• Tidak ada hasil yang ditemukan

mencapai tujuan-tujuan itu.1 Tulisan ini menga-nalisis bagaimana hubungan antara strategi para aktivis gerakan demokrasi dengan proses insti-tusionalisasi demokrasi serta bagaimana kapa-sitas politik para aktor dalam menjalankan stra-tegi yang mereka pilih. Dengan cara seperti itu, tulisan ini akan menarik kesimpulan tentang bagaimana pilihan-pilihan strategi yang telah dijalankan para aktor gerakan demokrasi me-mengaruhi jalannya demokratisasi. Beberapa kajian telah memberikan indikasi tentang per-soalan-persoalan utama yang muncul dalam proses demokratisasi dan akan dijadikan bahan untuk mengevaluasi pengaruh implementasi strategi demokrasi para aktor. Basis data utama yang digunakan tulisan ini adalah informasi dan Untuk menelaah berbagai dimensi demokrasi dan dinami-ka demokratisasi, sangatlah penting melihat bagaimana strategi para aktivis gerakan sosial memengaruhi proses demokratisasi. Bahwa para aktor gerakan demokrasi sulit menggerakkan aksi-aksi kolektif dari bawah, selain karena adanya berbagai perbedaan dan strategi mengartikulasi-kan kepentingan, juga terutama karena mereka tidak cukup memperhatikan capaian (outcome) serta tidak adanya visi/ideologi dan orientasi terhadap kebijakan.

Pilihan strategi mereka cenderung bersifat instrumental berdasarkan kebutuhan jangka pendek.

Kata Kunci: aktor demokrasi, demokratisasi, gerakan sosial, strategi demokrasi

1 Lihat, artikel-artikel Eric Hiariej dan Olle Törnquist dalam edisi ini.

temuan survei Power Welfare Democracy (PWD), Universitas Gadjah Mada (UGM)-Universitas Oslo (UiO) 2013.

Indikasi dari Studi-Studi Sebelumnya

Instrumen survei PWD UGM-UiO berhasil menghimpun data yang mencakup informasi sangat luas tentang kapasitas politik dan pilihan-pilihan strategi yang dijalankan para aktivis.

Setidaknya ada tiga pertanyaan besar yang ditanyakan kepada para informan. Pertama, apa saja strategi yang telah dijalankan oleh para aktor selama ini. Kedua, persoalan apa saja yang mendasari para aktor untuk menentukan pilihan strateginya. Ketiga, bagaimana strategi yang mereka jalankan memengaruhi persoalan-per-soalan itu. Data survei tersebut tidak dianalisis secara eksklusif. Data tersebut perlu dilihat keterkaitannya dengan data dan temuan yang diperoleh dari studi-studi lain yang juga me-miliki fokus tentang strategi aktor dalam demo-kratisasi. Temuan studi-studi lain itu dibutuhkan untuk menjadi bahan perbandingan dengan temuan PWD UGM-UiO.

Sebuah studi yang dilakukan lembaga De-mos pada 2009, misalnya, memaparkan data menarik mengenai terobosan-terobosan aksi politik yang dilakukan berbagai gerakan sosial di Indonesia. Ada dua temuan penting yang diperoleh studi itu. Temuan pertama mengung-kap pola-pola perluasan gerakan politik yang dilakukan organisasi masyarakat sipil. Dengan menggunakan dimensi isu, dimensi kepen-tingan, dan dimensi geografis sebagai indikator perluasan gerakan, AE Priyono dan kawan-kawan mengidentifikasi tiga pola perluasan gerakan, yaitu (1) rekoneksi intra-lokal, (2) rekoneksi lokal-supralokal, dan (3) rekoneksi nasional-lokal. Pola pertama dan kedua bersifat memperluas gerakan melalui perluasan isu dan kepentingan, misalnya, dengan membangun koalisi atau aliansi lintas-sektoral, namun ter-batas pada lingkup geografis tertentu. Pola ketiga, sebaliknya, mencoba meleburkan

batas-batas geografis dengan pembatas-batasan pada isu-isu atau kepentingan spesifik atau berbasis sektoral, misalnya, pembentukan Partai Perseri-katan Rakyat (PPR) yang bersifat nasional berbasis organisasi tani.2 Temuan kedua adalah identifikasi atas pilihan-pilihan strategi yang digunakan organisasi masyarakat sipil untuk menerobos masuk ke dalam sistem politik. Ada lima pilihan strategi go politics yang telah dan sedang ditempuh berbagai gerakan sosial di Indonesia, yaitu (1) tetap dalam peran sebagai kelompok penekan, (2) masuk parlemen, (3) memanfaatkan partai politik yang ada, (4) men-dirikan partai alternatif, dan (5) menerobos jaring-jaring kekuasaan pemerintahan.3

Studi lain yang dilakukan Olle Törnquist juga berhasil mengidentifikasi jalur-jalur politi-sasi yang sudah dan sedang ditempuh berbagai gerakan masyarakat sipil di Indonesia. Jalur-jalur politisasi itu adalah (1) politik berbasis kepentingan masyarakat sipil dan kerakyatan (civil society and popular interest politics), (2) politik komunitas kaum tertindas (dissident community politics), (3) partisipasi politik langsung, (4) politik wacana publik, dan (5) kontrak politik. Lima jalur lainnya adalah politi-sasi melalui sistem kepartaian dengan melaku-kan, (6) front dari dalam, (7) membangun partai serikat buruh, (8) partai multisektoral, (9) partai nasional berbasis ideologi, dan (10) partai politik lokal.4

Kedua studi tersebut mengungkapkan bah-wa upaya para aktivis untuk go politics telah membuka harapan baru bagi perbaikan demo-krasi. Akan tetapi, di sisi lain, kedua studi itu

2 Lihat, AE Priyono dan Attia Nur, “Rekoneksi Gerakan Sosial dan Masyarakat Sipil Indonesia Pasca-Orde Baru”, Monograf laporan riset Demos tentang Link Project, tidak dipublikasikan, 2009.

3 Priyono dan Nur, “Rekoneksi Gerakan Sosial dan Masyarakat Sipil…”, hal. 83-95.

4 Lihat, Olle Törnquist, “The Problem is Repre-sentation! Towards an Analytical Framework”, dalam Olle Törnquist, Neil Websterm, dan Kristian Stokke (eds.), Rethinking Popular Repre-sentation (New York: Palgrave, 2009).

memperlihatkan bahwa upaya-upaya untuk go politics tampaknya tidak terlalu berhasil men-ciptakan situasi representasi yang baik. Bahkan, dari beberapa kasus go politics yang dipelajari kedua studi tersebut ditemukan sejumlah indi-kasi terjadinya persaingan dan konflik hori-sontal di antara sesama gerakan sosial. Artinya, pilihan strategi para aktor tidak selalu berpe-ngaruh positif terhadap situasi demokrasi, juga terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi para aktor itu sendiri. Selain itu, upaya-upaya yang lebih integratif, seperti membangun par-tai, juga terkendala oleh peraturan yang meng-haruskan partai politik bersifat nasional. Upaya tersebut tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit dan sangat sulit dicukupi oleh gerakan sosial.

Yang terbaru, dengan memanfaatkan data hasil survei PWD UGM-UiO, Willy Purna Samadhi mengidentifikasi setidaknya terdapat tiga klaster kapasitas politik aktor pro-demo-krasi, yang sekaligus menunjukkan kecende-rungan strategi yang diambil para aktor di setiap klaster.5 Gugus pertama adalah mereka yang memilih bekerja sama dengan partai politik atau setidaknya para politisi partai. Secara kapasitas politik, kelompok tersebut mencerminkan karakter “populis-karismatik.” Kelompok itu merupakan kelompok mayoritas dan karenanya mencerminkan karakter umum aktor gerakan demokrasi saat ini. Mereka cenderung bersikap sangat inklusif, terbuka pada keterlibatan ber-bagai pihak, termasuk tokoh-tokoh politik berbasis partai, dan karena itu memiliki basis sosial atau koneksi yang kuat. Kekuatan mereka terutama terletak pada kemampuan memenga-ruhi wacana publik melalui atau ke dalam kelompok-kelompok kepentingan dan partai politik dengan menggunakan isu-isu populis dan

mengombinasikannya dengan ketokohan karismatik tertentu. Kelemahan aktor-aktor dengan karakter seperti itu adalah longgarnya relasi mereka dengan basis-basis massa terorganisasi. Ketiadaan basis ekonomi yang cukup juga membuat mereka rentan terhadap keseimbangan relasi-kuasa yang mereka ba-ngun dengan para tokoh dan partai politik tertentu.

Klaster kedua juga mencerminkan karakter populis yang kuat, namun cenderung mem-bangun strategi yang menghubungkan mereka dengan massa terorganisasi secara langsung, sehingga mereka memiliki kemampuan dalam menggerakkan aksi-aksi massa. Basis hubung-an yhubung-ang mereka bhubung-angun adalah menawarkhubung-an perlindungan tertentu bagi kelompok-kelompok yang bersedia memberikan dukungan. Karena itu, aktor-aktor tersebut memiliki kapasitas besar dalam menggerakkan demonstrasi dan aksi massa. Para pemimpin atau aktor yang selama ini bekerja bersama gerakan buruh adalah salah satu kelompok yang mencermin-kan karakter seperti itu. Sementarra klaster ketiga, yang merupakan kelompok terkecil, boleh dikatakan tidak memiliki kecenderungan populis. Strategi gerakan kelompok aktor itu adalah melakukan pengorganisasian kelompok-kelompok basis dan membangun jejaring de-ngan sesama aktor independen. Gugus tersebut sedikit-banyak ditandai pula dengan orientasi yang relatif lebih besar pada lembaga-lembaga pemerintahan dan birokrasi.

Jika dibandingkan dengan hasil studi sebe-lumnya yang dilakukan Demos-UiO, temuan tentang karakter kapasitas politik aktor gerakan demokrasi memperlihatkan pergeseran yang cukup signifikan. Pada periode sebelumnya, karakter kapasitas paling menonjol mirip de-ngan klaster ketiga yang ada saat ini. Kecende-rungan ke arah populis-karismatik saat itu bu-kannya tidak ada, namun lebih mengemuka sebagai pilihan aksi daripada kapasitas. Banyak aktor yang ketika itu memilih menempuh jalan-pintas populis sebagai cara utama yang diang-gap paling strategis untuk mendobrak

kebun-5 Lihat, Willy Purna Samadhi, “Optimalisasi Kapasitas Politik Aktor Demokrasi Melalui Pengembangan Blok Politik Kesejahteraan”, Tesis MA Ilmu Politik, Jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2015.

tuan upaya-upaya membangun demokrasi po-puler.6 Barangkali itulah yang menumbuhkan karakter populis-karismatik akhir-akhir ini, sehingga menjadi kecenderungan kapasitas politik yang paling umum.

Sebaliknya, karakter sebagaimana klaster ketiga yang semula menjadi karakter kapasitas politik paling menonjol, saat ini menjadi ciri sekelompok terkecil aktor gerakan demokrasi.

Yang paling khas dari pemilik karakter itu adalah aktor gerakan demokrasi “kelas mene-ngah”, yakni mereka yang aktif membangun berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi non-pemerintah (ornop) di kota-kota besar untuk menggarap sektor-sektor hak asasi manusia (HAM), pemberantasan korupsi, serta reformasi kepartaian dan pemilu. Dras-tisnya penurunan proporsi aktor yang ber-karakter seperti itu memang dapat dengan mudah dirasakan dan terlihat dari penurunan aktivitas LSM. Tampaknya, di samping faktor dukungan donor yang berkurang, para aktor cenderung mengikuti arus yang sedang meng-gejala, yaitu membangun karakter populis-karismatik atau patron-populistik.

Kajian lain yang juga penting diperhatikan adalah studi evaluatif yang dilakukan Demos terhadap upaya lembaga ini menginisiasi pem-bentukan sejumlah “blok politik demokratis”

(BPD), gagasan yang ditawarkan berdasarkan hasil survei Demos pada 2007. Dalam konsep awal, BPD diharapkan dapat membuka ruang baru bagi aktivis gerakan demokrasi menja-lankan strategi go politics. Pada kenyataannya, upaya Demos mewujudkan gagasan yang di-rekomendasikannya menemui kegagalan. Seti-daknya ada empat persoalan utama yang meng-hadang keberhasilan awal pembentukan BPD:

(1) kegagalan menemukan dan menyusun isu bersama yang bisa mengakomodasi

kepen-tingan dan isu berbeda yang dibawa oleh setiap elemen BPD; (2) kegagalan membangun struk-tur organisasi BPD yang berjenjang; (3) terlalu berorientasi pada politik pemenangan pilkada;

dan (4) kesulitan menghimpun dana dan sum-ber daya ekonomi lainnya. Akibatnya, awal-mula pembentukan BPD berlangsung secara spo-radis, jauh dari sifat integratif sebagaimana direncanakan. BPD dibentuk secara temporer sebagai siasat taktis memengaruhi proses pemilu, khususnya pemilihan kepala daerah, dengan target sangat sederhana, yakni men-desakkan kontrak politik. Alih-alih menjadi sebuah institusi alternatif bagi penguatan repre-sentasi, BPD tereduksi menjadi aliansi yang cair dan tak memiliki kekuatan apa pun (lihat Boks: Pelajaran dari Eksperimen Pembentukan Blok Politik Demokratis)