. Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat dalam gambar berikut :

Gambar 3.2 Kerangka Konseptual

Dari kerangka konseptual, Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa penelitian ini terdiri dari 7 (tujuh) variabel independen yaitu Produk (X1), Harga (X2), Lokasi (X3), Promosi (X4), Orang (X5), Proses (X6), Bukti Fisik (X7) serta variabel dependen yaitu (Y) keputusan menggunakan transportasi kereta api. Setelah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan yang tidak mempengaruhi melalui analisis regresi berganda, maka dapat ditentukan faktor-faktor apa saja yang paling berpengaruh untuk meningkatkan jumlah pengguna jasa angkutan penumpang kereta api.

Produk = X1

Tarif = X2

Promosi = X3

Lokasi = X4

Orang = X5

Proses = X6

Bukti Fisik = X7

Keputusan Menggunakan jasa kereta api = Y

3.2 Definisi Operasional

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut :

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala

Pengukuran

1.Jaminan keselamatan dan rasa aman selama perjalanan sampai tempat tujuan

2.Tempat duduk yang nyaman dan lega selama perjalanan

3.Tersedia pengatur suhu udara yang baik di dalam gerbong (kesejukan)

4.Penataan interior kereta yang baik ( letak kursi, cahaya lampu, bagasi, gorden)

5. Tersedia kamar mandi yang bersih di kereta (rasa nyaman)

Skala Likert

Harga (X2) Harga merupakan tarif/

biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk menggunakan jasa angkutan kereta api.

1.Harga tiket sesuai dengan jenis kelas yang ditawarkan

2.Harga tiket bersaing dengan harga angkutan darat lainnya

3.Pada hari-hari tertentu diberikan diskon / potongan harga tiket

4.Harga sebanding dengan untuk produk jasa, lokasi diartikan sebagai tempat pelayanan jasa kereta api

1. Akses menuju lokasi mudah untuk dicapai

2.Tersedia sarana transportasi angkutan umum menuju lokasi stasiun

Variabel Definisi Operasional Indikator Skala

1.Brosur mengenai jadwal, rute perjalanan dan tarif kereta api

2.Informasi kereta api yang dapat diakses melalui internet

3.Adanya pemberitahuan promosi dari customer service/staf ticketing

Skala

1.Pelayanan yang ramah dari pegawai bagian pembelian tiket

2.Staff yang handal dalam memberikan informasi dan pelayanan

3.Karyawan memberi respon yang cepat atas kebutuhan pelanggan

Skala

1.Kemudahan prosedur untuk mendapatkan tiket

2.Pembelian tiket secara online melalui internet

3.Informasi jadwal keberangkatan dan kedatangan lengkap dan jelas 4.Tarif yang dibayar sesuai dengan yang tertera di tiket

Skala jasa kereta api di dapatkan

yang mampu

2.Tersedianya fasilitas toilet yang bersih

3.Disediakannya sarana restoran dan minimarket

4.Tersedianya sarana parker yang memadai

5. Kondisi bangunan stasiun yang terawat pilihan pada salah satu alternatif dari jasa pengangkutan yang ditawarkan perusahaan kereta api.

1.Merekomendasikan kereta api kepada keluarga dan teman

2.Menggunakan kereta karena pelayanan sesuai harapan

Skala Likert

3.3 Hipotesis

Hipotesis dapat didefenisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran, 2006:135). Hipotesis dari penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. H0 : b1

H

= 0, artinya tidak terdapat pengaruh signifikan secara parsial (masing-masing) dari produk, harga, lokasi, promosi,orang, proses dan bukti fisik terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

1 : b1

2. H

≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial (masing-masing) dari produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses dan bukti fisik terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

0 : b1

H

= 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses dan bukti fisik terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

1 : b1 ≠ 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari produk, harga, lokasi, promosi, orang, proses dan bukti fisik terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Perusahaan Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara (Stasiun Kereta Api Medan). Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai awal Desember 2014 hingga Oktober 2015.

4.2 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematik, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek atau populasi tertentu (Sinulingga, 2013:31) dimana penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian survey karena data-data yang digunakan dikumpulkan dengan teknik wawancara yang didukung oleh angket atau schedule questionare atau interview guide. Metode survei pada umumnya menggunakan instrumen kuesioner (questionnare) yang diisi oleh para responden dari objek penelitian yang ditetapkan dengan metode tertentu.

4.3 Populasi dan Sampel

Populasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan anggota atau kelompok yang membentuk objek yang dikenakan investigasi oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna jasa angkutan kereta api penumpang di stasiun Medan selama periode penelitian. Sedangkan sampel adalah sebuah subset

yang ditarik dengan metode tertentu dari populasi untuk diteliti guna menggambarkan karakteristik dari populasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan nonprobability sampling atau pengambilan sampel secara tidak acak, dimana tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena karena faktor yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.

Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan quota sampling, tipe kedua dari pengambilan sampel bertujuan. Pengambilan sampel kuota menjamin semua bagian kelompok dalam populasi terwakili secara memadai dalam sampel. Sampel kuota pada dasarnya merupakan sampel berstrata dimana subjek dipilih secara tidak acak (nonrandomly) (Suharso, 2009:75). Sehubungan dengan penentuan ukuran sampel, berdasarkan rule of thumb, Roscoe dalam Sinulingga (2013:218) menyarankan hal-hal sebagai berikut :

a. Ukuran sampel yang layak untuk sebagian besar penelitian adalah antara 30 hingga 500

b. Jika sampel terbagi dalam kategori misalnya laki-laki-perempuan, senior-junior, ganjil-genap, besar –kecil dan lain-lain maka jumlah elemen dalam sampel untuk setiap kategori sebaiknya minimum 30

c. Jika penelitian terkait dengan analisis multivariate (analisis korelasi atau regresi berganda) maka ukuran sampel sebaiknya beberapa kali biasanya minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya jika variabel

penelitian yang terdiri dari variabel independen dan variabel dependen berjumlah 5 buah maka besar sampel sedikitnya 50

d. Untuk penelitian eksperimen sederhana yang menggunakan experimental group dan control group, besar sampel masing-masing group antara 10-20 Maka dalam penelitian ini variabel penelitian yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat berjumlah 8 sehingga jumlah sampel sebanyak 80 dan akan dibagi kedalam 4 rute perjalanan kelas ekonomi kereta api.

4.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui angket/kuesioner, wawancara dan observasi.

1. Menurut Sugiyono (2008:199) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.

Kuesioner dapat diberikan kepada responden melalui beberapa cara : disampaikan langsung oleh peneliti kepada responden, dikirim bersama-sama dengan barang lain seperti paket, majalah dan sebagainya, ditempatkan di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, dikirim melalui pos, menggunakan teknologi komputer (e-mail) dan faksimili (Sanusi, 2011:109).

2. Wawancara merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan responden yaitu orang-orang tertentu yang ditetapkan sebagai sumber data.

3. Observasi yaitu pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan dipelajari baik dalam lingkungan kerja alamiahnya maupun dalam laboratorium setting (Sinulingga, 2013: 185).

4.5 Jenis dan Sumber Data

Data dapat diperoleh dari dua sumber utama yaitu sumber primer dan sumber sekunder.

1. Data Primer

Yaitu data yang diperoleh dengan cara mencari/menggali secara langsung dari sumbernya oleh peneliti bersangkutan. Data primer dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner yaitu memberi daftar pertanyaan secara tertutup kepada responden yang dilengkapi dengan alternatif jawaban yang tersedia, serta wawancara dengan pihak yang berwenang pada Perusahaan Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara.

2. Data Sekunder

Yaitu data yang sudah tersedia oleh pihak lain sehingga tidak perlu lagi digali secara langsung dari sumbernya oleh peneliti. Berbagai sumber data sekunder antara lain studi dokumentasi pada Perusahaan Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara, laporan-laporan penelitian dan arsip-arsip yang terkait dengan penelitian.

4.6 Skala pengukuran

Skala Likert dirancang untuk menguji tingkat kesetujuan (degree of agreeness) responden terhadap suatu pernyataan. Tingkat kesetujuan itu pada umumnya dibagi atas lima tingkatan yaitu Sangat tidak setuju (1), Tidak setuju

(2), Netral (3), Setuju (4), dan Sangat setuju (5). Responden diminta melingkari nomor yang sesuai dengan penilaiannya. Skala Likert adalah termasuk dalam skala interval dan perbedaan dalam jawaban antara dua point dalam skala mempunyai nilai yang sama. Pengukuran variabel dilakukan bukan melalui pertanyaan (question) tetapi melalui pernyataan (statement) dan responden diminta membuat pilihan tentang tingkat kesetujuannya sesuai dengan persepsinya dengan cara melingkari salah satu angka diatas. Contoh skala Likert :

5 4 3 2 1

Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

4.7 Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas

Validitas data ialah suatu ukuran yang mengacu kepada derajat kesesuaian

antara data yang dikumpulkan dan data sebenarnya dalam sumber data. Data yang valid diperoleh apabila instrumen pengumpulan data juga valid. Oleh karena itu untuk menguji validitas data maka pengujian dilakukan terhadap intrumen pengumpulan data (Sinulingga, 2013:226). Uji Validitas yang digunakan adalah uji Korelasi Product Moment yang dikembangkan oleh Pearson yaitu sebagai berikut :

Pengujian validitas instrumen penelitian ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS 20. Instrumen dikatakan valid jika nilai r hitung > r tabel.

Nilai r tabel menggunakan signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi dan jumlah

responden = 80 adalah 0,223. Hasil uji validitas dapat dilihat pada dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Uji Validitas Penelitian

Variabel Pertanyaan Nilai r hitung Keterangan

Produk (X1)

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa keseluruhan butir pernyataan memiliki nilai r hitung > 0,223, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh atribut pernyataan yang digunakan adalah valid.

b. Uji Reliabilitas

Realibilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula. Uji reliabilitas alat ukur dapat dilakukan secara eksternal maupun internal (Siregar, 2013:57-58).

Metode yang digunakan untuk menghitung reliabilitas menggunakan uji Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut :

Kriteria suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel dengan menggunakan teknik ini, bila koefisien reliabilitas (r11) > 0,6. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat dalam Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Uji Reliabilitas Penelitian

Variabel Nilai r hitung Keterangan

Produk (X1) 0,738 Reliabel

Harga (X2) 0,689 Reliabel

Lokasi/Distribusi (X3) 0,695 Reliabel

Promosi (X4) 0,663 Reliabel

Orang (X5) 0,828 Reliabel

Proses (X6) 0,755 Reliabel

Bukti Fisik (X7) 0,758 Reliabel

Keputusan Menggunakan KA (Y) 0,909 Reliabel

Sumber : Hasil apenelitian, 2015 (data diolah)

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa masing-masing variabel menunjukkan Alpha Cronbach > 0,6 maka dapat dinyatakan instrumen tersebut adalah reliabel.

4.8 Uji Asumsi Klasik

Setelah data berhasil dikumpulkan, selanjutnya dalam rangka analisis hubungan–hubungan antar variabel, maka data akan terlebih dahulu diuji. Untuk

mengetahui dan memahami uji persyaratan data, maka uji dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 20.

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau mendekati normal (Umar, 2011:181).

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, terdapat masalah multikolinearitas yang harus diatasi (Umar, 2011:177).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, disebut homoskedastisitas, sementara untuk varians yang berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas (Umar, 2011:179).

4.9 Analisis Data

4.9.1 Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi berganda digunakan sebagai alat deskriptif dalam tiga situasi.

Pertama, regresi ini seringkali digunakan untuk mengembangkan sebuah persamaan estimasi pembobot-sendiri (self-weighting estimating equation) yang memprediksi nilai-nilai sebuah variabel kriteria dari nilai-nilai beberapa variabel

pengendalian variabel-variabel pembaur agar dapat dilakukan evaluasi yang lebih baik pada variabel-variabel lain. Penggunaan ketiga dari regresi berganda adalah untuk menguji dan menjelaskan teori sebab-akibat. Sebagai alat deskriptif, regresi berganda juga digunakan sebagai sebuah alat untuk menarik kesimpulan untuk menguji hipotesis dan untuk mengestimasi nilai-nilai populasi. Persamaan umum dari regresi berganda adalah sebagai berikut :

Y= β0 + β1X12X23X3 Di mana :

+...+βnXn + ε

β0

β

= Konstanta, Nilai Y jika semua nilai X adalah nol

1 = Lereng dari regresi (β mewakili koefisien regresi yang terkait dengan setiap X

ε = error, biasanya terdistribusi disekitar 0 (Untuk tujuan perhitungan, ε diasumsikan sama dengan 0) (Cooper, Schindler, 2006:308).

1

4.9.2 Pengujian Hipotesis

a. Pengujian Hipotesis dengan Uji secara serentak (Uji-F)

Uji-F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Uji-F dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut tabel. Bila nilai F hasil perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut tabel maka hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen.

b. Pengujian Hipotesis dengan Uji Parsial (Uji-t)

Uji-t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat. Uji-t dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis menurut tabel. Apabila nilai statistik t hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, maka hipotesa alternatif diterima, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen (Mudrajad Kuncoro, 2003:218-220).

c. Pengujian R 2

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh sebuah variabel X atau lebih (bebas) terhadap variabel Y (terikat). Rumus : KD = ( r )

(Koefisien Determinasi)

2 x 100% (Siregar, 2013:252).

BAB V

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Sejarah Perkeretaapian

Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.

Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan kereta api di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan kereta api sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujung Pandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan kereta api

Pontianak-Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api. Rel kereta api pertama di Sumatera Utara dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Belanda yang bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) di tahun 1883 yang menghubungkan kota Medan dan Labuan (Laboean) yang merupakan cikal bakal jalur kereta api Medan-Belawan. Sejak dulu Pelabuhan Belawan merupakan pelabuhan utama Sumatera Utara untuk membawa hasil bumi seperti tembakau keluar negeri. Dulu, Labuan merupakan sentral keramaian, bahkan sebelum kota Medan berdiri. Pelabuhan Labuan di Sungai Deli inilah yang menjadi pusat perdagangan, transportasi dan bongkar muat barang perkebunan (khususnya tembakau) di Sumatera bagian Timur, akan tetapi karena Labuan seringkali kebanjiran dan tidak mampu mengakomodasi kapal-kapal uap besar maka transportasi usaha perkebunan mulai dikonsentrasikan ke Pelabuhan Belawan.

Jalur kereta api Medan-Belawan yang berjarak sekitar 21 kilometer, pada saat itu memiliki beberapa stasiun, yaitu Stasiun Medan – Gloegoer – Poeloebraijan – Mabar – Titi Papan – Kampong Besar – Laboean – Belawan – Pasar Belawan dan Pelabuhan Belawan (Oceanhaven I – II dan III). Akan tetapi seiring perkembangan waktu, bertambahnya transportasi jalan raya dan berkurangnya tingkat okupansi penumpang, maka pada saat ini jalur Medan-Belawan tidak lagi digunakan untuk mengangkut penumpang, melainkan hanya digunakan untuk laur kereta api barang saja, yakni kereta api barang pengangkut CPO (Crude Palm Oil), PKO (Palm Kernel Oil), getah karet (lateks), BBM dan pupuk.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945.Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Ringkasan sejarah perkeretaapian Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Ringkasan Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Periode Status Dasar hukum

1864

Pertama kali dibangun jalan rel sepanjang 26 km antara Kemijen Tanggung oleh Pemerintah Hindia Belanda

1864 s.d 1945

Staat Spoorwegen (SS) Verenigde

Spoorwegenbedrifj (VS) Deli Spoorwegen Maatschappij (DSM)

1998 s.d 2010 PT Kereta Api (Persero)

PP. No. 19 Th. 1998, Keppres No. 39 Th. 1999, Akte Notaris Imas Fatimah Mei 2010 s.d

sekarang PT Kereta Api Indonesia (Persero) Instruksi Direksi No.

16/OT.203/KA 2010 Sumber : PT Kereta Api Indonesia

5.2 Logo dan Visi Misi Perusahaan

Logo PT Kereta Api

Gambar 5.1 Logo PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Makna dari logo perusahaan kereta api adalah sebagai berikut :

3 Garis melengkung melambangkan gerakan yang dinamis PT Kereta Api Indonesia dalam mencapai Visi dan Misinya

2 Garis warna orange melambangkan proses pelayanan prima (kepuasan pelanggan) yang ditujukan kepada pelanggan internal dan eksternal. Anak panah berwarna putih melambangkan nilai integritas yang harus dimiliki insan PT Kereta Api Indonesia dalam mewujudkan pelayanan prima

1 Garis lengkung berwarna biru melambangkan semangat inovasi yang harus dilakukan dalam memberikan nilai tambah ke stakeholders. (Inovasi dilakukan dengan semangat sinergi di semua bidang dan dimulai dari hal yang paling kecil sehingga dapat melesat).

Visi dan Misi PT Kereta Api

Visi PT Kereta Api adalah menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan dan memenuhi harapan stakeholders.

Misi PT Kereta Api adalah menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya, melalui praktek bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan kelestarian lingkungan berdasarkan 4 pilar utama : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan.

5.3 Struktur Organisasi Perusahaan Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara

Struktur organisasi perusahaan kereta api dapat dilihat dalam Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Struktur Organisasi Perusahaan

Sumber : PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumatera Utara, tahun 2015.

BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data

6.1.1 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah penumpang kereta api selama periode penelitian. Kuesioner penelitian dibagikan kepada 80 penumpang kereta api kelas ekonomi. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 6.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah % Resp.

Pria 15 18,75 80

Wanita 65 81,25 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa responden paling dominan berjenis kelamin perempuan sebanyak 81,25 % sedangkan pria sebanyak 18,75%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa wanita lebih banyak menggunakan transportasi kereta api dibandingkan pria.

Tabel 6.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah % Resp.

17 – 25 35 43,75 80

26 – 35 31 38,75 80

36 – 45 10 12,5 80

> 45 4 5 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa penumpang kereta api berusia 17-25 tahun sebesar 43,75%, yang berusia 26-35

tahun sebesar 38,75%, berusia 36-45 tahun sebesar 12,5% dan yang berusia diatas 45 tahun sebesar 5%. Data ini memperlihatkan bahwa sebagian besar konsumen yang menggunakan kereta api berada pada usia sekolah dan meniti karir atau pekerjaan.

Tabel 6.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Jumlah % Resp.

Pelajar 21 26,25 80

PNS 7 8,75 80

Pegawai Swasta 13 16,25 80

Wiraswasta 39 48,75 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa responden yang paling dominan berprofesi wiraswasta sebanyak 48,75%, pelajar sebanyak 26,25%, pegawai swasta sebanyak 16,25% dan PNS sebanyak 8,75%.

Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas yang berprofesi wiraswasta yang melakukan perjalanan dengan kereta api.

Tabel 6.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Alasan Perjalanan

Alasan Perjalanan Jumlah % Resp.

Kuliah 3 3,75 80

Bekerja 24 30 80

Keperluan pribadi 53 66,25 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan alasan perjalanan menggunakan kereta api sebanyak 66,25% menggunakan kereta api sebagai transportasi untuk keperluan pribadi, sebanyak 30% sebagai transportasi untuk bekerja dan sebanyak 3,75% sebagai transportasi untuk kuliah. Dari data tersebut mayoritas responden menggunakan kereta api untuk keperluan pribadi seperti mengunjungi keluarga, kembali kekampung halaman dan keperluan usaha bagi wiraswasta.

6.1.2 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian

6.1.2.1 Penjelasan Responden Atas Variabel Produk (X1)

Tabel 6.5 Karakteristik responden atas variabel produk

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Pengguna kereta api mendapat jaminan keselamatan dan rasa aman didalam kereta selama diperjalanan sampai di tujuan

- - - 48,75 51,25 80

2 Tempat duduk yang disediakan member kenyamanan penumpang selama perjalanan

- - 6,25 58,75 35 80

3 Tersedia pengatur suhu udara yang baik

dan sejuk digerbong selama perjalanan - 1,25 12,5 58,75 27,5 80

dan sejuk digerbong selama perjalanan - 1,25 12,5 58,75 27,5 80