• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Menurut Dahl and Hammond (1977) dalam Hidayat (2010), pemasaran merupakan serangkaian fungsi yang dibutuhkan untuk mengubah membentuk input produk mulai dari titik produsen sampai dengan konsumen akhir. Serangkaian fungsi tersebut adalah proses produksi, pengumpulan, pengolahan, dan penyaluran oleh grosir, pedagang pengecer sampai konsumen.

Limbong dan Sitorus (1987) menjelaskan bahwa terdapat empat pendekatan dalam menganalisis pemasaran, yaitu pendekatan serba fungsi, pendekatan serba lembaga, pendekatan serba barang, dan pendekatan serba sistem. Pendekatan serba fungsi merupakan pendekatan dari sudut pandang fungsi-fungsi yang dilakukan oleh lembaga pemasaran. Pendekatan serba lembaga mempelajari lembaga-lembaga atau organisasi yang terlibat dalam proses distribusi barang dan jasa dari produsen sampai konsumen. Pendekatan serba barang merupakan pendekatan yang memperhatikan tindakan-tindakan terhadap barang atau jasa selama proses distribusi. Pendekatan serba sistem memperhatikan proses ekonomi yang berjalan, pengawasan aktivitas-aktivitas, dan mekanisme menurut struktur organisasi pasar.

Menurut Kohls and Uhl (2002), pemasaran pertanian adalah keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam aliran dari produk-produk dan jasa-jasa dimulai dari tingkat produksi pertanian sampai di tingkat konsumen akhir. Kohls and Uhl (2002) menggunakan tiga pendekatan dalam melakukan analisis sistem pemasaran, yaitu:

1. Pendekatan Fungsi

Pendekatan fungsi digunakan untuk mengetahui apa saja fungsi pemasaran yang dijalankan oleh pelaku yang terlibat dalam pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran tersebut adalah fungsi pertukaran yang terdiri dari fungsi pembelian atau pengumpulan dan fungsi penjualan; fungsi fisik yang terdiri dari fungsi penyimpanan atau gudang, pengangkutan dan fungsi pengolahan;

fungsi fasilitas yang terdiri dari fungsi standarisasi, pembiayaan, penanggungan resiko dan informasi pasar.

2. Pendekatan Institusi atau Kelembagaan

Pendekatan institusi atau kelembagaan digunakan untuk mengetahui berbagai macam lembaga atau pelaku yang terlibat dalam pemasaran. Pelaku-pelaku dalam pemasaran tersebut adalah pedagang perantara (merchant middleman) yang terdiri dari pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pedagang spekulatif, agen, manufaktur, dan organisasi lainnya yang terlibat. Biasanya pendekatan ini mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang perantara, hubungan agen dan susunan/perlengkapan organisasi.

3. Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem digunakan untuk mengetahui aktivitas-aktivitas yang ada dalam proses pemasaran, seperti perilaku lembaga yang terlibat dalam pemasaran dan kombinasi dari fungsi pemasaran. Pendekatan ini mempunyai arti menekankan kepada keseluruhan sistem, efisiensi dan proses yang kontinyu membentuk suatu sistem. Pendekatan sistem menganalisa keterkaitan yang kontinyu diantara subsistem-subsistem, seperti subsistem pengumpulan atau penyediaan bahan baku, pengolahan dan distribusi yang memberikan tingkat efisiensi tinggi. Pendekatan ini terdiri dari the input-output system, the power system, dan the communication system.

Pemasaran pada prinsipnya adalah aliran barang dari produsen ke konsumen. Soekartawi (2002), menjelaskan lebih lanjut bahwa aliran barang ini dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran. Peranan lembaga pemasaran ini sangat tergantung dari sistem pasar yang berlaku dan karakteristik aliran barang yang dipasarkan. Fungsi saluran pemasaran ini sangat penting, khususnya dalam melihat tingkat harga di masing-masing lembaga pemasaran.

3.1.1.1.Saluran dan Lembaga Pemasaran

Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling bergantung serta terlibat dalam proses menjadikan produk atau jasa untuk siap digunakan atau dikonsumsi (Kotler, 2003).

Pengertian akan konsep saluran pemasaran sama dengan konsep saluran distribusi, dimana merupakan jalur yang dilalui oleh arus barang dari produsen ke

pedagang perantara dan sampai kepada konsumen. Selain itu saluran distribusi juga dapat berarti struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri dari agen, pedagang besar, dan pengecer yang dilalui barang atau jasa saat dipasarkan.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi panjang pendeknya saluran pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas pertanian, yaitu:

1. Jarak antara produsen dengan konsumen. Semakin jauh jarak antara produsen dan konsumen maka akan semakin panjang saluran yang ditempuh oleh produk.

2. Daya tahan produk. Produk yang cepat atau mudah rusak harus segera diterima oleh konsumen. Dengan demikian saluran pemasaran harus pendek agar produk cepat sampai.

3. Skala produksi. Bila produksi berlangsung dengan ukuran kecil maka jumlah yang dihasilkan juga berukuran kecil. Hal ini tidak akan menguntungkan bila produsen langsung menjual ke pasar.

4. Posisi keuangan pengusaha. Produsen yang memiliki posisi keuangan yang kuat cenderung untuk memperpendek saluran pemasarannya. Pedagang yang memiliki posisi modal kuat maka dapat melakukan lebih banyak fungsi pemasaran sehingga mereka cenderung memperpendek saluran pemasaran.

Lembaga pemasaran merupakan badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditas dari produsen ke konsumen akhir, serta memiliki hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran biasanya muncul karena adanya keinginan dari konsumen untuk memperoleh komoditas sesuai waktu, tempat, dan bentuk yang diinginkan konsumen. Tugas dari lembaga pemasaran sendiri adalah menjalankan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin.

Menurut Hanafiah dan Saefuddin (1986) dalam Rahim dan Hastuti (2008), menjelaskan bahwa badan-badan yang berusaha dalam bidang pemasaran yang menggerakkan barang dari produsen sampai ke konsumen melalui proses jual beli dikenal sebagai perantara (middlemen dan intermediary). Secara umum perantara terbagi atas dua, yaitu merchant middlemen dan agent middlemen. Merchant

middlemen adalah perantara yang memiliki barang untuk dijual kembali. Sedangkan agent middlemen adalah perantara yang hanya mencarikan pembeli, menegosiasikan, dan melakukan transaksi atas nama produsen.

Lembaga-lembaga pemasaran menurut penguasaannya terhadap komoditas yang diperjualbelikan terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Lembaga yang tidak memiliki tetapi menguasai benda, seperti agen perantara dan makelar.

2. Lembaga yang memiliki dan menguasai komoditas pertanian yang diperjualbelikan, seperti pedagang pengumpul, tengkulak, eksportir, dan importir.

3. Lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan menguasai komoditas pertanian yang diperjualbelikan. Contohnya seperti perusahaan-perusahaan penyedia fasilitas-fasilitas transportasi, asuransi pemasaran, dan perusahaan penentu kualitas produk pertanian.

3.1.1.2.Fungsi-fungsi Pemasaran

Dalam proses pemasaran terdapat sejumlah kegiatan pokok pemasaran yang perlu dilakukan agar produk dapat sampai ke konsumen yang disebut dengan fungsi pemasaran. Menurut Limbong dan Sitorus (1987), fungsi-fungsi pemasaran adalah tindakan-tindakan yang diperlukan dalam melakukan proses penyampaian barang atau jasa dari tingkat produsen ke tingkat konsumen agar dapat berjalan dengan lancar.

Fungsi pemasaran dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan fungsional yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran, baik aktivitas proses fisik maupun aktivitas jasa, yang ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya melalui penciptaan atau penambahan kegunaan bentuk, waktu, tempat, dan kepemilikan terhadap suatu produk (Sa’id dan Intan, 2004). Fungsi-fungsi pemasaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Fungsi pertukaran meliputi semua kegiatan yang berhubungan dengan pemindahan hak milik suatu barang dan atau jasa melalui suatu proses pertukaran. Fungsi pertukaran terdiri dari dua fungsi, yaitu fungsi penjualan dan fungsi pembelian. Fungsi penjualan mencakup serangkaian kegiatan yang

dilakukan dalam proses pemindahan hak milik produk dari produsen atau lembaga perantara pemasaran, yang mempunyai hak kepemilikan, kepada konsumen atau pemakai, termasuk di dalamnya kegiatan promosi dan periklanan. Fungsi pembelian dilakukan oleh pedagang perantara untuk dijual kembali dan oleh produsen untuk dijadikan bahan baku atau masukan dalam proses produksi, seperti input-input dan alat pertanian yang dibeli oleh petani, pembelian hasil pertanian oleh industri pengolahan, dan pembelian produk setengah jadi oleh industri untuk diolah lebih lanjut menjadi produk jadi. 2. Fungsi fisik adalah semua aktivitas untuk menangani, menggerakkan, dan

mengubah produk-produk secara fisik sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Fungsi-fungsi fisik meliputi fungsi penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan. Fungsi penyimpanan berupaya mengatur dan mengontrol persediaan untuk kebutuhan selama periode tertentu. Dalam fungsi ini barang disimpan setelah produksi selesai kemudian disimpan sampai dengan waktu akan dikonsumsi. Fungsi pengangkutan merupakan gerakan perpindahan barang-barang dari asal produksi menuju ke tempat konsumen. Fungsi ini memegang peranan dalam memperlancar perpindahan produk dari lokasi produksi sampai ke lokasi konsumen akhir. Fungsi pengolahan dilakukan untuk merubah hasil komoditas pertanian agar memperoleh nilai tambah. 3. Fungsi fasilitas adalah kegiatan-kegiatan yang dapat membantu sistem

pemasaran agar mampu beroperasi lebih lancar. Fungsi fasilitas terdiri dari fungsi standarisasi dan grading, fungsi pembiayaan, fungsi penanggungan resiko, dan fungsi informasi pasar. Fungsi standarisasi meliputi penetapan standar-standar produk dalam rangka menentukan standar yang sesuai dengannya. Fungsi grading adalah usaha mengklasifikasikan atau mengelompokkan produk-produk pertanian ke dalam kumpulan-kumpulan yang berdasarkan standarisasi tertentu, sehingga produk-produk tersebut berada dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan ukuran untuk setiap kriteria standarisasi yang digunakan. Fungsi pembiayaan berperan dalam perencanaan pembiayaan, pelaksanaan pembiayaan, pengawasan pembiayaan, pengevaluasian pembiayaan, dan pengendalian pembiayaan. Fungsi penanggungan resiko merupakan resiko yang harus dihadapi oleh produsen

atau pemilik produk sepanjang saluran pemasaran. Fungsi informasi pasar mencakup data dan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan, seperti informasi mengenai harga, mutu maupun sumber produk.

3.1.2. Konsep Pendekatan SCP (Structure, Conduct, Performance)

Menurut Soekartawi (2002), pendekatan SCP merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk mengurangi tidak efisiensinya suatu pemasaran. Selain peningkatan efisiensi pemasaran, pendekatan SCP mampu memperhatikan walfare society. Pendekatan SCP menganalisis dari sisi struktur pasar, perilaku pasar, dan kinerja pasar.

3.1.2.1.Struktur Pasar (Market Structure)

Struktur pasar merupakan tipe atau jenis pasar yang didefinisikan sebagai hubungan antara pembeli (calon pembeli) dan penjual (calon penjual) yang secara strategi mempengaruhi penentuan harga dan pengorganisasian pasar. Dahl and Hammond (1977) dalam Asmarantaka (2009), menjelaskan bahwa terdapat lima jenis struktur pasar pangan dan serat dengan berbagai karakteristiknya. Faktor- faktor yang menjadi penentu dalam karakteristik struktur pasar, yaitu jumlah atau ukuran pasar, kondisi atau keadaan produk, kondisi atau mudah sukarnya untuk masuk keluar pasar, dan tingkat pengetahuan atau informasi pasar yang dimiliki oleh partisipan dalam pemasaran. Jenis-jenis pasar pada sistem pangan dan serat disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Lima Jenis Pasar pada Sistem Pangan dan Serat

Karakteristik Struktural Struktur Pasar dari Sisi

No. Jumlah Perusahaan Sifat Produk Penjual Pembeli

1. Banyak Standarisasi Persaingan

Sempurna

Persaingan Sempurna

2. Banyak Diferensiasi Monopolistic

Competition

Monopsonistic Competition

3. Sedikit Standarisasi Oligopoli Murni Oligopsoni

Murni

4. Sedikit Diferensiasi Oligopoli

Diferensiasi

Oligopsoni Diferensiasi

5. Satu Unik Monopoli Monopsoni

Sumber: Dahl and Hammond (1977) dalam Asmarantaka (2009)

Struktur pasar menentukan hubungan antara penjual dan pembeli yang dapat dilihat dari jumlah lembaga pemasaran yang terlibat, pangsa pasar, konsentrasi pasar serta kondisi keluar masuknya pasar. Struktur akan sebuah pasar

dapat mempengaruhi perilaku perusahaan dalam pasar tersebut, yang secara bersama-sama menentukan kinerja sistem pasar secara keseluruhan.

3.1.2.2.Perilaku Pasar (Market Conduct)

Menurut Asmarantaka (2009), perilaku pasar adalah seperangkat strategi dalam pemilihan yang ditempuh baik oleh penjual maupun pembeli untuk mencapai tujuannya masing-masing. Ada tiga cara dalam mengenali struktur pasar, yaitu penentuan harga dan setting level of output, product promotion policy, dan predatory and exclusivenary tactics.

Penentuan harga adalah mekanisme dalam menentukan harga dimana harga tersebut tidak berpengaruh terhadap perusahaan lain. Harga ditetapkan secara bersama-sama oleh penjual atau penetapan harga berdasarkan pemimpin harga (price leadership). Product promotion policy merupakan cara dalam mengenali struktur pasar dengan melalui pameran dan iklan atas nama perusahaan. Sedangkan predatory and exclusivenary tactics adalah strategi yang bersifat illegal karena bertujuan untuk mendorong perusahaan pesaing untuk keluar dari pasar. Strategi yang dilakukan antara lain dengan menetapkan harga di bawah biaya marjinal sehingga perusahaan lain tidak dapat bersaing secara sehat. Selain itu dengan berusaha menguasai bahan baku sehingga perusahaan pesaing tidak dapat berproduksi dengan menggunakan bahan baku yang sama secara persaingan yang sehat (Asmarantaka, 2009).

3.1.2.3.Kinerja Pasar (Market Performance)

Menurut Dahl and Hammond (1977) dalam Hidayat (2010), kinerja pasar merupakan keadaan sebagai akibat dari struktur dan perilaku pasar dalam kenyataan sehari-hari yang dapat ditunjukkan dengan harga, biaya, dan volume produksi yang pada akhirnya akan memberikan penilaian baik atau tidaknya dalam suatu sistem pemasaran. Kinerja pasar dapat dilihat dari: (1) harga dan penyebarannya di tingkat produsen dan konsumen, dan (2) marjin pemasaran dan penyebarannya pada setiap tingkat lembaga pemasaran.

3.1.3. Konsep Efisiensi Pemasaran

Efisiensi pemasaran merupakan tolak ukur dari produktivitas proses pemasaran dengan membandingkan sumberdaya yang digunakan terhadap output yang dihasilkan selama berlangsungnya proses pemasaran (Downey and Steven,

1992). Efisiensi pemasaran dapat didefinisikan sebagai peningkatan antara rasio output-input. Hal ini dapat dicapai dengan empat cara, yaitu: (1) output tetap konstan sedangkan input mengecil; (2) output meningkat sedangkan input tetap konstan; (3) output meningkat dalam kadar yang lebih tinggi daripada peningkatan input; (4) output menurun dalam kadar yang lebih rendah daripada penurunan input.

Efisiensi pemasaran komoditas pertanian merupakan rasio yang mengukur produksi komoditas pertanian suatu sistem atau proses untuk setiap unit masukan dengan membandingkan sumberdaya yang digunakan terhadap output yang dihasilkan selama berlangsungnya proses pemasaran komoditas pertanian melalui efisiensi penetapan harga dan efisiensi operasional ataupun efisiensi ekonomi (efisiensi produksi, efisiensi distribusi, dan kombinasi produk optimum).

Efisiensi pemasaran dapat diukur melalui dua cara, yaitu efisiensi operasional dan efisiensi harga. Asmarantaka (2009) menjelaskan bahwa efisiensi operasional berhubungan dengan penanganan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan rasio dari output-input pemasaran. Input pemasaran adalah sumberdaya atau biaya seperti tenaga kerja, pengepakan, mesin-mesin, dan lain- lain, yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Output pemasaran adalah kegunaan waktu, bentuk, tempat, dan kepemilikan yang berhubungan dengan kepuasan konsumen. Dengan kata lain, efisiensi operasional merupakan kajian biaya-biaya pemasaran dan aktivitas kegiatan produksi (fungsi- fungsi dan lembaga pemasaran) mulai dari petani sampai ke konsumen akhir.

Efisiensi harga menekankan pada kemampuan sistem pemasaran yang sesuai dengan keinginan konsumen. Efisiensi harga dapat tercapai apabila masing- masing pihak yang terlibat dalam pemasaran responsif terhadap harga yang berlaku. Efisiensi ini dapat dianalisis melalui ada atau tidaknya keterpaduan pasar atau integrasi antara pasar acuan dengan pasar pengikutnya (Asmarantaka, 2009).

Pasar komoditas pertanian yang tidak efisien dapat terjadi jika biaya pemasaran semakin besar dan nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar. Efisiensi pemasaran dapat terjadi jika biaya pemasaran dapat ditekan sehingga keuntungan pemasaran dapat menjadi lebih tinggi. Selain itu, persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak boleh terlalu

tinggi. Tersedianya fasilitas fisik pemasaran dan adanya kompetisi pasar yang sehat juga dapat menciptakan pasar komoditas pertanian yang efisien.

3.1.3.1. Marjin Pemasaran

Marjin pemasaran sering digunakan untuk menjelaskan fenomena yang menjembatani gap antara pasar di tingkat petani dengan pasar di tingkat retail. Menurut Tomek and Robinson (1990), marjin pemasaran dapat didefinisikan menjadi dua alternatif. Definisi pertama adalah sebagai perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen. Selanjutnya definisi yang kedua merupakan harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran akibat adanya aktivitas-aktivitas bisnis yang terjadi di dalam sistem pemasaran.

Marjin pemasaran komoditas pertanian adalah selisih harga dari dua tingkat rantai pemasaran yaitu selisih harga yang dibayarkan di tingkat pengecer atau konsumen (Pr) dengan harga yang diterima oleh produsen (Pf). Jika digambarkan melalui sebuah grafik, maka marjin pemasaran merupakan perbedaan harga di tingkat konsumen, dimana harga yang terjadi karena perpotongan kurva permintaan primer/primary demand curve dengan kurva penawaran turunan/derived supply curve, dengan harga di tingkat produsen, dimana harga terjadi karena perpotongan kurva penawaran primer/primary supply dengan permintaan turunan/derived demand.

Harga (P)

Pr Pf

Sumber : Tomek and Robinson (1990)

Gambar 1. Kurva Marjin Pemasaran Keterangan:

Pr : Harga di tingkat pedagang pengecer

Dr Df

Sf Sr

Pf : Harga di tingkat petani

Dr : Permintaan di tingkat pengecer (primary demand) Df : Permintaan di tingkat petani (derived demand) Sf : Penawaran di tingkat petani (primary supply)

Sr : Penawaran di tingkat pedagang pengecer (derived supply) Qr,f : Jumlah produk di tingkat petani dan pengecer

(Pr-Pf) : Marjin pemasaran

Nilai marjin pemasaran didapatkan dari selisih harga di tingkat konsumen dan petani kemudian dikalikan dengan jumlah produk yang dipasarkan. Jika dituliskan dalam rumus matematika sederhana maka nilai marjin pemasaran adalah (Pr - Pf) x Q, dimana Pr adalah harga di tingkat retailer / pengecer, Pf adalah harga di tingkat petani, dan Q adalah jumlah produk yang dipasarkan.

Gambar 1 menjelaskan bahwa nilai marjin pemasaran sebesar yang ditunjukkan oleh kotak bergaris. Semakin besar perbedaan harga di tingkat petani dan pedagang pengecer maka marjin pemasaran suatu komoditas akan semakin besar. Besarnya marjin pemasaran juga akan mempengaruhi besarnya nilai marjin pemasaran. Adanya perbedaan marjin pemasaran yang besar dapat terjadi karena banyaknya lembaga pemasaran yang ikut atau terlibat dalam proses pemasaran. Sehingga hal ini menyebabkan biaya pemasaran meningkat yang kemudian mengakibatkan peningkatan pengambilan keuntungan oleh setiap lembaga pemasaran yang terlibat.

Besaran marjin pemasaran sangat bervariasi diantara berbagai komoditas. Marjin pemasaran dapat ditentukan oleh beberapa faktor yang dapat mengubah marjin pemasaran tersebut, diantaranya adalah perubahan harga-harga input faktor pemasaran, efisiensi dari pengadaan jasa-jasa pemasaran, jumlah dan kualitas jasa-jasa pemasaran, serta perubahan struktur pasar dan teknologi.

3.1.3.2.Farmer’s Share

Farmer’s share adalah persentase harga yang diterima oleh petani sebagai

imbalan dari kegiatan usahatani yang dilakukan dalam menghasilkan suatu komoditas (Kohls dan Uhl, 2002). Farmer’s share dapat digunakan sebagai salah satu penentuan efisiensi pemasaran dilihat dari pendapatan petani. Nilai farmer’s

share didapat dari perhitungan rasio antara harga yang diterima produsen/petani (Pf) dan harga yang dibayarkan konsumen/retail (Pr).

Limbong dan Sitorus (1987) menjelaskan jumlah lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan suatu komoditas akan mempengaruhi besar kecilnya share atau bagian yang diterima petani produsen dari harga yang dibayarkan konsumen akhir.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya program pemerintah “Go Organic 2010” sebagai salah satu bentuk revitalisasi pertanian Indonesia. Sub sektor hortikultura adalah salah satu sub sektor yang turut menggunakan sistem pertanian organik. Komoditas wortel menjadi salah satu komoditas hortikultura yang digemari dan dapat dijangkau masyarakat. Wortel mengandung vitamin A, C, dan beta karoten yang baik untuk melawan penyakit. Menurut Badan Pusat Statistik (2012), wortel mengalami perubahan jumlah produksi lebih besar dari tahun 2010- 2011, yaitu sebesar 30.48 persen dibandingkan jumlah produksi sayuran lainnya, seperti kembang kol (12.14 persen), kubis (-1.54 persen), sawi (-0.48 persen), daun bawang (-2.7 persen), dan lobak (-15.76 persen).

Badan Pusat Statistik (2014) menjelaskan bahwa produksi wortel di Jawa Barat tahun 2011 memberikan kontribusi sebesar 21.88 persen terhadap produksi wortel nasional. Jumlah tersebut merupakan kontribusi terbesar ketiga terhadap jumlah produksi wortel nasional setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Desa Sukagalih Kecamatan Megamendung menjadi salah satu desa produsen wortel di provinsi Jawa Barat. Wortel yang diproduksi petani Desa Sukagalih sebagian telah menerapkan sistem pertanian organik. Tingginya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan membuat sebagian masyarakat mengkonsumsi wortel organik.

Wortel organik merupakan komoditas yang mudah rusak sehingga memerlukan sistem pemasaran yang baik dan efisien. Petani produsen wortel organik di Desa Sukagalih melakukan pemasaran wortel organik dengan berbagai variasi pola pemasaran. Perbedaan pola pemasaran yang terbentuk mengakibatkan adanya perbedaan jumlah lembaga pemasaran dan fungsi-fungsi yang dijalankan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Adanya perbedaan pola pemasaran,

jumlah lembaga pemasaran, dan fungsi pemasaran dapat mengakibatkan adanya perbedaan harga jual wortel organik serta rentang marjin yang terbentuk sehingga diperlukan analisis pemasaran wortel organik di Desa Sukagalih.

Gambar 2. Diagram Alur Kerangka Operasional

Diagram alur pada Gambar 2 menjelaskan bahwa penelitian wortel organik dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan untuk menggambarkan saluran-saluran pemasaran wortel organik yang terbentuk dimulai dari petani produsen sampai dengan konsumen. Analisis saluran pemasaran dilakukan untuk mengetahui jumlah lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran wortel organik. Analisis fungsi pemasaran bertujuan untuk mengetahui tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh lembaga pemasaran. Fungsi pemasaran yang dianalisis adalah fungsi pertukaran, yaitu kegiatan penjualan dan pembelian, fungsi fisik, yaitu kegiatan penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan, serta fungsi fasilitas, yaitu kegiatan peningkatan mutu seperti

Perbedaan jumlah lembaga dan fungsi pemasaran mengakibatkan adanya perbedaan harga jual dan rentang marjin wortel organik.

Analisis Efisiensi Pemasaran Pembangunan pertanian non konvensional dan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan kepedulian lingkungan, menyebabkan petani memproduksi wortel organik. Wortel organik sebagai komoditas sub sektor hortikultura bersifat perishable sehingga membutuhkan sistem pemasaran yang baik

dan efisien.

Analisis Deskriptif: 1. Saluran pemasaran 2. Lembaga dan fungsi pemasaran

3. Struktur pasar dan perilaku pasar.

Analisis Deskriptif Tabulasi: Menganalisis dan

membandingkan kinerja pasar dengan analisis marjin

pemasaran dan farmer’s

share.

Efisiensi pemasaran dan rekomendasi alternatif pengambilan keputusan bagi petani produsen wortel organikdi Desa Sukagalih

grading dan sortasi, penanggungan resiko, pembayaran, dan informasi pasar. Analisis struktur pasar dan perilaku pasar dilakukan untuk mengetahui jumlah pelaku pasar dan kondisi barang, kemudahan memasuki pasar, kemudahan dalam memperoleh informasi, serta pengambilan keputusan oleh suatu lembaga

Dokumen terkait