Kita dapat menguraikan problem sejarah yang terjadi di Indonesia, ketika kalangan intelektual seperti akademisi, aktivis sosial, jurnalis, dan konsultan publik mendorong perubahan sosial serta membangun lintasan politik di luar tatanan oligarki predatoris dengan perspektif perbandingan politik mancanegara;
seperti halnya yang baru saja terjadi pada mo-men Arab Spring ataupun tumbuhnya gerakan fasisme di Italia dan Jerman akhir tahun 1920-an hingga tahun 1930-1920-an.22 Krisis politik dan kesempatan sebuah perubahan politik dalam lintasan liberal maupun sosial-demokrasi ter-hambat oleh lemahnya atau tidak terorgani-sasinya kekuatan sosial yang menjadi peno-pangnya. Kondisi itu terjadi karena tatanan politik sebelumnya berhasil menghancurkan kekuatan tersebut di ranah masyarakat sipil hampir tidak menyisakan ruang bagi mereka untuk mengonsolidasikan kekuatan politik.
Sekelumit pembacaan terhadap peristiwa yang berlangsung di belahan dunia lain, seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Amerika Latin
dalam perspektif sejarah, dapat menjelaskan mengapa di negara-negara tersebut dapat mem-bawa peran intelektual dalam hubungan dengan kekuasaan dalam lintasan politik yang berbeda.
Keberhasilan negara-negara kapitalis, se-perti Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa Barat, dalam merealisasikan desain tatanan neo-liberal di masyarakat masing-masing adalah imbas dari keberhasilan dominasi kalangan kelas borjuis dalam arena pertarungan ekonomi-politik. Pada masa sebelumnya, akibat krisis sosial yang ditimbulkan oleh Perang Dunia II, kekuatan sosial yang memiliki kepentingan untuk mela-kukan ekspansi modal dipaksa oleh keadaan yang ada membangun konsensus politik demi membangun keseimbangan sosial antara ke-lompok pemodal dan kelas pekerja. Tatanan ekonomi-politik yang kemudian dikenal sebagai era embedded liberalism itu ditandai oleh ter-bukanya institusi negara dalam mendorong kebijakan redistribusi sosial secara ekspansif dan inklusi kelas pekerja dalam proses pe-ngambilan kebijakan di negara-negara ter-sebut.23
Namun demikian, berlangsung krisis ne-gara kesejahteraan yang ditandai oleh inflasi, tingkat pengangguran tinggi, dan anggaran negara yang terbebani oleh belanja publik yang tinggi. Krisis sosial di negara-negara yang mengadopsi model negara kesejahteraan yang distimulasi oleh krisis minyak era tahun 1970-an itu memberi momentum bagi kekuat1970-an tandingan rezim negara kesejahteraan, yang direpresentasikan kelas sosial borjuasi, untuk memajukan aspirasi dan kepentingan mereka, seperti pemotongan pajak bagi kelompok ter-kaya, pengetatan anggaran publik, serta swasta-nisasi perusahaan-perusahaan publik.24 Di Ame-rika SeAme-rikat sebelum kemenangan kaum liberal pada era Presiden Ronald Reagan atau di Inggris
2 2Lihat, Robison dan Hadiz, “The Political Economy of Oligarchy…”; Sheri Berman, “The Promise of the Arab Spring: No Gain without Pain”, dalam Foreign Affair, Vol. 92, No.1, Januari-Februari 2013, hal. 64-74; Nigel Harris, “New Bourgeouis”, dalam The Jurnal of Development Studies, Vol. 24, No. 2, 1988, hal. 47.
2 3Lihat, David Harvey, A Brief History of Neo-liberalism (New York. Oxford University Press, 2005); Naomi Klein, The Shock Doctrine: The Rise of Disaster (UK: Allen Lane, 2007).
2 4Lihat, Harvey, A Brief History….
sebelum Margaret Thatcher berhasil merebut kursi Perdana Menteri, pola aliansi antara kekuatan sosial kaum borjuis dengan kelompok intelektual di ranah masyarakat sipil terbangun melalui pembentukan sejumlah lembaga riset, baik di Amerika Serikat (Heritage Foundation, Hoover Institute, The American Entreprise Institute, dan lain-lain) maupun di Inggris (Institute of Economic Affair (IEA), Centre for Policy Studies (CPS), dan lain-lain). Pola aliansi antara kekuatan sosial borjuis dan intelektual seperti itu juga berkembang di banyak media massa utama Amerika Serikat dan Inggris.25
Terbentuknya aliansi kekuatan kapital dan kaum intelektual di Amerika Serikat seperti itu agaknya memberi ruang cukup luas bagi ka-langan intelektual pada ranah masyarakat sipil untuk memajukan gagasan ideologis tentang pasar bebas di wilayah publik. Keutamaan individualisme, pasar bebas, dan dampak negatif negara yang “gemuk” dan lamban menjadi kajian utama serta ideologi hegemonik yang diciptakan dan direproduksi pada pusat-pusat lembaga riset serta opini dan ulasan pakar di media massa utama di Amerika Serikat. Seiring dengan kegagalan kelas-kelas penopang rezim negara kesejahteraan dalam mengantisipasi krisis dan keberhasilan kekuatan kelas borjuis membangun aliansi politik dengan kelompok intelektual untuk memajukan agenda mereka, berlangsung proses pemisahan antara kekuat-an ekonomi dkekuat-an politik. Dalam kondisi sosial seperti itu, kekuatan borjuasi berhasil mem-bangun rezim neo-liberal yang diperkuat melalui ekspansi ideologi pasar bebas dan individualis-me serta rezim pengetahuan teknokratik anti-politik dalam tatanan anti-politik, baik di Amerika Serikat dan Inggris maupun Eropa.26 Implikasi dari kemenangan kekuatan neo-liberal itu cukup besar. Bahkan, partai-partai politik utama di
Amerika Serikat (Partai Demokrat) dan di Ing-gris (Partai Buruh) dipaksa mengadopsi ga-gasan-gagasan yang sesuai dengan dogma ortodoksi ekonomi neo-liberal (Thirdway) seba-gai mekanisme politik mereka untuk tetap eksis di ruang politik.27
Sementara lintasan sejarah yang berbeda, baik dengan Amerika Serikat dan Inggris mau-pun di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, berlangsung di negara-negara Ame-rika Latin. Relasi intelektual dan kekuasaan berlangsung dalam sejarah panjang pertarungan kelas dalam perebutan kekuasaan dan distribusi sumber daya. Kekuatan sosial kelompok borjuis mampu membangun aliansi, baik dengan elite liberal maupun militerisme fasistik, yang kepen-tingan mereka diartikulasikan melalui partai politik dan intelektual organik di perguruan tinggi serta media massa berhadapan dengan kekuatan sosial kelas pekerja yang terwakili dalam partai politik serta kalangan intelektual sayap kiri di pelbagai perguruan tinggi, media massa, dan juga aktivis sosial.
Eksperimentasi menuju neo-liberalisme di negara-negara Amerika Latin berhasil secara gemilang mendahului kemenangan kekuatan-kekuatan sosial itu di Amerika Serikat dan Ing-gris setelah Jenderal Augusto Pinochet di Cile melakukan kudeta terhadap Presiden Salvador Allende pada 1973. Meski mengambil jalur po-litik otoritarianisme-militeristik, namun aliansi kekuatan militer di Cile (dan negara-negara lainnya) dengan kekuatan borjuasi berskala besar berhasil mentransformasi Cile dan be-berapa negara di Amerika Latin menjadi negara dengan tatanan neo-liberal yang ditandai oleh penetrasi sistem pasar bebas yang relatif tidak terbendung oleh kekuatan politik predatoris.
Rezim otoritarianisme bersanding dengan tatanan pasar bebas di negara-negara Amerika Latin sejak tahun 1970-an hingga tahun 1980-an, namun kekuatan sosial akar rumput, kelas pekerja, petani, dan kaum miskin kota yang
2 5Lihat, Harvey, A Brief History…; Padma Desai,
“Aftershock in Russia Economy”, dalam Current History, Vol. 93, No. 585, 1994, hal. 320-323.
2 6Lihat, Harvey, A Brief History…; Klein, The Shock Doctrine….
2 7Lihat, Alex Callinicos, Against the Third Way (Cambridge: Polity Press, 2001).
berpijak pada ideologi politik nasionalisme kerakyatan dan sosialistik tidaklah hancur.
Kekuatan politik berbasis kelas pekerja yang secara struktural tertanam di negara-negara Amerika Latin mampu mengonsolidasikan diri untuk membangun kekuatan intelektual or-ganiknya, baik di basis-basis sosial mereka maupun di ruang universitas dan media massa.28 Keberhasilan mempertahankan basis sosial kekuatan nasionalisme kiri, sosialisme, dan sosialis-demokrasi itu menjadi aset utama bagi kebangkitan gerakan neo-sosialisme dan sosial-demokrasi radikal di Amerika Latin, yang dito-pang oleh kelas pekerja dan masyarakat adat, melalui jalan demokrasi akhir tahun 1990-an yang ditandai oleh kepemimpinan Hugo Chavez, Evo Morales, dan Raphael Correa.29
Perbandingan pengalaman politik antara intelektual dan kekuasaan, baik di Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, maupun negara-ne-gara Amerika Latin, memperlihatkan bahwa posisi sosial dan peran mereka tidak hanya ditentukan oleh kerja ilmiah. Keterlibatan intelektual dan ketersediaan ruang struktural yang memungkinkan mereka melakukan eks-pansi gagasan ikut menentukan keberhasilan ideologi yang mereka usung, baik dalam ruang politik maupun masyarakat sipil. Lintasan politik intelektual di Indonesia memperlihatkan bahwa kalangan intelektual neo-liberal dan liberal tidak berhasil mengedepankan gagasan neo-orto-doksi ekonomi mengingat tidak tersedianya aliansi politik di arena politik, yakni kekuatan
borjuasi yang otonom dari jejaring kekuatan sosial oligarki predatoris. Walaupun mereka mengusung ideologi itu di ruang publik sebagai promotor good governance dan gagasan eko-nomi dan politik liberal, namun sering kali tersandera oleh aliansi politik yang mereka bangun sendiri, yang memiliki kepentingan berbeda dengan idealitas normatif ekonomi-pasar bebas dan governance neo-liberal.
Di sisi lain, kelompok-kelompok aktivis yang lebih berorientasi sosial-demokrasi serta kalangan intelektual kritis berbasis kampus tidak memiliki kemewahan politik seperti re-kan-rekan mereka di negara-negara Amerika Latin. Penghancuran kekuatan politik kiri di Indonesia sejak awal era Orde Baru hampir ti-dak menyisakan ruang-ruang sosial yang mem-beri kesempatan kepada mereka untuk me-ngonsolidasikan diri membangun kekuatan politik yang koheren dan solid pada aras negara dan masyarakat sipil.
Kesimpulan
Pembacaan panjang lebar tentang realitas posisi intelektual dalam panggung politik Indo-nesia pasca-otoritarianisme dengan pengham-piran critical political-economy serta dalam konteks perbandingan dengan negara-negara lain memberikan kita beberapa pemahaman kritis tentang masyarakat sipil dan demokrasi yang berbeda, baik dengan menggunakan pen-dekatan neo-institusionalis maupun penpen-dekatan sosial-demokrasi yang mengusung politik trans-formatif.
Pertama, kita tidak dapat membaca dalam realitas politik di Indonesia pasca-otoritarianis-me bahwa masyarakat sipil sebagai entitas sosial yang tunggal dan solid serta koheren sebagai kekuatan sosial dengan sendirinya ber-potensi menjadi kekuatan yang mampu me-ngontrol negara dan menjadi antitesis kekuatan oligarki predatoris yang menguasai negara. Hal tersebut terjadi karena realitas politik pasca-Orde Baru memperlihatkan bahwa arena ma-syarakat sipil justru menjadi ruang bagi
eks-2 8Lihat, Francisco Panizza, Contemporary Latin America: Development and Democracy beyond Washington Consensus (London dan New York:
Zed Books, 2009); Eduardo Silva, Challenging Neoliberalism in Latin America (New York:
Cambridge University Press, 2009).
2 9Lihat, Michiel Baud dan Rosanne Rutten (eds.), Popular Intellectuals and Social Movement:
Framing Protest in Asia, Africa and Latin America (Cambridge: Cambridge University Press, 2005);
Jean Grugel dan Pia Riggirozzi (eds.), Governance after Neoliberalism in Latin America (New York:
Palgrave International, 2009).
pansi kepentingan kekuatan oligarki predatoris dalam membangun persetujuan kolektif melalui pemanfaatan “ideologi” governance, demokrasi liberal, dan pasar bebas untuk merawat dan mempertahankan kekuasaan oligarki predatoris di Indonesia.
Kedua, keberhasilan pemanfaatan gagasan governance neo-liberal serta demokrasi liberal sebagai instrumen ideologis yang dibawa oleh kalangan intelektual di Indonesia bagi kelang-gengan kekuatan oligarki terjadi karena karakter anti-politik teknokratis dari gagasan governance cenderung mengabaikan ketimpangan dan relasi kekuasaan yang eksis di Indonesia sebagai bagian internal dari pengetahuan mereka. Dalam konteks perbincangan dan arena masyarakat sipil, seperti perguruan tinggi, media massa, ruang-ruang publik, momen-momen politik pil-kada, dan pembangunan pasca-pemilu cenderung menjadi ruang atau benteng penyangga berta-hannya kekuatan oligarki-predatoris daripada menjadi ruang persemaian bagi pembangunan kekuatan politik gerakan sosial, baik liberal maupun sosial-demokrasi, dalam meredam eks-pansi dan pengaruh kekuatan oligarki.
Ketiga, dari pembacaan di atas, arena masyarakat sipil menjadi ruang dan tempat pembentukan aliansi-aliansi sosial baru serta penguatan aliansi-aliansi lama dari kekuatan oligarki-predatoris untuk beradaptasi dengan pola kelembagaan baru berorientasi pada desain demokrasi liberal dan pasar bebas. Keber-hasilan kekuatan sosial oligarki yang sebe-lumnya dilindungi oleh payung politik Soeharto untuk berkuasa pada era pasca-Orde Baru tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan kekuatan-kekuatan sosial yang berbasis di masyarakat sipil untuk menjadi mitra yunior mereka dalam
mengaburkan praktik-praktik akumulasi primitif kekuatan oligarki serta menampilkan di ma-syarakat dukungan formal atas agenda good governance dan demokrasi di wilayah publik.
Keempat, problem gagalnya konsolidasi politik masyarakat sipil dalam membangun kekuatan politik yang solid dan mengusung agenda perubahan lebih dikarenakan persoalan relasi kekuasaan dan pertarungan sosial dalam konteks sejarah ketimbang problem lemahnya inisiatif politik dan kapasitas aktor masyarakat sipil, sebagaimana dikemukakan para pendu-kung gagasan neo-institusionalisme dan kelom-pok sosial-demokrasi yang mengusung model politik transformatif. Keberhasilan rezim oto-ritarian Soeharto dalam menghancurkan basis politik kiri dan liberal dalam ranah masyarakat sipil di Indonesia menjadi penyebab utama kegagalan kelompok tersebut memenangkan orientasi politik mereka dalam realitas Indonesia pasca-otoritarianisme.
Realita pahit menyangkut arena masyarakat sipil di Indonesia memperlihatkan bahwa pro-ses pembentukan aliansi ekonomi-politik di antara kekuatan bisnis-politik dengan kelompok intelektual di ranah masyarakat sipil menjadi penghambat proses konsolidasi politik progre-sif di Indonesia. Dengan demikian, kekuatan gerakan sosial masyarakat sipil dalam mem-bangun lintasan politik diluar tatanan oligarki predatoris terganjal tidak hanya oleh manuver politik kekuatan sosial oligarki predatoris yang menguasai negara, melainkan juga oleh eks-pansi intelektual yang menjadi instrumen or-ganik kelas-kelas sosial dominan tersebut yang pada gilirannya menghambat perluasan agenda politik demokrasi dan ide-ide progresif dalam ranah masyarakat sipil di Indonesia•
K
ita hidup di zaman demokrasi. Ide atau nilai “demokrasi” bukan hanya diteri-ma, melainkan juga diperlakukan se-sedemikian penting sebagai acuan dalam me-nilai tata kelola pemerintahan (governance) atau-pun pengelolaan kepentingan umum.1 Hal itu berlaku baik pada tataran global dan nasional mau-pun lokal, bahkan dalam relasi inter-personal.Dalam syukurnya kita sebagai warga nega-ra yang berhasil mendemoknega-rasikan diri dengan susah payah, kini kita dirundung kekhawatiran.
Capaian hebat kita—berdemokrasi dalam ta-tanan sosio-kultural yang sangat beragam dan