• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam kerangka pengembangan kompro-mi-kompromi sosial sebagaimana dibahas sub-bab di atas, ada urgensi bagi komunitas episte-mik untuk mendiskusikan rute kesejahteraan dalam rangka demokratisasi. Dalam kaitan ini, penting untuk dicatat bahwa privilese yang

4 2Istilah ini dibahas berulang-ulang dalam diskusi pengolahan data.

4 3Savirani dan Tornquist (eds.), Reclaiming the State….

4 4Savirani dan Tornquist (eds.), Reclaiming the State…; lihat juga, Yuki Fukuoka, “Indonesia’s

‘Democratic Transition’ Revisited: A Clientelist Model of Political Transition”, dalam Democrati-zation, Vol. 20, No. 6, 2013, hal. 991-1013, juga tautan dalam http://dx.doi.org/10.1080/

13510347.2012.669894.

dimiliki hanyalah sebatas untuk mengar-tikulasikan, bukan mengunci pemaknaan demo-krasi. Bagaimanapun juga, privilese yang dimi-likinya tidak mungkin—dan dalam rangka de-mokratisasi demokrasi tidak semestinya—

mengambil alih makna demokrasi.

Agenda setting untuk penuntasan demo-kratisasi—mengingat kecenderungannya yang top-down—haruslah mengikuti rute bottom-up.

Justru di sinilah privilese komunitas epistemik didambakan. Starting point dari agenda setting adalah refleksi seksama pada aras akar-rumput, untuk secara seksama menggalang makna: apa dan untuk apa kita berdemokrasi. Muara dari proses bottom-up itu adalah menemukenali sederetan kelemahan dan kerepotan manakala demokratisasi direduksi sekadar proyek asis-tensi negara lain.46

Pengembangan wacana-tanding sepertinya tidak terlalu berlebihan, mengingat temuan-temuan yang sudah tersedia. Bukan hanya bagi publik Indonesia, publik di negara-negara te-tangga juga tidak memisahkan demokrasi dari kesejahteraan atau penyejahteraan.47 Temuan dari studi kualitatif Asian Barometer Survey tahun 2005-2008 konsisten dengan hal itu. Dila-porkan, jika orang Indonesia diminta memilih antara demokrasi dan ekonomi, maka 78,9 persen lebih memilih ekonomi. Sisanya, 10,2 persen lebih memilih demokrasi.48 Itu adalah

angka tertinggi jika dibandingkan dengan angka untuk negara-negara lain di Asia Tenggara.

Pietsch sangat memahami bahwa demo-krasi diberi makna secara berbeda-beda, namun negara-negara di Asia Tenggara cenderung dengan cara yang sama: memaknai secara instrumental. Kutipan langsung studinya,

… at the institutional level, there are a number of important indicators that are used to quanti-tatively measure whether or not a country is con-sidered a democracy. On the surface, it appears that economic growth is what matters most, especially in countries that are considered more democratic. However, when we include a range of other important measures of governance, we find that evaluations of democracy depend on the government’s capacity to provide a fair and equal distribution of basic necessities across the whole of society, a place where citizens can protest with-out fear, fair and equal treatment of all religious and ethnic groups and a general level of respon-siveness and accountability. While there is a great deal of variation within Southeast Asia as to whether or not people feel as if they live in a democracy and whether or not they have a well-functioning democracy, such variations depend on whether governments are able to provide good governance for all groups in society and overall expectations and experience of democracy in practice.48

4 5Christopher Hobson, “The Limits of Liberal-Democracy Promotion”, dalam Alternatives:

Global, Local, Political, Vol. 34, No. 4, Oktober-Desember 2009, hal. 383-405, juga tautan dalam http://www.jstor.org/stable/40645283 (diakses 15 Oktober 2016).

4 6Poin yang disajikan di atas yang sejalan dengan temuan ini juga disampaikan oleh Juliet Pietsch dari telaah dengan cakupan lebih luas, yakni negara-negara Asia Tenggara; lihat, Juliet Pitsch,

“Authoritarian Durability: Public Opinion towards Democracy in Southeast Asia”, dalam Journal of Elections, Public Opinion and Parties, Vol. 25, No. 1, 2015, hal. 31-46, juga tautan dalam h t t p : / / d x . d o i . o r g / 1 0 . 1 0 8 0 / 1 7 4 5 7 2 8 9 . 2014.933836.

4 7Pitsch, “Authoritarian Durability…”, hal. 38.

4 8“... Di tingkat kelembagaan, ada sejumlah indikator penting yang digunakan untuk mengu-kur secara kuantitatif apakah suatu negara dianggap mempertimbangkan demokrasi atau-kah tidak. Di permukaan, tampak bahwa pertum-buhan ekonomi yang terpenting, terutama di negara-negara yang dianggap lebih demokratis.

Namun, ketika kami mencakup berbagai lang-kah-langkah penting lainnya dari pemerintahan, kita menemukan bahwa evaluasi demokrasi ter-gantung pada kemampuan pemerintah untuk memberikan distribusi yang adil dan setara ke-butuhan dasar di seluruh masyarakat, tempat warga bisa melakukan protes tanpa rasa takut, perlakuan yang adil dan setara semua kelompok agama dan etnis dan tingkat umum responsivitas dan akuntabilitas. Meskipun ada banyak variasi di Asia Tenggara, apakah orang merasa seolah-olah mereka hidup dalam demokrasi dan apakah mereka memiliki demokrasi yang berfungsi

Temuan-temuan semacam yang ditunjuk-kan di atas, kiranya menjadi bahan untuk mem-beri kerangka ulang atas pewacanaan demo-kratisasi di negeri ini.

Agenda penuntasan demokrasi di Indonesia mengharuskan kita mengartikulasikan best-practices yang dimiliki di kancah internasional tanpa harus terpaku pada sejumlah label yang justru memojokkan diri sendiri. Kita perlu belajar dari negara-negara Asia Timur yang se-cara “diam-diam” mempraktikkan strategi yang berbeda, namun dengan misi yang sama: me-nunggangi pasar. Ketika praktik diam-diam menyimpang dari mainstream itu akhirnya menjadi praktik yang berlaku di mana-mana, barulah kemudian praktik itu diakui sebagai kebenaran. “Penyimpangan” yang pada akhir-nya diterima legitimasi keilmuanakhir-nya itu kemu-dian diberi label: developmental state.

Refleksi pada aras akar-rumput bisa dan perlu diawali dengan refleksi dari komunitas epistemik demokrasi itu sendiri. Target dari refleksi adalah membersihkan diri dari kecen-derungan untuk melihat tantangan demokrati-sasi secara patologis. Patologis itu kurang lebih bisa dibahasakan secara sederhana, “bahwa kesulitan kita berdemokrasi adalah ketidak-seriusan masyarakat mengikuti sosialisasi yang diberikan.” Yang lebih masuk akal, masyarakat akan selalu mengikuti arahan warga komunitas epistemik kalau mereka tidak sepakat dengan asumsi-asumsi dasar yang dijadikan acuan.

Bahwa praktik yang sementara itu disebut money politics atau vote buying adalah hal yang masuk akal. Tanpa ditanya ini itu, masyarakat tiba-tiba diberi hak pilih oleh undang-undang.

Dalam konteks ini, komunitas epistemik ikut mengantar lahirnya peraturan perundang-un-dangan. Tanpa ditanya apa makna perwakilan

rakyat dan bentuk perwakilan yang diperlukan, komunitas epistemik secara sepihak memba-yangkan perwakilan politik yang terbentuk oleh pemilu (penggunaan hak pilih). Akibatnya, kita sukses menyelenggarakan pemilu, namun tidak berhasil melembagakan perwakilan rakyat dalam sosok resminya.

Yang tidak terartikulasi karena blokade telaah patologis adalah munculnya gejala sema-cam bureaucratic representation. Dalam bahasa Cornelis Lay, ada broken linkage.49 Namun demikian, yang tidak terartikulasi adalah hidden linkage, baik melalui kekerabatan, patronase, ikatan alumni, ikatan guru-murid, ikatan kedae-rahan, patrimonialisme, parokialisme, dan seba-gainya. Pengobatan diri sendiri (self-healing) harus berlangsung untuk mengakhiri tradisi telaah patologis tentang demokrasi. Arena untuk self-healing itu adalah telaah perpolitikan sehari-hari (the daily life politics), tempat ko-munitas epistemik mengasah empati untuk bisa menangkap makna.

Untuk keperluan akademik, perlu seri ka-jian tentang hidden linkage dan politik repre-sentasi untuk mencari terobosan langkah dalam demokratisasi. Untuk keperluan praktis, perlu dukungan agar para inovator pemerintahan sa-ling belajar satu sama lain. Sebagaimana telah disebutkan, keberhasilan Joko Widodo meraih dan meniti karier politik di negeri ini adalah karena adanya kecermatan dan kesediaan untuk belajar (baca: membaca gejala sosial secara out of the box).50 Hanya saja, beliau menjabarkan hasil belajarnya dalam bentuk tindakan, bukan

ataukah tidak, variasi tersebut tergantung pada apakah pemerintah mampu menyediakan pemerintahan yang baik untuk semua kelompok dalam masyarakat dan harapan secara keselu-ruhan dan pengalaman demokrasi dalam prak-tek”; Pitsch, “Authoritarian Durability…”, hal.

42-43.

4 9Cornelis Lay, “Tautan Politik (Political Linkage) Organisasi Masyarakat Sipil dan Parlemen di Indonesia (Studi Kasus Tautan Politik Dalam Pembuatan UU Pornografi, UU Pemerintahan Aceh, dan UU Pertahanan Negara),” Disertasi, Program Doktor Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2015.

5 0Hasil diskusi dengan Wawan Mas’udi, anggota Tim PWD yang secara khusus melakukan penelitian tentang Joko Widodo untuk penulisan disertasinya, dan disertasi itu telah di-submit ke University of Melbourne.

dalam naskah yang terkodifikasi secara ilmiah.

Hal serupa dilakukan oleh tokoh-tokoh lokal lainnya, yang selama ini ditengarai melakukan berbagai bentuk inovasi dalam penyelengga-raan pemerintahan daerah. Kodifikasi, aku-mulasi, dan praktik berbagai pengalaman itu, niscaya akan mendekatkan ilmu dan amal dalam berdemokrasi, sehingga kalaulah tidak/belum mendapatkan legitimasi internasional setidak-nya bersifat fungsional.

Sterilisasi demokratisasi dari kajian yang berwatak patologis mungkin terlalu ambisius.

Namun, tetap harus dipastikan bahwa pemba-caaan ulang ini tidak dalam rangka menjusti-fikasi ataupun menutup-nutupi kesalahan, ka-rena pengusung arus-utama pemikiran demo-krasi selalu memojokkan analisis yang tidak sejalan dengan harapan yang tidaklah lebih berharga daripada propaganda penguasa yang menutup-nutupi kesalahan dengan pernyataan akademis. Namun, kesediaan untuk membaca ulang fenomena yang menggejala sepanjang proses demokratisasi sebenarnya adalah kese-diaan untuk mundur sedikit untuk selanjutnya membuat lompatan besar. Sehubungan dengan ancaman path dependency, proses demokrati-sasi harus ditandai dengan peletakan legacy untuk demokrasi yang lebih baik.

Kompromi sosial terpenting yang menjadi tantangan proyek PWD ke depan adalah men-dalami dimensi kesejahteraan dalam proses demokratisasi dengan mengekang keinginan untuk memberlakukan kriteria-kriteria formal dalam membicarakan demokrasi. Strategi yang telah dipersiapkan untuk itu adalah memahami

bekerjanya rezim kesejahteraan (welfare re-gime) yang beroperasi di balik bekerjanya demokrasi. Keterlibatan warga dalam proses demokrasi diwadahi oleh rezim kesejahteraan yang sosoknya kebanyakan informal. Yang memungkinkan patronase, klientelisme, dan sejenisnya bisa bergulir secara sah berkat adanya distribusi, alokasi, dan redistribusi yang operasinya juga absah.51 Sadar akan keterkait-an keterkait-antara rezim kesejahteraketerkait-an dengketerkait-an proses demokrasi yang berlangsung, maka terjebak-nya Indonesia dalam proses demokratisasi mestinya sudah terantisipasi. Lebih dari itu, demokratisasi perlu dikawal dengan transfor-masi rezim kesejahteraan yang beroperasi.

Tantangan selanjutnya adalah memahami dan mengelola silang-menyilang rezim kese-jahteraan. Singkat kata, di sinilah demokrasi sebagai kompromi-kompromi sosial justru me-nemukan arti pentingnya. Ada keperluan untuk bersiap menekuni secara lengkap pernik-pernik persoalan kesejahteraan dari silang-menyilang rezim kesejahteraan tempat warga menam-batkan identitas dan mengelola kepentingan publik. Lebih dari itu, cakupan rezim kesejah-teraan tidak selalu mengacu pada cakupan biro-krasi pemerintah. Rezim kesejahteraan teri-dentifikasi dari berbagai ikatan sosial yang pada saat bersamaan juga memberikan pelayanan•

5 1Douglas Webber (2006), “A Consolidated Patri-monial Democracy?: Democratization in Post-Suharto Indonesia”, dalam Democratization, Vol.

13, No. 3, 2006, hal. 396-420, juga tautan dalam http://dx.doi.org/10.1080/13510340600579284.

F

enomena politik dekade ini sungguh ditandai oleh aktivitas intensif gerakan-gerakan masyarakat sipil. Protes terha-dap kekuasaan otoriter, kartel bisnis, perusak lingkungan, telah menjadi gerakan global yang terhubung melalui media sosial di seluruh dunia.

Peristiwa bakar diri seorang pedagang kakilima di Tunisia sebagai protes terhadap keangkuhan aparat negara, menyulut kemarahan publik di seluruh dunia dan mengawali Arab Spring.

Gerakan Occupy Wall Street, sebagai simbol anti-korporasi, menjadi viral politik generasi muda se-dunia. Demikian pula dengan One

Billion Rising, suatu gerakan demi menghen-tikan kekerasan terhadap perempuan, diorgani-sasi setiap tahun menjadi hari perlawanan global terhadap seluruh sistem patriarki.

Pada waktu yang lalu, kita mengenal protes rutin Amnesty Internasional terhadap pelang-garan hak asasi manusia di negara-negara

“Dunia Ketiga.” Juga, sangat diingat keberanian kelompok Greenpeace dalam melindungi bumi.

Pada skala protes massal, ada World Social Forum sebagai tandingan terhadap konferensi tahunan Economic Forum yang dianggap forum konsolidasi kartel bisnis dan elite politik tingkat tinggi negara-negara maju. Pendeknya, ada suatu kesadaran etik baru pada generasi masa kini tentang ketidakadilan global akibat mono-poli ekonomi dan sentralisasi mono-politik. Etika lingkungan, etika politik, dan etika kepedulian, membentuk paradigma bersama dalam cita-cita baru gerakan sosial global.

Bersamaan dengan itu, aktivitas aktor non-negara dalam politik internasional terasa sangat menonjol. Kita kini menyaksikan determinasi kelompok ISIS, Wikileaks, atau Panama Papers dalam membentuk isu dan kerangka diplomasi internasional. Artinya, telah terjadi perubahan kerangka pertukaran politik dalam analisis politik internasional. Kedudukan negara-bangsa masih kuat sebagai pelaku konvensional hu-bungan internasional, namun isu politik dunia