• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.1. Kerangka Teori

3.1.1. Peranan Sektor Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi

Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi: (1) kontribusi penyerapan tenaga kerja, (2) kontribusi terhadap pendapatan, (3) kontribusi terhadap penyediaan pangan, (4) kontribusi terhadap penyediaan bahan baku bagi sektor lainnya, (5) kontribusi dalam bentuk kapital, dan (6) kontribusi dalam penyediaan mata uang asing dari hasil ekspor pertanian (Todaro, 2000).

Beberapa ahli seperti Rosentein-Rodan (1943), Lewis (1954), Scitovsky (1954), Hirschman (1958), Jorgenson (1961), serta Ranis dan Fei (1961) mengatakan bahwa peran pertanian yang dikarenakan melimpahnya sumberdaya alam dan suplai tenaga kerjanya sehingga sektor pertanian mampu memberikan surplus transfer pada sektor industri. Selain itu untuk beberapa negara yang hendak melakukan indutrialisasi, maka sektor pertanian merupakan sumber utama yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan investasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa suksesnya industrialisasi tergantung kepada adanya solusi terhadap berbagai masalah yang terkait dengan penciptaan, transfer dan penggunaan surplus dari sumberdaya sektor pertanian (Hayami dan Ruttan,1985).

Hasil penelitian Gemmel (1994) di beberapa negara sedang berkembang juga menunjukkan bahwa sektor pertanian memberi dampak positif bagi pembangunan ekonomi, karena: (1) dapat menjaga tingkat inflasi dan biaya upah dalam perekonomian tetap rendah, (2) menyediakan pasokan bahan mentah bagi sektor-sektor industri yang terkait dengan pertanian, (3) menyediakan tenaga kerja

bagi pertumbuhan sektor perekonomian non pertanian melalui transfer tenaga kerja, (4) meningkatkan laju pemupukan modal, (5) membantu perbaikan neraca pembayaran, dan (6) memperluas atau memekarkan pasar dalam negeri.

3.1.2. Teori Penawaran dan Produksi

Dengan asumsi struktur pasar adalah bersaing sempurna serta perusahaan bertujuan memaksimumkan keuntungan, fungsi penawaran produk perusahaan dapat diturunkan dari fungsi keuntungan, dengan memperhatikan fungsi produksi perusahaan. Dalam proses produksi diasumsikan produsen rasional, dimana produsen selalu memaksimumkan keuntungan pada tingkat harga tertentu.

Suatu fungsi penawaran perusahaan yang memaksimumkan keuntungan dapat diturunkan dari fungsi keuntungan yang dicapai melalui dua syarat yaitu syarat orde satu (first order condition) dan syarat orde dua (second order condition). Menurut syarat pertama, fungsi keuntungan akan maksimum jika turunan pertama dari fungsi tersebut sama dengan nol, berarti nilai produk marginal masing-masing faktor harus sama dengan harga masing-masing faktor yang digunakan. Syarat kedua terpenuhi jika turunan kedua dari fungsi tersebut lebih kecil dari nol atau jika Hessian Determinan lebih besar dari nol, berarti fungsi produksi cembung kearah titik origin (Henderson and Quant, 1980).

Dalam analisis penawaran komoditas pertanian terdapat berbagai karakteristik yang berbeda dari komoditas non pertanian. Secara teoritis dapat dikemukakan bahwa tingkat produksi akan dipengaruhi oleh: (1) harga produk itu sendiri, (2) harga produk lain yang saling berkompetisi terhadap input yang sama, dan (3) harga input. Teknologi dan berbagai faktor non ekonomi juga akan berpengaruh terhadap tingkat produksi pertanian seperti cuaca dan iklim. Faktor

tujuan perusahaan juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keputusan produksi dari perusahaan.

Penawaran pasar dari suatu komoditas adalah merupakan fungsi dari harga komoditas itu sendiri dengan koefisien arah (slope) yang positif. Artinya, bila terjadi kenaikan harga komoditas tersebut maka akan bertambah jumlah komoditas itu yang ditawarkan di pasar. Sebaliknya kalau harga komoditas bersangkutan turun, maka jumlah komoditas tersebut yang ditawarkan di pasar akan berkurang. Sedangkan pengaruh perubahan harga-harga faktor produksi, harga komoditas saingan, teknologi dan tujuan perusahaan adalah merupakan faktor yang menggeser fungsi penawaran.

Meningkatnya harga-harga input akan menggeser kurva penawaran ke sebelah kiri dari kurva penawaran semula, sedangkan bila harga-harga faktor produksi menurun akan menggeser kurva penawaran ke sebelah kanan kurva penawaran semula. Artinya, bila harga faktor produksi naik, untuk tingkat harga output yang sama maka akan berkurang jumlah komoditas bersangkutan yang ditawarkan di pasar atau sebaliknya. Peningkatan harga komoditas saingan akan menggeser kurva penawaran komoditas bersangkutan ke kiri, sebaliknya menurunkan harga komoditas saingan akan menggeser kurva penawaran ke kanan. Artinya, bahwa bila harga komoditas saingan meningkat maka akan berkurang jumlah komoditas bersangkutan yang ditawarkan di pasar untuk tingkat harga yang sama. Adanya peningkatan kemajuan teknologi akan menggeser kurva penawaran ke sebelah kanan, artinya akan lebih banyak komoditas bersangkutan yang akan ditawarkan pada tingkat harga yang sama.

3.1.3. Konsep Fungsi Produksi

Tanaman perkebunan termasuk golongan tanaman tahunan, dengan karakteristik adanya tenggang waktu yang cukup panjang antara saat tanam dengan saat pertama kali tanaman perkebunan tersebut berproduksi, yaitu mencapai beberapa tahun. Oleh karena itu berbagai hubungan yang dirancang untuk menjelaskan perilaku tersebut secara ideal haruslah mempertimbangkan tenggang waktu antara saat tanam dan saat panen pertama, termasuk penanaman dan penggantian tanaman (Labys, 1973). Kendala yang dihadapi biasanya kurang lengkap atau tidak tersedianya data, terutama untuk penggantian tanaman. Untuk itu dilakukanlah pendekatan yang lebih sederhana namun cukup representatif.

Hasil produksi tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit, Kelapa Dalam dan kopi suatu daerah tertentu pada suatu periode waktu merupakan perkalian antara luas areal dengan hasil produksi persatuan luasnya (produktivitas), atau secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

QKP = AKP * YKP ...(3.1) dimana:

QKP = Produksi komoditas tanaman pekebunan tertentu AKP = Luas areal komoditas tanaman pekebunan tertentu

YKP = Produktivitas komoditas tanaman pekebunan tertentu

Luas areal tanaman perkebunan karet, kelapa sawit, Kelapa Dalam dan kopi diduga dipengaruhi oleh luas areal tanaman, dimana luas areal yang ditanam juga dipengaruhi oleh harga komoditas perkebunan tersebut pada saat tanam dan pada saat panen. Hal ini merupakan pencerminan jenis fungsi penyesuaian parsial Nerlove yang melibatkan variabel bedakala (lag) peubah harga yang cukup panjang (Hallam, 1990), dan dilengkapi dengan menyertakan peubah

kecenderungan waktu (time trend) untuk menangkap pengaruh perubahan faktor teknologi dan kelembagaan.

Perluasan areal tanam tidak terlepas dari kebutuhan modal kerja terutama untuk keperluan pembelian input faktor dan pembayaran upah tenaga kerja. Keperluan modal ini bisa didapatkan oleh produsen dengan meminjam kredit dengan suku bunga tertentu. Oleh karena itu di duga bahwa tingkat suku bunga uang yang terjadi berpengaruh terhadap keputusan pengembangan luas areal tanaman perkebunan.

Pelaksanaan penanaman baru, pemeliharaan tanaman, dan peremajaan tanaman di perkebunan rakyat tidak lagi hanya dilakukan dengan tenaga kerja dari dalam keluarga. Sebagian besar tenaga untuk perluasan tanaman berasal dari luar keluarga yang merupakan tenaga kerja upahan. Keterbatasan modal yang dimiliki petani akan membatasi penggunaan tenaga kerja dari luar keluarga bila upah tenaga kerja semakin tinggi.

Dengan demikian dari penjelasan di atas dapat dihipotesakan luas areal panen untuk masing-masing komoditas perkebunan merupakan fungsi dari harga komoditas perkebunan yang bersangkutan, luas areal komoditas pesaingnya dalam penggunaan lahan, harga pupuk, upah tenaga kerja, tingkat suku bunga dan peubah beda kala (lag) dari luas areal, yang dapat dirumuskan:

AKP = f (HKP, AP, UTK, LAKP) ...(3.2) dimana:

AKP = Luas areal tanaman komoditas tanaman perkebunan HKP = Harga komoditas tanaman perkebunan di tingkat petani AP = Areal pesaing

UTK = Upah tenaga kerja

Selanjutnya, produktivitas masing-masing tanaman perkebunan yaitu karet, kelapa sawit, Kelapa Dalam, dan kopi akan ditentukan oleh luas daerah tanam, jumlah tenaga kerja perkebunan pada komoditas tersebut, keadaan curah hujan, harga pupuk, tingkat suku bunga dan produktivitas komoditas tersebut pada tahun sebelumnya. Dengan rumusan sebagai berikut:

YKP = f(AKP, JTK, CH, SB, LYKP) ...(3.3) dimana:

JTK = Jumlah tenaga kerja CH = Curah hujan (mm/tahun)

LYKP = Peubah beda kala (Lag) dari YKP

3.1.4. Penawaran Ekspor

Secara umum, ekspor komoditas dari suatu negara (wilayah) merupakan kelebihan penawaran domestik atau produksi komoditas itu yang tidak dibeli konsumen negara (wilayah) tersebut atau tidak disimpan dalam bentuk stok (Labys, 1973), karena adanya ransangan harga dunia yang lebih tinggi dari harga domestik. Dengan demikian kurva kelebihan penawaran dari negara tersebut merupakan kurva penawaran ekspor di pasar internasional (Kindlerberger dan Lindert, 1982). Dapat dikatakan juga bahwa penawaran ekspor suatu negara merupakan penawaran produsen melebihi permintaan konsumen negara tersebut.

Analisis mengenai penawaran ekspor dapat dilakukan secara sederhana dengan menggunakan konsep dasar fungsi penawaran dan permintaan domestik dengan suatu komoditas tertentu. Pada Gambar 1 menunjukkan bagaimana kurva penawaran ekspor diturunkan. Misalkan penawaran ekspor dilakukan oleh negara domestik. Pada saat harga P1, penawaran produsen domestik sebesar S1,

Sumber: Krugman dan Obstfeld, 2000

(a) Kurva Permintaan dan Penawaran Domestik (b) Kurva Penawaran Ekspor Gambar 1. Penurunan Kurva Penawaran Ekspor

dimana:

PA = tingkat harga pada saat penawaran produsen sama dengan

permintaan konsumen di negara domestik P1,P2 = tingkat harga suatu komoditas negara domestik

D1,D2 = permintaan konsumen negara domestik

S1,S2 = penawaran produsen negara domestik

Jadi jumlah dari seluruh penawaran yang yang dimungkinkan untuk di ekspor adalah S1-D1. Pada tingkat harga P2 terjadi peningkatan jumlah penawaran

oleh produsen domestik menjadi S2 dan jumlah permintaan konsumen domestik

menjadi turun sebesar D2. Jumlah total yang dimungkinkan untuk di ekspor adalah

sebesar S2-D2. Karena penawaran komoditas yang memungkinkan untuk di ekspor

meningkat sejalan dengan meningkatnya harga, kurva penawaran ekspor XS adalah upward sloping. Pada saat harga PA, penawaran dan permintaan akan sama

PA P1 P2 P 1 XS P D S PA 2 D2 D1 S1 S2 Q S1-D1 S2-D2 Q

dengan tidak ada perdagangan, jadi kurva penawaran ekspor di mulai pada saat harga PA (Penawaran ekspor sama dengan nol pada tingkat harga PA).

Dengan demikian ekspor masing-masing tanaman perkebunan di Jambi dapat dirumuskan:

XKPJ = QKP – QSKPJ – (SKP – LSKP) ...(3.4) dimana:

XKPJ = Volume Ekspor komoditas perkebunan Jambi QKP = Produksi komoditas perkebunan di Jambi

QSKPJ = Jumlah penawaran komoditas perkebunan tertentu di Jambi di

pasar domestik

SKP = Jumlah stok komoditas perkebunan tertentu di Jambi LSKP = Lag stok komoditas perkebunan tertentu di Jambi

Ekspor masing-masing tanaman perkebunan pada persamaan di atas hanya berupa persamaan identitas yang tidak akan diketahui perilakunya. Diasumsikan pasar komoditas perkebunan di Indonesia mempunyai integrasi yang kuat dengan pasar dunia, maka harga yang meningkat di pasaran internasional akan ditransmisikan sampai ke pasar komoditas perkebunan Jambi, sehingga akan mempengaruhi peningkatan jumlah ekspor dari Jambi. Mengingat adanya peranan pasar komoditas perkebunan di dunia dan faktor–faktor lain seperti ekspor provinsi lain, maka persamaan perilaku penawaran ekspor komoditas tanaman perkebunan di Jambi dapat dibuat dengan mempertimbangkan kondisi penyesuaian parsial berikut, yaitu:

XKPJ = f (HKPD, QKPJ,XPL, NTR, LXKPJ) ...(3.5)

dimana:

XKPJ = Ekspor Komoditas Perkebunan Jambi HKPD = Harga Komoditas Perkebunan Dunia

NTR = Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS

XPL = Ekspor Provinsi Lain

LXKPJ = Lag Ekspor Komoditas Perkebunan Jambi

3.1.5. Keterkaitan Harga

Ada pengaruh yang cukup kuat dari harga komoditas perkebunan di pasar dunia terhadap harga komoditas perkebunan Jambi. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya, maka perilaku harga masing-masing komoditas perkebunan Jambi dapat dirumuskan sebagai berikut:

HKPJ = f (HKPD, XKPI, NTR, LHKPJ) ...(3.6) dimana:

HKPJ = Harga Komoditas Perkebunan Jambi HKPD = Harga Komoditas Perkebunan Dunia XKPI = Ekspor Komoditas perkebunan Indonesia LHKPJ = Lag Harga Komoditas Perkebunan Jambi

Juga dipertimbangkan pengaruh volume ekspor dan kebijakan ekspor yang ditetapkan pada tahun t dan penyesuaian parsial harga ekspor tersebut.

3.1.6. Model Bedakala

Konsep bedakala (lag) menjadi sangat populer karena kemampuannya menjelaskan akibat–akibat pada selang waktu tertentu yang ditimbulkan oleh suatu penyebab pada waktu (tahun) sebelumnya. Selang waktu tertentu itu, disebut time lag (tahun sebelumnya). Dalam ilmu ekonomi pertanian, time lag biasa disebut gestation period, yaitu jarak waktu yang panjang antara pengeluaran dan penerimaan hasil pertanian, terutama bagi tanaman tahunan (perenial crops). Dengan kata lain, perubahan–perubahan atau penyesuaian produksi tanaman tersebut membutuhkan selang waktu antara penanaman dan panen.

Oleh karena itu, sebagai upaya merepresentasikan time lag di dalam model yang menggunakan pendekatan ekonometrika adalah mendistribusikan peubah lag endogen dan atau peubah lag eksogen diantara peubah–peubah penjelas. Koutsoyiannis (1977) menyebutnya sebagai model distribusi lag. Model distribusi lag adalah model yang memasukkan nilai lag peubah eksogen dan atau nilai lag peubah endogen diantara peubah–peubah penjelasnya.

Peubah lag sangat penting dalam permodelan karena sangat menentukan kepekaan penyesuaian peubah endogen terhadap perubahan peubah–peubah penjelas, melalui nilai elastisitas jangka pendek maupun jangka panjang. Selanjutnya, arah kebijaksanaan (implikasi kebijakan) dapat diidentifikasikan dari nilai elastisitasnya.

Kepekaan (respon) produksi terhadap perubahan faktor–faktor yang mempengaruhi terjadi pada selang waktu sebelumnya. Misalnya pada tanaman karet yang ditanam pada tahun t akan berproduksi pada waktu t+4 atau t+5. Dengan demikian jika lahan karet sebagai peubah bebas dan produksi sebagai peubah tak bebas, maka pengaruh peubah bebas tidak terjadi atau tidak akan terlihat pada saat yang sama, akan tetapi didistribusikan pada waktu t+4 atau t+5 dimasa yang akan datang.

3.1.7. Pendapatan Domestik Regional Bruto Subsektor Perkebunan Jambi

Pendekatan produksi dapat digunakan untuk melihat peranan subsektor perkebunan dalam perekonomian suatu daerah. Nilai tambah subsektor perkebunan merupakan salah satu komponen dalam penentuan Pendapatan Domestik Regional Bruto.

Berdasarkan pendekatan produksi, bahwa PDRB diperoleh dari penjumlahan nilai tambah dalam produksi barang dan jasa dari berbagai sektor dalam perekonomian nasional (BPS Jambi, 2010). Perekonomian Jambi terdiri dari beberapa sektor, dan subsektor perkebunan merupakan salah satu subsektor di sektor pertanian. Oleh sebab itu PDRB subsektor perkebunan diperkirakan tergantung pada produksi masing-masing komoditas perkebunan dan PDRB subsektor perkebunan pada tahun sebelumnya. Dari uraian tersebut, maka dapat dirumuskan perilaku PDRB subsektor perkebunan Jambi sebagai berikut:

PDRBSSPBJ = f (QKJ, QCPOJ, QKDJ, QKOJ, LPDRBSSPBJ) ...(3.7) dimana:

PDRBSSPBJ = PDRB Subsektor Perkebunan Jambi QKJ = Produksi Karet Jambi

QCPOJ = Produksi CPO Jambi

QKDJ = Produksi Kelapa Dalam Jambi

QKOJ = Produksi Kopi Jambi

3.2.Kerangka Operasional

Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi sentra perkebunan yang ada di Indonesia. Lebih dari 22 persen dari jumlah penduduk Jambi bergantung hidup pada komoditas perkebunan. Komoditas unggulan perkebunan di Provinsi Jambi adalah karet, kelapa sawit, Kelapa Dalam, dan kopi. Perkebunan adalah bagian dari sektor pertanian yang merupakan sub sektor andalan yang menjadi penopang keberlanjutan pembangunan di Provinsi Jambi.

PDRB dari sub sektor perkebunan menempati urutan teratas dari seluruh sektor pertanian dan kehutanan. Hal ini memperlihatkan bahwa subsektor perkebunan memegang peranan penting bagi perekonomian provinsi Jambi.

Peranan penting subsektor perkebunan lainnya adalah sebagai penghasil devisa bagi provinsi Jambi. Karena salah satu ciri komoditas perkebunan Indonesia (termasuk provinsi Jambi) adalah produk yang dihasilkan berorientasi ekspor (Ditjenbun,2010).

Strategi dan kebijakan pembangunan provinsi Jambi diarahkan pada pemanfaatan lahan untuk sektor pertanian, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Jambi Tahun 2006-2010 yaitu pembangunan dalam bidang pertanian menjadi salah satu prioritas, termasuk sub sektor perkebunan (Disbun Jambi, 2010).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Jambi ini dituangkan kembali dalam Renstra Dinas Perkebunan Provinsi Jambi dan sejalan dengan Peraturan Menteri Pertanian No.33/Permentan/OT.140/7/2006 tentang Pengembangan Perkebunan Melalui Program Revitalisasi Perkebunan.

Program Revitalisasi Perkebunan adalah upaya percepatan pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah dengan melibatkan perusahaan dibidang usaha perkebunan sebagai mitra pengembangan dalam pembangunan kebun, pengolahan dan pemasaran akhir.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana dampak kebijakan pengembangan komoditas perkebunan terhadap perekonomian provinsi Jambi, yang terkait dengan perubahan luas areal, produktivitas, produksi, harga komoditas unggulan, dan volume ekspor komoditas unggulan. Untuk lebih jelasnya maka kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran Penelitian Perubahan Luas Areal Perubahan Produksi Perubahan Produktivitas

Perubahan Ekspor Karet, Kelapa Sawit, Kelapa Dalam dan Kopi Jambi Perubahan Penawaran Karet, Kelapa Sawit, Kelapa Dalam dan Kopi

Jambi

Kebijakan Pengembangan Komoditas Perkebunan

Perubahan Harga Karet, Kelapa Sawit,

Kelapa Dalam dan Kopi Jambi

Perubahan Penerimaan Devisa Provinsi Jambi Perubahan Perekonomian Provinsi Jambi Perubahan Harga Pupuk Perubahan Upah Tenaga Kerja Perubahan Jumlah Tenaga Kerja

Dokumen terkait