• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. Menganilisis hasil dari pendidikan Islam non-formal berwawasan multikultural dalam membangun sikap para jama’ah dari kedua masjid tersebut.

E. Manfaat Penelitian.

1. Manfaat teoritis. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan pengembangan keilmuan, terutama yang berkaitan dengan berbagai isu-isu multikultural.

2. Manfaat praktis. Penelitian ini nantinya diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi para tokoh masyarakat dan praktisi pendidikan -kepala sekolah, guru/dosen, karyawan sekolah/kampus maupun institusi-institusi terkait untuk mengembangkan pendidikan berwawasan multikultural maupun untuk membangun kesadaran dan menumbuhkan semangat multikultural.

F. Kerangka Teoritik

1. Teori Strukturasi

Digunakannya teori strukturasi untuk menganalisis data berdasarkan pada anggapan bahwa kehidupan sosial/ praktik sosial masyarakat, dalam hal ini persepsi dan sikap keagamaan jamaah masjid al-Bukhari IAIN Surakarta dan masjid Nurul Huda UNS tidak dapat dipisahkan dari pengaruh agen/subyek dan struktur/norma yang berlaku. Para jamaah kedua masjid tersebut memiliki hak untuk menentukan sendiri sikap dan kehidupan sosial keagamaan mereka sesuai dengan persepsi mereka. Meskipun demikian karena mereka menjadi bagian dari masyarakat, maka

dalam mengeksplorasi kehidupan sosial keagamaan mereka juga memperhatikan norma-norma atau aturan (struktur) yang dipegang oleh masyarakat. Dengan kata lain, ada interaksi timbal balik antara agen dengan kontek sosial atau struktur dalam mewujudkan praktik sosial/perilaku manusia.

Teori strukturasi yang dikemukakan oleh Anthony Giddens merupakan elaborasi pemikiran yang muncul sebagai solusi untuk menutupi kekurangan dari teori-teori sosial sebelumnya. Teori strukturasi ini mengintegrasikan peran agen dan struktur terhadap perilaku manusia, sedangkan teori-teori sebelumnya melihat peran antara agen dan struktur dalam posisi dualisme.26

Teori-teori yang berada dalam paradigma fakta sosial lebih menekankan peran struktur/norma di dalam mempengaruhi perilaku seseorang atau external to and coersive for the action,27 sebaliknya teori-teori yang berada dalam paradigma definisi sosial lebih menekankan peran individu sebagai aktor/agen yang memiliki kemampuan untuk menentukan tindakannya sendiri dan terlepas dari pengaruh struktur yang berada di sekitarnya. Artinya unsur subyektivitas pada diri individu sangat kuat ketika

26Dualisme itu berupa tegangan antara subyektivisme dan obyektivisme, voluntarisme dan determinisme. Subyektivisme dan voluntarisme merupakan tendensi cara pandang yang memprioritaskan tindakan atau pengalaman individu (agen). Adapun obyektivisme dan determinisme merupakan kecenderungan cara pandang yang memprioritaskan gejala keseluruhan (peran struktur) diatas tindakan dan pengalaman individu. Dalam refleksi Giddens, mazhab-mazhab yang ada merupakan imperialisme obyek sosial atas subyek/individu, atau sebaliknya adanya gejala imperalisme subyek atas obyek sosial.

Lihat: Anthony Giddens,Problematika Utama dalam Teori Sosial, Penerjemah: Dariyatno

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 84-85.

27Goerge Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, penerjemah: Ali

individu tersebut menentukan tindakan dan sikapnya dalam dunia sosial melalui kesadarannya.28

Giddens melihat bahwa peran agen dan struktur terhadap perilaku manusia tidak bisa dipahami sebagai dualisme, di mana masing-masing berdiri sendiri dan terpisah; tapi hal itu harus dilihat sebagai relasi dualitas antara keduanya seperti yang dikemukakan olehnya, komposisi antara agen dan struktur bukanlah dua perangkat yang terpisah, melainkan terjadi hubungan dualitas antara keduanya dalam memproduksi tindakan seseorang.29

Teori strukturasi merupakan jalan tengah yang mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (subyek/agen). Berkenaan dengan ini, Giddens menyatakan bahwa kehidupan sosial bukan hanya ditentukan oleh unsur subyek saja, namun kehidupan sosial itu ditentukan pula oleh kekuatan-kekuatan sosial yang melingkupinya. Maksudnya, ada hubungan timbal balik antara human

agency dan struktur sosial dalam mempengaruhi tindakan seseorang30.

Inilah yang disebut relasi dualitas atau hubungan dualitas.

Hubungan dualitas itu terjadi dalam praktik sosial/ tindakan-tindakan yang berulang-ulang dan terpola dalam lintas ruang dan waktu.31 Untuk memudahkan pemahaman tentang bagaimana Giddens memformulasi

28 Malcolm Waters dalam Nur Syam, Islam Pesisir (Yogyakarta: LKIS, 2005), 35

29 Anthoy Giddens, Teori Strukturasi, Penerjemah: Maufur dan Daryatno, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 40. Lihat juga Anthony Giddens, Problematika Utama dalam

Teori Sosial, Penerjemah: Dariyatno (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 90. 30 Ibid., 40-41. Lihat juga Anthony Giddens, Problematika Utama …. 129.

hubungan dualitas dalam mewujudkan praktik sosial, maka perlu dipahami lebih dulu tiga konsep yang saling terkait, yaitu agen, struktur dan praktik sosial.

Agen adalah subyek dalam praktik sosial (tindakan-tindakan). Agen dapat dilihat sebagai individu ataupun kelompok. Dengan demikian agen adalah orang-orang yang terlibat dalam arus tindakan/aktifitas sehari-hari secara berkesinambungan, yang terwujud dalam bentuk praktik sosial.32 Sedangkan struktur merupakan norma yang memberi aturan pada praktik sosial yang berlaku di masyarakat.

Untuk mewujudkan praktek sosial, diperlukan dua faktor penting, yaitu rasionalisasi dan motivasi. Rasionalisasi adalah mengembangkan kebiasaan sehari-hari yang di samping memberikan perasaan aman kepada agen, juga memungkinkan mereka menghadapi kehidupan secara efisien. Sedangkan motivasi meliputi keinginan dan hasrat yang mendorong pada praktek sosial.33

Dalam teori strukturasi agen/aktor memiliki dua tingkatan kesadaran, yaitu : a) kesadaran praktis (practical consciousness, dan b) kesadaran diskursif (discursive consciousness).34 Kesadaran praktis menunjuk pada seperangkat pengetahuan praktis yang tidak selalu dapat diuraikan dan abstrak.35 Dengan kata lain, pengetahuan praktis ini diekspresikan dalam bentuk tindakan. Berdasarkan pengetahuan, agen mengetahui tentang

32 Ibid., 8-9.

33 Ibid., 8.

34 Priyono, Teori Sosiologi Modern (Yogyakarta: Kanisius, 2002), 23-27.

manfaat dari tindakannya dan mengapa mereka melakukannya. Kemampuannya mengetahui ini kebanyakan diungkapkan dalam kesadaran praktis. Kesadaran praktis terdiri dari segala sesuatu yang dengan jelas diketahui para aktor tentang bagaimana berbuat dalam konteks kehidupan sosial tanpa bisa diekspresikan secara diskursif.

Kesadaran diskursif menunjuk pada serangkaian kapasitas pengetahuan yang dimiliki agen dalam merefleksikan dan memberikan penjelasan rinci serta eksplisit mengenai tindakan yang dilakukan.36 Selain memungkinkan agen untuk memformulasikan penjelasan, kesadaran diskursif juga memberikan kesempatan padanya untuk melakukan

derutinisasi aktifitas rutin dan mengubah pola tindakannya.37 Terjadinya

derutinisasi karena terdorong oleh adanya motivasi tak sadar atau disebut

juga kognisi tak sadar. Motivasi tak sadar ini merupakan potensi dan pemicu bagi beberapa tindakan agen. Jika movitasi adalah hasrat yang mendorong seseorang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat rutinitas, maka motivasi tak sadar hanya memiliki kaitan langsung dengan tindakan dalam situasi yang tidak biasa, yang menyimpang dari rutinitas. Motivasi tak sadar menyangkut keinginan atau kebutuhan yang berpotensi mengarahkan tindakan.38

Di antara dua tingkat kesadaran itu, kesadaran praktis dinilai lebih menentukan dalam memahami kehidupan sosial, dan merupakan kunci untuk memahami proses bagaimana praktek sosial itu lambat laun menjadi

36 Ibid., 28.

37 Anthony Giddens, teori Strukturasi, 192.

struktur, dan bagaimana struktur itu mampu mewarnai praktek sosial yang kita lakukan. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa reproduksi sosial terbentuk melalui praktik sosial/tindakan yang berulang-ulang dan jarang kita pertanyakan.39 Tindakan-tindakan yang berulang-ulang dari agen-agen itulah yang mereproduksi struktur tersebut. Tindakan sehari-hari seseorang memperkuat dan mereproduksi seperangkat ekspektasi.Ekspektasi orang-orang itulah yang membentuk apa yang disebut oleh sosiolog sebagai kekuatan sosial atau struktur sosial.40

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa struktur (norma, undang-undang) itu diciptakan, dipertahankan dan diubah melalui tindakan-tindakan agen. Di pihak lain, tindakan-tindakan itu sendiri dipandang baik dan memiliki nilai (meaningful form) jika sesuai dengan kerangka struktur. Kausalitas ini berlangsung secara timbal balik, sehingga tidak bisa ditentukan apa yang mengubah apa; norma yang mengubah tindakan agen/masyarakat, ataukah tindakan agen yang terus-menerus hingga pada akhirnya menjadi norma.

Selain membentuk struktur- melalui tindakan yang berkesinambungan- agen juga membentuk refleksivitas (kesadaran). Refleksivitas ini memungkinkan agen untuk memonitor aliran aktifitas dan kondisi sosial yang dihadapinya secara terus-menerus. Ini berarti teori strukturasi memberikan agen kemampuan untuk mengubah kondisi sosial tersebut. Perubahan terjadi ketika kapasitas monitor ini mengambil jarak

39 Ibid., 199.

dengan struktur, sehingga terjadi ‘de-rutinisasi’. Derutinisasi menyangkut gejala dimana struktur yang selama ini menjadi aturan atas praktik sosial masyarakat, tidak lagi memadai untuk dipakai sebagai prinsip pemaknaan dan pengorganisasian berbagai praktik sosial yang sedang berlangsung, atau sedang diperjuangkan agar menjadi praktik sosial baru.41 Dengan kata lain, jika struktur yang mapan sudah tidak/kurang sesuai dengan praktek sosial yang berkembang, maka diperlukan perubahan agar lebih sesuai dan bisa menjawab tuntutan masyarakat. Bagan dari teori Giddens sebagai berikut:

Bagan 1.1: Bagan Teori Strukturasi