• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penjelasan tentang demokrasi di Indonesia diwarnai oleh perdebatan tiga pendekatan arus utama.4 Pendekatan liberal memahami demo-kratisasi sebagai proses pembentukan lembaga-lembaga demokrasi liberal, terutama terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum yang bebas dan adil. Dalam menghadapi persoalan stagnasi seperti yang hadir dalam bentuk politik pasca-klientelisme, pendekatan itu me-nyediakan dua jawaban berbeda. Jawaban per-tama menganggap persoalan bukan pada model demokratisasi, tetapi pada upaya mengimple-mentasikan model tersebut. Jawaban kedua menekankan pentingnya prakondisi yang me-nguntungkan. Stagnasi menegaskan demokra-tisasi perlu dilakukan secara bertahap, terutama dengan memberi kesempatan kepada sekelom-pok elite liberal kelas menengah menciptakan kondisi yang memungkinkan demokrasi tum-buh dan beroperasi tahan lama.

Bagi tulisan ini, kelemahan utama pende-katan liberal terletak pada kegagalannya me-nangkap arti penting tarik-menarik dan perim-bangan kekuatan antara kelompok-kelompok sosial utama di tengah masyarakat dalam mem-perebutkan sumber daya, termasuk yang paling penting hak untuk memerintah. Menurut pen-dekatan struktural, yang sangat dipengaruhi tradisi Marxisme, hubungan kekuasaan antara kelompok—atau kelas-kelas utama—itu, yang dipengaruhi perubahan sosio-historis di tingkat makro seperti modernisasi, merupakan kom-ponen utama proses demokratisasi.5

Keman-dekan, praktik klientelisme tradisional maupun yang baru, korupsi dan berbagai persoalan lain yang hadir dan bertahan selama proses demo-kratisasi menunjukkan bahwa kelas sosial dominan masih sangat berkuasa dan kekuatan kelas sosial subordinan belum mencapai titik menuju revolusi demokrasi.

Namun, persoalannya perimbangan ke-kuatan tidak terjadi dengan sendirinya, juga tidak bisa bergantung sepenuhnya pada kondisi objektif seperti yang dibayangkan Marxisme ortodoks. Walaupun demikian, kondisi objektif yang dibayangkan Karl Marx tetap diperlukan karena dalam kondisi tersebut terdapat kon-tradiksi—atau antagonisme—yang memung-kinkan berlangsungnya perimbangan kekuatan.

Tulisan ini pertama-tama percaya kelompok-kelompok sosial subordinan memerlukan pemfasilitasian yang memungkinkan penerje-mahan kepentingannya menjadi tuntutan ke-pada rezim berkuasa; kekuatan yang mereka miliki perlu dimobilisasi agar bisa menjadi counterweight terhadap kelompok sosial do-minan. Semua peran itu bisa dimainkan oleh aktor-aktor yang berasal dari masyarakat sipil.6 Kritikan demikian membuka jalan bagi pen-dekatan ketiga yang menekankan arti penting aktor dalam proses demokratisasi.

Terdapat dua varian utama dalam pende-katan aktor. Varian pertama diwakili tradisi studi transisi menuju demokrasi yang mengemu-kakan arti penting sekelompok elite moderat yang “menganyam” demokrasi secara kelem-bagaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang mengambil jalan liberal. Para elite juga membangun pakta politik terutama untuk me-ngamankan proses peralihan dari rezim otoriter menuju sistem yang lebih terbuka, baik dari pengaruh kelompok reaksioner dan konservatif maupun kelompok-kelompok radikal di tengah

4 Lihat, misalnya, Savirani dan Tornquist, Re-claiming the State….; Olle Tornquist, Neil Webster dan Kristian Stokke (eds.), Rethinking Popular Representation (New York: Palgrave Macmillan, 2009).

5 Lihat, misalnya, Barrington Moore, Jr., Social Origins of Dictatorship and Democracy: Lord and Peasant in the Making of the Modern World (Boston: Beacon Press, 1966); Dietrich Rues-chemeyer, Evelyn H Stephens, dan John D

Stephens, Capitalist Development and Democracy (Cambridge: Polity, 1992).

6 Lihat, Rueschemeyer, Stephens dan Stephens, Capitalist Development….

masyarakat.7 Kemunduran-kemunduran yang terjadi selama proses transisi dianggap wajar sebagai bagian dari proses negosiasi dengan kelompok reaksioner dan juga kelompok ra-dikal, serta tidak dipandang bermasalah selama tidak menghambat keseluruhan proses demo-kratisasi.

Sangat dekat dengan cara berpikir pende-katan liberal, kelemahan utama varian itu juga terletak pada kecenderungannya mengabaikan proses tarik-menarik kekuatan yang melibatkan kelompok-kelompok utama di masyarakat.

Bahkan studi transisi demokrasi melahirkan model analisis yang cenderung konservatif terhadap demokratisasi karena menutup proses tersebut dari peran kekuatan-kekuatan non-elite yang secara sempit mengidentikkan demokrasi dengan politik elektoral, dan bahkan bisa me-maklumi beberapa bentuk ketertiban sosial atas nama kelancaran transisi. Sebaliknya, tulisan ini memerlukan analisis yang meletakkan aktor dalam kerangka besar perimbangan kekuatan di tengah masyarakat dan antagonisme yang melatari perimbangan kekuatan tersebut. Di sini yang terpenting bukan apakah aktor dimaksud berasal dari elite atau non-elite, dari negara atau masyarakat sipil, tetapi apakah analisis terhadap para aktor merefleksikan proses-proses struk-tural yang lebih besar dan mendasar, terutama yang menyangkut pemilahan sosial dan anta-gonisme yang berkembang di masyarakat.

Pendekatan transformasi politik8 bisa men-jawab sebagian kebutuhan analitis tulisan ini.

Berbeda dengan studi transisi demokrasi, para aktor dipandang sebagai kekuatan penting yang mentransformasi perimbangan kekuatan di antara kelompok-kelompok sosial, terutama dengan cara memperbaiki kualitas representasi populer. Untuk itu, para aktor wajib memiliki sejumlah kapasitas yang spesifik, seperti kemampuan menginklusi, menggalang sumber daya, mengorganisasi dukungan, mengubah isu menjadi tuntutan, dan memperoleh kekuasaan yang absah. Seperti tergambar dalam Survei PWD, para aktor juga perlu mengadopsi strategi tertentu yang tepat dan selalu bisa dievaluasi.

Konsekuensi stagnasi dalam demokratisasi yang sedang terjadi di Indonesia adalah produk kapasitas dan strategi aktor. Jika merujuk pada temuan-temuan dalam hasil survei PWD, ke-munculan politik pasca-klientelisme berkaitan dengan beberapa faktor berikut:9 (1) belum mampunya para aktor mengurangi dominasi kelompok-kelompok penguasa dan malah iro-ninya mudah terkooptasi oleh oligarki; (2) para aktor, terutama yang berada di luar oligarki dan berasal dari masyarakat sipil, cenderung me-ngembangkan kapasitas dan memilih strategi yang ironinya tidak mendorong representasi populer; dan (3) fragmentasi, pengorganisasian yang lemah dan minimnya ideologisasi masih menyulitkan para aktor membangun kekuatan alternatif yang bisa menuntut dan mendorong perubahan lebih substansial dan menyeluruh.

Kelebihan pendekatan transformasi politik adalah kemampuannya dalam menampilkan arti penting kapasitas dan strategi aktor dalam mendorong representasi populer. Upaya ter-sebut pada gilirannya akan mendorong

perim-7 Lihat, Guillermo O’Donnell, Philippe C Schmit-ter, dan Lawrence Whitehead (eds.), Transitions from Authoritarian Rule: Prospects for Democracy (Baltimore: The John Hopkins University Press);

Giuseppe Di Palma, To Craft Democracies: An Essay on Democratic Transitions (Berkeley: Uni-versity of California Press, 1990); Juan Linz dan Alfred Stepan (eds.), The Breakdown of Demo-cratic Regime, Vol. 1 (Baltimore: The John Hopkins University Press, 1978).

8 Lihat, Tornquist, Webster, dan Stokke (eds.), Rethinking Popular…; Kristian Stokke dan Olle Tornquist, “Transformative Democratic Politics”, dalam Kristian Stokke dan Olle Tornquist (eds.),

Democratization in the Global South: The Im-portance of Transformative Politics (New York:

Palgrave MacMillan, 2013); Olle Tornquist, Assessing Dynamic Democratization: Transfor-mative Politics, New Institutions, and the Case of Indonesia (New York: Palgrave MacMillan, 2013).

9 Lihat, Savirani dan Tornquist, Reclaiming the State….

bangan kekuatan yang lebih adil antara negara dan masyarakat serta oligarki dan kelompok-ke-lompok non-oligarki. Lebih dari sekadar institusi formal dan kerangka regulasi, demokrasi adalah soal tarik-menarik kekuatan di tengah masya-rakat. Stagnasi demokrasi berkaitan erat dengan tarik-menarik itu dan upaya melancarkan proses demokratisasi dialamatkan pada upaya mem-perbaiki kapasitas dan memilih strategi. Tidak mengherankan jika tradisi transformasi politik merekomendasikan beberapa jalan keluar, seperti “go politics”, “bloc politics”, dan komisi negara.10

Walaupun demikian, terdapat persoalan yang mengurangi potensi metodologis pende-katan itu. Sekalipun bisa ditemukan dalam pelbagai konsep seperti oligarki dan elite, kerangka analisis “aktor alternatif-aktor do-minan”, antagonisme hampir tidak pernah tam-pil secara eksplisit dan cenderung menghilang dalam pembahasan. Persoalannya bukan seka-dar antagonisme penting sebagai cerminan pemilahan sosial yang menjadi basis struktural bagi proses demokratisasi dan, karenanya, perlu dijelaskan secara panjang lebar, tetapi lebih pada bagaimana hubungan antara aktor-aktor dan antagonisme diuraikan. Dengan kata lain, bagaimana para aktor yang menjadi fokus utama digambarkan dalam konteks hubungan yang antagonistik? Pada aras apa antagonisme terjadi?

Ada tiga kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan itu. Pertama, antagonisme berlang-sung pada aras aktor itu sendiri dan pemilahan sosial tampil dalam bentuk tarik-menarik ke-kuatan—menggunakan istilah yang pernah sangat ngetrend beberapa waktu lalu—antara kelompok “pro-reformasi” melawan kelompok

“pro-status quo.” Namun, muncul kesulitan ketika proses demokratisasi itu sendiri mem-buat batas antara pro-reformasi dan pro-status quo menjadi tidak jelas. Bukan saja aktor mu-dah berpinmu-dah kubu, tetapi satu aktor bisa

berubah-ubah posisi berdasarkan isu. Belum lagi definisi “reformasi” dan “status quo” ber-kembang semakin tidak jelas dan terkesan arbiter. Begitu pula kenyataannya aktor pro-reformasi dan pro-status quo berasal dari kelas sosial yang sama, yang mendominasi kehidupan sosial-politik Indonesia, membuat antagonisme yang ditampilkan tidak lebih dari pemilahan dalam oligarki. Tidak mengherankan, jawaban kedua mengabstraksikan antagonisme pada aras kelas sosial dalam bentuk tarik-menarik kekuatan antara kelas dominan melawan kelas subordinan. Namun, cara itu menemui masalah serupa secara terbalik. Bukan saja tidak semua anggota kelas dominan pro-status quo, ada banyak anggota kelas bawah yang memandang curiga kelompok-kelompok pro-reformasi.

Tulisan ini berpendapat pemilahan antara pro-reformasi dan pro-status quo—atau ke-kuatan-kekuatan pro-perubahan dan kekuatan-kekuatan yang ingin menghambat perubahan dan laju demokratisasi—adalah awal yang tepat dari segi analitis. Akan tetapi, dengan meminjam cara berpikir Laclau, perubahan dan pro-status quo perlu dilihat sebagai political frontier dari dua proyek hegemoni yang sedang ber-tarung mengisi dan membentuk (makna) for-masi sosial pasca-tumbangnya Soeharto yang sedang dibangun di negeri ini. Demokratisasi adalah upaya kelompok pro-perubahan me-menangkan pertarungan hegemoni dan menjadi penanda utama formasi sosial tersebut. Unit dari sebuah proyek hegemoni adalah posisi subjek (subject position) yang terbentuk dari tuntutan (demand) yang umumnya sangat beragam dan sering kali tidak terpenuhi. Posisi subjek ini yang memproduksi aktor dalam arti identitas dan tindakan tertentu yang melekat pada dirinya. Agar sebuah proyek hegemoni bisa berlangsung, tuntutan-tuntutan yang bera-gam itu perlu menjalin solidaritas—atau ekui-valensi. Tanpa jalinan solidaritas—atau rantai ekuivalensi—maka tuntutan-tuntutan hanya agregasi keluhan beragam yang tidak mampu menghegemoni proses demokratisasi. Rantai ekuivalensi dicapai ketika wacana tentang

1 0Lihat, Savirani dan Tornquist, Reclaiming the State….

reformasi diartikulasikan atau dengan kata lain ketika posisi-posisi subjek yang berbeda dikom-binasikan untuk membentuk sebuah identitas (bersama) yang baru.

Dalam hal ini, masalah buruknya kapasitas dan strategi para aktor yang dikemukakan pendekatan transformasi politik adalah soal absennya proyek hegemoni. Secara spesifik, keberagaman tuntutan belum berhasil mem-bentuk rantai ekuivalensi dan hanya menjadi sejumlah posisi subjek yang terfragmentasi.

Upaya mengombinasikan posisi-posisi yang berbeda belum mencapai titik identitas bersama yang solid, baru sebatas membuka jalan bagi terbentuknya secara diskursif aktor kolektif.

Seperti yang akan diuraikan lebih jauh, ab-sennya proyek hegemoni dan rantai ekuivalensi yang lemah membuat diskursus aktor kolektif diisi dan menubuh dalam figur politik yang berasal dari oligarki. Figur politik itu berada dalam posisi memenuhi tuntutan-tututan yang tidak terpenuhi dengan cara mengadopsi, me-ngisi, dan menerjemahkan penanda sentral—

dalam hal ini “kesejahteraan”—yang mengikat tuntutan-tuntutan beragam tersebut.