• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konseptual

Dalam dokumen GELADIKARYA KRISTIAN HAMONANGAN SIHALOHO (Halaman 30-0)

BAB III. KERANGKA KONSEPTUAL

3.1. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah sebuah model yang ditunjukkan dalam bentuk diagram yang memperlihatkan struktur dan sifat hubungan logis antar variabel penelitian yang telah diidentifikasi dari teori dan temuan-temuan hasil review artikel yang akan digunakan dalam menganalisis masalah penelitian (Sekaran, 2003). Kerangka konseptual ini memperlihatkan hubungan logis antara faktor atau variabel yang telah dinyatakan dalam landasan teori dan diidentifikasi kepentingannya untuk digunakan dalam analisis permasalahan.

Penentuan kerangka konseptual dilakukan mengacu pada teori Mathis dan Jackson (2004), Mangkunegara (2000) dan juga dari hasil kuisioner terbuka terhadap karyawan TUS di empat estate yang akan diteliti maka peneliti memilih variabel kompensasi, jenjang karir dan fasilitas kerja sebagai variabel bebas. Berdasarkan hal diatas maka kerangka konseptual dalam Geladikarya ini seperti digambarkan pada Gambar 3.1. berikut:

3.2 Definisi Varibel Bebas

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual KOMPENSASI (X1)

FASILITAS KERJA (X3)

JENJANG KARIR (X2) TURNOVER INTENTION TUS

(Y)

Geladikarya ini akan membahas variabel bebas yang diyakini mempengaruhi keinginan karyawan TUS untuk keluar dari perusahaan sehingga mempengaruhi tingkat turnover intention (variabel tidak bebas) karyawan. Variabel bebas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Kompensasi, pemberian balas jasa yang diberikan perusahaan kepada karyawan TUS baik secara langsung (gaji) maupun berupa insentif pencapaian kerja (bonus pencapaian target kerja).

b. Jenjang Karir, terkait kepastian jenjang karir karyawan TUS dimana akan diukur seberapa besar pengaruh pengaruh harapan karyawan tersebut menjadi Mandor Plantation dalam kurun waktu tertentu.

c. Fasilitas Kerja, terkait dalam berbagai hal yang menunjang kelancaran bekerja seperti APD (Alat Pelindung Diri), peralatan kerja, dan mobilitas kerja.

Secara ilmiah akan dilakukan analisis ketiga variabel tersebut terhadap turnover intention dengan menggunakan Analisis Korelasi.

3.3 Hipotesis

Hipotesis didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua variabel atau lebih yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji (Sekaran, 2006). Perumusan hipotesis terhadap penelitian ini yaitu:

Ho : Tidak ada hubungan variabel kompensasi (X1) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

Ha : Ada hubungan antara kompensasi (X1) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

H1o : Tidak ada hubungan variabel jenjang karir (X2) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

H1a : Ada hubungan variabel jenjang karir (X2) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

H2o : Tidak ada hubungan variabel fasilitas kerja (X3) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

H2a : Ada hubungan variabel fasilitas kerja (X3) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

BAB IV

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan analisis korelasional sebagai pendekatan untuk membahas permasalahan yang ada. Analisis korelasional dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan (berkorelasi) dengan satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi (Sinulingga, 2011).

4.1 Lokasi dan Jadwal Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT Toba Pulp Lestari, Tbk. yang meliputi area operasional pembangunan Hutan Tanaman Industri-HTI (Estate Aek Nauli, Estate Habinsaran, Estate Aek Raja, dan Estate Tele). Penelitian ini dilakukan mulai dari Agustus 2015 sampai dengan Desember 2015.

4.2 Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Variabel bebas (X) : Kompensasi, Jenjang Karir, dan Fasilitas Kerja

b. Varibel terikat (Y) : Turnover Intention

4.3 Populasi dan Pengambilan Sample

Populasi untuk melihat tingkat turnover intention adalah karyawan TUS yang masih aktif bekerja. Karyawan TUS yang sedang aktif bekerja memiliki gambaran ideal harapan apa yang diinginkan untuk tetap bertahan sebagai karyawan TUS. Data yang dipergunakan kurun waktu Desember 2013 s/d Juli 2015 menunjukkan jumlah seluruh populasi sebanyak 104 orang. Penelitian ini menggunakan teknik sensus dalam penyebaran kuisioner.

Indikator Definisi - Kesempatan menjadi Mandor Skala Likert:

- 1 : Sangat Setuju

- Fasilitas penunjang lainnya 1 : Sangat Setuju - Pelatihan 2 : Setuju Terkait dalam berbagai hal yang menunjang kelancaran

bekerja seperti APD (Alat Pelindung Diri), peralatan kerja, mobilitas kerja dan pelatihan (training) operasional

Fasilitas Kerja (X3)

Turnover Intention (Y) Pikiran individu untuk keluar, mencari pekerjaan di tempat lain, serta keinginan meninggalkan organisasi

Penghargaan terhadap prestasi kerja

Faktor-faktor Pengukuran Pemberian balas jasa yang diberikan perusahaan

kepada karyawan Tim Unit Semprot (TUS) baik secara langsung (gaji) maupun berupa insentif pencapaian kerja (bonus pencapaian target kerja)

Kompensasi (X1)

Terkait kepastian jenjang karir karyawan Tim Unit Semprot (TUS) dimana akan diukur seberapa besar pengaruh pengaruh harapan karyawan tersebut menjadi Mandor Plantation dalam kurun waktu tertentu.

Jenjang Karir (X2)

4.4 Definisi Operasional

Definisi operasional dalam peneltian ini dapat dijelaskan seperti Tabel 4.2. berikut:

4.5 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yaitu:

a. Data Primer, yaitu data yang diambil melalui pengujian atau pengamatan dimana data ini berupa:

1. Hasil kuisioner kepada karyawan TUS (aktif bekerja)

2. Administrasi Center of Excellence (learning center).

3. Administrasi Human Resources Department (HRD)

b. Data Sekunder, yaitu data hasil dokumentasi baik internal maupun eksternal.

4.6 Metode Pengumpulan Data

Tabel 4.2. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Penyebaran Kuisioner, yaitu dengan menyebarkan kuisioner yang telah disusun oleh penulis kepada responden

2. Wawancara, yaitu dengan mengadakan wawancara langsung dengan manajemen yang memiliki wewenang dalam hal pemberian informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

3. Studi Literatur, yaitu dengan menggunakan teori-teori yang berkaitan dengan penelitian.

4.7 Metode Analisis Data

Analisis data adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk memproses dan menganalisis data yang telah terkumpul. Adapun metode yang digunakan untuk menganalisis data pada penelitian ini adalah:

1. Analisis Statistik Deskriptif, yaitu bertujuan untuk menyajikan rangkuman statistik dalam bentuk tabel atau grafik. Dengan adanya tabel atau grafik diharapkan hasil analisis dapat dipahami dengan lebih baik. Analisis statistik deskriptif ini dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :

a. Focus Group Discussion (FGD), dengan tujuan untuk menggali lebih dalam mengenai persepsi, opini, kepercayaan, dan sikap terhadap suatu produk, pelayanan, konsep atau ide. Hal ini dilakukan untuk melengkapi hasil uji statistika yang dilakukan.

b. Deskripsi Responden Penelitian, digunakan untuk melihat gambaran secara keseluruhan mengenai responden penelitian, mulai dari jenis kelamin, usia, status, pendidikan terkahir, dan lama bekerja.

2. Uji Kualitas Data, yaitu analisis data melalui pendekatan pengolahan data menggunakan software SPSS 22 dimana yang akan diuji adalah:

a. Uji Validitas, yaitu suatu ukuran yang mengacu kepada derajad kesesuaian antara data yang dikumpulkan dan data sebenarnya dalam sumber data (Sinulingga, 2011). Uji validitas data digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner. Suatu kuisioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuisioner mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuisioner tersebut (Ghozali, 2011). Batasan dalam pengukuran validitas data dengan melihat nilai rhitung,

dimana jika lebih besar atau sama dengan 0.30 maka dapat dinyatakan item tersebut valid, sehingga seluruh pernyataan dalam kuisioner dinyatakan valid (Sugiyono, 2012).

b. Uji Reliabilitas, yaitu suatu alat ukur berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data yang dihasilkan dari proses pengumpulan data dengan menggunakan instrument tersebut (Sinulingga, 2011). Suatu kuisioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011). Pengujian reliabilitas dengan menggunakan software SPSS 22, memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistic Cronbach Alpha. Dalam penelitian ini akan digunakan batasan tertentu Cronbach Alpha sebesar 0.60 (Arikunto, 2006) untuk menyatakan suatu variabel reliable atau handal.

Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,80 - 1,000 Sangat Erat

0,60 - 0,799 Erat

0,40 - 0,599 Cukup Erat

0,20 - 0,399 Tidak Erat 0,00 - 0,199 Sangat Tidak Erat

c. Analisis Korelasi, tujuan dilakukan analisis korelasi antara lain: untuk mencari bukti terdapat tidaknya hubungan/korelasi antar variabel, untuk melihat tingkat keeratan hubungan antar variabel, dan untuk memperoleh kejelasan dan kepastian apakah hubungan tersebut berarti (meyakinkan/signifikan) atau tidak berarti (tidak meyakinkan). Untuk mengukur koefisien korelasi antar variabel yang memiliki tingkat pengukuran interval digunakan korelasi product moment coefficient (Pearson’s Coefficient of Correlation) yang dikembangkan oleh Karl Pearson, dengan penafsiran terhadap koefisien korelasi adalah:

a. r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat hubungan sama sekali.

b. r = +1 atau mendekati +1, maka hubungan kedua variabel sangat kuat dan searah, artinya kenaikan variabel X akan selalu diikuti kenaikan variabel Y.

c. r = -1 atau mendekati -1, maka hubungan kedua variabel sangat kuat dan berlawanan, artinya kenaikan variabel X akan selalu diikuti penurunan variabel Y.

Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara ketiga variabel independen (kompensasi, jenjang karir, dan fasilitas kerja) dengan turnover intention. Arti dari nilai r dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r

Sumber : Situmorang dan Lufti (2011)

BAB V

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Wilayah Kerja

PT Toba Pulp Lestari, Tbk. yang berlokasi di Desa Pangombusan, Kec. Parmaksian, Kab. Toba Samosir merupakan satu-satunya perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di Sumatera Utara dan juga di Indonesia yang secara total (100%) melakukan budidaya tanaman Eucalyptus sp. yang dijadikan sumber utama untuk pasokan bahan baku bubur kertas (pulp).

Perusahaan ini berubah nama dari PT Inti Indorayon Utama berdasarkan surat dari Departemen Kehakiman Nomor C-06519HT.01.04.2001 pada tanggal 23 Agustus 2001 dan persetujuan dari Menteri Kehutanan berdasarkan SK.No.351/Menhut-II/2004 tanggal 28 September 2004.

Izin atas hak Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman Industri (IUPHHK-HTI) berdasarkan SK. Menhut No.493/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juni 1992 dengan luas konsesi 269.060 ha dan luas efektif 108,161 Ha). Adendum terhadap izin tersebut dengan SK. No.58/Menhut-II/2011 tanggal 28 Februari 2011 dengan luas konsesi 188.055 ha.

Jangka waktu izin yang diberikan pemerintah selama 43 tahun, terhitung sejak 1 Juni 1992 hingga 31 Mei 2035. Kelas perusahaan adalah kelas kayu serat dengan status permodalan berbentuk Penanaman Modal Asing (PMA). Jumlah investasi pada awal perusahaan ini didirikan sebesar Rp. 1.087.811.581.347

Administrasi perusahaan PT Toba Pulp Lestari, Tbk dapat dijelaskan sebagai berikut:

- Provinsi : Sumatera Utara

- Kabupaten : Simalungun, Asahan, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Samosir, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Selatan, Padang Lawas Utara, Tapanuli Tengah dan Pemko Padang

Sidimpuan

- Kecamatan : Dolok Panribuan, Jorlang Hataran, Pematang Sidamanik, Girsang Sipangan Bolon, Hatonduhan, Bandar Pasir Mandoge, Silaen, Laguboti, Siborong-borong, Sipahutar, Tarutung, Parmonangan, Pagaran, Dolok Sanggul, Sijamapolang, Parlilitan, Baktiraja, Harian, Parbuluan, Siempat Rube, Sorkam, Pasaribu Tobing, Kolang, Sipirok, Angkola Timur, Padang Bolak, Padang Bolak Julu, Hulu Sihapas, Batang Onang, PSP Angkola Julu, PSP Hutaimbaru.

Peta areal konsesi PT Toba Pulp Lestari, Tbk dapat dilihat seperti Gambar 5.1. di bawah ini.

5.2 Gambar 5.1. Peta Areal Konsesi PT Toba Pulp Lestari, Tbk. Pengembangan Sumber Daya Manusia

Sumber : Peta Kementerian Kehutanan RI

PT Toba Pulp Lestari, Tbk merupakan satu-satunya perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di wilayah Sumatera Utara. Keadaan ini menuntut perusahaan melakukan berbagai hal untuk dapat membangun kemampuan sumber daya manusianya agar dapat melanjutkan pengelolaan operasional perusahaan yang sebelumnya dilakukan oleh karyawan eks Indorayon Inti Utama (IIU). Alih generasi ini sudah dilakukan perusahaan sejak beroperasi kembali pada tahun 2003 dengan berbagai program perekreutan maupun pengembangan karir. Beberapa hal yang telah dilakukan antara lain:

a. Perekrutan Graduate Trainee (GT Program), khusus dipersiapkan untuk memegang jabatan manajerial di masa depan. Peserta program ini berasal dari tingkat pendidikan S-1 (Strata 1).

b. Perekrutan Mandor Trainee (MT Program), dipersiapkan untuk memegang level frontliner atau ujung tombak lapangan untuk melakukan pengawasan operasional secara langsung. Peserta program ini berasal dari tingkat pendidikan SMU/SMK sederajat.

c. Perekrutan karyawan TUS, merupakan terobosan untuk penggunaan tenaga kerja langsung di bawah perusahaan untuk memastikan pencapaian kualitas operasional khususnya pada critical activity plantation. Peserta program ini berasal dari tingkat pendidikan SMU/SMK sederajat.

Gambaran umum pengembangan karir untuk program diatas dapat dilihat pada Gambar 5.2. berikut:

Mandor

Trainee

Worker Assistant

Trainee

TUS Program Mandor

Level

GT Program Assistant

MT Program

Mandor

Askep/Manager Level

Assistant Level

Gambar 5.2. Gambaran umum pengembangan karir

Sumber : Olahan penulis (2015)

BAB VI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1 Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas data digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuisioner.

Suatu kuisioner dikatakan valid apabila pertanyaan pada kuisioner mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuisioner tersebut. Uji Reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari suatu variabel. Suatu kuisioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011).

6.1.1 Hasil Uji Validitas

Parameter valid atau tidak valid suatu item pernyataan didasarkan pada perbandingan nilai r hitung dengan nilai r Tabel. Penentuan r Tabel dilakukan berdasarkan pada derajat kebebasan (Dk) yaitu :

Dk = 30 – 2 = 28 N = Jumlah sample

Penghitungan dengan tingkat signifikansi 5% maka diperoleh nilai r Tabel sebesar 0.361.

Artinya r hitung dari tiap item pernyataan jika nilainya sama atau lebih besar dari 0.361 mengindikasikan bahwa item tersebut memiliki validitas yang memadai . Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0.05. Kriteria pengujian adalah sebagai berikut :

- Jika rhitung ≥ rTabel (uji 2 sisi dengan sig 0.05) maka instrumen atau variabel pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total variabel (dinyatakan valid).

- Jika rhitung < rTabel (uji 2 sisi dengan sig 0.05) maka instrumen atau variabel pertanyaan tidak berkorelasi signifikan terhadap skor total variabel (dinyatakan tidak valid).

Dk = N - 2

No. Item r Hitung r Tabel Keterangan X1-1 0.381 0.361 Valid X1-2 0.371 0.361 Valid X1-3 0.487 0.361 Valid X1-4 0.412 0.361 Valid X1-5 0.504 0.361 Valid X1-6 0.493 0.361 Valid

No. Item r Hitung r Tabel Keterangan X2-1 0.825 0.361 Valid X2-2 0.482 0.361 Valid X2-3 0.787 0.361 Valid X2-4 0.404 0.361 Valid X2-5 0.669 0.361 Valid

Hasil uji validitas kuisioner yang dilakukan terhadap 30 responden (dikeluarkan dari total responden 91 orang) dirangkum dalam tabel-tabel berikut ini:

Berdasarkan hasil uji yang diperlihatkan pada Tabel 6.1 di atas, maka semua item pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel kompensasi memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0.361 sehingga telah memenuhi syarat valid dan dapat digunakan sebagai instrument penelitian.

Hasil uji validitas variabel jenjang karir (Tabel 6.2) menunjukkan bahwa 5 (lima) pertanyaan yang diajukan memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0.361 sehingga item-item pernyataan tersebut sudah memenuhi syarat valid dan dapat digunakan sebagai instrument penelitian.

Tabel 6.1. Hasil Uji Validitas Variabel Kompensasi

Sumber : Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

Tabel 6.2. Hasil Uji Validitas Variabel Jenjang Karir

Sumber : Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

No. Item r Hitung r Tabel Keterangan

No. Item r Hitung r Tabel Keterangan Y1-1 0.735 0.361 Valid

Item-item pernyatan pada variabel fasilitas kerja (Tabel 6.3) memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0.361 sehingga item-item pernyataan tersebut sudah memenuhi syarat valid dan dapat digunakan sebagai instrument penelitian.

Berdasarkan hasil uji yang diperlihatkan pada Tabel 6.4 di atas bahwa semua item pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel turnover intention memiliki nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0.361 sehingga telah memenuhi syarat valid dan dapat digunakan sebagai instrument penelitian.

6.1.2 Hasil Uji Reliabilitas

Setelah dilakukan uji validitas terhadap variabel-variabel dalam penelitian ini, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Reliabilitas berhubungan dengan kepercayaan terhadap alat tes (Sekaran, 2006). Dalam penelitian ini akan digunakan batasan tertentu sebesar 0.60 (Arikunto, 2006). Hasil dari output software SPSS dapat dilihat pada Tabel 6.5.

Tabel 6.3. Hasil Uji Validitas Variabel Fasilitas Kerja

Tabel 6.4. Hasil Uji Validitas Variabel Turnover intention

Sumber : Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

Sumber : Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

Variabel Alpha Keterangan Kompensasi (X1)

0,724 Reliabel

Jenjang Karir (X2) 0,828 Reliabel

Fasiliras Kerja (X3) 0,812 Reliabel

Turnover Intentions (Y)

0,860 Reliabel

Berdasarkan hasil uji pada Tabel 6.5. keempat variabel memiliki nilai koefisien Cronbach Alpha diatas 0.60. Hal ini memperlihatkan bahwa seluruh variabel telah reliable atau handal.

6.1.3 Hasil Analisis Korelasi Pearson Product Moment

Dengan menggunakan bantuan software SPSS versi 22, diperoleh output korelasi Pearson Product Moment dengan alpha 0,05 dan tingkat signifikansi yang menunjukkan hubungan antara variabel kompensasi, jenjang karir dan fasilitas kerja terhadap turnover intensions seperti terlihat pada Tabel 6.6.

Correlations

Kompensasi Jenjang Karir Fasilitas Kerja Turnover

Kompensasi Pearson Correlation 1 .187 .218 -.325*

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Nilai keeratan hubungan dan tingkat signifikansi antara variabel independen dan dengan variabel dependen sesuai dengan output SPSS 22 dapat diterangkan sebagai berikut:

Sumber: Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

Tabel 6.5. Hasil Uji Reliabilitas

Tabel 6.6. Hasil Koefisien Korelasi Pearson Product Moment

Sumber : Output SPSS 22 olahan penulis (2015)

a. Variabel Kompensasi (X1), variabel ini memiliki hubungan yang tidak erat dengan variabel turnover intention (Y) karena memiliki nilai korelasi Pearson sebesar -0,325*. Arah hubungan antar Kompensasi (X1) dengan turnover intention (Y) berkorelasi negatif, artinya setiap peningkatan kompensasi sebesar 1 (satu) satuan akan menurunkan turnover intention sebesar 0,325, begitu juga sebaliknya jika kompensasi menurun sebesar 1 (satu) satuan, maka turnover intention akan meningkat sebesar 0,325. Pada Tabel 6.6 Sig variabel kompensasi adalah 0,011 yang berarti bahwa Ho ditolak, artinya variabel kompensasi (X1) memiliki hubungan secara signifikan terhadap turnover intention karyawan TUS di PT Toba Pulp Lestari, Tbk (untuk menguji hipotesis, dapat dilihat pada kolom Sig. (2-tailed) dengan ketentuan jika nilai Sig

> 0,05 maka Ho diterima, sebaliknya jika nilai Sig < 0,05 maka Ho ditolak).

b. Variabel Jenjang Karir (X2), variabel ini juga memiliki hubungan yang tidak erat dengan variabel turnover intention (Y) karena memiliki nilai korelasi Pearson sebesar -0,313*. Arah hubungan antara variabel jenjang karir (X2) dengan turnover intention (Y) berkorelasi negatif, artinya setiap peningkatan jenjang karir sebesar 1 (satu) satuan akan menurunkan turnover intention sebesar 0,313, begitu juga sebaliknya jika jenjang karir menurun sebesar 1 (satu) satuan, maka turnover intention akan meningkat sebesar 0,313. Pada variabel jenjang karir juga menunjukkan tingkat signifikansi terhadap variabel turnover intention yang ditunjukkan dengan nilai Sig 0,014 yang berarti bahwa H1o ditolak, artinya variabel jenjang karir (X2) memiliki hubungan secara signifikan terhadap turnover intention karyawan TUS di PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

c. Variabel Fasilitas Kerja (X3), variabel ini memiliki hubungan yang tidak erat dengan dengan variabel turnover intention (Y) jika dibandingkan dengan variabel kompensasi dan jenjang karir. Variabel fasilitas kerja memiliki nilai korelasi Pearson sebesar -0,237 dimana arah hubungan antara variabel fasilitas kerja (X3) dengan

turnover intention (Y) berkorelasi negatif, artinya setiap peningkatan fasilitas kerja sebesar 1 (satu) satuan akan menurunkan turnover intention sebesar 0,237, begitu juga sebaliknya jika fasilitas kerja menurun sebesar 1 (satu) satuan, maka turnover intention akan meningkat sebesar 0,237. Sedangkan untuk nilai Sig diperoleh yaitu 0,066 yang berarti bahwa H2o diterima, artinya variabel fasilitas kerja (X3) tidak memiliki hubungan secara signifikan terhadap tingkat turnover intention karyawan TUS di PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

d. Melalui hasil output SPSS 22 terhadap korelasi variabel independen terhadap variabel dependen dapat disimpulkan bahwa hubungan variabel independen tersebut tidak erat terhadap variabel turnover intention jika dilihat dari nilai Pearson Product Moment.

Namun jika dilihat dari nilai Sig, variabel kompensasi dan jenjang karir memiliki hubungan signifikan terhadap turnover intention karena nilai Sig (2-tailed) yang berada dibawah 0,05 atau < 0,05. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa variabel kompensasi dan jenjang karir yang baik merupakan faktor yang mempengaruhi turnover intention karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.`

6.1.4 Rangkuman Pengujian Hipotesis

Melalui hasil penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya maka pembuktian atas hipotesis yang diajukan di awal dapat dijelaskan dalam Tabel 6.7. dan Gambar 6.1. berikut ini:

Hipo. Deskripsi Nilai

-0,325* 0,011 Ho ditolak, terdapat hubungan variabel kompensasi (X1) secara signifikan terhadap turnover intention (Y) karyawan TUS PT Toba Pulp Lestari, Tbk.

H1o Tidak ada hubungan variabel jenjang karirir (X2) secara

6.2.1 Deskripsi Responden Berdasarkan Focus Group Discussion (FGD)

Sebagai bahan tambahan untuk memperkuat hasil penelitian berdasarkan output statistik maka penulis melakukan Focus Group Discussion (FGD). Teknik FGD dilakukan

Tabel 6.7. Rangkuman Pengujian Hipotesis

Sumber : Hasil olah data penulis (2015)

-0,237 / 0,066 -0,313* / 0,014

-0,325* / 0,011 KOMPENSASI (X1)

FASILITAS KERJA (X3)

JENJANG KARIR (X2) TURNOVER INTENTION TUS (Y)

Gambar 6.1. Diagram Pola Hubungan Antar Variabel

Sumber : Hasil olah data penulis (2015)

untuk menggali data mengenai persepsi, opini, kepercayaan dan sikap terhadap suatu produk, pelayanan, konsep atau ide (Paramita dan Kristiana, 2013). Berbagai hal tersebut perlu lebih didalami karena tidak semua dapat dijelaskan dengan hasil statistik/angka. FGD ini dilakukan di Estate Aek Nauli sebagai perwakilan area dengan jumlah peserta karyawan TUS sebanyak 29 orang yang dibagi dalam 3 kelompok dengan jumlah 7 – 10 orang/kelompok. Kruger (1988) menyampaikan bahwa jumlah peserta dalam kelompok FGD cukup 7 – 10 orang sehingga memungkinkan setiap individu untuk mendapat kesempatan mengeluarkan pendapatnya serta cukup memperoleh pandangan anggota kelompok yang bervariasi.

Beberapa hal yang menjadi catatan dalam FGD yaitu:

1. Variabel Kompensasi.

a. Peserta FGD menyampaikan bahwa kompensasi yang diterima saat ini belum memuaskan untuk dapat bertahan di perusahaan, karena belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti pembelian premium sepeda motor pribadi yg dipakai untuk melakukan supervisi dan membayar uang makan di camp lapangan.

b. Peserta FGD menyatakan bahwa pemberian insentif dapat membuat mereka bertahan di perusahaan, karena merasa lebih diperhatikan, dan akan lebih menambah motivasi kerja. Peserta juga menyampaikan bahwa pengadaan insentif tersebut harus melalui mekanisme pengukuran yang transparan yaitu adanya parameter terukur, disosialisasikan dan dilakukan secara konsisten. Peserta juga memberikan masukan beberapa parameter yang diukur untuk pemberian insentif, yaitu:

1). Pencapaian target HK actual dibandingkan dengan budget regime dimana jika karyawan dapat melakukan penghematan pemakaian HK maka selisihnya diperhitungkan sebagai bahan pemberian insentif.

2). Pencapaian Stocking tanaman, diameter dan tinggi. Jika memenuhi kriteria PMA 1 dan PMA 2 maka diperhitungkan sebagai bahan pemberian insentif.

3). Hasil QA dengan pencapaian minimal 99% setiap bulannya

3). Hasil QA dengan pencapaian minimal 99% setiap bulannya

Dalam dokumen GELADIKARYA KRISTIAN HAMONANGAN SIHALOHO (Halaman 30-0)