• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESADARAN BERBANGSA

Dalam dokumen buku hiski 1compressed (Halaman 131-139)

Tania I ntan

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran < [email protected]>

ABSTRAK

Saat ini terdapat lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia yang menggunakan bahasa Perancis.

Secara linguistik, istilah francophonie mengacu pada semua daerah bukan Perancis yang menggunakan

bahasa Perancis, seperti Belgia, Kepulauan Karibia, Guyana, Mesir, Libanon, Magreb (Afrika Utara), Kanada, Swiss, hingga Indochina.

Apabila ditinjau dari perkembangan penggunaan bahasa Perancis, saat ini kesusastraan Perancis bukan hanya didominasi oleh orang-orang Perancis, tetapi juga diwarnai oleh para penulis Frankofon. Keadaan ini berkembang terutama dalam 40 tahun terakhir ini, tepatnya setelah tahun-tahun kemerdekaan bagi negara-negara bekas jajahan Perancis.

Dari latar belakang sosial, letak geografis, tradisi budaya, dan pengalaman sejarah yang beragam, muncullah berbagai macam jenis karya sastra, yang seluruhnya memiliki persamaan, yaitu berbahasa Perancis. Dengan segala karakteristik lokal mereka, para penulis Frankofon menunjukkan kualitas dirinya sebagai sastrawan yang menggunakan bahasa Perancis dengan sangat piawai. Banyak penghargaan sastra telah diterima para penulis Frankofon.

Berbagai macam tema dapat dijumpai secara umum pada roman-roman karya pengarang

Frankofon, mulai tema perbudakan, penjajahan, kritik budaya, pencarian identitas dan juga masalah rasisme.

SEJARAH SASTRA FRANKOFON

Kesusastraan Frankofon lahir setelah berakhirnya Perang Dunia II, yang membangkitkan kesadaran dan semangat berbangsa dari negara-negara yang baru merdeka. Sejumlah penulis Afrika Utara, termasuk di dalamnya dari Tunisia, Aljazair, dan Maroko, mengungkapkan perasaannya justru dalam bahasa Perancis, untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai bekas bangsa terjajah.

Apabila kebanyakan karya tersebut ditulis dalam bentuk prosa, hal itu terjadi karena genre ini memudahkan bagi para penulis, untuk menyampaikan kesaksian mereka mengenai penderitaan, penyiksaan, ketidakadilan, keterasingan, perasaan rendah diri, dan tentu saja semangat perlawanan mereka terhadap bangsa penjajah. Bentuk puisi dan esai juga banyak digunakan, misalnya oleh Tahar Ben Jelloun, yang mengungkapkan sudut pandangnya terhadap imigrasi dan rasisme yang meraja lela, lalu ada Albert Memmi

yang berbicara tentang neokolonialisme dan hubungan antarkomunitas pasca- kemerdekaan.

Kekerasan dan tindakan agresif dari penguasa yang menimpa penulis-penulis pemberani tersebut ternyata tidak hanya berupa kata-kata, karena kenyataannya ada sejumlah pengarang yang mati terbunuh, seperti yang terjadi pada Mouloud Feraoun pada tahun 1962, Jean Sénac pada tahun 1973, Tahar Djaout dan Youcef Sebti pada tahun 1993 di tanah Aljazair. Dalam hal ini, terbukti bahwa neokolonialisme terjadi dan dapat dilakukan oleh bangsa sendiri.

Para penulis ini dapat diklasifikasikan berdasarkan periodisasi keaktifannya dalam tiga generasi, yaitu :

Generasi Pelopor, ditandai oleh karya-karya klasik mereka, yang mengungkapkan lahirnya nasionalisme dan identitas bangsa pribumi. Yang termasuk dalam generasi ini adalah : Albert Memmi (Tunisia), Mouloud Feraoun, Mouloud Mammeri, Mohammed Dib, Malek Haddad, dan Kateb Yacine (Aljazair), sedangkan dari Maroko adalah Ahmed Sefrioui dan Driss Chraibi.

Dengan mengusung tema yang serupa dengan generasi pertama, kelompok kedua lahir sekitar tahun 1970. Yang membedakan adalah tingkat kekerasan verbal yang meningkat tajam dan adanya upaya pencarian bentuk-bentuk tulisan orisinal lokal. Para penulis yang tergolong dalam generasi kedua adalah Assia Djebar, Mourad Bourboune, Nabile Fares dan Rachid Boujedra (Aljazair), Abdelkebir Khatibi, Mohammed Khair-Eddine, Abdellatif Laabi dan Tahar Ben Jelloun (Maroko).

Generasi ketiga didominasi para penulis roman, dengan bentuk penulisan tradisional, namun tidak terlepas dari realitas nyata kehidupan sosial-politik modern. Dalam kelompok ini dapat dicatat peran Abdelwahab Meddeb (Tunisia). Di Aljazair, yang menonjol adalah kehadiran Rachid Mimouni, Rabah Belamri, Boualem Sansal, Maïssa Bey, Tahar Djaout dan Yasmina Khadra, sedangkan di Maroko, Abdelhak Serhane dan Fouad Laroui.

Pada masa aktif generasi pertama, para penulis muda pun tak urung bermunculan, yang didukung sepenuhnya oleh bakat mereka yang luar biasa. Ada kelompok tersendiri yang disebut “Sepupu” yaitu penulis keturunan Arab/ Beurs seperti

Azouz Begag, Farida Belghoul, Nina Bouraoui, Mehdi Charef, Nacer Kettane, dan Leïla Sebbar. Tema yang mereka usung pun tidak jauh berbeda dengan saudara-saudara mereka di tanah Afrika Utara, namun akar budaya utama telah berubah menjadi Eropa.

Di sisi lain, sebagai penulis Frankofon, mereka tentu menulis langsung dalam bahasa Perancis yang memang dikuasai dengan baik, dengan pertimbangan keluasan wilayah publik pembaca. Namun demikian, ada pendapat kontra yang menyatakan bahwa bahasa Perancis adalah bahasa penjajah, selain juga penggunaan eksesif bahasa ini mengakibatkan menurunnya minat anak-anak mereka mempelajari bahasa Al Quran, bahasa Arab klasik. Mewakili para penulis Frankofon, Albert Memmi menyatakan pendapatnya dengan istilah “bahasa Perancis, ungkapan Arab”.

KODE BAHASA, KODE SASTRA, KODE BUDAYA

Karya sastra dibentuk oleh konvensi yang beragam dan memiliki kompleksitas struktur tersendiri. Culler menyarankan bahwa apabila ingin mempelajari tulisan kesusastraan, kita harus memusatkan perhatian pada konvensi-konvensi yang mengarahkan permainan, perbedaan-perbedaan dan proses makna yang dibangun (1975:133-134). Secara konvensional, karya sastra melibatkan penggunaan bahasa sebagai salah satu sistemnya. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan bahasa Perancis yang memadai tentu dibutuhkan dalam proses pemahaman karya sastra Frankofon. Selain unsur formal bahasa, karya sastra pun tidak terlepas dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sebagai komponen pembentuknya. Pengetahuan mengenai alur, tokoh, sudut pandang, latar hingga pengetahuan mengenai riwayat hidup penulis akan sangat membantu pemahaman terhadap karya tersebut. Seorang penulis Frankofon tentu akan memperlihatkan gaya pengungkapan yang berbeda dengan penulis Perancis karena perbedaan latar belakang mereka.

Ternyata diketahui bahwa faktor budaya pun merupakan sistem organisme pembangun cerita yang penting, karena ia turut membantu pemahaman makna secara universal, mengingat sebuah karya sastra tidak muncul dari situasi kekosongan budaya. Demikian pula pada karya sastra Frankofon yang memiliki unsur-unsur kebudayaan yang khas, akan memiliki warna tersendiri pada karya tersebut. Pemahaman pada tradisi dan adat masyarakat yang dimunculkan oleh penulis, memungkinkan bagi pembaca untuk menyelami hakikat pesan yang ingin disampaikan penulis tersebut. Lebih jauh lagi, faktor budaya memberi peluang yang sangat potensial dalam menguasai pendidikan humaniora.

Keragaman konvensi sistem organisasi dalam sebuah karya sastra seperti diuraikan di atas (bahasa-sastra-budaya), menghadapkan kita pada beberapa permasalahan, di antaranya kesulitan pembaca dalam memahami karya sastra secara menyeluruh. Teeuw (1988:110) berpendapat bahwa karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan invensi. Ini berarti bahwa dalam proses pembacaan sering timbul pertentangan antara keberadaan konvensi dengan pemahaman pembaca itu sendiri.

Disinyalir bahwa kemungkinan pembaca yang menemukan kesulitan dalam memahami karya sastra secara utuh, berada pada kerumitan konvensi sistem bahasa, sistem sastra dan sistem budaya. Kerumitan konvensi sistem bahasa misalnya, terjadi pada kesulitan dalam memahami kebahasaan, struktur bahasa (kosa kata, frase, klausa, kalimat) dan keambiguan makna. Sedangkan kerumitan konvensi sistem sastra, misalnya berkaitan dengan unsur-unsur kreatifitas pengarang dalam menggunakan nilai-nilai kesusastraan. Di samping itu rentang waktu dan kebudayaan melahirkan suatu karya yang berbeda-beda sesuai dengan zamannya. Hal ini semua dapat membuat pembaca menemui kesulitan dalam menafsirkan dan menalarkannya. Maka dari itu, Teeuw menekankan bahwa dalam usaha pemahaman terhadap karya sastra, seorang pembaca tidak akan terlepas dari penguasaan ketiga sistem kode: kode bahasa, kode sastra dan kode budaya.

Atas dasar pemikiran dan pertimbangan dari berbagai fenomena yang dipaparkan di atas, ketiga sistem kode tersebut tersebut harus diamati sebagai upaya peningkatan pemahaman terhadap karya sastra, khususnya sastra Frankofon. Penelitian ini diarahkan kepada analisis terhadap buku Moha le Fou Moha le Sage karya Tahar Ben Jelloun yang

dapat dipilih untuk dijadikan salah satu alternatif bahan ajar sastra.

TINJAUAN SASTRA DAN BUDAYA DALAM BUKU MOHA LE FOU MOHA LE SAGE

KARYA TAHAR BEN JELLOUN Biografi Pengarang

Tahar Ben Jelloun adalah pengarang dan penulis puisi asal Maroko. Ia lahir tanggal 1 Desember 1944 di Fès. Setelah menyelesaikan sekolah dasar bilingual Arab- Perancis, ia melanjutkan studi ke sekolah menengah Perancis di Tanger, dan pada umur 18 tahun mempelajari filsafat di Universitas Mohammed-V dI Rabat. Di sini ia pertama kali menulis kumpulan puisi Hommes sous linceul de silence (1971).

Ben Jelloun kemudian mengajar filsafat di Maroko namun kemudian hijrah ke Perancis pada tahun 1971, karena pengajaran filsafat di negaranya harus berdasarkan kultur Arab-Islam, padahal ia merasa tidak memiliki kapasitas tersebut. Ben Jelloun menulis sejumlah artikel untuk surat kabar Le Monde sejak tahun 1972. Ia meraih gelar

doktor psikiatri sosial tahun 1975. Beberapa tulisannya dilandasi pengalamannya memberi terapi kejiwaan (La Réclusion solitaire, 1976). Pada tahun 1985, ia mempublikasikan buku L'Enfant de sable yang membuatnya sangat terkenal, terutama berkat hadiah

kesusastraan le prix Goncourt pada 1987 untuk lanjutan buku pertamanya, yang berjudul

La Nuit sacrée. Tahar Ben Jelloun saat ini tinggal di Paris bersama istrinya, seorang warga

negara Perancis, dan putrinya Mérième. Untuk putrinya ini, ia menulis sejumlah karya yang bersifat pendidikan, misalnya Le Racisme expliqué à ma fille, 1997.

Ben Jelloun adalah salah satu pengarang Frankofon yang karyanya paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia, termasuk L'Enfant de sable et La Nuit sacrée yang telah

dialihbahasakan ke dalam 43 bahasa. Ringkasan Cerita

Di negara Magreb, tidak ada yang tidak mengenal Moha. Lelaki tua ini senantiasa dikelilingi anak-anak yang tertawa menyorakinya. Sama tidak berdosa dan cerdas seperti anak-anak itu, Moha mengembara menembus batas ruang dan waktu, sambil mengumandangkan ucapan-ucapan dari orang-orang tertindas, dari mereka yang terkekang, yang keinginannya dibatasi, yang nyanyiannya dibungkam, yang teriakannya dipendam dalam-dalam. Orang banyak sering kali mendengarnya bersajak di alun-alun. Orang banyak pun termangu melihatnya menyobek-nyobek uang kertas di depan bank negara. Moha menceritakan dengan gamblang kisah busuk dari sebuah keluarga kaya dan ternama, melalui tangisan seorang budak hitam yang cantik yang dianiaya sang Majikan. Moha juga menyampaikan cerita pilu seorang anak gadis yang dijual ayahnya sendiri.

Lelaki tua ini memainkan peran sebagai teknokrat sekaligus psikiater bagi masyarakat. Ia pun banyak menghabiskan waktunya dengan Moché, seorang Yahudi gila, dan dengan seorang India yang lututnya luka. Selain mereka, tak ada yang mau mendekatinya. Pada suatu hari, beberapa orang jahat menangkapnya, membunuhnya, dan menguburnya dalam tanah. Namun demikian, di bawah nisannya, Moha tetap berbicara. Kata-katanya tidak dapat dihentikan, karena itulah tradisi Magreb yang membuat kenyataan lirik bertahan. Moha tetap bercerita mengenai rakyatnya dengan sepenuh hati.

Analisis Tokoh

Dalam roman Moha le Fou Moha le Sage, kita dapat menjumpai sekitar dua

puluhan tokoh, yang masing-masing memainkan peran tersendiri, baik sebagai tokoh utama, sekunder, atau pun pelengkap.

Tokoh utama cerita ini, tentu saja Moha, suatu individu yang enigmatik, berumur 140 tahun tapi berpenampilan bagaikan seorang pemuda biasa. Kondisi ini tentu tidak normal, namun masih memiliki kadar plausibilitas karena sesungguhnya ia bukanlah manusia biasa. Sejak dilahirkan oleh seorang budak hitam yang cantik, ia ditinggalkan oleh sang ayah di dekat sebuah sumber mata air, dan hidup bergantung pada kebaikan alam.

Kenangan itu menyakitinya, sehingga Moha menganggap sang mata air sebagai ibu kandungnya, dan mulai berteman dengan pohon-pohon dan binatang yang memberinya bakat dan pengetahuan luar biasa. Ia pun dapat berbicara dengan binatang. Karena selalu dekat dengan Alam, Moha tidak ingin tinggal dalam rumah dan memilih untuk berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Ia datang dan pergi seperti angin hingga anak-anak memanggilnya penjaga malam dari surga (veilleur de nuit du paradis).

Moha tahu bahwa nasib anak-anak jalanan itu pun tidak beruntung, sama seperti dirinya. Untuk melindungi mereka dari kejahatan kehidupan, Moha memperingatkan orang-orang dewasa yang ditemuinya untuk senantiasa menyayangi anak-anak mereka. Pada mereka yang mengabaikan peringatannya, Moha mengancam dengan keras, terutama pada orang tua yang menyia-nyiakan atau bahkan menjual anaknya (hal.27). Moha juga sangat bersimpati dan membela kaum wanita yang tak berdaya dan dianiaya pria. Dengan tak mengenal lelah, ia memberi semangat pada mereka untuk melawan ketidakadilan dunia karena kodratnya sebagai wanita.

Keberpihakan Moha pada kaum lemah ini, anak-anak dan wanita, bukanlah suatu pilihan yang populer dalam masyarakat, sehingga ia dianggap gila. Ironisnya, Moha yang

merasakan dirinya memang berbeda, menerima panggilan itu dengan lapang dada.

Walaupun dianggap aneh dan gila, sebenarnya Moha adalah seorang patriot sejati bagi bangsanya dan ikut berjuang melawan imperialisme Perancis. Ia memuja negaranya dan mengungkapkan perasaan itu dalam kata-katanya. Karena kegilaannya, ia bebas menunjukkan kemarahannya pada bangsa Perancis, namun karenanya ia sering ditangkap tentara untuk dibebaskan keesokan harinya.

Kadang kala, Moha pun menasihati dengan bijaksana orang-orang yang sedang tergesa-gesa di jalan untuk tidak bekerja terlalu keras, karena hal itu akan merusak diri

mereka sendiri dan bangsa itu. Dalam kata-katanya yang keras dan menyakitkan, sesungguhnya banyak mengandung kebenaran.

Dengan demikian kita memahami potret diri Moha, seorang lelaki gila (le Fou)

karena memosisikan dirinya berseberangan dengan opini publik yang konvensional. Ia bahkan membenci uang dan selalu konsekuen dalam mempertahankan prinsipnya. Selama hidupnya, dan bahkan setelah kematiannya, Moha tidak berhenti berbicara, karena kekuatannya terletak dalam kata-kata.

Moha juga dijuluki si Bijak (le Sage) karena ia selalu mengungkapkan kebenaran

dan tidak lelah memberi nasihat pada orang-orang tak acuh, egois, dan materialis yang ditemuinya sepanjang hari, yang sebenarnya sangat ia benci.

Dalam Moha le Fou Moha le Sage ini, selain Moha, terdapat beberapa tokoh yang

keberadaannya penting dalam menggulirkan cerita, di antaranya adalah: Ahmed, lelaki muda yang disiksa sampai mati oleh kepolisian negara itu, karena perjuangannya yang prorakyat. Aicha adalah seorang gadis berusia 12 tahun yang dijual ayahnya untuk menjadi budak di rumah sang Majikan. Kemudian Dada, atau Fatem Zohra, budak hitam yang cantik namun bisu milik si Majikan, yang menjadi obyek pelampiasan nafsunya. Lalu ada tokoh lain, seorang anak yang terlahir dewasa, karena sejak lahir ia selalu menderita. Sedangkan Moché dan Harrouda adalah tokoh-tokoh yang mirip Moha, karena latar belakang mereka yang suram dan kemampuan supranatural keduanya.

Selain tokoh protagonis, ada juga tokoh antagonis, seperti si Majikan yang kaya raya dan religius, namun sangat munafik dan berperilaku seksual menyimpang. Kemudian istri si Majikan, yang materialis dan depresi karenanya. Lalu anak mereka yang pandai memperalat para pegawai dan membayar murah upah mereka.

Analisis Latar

Pada bagian ini, kita mempelajari latar spasial dalam buku Moha le Fou Moha le Sage, yang menjadi dekor bagi keseluruhan cerita.

Cerita terjadi di Aljazair, sebuah negara di Afrika Utara yang disebut juga Magreb. Ibukotanya, Alger, terletak di tepi utara dibatasi laut Mediterania. Negara ini dikelilingi oleh Tunisia, Libya, Nigeria, Sahara barat, Mauritania, Mali dan Maroko.

Secara umum, bangsa Magreb menghuni daerah-daerah di Afrika Utara yang terdiri dari Maroko, Aljazair dan Tunisia. Daerah Magreb yang termasuk dalam wilayah Mediterania, memiliki identitas bangsa yang kuat karena menjadi persimpangan dari berbagai pengaruh terutama Arab-Islam, kemudian secara kesejarahan bangsa ini pernah menjadi daerah kolonisasi Perancis, selain juga ada kedekatan geografis dengan benua Eropa.

Bangsa asli dari wilayah Magreb ini menyebut dirinya I mazighen (manusia bebas),

sedangkan orang Eropa memanggil mereka Berbères, yang menunjukkan nama suku

bangsa Tamazgha. Mereka beranggapan bahwa itulah nama yang sesungguhnya, karena Magreb adalah istilah yang diberikan oleh bangsa Arab saat melakukan ekspansi ke daerah Afrika Utara ini.

Berbeda dengan situasi di Maroko dan Tunisia, pendudukan Perancis di Algeria berlangsung lama dan alot. Tentara Perancis menundukkan satu persatu desa dengan susah payah. Jenis pendudukan ini adalah kolonisasi populasi, artinya Perancis mendatangkan koloni-koloni sedangkan penduduk asli dikerahkan untuk menggerakkan mesin ekonomi sang penguasa. Untuk menyingkirkan elemen-elemen sosial yang berpotensi mengganggu stabilitas kolonisasi mereka, Perancis mengirim tahanan politik mereka jauh-jauh ke daerah lain. Di bidang politik, Aljazair menerapkan rezim republik sejak pengakuan kedaulatan mereka tahun 1962. Konstitusi aktual memungkinkan pemimpin negara menjadi pusat kekuasaan.

Dengan latar demikian, narator menjelaskan situasi Negara setelah periode kolonisasi Perancis yang membuka peluang bagi rakyat untuk mengembangkan diri dan mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Namun demikian, Moha juga menuduh bahwa karena fantasi mereka, banyak orang berlomba memperkaya diri dengan berbagai cara, termasuk melakukan korupsi. Keadaan ini terjadi karena memang situasi tatanan sosial yang sangat memungkinkan untuk itu, sehingga kecenderungan korupsi seolah seperti penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. Justru orang-orang jujur adalah orang “bodoh dan pemimpi”.

Kemiskinan, pengangguran, dan kebodohan tidak menjadi prioritas masalah negara bagi pemerintah yang berkuasa. Kesenjangan sosial pun tidak dapat dihindari lagi.

Di sisi lain dari tempat itu, ada rumah-rumah yang sangat mewah, misalnya villa milik Direktur Bank yang dikunjungi oleh Moha.

Analisis latar ini membuat kita mengenal topografi nyata dari negara Magreb, baik Aljazair maupun Maroko. Bahkan nama kota yang dimaksud pun tidak penting bagi pencerita. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan, kesenjangan, dan penderitaan manusia merupakan fenomena universal.

Setelah menganalisis aspek-aspek sastra yang terdapat dalam buku Moha le Fou Moha le Sage, kita dapat menyimpulkan secara ringkas bahwa pengetahuan mengenai

konteks sejarah, sosial, dan ekonomi merupakan penunjang yang sangat penting untuk dapat memahami suatu karya sastra.

KESIMPULAN

Kekayaan tema dalam karya sastra Frankofon ini dapat menjadi salah satu faktor yang menarik untuk dipelajari dalam kelas. Pada dasarnya sastra adalah pengajaran tentang kehidupan. Oleh sebab itu, pengajaran sastra menjadi komponen penting dalam pendidikan dan etika humaniora.

Joubert (2006 : 23) menyatakan bahwa keberadaan literatur Frankofon saat ini memainkan peran penting dalam usaha perluasan penyebaran bahasa Perancis di seluruh dunia. Keanekaragaman budaya akan dapat menarik minat pembelajar untuk mengenal lebih jauh bahasa ini dan pemakainya di luar Perancis. Kini karya sastra Frankofon seharusnya tidak lagi berada di «baris ke dua» di bawah posisi utama karya sastra Prancis.

Masih menurut Joubert, cara pengajaran sastra Frankofon pada dasarnya sama seperti yang dilakukan terhadap teks sastra lain, artinya dengan segala cara. Namun

demikian tentu saja ada beberapa poin tertentu yang menjadi karakter sastra Frankofon yang harus dipelajari secara khusus, yaitu latar belakang (geografi, sosial, sejarah,...) yang diacu teks tersebut. Yang juga harus menjadi pertimbangan bagi pengajar adalah kebutuhan publik (umum atau khusus), tingkat kemampuan bahasa (pemula, menengah, lanjutan), jenis korpus (cuplikan, teks integral), jenis karya sastra (drama, prosa, puisi), serta kegiatan pengajaran (analisis teks, diskusi, komposisi, ...).

Pada hakikatnya pengajaran sastra ini bertujuan untuk membangkitkan keinginan membaca para pembelajar dan agar mereka mengenal lebih jauh penulis-penulis karya sastra Frankofon, untuk selanjutnya dapat mengenal dan menghargai karya sastra dari

budayanya sendiri. Bahkan, dengan mempelajari sastra, diharapkan para pembelajar dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berbahasa dan pengetahuan budaya yang ada di dunia. Tak heran bila di berbagai kampus yang telah mapan, pembelajaran sastra dikaitkan dengan sejarah dan politik.

Bagian terpenting dari pemahaman karya sastra sesungguhnya adalah bahwa pembelajar diajak untuk merenung dan berpikir dengan lebih terbuka, bahwa hidup itu untuk saling menghargai apapun latar belakang kehidupan mereka, dan bahwa karena ada perbedaanlah hidup akan menjadi lebih menarik.

DAFTAR PUSTAKA

Benny H.Hoed, Memandang Fenomena Budaya dengan kaca mata semiotik, 2005, FIB UI

Denise Brahimi, Langue et littératures Francophones, 2001, Ellipses

Dix ans de litteratures I Magreb-Afrique Noire, 1990, Notre Librairie

I rzanti Sutanto, Prancis dan Kita, 2003, Wedatama Widya Sastra

Jean-Louis Joubert, Petit guide des Littératures Frankofons, 2006, Nathan

SUBJECT MATTER “LI YAN/ THE OTHERS”

Dalam dokumen buku hiski 1compressed (Halaman 131-139)