• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I : PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Seiring dengan perkembangan masyarakat hukum yang sifatnya dinamis mengalami perkembangan dengan perubahan dan perkembangan. Dalam hubungannya dengan perkembangan tersebut maka timbul teori-teori yang baru. Suatu teori juga mungkin memberikan pengarahan pada aktivitas penelitian yang dijalankan dan memberikan taraf pemahaman tertentu.12

Kerangka teori adalah, “suatu kerangka berfikir lebih lanjut terhadap masalah -masalah yang diteliti”13

. Jadi teori adalah seperangkat preposisi yang berisi konsep yang sudah didefenisikan dan saling berhubungan antar variabel sehingga menghasilkan pandangan sisematis dari fenomena yang digambarkan oleh suatu

12

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 6.

variabel dengan variabel lainnya dan menjelaskan bagaimana hubungan antar variabel tersebut.14

Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam tesis ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hans Kelsen tentang tangggung jawab Hukum.

Hans Kelsen mengemukakan ”

”Suatu konsep yang berhubungan dengan konsepp kewajiban hukum adalah konsep tanggung jawab hukum. Bahwa seseorang bertanggung jawab secara hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum, berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan hukum yang bertentangan . Biasanya yakni dalam hal sanksi ditujukan kepada pelaku langsung, seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri”.15

Bagi suatu penelitian, maka teori dan kerangka teori mempunyai kegunaan.kegunaan tersebut paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam fakta. 2. Teori sangat berguna didalam klasifikasi fakta.

3. Teori merupakan ikhtiar dari hal-hal yang di uji kebenarannya.16

Menurut Rudy Lontoh yang dikutip oleh J. Djohansah, “Kepailitan merupakan suatu proses di mana seorang debitur yang mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan pailit oleh Pengadilan, dalam hal ini Pengadilan

14

Maria S.W. Sumardjono, pedoman pembuatan Usulan Penelitian ,Gramedia ,

Yogyakarta,1989, hal 12-13, bandinngkan dengan ,Metode-metode Penelitian Masyarakat,

PT.Gramedia ,Jakarta 1989, hal 19

15

Hans Kelsen, Teori Hukum Murnidengan judul bukku asli “General Theori of law and state

Alih Bahasa Somardi, Rimdi Pers, Jakarta hal 65

16

Niaga dikarenakan debitur tersebut tidak dapat membayar utangnya, serta harta debitur dapat dibagikan kepada para kreditur sesuai dengan Peraturan Pemerintah”.17

Lembaga Kepailitan merupakan suatu sistem yang mengatur bagaimanakah hukum harus bertindak manakala seorang Debitor tidak dapat membayar utang-utangnya dan bagaimana pertanggung-jawaban Debitor tersebut dalam hubungannya dengan harta kekayaan yang masih ada atau akan dimilikinya.

Menurut Sutan Remy Sjahdeini, tujuan kepailitan antara lain : 1. Melindungi para Kreditor konkruen.

2. Menjamin pembagian harta kekayaan debitor di antara para kreditor.

3. Mencegah agar debitor tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan kepentingan para kreditor.

4. Menghukum pengurus yang karena kesalahannya telah mengakibatkan perusahaan insolvensi.18

Menurut Mosgan Situmorang tujuan kepailitan adalah untuk melakukan pembagian antara para kreditur atas kekayaan debitur oleh kreditur.19Kepailitan dimaksudkan untuk menghindari terjadinya sitaan terpisah atau eksekusi terpisah oleh kreditur dan menggantikannya dengan mengadakan sitaan bersama sehingga kekayaan debitor dapat dibagi kepada semua kreditor sesuai dengan hak masing-masing.

Penelitian pelaksanaan tugas dan kewenangan Kurator dalam Kepailitan Perseroan Terbatas ini didasarkan kepada teori tentang tanggung jawab Kurator

17

J.Djohansah, Pengadilan Niaga Di Dalam Penyelesaian Utang Melalui Pailit, Alumni, Bandung, 2001, hal. 23.

18

Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit., hal. 38-40.

19

Mosgan Situmorang, Tinjauan Atas Undang-Undang No. 4 Tahun 1998 Tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 1998 Menjadi Undang-Undang, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Jakarta, 1999, hal 163.

terhadap tugas dan kewenangannya dalam Kepailitan Perseroan Terbatas. Hal ini dikarenakan begitu banyaknya tugas dan kewenangan yang diberikan oleh UUK dan PKPU kepada Kurator dalam Kepailitan untuk melaksanakan pengurusan dan pemberesan harta pailit, maka menimbulkan tanggung jawab yang besar dalam menjalankan tugas dan kewenangan tersebut.

Berdasarkan pengertian yang diberikan dalam Black’s Law Dictionary, dapat dilihat pengertian kepailitan dihubungkan dengan “ketidak mampuan untuk membayar“ dari seorang debitor atas utang-utangnya yang jatuh tempo. Ketidak mampuan ini harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik secara sukarela oleh debitor sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga melalui permohonanpernyataan pailit ke pengadilan.20

Benturan kepentingan kurator, baik terhadap debitor maupun kreditor, dapat

menjadi ganjalan bagi kurator dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, perlu

mekanisme agar potensi benturan kepentingan Kurator tersebut dapat diminimalisir.

Setiap tindakan ataupun perbuatan dari Kurator yang berkaitan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit yang memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Hakim Pengawas dan berdasarkan ketentuan dari UUK dan PKPU yang dilaksanakan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari Hakim Pengawas dan tidak berdasarkan ketentuan dari UUK dan PKPU sehingga merugikan harta pailit dan pihak ketiga, maka

20

Ahmad Yani & Widjaja, Gunawan, Seri Hukum Bisnis Kepailitan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, tahun 2000, hal’ 12.

tindakan ataupun perbuatan tersebut dapat dimintakan pertanggung jawaban dari pihak Kurator.

Hal ini sesuai dengan yang disebutkan dalam UUK dan PKPU yang

menyatakan bahwa, “Kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau

kelalaiannya dalam melaksanakan tugas pengurusan dan pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit”.21

Menurut Jerry Hoff sebagaimana yang dikutip Imran Nating yang menyatakan bahwa, “Tanggung jawab Kurator tersebut tidaklah lebih berat atau bahkan sama saja dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disebut KUHPerdata) tentang Perbuatan Melawan Hukum”.22

Kurator pada dasarnya dapat melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana yang disebutkan oleh Jerry Hoff yang dikutip oleh Imran Nating. Hal ini dapat saja terjadi jika Kurator tersebut keberadaannya tergantung pada salah satu pihak yaitu pihak debitur atau pihak kreditur, maka dari itu berdasarkan penjelasan dari UUK dan PKPU yang menyatakan bahwa, “yang dimaksud independen dan tidak mempunyai benturan kepentingan adalah bahwa kelangsungan keberadaan Kurator tidak tergantung pada debitur atau kreditur, dan Kurator tidak memiliki kepentingan ekonomis yang sama dengan kepentingan ekonomis debitur atau kreditur”.23

21

Pasal 72 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

22

Imran Nating, Peranan Dan Tanggungjawab Kurator Dalam Pengurusan Dan Pemberesan Harta Pailit, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 115.

23

Penjelasan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Perbuatan melawan hukum yang dilakukan Kurator tersebut dapat saja dipertanggung jawabkan secara pribadi terhadap kerugian yang diderita oleh pihak ketiga ataupun harta pailit, jika tindakan atau perbuatan tersebut merupakan suatu tindakan atau perbuatan di luar dari tugas dan wewenang Kurator yang diberikan UUK dan PKPU.24 Namun apabila tindakan atau perbuatan Kurator tersebut sesuai dengan tugas atau wewenang yang diberikan UUK dan PKPU dan dilakukan dengan itikad baik, tetapi karena hal-hal di luar dari kekuasaan Kurator sehingga merugikan harta pailit dan pihak ketiga, maka hal tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan secara pribadi oleh Kurator dan kerugian tersebut dapat dibebankan kepada harta pailit.25

Kurator berperan dalam Kepailitan setelah pernyataan pailit debitur telah mempunyai kekuatan hukum tetap dari Pengadilan Niaga. Pelaksanaan tugas pengurusan dan pemberesan harta pailit oleh Kurator tersebut tidak akan berhasil tanpa ada bantuan dan kerja sama dari pihak-pihak yang terkait langsung dalam suatu Kepailitan.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUK dan PKPU sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, maka secara tersirat dapat dilihat bahwa yang berkaitan secara langsung dengan Kepailitan tersebut adalah Kurator, Debitur Pailit, para Kreditur dan Hakim Pengawas. Jadi dengan demikian, dalam proses pengurusan dan pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh Kurator tersebut diharapkan pihak-pihak

24 Ibid.

lain yang terkait dalam Kepailitan tersebut memberikan kerja sama yang maksimal agar proses pengurusan dan pemberesan harta pailit tersebut dapat terselesaikan secara cepat, baik dan benar.

Debitur pailit adalah debitur yang sudah dinyatakan pailit dengan Putusan Pengadilan26 dan Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka Pengadilan27, serta Hakim Pengawas adalah Hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan dalam putusan pailit atau putusan penundaan kewajiban pembayaran utang28 dan Hakim Pengawas tersebut yang bertugas mengawasi dan memberikan persetujuan atas tugas pengurusan dan pemberesan yang dilakukan oleh Kurator, yang sekaligus sebagai tempat debitur pailit dan kreditur untuk menyampaikan hal-hal yang debitur pailit atau kreditur inginkan atau tidak diinginkan untuk dilakukan oleh Kurator.29

Namun akan menjadi penghambat jika tidak membantu segala kerja tugas dan wewenang dari Kurator yang telah diberikan oleh UUK dan PKPU. Untuk integritas moral Kurator agar tetap konsisten dengan tugas dan fungsinya, maka Kurator memerlukan Hakim Pengawas dalam pelaksanaan tugasnya.

26

Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

27

Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

28

Pasal 1 angka 8 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Dokumen terkait