BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Perusahaan Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara (Stasiun Kereta Api Medan). Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai awal Desember 2014 hingga Oktober 2015.
4.2 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematik, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek atau populasi tertentu (Sinulingga, 2013:31) dimana penelitian ini sering juga disebut sebagai penelitian survey karena data-data yang digunakan dikumpulkan dengan teknik wawancara yang didukung oleh angket atau schedule questionare atau interview guide. Metode survei pada umumnya menggunakan instrumen kuesioner (questionnare) yang diisi oleh para responden dari objek penelitian yang ditetapkan dengan metode tertentu.
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan anggota atau kelompok yang membentuk objek yang dikenakan investigasi oleh peneliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna jasa angkutan kereta api penumpang di stasiun Medan selama periode penelitian. Sedangkan sampel adalah sebuah subset
yang ditarik dengan metode tertentu dari populasi untuk diteliti guna menggambarkan karakteristik dari populasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan nonprobability sampling atau pengambilan sampel secara tidak acak, dimana tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena karena faktor yang sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti.
Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan quota sampling, tipe kedua dari pengambilan sampel bertujuan. Pengambilan sampel kuota menjamin semua bagian kelompok dalam populasi terwakili secara memadai dalam sampel. Sampel kuota pada dasarnya merupakan sampel berstrata dimana subjek dipilih secara tidak acak (nonrandomly) (Suharso, 2009:75). Sehubungan dengan penentuan ukuran sampel, berdasarkan rule of thumb, Roscoe dalam Sinulingga (2013:218) menyarankan hal-hal sebagai berikut :
a. Ukuran sampel yang layak untuk sebagian besar penelitian adalah antara 30 hingga 500
b. Jika sampel terbagi dalam kategori misalnya laki-laki-perempuan, senior-junior, ganjil-genap, besar –kecil dan lain-lain maka jumlah elemen dalam sampel untuk setiap kategori sebaiknya minimum 30
c. Jika penelitian terkait dengan analisis multivariate (analisis korelasi atau regresi berganda) maka ukuran sampel sebaiknya beberapa kali biasanya minimal 10 kali dari jumlah variabel yang diteliti. Misalnya jika variabel
penelitian yang terdiri dari variabel independen dan variabel dependen berjumlah 5 buah maka besar sampel sedikitnya 50
d. Untuk penelitian eksperimen sederhana yang menggunakan experimental group dan control group, besar sampel masing-masing group antara 10-20 Maka dalam penelitian ini variabel penelitian yang terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat berjumlah 8 sehingga jumlah sampel sebanyak 80 dan akan dibagi kedalam 4 rute perjalanan kelas ekonomi kereta api.
4.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui angket/kuesioner, wawancara dan observasi.
1. Menurut Sugiyono (2008:199) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Kuesioner dapat diberikan kepada responden melalui beberapa cara : disampaikan langsung oleh peneliti kepada responden, dikirim bersama-sama dengan barang lain seperti paket, majalah dan sebagainya, ditempatkan di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang, dikirim melalui pos, menggunakan teknologi komputer (e-mail) dan faksimili (Sanusi, 2011:109).
2. Wawancara merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan data dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan responden yaitu orang-orang tertentu yang ditetapkan sebagai sumber data.
3. Observasi yaitu pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan dipelajari baik dalam lingkungan kerja alamiahnya maupun dalam laboratorium setting (Sinulingga, 2013: 185).
4.5 Jenis dan Sumber Data
Data dapat diperoleh dari dua sumber utama yaitu sumber primer dan sumber sekunder.
1. Data Primer
Yaitu data yang diperoleh dengan cara mencari/menggali secara langsung dari sumbernya oleh peneliti bersangkutan. Data primer dikumpulkan melalui penyebaran kuisioner yaitu memberi daftar pertanyaan secara tertutup kepada responden yang dilengkapi dengan alternatif jawaban yang tersedia, serta wawancara dengan pihak yang berwenang pada Perusahaan Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara.
2. Data Sekunder
Yaitu data yang sudah tersedia oleh pihak lain sehingga tidak perlu lagi digali secara langsung dari sumbernya oleh peneliti. Berbagai sumber data sekunder antara lain studi dokumentasi pada Perusahaan Kereta Api Indonesia Divisi Regional I Sumatera Utara, laporan-laporan penelitian dan arsip-arsip yang terkait dengan penelitian.
4.6 Skala pengukuran
Skala Likert dirancang untuk menguji tingkat kesetujuan (degree of agreeness) responden terhadap suatu pernyataan. Tingkat kesetujuan itu pada umumnya dibagi atas lima tingkatan yaitu Sangat tidak setuju (1), Tidak setuju
(2), Netral (3), Setuju (4), dan Sangat setuju (5). Responden diminta melingkari nomor yang sesuai dengan penilaiannya. Skala Likert adalah termasuk dalam skala interval dan perbedaan dalam jawaban antara dua point dalam skala mempunyai nilai yang sama. Pengukuran variabel dilakukan bukan melalui pertanyaan (question) tetapi melalui pernyataan (statement) dan responden diminta membuat pilihan tentang tingkat kesetujuannya sesuai dengan persepsinya dengan cara melingkari salah satu angka diatas. Contoh skala Likert :
5 4 3 2 1
Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju
4.7 Uji Instrumen Penelitian a. Uji Validitas
Validitas data ialah suatu ukuran yang mengacu kepada derajat kesesuaian
antara data yang dikumpulkan dan data sebenarnya dalam sumber data. Data yang valid diperoleh apabila instrumen pengumpulan data juga valid. Oleh karena itu untuk menguji validitas data maka pengujian dilakukan terhadap intrumen pengumpulan data (Sinulingga, 2013:226). Uji Validitas yang digunakan adalah uji Korelasi Product Moment yang dikembangkan oleh Pearson yaitu sebagai berikut :
Pengujian validitas instrumen penelitian ini dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS 20. Instrumen dikatakan valid jika nilai r hitung > r tabel.
Nilai r tabel menggunakan signifikansi 0,05 dengan uji 2 sisi dan jumlah
responden = 80 adalah 0,223. Hasil uji validitas dapat dilihat pada dalam Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Uji Validitas Penelitian
Variabel Pertanyaan Nilai r hitung Keterangan
Produk (X1)
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa keseluruhan butir pernyataan memiliki nilai r hitung > 0,223, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh atribut pernyataan yang digunakan adalah valid.
b. Uji Reliabilitas
Realibilitas adalah untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten, apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama pula. Uji reliabilitas alat ukur dapat dilakukan secara eksternal maupun internal (Siregar, 2013:57-58).
Metode yang digunakan untuk menghitung reliabilitas menggunakan uji Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut :
Kriteria suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel dengan menggunakan teknik ini, bila koefisien reliabilitas (r11) > 0,6. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat dalam Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Uji Reliabilitas Penelitian
Variabel Nilai r hitung Keterangan
Produk (X1) 0,738 Reliabel
Harga (X2) 0,689 Reliabel
Lokasi/Distribusi (X3) 0,695 Reliabel
Promosi (X4) 0,663 Reliabel
Orang (X5) 0,828 Reliabel
Proses (X6) 0,755 Reliabel
Bukti Fisik (X7) 0,758 Reliabel
Keputusan Menggunakan KA (Y) 0,909 Reliabel
Sumber : Hasil apenelitian, 2015 (data diolah)
Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa masing-masing variabel menunjukkan Alpha Cronbach > 0,6 maka dapat dinyatakan instrumen tersebut adalah reliabel.
4.8 Uji Asumsi Klasik
Setelah data berhasil dikumpulkan, selanjutnya dalam rangka analisis hubungan–hubungan antar variabel, maka data akan terlebih dahulu diuji. Untuk
mengetahui dan memahami uji persyaratan data, maka uji dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 20.
a. Uji Normalitas
Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel dependen, independen atau keduanya berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi normal atau mendekati normal (Umar, 2011:181).
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, terdapat masalah multikolinearitas yang harus diatasi (Umar, 2011:177).
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, disebut homoskedastisitas, sementara untuk varians yang berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas (Umar, 2011:179).
4.9 Analisis Data
4.9.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Regresi berganda digunakan sebagai alat deskriptif dalam tiga situasi.
Pertama, regresi ini seringkali digunakan untuk mengembangkan sebuah persamaan estimasi pembobot-sendiri (self-weighting estimating equation) yang memprediksi nilai-nilai sebuah variabel kriteria dari nilai-nilai beberapa variabel
pengendalian variabel-variabel pembaur agar dapat dilakukan evaluasi yang lebih baik pada variabel-variabel lain. Penggunaan ketiga dari regresi berganda adalah untuk menguji dan menjelaskan teori sebab-akibat. Sebagai alat deskriptif, regresi berganda juga digunakan sebagai sebuah alat untuk menarik kesimpulan untuk menguji hipotesis dan untuk mengestimasi nilai-nilai populasi. Persamaan umum dari regresi berganda adalah sebagai berikut :
Y= β0 + β1X1+β2X2+β3X3 Di mana :
+...+βnXn + ε
β0
β
= Konstanta, Nilai Y jika semua nilai X adalah nol
1 = Lereng dari regresi (β mewakili koefisien regresi yang terkait dengan setiap X
ε = error, biasanya terdistribusi disekitar 0 (Untuk tujuan perhitungan, ε diasumsikan sama dengan 0) (Cooper, Schindler, 2006:308).
1
4.9.2 Pengujian Hipotesis
a. Pengujian Hipotesis dengan Uji secara serentak (Uji-F)
Uji-F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Uji-F dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut tabel. Bila nilai F hasil perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut tabel maka hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen.
b. Pengujian Hipotesis dengan Uji Parsial (Uji-t)
Uji-t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat. Uji-t dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis menurut tabel. Apabila nilai statistik t hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, maka hipotesa alternatif diterima, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen (Mudrajad Kuncoro, 2003:218-220).
c. Pengujian R 2
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh sebuah variabel X atau lebih (bebas) terhadap variabel Y (terikat). Rumus : KD = ( r )
(Koefisien Determinasi)
2 x 100% (Siregar, 2013:252).
BAB V
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
5.1 Sejarah Perkeretaapian
Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.
Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan kereta api di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.
Selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan kereta api sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujung Pandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan kereta api
Pontianak-Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api. Rel kereta api pertama di Sumatera Utara dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Belanda yang bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) di tahun 1883 yang menghubungkan kota Medan dan Labuan (Laboean) yang merupakan cikal bakal jalur kereta api Medan-Belawan. Sejak dulu Pelabuhan Belawan merupakan pelabuhan utama Sumatera Utara untuk membawa hasil bumi seperti tembakau keluar negeri. Dulu, Labuan merupakan sentral keramaian, bahkan sebelum kota Medan berdiri. Pelabuhan Labuan di Sungai Deli inilah yang menjadi pusat perdagangan, transportasi dan bongkar muat barang perkebunan (khususnya tembakau) di Sumatera bagian Timur, akan tetapi karena Labuan seringkali kebanjiran dan tidak mampu mengakomodasi kapal-kapal uap besar maka transportasi usaha perkebunan mulai dikonsentrasikan ke Pelabuhan Belawan.
Jalur kereta api Medan-Belawan yang berjarak sekitar 21 kilometer, pada saat itu memiliki beberapa stasiun, yaitu Stasiun Medan – Gloegoer – Poeloebraijan – Mabar – Titi Papan – Kampong Besar – Laboean – Belawan – Pasar Belawan dan Pelabuhan Belawan (Oceanhaven I – II dan III). Akan tetapi seiring perkembangan waktu, bertambahnya transportasi jalan raya dan berkurangnya tingkat okupansi penumpang, maka pada saat ini jalur Medan-Belawan tidak lagi digunakan untuk mengangkut penumpang, melainkan hanya digunakan untuk laur kereta api barang saja, yakni kereta api barang pengangkut CPO (Crude Palm Oil), PKO (Palm Kernel Oil), getah karet (lateks), BBM dan pupuk.
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945.Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Ringkasan sejarah perkeretaapian Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Ringkasan Sejarah Perkeretaapian Indonesia
Periode Status Dasar hukum
1864
Pertama kali dibangun jalan rel sepanjang 26 km antara Kemijen Tanggung oleh Pemerintah Hindia Belanda
1864 s.d 1945
Staat Spoorwegen (SS) Verenigde
Spoorwegenbedrifj (VS) Deli Spoorwegen Maatschappij (DSM)
1998 s.d 2010 PT Kereta Api (Persero)
PP. No. 19 Th. 1998, Keppres No. 39 Th. 1999, Akte Notaris Imas Fatimah Mei 2010 s.d
sekarang PT Kereta Api Indonesia (Persero) Instruksi Direksi No.
16/OT.203/KA 2010 Sumber : PT Kereta Api Indonesia
5.2 Logo dan Visi Misi Perusahaan
Logo PT Kereta Api
Gambar 5.1 Logo PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Makna dari logo perusahaan kereta api adalah sebagai berikut :
3 Garis melengkung melambangkan gerakan yang dinamis PT Kereta Api Indonesia dalam mencapai Visi dan Misinya
2 Garis warna orange melambangkan proses pelayanan prima (kepuasan pelanggan) yang ditujukan kepada pelanggan internal dan eksternal. Anak panah berwarna putih melambangkan nilai integritas yang harus dimiliki insan PT Kereta Api Indonesia dalam mewujudkan pelayanan prima
1 Garis lengkung berwarna biru melambangkan semangat inovasi yang harus dilakukan dalam memberikan nilai tambah ke stakeholders. (Inovasi dilakukan dengan semangat sinergi di semua bidang dan dimulai dari hal yang paling kecil sehingga dapat melesat).
Visi dan Misi PT Kereta Api
Visi PT Kereta Api adalah menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan dan memenuhi harapan stakeholders.
Misi PT Kereta Api adalah menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya, melalui praktek bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan kelestarian lingkungan berdasarkan 4 pilar utama : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan.
5.3 Struktur Organisasi Perusahaan Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara
Struktur organisasi perusahaan kereta api dapat dilihat dalam Gambar 5.2.
Gambar 5.2 Struktur Organisasi Perusahaan
Sumber : PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumatera Utara, tahun 2015.
BAB VI
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
6.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data
6.1.1 Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah penumpang kereta api selama periode penelitian. Kuesioner penelitian dibagikan kepada 80 penumpang kereta api kelas ekonomi. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 6.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah % Resp.
Pria 15 18,75 80
Wanita 65 81,25 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Hasil karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa responden paling dominan berjenis kelamin perempuan sebanyak 81,25 % sedangkan pria sebanyak 18,75%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa wanita lebih banyak menggunakan transportasi kereta api dibandingkan pria.
Tabel 6.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah % Resp.
17 – 25 35 43,75 80
26 – 35 31 38,75 80
36 – 45 10 12,5 80
> 45 4 5 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Hasil karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa penumpang kereta api berusia 17-25 tahun sebesar 43,75%, yang berusia 26-35
tahun sebesar 38,75%, berusia 36-45 tahun sebesar 12,5% dan yang berusia diatas 45 tahun sebesar 5%. Data ini memperlihatkan bahwa sebagian besar konsumen yang menggunakan kereta api berada pada usia sekolah dan meniti karir atau pekerjaan.
Tabel 6.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Jumlah % Resp.
Pelajar 21 26,25 80
PNS 7 8,75 80
Pegawai Swasta 13 16,25 80
Wiraswasta 39 48,75 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Hasil karakteristik responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa responden yang paling dominan berprofesi wiraswasta sebanyak 48,75%, pelajar sebanyak 26,25%, pegawai swasta sebanyak 16,25% dan PNS sebanyak 8,75%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas yang berprofesi wiraswasta yang melakukan perjalanan dengan kereta api.
Tabel 6.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Alasan Perjalanan
Alasan Perjalanan Jumlah % Resp.
Kuliah 3 3,75 80
Bekerja 24 30 80
Keperluan pribadi 53 66,25 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Hasil karakteristik responden berdasarkan alasan perjalanan menggunakan kereta api sebanyak 66,25% menggunakan kereta api sebagai transportasi untuk keperluan pribadi, sebanyak 30% sebagai transportasi untuk bekerja dan sebanyak 3,75% sebagai transportasi untuk kuliah. Dari data tersebut mayoritas responden menggunakan kereta api untuk keperluan pribadi seperti mengunjungi keluarga, kembali kekampung halaman dan keperluan usaha bagi wiraswasta.
6.1.2 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian
6.1.2.1 Penjelasan Responden Atas Variabel Produk (X1)
Tabel 6.5 Karakteristik responden atas variabel produk
No Pertanyaan
STS TS N S SS
Total
% % % % %
1 Pengguna kereta api mendapat jaminan keselamatan dan rasa aman didalam kereta selama diperjalanan sampai di tujuan
- - - 48,75 51,25 80
2 Tempat duduk yang disediakan member kenyamanan penumpang selama perjalanan
- - 6,25 58,75 35 80
3 Tersedia pengatur suhu udara yang baik
dan sejuk digerbong selama perjalanan - 1,25 12,5 58,75 27,5 80 4 Penataan interior (letak kursi, cahaya
lampu, bagasi,) memberi kenyamanan selama perjalanan
- - 7,5 76,25 16,25 80
5 Tersedia kamar mandi yang bersih dan
nyaman didalam kereta api - - 15 61,25 23,75 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Analisis deskriptif untuk variabel produk dalam penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden menjawab setuju dengan jaminan keselamatan selama diperjalanan sampai ditempat tujuan, sebagian besar penumpang sebanyak 58,75% setuju dengan tempat duduk yang disediakan selama perjalanan, sebanyak 58,75% setuju dengan pengatur suhu udara didalam kereta, sebanyak 76,25% setuju dengan penataan interior kereta api dan sebanyak 61,25% setuju dengan fasilitas kamar mandi di dalam kereta sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pengunjung setuju dengan produk yang disediakan kereta api.
6.1.2.2 Penjelasan Responden Atas Variabel Harga (X2)
Tabel 6.6 Karakteristik responden atas variabel harga
No Pertanyaan
STS TS N S SS
Total
% % % % %
1 Harga tiket kereta api sesuai dengan jenis
kelas yang ditawarkan - 2,5 6,25 67,5 23,75 80 2 Harga tiket kereta api bersaing dengan
harga tiket bis untuk rute yang searah - 5 18,75 53,75 22,5 80 3 Pada hari-hari tertentu diberikan diskon/
potongan harga tiket kepada penumpang - 5 21,25 57,50 16,25 80 4 Harga tiket kereta api sebanding dengan
pelayanan yang diperoleh - - 10 63,75 26,25 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Analisis deskriptif untuk variabel harga dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju dengan tarif dan kebijakan mengenai harga yang ditetapkan PT Kereta Api dimana sebanyak 67,50% setuju dengan harga tiket yang ditawarkan, dan rata-rata setuju dengan kebijakan mengenai harga tiket kereta api.
6.1.2.3 Penjelasan Responden Atas Variabel Lokasi/Distribusi (X3)
Tabel 6.7 Karakteristik responden atas variabel lokasi/distribusi
No Pertanyaan
STS TS N S SS
Total
% % % % %
1 Akses Menuju lokasi/stasiun kereta api mudah
untuk dicapai - - 6,25 57,5 36,25 80
2 Tersedia sarana transportasi umum menuju
stasiun kereta api - - 2,5 63,75 33,75 80
3 Memperluas jaringan pemasaran dengan
memberlakukan ticketing on-line - - 2,5 51,25 46,25 80
4 Memperluas jaringan pemasaran/ pembelian tiket diluar stasiun melalui agen yang ditunjuk PT Kereta Api
- - 7,5 58,75 33,75 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Analisis deskriptif untuk variabel lokasi/distribusi menunjukkan bahwa rata-rata responden sebanyak 57,50% setuju dengan akses menuju lokasi stasiun mudah untuk dicapai, dan sebanyak 63,75% menyatakan setuju dengan ketersediaan sarana menuju stasiun, sebanyak 51,25% setuju dan 46,25% sangat setuju dengan distribusi pemasaran tiket kereta api secara online dan sebanyak 58,75% setuju dengan distribusi pemasaran melalui agen yang ditunjuk PT Kereta Api.
6.1.2.4 Penjelasan Responden Atas Variabel Promosi (X4)
Tabel 6.8 Karakteristik responden atas variabel promosi
No Pertanyaan
STS TS N S SS
Total
% % % % %
1 Penyebaran leaflet/brosur jadwal, rute
perjalanan dan tarif kereta api - - 10 65 25 80 2 Informasi jadwal, rute perjalanan dan tarif
melalui internet sehingga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat
- - 2,5 47,5 50 80
3 Adanya pemberitahuan promosi/diskon
langsung dari staf ticketing - - 15 62,5 22,5 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Analisis deskriptif untuk variabel promosi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata responden setuju dengan promosi yang dilakukan PT Kereta Api dimana sebanyak 65% setuju dengan penyebaran brosur rute, jadwal dan harga tiket kereta api, sebanyak 50% sangat setuju dan 47,5% setuju dengan informasi yang bisa diakses lewat internet serta sebanyak 62,5% setuju dengan pemberitahuan diskon dari staf ticketing kereta api.
6.1.2.5 Penjelasan Responden Atas Variabel Orang (X5)
Tabel 6.9 Karakteristik responden atas variabel orang
No Pertanyaan
STS TS N S SS
Total
% % % % %
1 Staf bagian ticket melayani dengan ramah
dan sigap - - 8,75 53,75 37,50 80
2 Staf kereta api handal memberikan informasi dan pelayanan kepada penumpang
- - 12,5 65 22,5 80
3 Staf kereta api memberi respon yang cepat atas kebutuhan pengguna jasa kereta api
- - 10 61,25 28,75 80
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)
Analisis deskriptif untuk variabel orang dalam penelitian ini menunjukkan sebanyak 53,75% setuju dengan pelayanan yang ramah dari staf tiket kereta api, sebanyak 65% setuju dengan kehandalan staf kereta api dalam memberikan informasi dan pelayanan kepada penumpang dan sebanyak 61,25% setuju dengan respon yang cepat staf kereta api atas kebutuhan penumpang sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata responden setuju dengan pelayanan yang diberikan staf kereta api terhadap kebutuhan responden.
6.1.2.6.Penjelasan Responden Atas Variabel Proses (X6)
Tabel 6.10 Karakteristik responden atas variabel proses
No Pertanyaan selain diloket kereta api melalui mitra kereta api seperti indomaret, alfamaret,
No Pertanyaan selain diloket kereta api melalui mitra kereta api seperti indomaret, alfamaret,