• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODE PENELITIAN

4.9 Analisis Data

4.9.2 Pengujian Hipotesis

a. Pengujian Hipotesis dengan Uji secara serentak (Uji-F)

Uji-F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Uji-F dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F menurut tabel. Bila nilai F hasil perhitungan lebih besar daripada nilai F menurut tabel maka hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa semua variabel independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen.

b. Pengujian Hipotesis dengan Uji Parsial (Uji-t)

Uji-t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual dalam menerangkan variasi variabel terikat. Uji-t dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilai statistik t dengan titik kritis menurut tabel. Apabila nilai statistik t hasil perhitungan lebih tinggi dibandingkan nilai t tabel, maka hipotesa alternatif diterima, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen (Mudrajad Kuncoro, 2003:218-220).

c. Pengujian R 2

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui kontribusi atau sumbangan yang diberikan oleh sebuah variabel X atau lebih (bebas) terhadap variabel Y (terikat). Rumus : KD = ( r )

(Koefisien Determinasi)

2 x 100% (Siregar, 2013:252).

BAB V

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Sejarah Perkeretaapian

Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.

Pembangunan diprakarsai oleh Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan kereta api di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.

Selain di Jawa, pembangunan jalan kereta api juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan kereta api sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujung Pandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan kereta api

Pontianak-Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api. Rel kereta api pertama di Sumatera Utara dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Belanda yang bernama Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) di tahun 1883 yang menghubungkan kota Medan dan Labuan (Laboean) yang merupakan cikal bakal jalur kereta api Medan-Belawan. Sejak dulu Pelabuhan Belawan merupakan pelabuhan utama Sumatera Utara untuk membawa hasil bumi seperti tembakau keluar negeri. Dulu, Labuan merupakan sentral keramaian, bahkan sebelum kota Medan berdiri. Pelabuhan Labuan di Sungai Deli inilah yang menjadi pusat perdagangan, transportasi dan bongkar muat barang perkebunan (khususnya tembakau) di Sumatera bagian Timur, akan tetapi karena Labuan seringkali kebanjiran dan tidak mampu mengakomodasi kapal-kapal uap besar maka transportasi usaha perkebunan mulai dikonsentrasikan ke Pelabuhan Belawan.

Jalur kereta api Medan-Belawan yang berjarak sekitar 21 kilometer, pada saat itu memiliki beberapa stasiun, yaitu Stasiun Medan – Gloegoer – Poeloebraijan – Mabar – Titi Papan – Kampong Besar – Laboean – Belawan – Pasar Belawan dan Pelabuhan Belawan (Oceanhaven I – II dan III). Akan tetapi seiring perkembangan waktu, bertambahnya transportasi jalan raya dan berkurangnya tingkat okupansi penumpang, maka pada saat ini jalur Medan-Belawan tidak lagi digunakan untuk mengangkut penumpang, melainkan hanya digunakan untuk laur kereta api barang saja, yakni kereta api barang pengangkut CPO (Crude Palm Oil), PKO (Palm Kernel Oil), getah karet (lateks), BBM dan pupuk.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945.Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI). Ringkasan sejarah perkeretaapian Indonesia dapat dilihat dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Ringkasan Sejarah Perkeretaapian Indonesia

Periode Status Dasar hukum

1864

Pertama kali dibangun jalan rel sepanjang 26 km antara Kemijen Tanggung oleh Pemerintah Hindia Belanda

1864 s.d 1945

Staat Spoorwegen (SS) Verenigde

Spoorwegenbedrifj (VS) Deli Spoorwegen Maatschappij (DSM)

1998 s.d 2010 PT Kereta Api (Persero)

PP. No. 19 Th. 1998, Keppres No. 39 Th. 1999, Akte Notaris Imas Fatimah Mei 2010 s.d

sekarang PT Kereta Api Indonesia (Persero) Instruksi Direksi No.

16/OT.203/KA 2010 Sumber : PT Kereta Api Indonesia

5.2 Logo dan Visi Misi Perusahaan

Logo PT Kereta Api

Gambar 5.1 Logo PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Makna dari logo perusahaan kereta api adalah sebagai berikut :

3 Garis melengkung melambangkan gerakan yang dinamis PT Kereta Api Indonesia dalam mencapai Visi dan Misinya

2 Garis warna orange melambangkan proses pelayanan prima (kepuasan pelanggan) yang ditujukan kepada pelanggan internal dan eksternal. Anak panah berwarna putih melambangkan nilai integritas yang harus dimiliki insan PT Kereta Api Indonesia dalam mewujudkan pelayanan prima

1 Garis lengkung berwarna biru melambangkan semangat inovasi yang harus dilakukan dalam memberikan nilai tambah ke stakeholders. (Inovasi dilakukan dengan semangat sinergi di semua bidang dan dimulai dari hal yang paling kecil sehingga dapat melesat).

Visi dan Misi PT Kereta Api

Visi PT Kereta Api adalah menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan dan memenuhi harapan stakeholders.

Misi PT Kereta Api adalah menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya, melalui praktek bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan kelestarian lingkungan berdasarkan 4 pilar utama : keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan dan kenyamanan.

5.3 Struktur Organisasi Perusahaan Kereta Api Divisi Regional I Sumatera Utara

Struktur organisasi perusahaan kereta api dapat dilihat dalam Gambar 5.2.

Gambar 5.2 Struktur Organisasi Perusahaan

Sumber : PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumatera Utara, tahun 2015.

BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1 Pengumpulan dan Pengolahan Data

6.1.1 Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah penumpang kereta api selama periode penelitian. Kuesioner penelitian dibagikan kepada 80 penumpang kereta api kelas ekonomi. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 6.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah % Resp.

Pria 15 18,75 80

Wanita 65 81,25 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa responden paling dominan berjenis kelamin perempuan sebanyak 81,25 % sedangkan pria sebanyak 18,75%. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa wanita lebih banyak menggunakan transportasi kereta api dibandingkan pria.

Tabel 6.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah % Resp.

17 – 25 35 43,75 80

26 – 35 31 38,75 80

36 – 45 10 12,5 80

> 45 4 5 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa penumpang kereta api berusia 17-25 tahun sebesar 43,75%, yang berusia 26-35

tahun sebesar 38,75%, berusia 36-45 tahun sebesar 12,5% dan yang berusia diatas 45 tahun sebesar 5%. Data ini memperlihatkan bahwa sebagian besar konsumen yang menggunakan kereta api berada pada usia sekolah dan meniti karir atau pekerjaan.

Tabel 6.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Jumlah % Resp.

Pelajar 21 26,25 80

PNS 7 8,75 80

Pegawai Swasta 13 16,25 80

Wiraswasta 39 48,75 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan pekerjaan menunjukkan bahwa responden yang paling dominan berprofesi wiraswasta sebanyak 48,75%, pelajar sebanyak 26,25%, pegawai swasta sebanyak 16,25% dan PNS sebanyak 8,75%.

Data tersebut memperlihatkan bahwa mayoritas yang berprofesi wiraswasta yang melakukan perjalanan dengan kereta api.

Tabel 6.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Alasan Perjalanan

Alasan Perjalanan Jumlah % Resp.

Kuliah 3 3,75 80

Bekerja 24 30 80

Keperluan pribadi 53 66,25 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Hasil karakteristik responden berdasarkan alasan perjalanan menggunakan kereta api sebanyak 66,25% menggunakan kereta api sebagai transportasi untuk keperluan pribadi, sebanyak 30% sebagai transportasi untuk bekerja dan sebanyak 3,75% sebagai transportasi untuk kuliah. Dari data tersebut mayoritas responden menggunakan kereta api untuk keperluan pribadi seperti mengunjungi keluarga, kembali kekampung halaman dan keperluan usaha bagi wiraswasta.

6.1.2 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian

6.1.2.1 Penjelasan Responden Atas Variabel Produk (X1)

Tabel 6.5 Karakteristik responden atas variabel produk

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Pengguna kereta api mendapat jaminan keselamatan dan rasa aman didalam kereta selama diperjalanan sampai di tujuan

- - - 48,75 51,25 80

2 Tempat duduk yang disediakan member kenyamanan penumpang selama perjalanan

- - 6,25 58,75 35 80

3 Tersedia pengatur suhu udara yang baik

dan sejuk digerbong selama perjalanan - 1,25 12,5 58,75 27,5 80 4 Penataan interior (letak kursi, cahaya

lampu, bagasi,) memberi kenyamanan selama perjalanan

- - 7,5 76,25 16,25 80

5 Tersedia kamar mandi yang bersih dan

nyaman didalam kereta api - - 15 61,25 23,75 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel produk dalam penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden menjawab setuju dengan jaminan keselamatan selama diperjalanan sampai ditempat tujuan, sebagian besar penumpang sebanyak 58,75% setuju dengan tempat duduk yang disediakan selama perjalanan, sebanyak 58,75% setuju dengan pengatur suhu udara didalam kereta, sebanyak 76,25% setuju dengan penataan interior kereta api dan sebanyak 61,25% setuju dengan fasilitas kamar mandi di dalam kereta sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pengunjung setuju dengan produk yang disediakan kereta api.

6.1.2.2 Penjelasan Responden Atas Variabel Harga (X2)

Tabel 6.6 Karakteristik responden atas variabel harga

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Harga tiket kereta api sesuai dengan jenis

kelas yang ditawarkan - 2,5 6,25 67,5 23,75 80 2 Harga tiket kereta api bersaing dengan

harga tiket bis untuk rute yang searah - 5 18,75 53,75 22,5 80 3 Pada hari-hari tertentu diberikan diskon/

potongan harga tiket kepada penumpang - 5 21,25 57,50 16,25 80 4 Harga tiket kereta api sebanding dengan

pelayanan yang diperoleh - - 10 63,75 26,25 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel harga dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju dengan tarif dan kebijakan mengenai harga yang ditetapkan PT Kereta Api dimana sebanyak 67,50% setuju dengan harga tiket yang ditawarkan, dan rata-rata setuju dengan kebijakan mengenai harga tiket kereta api.

6.1.2.3 Penjelasan Responden Atas Variabel Lokasi/Distribusi (X3)

Tabel 6.7 Karakteristik responden atas variabel lokasi/distribusi

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Akses Menuju lokasi/stasiun kereta api mudah

untuk dicapai - - 6,25 57,5 36,25 80

2 Tersedia sarana transportasi umum menuju

stasiun kereta api - - 2,5 63,75 33,75 80

3 Memperluas jaringan pemasaran dengan

memberlakukan ticketing on-line - - 2,5 51,25 46,25 80

4 Memperluas jaringan pemasaran/ pembelian tiket diluar stasiun melalui agen yang ditunjuk PT Kereta Api

- - 7,5 58,75 33,75 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel lokasi/distribusi menunjukkan bahwa rata-rata responden sebanyak 57,50% setuju dengan akses menuju lokasi stasiun mudah untuk dicapai, dan sebanyak 63,75% menyatakan setuju dengan ketersediaan sarana menuju stasiun, sebanyak 51,25% setuju dan 46,25% sangat setuju dengan distribusi pemasaran tiket kereta api secara online dan sebanyak 58,75% setuju dengan distribusi pemasaran melalui agen yang ditunjuk PT Kereta Api.

6.1.2.4 Penjelasan Responden Atas Variabel Promosi (X4)

Tabel 6.8 Karakteristik responden atas variabel promosi

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Penyebaran leaflet/brosur jadwal, rute

perjalanan dan tarif kereta api - - 10 65 25 80 2 Informasi jadwal, rute perjalanan dan tarif

melalui internet sehingga dapat diakses lebih luas oleh masyarakat

- - 2,5 47,5 50 80

3 Adanya pemberitahuan promosi/diskon

langsung dari staf ticketing - - 15 62,5 22,5 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel promosi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata responden setuju dengan promosi yang dilakukan PT Kereta Api dimana sebanyak 65% setuju dengan penyebaran brosur rute, jadwal dan harga tiket kereta api, sebanyak 50% sangat setuju dan 47,5% setuju dengan informasi yang bisa diakses lewat internet serta sebanyak 62,5% setuju dengan pemberitahuan diskon dari staf ticketing kereta api.

6.1.2.5 Penjelasan Responden Atas Variabel Orang (X5)

Tabel 6.9 Karakteristik responden atas variabel orang

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Staf bagian ticket melayani dengan ramah

dan sigap - - 8,75 53,75 37,50 80

2 Staf kereta api handal memberikan informasi dan pelayanan kepada penumpang

- - 12,5 65 22,5 80

3 Staf kereta api memberi respon yang cepat atas kebutuhan pengguna jasa kereta api

- - 10 61,25 28,75 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel orang dalam penelitian ini menunjukkan sebanyak 53,75% setuju dengan pelayanan yang ramah dari staf tiket kereta api, sebanyak 65% setuju dengan kehandalan staf kereta api dalam memberikan informasi dan pelayanan kepada penumpang dan sebanyak 61,25% setuju dengan respon yang cepat staf kereta api atas kebutuhan penumpang sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata responden setuju dengan pelayanan yang diberikan staf kereta api terhadap kebutuhan responden.

6.1.2.6.Penjelasan Responden Atas Variabel Proses (X6)

Tabel 6.10 Karakteristik responden atas variabel proses

No Pertanyaan selain diloket kereta api melalui mitra kereta api seperti indomaret, alfamaret, kantor pos dll

- - 6,25 45 48,75 80

2 Selain diloket pembelian, tiket dapat

dibeli secara online melalui internet - - 1,25 52,5 46,25 80 3 Jadwal keberangkatan dan kedatangan

kereta api tersedia dengan lengkap dan tertera dengan jelas di stasiun kereta api maupun dimedia publikasi kereta api

2,5 50 47,5 80

4 Harga/tarif yang dibayar sesuai dengan

harga yang tertera di tiket - - 2,5 50 47,5 80 Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel proses dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 45% setuju dan 48,75% sangat setuju atas kemudahan mendapatkan tiket kereta api, sebanyak 52,5% setuju dan 46,25% sangat setuju pembelian tiket dapat dilakukan secara online, sebanyak 50% setuju dan 47,5%

sangat setuju mengenai proses jadwal kereta api, sebanyak 50% setuju dan 47,5%

sangat setuju proses pembayaran tiket kereta api.

6.1.2.7.Penjelasan Responden Atas Variabel Bukti Fisik (X7)

Tabel 6.11 Karakteristik responden atas variabel bukti fisik

No Pertanyaan

STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Tersedia kursi yang memadai diruang

tunggu keberangkatan dan pembelian tiket - 2,5 3,75 62,5 31,25 80 2 Tersedia fasilitas toilet yang bersih di

stasiun kereta api - - 6,25 75 18,75 80

3 Di stasiun kereta api tersedia sarana

restoran dan minimarket - - 1,25 63,75 35 4 Di stasiun kereta api disediakan sarana

parkir yang aman dan memadai - - 10 62,50 27,5 80 5 Kondisi bangunan stasiun bersih terawat

dan tertata rapi - - 1,25 56,25 42,5 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel bukti fisik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden setuju akan bukti fisik yang ada di stasiun kereta api yang meliputi ketersediaan kursi diruang tunggu sebanyak 50%, fasilitas toilet yang bersih sebesar 60%, restoran dan minimarket sebanyak 63,75%, parkir yang memadai sebesar 62,5% dan kondisi bangunan stasiun yang terawat sebesar 56,25%.

6.1.2.8 Penjelasan Responden Atas Variabel Keputusan Menggunakan Kereta Api (Y)

Tabel 6.12 Karakteristik responden atas variabel Y (keputusan menggunakan transportasi kereta api)

No Pertanyaan STS TS N S SS

Total

% % % % %

1 Saya merekomendasikan transportasi kereta api kepada keluarga dan teman-teman saya

- - 2,5 66,25 31,25 80

2 Saya menggunakan kereta api karena pelayanan yang saya peroleh sesuai dengan harapan dan keinginan saya

- - 2,5 62,5 35 80

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Analisis deskriptif untuk variabel keputusan menggunakan transportasi kereta api dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 66,25% responden menjawab setuju dan 31,25% menjawab sangat setuju untuk merekomendasikan transportasi kereta api kepada keluarga dan teman, sebanyak 62,5% setuju dan 35% sangat setuju untuk menggunakan transportasi kereta api karena pelayan yang diberikan PT Kereta Api sesuai dengan harapan responden

6.1.3 Hasil Uji Asumsi Klasik

6.1.3.1 Uji Normalitas Data

Pengujian normalitas data hasil penelitian menggunakan analisis statistik menurut uji Kolmogorov-Smirnov (K-S). Data hasil penelitian dinyatakan berdistribusi normal jika nilai Asymp sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05 untuk signifikansi 95%. Hasil pengujian normalitas dapat dilihat pada Tabel 6.13.

Tabel 6.13 Uji Normalitas

Unstandardized Residual

N 80

Normal Parametersab Mean 0E-7q

Std.Deviation 0,55197658

Most Extreme Absolute .071

Differences Positive .045

Negative -.071

Kolmogorov-Smirnov Z .632

Asymp.Sig. (2-tailed) .819

a. Test distribution is Normal b. Calculated from data

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 6.13, dapat disimpulkan bahwa data hasil penelitian berdistribusi normal dimana nilai Asymp sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05 yakni 0,819 > 0,05.

6.1.3.2 Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan Variance Inflation Factor (VIF) dengan ketentuan bila tolerance value > 0,1 atau VIF < 5 maka tidak

terjadi multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat dalam Tabel 6.14.

Tabel 6.14 Uji Multikolinieritas

Model Colinearity Statistic

Tolerance VIF

Produk (X1) .751 1.332

Harga (X2) .804 1.244

Lokasi/Distribusi (X3) .544 1.838

Promosi (X4) .712 1.405

Orang (X5) .764 1.380

Proses (X6) .609 1.642

Bukti Fisik (X7) .626 1.597

a. Dependent Variabel : Keputusan Menggunakan KA (Y)

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Dari Tabel 6.14 dapat dilihat bahwa nilai FIV dari setiap variable < 5 dan nilai tolerance > 0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinieritas antara variable independen.

6.1.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji Heterokedastisitas yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan uji Glejser. Data hasil penelitian dinyatakan tidak terjadi heteroskedastisitas jika variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen absolute Ut (absUd).

Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansinya diatas tingkat kepercayaan 0,05.

Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat dalam Tabel 6.15.

Tabel 6.15 Uji Heteroskedastisitas

a. Dependen Variabel : Absut

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah)

Dari Tabel 6.15 dapat dilihat bahwa signifikansi variabel dependen absut diatas 0,05 sehingga disimpulkan model regresi tidak mengarah adanya heteroskedastisitas.

6.2 Analisa dan Pembahasan

6.2.1 Pengujian Hipotesis

6.2.1.1 Uji Hipotesis Secara Simultan (Uji-F)

Untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan uji-F. Jika F hitung < F tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak sedangkan jika F hitung > F tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima. Nilai F tabel

Tabel 6.16 Uji secara Simultan (Uji-F)

dari tabel distribusi F dengan derajat kepercayaan 95 %, α = 5% adalah 2,14. Hasil uji simultan dapat dilihat dalam Tabel 6.16.

Model Sum of Square Df Mean Square F Sig.

1 Regression 40.918 7 5.845 17.486 .000b

Residual 24.070 72 .334

Total 64.988 79

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah) Dari Tabel 6.16 dapat dilihat bahwa Fhitung > Ftabel

6.2.1.2 Uji Hipotesis Secara Parsial (Uji-t)

( 17.486 > 2.14), maka Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya ada pengaruh yang signifikan dari bauran pemasaran jasa secara bersama-sama terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

Pengujian hipotesis secara parsial dilakukan menurut uji statistik t (uji-t) dengan kriteria pengujian :

Jika thitung < ttabel Jika t

atau Nilai Sig > 0.05 maka H0 diterima

hitung = ttabel atau Nilai Sig = 0.05 maka H0 diterima

Jika thitung > ttabel

Hasil uji parsial pada tingkat signifikan α = 5% diperoleh t atau Nilai Sig < 0.05 maka H0 ditolak

tabel

Tabel 6.17 Uji secara Parsial (Uji-t)

= 1,993 dapat dilihat dalam Tabel 6.17.

a. Dependent variabel : Keputusan Menggunakan KA (Y)

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah) Dari tabel 6.17 dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Variabel produk, nilai dari variabel produk bernilai negatif yakni -4,218 yang menunjukkan korelasi berlawanan arah dengan nilai Sig lebih kecil dari 0,05 dimana - thitung > - ttabel

2. Variabel harga, yaitu t

atau -4.218 > - 1.993 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya produk transportasi kereta api mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

hitung < ttabel atau 1.298 < 1.993 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya harga tiket kereta api tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

3. Variabel Lokasi/Distribusi, yaitu thitung < ttabel

4. Variabel promosi, yaitu t

atau -1.198 < 1.993 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya lokasi/distribusi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

hitung < ttabel

5. Variabel orang, yaitu t

atau 0.079 < 1.993 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya promosi kereta api tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

hitung < ttabel

6. Variabel proses, yaitu t

atau 0.870 < 1.993 maka H0 diterima dan H1 ditolak, artinya orang/karyawan kereta api tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

hitung < ttabel

7. Variabel bukti fisik, yaitu t

atau 0.893 < 1.993 maka H0 diterima dan H1 ditolak, proses tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

hitung > ttabel

6.2.2 Analisis Koefisien Determinasi (R

atau 8.931 > 1.993 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya bukti fisik / lingkungan fisik stasiun kereta api mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan menggunakan transportasi kereta api.

2

Analisis koefisien determinasi (R )

2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan pengaruh variabel independen secara serentak

terhadap variabel dependen. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat dalam

a. Predictors : (Constant), Bukti Fisik (X7), Harga (X1), Promosi (X4), Produk (X1), Orang (X5), Proses (X6), Lokasi (X4)

Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (data diolah) Nilai koefisien determinasi (R2

6.2.3 Analisis Regresi Linear Berganda

) pada penelitian ini adalah sebesar 0.594 atau 59,4%, artinya 59,4 % faktor-faktor keputusan konsumen menggunakan transportasi kereta api dapat dijelaskan oleh variabel Produk, Harga, Lokasi, Promosi, Orang, Proses dan Bukti Fisik sedangkan sisanya 40.6% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar penelitian ini.

Berdasarkan output SPSS pada Tabel 6.17 pada kolom Unstandardized Coeficients, maka persamaan regresi linear berganda dapat dirumuskan sebagai

berikut :

Y = 2.532 – 0.158X1 + 0.047X2 – 0.065X3 + 0.041X4 + 0.042X5 + 0.044X6 + 0.374X7

Keterangan :

a. Konstanta sebesar 2.532 menyatakan bahwa jika variabel independen dianggap tetap (konstan), maka skor keputusan konsumen akan meningkat sebesar 2.532.

b. Koefisien regresi produk (X1) sebesar -0.158 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan produk mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami penurunan sebesar 0.158.

c. Koefisien regresi harga (X2) sebesar 0.047 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan harga mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami peningkatan sebesar 0.047.

d. Koefisien regresi lokasi (X3) sebesar -0.065 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan lokasi mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami penurunan sebesar 0.065.

e. Koefisien regresi promosi (X4) sebesar 0.041 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan promosi mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami peningkatan sebesar 0.041.

f. Koefisien regresi orang (X5) sebesar 0.042 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan orang/karyawan kereta api mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami peningkatan sebesar 0.042.

g. Koefisien regresi proses (X6) sebesar 0.044 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan proses mengalami kenaikan

1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami peningkatan sebesar 0.044.

h. Koefisien regresi bukti fisik (X7) sebesar 0.374 artinya jika variabel independen lain nilainya tetap sedangkan bukti fisik mengalami kenaikan 1 unit, maka keputusan menggunakan transportasi kereta api akan mengalami peningkatan sebesar 0.374.